Powered by Blogger.


Aeng Ran akhirnya menemukan putranya, Do Jin, di sebuah villa sedang tidur bersama seorang wanita. Melihat Do Jin tidur bersama wanita tampaknya bukan hal baru bagi Aeng Ran karena dia terlihat tidak terkejut sama sekali. Dan Do Jin pun santai-santai saja kepergok oleh ibunya.


Aeng Ran langsung mengomeli Do Jin dengan kesal. Saat Aeng Ran memberitahu kalau Do Hyun meninggal dunia, Do Jin tampak sangat sedih dan langsung berlari pergi, kesedihan Do Jin tampak sungguh-sungguh berbeda dengan ibunya yang cuma bersandiwara.


Setelah Do Jin pergi, Aeng Ran melempar beberapa lembar uang pada wanita yang tidur dengan Do Jin dan menyuruh wanita itu untuk mencari pria lain.

Sesampainya di rumah duka, Do Jin menangis sedih dan langsung berlari masuk ke pemakaman sementara Aeng Ran memperingatkan Wol Han untuk merahasiakan apa yang tadi dilakukan Do Jin. Wol Han meyakinkan Aeng Ran untuk tidak cemas, dia bekerja cukup lama pada keluarga mereka jadi dia tahu betul apa yang harus dia lakukan dalam menghadapai hal seperti ini.



Mi Oh datang ke pemakaman Do Hyun tapi dia kesana bukan untuk melayat tapi untuk mencari Do Jin. Setelah melakukan penghormatan pada Do Hyun, Mi Oh bertanya pada Soo In, kemana Do Jin? Kenapa dia tidak datang saat kakaknya meninggal dunia.

"Apa hubunganmu dengan Do Jin?" tanya Joo Hee


Mi Oh dan Do Jin ternyata pernah menjadi sepasang kekasih selama setahun, Do Jin bahkan pernah berjanji pada Mi Oh bahwa dia akan menikahi Mi Oh. Tapi selama sebulan ini, Do Jin menghilang. Bahkan Mi Oh sama sekali tidak bisa menghubungi Do Jin, karena itulah sekarang dia datang untuk bertemu Do Jin.

"Dia menyebabkan banyak masalah" gumam Joo Ran

"Dimana Ma Do Jin sekarang? Apa dia tidak ada di Korea?" tanya Mi Oh


Pertanyaan Mi Oh langsung terjawab saat Do Jin datang, ia langsung berlutut dan menangis dihadapan foto mendiang Do Hyun, Do Jin meminta maaf pada Do Hyun karena dia tidak tahu kalau Do Hyun meninggal dunia. Tapi kedukaannya pada sang kakak langsung terganggu saat dia melihat Mi Oh didepannya. 


"Kau mau dipermalukan didepan semua orang atau kau ingin kita bicara diam-diam di luar?" ancam Mi Oh

"Tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu. Pergilah" usir Do Jin

Mi Oh langsung berteriak marah pada Do Jin. Do Jin pun langsung emosi dan berteriak mengusir Mi Oh. Mi Oh langsung menampar Do Jin.


Aeng Ran yang melihatnya, langsung melabrak Mi Oh dengan kesal, berani sekali Mi Oh datang dan membuat kekacauan disini. Mi Oh berkata bahwa dia terpaksa datang kemari karena hanya disini dia bisa menemukan mereka.

"Benar-benar keluarga yang kacau" sindir Joo Ran


Aeng Ran memaksa Mi Oh keluar tapi Mi Oh tidak mau dan menuntut bertemu dengan Tae San karena dia ingin memberitahu Tae San tentang apa yang telah dilakukan Do Jin padanya. Saat Mi Oh berteriak menuntut Aeng Ran memanggilkan Tae San, Aeng Ran langsung menampar Mi Oh dengan marah.

"Sudah 12 kali anda menampar saya. Saya tidak akan membiarkan anda menampar saya untuk yang ke 13 kali" ujar Mi Oh

"Apa kau sedang mengancamku?"


Do Jin berusaha menyeret Mi Oh keluar, tapi Mi Oh bersikeras tidak mau pergi sebelum dia bertemu dengan Tae San. Aeng Ran langsung berteriak memanggil sekuriti untuk membawa Mi Oh keluar.


Saat Mi Oh diseret keluar, dia berusaha memberontak dan berteriak-teriak menuntut bertemu dengan Tae San. Tepat saat itu, Tae San datang setelah mendengar keributan ini. Mi Oh langsung memberitahu Tae San bahwa sekarang dia tengah mengandung anaknya Do Jin.


Saat Mi Oh keluar dari rumah duka, Soo In menyusulnya untuk memberikan jepit rambut Mi Oh yang tak sengaja terjatuh. Soo In menghibur Mi Oh untuk tidak bersedih demi bayi yang dikandungnya, karena jika sang ibu bersedih maka anak didalam kandungannya pun akan ikut bersedih. 

Soo In yakin walaupun sekarang ini Do Jin sedang tidak bisa memikirkan orang lain tapi Do Jin pasti akan menghubungi Mi Oh setelah pemakaman berakhir. Soo In yakin kalau Tae San tidak akan mengabaikan Mi Oh selama Mi Oh masih mengandung bayinya Do Jin.


Sebuah mobil tiba didepan Soo In dan Mi Oh, mereka berdua melihat Poong Geum tengah menggendong Bok Nyeo yang pingsan. Poong Geum berniat membawa Bok Nyeo ke UGD tapi malah kesasar ke rumah duka.


Saat Poong Geum hampir terjatuh saat dia tengah menggendong Bok Nyeo, Soo In dan Mi Oh pun langsung membantunya.


Park Yi Moon, seorang pria setengah baya yang mengelola toko laundry Seocheon, tengah sibuk dengan pekerjaannya saat dia mendapat telepon dari Bok Nyeo.


Dia lalu pergi ke rumah sakit tempat Bok Nyeo dirawat. Yi Moon membantu Bok Nyeo keluar dari rumah sakit dengan membayar biaya perawatan Bok Nyeo. Bok Nyeo berjanji akan membayar kembali tapi Yi Moon langsung menolaknya, sebagai gantinya Yi Moon meminta Bok Nyeo untuk membelikannya makanan saja.

Yi Moon cemas apakah tidak apa-apa kalau Bok Nyeo keluar rumah sakit sekarang padahal dokter bilang kalau Bok Nyeo harus check-up lagi. Bok Nyeo berkata kalau dia cuma gugup saja karena ini adalah pertama kalinya dia keluar penjara.


Yi Moon mengatakan kalau dia kecewa pada Bok Nyeo karena Bok Nyeo tidak memberitahu kalau dia akan keluar penjara sementara, Bok Nyeo bahkan tidak mengatakan apapun di suratnya yang terakhir.

"Aku tidak ingin mengganggumu, karena itulah..." jawab Bok Nyeo

Yi Moon langsung ngambek, apa menurut Bok Nyeo hubungan mereka cuma seperti itu saja. Bok Nyeo langsung meminta maaf dan berjanji untuk mentraktir Yi Moon asalkan Yi Moon tidak marah padanya. Yi Moon langsung tersenyum senang mendengarnya. Yi Moon lalu memberikan jaketnya untuk Bok Nyeo. Yi Moon ahjussi so cute XD


Mereka lalu makan bersama, Yi Moon memberikan sebagian makanannya untuk Bok Nyeo. Bok Nyeo berusaha menolak makanan pemberian Yi Moon tapi Yi Moon berkata kalau dia sudah kenyang hanya dengan melihat Bok Nyeo. haha...XD


Mumpung Bok Nyeo keluar penjara, Yi Moon menawari Bok Nyeo keliling-keliling. Dia bertanya apakah Bok Nyeo ingin naik gondola di gunung Namsan? atau mau berpesiar di sungai Han? Bok Nyeo menolak semua tawaran itu karena hanya ada satu tempat yang ingin dia kunjungi, rumahnya yang dulu karena ada sesuatu yang ingin dicarinya walaupun Bok Nyeo tidak yakin apakah rumahnya yang dulu masih ada atau tidak.


Bok Nyeo teringat kalau dia harus menghubungi penjaga penjara setiap 2 jam. Dia bertanya dimana telepon umum, tapi Yi Moon langsung mengeluarkan ponselnya untuk Bok Nyeo.

Bok Nyeo langsung terkagum-kagum melihat ponsel itu. Saking lamanya dipenjara Bok Nyeo bahkan tidak pernah mengenal ponsel, dia hanya pernah melihat ponsel lewat TV. 

"Apa kau benar-benar bisa mendengar suara tanpa kabel?" tanya Bok Nyeo penasaran

"Tentu saja. Kau bisa mendengar suara dengan sangat jelas" jawab Yi Moon

"Hebat. Bagaimana cara memakainya?"


Yi Moon pun langsung menghubungkan Bok Nyeo dengan penjaga penjara. Saat dia mengumumkan identitasnya pada penjaga penjara dengan suara keras, para pengunjung yang lain langsung menoleh menatap Bok Nyeo.


Di pemakaman, beberapa orang tua lanjut usia datang melayat. Mereka adalah para manula dari panti jompo tempat Soo In menjadi sukarelawan. Mereka sedih untuk Soo In, kenapa Tuhan mengambil suaminya Soo In dan bukannya mereka yang sudah yang tua. Mereka juga memberi Soo In beberapa buah-buahan supaya Soo In tetap kuat.


Di sebuah pesawat, Nam Woo Seok bersama putrinya Nam Byeol sedang dalam perjalanan kembali ke Korea. Walaupun sudah berusia 5 tahun tapi Byeol masih saja ngedot botol bayi bahkan sekalipun botol bayinya sudah kosong. Saat Woo Seok mengomelinya untuk membuang botol itu, Byeol menolak karena dia tidak mau berpisah dengan botol bayinya yang sudah dia anggap teman terbaiknya itu.

"Umurmu sudah 5 tahun, kau sudah tidak perlu botol bayi lagi" ujar Woo Seok

"Ada anak-anak 5 tahun yang masih butuh botol bayi" balas Byeol


Woo Seok langsung mengambil botol bayinya dengan kesal, Woo Seok bersumpah akan membuang botol bayi itu di tempat sampah. Byeol langsung berteriak dan menangis sekeras-kerasnya sampai membuat penumpang yang lain terganggu. Woo Seok akhirnya menyerah dan mengembalikan botol bayi itu ke Byeol.


Byeol langsung menghisap botol bayinya lagi dan tertidur dengan tenang. Saat tengah menyelimuti Byeol, Woo Seok melihat kalung yang dipakai Byeol, didalam liontin kalung itu ada foto mendiang ibunya Byeol.


Bok Nyeo dan Yi Mun berjalan-jalan mencari rumah Bok Nyeo yang dulu, tapi Bok Nyeo bingung karena sekarang lingkungannya sudah banyak yang berubah.


Tapi saat Bok Nyeo melihat sebuah pohon besar di tepi jalan, dia ingat kalau dulu sebelum kecelakaan terjadi, suaminya membawa pulang sebuah tunas pohon yang kemudian mereka tanam di pekarangan belakang rumah mereka. Yi Moon jadi yakin kalau tunas pohon yang ditanam Bok Nyeo dan suaminya 30 tahun yang lalu itu, sekarang sudah tumbuh menjadi sebuah pohon besar itu.


Bok Nyeo lalu menghampiri pohon itu dan menggali tanahnya. Yi Moon heran, apa yang sedang Bok Nyeo lakukan. Bok Nyeo berkata bahwa dia sedang mencari sebuah dokumen penting yang dulu dia kubur didekat pohon itu, dokumen itu berasal dari suaminya dan suaminya meminta Bok Nyeo untuk menyembunyikan dokumen itu. 

Bok Nyeo yakin dokumen itu pasti punya jawaban kenapa suaminya meninggal dunia dan kenapa dia salah dituduh sebagai pembunuh.



Yi Moon langsung membantu Bok Nyeo menggali tanahnya. Sayangnya, sekarang pohon itu sudah jadi milik orang lain dan saat pemilik tanah itu melihat mereka berdua menggali tanah miliknya, orang itu langsung melabrak mereka berdua.


Malam harinya di rumah keluarga Ma, Do Jin berlutut pada Tae San atas keributan yang terjadi di pemakaman tadi. Aeng Ran berusaha membela Do Jin, mengatakan kalau Mi Oh adalah wanita licik yang sengaja mendekati Do Jin.

Tae San langsung mengomeli Do Jin karena Do Jin tidak pernah mendengarkan perkataannya yang selalu menasehatinya untuk tidak main wanita (Bah! istrimu 2 pak!).

"Maafkan aku" sesal Do Jin

"Seandainya kau mirip kakakmu" omel Tae San

Tae San tidak mau punya menantu seperti itu karena itulah dia menyuruh Do Jin untuk mengurusi sendiri wanita di pemakaman tadi. Dengan takut-takut, Do Jin berjanji untuk menyelesaikan masalah ini setelah pemakaman selesai.


Pelayan terburu-buru datang memberitahu mereka bahwa Dan Shim tidak mau makan dan tidak mau minum obat. Do Jin menduga kalau Dan Shim mungkin shock karena kematian Do Hyun. Tapi Aeng Ran tidak yakin karena Dan Shim bahkan tidak mengenali Do Hyun. Aeng Ran dan Do Jin lalu pergi untuk melihat keadaan Dan Shim.


Di kamar Dan Shim, pelayan memberikan Dan Shim makanan tapi Dan Shim langsung menendang semua makanan itu dengan marah. Dia tidak mau makan karena dia menduga kalau pelayan itu pasti sudah mencampuri makanannya dengan bahan beracun.

Saat si pelayan marah-marah atas tuduhan Dan Shim, Dan Shim langsung melempari si pelayan dengan makanan-makanan itu dengan marah.


Saat Aeng Ran datang, Dan Shim langsung menatap Aeng Ran dengan penuh kebencian lalu memaki Aeng Ran "Seharusnya kau digoreng di air kotoran!"

"Kenapa dia memaki dengan kata-kata kotor seperti itu?" ujar Aeng Ran

"Diam kau! Kau pelacur yang mencuri suamiku, berani sekali kau mengataiku kotor!"

Kekasaran Dan Shim, membuat Aeng Ran heran. Apa Dan Shim sudah sembuh?


Dia lalu mencoba mengecek kesadaran Dan Shim dengan bertanya dimana Do Hyun sekarang? 

"Apa maksudmu dimana? Tentu saja dia di Amerika sedang menyelesaikan gelar masternya" ujar Dan Shim

Aeng Ran langsung sadar kalau Dan Shim masih belum sembuh. Dan Shim memeluk bantalnya dan minta bertemu Soo In, Dan Shim tidak mau makan sebelum bertemu Soo In.


Di rumah duka, Soo In tak sengaja mendengar Joo Ran dan Won Jae berdiskusi. Mereka berdiskusi untuk mengambil alih posisi Do Hyun di kantor. Gara-gara keributan tadi, Joo Ran yakin kalau Do Jin pasti sudah kehilangan dukungan Tae San karena itulah Joo Ran yakin bahwa kali ini Won Jae pasti bisa mengambil alih posisi Do Hyun.


Setelah tidak berhasil menemukan dokumennya, Yi Moon dan Bok Nyeo akhirnya kembali. Yi Moon berpikir apa mungkin mereka salah pohon? Dia menawarkan bantuannya untuk mencari lagi besok sebelum Bok Nyeo kembali ke penjara. Tapi Bok Nyeo menolaknya karena dia yakin kalau usaha mereka nanti akan sia-sia.


Bok Nyeo merasa tidak akan ada yang berubah bahkan sekalipun dia mengungkap kebenarannya sekarang. Walaupun dia sudah salah dituduh sebagai pembunuh suaminya, tapi selama di dipenjara, dia hidup dengan nyaman. Baginya, dunia sekarang sudah banyak berubah, Bok Nyeo tidak yakin kalau dia akan bisa beradaptasi dengan perubahan dunia sekarang. 

"Sepanjang hari aku selalu terjatuh dan pingsan, aku sekarang merasa seperti orang cacat" tangis Bok Nyeo. Yi Moon langsung memeluk Bok Nyeo.


Poong Geum tengah menghitung segepok uang saat dia menelepon rumah sakit untuk menanyakan keadaan Bok Nyeo dan pihak rumah sakit memberitahunya bahwa Bok Nyeo sudah keluar dari rumah sakit.


Anak buahnya Poong Geum heran kenapa Bok Nyeo pingsan setelah meminum minuman kesehatan mereka, jangan-jangan ada yang salah di minuman kesehatan mereka. Poong Geum langsung memukul kepala pria itu dengan kesal, bisa-bisanya dia menuduh minuman itu padahal minuman itu sangat baik untuk kesehatan karena terbuat dari berbagai macam ekstrak tumbuh-tumbuhan.


"Kalau minuman ini sebagus yang kau katakan, cobalah meminumnya" tantang pria itu

Poong Geum langsung memukuli pria itu lagi, dia tidak boleh meminum minuman kesehatan itu karena minuman kesehatan itu harganya sangat mahal. 

"Kau itu palsu" ujar pria itu. 

Dengan kesalnya dia menunjuk dadanya Poong Geum dan menuduh dadanya Poong Geum palsu lalu cepat-cepat pergi melarikan diri.


Tae San mengunjungi Dan Shim di kamarnya, Tae San menangis sedih dan meminta Dan Shim untuk menggenggam tangannya karena di saat seperti ini, saat seorang ayah kehilangan putranya, hanya sang ibulah yang mampu menenangkan sang ayah. Tapi Dan Shim langsung berpaling membelakangi Tae San dengan kesal.


Melihat kejadian ini, Aeng Ran diam-diam tersenyum senang. Tiba-tiba dia ditelepon seseorang dan saat melihat siapa peneleponnya, Aeng Ran langsung panik lalu cepat-cepat pergi.


Dia keluar rumah untuk mengangkat telepon itu, pembicaraan Aeng Ran dengan si penelepon terdengar mencurigakan, dia memberitahu si peneleponnya untuk terus waspada. Saat Soo In datang, Aeng Ran langsung cepat-cepat mematikan teleponnya.


Aeng Ran berpura-pura mencemaskan keadaan Soo In tapi kemudian dia bertanya penasaran, apakah Soo In sudah mendapat berita. 

"Berita?" tanya Soo In tidak mengerti

"Kudengar kau mengunjungi klinik kandungan, jadi aku bertanya-tanya apakah keu punya berita baik untuk kami?"

"Tidak" jawab Soo In sedih. Aeng Ran langsung minta maaf pada Soo In.


Soo In pulang untuk membawakan makan malam untuk Dan Shim. Dan Shim langsung mengeluh, kemana saja Soo In pergi seharian ini.

"Beri aku makanan, aku lapar" keluh Dan Shim


Soo In pun langsung menyuapi Dan Shim. Soo In meyakinkan Dan Shim untuk tidak cemas, walaupun Do Hyun meninggal tapi tidak akan ada yang berubah, Soo In berjanji untuk selalu merawat dan melindungi Dan Shim sampai dia meninggal.


Tae San langsung marah mendengarnya, dia menuduh Soo In sebagai penyebab kematian putranya dan tidak pernah sekalipun dia mengganggap Soo In sebagai menantunya, selama ini dia hanya mengganggap Soo In sebagai wanita yang hidup bersama dengan Do Hyun. Karena itulah, Tae San menyuruh Soo In pergi dari rumah mereka segera setelah pemakaman berakhir.


Saat Soo In kembali ke kamarnya, dia menangis mengingat semua kata-kata kejam Tae San.


Keesokan harinya, pesawat yang ditumpangi Woo Seok dan Byeol akhirnya mendarat di Korea. Didalam bandara, Byeol kebingungan kenapa kakeknya tidak datang menjemput mereka. Woo Seok mengatakan kalau dia sengaja tidak memberitahu kakeknya Byeol karena dia tidak ingin merepotkan kakeknya Byeol.

Byul langsung protes "Kenapa ayah melakukan apapun sesuka ayah?"

"Memang kenapa? Ayah orang dewasa dan kau anak kecil"

"5 tahun itu bukan usia yang terlalu muda" protes Byeol


Teleponnya Woo Seok tiba-tiba berbunyi, si penelepon memberitahu Woo Seok bahwa ada seorang wanita bernama Joo Hee yang meninggalkan pesan untuk Woo Seok dan mengabarkan bahwa kakaknya Joo Hee meninggal dunia.


Soo In kembali ke rumah duka, Wol Han mencemaskan Soo In. Semalaman Soo In tidak bisa tidur karena Dan Shim, sekarang Soo In pasti sangat kecapaian.

"Disaat seperti ini aku memang tidak bisa tidur. Aku tidak apa-apa, jangan cemas" ujar Soo In


Tapi walaupun Soo In berkata kalau dia baik-baik saja, nyatanya saat dia berjalan masuk ke rumah duka dia langsung goyah dan hampir saja terjatuh. Wol Han cepat-cepat menangkapnya sebelum Soo In terjatuh pingsan, dia meminta Soo In untuk berobat supaya tidak pingsan lagi tapi Soo In tidak mau dan tetap bersikeras dengan keyakinannya bahwa dia baik-baik saja.


Setelah Soo In masuk ke rumah duka, Woo Seok tiba bersama Byeol. Byeol berkata kalau dia harus ke kamar kecil maka Woo Seok pun langsung mengantarkannya. Saat Woo Seok bertanya apakah Byeol ingin dia menemaninya masuk ke kamar kecil, Byeol langsung menolaknya. Byeol menyatakan dengan tegas bahwa anak yang sudah berumur 5 tahun sudah bisa melakukan urusan kamar kecil sendiri.


Byeol pun langsung berlari masuk ke kamar kecil bersamaan dengan Soo In yang keluar dari kamar kecil. Di luar, Soo In berjalan terhuyung-huyung saat dia melewati Woo Seok yang tengah menunggu Byeol. Woo Seok melihat Soo In yang tampak tidak sehat tapi Soo In tiba-tiba terjatuh pingsan.


Woo Seok langsung cepat-cepat menangkapnya. Dengan cemas, Woo Seok berusaha membangunkan Soo In tapi saat Soo In tidak bangun-bangun, Woo Seok langsung berteriak memanggil bantuan.


1 comments:

Ditunggu Kelanjutannya :)
Drama MBC Akhir pekan memang suka pada bagus hehe :D ratingnya juga oke 2 digit

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon