Powered by Blogger.


Episode 3: Pria bermasalah. Ini namanya curang, tahu.

Da Hyun berjanji akan melakukan apapun yang Jae In selama Jae In menuruti semua permintaan yang disebutkannya tadi. Jae In setuju, Da Hyun pun menuntut agar kesepakatan mereka disahkan dalam kontrak.


Saat mereka hendak berpisah, Da Hyun lagi-lagi kelupaan hapenya dan baru ingat saat Jae In menunjukkan hape itu di depan matanya. Jae In sampai heran, apa Da Hyun sengaja? Kenapa dia selalu kelupaan barang-barang seperti ini?


Tiba-tiba ada sebuah mobil melintas tepat ke arah Da Hyun. Jae In pun refleks menarik Da Hyun untuk menyelamatkannya dan membuat Da Hyun jadi tercengang dan canggung karenanya. Tapi begitu keadaan sudah aman, Jae In langsung mendorong Da Hyun menjauh sambil menegaskan bahwa dia melakukannya bukan dengan sengaja.


Jae In lalu menawari Da Hyun tumpangan pulang. Tapi Da Hyun tetap menolak dan bersikeras mau pulang naik subway saja. Jae In setuju-setuju saja. Tapi sebelum mereka berpisah, dia memperingatkan Da Hyun untuk menepati janjinya.

Da Hyun meyakinkannya kalau dia pasti akan melakukannya lalu mengeluarkan jari kelingkingnya, mengajak Jae In berjanji jari kelingking tapi Jae In malah menekuk jari kelingkingnya Da Hyun lalu pergi begitu saja.

 

Begitu kembali ke rumah, Da Hyun menulis jadwal bertemu Jae In di kalender dan dia menamai Jae In dengan sebutan 'Raja dari segala iblis'. Mereka sepakat untuk saling bertemu seminggu sekali. Tapi dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah dia menyepakati sesuatu yang gila? Dia bukan pria cabul, kan?

Tapi saat melihat poster Ji Soo, Da Hyun akhirnya memutuskan untuk mencobanya saja agar dia bisa membantu memecahkan masalah Ji Soo dengan pihak agensinya.


Sambil menatap surat kontrak kencan yang ditulis tangan itu, Da Hyun bergumam cemas "Aku tidak yakin apakah aku benar-benar bisa mempercayai pria itu"


Jae In menunjukkan kontrak kesepakatan kencan dengan Da Hyun itu pada Pengacara Park. Karena Da Hyun masih belum bisa mempercayainya, jadi Da Hyun menuntut agar Pengacara Park mensahkan surat kontrak ini secara hukum.

"Wah, sepertinya dia lawan yang kuat" ujar Pengacara Park kagum

Jae In kesal, apa yang kakeknya lakukan kali ini benar-benar jahat "Dia itu (Da Hyun) rubah. Rubah yang sangat licik"


Ngomong-ngomong masalah kelicikan, Jae In tiba-tiba punya ide licik dan menyuruh Pengacara Park untuk tidak membuat salinan halaman terakhir. Pengacara Park tak percaya mendengarnya, Jae In menyuruhnya untuk meniadakan informasi paling penting yang menyebutkan bahwa Tae Ha juga kandidat pernikahan? Jae In membenarkan.

"Astaga! Apa kau tahu kalau kau sedang memintaku, seorang pengacara, untuk melakukan sesuatu yang ilegal sekarang"

"Aku bukan pria baik, seperti yang dikatakan wanita itu. Aku tidak mau wanita itu tahu tentang Tae Ha. Akan kuselesaikan semua ini sendiri"


Beberapa hari berikutnya, Jae In dan Da Hyun menjalani kehidupan masing-masing seperti biasanya. Da Hyun pergi kerja naik bis sementara Jae In bekerja sampai larut malam, meeting bersama klien dan juga nge-gym.


Suatu hari saat Da Hyun baru tiba di sekolah, dia melihat ada sebuah bus sekolah warna kuning terparkir di lapangan. Saat melewati perpus, dia melihat beberapa pekerja sedang mengeluarkan dan menata ratusan buku dalam box-box besar. Seorang petugas memberitahunya bahwa semua ini kiriman dari SH Group. Da Hyun cuma bisa melongo melihat semua itu.


Kejutan lainnya, saat dia membuka kelas, dia mendapati sudah ada cermin super besar di sana, benar-benar sesuai permintaannya. Siang harinya, Da Hyun menggunakan cermin itu untuk latihan nge-dance bersama murid-muridnya. Anak-anak didiknya sangat senang karena sekarang mereka punya cermin besar.


Karena hari ini adalah jadwalnya ketemu Jae In, jadi Da Hyun menitipkan murid-muridnya pada rekannya untuk pergi duluan. Da Hyun datang buru-buru dan berhenti sebentar untuk mengecek penampilannya di kaca hotel. Dia cemas karena penampilannya agak berantakan, apa dia musti ke salon dulu? Tapi sedetik kemudian dia memutuskan untuk membuang ide itu, dia tidak perlu terlihat cantik untuk Jae In.


Da Hyun ngos-ngosan sesampainya di dalam dan meminta maaf karena terlambat. Dia juga berterima kasih atas semua barang kiriman Jae In untuk sekolahnya, sekarang dia mulai percaya bahwa Jae In punya banyak uang. Jae In berkata kalau dia hanya menepati janjinya, jadi dia memperingatkan Da Hyun untuk menepati janjinya juga.

"Jika aku tahu kau bisa menepati janji dengan baik, aku pasti akan meminta lebih. Aku yakin waktu 6 bulan akan berlalu dengan cepat, bukan?"

"Hari ini hari pertama. Apa yang harus kita lakukan? Apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan?"

"Entahlah, apa yang harus kita lakukan?"

Jae In mengusulkan bagaimana kalau mereka pergi menonton konser. Ada sebuah acara festival budaya yang disponsori oleh hotelnya. Dia harus menghadiri acara itu, jadi sekalian saja mereka ke sana. Tapi Da Hyun kurang suka dan karenanya dia mengusulkan agar mereka makan saja.


Jae In mengusulkan bagaimana kalau mereka makan di hotel saja, ada restoran Jepang di lantai 7. Da Hyun tidak mau, makanan di sana tidak sesuai harganya. Jelas Jae In langsung protes, apa Da Hyun menghina restoran hotelnya? Bagian mana dari restoran itu yang tidak Da Hyun sukai? Makanannya atau pelayanannya?

Da Hyun menyangkal. Tentu saja makanan dan pelayanannya di restoran itu luar biasa mengingat harganya yang sangat mahal. Hanya saja, dia sedang tidak mood untuk duduk dan menunggu makanannya datang "Kenapa mereka tidak menyajikan menu a la carte?"

"Mereka tidak menawarkan menu a la carte sama sekali?"

"Iya, setidaknya untuk menu makan malam"


Ngomong-ngomong hidangan a la carte, Da Hyun mengusulkan agar mereka makan samgyupsal saja. Jae In pun membawa Da Hyun ke sebuah restoran. Tapi begitu hidangannya tersaji, Da Hyun langsung kecewa, karena dagingnya sudah dimasak duluan padahal dia ingin memanggang samgyupsalnya sendiri. Samgyupsal lebih enak jika kita memanggangnya sendiri. Tapi Jae In tidak mau yang seperti itu karena bajunya tidak boleh bau.


Berniat tetap makan samgyupsal seperti biasanya, Da Hyun memakan dagingnya dengan cara membungkusnya dengan daun selada. Jae In tersenyum kecil melihat itu.


Dia lalu memberitahu Da Hyun bahwa pengacaranya sedang bicara dengan agensinya Ji Soo. Tapi Da Hyun berkata kalau dia sudah tahu dan dia berterima kasih karenanya. Tentu saja Jae In heran, dia sudah tahu? Tentu saja Da Hyun tahu, itu kan bagian paling penting dalam perjanjian mereka. Tapi pengacaranya kan baru bicara dengan pihak agensi kemarin, jadi bagaimana bisa Da Hyun sudah mengetahuinya? Apa Da Hyun dekat dengan idolanya itu?

"Aku presiden fanclubnya Ji Su oppa, tentu saja aku tahu"

"Apa kau memanggilnya 'oppa'? Bukannya anak itu baru berumur 21 tahun?"

"Tidak. Kalau dia pria tampan maka kau bisa memanggilnya 'oppa', tak peduli usia"

"Kalau begitu aku juga 'oppa' dong?" gumam Jae In.


Setelah itu Jae In membawa Da Hyun ke gedung konser. Tapi Da Hyun enggan keluar dari mobil, apa dia benar-benar harus masuk ke gedung itu? Jae In heran, memangnya kenapa? Da Hyun beralasan kalau seniman yang akan tampil sepertinya cukup terkenal, sementara pakaian dan penampilannya tidak cukup untuk acara konser ini. Jae In berkomentar kalau penampilan Da Hyun tidak begitu buruk jadi dia tidak akan begitu memalukan.

Karena mobil di belakang mereka mulai mengklakson, Jae In menyuruh Da Hyun untuk turun sekarang. Tapi Da Hyun masih tidak mau keluar juga dan memberitahu Jae In bahwa dia tidak begitu menyukai musik klasik. Mendengar itu, Jae In memberitahu Da Hyun bahwa sebenarnya dia benci dengan samgyupsal.

"Karena tadi kita makan makanan yang kau inginkan, jadi adil kan jika sekarang aku yang memilih?"

"Aku kkhawatir akan apa yang akan terjadi selama 2 jam mendatang"

"Kau cuma mengkhawatirkan 2 jam mendatang, tapi aku lebih mengkhawatirkan 6 bulan yang akan datang" gerutu Jae In sambil menyeret Da Hyun keluar dengan paksa.


Jae In menggandeng Da Hyun masuk. Tapi saat Jae In melihat ada beberapa reporter di lobi, dia langsung melepaskan tangan Da Hyun dan berkata kalau dia harus menyapa beberapa orang. Dia lalu pergi meninggalkan Da Hyun untuk menyapa para kenalannya.


Da Hyun akhirnya berkeliling seorang diri dan melihat-lihat dua buah gantungan kunci boneka di sebuah stan. Yang paling menarik perhatiannya adalah huruf-huruf di kedua gantungan kunci boneka itu, yang satunya ada inisial namanya DH dan satunya lagi ada inisial nama JI.


Dia baru tanya harganya berapa, tapi Jae In tiba-tiba datang dan langsung menyerahkan kartu kreditnya pada si penjual. Da Hyun berusaha mencegah karena ingin bayar sendiri, tapi si penjual langsung menggesek kartu kreditnya Jae In. Da Hyun langsung protes, dia ingin membeli ini sendiri sebagai hadiah. Jae In tidak peduli dan langsung menyeret Da Hyun pergi setelah si penjual mengembalikan kartu kreditnya.


Saat mereka masuk, Tae Ha dan kedua orang tuanya yang duduk di seberang, melihat mereka. Mereka langsung penasaran, siapa wanita yang bernama Jae In itu. Apa Jae In punya pacar? tanya Ibunya Tae Ha. Tae Ha cuma menjawabnya dengan senyum remeh.


Saat mengedarkan pandangannya, Jae In melihat beberapa reporter masuk. Sontak Jae In langsung melotot panik dan diam-diam memperingatkan Da Hyun untuk pura-pura tak mengenalnya, dan jangan pula memalingkan wajah ke arahnya. Da Hyun jelas protes, tadi Jae In bilang kalau dia tidak memalukan. Seharusnya Jae In bilang-bilang dulu kalau dia mau menonton konser.

"Bukan masalah itu" bisik Jae In

"Kalau begitu haruskah aku pergi? Aku tidak keberatan" ujar Da Hyun sambil beranjak pergi. Tapi Jae In cepat-cepat menariknya duduk kembali. Jae In langsung mengedarkan pandangannya dengan panik, takut ada yang melihatnya memegang tangan Da Hyun. Tapi sepertinya tak ada yang melihatnya, Jae In pun mendesah lega.


"Terserahlah. Kuperingatkan kau, semua ini salahmu, bu guru!"

"Kau ini bicara apa? Kenapa ini salahku? Aku selalu benci dengan konser musik klasik"


Kakek Jae In menanyai Pengacara Park tentang kapan Jae In akan mulai memenuhi janjinya. Pengacara Park memberitahunya bahwa Jae In bilang kalau hari ini dia akan bertemu dengan bu guru itu.

Kakek menyuruh Pengacara Park untuk menyampaikan peringatannya pada Jae In, jika Jae In bertemu Da Hyun hanya untuk buang-buang waktu, maka dia akan memperkenalkan Da Hyun pada Tae Ha.

Bersambung ke part 2

6 comments

Smngat eonni...suka sg drama ini...gamsahapnida...

hahaha...emang scene ja in sama da hyun ini asli ngegemesin. ...semoga terus semangat sampe ending ya unnie :)

Euh makin cinta sama couple ini!isinya berantem asyik terus!!!!!kamsahamnida bak ima!

Setelah membaca postingan ini harap berikan komentar dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog ini dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon