Powered by Blogger.


Raja memberi penghormatan pada para leluhur bersama Putra Mahkota, kedua ratu dan para pangeran termasuk So. Karena acara ini adalah pertama kalinya bagi So, dia tak tahu apa-apa dan tak segera ikut menunduk seperti saudaranya yang lain.


Lebih parah dari So, Eun malah ketiduran. hahaha, dasar! Setelah selesai, Raja melirik So lalu cepat-cepat berlalu pergi.



Dengan dandanan rambut dan penampilan baru yang lebih rapi, So memutuskan tinggal di menara-nya Ji Mong. Jelas dia langsung protes keras, kenapa So malah ngotot tinggal di sini padahal seharusnya dia tinggal di kamar pangeran. Dengan kesal Ji Mong mengklaim tempat ini miliknya.

Tapi So malah dengan santainya berbaring di balkon sambil mengingatkan Ji Mong bahwa semua yang ada di sini adalah milik Raja. Walaupun mengakui kesalahannya, tapi Ji Mong tetap protes tidak terima kalau So tinggal di sini.

"Aku tidak bisa melihat langit dari kamarku. Aku tidak bisa melihat bintang yang hanya bersinar di Goryeo saja" ujar So sambil menatap langit malam berbintang dengan senyum.

"Bintang yang hanya bersinar di Goryeo? Memangnya ada yang seperti itu" Ji Mong heran


Keesokan harinya di kediaman Wook, Hae Soo berbinar-binar melihat banyaknya tanaman herbal di hadapannya. Nyonya Hae memberitahu bahwa semua ini dari Wook. Bukankah Hae Soo ingin melakukan sesuatu yang dia sukai dan Wook bilang kalau Hae Soo suka dengan obat-obatan herbal. Hae Soo tersenyum mendengarnya.

"Tapi, apa yang ingin kau buat dengan semua ini?" tanya Nyonya Hae

"Sabun mandi. Aku akan membuatkanmu sabun untuk mandi"


Dengan dibantu beberapa pelayan, Hae Soo pun mulai bekerja membuat sabun herbal dengan cetakan kayu tradisional. Dia juga akan membuatnya untuk Ratu karena Nyonya Hae bilang kalau Ratu pasti akan menyukainya. Beberapa saat kemudian, jadilah beberapa sabun dalam berbagai bentuk. Salah satunya Hae Soo hias secara khusus dengan bunga.


Wook lewat dan begitu terpesona melihat Hae Soo bekerja hingga dia melamun menatap Hae Soo dengan senyum penuh cinta. Begitu terpesonanya dia, sampai dia tidak sadar kalau Nyonya Hae sedang memperhatikannya.


Menepis kecemburuannya, Nyonya Hae berdiri di samping Wook dan berkomentar bahwa selama ini dia tidak pernah melihat Hae Soo begitu bahagia dan antusias.

Wook yakin bahwa walaupun Hae Soo tak pernah mengatakan apapun, tapi dia pasti sangat frustasi karena kehilangan ingatannya. Tapi Wook lega karena walaupun Hae Soo hilang ingatan tapi dia tidak kehilangan ketrampilannya.

"Soo jadi semakin dewasa sejak dia terluka. Kadang dia mengatakan sesuatu yang lebih bijak daripada semua hal yang pernah kuucapkan. Dan di lain waktu, dia bersikap seperti orang seumurannya dan sangat manis"

Nyonya Hae mengaku bahwa dia sering berpikir untuk mengirim Hae Soo kembali ke kampung halamannya, tapi sekarang dia bersyukur dia tidak pernah melakukan itu. Karena dia ingin mencarikan jodoh untuk Hae Soo di sini. Wook seketika gelisah mendengar ucapan istrinya, tapi dia tidak mengatakan apapun.


"Aku ingin dia berada di sisi kita selamanya. Aku ingin selalu melihat wajah cerianya" ujar Nyonya Hae

"Iya... aku juga merasakan hal yang sama" ucap Wook dengan sambil melamun menatap Hae Soo dan tidak sadar kalau Nyonya Hae sedang memperhatikannya dengan sedih.


Nyonya Hae ingin menulis surat dan menyuruh Hae Soo untuk datang ke perpustakaan. Tapi saat dia tiba di sana, dia malah bertemu Wook dan bukannya Nyonya Hae. Mereka berdua langsung canggung. Wook memberitahu kalau istrinya sudah tidur karena batuk-batuk parah tadi, jadi dia menggantikannya istrinya menulis surat.

Hae Soo canggung dan bingung harus apa. Dia sudah berniat pergi, tapi Wook menghentikannya dan menyuruhnya membantu mengaduk tinta. Hae Soo pun menghampiri Wook. Tapi begitu menyadari kedekatan mereka, dia langsung mundur menjaga jarak. Sambil mengaduk tinta, dia melirik Wook dan seketika terpesona melihat tangan Wook yang menggerak-gerakkan kuas dengan ahlinya hingga membentuk tulisan-tulisan indah.



Saat Wook menyadari Hae Soo sedang menatap tulisannya, Wook memberitahunya bahwa ini adalah sebuah puisi. Dia menyertakan puisi karena biasanya Nyonya Hae selalu menyertakan puisi dalam surat-suratnya. Tapi kemudian Wook penasaran dengan Hae Soo, dia suka puisi atau lagu. Jelas dia lebih memilih lagu.

Jawaban itu sangat tak disangka-sangka oleh Wook. Sama sekali tak menyangka kalau wanita bangsawan seperti Hae Soo malah lebih tertarik pada lagu yang biasa disukai rakyat jelata. Baru saat itu Hae Soo sadar kalau yang Wook maksud bukan musik-musik modern melainkan musik-musik Goryeo. Dia pun cepat-cepat mengoreksi jawabannya dan menyatakan kalau dia lebih suka puisi.

Mendengar itu, Wook tiba-tiba memutuskan untuk memberikan sebuah puisi untuk Hae Soo "Aku merasa ingin memberikannya padamu"


Hae Soo menerima puisi itu dengan tercengang lalu pergi. Baru setibanya di luar dia membuka kertas itu dan menatapnya dengan bingung karena semua tulisannya masih memakai huruf-huruf Cina. Chae Ryung kebetulan lewat saat itu dan Hae Soo langsung memanggilnya.

Hae Soo berbohong mengatakan kalau kemampuan membacanya hilang bersamaan dengan hilangnya ingatannya, jadi dia meminta Chae Ryung untuk membacakan puisi ini untuknya. Tapi sayang, Chae Ryung hanya seorang pelayan jadi mana mungkin dia bisa membaca.


Keesokan harinya, Hae Soo masih galau menatap puisi dengan huruf-huruf Cina yang sulit dibaca itu. Dia memang bisa mengenali tiap-tiap karakter, tapi dia bingung saat harus membacanya menjadi kalimat. Akhirnya yang dia bisa lakukan hanyalah mengagumi tulisan Wook yang indah, sama indahnya seperti orangnya.


"Tapi jauh lebih baik jika aku bisa membacanya. Aku berharap sekali bisa membacanya. Aku ingin membacanya. Aku ingin membacanya. Argh! Kenapa aku tidak mengambil kelas Bahasa Cina?!" gerutunya kesal

"Apa yang kau lakukan?" tanya Baek Ah mengagetkan Hae Soo "Apa kau buta huruf?"

Hae Soo langsung menyangkal dan beralasan sekali lagi kalau dia hanya lupa segalanya sejak dia hilang ingatan. Baek Ah langsung menawarkan diri membantu membacakannya. Hae Soo menolak tapi Baek Ah malah langsung merebut kertasnya dan membacakannya.


Tapi begitu dia menyadari makna puisi itu adalah puisi cinta, Wook seketika berhenti ditengah-tengah. Nyonya Hae tiba-tiba datang dan meneruskan puisi yang sudah dihapalkannya dengan baik itu. Baek Ah bertanya apakah Hae Soo mengerti makna puisi ini.

Hae Soo tampak jelas tidak mengerti. Tapi mungkin karena tidak mau terlihat bodoh, dia mencoba menerka dari kalimat pertama yang menyebutkan Pohon Willow bahwa mungkin puisi ini tentang pemandangan alam yang indah. Nyonya Hae cuma tersenyum mendengarnya. Baek Ah yakin puisi ini tidak mungkin ditulis oleh orang yang buta huruf sepertinya, siapa yang memberikannya pada Hae Soo.

"Pangeran ke-8 yang memberikannya padaku untuk dipelajari" jawab Hae Soo

Baek Ah langsung melirik Nyonya Hae dengan cemas, tapi Nyonya Hae tetap menjaga wajahnya tetap tersenyum. Baek Ah curiga apa Hae Soo benar-benar tidak bisa membaca, atau dia cuma pura-pura?

"Tentu saja tidak. Kenapa aku harus pura-pura bodoh?"

Nyonya Hae tetap tenang saat dia memberitahu Hae Soo untuk membalas puisi indah pemberian Wook itu. Dia juga menyuruh Hae Soo untuk bersiap karena besok dia akan bertemu Ratu di istana dan mempersembahkan sabun mandi buatannya pada Ratu. Baek Ah cuma diam menatap Nyonya Hae. Hae Soo tentu saja senang bisa masuk istana lalu mengambil kembali puisinya dari tangan Baek Ah dan pamit pergi.


Setelah mereka tinggal berduaan, Baek Ah langsung marah-marah. Nyonya Hae berusaha untuk tetap tenang dan mengklaim bahwa puisi ini cuma puisi tentang pemandangan. Tapi Baek Ah tidak mau melepaskan masalah ini begitu saja. Jelas ini puisi tentang cinta... "Huruf terakhirnya diubah menjadi kata 'cinta'. Puisi ini biasanya digunakan sebagai penyataan cinta! Apa kau bilang kalau kau tidak mengetahuinya?"

Saat Nyonya Hae masih tetap diam, Baek Ah langsung curiga, Nyonya Hae pasti sudah mengetahui perasaan Wook pada Hae Soo. Nyonya Hae tak menjawabnya. Dengan mata basah oleh air mata yang menggenang, Nyonya Hae menatap Baek Ah dan meminta Baek Ah untuk menyelesaikan lukisan dirinya hari ini juga.


Malam harinya, Hae Soo masih mencoba memahami makna puisi itu sambil tiduran. Setelah membacanya berulang kali, sepertinya dia punya ide akan makna tersembunyi puisi itu. Tapi dia langsung mengomeli dirinya sendiri untuk tidka berpikir seperti itu, anggap saja Wook adalah tuan tanah.

"Kau harus mengontrol perasaanmu sendiri. Hatiku adalah milikku" Hae Soo mengingatkan dirinya sendiri sambil menepuki dadanya lalu tertidur sambil menggumam "Tuan tanah... tuan tanah"


Keesokan harinya, Hae Soo menatap istana dan para pejabat yang berlalu lalang dengan terkagum-kagum. Wook yang berjalan paling depan, menoleh dan tersenyum geli melihat reaksi Hae Soo.


Ratu Hwangbo bertemu dengan Ratu Yoo di Istana Damiwon dan menjelaskan pada Ratu Yoo bahwa hari ini Wook akan datang bersama istrinya dan sepupu istrinya. Dia juga ingin meminta obat dari Selir Oh untuk menantunya yang sedang sakit. Ratu Yoo mendengus sinis mendengarnya, kenapa mereka begitu mempercayai Selir Oh padahal dia bukan tabib.

Ratu Hwangbo mengacuhkan sindirannya dan mengalihkan topik menanyakan perkembangan Pangeran Jung. Dia mendengar kalau Pangeran Jung sekarang belajar dari seorang guru pribadi di kediaman Ratu Yoo. Tak ingin Ratu Hwangbo tentang guru putranya, Ratu Yoo merendah dengan mengklaim kalau gurunya sudah tua lalu bertanya pada siapa Wook belajar.

Ratu Hwangbo mengklaim putranya sangat pintar hingga tidak membutuhkan guru, Wook hanya perlu membaca berulang kali dan hanya bertanya pada guru jika ada yang tidak dia mengerti saja. Tapi Ratu Yoo tak percaya dan langsung menyindir halus, Ratu Hwangbo pasti sengaja menyembunyikan gurunya Wook.


Wook datang tak lama kemudian bersama Nyonya Hae dan Hae Soo yang masih celingukan mengagumi segala sesuatu yang baru dilihatnya. Ratu Hwangbo menyapa Hae Soo dengan ramah. Ini pertama kalinya dia bertemu Hae Soo dan memuji kecantikan Hae Soo.

Sementara Ratu Yoo menyapanya dengan dingin dan mengenalinya sebagai wanita yang telah memukuli Pangeran ke-10, Eun. Hae Soo langsung tertunduk canggung sebelum akhirnya ingat untuk memberi salam pada Ratu Yoo.


Nyonya Hae berusaha meredakan suasana dengan memberitahu mereka bahwa Hae Soo membawakan hadiah untuk mereka. Hae Soo memberikan satu kotak pertama untuk Ratu Hwangbo yang seketika menyukainya dan terkagum-kagum dengan sabun mandi buatan Hae Soo.

Senang, Hae Soo langsung nyerocos "Jika Yang Mulia memakai setiap kali mandi maka kulit Yang Mulian akan... sangat... lembut" ucap Hae Soo yang tampaknya hampir keceplosan lagi mengucap kata-kata modern.

Wook langsung mendengus geli mendengarnya. Ratu Hwangbo heran melihat reaksi Wook itu, tapi kemudian ia cepat-cepat beralih kembali ke Hae Soo dan berterima kasih.


Nyonya Hae lalu mempersembahkan satu kotak lagi pada Ratu Yoo, tapi tanggapan Ratu Yoo malah menyindir halus Nyonya Hae yang tidak bisa punya anak.

"Orang bilang berkah yang besar tidak datang dengan mudah, terima kasih atas perhatian Yang Mulia" balas Wook


Kasim tiba-tiba mengumumkan kedatangan Raja. Hae Soo langsung melongo melihat Raja masuk sambil membantin "Raja Taejo Wang Geom, Raja Taejo Wang Geon. Biasanya aku hanya melihatnya di dalam drama, sekarang aku melihatnya nyata. Daebak!"

Saking terpana-nya, Hae Soo malah terus melongo menatap Raja dan baru mundur saat Nyonya Hae menariknya. Raja menyapa Nyonya Hae sementara Hae Soo terus menatap Raja sambil ternganga bengong. Raja beralih menatapnya dan saat itulah Hae Soo baru sadar lalu cepat-cepat menundukkan kepalanya.


Raja langsung mengenali Hae Soo sebagai wanita yang memukuli Pangeran ke-10. Cemas, Wook berusaha melindungi Hae Soo dengan mengklaim bahwa mereka cuma bermain-main. Tapi Raja tampak sangat marah pada Hae Soo "Wajah Pangeran jadi terluka, permainan mereka kelewatan"

Putra Mahkota juga berusaha membela Hae Soo. Tapi Hae Soo yang ketakutan, langsung bersujud sambil menyatakan "Hamba telah melakukan kejahatan berat!"

"Apa kau takut pada Raja?" tanya Raja

Hae Soo berpikir cepat dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa raja tiran biasanya hidup dari ketakutan rakyatnya, sementara raja yang baik dan bijak akan hidup dari kebajikannya. Maka dia pun berkata "Yang Mulia adalah Raja yang baik dan bijak, jadi hamba tidak takut"

"Baik dan bijak? Kenapa kau berpikir kalau aku raja yang baik dan bijak?"


Hae Soo langsung terdiam bingung. Melihat itu, Raja langsung menuduh Hae Soo cuma menjilat saja agar dia bisa lepas dari hukuman. Hae Soo jadi semakin panik dan memaksa dirinya sendiri untuk memikirkan sesuatu hingga akhirnya dia mendapat ide lalu berkata...

"Yang Mulia menyatukan 3 kerajaan dan mendirikan sebuah negeri baru. Yang Mulia tidak membeda-bedakan orang-orang dari ketiga negeri yang telah hancur dan memberi mereka jabatan tinggi. Dan... dan... (Kerajaan) Balhae... Balhae menghilang tapi Yang Mulia tetap setia. Karena itulah Yang Mulia adalah raja yang baik dan bijak"


Semua orang tegang, Hae Soo jauh lebih tegang lagi. Raja terus menatapnya tajam... sebelum akhirnya tertawa keras. Putra Mahkota pun memuji kepintaran Hae Soo. Lega, diam-diam Hae Soo membatin, meminta maaf pada guru sejarahnya karena dulu pernah memaki sang guru saat guru sejarahnya memaksa murid-muridnya menghapalkan sejarah Goryeo dan ternyata sekarang malah sangat berguna.

"Terima kasih! Kau akan terberkati!" batin Hae Soo penuh syukur.

Kagum dengan kepintaran Hae Soo, Raja memutuskan untuk menghadiahi Hae Soo dengan karpet dari Persia. Hae Soo cuma bengong. Wook membisikinya untuk mengucap terima kasih. Hae Soo pun langsung menyerukan ucapan terima kasih dengan gaya lebai "Anda sangat murah hati, Yang Mulia"


Setelah selesai, Hae Soo keluar mencari toilet tapi tak menemukannya padahal dia sudah kebelet. Tiba-tiba dia melihat sebuah pohon. Pfft! Tak ada toilet, pohon pun jadi. Tapi saat dia hendak menghampiri pohon itu, So tiba-tiba datang merangkulnya.

Hae Soo langsung kagum melihat penampilan barunya dan berkomentar kalau So jadi kelihatan seperti pangeran dengan penampilan barunya ini. Tak terima, So mengingatkan Hae Soo bahwa dia memang terlahir sebagai seorang pangeran.


Dia penasaran apa yang Hae Soo lakukan di istana, Hae Soo pun memberitahunya kalau Wook yang mengajaknya sekalian memberikan hadiah untuk ratu.

"Apa kau baik-baik saja di istana?" tanya Hae Soo

"Tentu saja. Seperti katamu, ini adalah rumahku bersama ibuku dan saudara-saudaraku"

"Tempat ini terlalu besar sebagai rumah, apa kau bahkan bisa bertemu orang tuamu setiap hari?"


So langsung terdiam mendengarnya. Tepat saat itu juga, So melihat Ratu Yoo datang. Dia langsung bersembunyi di balik tembok sebelum Ratu Yoo melihatnya. Tapi di sana, dia malah mendengar Ratu Yoo menyindirnya pedas So karena So malah kembali ke istana. Ratu Yoo bahkan tak segan membanding-bandingkan So dengan Wook yang pintar sementara So hanya bisa membunuhi orang. Jika So tidak tahu apa-apa lalu bagaimana dia akan bertahan tinggal di istana.

"Terima kasih atas perhatiannya. Saya tidak akan menjadi beban bagi ibunda. Saya akan berusaha sekuat tenaga agar saya tidak menjadi beban"


Setelah Ratu Yoo pergi, So melihat Hae Soo sudah menghilang dari sana. Hae Soo sungguh tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar, apa wanita itu benar-benar ibunya So? Tapi dia merasa tak enak pada So karena menyaksikan semua itu tadi.


Nyonya Hae sedang bersama Ratu Hwangbo saat batuknya jadi semakin parah hingga dia batuk darah. Cemas, Ratu Hwangbo langsung menyuruh pelayan memanggilkan tabib. Tapi Nyonya Hae langsung berlutut dan menuntut janji yang pernah Ratu Hwangbo katakan padanya di hari pernikahannya, bahwa Ratu Hwangbo akan mengabulkan satu keinginannya. Ratu Hwangbo langsung menggenggam tangan menantunya dan menanyakan apa permintaan Nyonya Hae.

"Hae Soo... tolong terima dia sebagai istri pangeran. Anda tahu, saya tidak punya banyak waktu"

Bersambung ke part 2

10 comments

Makasih sinopnya, cpt sekali udh nongol heheh... terima kasih... ditunggu selanjutnya . Hwaiting

Aarrrrgggg
Ratu yoo sadis weehh itu anak sendiri



ditunggu ya lanjutannya

i decide that karismanya dan pesona kang ha neul disini maksimal, sampe kalah joon ki disini. aduh melted kalo liat cowok yg mature sikapnya dan confidentnya dan jg full of control

Sebetulnya saya juga slalu mengikuti drama ini melalui onetv asia, tp dengan membaca sinopsisnyapun membuat saya jadi lebih penasaran, walo sudah tau ceritanya.
Part 2 cepat keluarnya ya
yang semangat nulisnya kaka
oh iya pandangan kaka ditulisannya pun membantu saya menyadari karakter masing-masing tokoh
saya menantikan kelanjutannya
terima kasih

cpet bgt updatenya,,
ciyee,, so skrg suka godain hae so klo ktmu,, sweet dach,, pas bareng hae so, wajahnya berbinar2 gtu,, hahaaa,,
#baper saya #wangsoteam

bapeeerrr ,, klo liat hae soo sm pangeran wook juga pangeran wang so :D

seneng dech , terhanyut sama drama ini ..

ditunggu part 2 nya chingu , fighting !!!

Ahhh aku sukaaa :) belum bisa sreaming langsung tapi terbantu dengan sinopsisnya. Terimakasih kk :)

Ih makin lama makin keren alur ceritanya. Kenapa ratingnya rendah cuma gara"pemainnya yg actingnya masih bisa ditolerir. Hhmmm...
Semangat mbk penulis, ditunggu lanjutan ceritanya :D

beda orang beda selera haha saya malah lebih suka wang soo di sini. suka wang wook juga tapi kalo saingannya wang soo saya lebih milih wang soo :)
*u make me want to give you a hug -oh hae young ^^

eh, cuma so kan yang bisa baca tuh emot? hahaha pertanda jodoh nih^^

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon