Powered by Blogger.


Episode 2: Kata yang paling membuat seseorang ingin menangis adalah... jangan menangis!

Tidak semua putri lahir dengan mengetahui bahwa dirinya adalah putri. Mungkin saat itu dia adalah Cinderella...





Setelah kematian ayahnya, Xing Chen dan ibu kandungnya langsung jatuh kedalam kemiskinan. Tak punya uang untuk bayar sewa rumah, mereka pun ditendang keluar dari rumah kontrakan mereka. Ibu bahkan tidak punya cukup uang untuk membelikan Xing Chen roti.


Akhirnya, agar Xing Chen bisa hidup dengan baik, Ibu membuat keputusan yang sangat sulit. Dia memberikan Xing Chen kepada sang ratu yang tidak memiliki anak. Akan tetapi, konsekuensi menyerahkan putrinya pada Nyonya Chen artinya Xing Chen harus menjadi milik Nyonya Chen sepenuhnya.


"Sejak saat itulah, Cinderella menjadi tuan putri. Sebelum dia menyadari bahwa dia kehilangan segalanya, sang ratu mengajarinya kalimat Bahasa Inggris pertama dalam hidupnya"

"Welcome dear, illegitimate child (anak haram)" ujar Nyonya Chen dengan penuh kebencian.


Baru beberapa tahun kemudian, sang putri memahami apa arti illegitimate child itu. Saat itu pula sang putri mengerti harga yang harus dibayarnya demi menjadi seorang putri adalah menjadi kesepian. Itulah yang membuatnya membuang boneka beruangnya dan menjalani hidupnya yang sekarang.

 

Pagi itu, Chu Yao tiba-tiba datang menjemputnya dengan setengah hati. Mereka saling diam sepanjang perjalanan, tapi diamnya mereka membuat Xing Chen menyadari kalau Chu Yao sebenarnya cute juga (kalau lagi diem).

Tapi kemudian mulut pedasnya kumat lagi saat dia menyadari tatapan Xing Chen padanya. Dia memberitahu Xing Chen untuk tidak terlalu sentimentil karena dia menjemput Xing Chen cuma gara-gara disuruh keluarganya. Kalau bukan karena itu, dia tidak akan sudi pergi ke kampus bersama Xing Chen.

"Lalu kenapa kau tersipu? Apa keluargamu juga menyuruhmu begitu?"

"Itu karena mobilnya panas, oke?" alasan Chu Yao. Xing Chen cuma senyum-senyum tak percaya.

Setibanya di kampus, Xing Chen bertanya apakah Chu Yao benar-benar berpikir kalau Yang Yang sebaik itu? Tentu saja, jawab Chu Yao. Kenapa? Apa Xing Chen cemburu? Xing Chen langsung mendengus sinis mendengarnya. Dia cuma ingin mengingatkan bahwa perasaan Yang Yang kepada Chu Yao mungkin tidak sama dengan perasaan Chu Yao pada Yang Yang.

 

Saat Chu Yao tak percaya, Xing Chen mengedikkan kepalanya ke depan dimana Yang Yang menyapa Nian Yu yang baru tiba di kampus dan ngobrol akrab.


Cemburu, Chu Yao langsung menghampiri mereka, menjauhkan Yang Yang dari Nian Yu dan menyapa Nian Yu dengan sinis. Dari percakapan mereka, Nian Yu ternyata menghilang selama setahun dan Chu Yao terdengar kesal akan hal itu. Hmm... kemana Nian Yu menghilang selama setahun belakangan?

Saat Nian Yu mengulurkan tangannya, Chu Yao menolak menjabatnya. Chu Yao bahkan berkata kalau dia tidak suka dan tidak mau melihat Nian Yu kembali ke kampus. Jadilah kedua pria itu saling menatap tajam. Memperhatikan interaksi mereka dari kejauhan, Xing Chen berpikir pasti terjadi sesuatu diantara mereka berdua.
 

Berusaha meredakan ketegangan antar kedua pria itu, Yang Yang menawari mereka kopi. Tapi saat dia hendak pergi, dia malah kecekluk dan terjatuh ke pelukan Chu Yao.

Xing Chen langsung kesal "Please deh! Kenapa kau selalu beruntung, terjatuh kedalam pelukan tunanganku?!"

Cemas dengan kaki Yang Yang, Chu Yao pun menuntun Yang Yang ke klinik, sama sekali lupa dengan keberadaan Xing Chen yang dia tinggalkan.


Xing Chen tak suka ditinggal berduaan hanya dengan si muka es itu (Nian Yu). Dia berusaha mendekati Nian Yu dan menyapanya hanya dengan berdehem dan berharap Nian Yu akan mengatakan sesuatu duluan padanya, tapi Nian Yu malah langsung mengeloyor pergi tanpa mengucap sepatah kata. (haha, kasihan!kasihan!)

"Apa-apaan ini? Aku ini pemeran wanita utama dalam drama ini dan aku bahkan belum mengucap kalimat apapun!" gerutu Xing Chen.



Tiba-tiba seorang pria menghampirinya sambil ngegombal. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Zhou Wei dan dia adalah presiden Asosiasi Peduli Wanita... atau dengan kata lain dia playboy yang tidak mau ngaku dirinya playboy.

Dia lalu membawa Xing Chen keliling kampus sambil memperkenalkan Four Leaf College adalah universitas seni swasta bergengsi yang rata-rata mahasiswanya adalah anak-anak orang kaya.

Beberapa tipe orang yang bisa Xing Chen jadikan teman misalnya Chu Yao yang mereka sebut 'Pangeran' atau Nian Yu yang pintar dan profesional. Zhou Wei mengklaim dirinya juga seorang legenda di kampus yang punya julukan 'Mahasiswa baru permanen'. (Pfft! itu namanya nggak lulus)

Dia mengklaim kalau Tuhan menginginkannya jadi mahasiswa baru terus makanya tiap tahun dia selalu jadi mahasiswa baru. Tapi Xing Chen yakin kalau Zhou Wei terus mengulang jadi mahasiswa baru hanya demi melihat-lihat gadis-gadis cantik.

"Sekarang aku tahu, Tuhan menginginkanku mengulang setahun adalah demi kau, Malaikat cantik"


"Berhentilah lebai! Oh yah, aku mau menanyakan tentang seseorang. Orang yang bernama Yu Yang Yang, siapa dia sebenarnya?"

Zhou Wei mengklaim kalau Yang Yang itu spesial case. Dia sebenarnya biasa-biasa saja, keluarganya cuma penjual sup ikan. Tapi karena ayahnya pernah menyelamatkan rektor, dia jadi masuk kampus ini. Tak lama kemudian, seorang pria lain mendatangi mereka. Zhou Wei memperkenalkannya sebagai Lan Ching Fan, si gorila besar.

"Apa kabar? Kau tampak sangat... gagah" sapa Xing Chen canggung.


Zhou Wei lalu mengajaknya masuk kelas. Tapi Xing Chen tak mau dan beralasan mau keliling kampus dulu. Padahal sebenarnya dia masuk ke area kolam renang. Niatnya mau diam-diam memotret cowok-cowok cakep nan seksi ala-ala paparazi. Tapi setibanya di sana, kolam renang malah kosong.

Karena tak ada orang, Xing Chen memutuskan keluar dari persembunyiannya tapi saat itulah dia melihat dua orang pria di dalam kolam sedang latihan pernafasan. Xing Chen langsung heboh memotreti mereka saat tiba-tiba saja sebuah tangan menjawil bahunya. Saking fokusnya ke target, Xing Chen asal menampik tangan jahil itu dengan kesal.

 

Tapi tangan itu terus menjawilnya. Kesal, Xing Chen langsung membentak orang itu dan langsung terdiam melihat orang yang di hadapannya ternyata Nian Yu. Curiga dengan apa yang dilakukan Xing Chen, Nian Yu langsung menuntut Xing Chen untuk memberikan kameranya.

Xing Chen menolak, dia cuma lagi melakukan pemotretan kok. Tapi Nian Yu tak percaya dan berusaha merebutnya, jadilah mereka rebutan hingga tak sengaja Xing Chen terjatuh menimpa Nian Yu.


Yang jadi masalah, Nian Yu lagi-lagi tak sengaja menyentuh dada Xing Chen. Sontak Xing Chen menjerit heboh dan langsung menghajar Nian Yu sambil menuduh Nian Yu melakukannya dengan sengaja.

"Jiang Nian Yu! Jangan pikir kau boleh melakukan apapun padaku hanya karena kau menyelamatkanku dari kolam!"

Tak terima, Nian Yu langsung membela diri "Aku bahkan tidak mau mengambil keuntungan darimu!"

"Apa maksudnya itu?!"


Mengacuhkan protesnya, Nian Yu melihat hasil jepretan kamera Xing Chen dan mendapati Xing Chen memotret dua pria di kolam yang jelas-jelas menunjukkan foto itu diambil diam-diam. Pemotretan apanya?!

Xing Chen langsung merebut kameranya. Sebelum pergi, dia memperingatkan Nian Yu untuk tidak memberitahu siapapun tentang kejadian di kolam waktu itu dan kejadian hari ini... "Kalau tidak akan kubunuh kau!"


Tepat setelah Xing Chen pergi, Nian Yu menemukan buku diary-nya Xing Chen yang terjatuh.


Xing Chen datang terlambat ke kelas musiknya dan mendapati gurunya ternyata cukup keras. Setiap mahasiswa yang salah memainkan nada, langsung dihukum pegang seember air. Bahkan awalnya, dia hampir tidak diizinkan mengikuti kelas karena terlambat. Tapi setelah menjelaskan kalau dia mahasiswa baru, Pak Guru akhirnya mengalah dan mempersilahkannya mengikuti kelas.



Tak suka dengan cara mengajar Guru, Xing Chen langsung terang-terangan mengajukan protes dan meminta Guru untuk menghentikan hukuman semacam ini. Pak Guru tak terima langsung menyindir mereka sebagai anak-anak orang kaya manja yang tidak tahu bagaimana cara menghormati aturan dan menyatakan dirinya sebagai guru jauh lebih mengerti cara meningkatkan kemampuan bermusik mereka.

Xing Chen langsung menantang Guru untuk taruhan. Guru leh memilih lagu apa saja dan dia yang akan memainkannya "Jika aku, Lin Xing Chen, salah memainkan satu nada saja maka aku akan berdiri di sana sebagai hukuman setiap kali aku masuk kelas ini. Tapi jika aku tidak membuat kesalahan, tolong hentikan hukuman semacam ini. Bagaimana?"

"Menarik. Kau bilang aku boleh memilih lagu apapun yang ku mau? Kalau begitu mainkan Liszt's Transcendental Γ‰tude No. 5, "Feux follets/ Wills o' the Wisp"

 

Mahasiswa yang lain langsung heboh, itu kan musik yang sangat sulit, mereka yakin kalau Xing Chen tidak akan bisa memainkannya. Tapi Xing Chen sendiri tampak santai dan percaya diri. Saat Xing Chen berjalan ke depan piano, Yang Yang yang juga cemas dan ragu, berusaha menghentikan Xing Chen. Zhou Wei juga cemas dan meminta Chu Yao untuk memikirkan sesuatu. Tapi Chu Yao cuma bisa diam.

"Zheng Chu Yao! Bersiaplah untuk berlutut di bawah kakiku!" batin Xing Chen sebelum akhirnya dia duduk di depan pianonya dan membuat semua orang termasuk Guru tercengang bukan main melihat permainan pianonya.


Di tengah-tengah permainan, dia melihat Nian Yu melihatnya dari jendela. Gara-gara itu, Xing Chen jadi teringat kembali dengan kejadian tadi hingga tak sengaja dia salah memainkan satu nada dan hal itu disadari oleh Pak Guru dan Nian Yu.

Xing Chen cepat-cepat menguasai dirinya dan kembali berkonsentrasi ke permainan pianonya. Begitu dia selesai, semua orang sontak bertepuk tangan kagum, termasuk Pak Guru.


Akan tetapi, walaupun dia berhasil menyelesaikan permainan pianonya dengan baik dan semua orang bertepuk tangan untuknya. Tapi Xing Chen tidak senang, Pak Guru pun memberinya tepuk tangan tapi dengan senyum sinis. Semua itu karena mereka berdua sama-sama menyadari kalau tadi Xing Chen sudah salah memainkan satu nada.

Bersambung ke part 2

7 comments

Setelah membaca postingan ini harap berikan komentar dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog ini dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon