Powered by Blogger.


Hae Soo memulai pekerjaannya sebagai dayang istana. Tapi Dayang Oh masih agak meragukan kemampuannya. Apakah Hae Soo bisa menyeduh teh? Apakah dia mengerti obat-obatan herbal? Apakah dia mengerti kosmetik?




Hae Soo langsung nyerocos membanggakan keahliannya yang satu itu. Dia meyakinkan Dayang Oh bahwa dia punya lisensi perawatan kulit, bisa merias wajah dan bisa membuat kosmetik. Tapi saat Dayang Oh bertanya apakah dia bisa membaca dan menulis, Hae Soo langsung lemas dan terpaksa harus mengakui bahwa dia tidak bisa membaca.

Saat dia keluar, dia mendapati So tengah menunggunya. Berjalan keluar bersama, Hae Soo nyerocos membanggakan dirinya yang bisa melakukan apapun yang diperintahkan padanya selama bekerja di sini. Dan sekarang karena dia tinggal di sini, dia meminta So untuk sering-sering mengunjunginya.

Dia baru ingat kalau dia juga harus berterima kasih pada So atas malam itu. Tapi So yang sedari tadi hanya diam, langsung menghentikan ocehan So dengan menarik tangan So yang masih diperban dengan tatapan penuh kekhawatiran... "Kau bisa saja mati. Kau bisa mati kalau kau menyayat tanganmu lebih dalam!"


"Tapi aku kan tidak mati" jawab Hae Soo lemah

"Apa kau tahu bagaimana rasanya hidup dengan bekas luka? Apa kau senang menjadi dayang istana? Apa kau bahagia walaupun mungkin saja kau tidak akan bisa meninggalkan tempat ini? Kenapa? Kenapa kau tidak menikah saja dengan Raja?"

Hae Soo langsung menyela dan membela diri. Awalnya dia sempat berpikir untuk menjalani pernikahan itu saat dia hendak memasuki kamar Raja. Tapi pada akhirnya dia merasa tidak bisa. Saat itu dia berpikir bahwa hanya dialah yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itulah dia menyayat lengannya.

So mengancam Hae Soo untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi. Jika tidak maka dia tidak akan memaafkan Hae Soo. Tercengang dengan kedekatan dan kekhawatiran So, Hae Soo langsung memalingkan pandangannya canggung.


So kemudian membawanya ke suatu tempat di tengah-tengah danau Dongji yang indah. Saat Hae Soo bertanya-tanya seperti apakah istana itu, So memberitahunya bahwa istana adalah sebuah tempat yang sulit dimasuki tapi lebih sulit lagi untuk ditinggalkan. Dia bisa mati kalau mempercayai sembarang orang. Dia harus mencurigai semua orang jika dia ingin bertahan di istana. Pada dasarnya, semua orang di istana itu hidup sendirian.


So mengajaknya berkeliling, tapi Hae Soo terhenti saat melihat pemandangan danau yang indah "Aku tidak sendirian, jadi aku akan baik-baik saja"

"Kau tidak sendirian?"

"Pangeran kan ada di sini. Jadi aku tidak sendirian"

So mendengus mendengar ucapan Hae Soo yang terlalu percaya diri itu. Tapi Hae Soo yakin kalau dia pasti bisa bertahan. Jika semua orang yang hidup di istana ini bisa hidup dengan baik, maka dia juga pasti bisa. Menatap Hae Soo dengan kagum, So berkomentar kalau Hae Soo pasti bisa melakukan itu. Dia berpikir dengan adanya orang cerewet seperti Hae Soo, setidaknya tempat ini takkan terasa membosankan.


Melihat kakaknya termenung, Yeon Hwa memanggilnya dan memberitahunya bahwa sekarang dia sedang mencari pendamping lain yang cocok untuk Wook. Wook menolak, menurutnya satu perjodohan sudah cukup. Tapi Yeon Hwa tidak terima penolakannya dan mengingatkannya bahwa jika Wook tidak menikah dengan seseorang yang menguntungkan maka itu artinya sama saja membiarkan Ratu Yoo mengusir mereka dari istana.

Wook memberitahu Yeon Hwa bahwa dia sudah melupakan masa lalu mereka itu dan menasehati Yeon Hwa untuk melakukan hal yang sama. Tapi Yeon Hwa terus menekannya dengan mengingatkannya bahwa Yo menikah secara politik, jadi sudah pasti Yo mengincar tahta. Jika Ratu Yoo berhasil menyingkirkan Putra Mahkota, maka masa depan mereka bisa dipastikan antara mati atau diasingkan.


Wook berusaha mengalihkan topik dan bertanya apakah Yeon Hwa masih menyukai So. Tapi Yeon Hwa mengklaim bahwa dia hanya akan menikah dengan seseorang yang bisa menguntungkan bagi Wook, terserah orang itu So atau orang lain, tidak peduli walaupun dia harus menikah demi kepentingan politik ataupun dijual, asalkan dia bisa membantu Wook menjadi raja.


Di tempat lain, Ji Mong sedang membantu mengoles obat untuk penyakit kulit yang diderita Putra Mahkota. Penyakit itu membuatnya tidak bisa menghadiri rapat pagi bersama Raja dan sekarang dia cemas kalau-kalau dia akan diturunkan dari jabatan Putra Mahkota.

Ji Mong berusaha menyemangati Putra Mahkota dan meyakinkannya bahwa Putra Mahkota terlahir di bawah naungan bintang raja, dan dia tidak akan mungkin membohongi seluruh negeri tentang sesuatu sebesar ini. Karena itulah dia memohon agar Putra Mahkota fokus saja untuk menyembuhkan penyakitnya.


Keesokan harinya, seorang jenderal agung baru tiba di istana. Dia adalah Jenderal Park Soo Kyung (Sung Dong Il). Ia datang bersama putrinya, Park Soon Duk, yang memakai seragam militer pria dan membawa bulu beruang.

Hubungan mereka seperti keluarga yang biasa yang akrab tapi juga sering cekcok. Saat Jenderal Park menggerutu karena Soon Duk tidak mau memberikan kulit beruang itu untuknya, Soon Duk dengan santainya mengklaim bahwa dia menyimpannya untuk orang lain.

"Teganya kau. Seharusnya semua bagian yang bagus untuk ayahmu" gerutu Jenderal Park


Jenderal Park lalu pergi menghadap Raja yang menyambutnya hangat. Raja menyatakan rasa tak enaknya karena menyerahkan putranya untuk diurus Jenderal Park. Ah, ternyata Jenderal Park lah orang yang mengajari So ilmu bela diri. Jenderal Park berkomentar bahwa So itu sebenarnya sangat berbakat. Jika saja bukan karena bekas luka di wajahnya, maka So bisa menjadi putra mahkota.


"Jadi, apa maksudmu kemampuan bela diri putra mahkota kurang?" tanya Raja

Jenderal Park berkata bahwa kemampuan Putra Mahkota sebenarnya cukup bagus, hanya saja dia terlalu lemah lembut. Sifat Putra Mahkota yang satu itu membuatnya cemas akan nasib Putra Mahkota dalam pertarungan dunia politik di istana. Jenderal Park berpendapat bahwa medan perang saja jauh lebih baik daripada pertarungan politik dalam istana. Raja terdiam canggung mendengar ucapan Jenderal Park itu.


Setelah Raja pergi, Ji Mong dan Jenderal Park langsung berdebat kayak dua orang ahjumma tentang kehidupan di istana. Ji Mong mengklaim bahwa tinggal di istana banyak yang harus dipelajari seperti sopan santun dan ilmu pengetahuan. Jenderal Park kaget mendengarnya, apakah itu artinya So juga mempelajari hal-hal semacam itu selama dia tinggal di istana.



Di tempat lain, para pangeran sedang bermain duel beregu. Regu Putra Mahkota terdiri dari So, Baek Ah dan Eun. Sementara regu Pangeran Yo terdiri dari Wook, Won dan Jung. So yang paling canggung, mungkin karena belum pernah memainkan permainan ini sebelumnya.

Eun bertanya pada Putra Mahkota, hadiah apa yang akan Putra Mahkota berikan padanya tahun ini. Putra Mahkota berjanji akan memberikan apa saja yang Eun mau asalkan dia memenangkan permainan ini.

Tapi Yo dengan sangat serius menyatakan kalau dia tidak mau kalah. Kedua tim lalu maju, saling mendorong tim lawan dengan penuh keceriaan... tapi entah siapa yang menang karena kemudian kita langsung beralih ke tempat lain setelah permainan selesai.


Setelah permainan itu, para pangeran berkumpul untuk belajar ilmu pengetahuan. Guru mereka mengajari mereka tentang benda yang bisa mengapung di air seperti misalnya kertas origami kapal yang terapung di atas sebaskom air. Tapi So malah dengan nakalnya menumpahkan semua airnya.


Setelah itu, So berkeliling dengan Jenderal Park yang menyinggung tentang kehidupan So di istana yang katanya mempelajari ilmu pengetahuan dan bukannya mengasah kemampuan militernya. So mengklaim bahwa dia sudah cukup banyak belajar tentang militer dari Jenderal Park, jadi sekarang saatnya mengasah kemampuan otaknya.

Saat Jenderal Park menyinggung masalah So yang membunuh banyak orang lalu membakar mereka hanya dalam kurun waktu satu hari, So dengan tatapan tajam mengklaim bahwa orang-orang itu memang pantas mati. Mendengar itu, Jenderal Park semakin menyindir So yang sepertinya sudah semakin pintar menentukan siapa yang pantas dan tidak pantas hidup.


"Tak peduli berapa kali kau mati dan hidup kembali, pada akhirnya kau harus membayar semua perbuatanmu"

"Bukankah anda yang mengajari saya cara membunuh?" balas So

Jenderal Park menegaskan bahwa dia mengajari So membunuh supaya dia bisa melindungi orang lain. So langsung membela diri bahwa dia membunuh demi melindungi keluarga kerajaan, jadi itu artinya dia juga melindungi negara. Jenderal Park bertanya-tanya apa sebenarnya alasan So tinggal di Songak. So menjawab karena dia adalah pangeran yang harus tahu kehidupan keluarga kerajaan. Dia ingin tahu apa artinya menjadi raja hingga ibu dan saudara-saudaranya saling memperebutkan tahta.

"Jadi, apakah pangeran akan kembali setelah meneliti mereka?" tanya Jenderal Park

Tapi So tampak kurang suka dengan ide itu. Jenderal Park mengingatkannya bahwa hanya ada satu pangeran yang akan bertahan di istana, pangeran yang akan duduk di atas singgasana raja. Karena itulah Jenderal Park meminta So untuk berpikir baik-baik, apa sebenarnya alasannya ingin tinggal di Songak.


Dayang Oh membawa Hae Soo ke kediaman Ratu Hwangbo yang sedang menderita sakit kepala selama beberapa hari. Ratu Hwangbo menyapa Hae Soo dengan akrab dan bertanya apakah Hae Soo sudah bisa beradaptasi dengan baik di istana, dia cemas Hae Soo kesulitan menyesuaikan diri mengingat dulu dia wanita bangsawan.

Tapi Hae Soo dengan ceria meyakinkan Ratu Hwangbo bahwa dia baik-baik saja dan tidak merasa kesulitan sama sekali. Dia bahkan menawarkan diri untuk membuatkan lebih banyak sabun seperti yang disukai Ratu Hwangbo waktu itu dan merias wajah Ratu Hwangbo. Dia sudah hendak mengambil kosmetik untuk merias Ratu Hwangbo, tapi Dayang Oh langsung menghentikannya dan mengusirnya.


Setelah So keluar, Ratu Hwangbo langsung menanyakan kondisi kesehatan Dayang Oh dan apakah Ratu Yoo masih memperlakukannya dengan buruk seperti biasanya. Dayang Oh meyakinkan Ratu Hwangbo untuk tidak cemas karena dia tidak mempermasalahkan hal itu.

Tapi tetap saja Ratu Hwangbo cemas, karena dia tahu betul kalau sakit perutnya Dayang Oh sama kroniknya dengan sakit kepalanya. Karena itulah Ratu Hwangbo menyarankan Dayang Oh untuk memeriksakan dirinya pada tabib istana. Walaupun merasa tersentuh dengan kepedulian Ratu Hwangbo padanya tapi Dayang Oh menolak usul itu dengan sopan.


Saat tengah berjalan keluar, Hae Soo tiba-tiba mendengar suara teriakan kesakitan seseorang lalu beberapa dayang keluar dengan terburu-buru. Penasaran, Hae Soo melongok kedalam dan melihat putra mahkota sedang menjerit kesakitan dan minta air es. Hae Soo melihat tubuh Putra Mahkota tampak penuh dengan ruam merah berdarah dan Putra Mahkota mengklaim bahwa rasanya seperti tercabik-cabik dan ada serangga di seluruh tubuhnya.


Hae Soo langsung mengenali itu adalah penyakit kulit eksim. Saat dia melihat seorang dayang kembali dengan membawa air es, Hae Soo langsung menghentikannya dengan menumpahkan air itu dan membuat Putra Mahkota menarik baju Hae Soo dengan penuh amarah.

Ketakutan, Hae Soo bertanya apakah kulit Putra Mahkota terasa semakin gatal setiap kali dia makan kacang-kacangan atau makanan dingin atau saat Putra Mahkota kelelahan dan berkeringat. Dia juga tahu kalau Putra Mahkota pasti tidak bisa memakai pakaian berbulu. Putra Mahkota heran mendengarnya, bagaimana Hae Soo bisa mengetahui hal-hal itu.


Hae Soo dengan lembut meminta Putra Mahkota untuk mempercayainya. Dia meyakinkan Putra Mahkota bahwa lebih baik mandi dengan air hangat daripada air dingin karena air dingin hanya akan membuat rasa gatalnya semakin parah.

Dia lalu memerintahkan dayang-dayang yang lain untuk mencarikan daun-daun yang bersifat mendinginkan seperti lidah buaya atau teh hijau atau daun mint. Saat mereka bergerak lambat, Hae Soo mencarinya sendiri diantara obat-obat herbal yang ada di sana dan meramunya sendiri. Setelah menyiram tubuh Putra Mahkota dengan air hangat, dia mulai mengaplikasikan obatnya di tubuh Putra Mahkota.


Tapi saat dia baru mengobatinya setengah jalan, Dayang Oh masuk dan langsung membentak Hae Soo dan mengusirnya. Hae Soo berusaha meyakinkannya bahwa dia mengerti penyakit ini karena ibunya menderita penyakit yang sama, tapi Dayang Oh malah mendorongnya sampai dia terjatuh.


Gara-gara itu, Hae Soo dihukum berlutut sambil mmemegangi beberapa tumpuk buku-buku medis Cina yang tebal dan berat. Dia menganggap Hae Soo sudah membuat kesalahan karena belum pernah membaca buku-buku medis itu. Berani sekali Hae Soo menyentuh Putra Mahkota dan bagaimana pula dia bisa tahu kalau daun mint bisa membantu meredakan gatal.

Hae Soo membela diri bahwa dia membantu Putra Mahkota karena dia melihat Putra Mahkota kesakitan dan dia mengetahui manfaat daun mint karena ibunya menderita penyakit yang sama dan sering melihat ibunya menggunakan pengobatan seperti itu. Dayang Oh memperingatkan Hae Soo bahwa dia tidak boleh membocorkan rahasia penyakit Putra Mahkota ini, jika tidak maka hari ini akan menjadi hari terakhir hidup Hae Soo.


Setelah itu, Hae Soo pergi menyiram tanaman. Tapi dia tidak sadar kalau dia tak sengaja menyiram So yang kebetulan sedang tiduran di balik tanaman. Tak sengaja dia menjatuhkan gentong airnya sampai pecah, Hae Soo langsung menggerutui pekerjaannya ini dengan kesal. Saking kesalnya, sampai-sampai dia berpikir untuk melarikan diri saja.

"Melarikan diri?" tanya So mengagetkan Hae Soo "Kau pikir dimana kau bisa bersembunyi dari Raja?"

"Si-siapa yang bilang kalau aku benar-benar akan melarikan diri? Aku cuma bilang ingin saja"


"Kau itu dayang Istana Damiwon tapi kau bertingkah seperti menteri kerajaan. Bukannya memakai tangan dan tubuhmu, kau selalu menggunakan otakmu"

"Pokoknya tempat ini tidak cocok untukku. Tidak ada seorangpun yang mengakui bakatku. Aku ini sangat berbakat"

"Memangnya kau pernah menunjukkan bakatmu?"

"Aku tahu betul tentang kondisi Putra Mahkota, tapi..." Hae Soo langsung terdiam menyadari mulutnya sudah keceplosan

So pun langsung tahu kalau Hae Soo sudah mengetahui penyakit Putra Mahkota. Karena itulah dia memperingatkan Hae Soo untuk jaga mulut. Jika dia melakukan kesalahan lagi maka mungkin saja Hae Soo akan dikirim ke tempat yang lebih buruk daripada Damiwon.


Memikirkan sikap Dayang Oh padanya, Hae Soo berpikir apakah Dayang Oh bersikap seperti itu padanya karena Dayang Oh mengira dia adalah saingannya. So meralat, Dayang Oh hanya mencegah Hae Soo membuat kondisi Putra Mahkota semakin memburuk, jika itu terjadi maka Hae Soo sudah pasti mati sekarang.

Bahkan setelah melihat bagaimana cara Hae Soo menyirami tanaman barusan, So mengklaim kalau Hae Soo itu tidak berbakat, justru dia kurang bakat. Dia menasehati Hae Soo untuk menamai tanaman dan berteman dengan tanaman jika dia berniat untuk menumbuhkan tanaman.


"Kenapa juga aku harus menamai tanaman saat aku bahkan bingung dengan namaku sendiri?" keluh Hae Soo

Tapi So malah bangkit sambil menunjuk berbagai tanaman dan memberi mereka nama-nama. Dia memberitahu Hae Soo bahwa saat dia tinggal di Shinju, dia pernah menamai sebatang pohon yang sangat besar. Tapi beberapa tahun yang lalu dia membakarnya demi menghindari kawanan serigala yang menyerangnya di malam yang dingin. Hae Soo langsung menatapnya dengan simpati mendengar cerita itu.


Tapi So langsung mengalihkan topik dengan memukul kepala Hae Soo dan menasehatinya untuk tidak melarikan diri dan bekerja keras.


Hae Soo pun akhirnya kembali ke pekerjaannya dan berusaha sebaik mungkin walaupun kadang dia masih agak ceroboh hingga membuat Wook dan So agak cemas. Suatu kali, Wook tiba-tiba menyeret Hae Soo ke tempat persembunyiannya hanya untuk melihat wajah Hae Soo walaupun cuma sebentar. Hae Soo pun seketika berubah ceria melihat Wook


Suatu hari, Hae Soo membantu memperban jari-jari Eun yang terluka. Tapi beberapa lama kemudian, Eun mulai mengeluh karena Hae Soo menginstruksikannya untuk mendiamkan jari-jarinya yang sedang diperban dengan obat herbal itu, padahal jari-jarinya sudah terasa sangat gatal.

Kesal, Hae Soo memberitahu Eun bahwa orang bilang jika obat itu dibiarkan sampai salju pertama turun maka cinta pertama Eun akan datang. Eun dengan lugunya mempercayai ucapan Hae Soo, bahkan menatap Hae Soo dengan penuh harap.


Suatu hari, Hae Soo tengah berusaha keras untuk belajar menulis dan membaca. Wook lewat dan tersenyum melihat Hae Soo tampak begitu fokus dengan belajarnya. Saking fokusnya dia sampai tidak sadar saat Wook mendekatinya. Saat Hae Soo kesulitan, Wook membantunya. Tapi dia kaget juga menyadari Hae Soo ternyata tidak bisa membaca dan menulis. Hae Soo lagi-lagi beralasan kalau dia kehilangan kemampuan membacanya sejak kepalanya terluka.


"Lalu siapa yang membacakan puisi yang kuberikan padamu dulu?"

"Unnie yang membacakannya untukku"

Wook tercengang mendengarnya "Rupanya aku berhutang jauh lebih banyak padanya daripada yang kukira" gumam Wook

Hae Soo tidak mengerti maksudnya. Tapi Wook langsung mengalihkan topik, pura-pura mengeluh bahwa sebenarnya dia ingin mengirim surat pada Hae Soo tapi ternyata Hae Soo tidak bisa membaca. Hae Soo dengan penuh tekad meyakinkan Wook kalau dia pasti bisa membaca sebentar lagi lalu melanjutkan belajarnya.


Tapi Wook langsung tertawa saat melihat Hae Soo menulis dengan cara asal-asalan. Akhirnya dia menggenggam tangan Hae Soo untuk menuntun Hae Soo menulis dengan benar. Tapi kedekatan mereka membuat Hae Soo tidak bisa fokus pada pelajarannya, malah terpana menatap wajah Wook yang sangat dekat dengannya. Wook lalu mengajari Hae Soo cara menulis namanya 'Wook' dan memberitahu Hae Soo bahwa artinya adalah matahari terbit.

Bersambung ke part 2

16 comments

Entah kenapa Aku suka bgt drama ini padahal ada drama moonlight yang lebih cepat subtitelnya videonya tapi aku benar2 suka drama korea ini walau harus nunggu siang hanya untuk subnya dam sinopsisnya Aku lebih cinta drama ini pokoknya gomawo unnie cheer up

Entah kenapa Aku suka bgt drama ini padahal ada drama moonlight yang lebih cepat subtitelnya videonya tapi aku benar2 suka drama korea ini walau harus nunggu siang hanya untuk subnya dam sinopsisnya Aku lebih cinta drama ini pokoknya gomawo unnie cheer up

semangat untuk sinopsisnya ya. saya tunggu kelanjutannya.thx.

semangat untuk sinopsisnya ya. saya tunggu kelanjutannya.thx.

Tp klo ingat ending diceritakan aslinya jd males ngikutinnya.sad ending..��

Nggk sabar tunggu ep selanjutnya.... Memang terbaikk...

sukkaaa bangett ama drama inii..
ditunggu ep selanjutnyaaa ya

kakkkk seneng banget pas liat epi 7 part 1 usah adaaa gomawo unni :* semangat ya kak nulis part 2 nyaa fighting :D

Seneng bgt klo liat adegannya So dan hae soo..jd baper sendiri..trnyta yg ngajarin pangeran So bela diri itu jendral dan dsruh ma raja nya..fighting ya eonni nulis sinopnya..q udh g sbar nunggu yg part 2 nya..gamsahamida eonni...😊

Seneng bgt klo liat adegannya So dan hae soo..jd baper sendiri..trnyta yg ngajarin pangeran So bela diri itu jendral dan dsruh ma raja nya..fighting ya eonni nulis sinopnya..q udh g sbar nunggu yg part 2 nya..gamsahamida eonni...😊

@siti fatimah,,
aku pikir cuma aku yg ngerasa kyk gitu,, akhirrnyaa, ada temennya juga,,
entah knp emg lbh suka moon lovers drpd moonlight,,
lbh menantikan moon lovers sebenarnya,, hehee,,
maaf comentnya jauh dri topik cerita di atas,,hehee,,

wang so selaku bkin meleleh sama tingkah lakunya,, di sisi lain dia dingin,, tp di dket hae so senyumnya bkin klepek2😍

akhirnya ada yg ngerasain apa yg saya rasa,,
iyaa nich,, Q juga ngerasa gtu,,
pdhl moonlight pangeran2a gk kalah ganteng,, hehee,,
#bogum #jinyoungB1A4 #kwakdoyeon😘

sama donk, padahal qw suka bgt ma bogum, tp setelah iseng2 nntn episdoe 1 nya scarlet heart eh malah penasaran berat sama alur ceritanya. pangeran wang so juga keren bgt.

Aku kok ngerasa klo Hae Jin datang dari masa depan buat memperbaiki hubungan para pangeran yaaa.....ngareppp endingnya jauh dari sejarah ^^

Ada yang tau danau dongji itu sebenernernya real ga sii .. tpatnya dimana ya ? Ngiler pengen prewed disana xoxox

aku pernah liat di naver.com istana di danau dongji itu beneran ada,nyari2 lagi susah karna naver pake hangul,aku penasaran juga sama tempat itu,,a must to go place

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon