Powered by Blogger.


Ji Na shock dan malu. Tapi dengan cepat dengan dia mengatasi keadaan dengan berkata bahwa walaupun foto-foto ini jelek, tapi inilah potret dirinya yang sebenarnya yang tersembunyi dibalik image cantik dan glamor.

"Begitu pun dengan kehidupan. Karena hari yang mendung, kita jadi bisa lebih menghargai hari yang cerah. Karena itulah, bebatuan di tempat itu, layak untuk tetap disana. Tentu saja bagi orang-orang yang memandangnya secara berbeda, batu-batu itu akan tampak tidak berguna yang harus disingkirkan. Tapi karena bebatuan yang tampak biasa dan tidak penting itulah, pepohonan, hutan dan bunga-bunga jadi tampak indah"


Semua orang benar-benar kagum dengan presentasinya dan tim Ji Na pun akhirnya sukses menjadi pemenangnya. Hye Mi tentu saja kesal, sama sekali tidak menyangka kalau perbuatannya itu malah jadi menguntungkan Ji Na.


Hee Chul tiba-tiba menghampirinya. Ji Na langsung panik dan berusaha membela dirinya dari foto-foto jelek di rapat tadi. Tapi Hee Chul malah membuatnya kecewa saat dia berkata kalau dia hanya memperhatikan presentasinya saja. Tapi... dia berjanji akan menelepon Ji Na nanti. Oh My! Ji Na langsung berbunga-bunga.


Belum bisa menerima kekalahannya, Hye Mi mengecek kembali materi presentasinya. Lalu bertanya pada Manager Oh, apa sebenarnya kesalahan mereka padahal menurutnya ide mereka ini sangat sempurna?

"Bukan kita (yang salah) tapi kau sendiri" tukas Manager Oh "Kau kan mengerjakan segalanya seorang diri. Kami bersenang-senang berkat kau, tapi kau bahkan tidak mempercayai kami. Kau berpura-pura peduli pada tim padahal sebenarnya kau ingin menonjol sendirian, bukan? Kenapa apa kau marah? Tidak ada orang yang bisa kau percayai di dunia ini. Itu karena kau tidak mempercayai dunia ini. Saat kau dan aku ingin mencapai tujuan yang sama, saat itulah kita disebut sebagai satu tim, understand?"


Ji Na melompat-lompat bahagia. Tapi saat dia masuk toilet, dia malah mendapati Hye Mi sedang menangis. Tiba-tiba dia mendengar dua orang anggota timnya Hye Mi hendak masuk ke toilet. Tidak ingin mereka melihat Hye Mi dalam keadaan seperti itu, mereka langsung cepat-cepat menyeret mereka pergi dengan alasan mau memperkenalkan mereka pada pria.


Ketua IM dan sekretarisnya akhirnya selesai juga dengan acara memancing mereka dan memutuskan untuk pulang. Tapi saat dia hendak masuk mobil, tiba-tiba dia agak terhuyung. Sepertinya penyakitnya kambuh lagi. Dia mengacuhkannya dan menyuruh sekretarisnya untuk menyerahkan hasil meeting Noo Ri Park.

Sekretaris lalu menunjukkan video rekaman timnya Ji Na yang memenangkan proyek ini. Sekretaris mengaku tidak menyangka, karena awalnya dia mengira kalau timnya Hye Mi lah yang pasti akan menang. Ketua IM memperhatikan video itu baik-baik dan langsung mengenali Ji Na sebagai wanita yang pernah asal masuk ke mobilnya untuk bersembunyi. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah nama Dr. Seed yang tertera dalam proposal timnya Ji Na. Dr. Seed? Apa mungkin...?


Hye Mi masih tidak bisa tenang, apalagi informasi Dr. Seed yang dimilikinya kurang lengkap. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari informasi lewat internet dan kaget mendapati Dr. Seed ternyata Tuan Malang.


Ji Na hendak berangkat ke kantor lewat subway saat seorang penjaja kaki lima tiba-tiba menghentikannya untuk mempromosikan barang jualannya. Tapi yang tidak disangkanya, ternyata si penjual adalah si penjual tas imitasi. Wanita itu mengaku kalau bisnis barang imitasinya mengalami masalah jadi sekarang dia jualan barang elektronik. Lalu memaksa Ji Na untuk membeli MP3.

Teringat dengan kaset-kaset lawas Tae Woon, Ji Na akhirnya memutuskan untuk membeli MP3 itu. Tapi dia gengsi kalau harus memberikannya secara langsung pada Tae Woon, akhirnya dia memutuskan untuk meminta bantuan Manager Hong dengan maksud agar Tae Woon mengira MP3 itu dari Manager Hong dan bukannya darinya.


Manager Hong setuju, tapi kemudian dia menulis pesan di belakang MP3 itu 'dari Ji Na untuk Tae Woon'. Ji Na langsung protes keras apalagi tintanya tidak bisa dihapus. Manager Hong tidak mengerti masalahnya apa, itu kan memang dari Ji Na. Lagipula kalau dia tidak suka yah dia berikan saja sendiri benda itu ke Tae Woon.

Ji Na langsung panik dan canggung. Kalau dia harus memberikannya secara langsung, dia bingung apa yang harus dia katakan. Melihat reaksinya itu, Manager Hong langsung tertawa geli dan menebak "Ku sedang jual mahal yah?"

"Tentu saja tidak" seru Ji Na terlalu bersemangat. Tidak ingin dianggap menyukai Tae Woon, Ji Na akhirnya mengambil MP3 itu lagi dan berkata kalau dia akan memberikannya sendiri pada Tae Woon.



Hye Mi menguping perdebatan mereka dan langsung berpikir kalau Ji Na pasti sedang berusaha mengejar Tae Woon setelah dia tahu kalau Tae Woon itu seorang doktor.

Tapi setibanya di toko bunga Tae Woon, dia mendapati tempat itu kosong. Bahkan didalam rumah pun tampak sepi. Dia terus masuk kedalam hingga akhirnya dia mendengar suara wanita dan suara Tae Woon. Ji Na mencari asal suara itu... dan mendapati ada dua pasang kaki dibalik selimut.


Gadis yang bersama Tae Woon adalah si aktris yang kemarin menuntut Manager Hong, Tae Woon dan si aktris itu sebenarnya sedang bermain kunang-kunang. Tapi Ji Na berpikir lain, apalagi saat dia mendengar suara-suara desahan dari dalam selimut. Saking shocknya, Ji Na bahkan sampai menjatuhkan tas berisi MP3-nya. Tae Woon mendengarnya lalu membuka selimut dan melihat Ji Na dengan mulut ternganga lebar menatap mereka.


Panik, dia langsung mengejar Ji Na dan berusaha menjelaskan. Tapi Ji Na tidak mau dengar penjelasan apapun. Tidak terima, Tae Woon langsung berteriak memaksa Ji Na untuk mendengarkan penjelasannya.

Flashback,


Malam itu saat dia mengantarkan bunga untuk si aktris atas nama Manager Hong, Tae Woon sebenarnya hendak diusir oleh managernya. Tapi saat dia memberitahu bahwa bunga yang dibawanya adalah bunga aster yang merupakan lambang kenangan yang berharga, si aktris akhirnya mengizinkannya masuk dan menerima bunga itu.

Dalam bunganya, Tae Woon juga menyertakan sebuah surat. Tae Woon mengaku bahwa dia membawa bunga itu karena dia membaca di salah satu artikel bahwa si aktris dulu tumbuh di tempat yang banyak bunga aster-nya. Dalam wawancaranya, si aktris pernah berkata bahwa dia masih sangat merindukan tempat kenangannya bermain-main bersama adiknya itu.

"Mengucap selamat tinggal itu menyedihkan. Tapi meninggalkan kenangan yang begitu berharga. Kau harus pergi menemui adikmu sekarang. Bersemangatlah dan bekerja keras dan berikan bunga ini untuk adikmu"

Si aktris tersentuh mendengarnya. Tapi kemudian dia protes karena Tae Woon hanya membawa bunga dan melupakan kunang-kunangnya. Dia juga pernah bilang (dalam wawancaranya) kalau dia rindu menangkap kunang-kunang di kebun bunga aster.

"Kalau begitu, aku akan menunjukkannya padamu lain kali" janji Tae Woon

Kembali ke masa kini,


Si aktris mengaku kalau dia sendiri juga tidak menyangka kalau Tae Woon ternyata benar-benar akan memenuhi janjinya. Merasa bersalah karena salah paham, Ji Na pun minta maaf. Si aktris tidak mempermasalahkannya, dia sangat mengerti kok. Seandainya dia sendiri melihat pacarnya melakukan hal-hal mencurigakan seperti itu, dia juga pasti akan marah.

Ji Na kaget dan langsung cepat-cepat menyangkalnya, Tae Woon bukan pacarnya. Tapi sekarang, akhirnya Ji Na tahu kenapa waktu itu Tae Woon pergi semalaman dan baru pulang pagi harinya. Tapi kenapa Tae Woon tidak memberitahunya? Tae Woon beralasan kalau dia hanya merasa tidak perlu karena semua masalah kan sudah terselesaikan.

"Aku tidak tahu. Kukira aku melakukan segalanya seorang diri" gumam Ji Na lirih karena merasa bersalah.

Tae Woon meyakinkannya kalau perkara ini selesai memang berkat usaha Ji Na dan ketulusan Manager Hong. Dan yang dilakukannya hanyalah membantu mereka berdua. Ji Na tersentuh mendengarnya lalu mengajak Tae Woon untuk makan malam bersama. Tapi bukannya senang dan langsung menerimanya, Tae Woon malah menolaknya. Ji Na langsung malu karena merasa ditolak.

Tapi sebenarnya alasan Tae Woon menolaknya adalah karena "Aku tidak ingin berpisah denganmu setelah makan malam saja. Setelah makan malam bersama, ayo kita melakukan sesuatu yang lain"

"Oke" Ji Na setuju.

Tapi kemudian dia jadi malu pada Tae Woon dan langsung cepat-cepat kabur. Tapi begitu dia sudah di luar, dia baru ingat kalau dia lupa tadi dia meninggalkan MP3-nya. Sudah tidak mungkin lagi dia kembali masuk. Jadi, yah sudahlah. Terpaksa dia berlalu pergi sambil menggerutu sendiri.


Tae Woon menemukan tas itu tak lama kemudian. Dia bingung karena Ji Na sudah pergi. Dia lalu melihat-lihat isinya dan mendapati MP3 dengan tulisan 'dari Ji Na untuk Tae Woon'. Tae Woon terharu.


Hee Chul tidak melihat Ji Na di kantor. Dia lalu menelepon dan saat Ji Na memberitahunya kalau dia sedang di luar, Hee Chul berniat untuk menyusulnya. Tapi tepat saat itu juga, dia kedatangan tamu penting dan akhirnya mengurungkan niatnya.


Ayahnya Hye Mi lah tamu pentingnya itu. Dia datang untuk menyerahkan proposal pemilihan CEO baru sekaligus meminta Hee Chul untuk membantu pekerjaan putrinya, dia tidak suka melihat putrinya kalah. Hee Chul mengerti maksudnya dan berjanji bahwa dia akan memeriksa dulu pekerjaan Hye Mi dalam presentasi selanjutnya.

Mendengar itu, senator Jung menyarankan agar Hee Chul mengajak Hye Mi keluar makan malam bersamanya hari ini untuk menghiburnya. Ah, sebentar lagi akan ada acara pesta amal. Tapi dia tidak bisa datang, jadi bagaimana kalau Hee Chul saja yang datang bersama Hye Mi untuk menggantikannya? Hee Chul menyetujuinya.


Tae Woon sedang galau mencari baju yang tepat untuk acara kencannya dengan Ji Na malam ini. Tapi tidak ada baju yang cocok di lemarinya. Kebetulan saat itu juga, Man Soo pulang dengan setelan jas casual yang baru dibelikan oleh pacarnya. Tae Woon langsung menatap baju itu dengan mata berbinar-binar dan langsung memaksa Man Soo untuk mencopot baju itu.


Tapi tepat saat itu juga Ketua IM datang menemui Tae Woon. Dia datang untuk mengundang Tae Woon ke acara pesta amal. Saat Tae Woon menolak, Ketua IM memberitahunya bahwa acara ini akan diselenggarakan oleh yayasan yang dulu pernah disponsori oleh mendiang ayahnya Tae Woon. Jika Tae Woon tidak ingin datang sendirian, dia boleh membawa teman.


Ketua lalu pamit tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba dia terhuyung dan hampir terjatuh. Untunglah Tae Woon cepat-cepat menolongnya. Tapi Ketua bersikeras kalau dia baik-baik saja. Ketua tiba-tiba ingat untuk menanyakan sesuatu, apakah Tae Woon baru-baru ini pergi ke taman menara batu? Tae Woon membenarkannya. Sekarang Ketua yakin, Tae Woon adalah si Dr. Seed itu.


Hee Chul memenuhi janjinya untuk mengajak Hye Mi makan malam. Tapi Hye Mi penasaran, untuk apa ayahnya datang ke kantor hari ini. Hee Chul tidak menjelaskan detilnya dan hanya berkata bahwa ayahnya datang hanya untuk membicarakan masalah pekerjaan.

Ngomong-ngomong masalah pekerjaan, Ji Na lalu memberitahu Hee Chul bahwa Dr. Seed itu ternyata Si Tuan Malang. Hee Chul tampak agak kaget mendengarnya walaupun dia pura-pura tak peduli. Tapi kemudian Hye Mi berkata kalau Ji Na sedang berusaha mengejar Tae Woon setelah dia tahu kalau Tae Woon adalah seorang doktor. Ucapannya itu langsung membuat Hee Chul resah dan kesal walaupun dia tidak menunjukkannya secara terang-terangan, tapi dia penasaran dari mana Hye Mi mendengar hal itu?


Ji Na terlambat ke janji makan malamnya bersama Tae Woon. Tapi setibanya di sana, dia malah terpaku di tempat saking tercengangnya melihat ketampanan Tae Woon memakai jas casual (yang dia rampas dari Man Soo). Saking tampannya, dua wanita yang duduk di meja sebelah sampai tak bisa melepaskan pandang dari Tae Woon dan iri ingin makan bersama Tae Woon seperti Ji Na.

Melihat keantusiasan Tae Woon, Ji Na jadi penasaran, apakah Tae Woon benar-benar tidak pernah kencan dengan siapapun sebelumnya? Iya, jawab Tae Woon. Lalu bagaimana dengan cinta pertama? tanya Ji Na.


"Aku tidak pernah punya kesempatan. Karena biasanya aku selalu sendirian"

"Lalu bagaimana dengan orang tuamu?"

"Mereka... sudah meninggal dunia. Kami pergi ke laut. Dalam perjalanan pulang, mereka meninggal dunia dalam kecelakaan mobil"

Ji Na langsung menyesali pertanyaannya, tidak seharusnya dia menanyakan luka masa lalu Tae Woon. Tapi Tae Woon malah merasa bersyukur karena berkat Ji Na dia jadi bisa mengunjungi laut lagi. Dia memang punya kenangan buruk tapi dia juga banyak kenangan indah tentang lautan. Berkat Ji Na sekarang dia punya sedikit keberanian untuk kembali melihat laut.

"Keberanian adalah hadiah dari ketakutan. Seberapa banyak kau merasa takut, sebanyak itu pula kau akan mendapatkan keberanian"


Setelah makan malam, Tae Woon mengajak Ji Na untuk nonton. Tapi film yang mereka tonton malah membuat mereka jadi canggung satu sama lain gara-gara mereka menonton film err... begituan.


Sepulangnya ke rumah, Ji Na makan es krim bersama Mal Sook. Dia bertanya pendapat Mal Sook, apa menurutnya mereka akan bisa tumbuh jika mereka tidak punya keberanian? Mal Sook membenarkannya, kalau mereka tidak punya keberanian maka mereka tidak akan bisa mencinta.

Mendengar itu Ji Na langsung merenung sampai berhenti makan es krimnya. Mal Sook langsung protes karena dia sudah susah payah kerja hanya demi membeli es krim ini. Ji Na protes balik, kenapa juga Mal Sook menghabiskan uangnya hanya untuk membeli es krim.

Mal Sook tidak percaya mendengarnya, padahal dulu Ji Na sangat tergila-gila pada es krim sampai rela bolos sekolah. Masak dia lupa dengan masa lalunya itu? Apa karena dia selalu memikirkan masa depan hingga dia jadi melupakan masa lalunya? Mungkin saja, mungkin karena itulah dia jadi melupakan banyak hal. Tapi, Ji Na mengaku kalau dia masih mengingat beberapa kenangan juga.


Keesokan harinya, Manager Choi memimpin rapat membahas kompetisi proyek kedua. Sama seperti sebelumnya, kedua tim akan saling berkompetisi dan presentasi sudah harus siap dalam meeting selanjutnya. Hye Mi dan Ji Na mengaku siap.


Saat dia kembali ke meja kerjanya, dia mendapati ada beberapa kiriman surat. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah amplop yang isinya cukup tebal. Didalamnya dia menemukan sebuah post card dan gulungan undangan pesta amal. Kiriman itu dari Tae Woon. Dalam post card-nya, Tae Woon menulis ulang ucapan Ji Na tentang keberanian dan karenanya dia memutuskan untuk menggantikan ketakutannya dengan harapan.

Ji Na bingung sekarang harus bagaimana, haruskah dia menerima undangan pesta amal bersama Tae Woon itu atau tidak. Saat dia curhat ke Hye Mi (tanpa menceritakan detilnya), Hye Mi membantu memberikan solusinya dengan cara simpel. Lempar koin. Kalau yang keluar bagian depan maka dia akan pergi, jika bagian belakang maka dia tidak perlu pergi.

Tapi Ji Na terlalu gugup untuk melakukannya sendiri dan akhirnya meminta Hye Mi untuk melemparkan koin itu untuknya. Hye Mi melemparnya. Entah apa hasilnya... tapi malam harinya, Ji Na tampak berdandan cantik dan dalam perjalanan dengan taksi.


Setibanya di tempat acara, Ji Na melihat Tae Woon sedang menunggunya dengan gelisah di lobi. Keduanya sama-sama tercengang melihat kecantikan dan ketampanan masing-masing. Sementara itu, Hee Chul datang bersama Hye Mi.


Dan Kedua pasangan itu bertemu saat mereka hendak masuk ke tempat acara dan keduanya sama-sama shock.

2 comments

Kya gak sabar nunggu episode selanjutnya makasih ya min udh mw ngelanjutinnya dan jangan lupa jaga kesehatan ^^

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon