Powered by Blogger.




So mendorong Hae Soo ke tiang dan memaksa Hae Soo untuk menatap wajahnya dan bekas luka yang mencoreng wajahnya. 


Tapi begitu Hae Soo melakukan perintahnya, So jadi semakin marah dan berkata bahwa dia benci tatapan seperti itu, jadi dia memperingatkan Hae Soo untuk tidak lagi menatapnya dengan tatapan itu. Hae Soo bingung sendiri, memangnya dia menatap seperti apa? Dia tidak pernah menatap So dengan cara berbeda.

"Kau merasa kasihan padaku. Kau mengkasihaniku! Apa kau pikir aku akan berterima kasih untuk itu? Apa kau tahu bagaimana rasanya mendapatkan rasa kasihan dari orang sepertimu?"


Hae Soo terdiam mendengarnya dan mulai menurunkan pandangan matanya dari So. So pun perlahan melepaskan cengkeramannya dan memperingatkan Hae Soo untuk tidak muncul lagi di hadapannya "Lain kali... aku tidak tahu apa yang akan kulakukan (padamu)"


Malam harinya, So kembali memakai topengnya dan berbaring sambil merenung menatap langit malam. Baek Ah datang saat itu untuk meminta maaf karena tidak mampu menghentikan apa yang terjadi di pesta tadi. Dia meyakinkan So bahwa Eun juga menyesal, jadi dia memohon agar So tidak marah.

"kuperhatikan kau tidak melihatku tadi? Kenapa kau menutup matamu alih-alih melihatku?"

"Karena kupikir, Hyungnim tidak akan menyukainya"

Mendengar itu, So mengeluh bahwa perasaan manusia itu memang rumit. Dia merasa marah pada orang yang melihatnya dan marah juga pada orang yang tidak melihatnya. So mendesah karena dia bahkan tidak bisa mengetahui perasaannya sendiri.

Tapi dia ingin Baek Ah untuk selalu melihatnya apapun yang terjadi mulai sekarang. Baek Ah berusaha membela Hae Soo yang menurutnya hanya termanipulasi oleh Yo. Tapi So langsung menyelanya, tidak mau mendengar tentang Hae Soo lagi.


Suatu pagi, Hae Soo menemani Dayang Oh mendandani Raja. Saat Raja menyinggung kedekatannya dengan para pangeran, Hae Soo mengaku bahwa sekarang dia jarang bertemu para pangeran. Raja senang dengan hal itu, bahkan memuji Hae Soo cukup pintar dan tahu diri.


Saat waktunya bagi Dayang Oh untuk menguncir rambut Raja, Ratu Yoo tiba-tiba datang dan bersikeras untuk mengurusi rambut Raja. Saat Dayang Oh menyerahkan tusuk rambut sederhana yang terbuat dari kayu, Ratu Yoo langsung protes.

Tapi Raja memberitahunya bahwa dia memang sengaja memakai pakaian sederhana karena negeri mereka tengah dilanda bencana kekeringan. Ratu Yoo akhirnya menghentikan protesnya dan memakaikan tusuk rambut kayu itu.


Di tempat lain, Hae Soo menyajikan berbagai macam teh untuk Ratu Hwangbo dan para pangeran sesuai dengan kesukaan masing-masing pangeran. Tapi saat Hae Soo hendak menyajikan teh untuk So, So menolak.

Hanya dia satu-satunya diantara para pengaran yang memprotes perbuatan mereka ini, negeri mereka tengah dilanda bencana kekeringan tapi mereka malah minum teh. Ratu Yoo menyetujui pendapat So. Seharusnya mereka memang hidup dalam kesederhanaan saat negeri mereka dalam keadaan kesusahan.


Cemas dengan penolakan So terhadap teh yang disajikannya tadi, Hae Soo bicara berdua dengan Baek Ah di luar untuk memastikan apakah informasi dari Baek Ah sudah benar, apa minuman kesukaan So benar-benar daun teh segar dan apakah makanan kesukaannya benar-benar kue-kue madu?

Baek Ah meyakinkannya bahwa dia informasinya benar adanya. Ah, ternyata Hae Soo memang sengaja ingin melayani So dengan makanan dan minuman kesukaannya. Tapi karena Hae Soo tidak mau terlalu kentara, Baek Ah terpaksa harus mencari tahu makanan dan minuman kesukaan para pangeran yang lain juga.


"Augh! Lalu kenapa dia sama sekali tidak menyentuhnya?"

"Kalau begitu tanya saja sendiri padanya. Tanya padanya apa yang harus kau lakukan supaya dia tidak marah lagi padamu"

"Jika aku ingin bertanya padanya maka aku harus membuatnya menatapku, tapi aku tidak bisa. Sepertinya dia sudah berbaikan dengan yang lain, kenapa dia seperti itu padaku?"

"Benar juga. Dia langsung memaafkan Eun hyung saat Eun hyung meminta maaf padanya"

Baek Ah juga jangan-jangan Hae Soo dan So... tapi belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Hae Soo melihat beberapa dayang lain datang dan langsung berusaha menghindar. Tapi Baek Ah malah mencegahnya pergi dan dengan sengaja pura-pura merayu Hae Soo tepat di hadapan para dayang.


Dia bahkan sengaja menarik Hae Soo mendekat seolah mereka sedang berbisik rahasia padahal dia diam-diam mengomeli Hae Soo karena dia gagal meredakan amarah So. Dan parahnya, Dayang Oh lewat saat itu dan melihat Hae Soo dalam posisi yang terlalu dekat dengan Baek Ah.


Jelas saja Hae Soo langsung jadi sasaran bully para dayang yang lain. Dan Dayang Oh langsung menghukumnya dengan berlutut sambil memegangi setumpuk buku medis yang tebal dan berat dan menyuruh Hae Soo untuk merenungkan kesalahannya selama 4 jam.

Dayang Oh mengingatkan Hae Soo bahwa seorang dayang tidak seharusnya dekat-dekat dengan para pangeran. Jadi dia menyuruh Hae Soo untuk menjauh dari para pangeran jika dia tidak mau mendapat hukuman seperti ini lagi. Apalagi Hae Soo sudah pernah membuat kesalahan besar dengan menorehkan luka pada lengannya sendiri demi menghindari pernikahan dengan Raja.

Hae Soo terpaksa mengiyakan perintah itu dengan lesu. Tapi dia penasaran kenapa Dayang Oh hanya makan bubur, selama ini dia memperhatikan Dayang Oh tidak pernah makan makanan lain selain bubur. Dayang Oh tentu saja tidak memberitahukan penyakit perut kronis yang dideritanya dan hanya beralasan bahwa dia jika dia mengkonsumsi terlalu banyak makanan yang mengandung tepung maka dia akan sulit untuk merasakan rasa teh.


Eun sedang jalan-jalan keliling istana dan Soon Duk membuntutinya diam-diam sambil mendengarkan keluh kesah Eun tentang kekeringan yang membuatnya tidak bisa bersenang-senang. Soon Duk akhirnya memberanikan diri muncul di hadapan Eun tapi dia benar-benar gugup sampai-sampai dia jadi tergagap dan kesulitan menyampaikan apa yang ingin dikatakannya pada Eun.

Eun yang sejak awal tak menyukai Soon Duk gara-gara Soon Duk pernah menakutinya dengan bulu beruang, jadi semakin sebal dengan kegagapan Soon Duk. Tapi saat Eun bertanya-tanya apakah Soon Duk punya sesuatu yang menarik untuk dilakukan, Soon Duk langsung mengangguk bersemangat lalu membawa Eun ke sebuah tempat.


Di sana, Soon Duk membuat sebuah perangkap untuk menangkap burung. Mereka menunggu di balik semak dan hanya duduk di samping Eun saja sudah membuat senyum Soon Duk merekah lebar. Mereka menunggu dan terus menunggu sampai pada akhirnya Eun tak tahan lagi dan menggerutu kesal, kapan burungnya datang?!

Saat burung yang ditunggu-tunggu masih juga belum datang, Eun langsung beranjak pergi. Tapi tepat saat itu juga ada burung yang berjalan ke arah perangkap mereka dan Soon Duk langsung menyeret Eun jongkok kembali dan menyuruhnya diam. Eun langsung ingin menarik talinya, tapi Soon Duk menghentikannya dengan memegangi tangan Eun yang sontak membuatnya bahagia.


Saat burung itu sudah masuk kedalam perangkap, Soon Duk pun menarik talinya dan membuat burung itu terkurung. Eun langsung kegirangan dan sudah berharap untuk memasaknya dan memakannya.



Tapi kemudian dia menyaksikan Soon Duk membunuh burung itu dengan cara mematahkan kepalanya. Eun jadi ketakutan dan langsung mengatai Soon Duk sebagai pembunuh, tega sekali Soon Duk membunuh burung kecil itu? Apa dia manusia?

Eun langsung pergi meninggalkan Soon Duk yang sedih dan kebingungan. Saking bingungnya dia sampai bertanya-tanya apakah Eun ingin memakan burung ini hidup-hidup?


Kebetulan Jenderal Park melihat apa yang mereka lakukan. Ayah dan anak itu lalu duduk bersama sambil memanggang burung itu. Tapi Soon Duk terus melamun sedih sampai burungnya gosong. Ingin menghibur putrinya, Jenderal Park pun langsung mengkritiki Eun yang menurutnya kurang laki. Masa menangkap burung saja dia tidak bisa, lelaki macam apa Eun itu? Tapi Soon Duk langsung membela Eun dengan berkata kalau dia bisa menangkap burung.

"Lalu bagaimana dia akan menjaga istri dan anak-anaknya kelak?"

"Aku bisa menjaganya"

Jenderal Park jadi kesal mendengar kekeraskepalaan putrinya itu. Apa Soon Duk benar-benar tidak akan mengubah pilihannya? Soon Duk bersikeras menetapkan hatinya hanya untuk satu orang. Kesal, Jenderal Park langsung bergerak seolah ingin memukul Soon Duk tapi Soon Duk refleks bersiap menghadapi serangan ayahnya sampai membuat Jenderal Park makin frustasi menghadapi putrinya itu.


Wook datang ke Damiwon. Tapi setibanya di pintu gerbang, dia malah mendapati gerbang disegel karena kerajaan akan menggelar ritual memanggil hujan jadi semua pangeran dilarang masuk Damiwon untuk sementara waktu.


Malam harinya saat kembali ke kamarnya, Hae Soo mendapati sebuah surat ada di mejanya. Pesan itu dari Wook dan cuma ada dua karakter Cina tapi Hae Soo cukup kesulitan memahami kedua karakter itu. Dan baru beberapa menit kemudian dia mulai mengerti bahwa itu adalah gua yang menuju kolam pemandian.

Hae Soo pun langsung pergi dan mendapati Wook sudah menunggunya di sana. Mereka sama-sama bahagia bertemu satu sama lain dna Wook mengaku bahwa dia mengetahui tempat ini dari Chae Ryung setelah dia curhat pada Chae Ryung tentang rasa frustasinya karena tidak bisa bertemu Hae Soo.


Mereka lalu duduk berdampingan dimana Wook bertanya-tanya apakah Hae Soo tidak ingin pergi meninggalkan istana dengan cara melarikan diri lewat gua rahasia ini. Hae Soo menyadari kalau dia bisa saja melarikan diri lewat jalan rahasia ini, dia juga sangat merindukan kehidupan di luar seperti dulu, dia merindukan Chae Ryung dan ingin mengunjungi makam Nyonya Hae juga.

Tapi seperti yang pernah So katakan padanya dulu, kemanapun dia lari pada akhirnya dia tidak akan bisa melarikan diri dari Raja. Dia meyakinkan Wook bahwa Damiwon adalah tempat yang cocok untuknya. Dia akan terus bekerja keras dan hidup dengan baik sampai saat dia diperbolehkan pergi dari istana.


"Sampai saat itu terjadi? Bisakah kau tidak melupakanku?" pinta Hae Soo

Wook menatapnya beberapa saat sebelum menjawab bahwa sebentar lagi akan diadakan ritual pemanggilan hujan dan jika hujan benar-benar turun maka Raja akan mengabulkan permintaan untuk merayakannya. Raja akan memaafkan para penjahat dan mengizinkan pernikahan keluarga kerajaan... termasuk mengizinkan para dayang untuk meninggalkan tugas mereka.

Jadi jika hujan turun nanti, dia akan meminta pada Raja supaya Hae Soo bisa meninggalkan istana. Hae Soo langsung berbinar-binar mendengarnya, apakah itu artinya dia bisa kembali ke rumah Wook? Sambil menggenggam tangan Hae Soo, Wook berkata bahwa jika Hae Soo kembali nanti, dia akan mencarikan semua bahan-bahan herbal di seluruh Songak agar Hae Soo bisa membuat sabun mandi lagi dan memenuhi rumah dengan semua itu.


Senyum Hae Soo mengembang makin lebar mendengar janji Wook itu, Chae Ryung dan Putri Yeon Hwa pasti akan protes jika Wook melakukan itu. Tapi... dia sungguh-sungguh berharap hujan akan turun. Wook pun mengharapkan itu terjadi. Hae Soo lalu menyandarkan kepalanya di bahu Wook. Senyum Wook pun makin merekah saat dia menyandarkan kepalanya di kepala Hae Soo.


Suatu hari, Putra Mahkota hendak pergi menangkap pemberontak yang muncul sejak kekeringan melanda. Terlebih dahulu Hae Soo membantu merawat penyakit kulit Putra Mahkota dan mengingatkan Putra Mahkota untuk tidak menggaruknya dan jangan pula menggunakan air dingin.

Ji Mong memperingatkan Hae Soo untuk tutup mulut, tapi Hae Soo sudah tahu akan hal itu dan meyakinkan mereka untuk tidak cemas. Sebagai imbalan atas jasa Hae Soo, Putra Mahkota memberitahu Hae Soo bahwa dia meninggalkan sebuah kalung di atas meja kamarnya Hae Soo.

So datang tak lama kemudian dan tampak jelas tak terlalu senang melihat Hae Soo ada di sana. Dia datang untuk memberitahu Putra Mahkota bahwa semuanya sudah siap, Putra Mahkota pun pergi.


Hae Soo pun pergi dengan membawa sekeranjang obat-obatannya. Tapi di tengah jalan, tiba-tiba dia dihadang beberapa dayang yang kemudian menyeretnya ke hadapan Ratu Yoo dan Pangeran Yo. Saat Yo menyinggung kenapa tadi Hae Soo bersama Putra Mahkota, Hae Soo panik dan berusaha beralasan kalau dia hanya mengucap selamat tinggal sebelum Putra Mahkota pergi menangkap pemberontak.

Tentu saja Ratu Yoo dan Yo tak percaya apalagi saat mereka melihat keranjang berisi obat-obatan herbal yang Hae Soo bawa, apa semua ini untuk Putra Mahkota. Hae Soo dengan panik menyangkal dan beralasan kalau dia punya tugas di tempat lain dan mampir sebentar untuk menyapa Putra Mahkota.


Ratu Yoo masih tidak mempercayainya dan langsung bertanya curiga "Apa Putra Mahkota sedang sakit? Sakit apa?"

Saat Hae Soo mengklaim tidak tahu, Ratu Yoo langsung menjambaknya. So melihat semua ini dari bawah. Tapi walaupun cemas, dia memutuskan untuk tidak tetap diam.

Untunglah Dayang Oh datang saat itu dan langsung menuntut Hae Soo dilepaskan. Dayang Oh berusaha menyelamatkan Hae Soo dengan beralasan bahwa Hae Soo baru saja kembali dari Istana Cheondeokjeon atas perintahnya. Dia mengklaim bahwa lutut Raja terluka akibat melakukan ritual memanggil hujan jadi dia mengirim Hae Soo untuk memberikan obat pada Raja.


Saat Ratu Yoo mengkonfrontasinya karena dia malah mengirim Hae Soo untuk mengurus Raja, Dayang Oh dengan penuh keberanian menatap Ratu Yoo dan membalas "Lalu... haruskah saya yang melakukannya?"

"Apa?"

"Saya bertanya apakah anda lebih ingin saya yang pergi mengurus Yang Mulia Raja?"


Ratu Yoo akhirnya berlalu pergi dengan kesal. Tapi saat dia kembali ke kediamannya, dia malah mendapati So sudah menunggunya di sana. Seperti biasanya, Ratu Yoo tak suka melihat kedatangannya dan mengusirnya. Tapi So menolak pergi dan mengkonfrontasi sikap Ratu Yoo terutama pada Hae Soo dan Dayang Oh.

Walaupun Ratu Yoo tidak menyukai Dayang Oh, tapi seharusnya dia tetap berperilaku seperti ratu, apalagi Ratu Yoo memarahi seorang dayang muda. Jika Ratu Yoo terus bersikap seperti ini maka akan muncul rumor yang mengatakan bahwa Ratu Yoo mendapat karma karena memiliki anak sepertinya.

Karena itulah So memperingatkan Ratu Yoo untuk bersikap rendah hari dan jangan memarahi orang yang tidak bersalah dan mempermalukan dirinya sendiri. Ratu Yoo langsung kesal mendengarnya. Tapi dia penasaran, apakah So bersikap seperti ini karena Hae Soo?


Dayang Oh tampak kesakitan di bagian perutnya, tapi dia berusaha menahannya. Hae Soo mengejarnya untuk mengucap terima kasih, tapi Dayang Oh langsung menamparnya dan melabraknya karena Hae Soo tidak mendengarkan perintahnya untuk menjauh dari Putra Mahkota. Dayang Oh menyesal karena telah membawa Hae Soo kemari.

Hae Soo begitu tercengang hingga air matanya berlinang, sama sekali tak mengerti apa sebenarnya kesalahannya sampai Dayang Oh bersikap seperti ini padanya? Memangnya kenapa kalau dia membuat obat herbal untuk Putra Mahkota? Dia tahu cara menolong Putra Mahkota, jadi kenapa Dayang Oh malah selalu menyuruhnya untuk mengabaikan Putra Mahkota? Kenapa Dayang Oh selalu mengomelinya dan menghukumnya lebih banyak daripada dayang yang lain?


"Kau tidak tahu tempatmu!"

"Iya, saya tidak mengetahuinya. Jadi kenapa anda tidak mengajari saya? Saya... saya merasa semua ini tidak adil. Saya selalu berusaha sebaik mungkin untuk melewati semua ini, kenapa anda begitu membenci saya? Saya terluka, frustasi dan merasa diperlakukan tidak adil"

"Karena melihatmu mengingatkanku pada diriku sendiri!" sembur Dayang Oh sembari berusaha menahan sakit perutnya.

Hae Soo orang yang terlalu percaya dan terlalu baik pada orang lain dan tidak takut pada apapun. Gadis seperti Hae Soo tidak seharusnya berada di tempat ini karena tempat ini bisa membuat Hae Soo mati dengan mudah. Karena itulah dia sangat cemas pada Hae Soo. Tapi tepat saat itu juga, sakit perut Dayang Oh semakin tak tertahankan hingga ia tersungkur ke lantai dan pingsan dan membuat Hae Soo jadi panik dan ketakutan.


Saat dia sadar tak lama kemudian, dia mendapati dirinya berbaring di ranjang kamarnya. Hae Soo datang tak lama kemudian dengan membawakan bubur untuknya. Hae Soo memberitahunya bahwa tabib Istana Cheondeokjeon tadi diam-diam datang untuk memeriksa kondisi Dayang Oh dan meyakinkan Dayang Oh bahwa tak ada orang lain yang mengetahuinya.

Dayang Oh menolak makan bubur dan mengusir Hae Soo, tapi Hae Soo menolak pergi dan bersikeras untuk melihat Dayang Oh menyelesaikan makannya baru dia akan pergi. Percuma saja jika sekarang Dayang Oh mengomelinya, tidak akan mempan karena sekarang Hae Soo tahu bahwa sikap keras Dayang Oh padanya hanya karena Dayang Oh mencemaskannya.


Hae Soo bahkan berjanji untuk sangat berhati-hati seperti Dayang Oh mulai sekarang agar dia bisa hidup dengan baik di sini. Jadi Dayang Oh juga harus belajar menerima bantuan orang lain saat sedang sakit seperti sekarang ini. Dayang Oh akhirnya menyerah dan mau memakan bubur buatan Hae Soo yang ternyata rasanya tidak enak. hehe. Tapi Dayang Oh mulai bisa tersenyum sekarang.

Bersambung ke part 2

3 comments

wah dah keluar sinopsis ep 8 hehe .. makasih min dan semangat yah buat sinopsisnya 👍👍😁👍😀😀😀😀😀

Ga sbar nunggu part 2 nya..pangeran So sbnarnya pura² marah tuh..😆
Eonni fighting y bwt nulis sinopnys..gamsahamida eonni...😊

akhirnyaa keluar jugaaa ep 8 nyaa
ditunggu part 2 nya ya
gomawo

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon