Powered by Blogger.


Raja kebetulan lewat di tempat para pangeran berkumpul. Ia pun berhenti untuk menyapa anak-anaknya, tapi malah mendapati wajah Eun memar. Eun langsung canggung sebelum akhirnya mengaku kalau dia berkelahi. Raja langsung marah, tak terima martabat keluarga kerajaan mereka terjatuh. Siapa yang sudah membuat luka memar itu? tuntut Raja. Eun langsung tergagap panik dan ragu.



Beberapa saat kemudian, Hae Soo mondar-mandir cemas di gerbang rumah setelah mendapat kabar kalau Eun akan datang dengan membawa hukuman dari Raja. Hae Soo menduga dengan takut-takut, jangan-jangan mereka akan menghukumnya dengan cara potong tangan dan kaki. Tapi sedetik kemudian, dia meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak cemas. Pasti tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. Tapi sedetik berikutnya, dia mulai cemas lagi.



Eun datang tak lama kemudian dengan kudanya dan diikuti oleh tiga kasimnya yang kecapaken mengejarnya. Hae Soo pura-pura cuek, dan Eun langsung menggodanya "Apa kau sedang menungguku?"

Eun memberitahu Hae Soo bahwa Raja sangat murka begitu melihat memar di wajah tampannya ini dan menyuruhnya untuk segera menghukum Hae Soo dengan pukulan. Hae Soo protes tak terima, kenapa dia harus dipukul padahal yang salah duluan adalah Eun.

Dia menduga kalau Eun pasti sengaja tidak menceritakan tentang kesalahannya sendiri. Tapi Eun mengklaim kalau dia bukan pria picik, justru dia memohonkan ampunan pada Raja untuk Eun dengan cara bertanya pada Raja, jika seorang gadis dihukum karena memukul pangeran lalu hukuman apa yang harus diberikan pada si pria yang dipukul wanita.

Eun dengan bangganya mengklaim kalau pertanyaan pada Raja itu seharusnya dicacat dalam sejarah sebagai kutipan yang bijak. Bagaimana? Apa sekarang Hae Soo merasa berterima kasih padanya?

"Aku tidak tahu kenapa kau bermurah hati padaku. Yah baiklah, aku sangat berterima kasih sampai aku mati rasanya"


Dia lalu berbalik pergi, tapi Eun menghentikannya karena masih ada yang ingin dia katakan pada Hae Soo. Tapi kemudian dia malah gugup dan mengusir Chae Ryung dan para kasimnya agar dia bisa bicara berdua dengan Hae Soo.

Hae Soo curiga, apa lagi yang mau Eun lakukan. Eun menyangkalnya lalu kemudian tergagap lagi saking gugup dan malu. Heran, Hae Soo memperhatikan sikap dan gerak tubuh Eun yang tampak malu-malu dan gugup. Dia langsung berpikir, jangan-jangan Eun jatuh cinta padanya. Jangan-jangan Eun akan berkata bahwa dia adalah wanita pertama yang memperlakukannya dengan cara seperti itu.


Eun akhirnya memberanikan diri untuk bicara dan mengucapkan kalimat yang sama persis seperti yang Hae Soo pikirkan "Aku cuma ingin bilang, kau adalah gadis pertama yang memperlakukanku dengan cara seperti itu" (Pfft)

Hae Soo shock, tak menyangka kalau kalimat itu ternyata sudah digunakan selama ribuan tahun. Benar-benar kalimat yang hebat. Eun heran dengan maksud ribuan tahun itu. Tapi sedetik kemudian, dia memutuskan untuk tidak mempermasalahkan maksudnya dan memberitahu Hae Soo bahwa ini adalah pertama kalinya dia berkelahi sebebas itu.

Selama ini, semua orang bahkan ibu dan kakeknya, selalu takut padanya dan membiarkannya memukul mereka. Dia tidak pernah benar-benar berkelahi seseorang sebelumnya. Dia merasa perkelahian mereka waktu itu menyenangkan.

"Kalau begitu sering-sering lah datang, aku akan berkelahi denganmu tanpa henti" ujar Hae Soo sinis

Tapi Eun malah senang "Kau ingin aku sering datang untuk mengunjungimu"

"Kau sudah menghentikan hukuman untukku dan mencegah anggota tubuh terpotong. Hanya ini yang bisa kulakukan"

Hae Soo berbalik pergi, Eun cepat-cepat menyatakan "Kalau begitu, ini hari pertama kita"


Sementara itu, Bae Ah sedang duduk di lantai atas sebuah kedai sambil menggambar keramaian kota. Tiba-tiba beberapa orang berlarian dengan heboh untuk menonton dua orang pria yang sedang berkelahi. Baek Ah langsung turun dan ikut pergi menonton perkelahian itu.

Sementara para penonton lainnya heboh bersorak, Baek Ah sibuk sendiri menggambar adegan perkelahian itu. Pria pertama berhasil mengalahkan pria kedua dan dia langsung mengaum. Karena si pria pertama terus membelakanginya, Baek Ah tidak tahu kalau pria itu ternyata Jung.

Jung meneriakkan tantangan pada siapapun yang berani melawannya sambil berbalik. Dan saat itulah Baek Ah melihat pria itu ternyata adiknya sendiri. Jung pun langsung panik apalagi menyadari Baek Ah menggambar perkelahiannya.


Dia berusaha membujuk Baek Ah. Dan saat itu tidak berhasil, dia berusaha mengambil buku gambarnya Baek Ah. Tidak berhasil juga, Jung berusaha mengancam Baek Ah dengan mengingatkan Baek Ah bahwa Baek Ah sendiri juga melakukan kesalahan dengan memakai pakaian rakyat biasa dan keluar istana untuk bersenang-senang. Baek Ah langsung menjewer telinga Jung dengan kesal, dia keluar istana atas perintah Raja lalu menendang Jung.

Jung merintih kesakitan, membuat Baek Ah jadi cemas. Tapi ternyata itu cuma akal-akalannya Jung hingga akhirnya dia sukses merebut buku gambarnya Baek Ah dan membawanya lari.


Baek Ah lalu pergi menemui kakak iparnya, Nyonya Hae. Baek Ah memainkan musik dan Nyonya Hae memejamkan mata menikmati permainan Baek Ah. Ternyata mereka cukup dekat sejak mereka masih muda dulu.

Baek Ah mengaku kecewa dengan Wook "Seandainya dia membuka hatinya sedikit lebih lebar untukmu, Noonim"

Nyonya Hae mengingatkannya untuk tidak memanggilnya 'Noonim', takutnya nanti Wook mendengarnya. Baek Ah protes, sebelum Nyonya Hae jadi kakak iparnya, dia selalu memanggil Nyonya Hae dengan sebutan 'Noonim'. Lagipula dia mengenal Nyonya Hae lebih dulu daripada Wook, pokoknya dia bersikeras akan selalu menganggap Nyonya Hae sebagai kakak perempuannya.


Mengalihkan pandangannya, Baek Ah melihat Hae Soo sedang latihan mengucapkan kalimat tradisional pada pohon, bahkan menirukan gaya pengucapan Putri Yeon Hwa. Sontak mereka berdua tersenyum geli melihat tingkah Hae Soo yang aneh tapi lucu itu. Baek Ah berkomentar Hae Soo tampak sangat berbeda sejak hilang ingatan, sekarang dia jadi lebih menarik.


Nyonya Hae setuju, Hae Soo yang sekarang jauh lebih hangat daripada Hae Soo yang dulu "Anak itu, sangat mirip denganmu, Baek Ah"

Baek Ah langsung protes, tak terima disama-samakan dengan Hae Soo. Nyonya Hae menjelaskan bahwa Hae Soo yang sekarang lebih bebas dan selalu menyuarakan sesuatu yang tak disangka-sangka. Hae Soo sekarang menyukai segala sesuatu yang menyenangkan, dia benci kalah dan mudah marah. Menurut Nyonya Hae, Hae Soo lebih cocok sebagai noonim-nya Baek Ah daripada dirinya.

Tapi Baek Ah tak suka mendengarnya "Kau tahu bagaimana perasaanku padamu. Kau tahu betul"


So bersama Moo dan Ji Mong sedang memeriksa mayat-mayat para pembunuh. Tapi saat membuka mulut salah satu mayat, mereka mendapati lidah mayat pembunuh itu tidak ada. Mereka langsung memeriksa mayat-mayat yang lain dan mendapati hal yang sama.


Ji Mong heran kenapa lidah-lidah para pembunuh itu terpotong. Memangnya apa yang dijanjikan pada mereka hingga lidah mereka dipotong, dan siapa pula pelakunya. Sementara Ji Mong dan Moo mendiskusikan masalah ini, perhatian So teralih pada sebuah lukisan orang-orang yang terbakar api.

Moo memberitahu So bahwa itu adalah lukisan Neraka Daegyuhwan. Lukisan itu menunjukkan bahwa di neraka itu, lidah orang-orang yang melakukan perzinahan dipotong. Ji Mong tiba-tiba berpikir, mungkin para pembunuh itu memang tidak punya lidah sejak awal dan bukannya dipotong.


Dia dengar ada orang-orang yang gagal menjadi biksu lalu dihukum dengan potong lidah. Ji Mong menduga kalau si pembunuh pasti memanfaatkan orang-orang tak berlidah itu sebagai pembunuh lalu para pembunuh itu dimasukkan kedalam istana dengan menyamar sebagai penari. Selama Ji Mong bicara, kita melihat kilasan-kilasan Yo yang duduk tenang melihat orang-orang yang dihukum itu.

Moo menduga bahwa pelakunya pasti orang yang punya kekuasaan, orang yang bisa menemui para biksu itu tanpa sepengatahuan siapapun. Moo pun memerintahkan Ji Mong untuk mencari tahu siapa yang sering keluar ke kota belakangan ini.


Beberapa saat kemudian, So mendorong Yo ke tembok dan menuduhnya sebagai orang yang berusaha membunuh Putra Mahkota Moo. Yo tidak terima tuduhannya dan menuntut bukti. Bahkan saat So menuduh Yo menjadikan para biksu tak berlidah sebagai pembunuh lalu membantai mereka semua, Yo tetap bersikeras menolak tuduhannya.

"Apa ibu adalah dalang dibalik semua ini?!"

Yo terdiam kaget sesaat, tapi kemudian melepaskan diri sambil protes menolak tuduhan So akan ibu mereka. So diam tapi dia tampak shock melihat reaksi Yo.


Dari kejauhan, dia melihat ibunya dengan muram dan sedih.


Hae Soo menemui Nyonya Hae dan melihat beberapa pelayan membawa pergi beberapa pakaian lama. Ternyata Wook akan menyumbangkan beberapa pakaian dan makanan pada rakyat di sebuah kota yang dilanda cuaca dingin. Hae Soo penasaran apakah Nyonya Hae akan ikut.

Nyonya Hae berkata tidak karena biasanya Wook pergi sendiri. Hae Soo langsung menyemangati Nyonya Hae untuk ikut agar bisa membantu Wook dan menemaninya. Dia bahkan langsung menawarkan diri untuk mendadani Nyonya Hae.


Sambil mendandani Nyonya Hae, dia memberitahu bahwa dia bermimpi. Dalam mimpinya, dia berjualan makeup dan sering mendandani banyak orang seperti pelanggan dan teman-temannya. Dan pekerjaannya itu membuatnya merasa seperti orang penting. Dia senang menjadi orang menjadi merasa spesial berkat dirinya. Dia senang karena dia merasa dibutuhkan dan berpikir kalau dia bisa membuat orang lain merasa bahagia.


Dalam flashback, cerita yang Hae Soo klaim sebagai mimpi itu sebenarnya adalah kisah hidupnya di zaman modern dimana dia tampak sedang mendandani temannya sambil bercanda tawa dengan riang dan bekerja di sebuah toko kosmetik.


Tapi kemudian suatu hari, dia melihat temannya itu bermesraan dengan pacarnya. Hae Soo shock dan merasa sangat terkhianati.


Hae Soo bercerita pada Nyonya Hae bahwa kedua orang yang mengkhianatinya itu mencuri semua uang tabungannya termasuk rumahnya. Tapi walaupun begitu, dia sangat bodoh karena dia bahkan tidak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya pada kedua orang yang sudah mengkhianatinya itu.

Nyonya Hae beranggapan kalau Hae Soo pastilah bermimpi buruk dan menasehati Hae Soo untuk segera melupakan mimpi buruknya itu. Hae Soo memikirkan ucapan Nyonya Hae Soo dan menyetujuinya "Mungkin semua itu memang mimpi buruk"

Hae Soo akhirnya selesai mendandani Nyonya Hae lalu menunjukkan hasilnya lewat cermin. Nyonya Hae tercengang melihat wajahnya hasil dandanan Hae Soo, kagum melihat kehebatan Hae Soo yang membuat kulitnya tampak berseri. Nyonya Hae sama sekali tidak menyangka kalau Hae Soo ternyata punya bakat seperti ini.


Mereka berdua kemudian pergi bersama dan membantu Wook membagi-bagikan sumbangan. Wook berhenti sebentar saat dia memperhatikan wajah istrinya yang tampak lebih cantik. Hae Soo memberikan jajanan pada beberapa anak kecil, tapi salah seorang bocah malah nakal dan mencuri jatah temannya lalu melarikan diri.


Hae Soo langsung mengejar bocah itu. Begitu menangkapnya, Hae Soo mengomeli anak itu. Wook tersenyum melihatnya. Hae Soo lalu berbalik dan mendapati Wook sedang menatap ke arahnya. Dia dadah-dadah ke Wook dan Wook juga langsung refleks balas dadah-dadah... sebelum akhirnya menyadari perbuatannya lalu dengan canggung pura-pura menyabetkan tangannya ke udara seolah sedang mengusir nyamuk.


Beberapa saat kemudian, Wook mendapati Hae Soo di sebuah toko obat, sedang berkutat dengan beberapa tanaman obat herbal. Dia tidak menyangka kalau Hae Soo ternyata tertarik dengan obat-obatan. Yang lebih mencengangkannya lagi, Hae Soo mengenali bahan-bahan herbal itu dengan baik.

"Aku dulu membuat sabun" aku Hae Soo keceplosan

"Sa-sabun?"

"Ah, itu yang dipakai untuk mandi. Perlengkapan mandi. Semua ini adalah bahan-bahan yang digunakan untuk membuat produk perawatan kulit. Jika kau menggunakan semua ini untuk mandi maka bisa membuat kulitmu jadi sangat bagus. Ah, aku juga harus membuatnya untuk Nyonya Hae"


Apoteker datang tak lama kemudian untuk memberikan obat pesanan Wook, obat untuk istrinya Wook dan juga obat untuk luka gores di lehernya Hae Soo. Hae Soo mencoba mengolesnya sendiri. Tapi tanpa cermin, dia jadi tidak tahu dimana lukanya dan mengoleskan obatnya asal-asalan.

Wook akhirnya mengambil alih obat itu dan menyibak rambut Hae Soo ke belakang. Tapi perbuatannya itu membuat Hae Soo kaget dan tegang. Wook lalu mendekat dan membantu mengoleskan obat itu ke leher Hae Soo dengan lembut. Hae Soo diam tapi kedekatan mereka membuat Hae Soo semakin gugup dan canggung.


Nyonya Hae sudah tidur sesampainya mereka kembali ke rumah. Wook menggendongnya ke tempat tidur dan Hae Soo membantu menyelimutinya. Tak sengaja tangan mereka saling bersentuhan membuat mereka berdua sama-sama terdiam tegang. Hae Soo cepat-cepat menarik tangannya lalu pergi.


Wook melihat istrinya yang tertidur, tapi kemudian pandangannya teralih keluar, ke arah Hae Soo.


Hae Soo gelisah menatap tangannya yang barusan bersentuhan dengan Wook. Hae Soo lalu pergi ke gunungan baru, meletakkan satu batu di puncak teratas dan berdoa pada ibunya. Dia meyakinkan ibunya untuk tidak mencemaskannya, dia baik-baik saja di sini... "Sebenarnya, hatiku goyah. Aku memberitahu diriku sendiri bahwa aku tidak boleh... tapi, aku meraasa goyah"


Dalam perjalanan kembali, Hae Soo lagi-lagi bertemu So. Dia memperhatikan So tampak merenung gelisah, tapi Hae Soo memutuskan untuk mengacuhkannya dan pergi.


Keesokan harinya, Ji Mong mengumumkan bahwa tempat persembunyian para pembunuh ditemukan. Moo membawa rombongan prajurit kesana.


Tapi So sudah tiba duluan seorang diri. Saat So masuk, tempat itu tampak kosong. Tapi So merasakan keanehan lalu menutup mata dan berkonsentrasi.


Tiba-tiba seorang pembunuh bertopeng melompat ke arahnya dengan melempar belati. Tapi So bergerak secepat kilat menangkis belati itu dengan pedangnya. Beberapa orang lainnya muncul dan melempar belati-belati mereka kepadanya, tapi So berhasil menangkis semuanya dengan cekatan. Lalu sebuah tombak tiba-tiba menyerangnya, tapi So lagi-lagi berhasil menghindarinya.


Dua orang pembunuh turun dari atap dan menyerangnya. So membunuh mereka dengan mudah, tapi kemudian muncul lebih banyak pembunuh yang mengerubunginya. So memerintahkan pemimpin mereka untuk keluar, tapi tak ada yang menjawabnya.

"Apa tidak ada diantara kalian yang bisa bicara?"

Seorang pria mencoba menyerangnya, tapi So dengan cepat menjatuhkan pedang pria itu dan menempelkan pedangnya ke leher pria itu. Saat dia masih juga belum mendapatkan jawaban, So langsung menggorok leher pria itu lalu melawan dan membunuhi mereka.


Sementara Moo dan rombongan masih dalam perjalanan, So bertarung sendirian melawan semua pembunuh itu sendirian dengan cepat, cekatan dan sangat brutal. Bukan cuma dengan pedang tapi juga dengan belati yang tersimpan di kakinya, dia tampak jelas sudah terlatih ilmu bela diri. Satu per satu orang-orang itu berjatuhan. Dan tak lama kemudian, hanya So seorang yang masih bertahan hidup.


Dia hampir pergi, tapi tiba-tiba sebuah pintu roboh menampakkan seorang biksu kepala. Biksu itu lalu mendekat untuk menyapa So. So bertanya apakah dia yang penanggung jawab tempat ini. Biksu berkata bahwa oang-orang ini berdosa jadi mereka dihukum dengan potong lidah dan dia ditugaskan untuk mengawasi orang-orang ini.

"Jadi maksudmu aku hanya perlu menyingkirkanmu"

"Untuk siapa kau melakukan ini sebenarnya? Apa ibumu tahu tentang ini, Yang Mulia?"

"Ini adalah tempat dimana seharusnya orang-orang tidak bicara, tapi malah ada pria yang bicara terlalu banyak"


So langsung bergerak menyerang Biksu. Biksu berusaha melawan, tapi So lebih cepat dengan menebas beberapa sayatan ke seluruh tubuh Biksu. Dan begitu Biksu lemah, So langsung menusuknya dan berkata "Kau hidup dengan bantuan Ratu. Jadi matilah demi Ratu"


So pun pergi setelah membakar tempat itu.


Moo dan rombongan prajurit akhirnya tiba di sana tak lama kemudian, tapi tempat itu sudah musnah terbakar. Panik, Moo memerintahkan prajurit untuk memadamkan api dan mencari korban yang selamat. Ji Mong melihat tempat yang terbakar itu dan bergumam "Neraka Daegyuhwan"



Ratu Yoo terbangun tengah malam dengan shock melihat sosok berjalan mendekatinya dengan membawa pedang berlumuran darah. Dia langsung bangkit dan menuntut siapa dia.

"Ini aku, ibu" ujar suara So sebelum dia mendekat dan menampakkan wajahnya yang masih bersimbah darah dan senyum licik.

Bersambung ke episode 4

17 comments

hore frist komen,,pnsrn apa yg mnybbkn ratu yo dn raja sprt tdk menyukai so bhkn hdpny so diasingkn...mksh sinopsisnya

Lee jun ki kerennnn keceee badaiii pokoknya...
Wlapun udh nonton yng versi china sech...
Ada perbdaan cerita...
Tapi tetep dech ini kerenn...hihihihi
Tak mau lah melewatkan para pangeran kece๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚..
Tingkyu mb imma semoga sehat selalu
Aamiin

Drama setelah W yg q pantengin terus,
Lanjut chingu..

Suka sm Lee jun ki slalu keren dlm peran seguk wlw keliht dingn,tajm tp punya sisi yg hangt,d tunggu lanjutn nya mba

Suka sm Lee jun ki slalu keren dlm peran seguk wlw keliht dingn,tajm tp punya sisi yg hangt,d tunggu lanjutn nya mba

Wang So (Lee jun ki) sama puteri Yeon hwa aja deh.. saya lebih suka. biar Hae soo sama Wook atau Baekhyun. Tapi sepertinya ngak mungkin yah? hehe(^_^)

kerenn ...
ditunggu ep selanjutnyyaa

knpa si ratu Yoo benci bgt sama Wang So pdhl kan muka pangeran So begitu jg karena ulahnya. ampun deh suka bgt sama pangeran Wook dan pengeran So. gak sabar nunggu ep 4 T__T. thanks sinopsis'y ^^

Suka bgt.....ditunggu sinopsis selanjutnya eoni....love u

Omg..pangeran so keren bgt..oppa jun ki keren bgt akting ny..pkknya g dragukan lg akting oppa jun ki..penasaran ma sinop episod 4 nya..q ska pangeran So..hehehe...gamsahamida eonni udh semangat nulis sinopnya..๐Ÿ˜Š

lee jun ki mah,, gk usah d ragukan lagi klo akting,,
walaupun Wanh so bnyk bunuh orang,, tp tetep keren๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Aku nonton runing man kemarin dan jadi mau nonton drama ini mba taunya seru abis keren tapi di dunia asli ternyata lee jong ki oppa lebih narsis dan hangat bgt jadi mau nge fans sama dia wkwkwkwk kang han neul juga kak lucu di dunia aslinya lebih pemalu dan dia suka bgt ketawa jadi tambah ngefans sama ini drama dan pemain nya makasih mba udah bikin sinopsisnya gomawo unnie cheer up

Astaga lw aku yg jdi Ratu
udah pasti kejang2 liat ada muka bersimbah darah tiba2 dikamar aku :|

ditunggu ya episode 4nya
semangat

Kpn eps4 nya keluar?
Udah nda sabar

Kau hidup dengan bantuan ratu, maka matilah demi ratu. Ituuu maksud nya wang so bunuh semua biksu utk mรจnghapus jejak pembunuh bayaran dan melindungi ratu... begitu kah??

Teramat sangat penasaran......so sbnarnya seperti apa dan memihak siapa......tapi aQ tau betul dia sebenarnya sangat kesakitan melihat tdk ada seorangpun yg peduli padanya, bahkan ji mong yg kelihatan peduli aQ rasa justru memanfaatkan wang so........duh jadi makin sayang sama so...pengen meluk deh hahahaaaa dan utk mbak ima makasih ya mbak sinopsisnya......jadi makin ngerti maksud ceritanya. Karena meskipun nonton dgan subtittle aQ masih belum bisa mmahami maksud ceritanya.

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon