Powered by Blogger.


Episode 5: Seperti Orang Lain - Mulai Melakukan Hal-Hal Yang Tak Pernah Kulakukan.

Da Hyun tersentak bangun di pagi hari oleh kehadiran temannya, Hyun Jin, yang mendadak menerobos masuk rumahnya. Saat Da Hyun memprotesnya, Hyun Jin langsung menggodanya. Kenapa Da Hyun sekaget itu? Apa dia sedang menyembunyikan cowok? Ibunya Da Hyun bilang kalau Da Hyun sudah punya pacar.


Saking curiganya, Hyun Jin langsung membuka lemari dan kamar mandi mencari cowoknya Da Hyun tapi tak menemukannya dimana-mana. Hyun Jin memberitahu Da Hyun bahwa Ibunya Da Hyun sangat senang mendengar Da Hyun sudah punya pacar, tapi... "Dia bilang kalian tidak boleh tinggal bersama sebelum menikah. Katanya dia akan mencukur kepalamu kalau kau melakukan itu"


Hyun Jin mengaku kedatangannya kemari pun sebenarnya atas suruhan Ibunya Da Hyun untuk memastikan Da Hyun tidak tinggal seatap dengan pacarnya.

"Si*lan. Andai saja si bego itu tidak bicara padanya di telepon!" gerutu Da Hyun

Hyun Jin shock "Jadi kau benar-benar sudah punya pacar?"

"Gitu deh"

"Wah, daebak!"


Setibanya di kantor, telepon merah di meja kerjanya Jae In berbunyi. Jae In butuh waktu beberapa detik untuk mengatur emosinya sebelum akhirnya mengangkat telepon merah yang pastinya dari kakeknya itu. Kakek meminta Jae In untuk makan siang bersamanya jika dia tidak ada rencana hari ini.

Tapi Jae In langsung menolak dengan alasan ada rencana lain. Dia juga mengingatkan Kakek bahwa telepon merah ini tidak seharusnya digunakan untuk hal-hal semacam ini. Kakek langsung protes, kenapa juga Jae In membuatnya terpaksa harus menggunakan telepon merah hanya untuk mengajaknya makan siang bersama.

"Karena Kakek meneleponku bukan hanya untuk mengajak makan siang. Dan juga, aku ingin menekankan sebelum kakek bertanya lagi. Aku tidak akan kembali ke kantor pusat"

"Pikirkan ibumu"

"Kakek tidak boleh mengatakan hal seperti itu padaku. Lagipula Kakek lah orang yang telah membuatnya menitikkan air mata paling banyak. Dan lagi, aku sudah cukup sibuk dengan sebuah permasalahan yang sangat penting dan serius belakangan ini. Sampai jumpa"


Jae In langsung menutup teleponnya begitu saja. Kakek langsung menggerutu sebal, berani sekali anak itu menutup teleponnya! Kakek ternyata sedang bersama Pengacara park saat itu. Kakek memanggil Pengacara Park untuk diinterogasi karena Kakek curiga bahwa Pengacara Park sebenarnya memihak Jae In.

Ketua Tim Kang jelas-jelas mata-mata yang dia tempatkan di kantornya Jae In, tapi Kakek curiga kalau Pengacara Park adalah agen ganda. Pengacara Park langsung terdiam canggung. Kakek curiga, apa Jae In itu benar-benar pacaran dengan Da Hyun? Jika iya lalu kenapa dia malah jadi semakin tidak sopan? Apa yang dilakukan bu guru itu? Seharusnya kan dia mendidik Jae In!


Da Hyun memperlihatkan surat kontrak kencannya pada Hyun Jin. Hyun Jin langsung mendengus geli membaca surat kontrak itu... sampai saat dia membaca nama Lee Jae In dan mengenalinya sebagai si pangeran dari SH Group. Hyun Jin malah berubah pikiran dan menyarankan agar sebaiknya Da Hyun tinggal saja bersama Jae In, jegal dia, terjatuh ke atasnya dan tidur saja dengannya.

"Hei! Apa kau sebut dirimu teman?!" protes Da Hyun "Hentikan omong kosongmu dan kalau kau memberitahu ibuku tentang ini, mati kau!"

"Kalau ibumu sampai tahu, dia pasti akan langsung pingsan"



Tapi Hyun Jin penasaran dengan Jae In, dia pria yang seperti apa? Mereka pasti sudah pernah berciuman, kan? Bagaimana rasanya? Da Hyun cuma bisa diam. Hyun Jin jadi makin tercengang, mereka benar-benar sudah berciuman? Wah! Dia benar-benar tak menyangka kalau Da Hyun ternyata akan berciuman dengan pria. Dia bener-benar tidak bisa menceritakan masalah ini pada Ibunya Da Hyun.


Beberapa saat kemudian, Da Hyun keluar bersama Hyun Jin. Dia memberitahu Hyun Jin bahwa siang nanti dia akan ketemuan dengan Jae In di Gangnam. Hyun Jin langsung cemas mendengarnya, takut Da Hyun tersesat. Da Hyun meyakinkannya untuk tidak cemas, kalau dia tidak bisa menemukan tempatnya maka dia akan naik taksi.


Da Hyun pergi ke sebuah panti asuhan. Tampaknya dia sudah sering ke sana, anak-anak di sana langsung menyambutnya dengan hangat dan memanggilnya bu guru. Da Hyun menghabiskan waktunya di sana dengan membantu bersih-bersih dan bermain-main dengan anak-anak.


Hmm... sepertinya Ji Su juga anak dari panti asuhan tersebut. Ibu kepala panti memberitahu Da Hyun bahwa dia sudah mendengar bahwa Da Hyun lah yang telah membantu Ji Su teken kontrak dengan agensi lain. Dia mendengarnya sendiri dari Ji Su yang datang beberapa waktu yang lalu dengan membawa banyak sekali makanan untuk anak-anak yang sudah dia anggap saudaranya sendiri.


Setibanya di Gangnam, Da Hyun ternyata benar-benar tersesat. Beberapa saat lamanya dia berputar-putar bingung sementara Jae In sudah mulai kesal menunggunya. Untungnya Da Hyun sampai juga di depan tempat janjian mereka setelah beberapa lama. Jae In sebenarnya sudah ada di belakangnya, tapi Da Hyun tetap saja kebingungan mencari tempat itu.

"Kau bahkan tidak bisa menemukannya walaupun sudah ada di hadapanmu?" seru Jae In. Da Hyun langsung dadah seneng banget. hehe.

 

Kali ini Jae In mengajak Da Hyun ke sebuah pameran seni. Tapi begitu melihat ada banyak orang, Da Hyun cepat-cepat menyembunyikan wajahnya, takut ada reporter lagi di sana. Tapi Jae In dengan kesal memberitahunya tidak ada reporter.

"Bagaimana kau tahu? Ada banyak CCTV dimana-mana. Dan lagi, entah apa yang akan kau lakukan padaku kali ini? Kau sudah cukup membuat masalah bagiku di konser waktu itu"

"Apa maksudmu membuat masalah? Seorang guru tidak seharusnya berkata seperti itu. Apa kau akan terus bicara padaku seperti itu? Seumur-umur tidak ada orang yang pernah bicara padaku seperti ini"

Ah, jadi begitu. Da Hyun sekarang mengerti kenapa Jae In selalu bersikap kasar, itu karena dia tidak pernah didisplinkan dengan benar oleh orang tuamu. Beda sekali dengan anak-anak di kelasnya yang pintar, baik dan mengerti sopan santun. Dia mengusulkan agar mereka jalan terpisah saja, tapi Jae In menolak dan langsung merangkul Da Hyun, mereka kan pacaran.


Da Hyun memperhatikan lukisan-lukisan yang paling menarik perhatian Jae In adalah lukisan keluarga dan lukisan seorang ibu yang menimang bayinya.

"Kau benar-benar orang yang konsisten" komentar Da Hyun "Pertama konser musik klasik dan sekarang pameran galeri seni. Apa hotel mensponsori pertunjukkan tari?"

"Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan hotelku"

"Lalu kenapa kita di sini?"


"Ini karya seseorang yang kukenal"

"Seseorang yang kau kenal?"

"Suami bibiku"

"Suami bibimu... berarti dia pamanmu. Bagaimana bisa kau memanggilnya hanya sebagai 'seseorang yang kukenal'? Dia kan keluarga!"


Seorang pria bule setengah baya yang sebelumnya kita lihat dalam flashback, datang menghampiri Jae In dan menyapanya akrab. Jae In memberi ucapan selamat untuk pria bule itu. Pria bule itu memberitahu Jae In bahwa Ibunya Jae tidak bisa datang tapi dia sangat merindukan Jae In.


Da Hyun agak bingung mendengarkan percakapan mereka. Jae In menjelaskan bahwa pria itu bukan pamannya, makanya dia memanggil pria itu 'suaminya bibinya'. Kalau begitu apa Bibinya Jae In itu menikah lagi? Jae In membenarkan. Tapi Da Hyun masih bingung dengan ucapan pria itu tadi tentang 'Ibunya Jae In'.


Belum sempat membahas masalah ini lebih lanjut, Da Hyun tiba-tiba disapa seorang pria kenalannya, Jung Sun Woo. Da Hyun langsung sumringah dan memanggilnya dengan sebutan oppa. Jae In langsung cemburu dan menuntut siapa pria ini. Da Hyun menjelaskan kalau dia adalah kakak temannya yang bernama Hyun Jin.

"Adikku adalah teman baiknya DaDa. Hei, hubungan kita kan bukan sekedar hubungan biasa" goda Sun Woo

Cemburu, Jae In langsung merangkul Da Hyun seolah mengklaim bahwa Da Hyun adalah miliknya dan berkata "Tidak mungkin. Jika kalian punya semacam hubungan spesial maka Da Hyun pasti akan memberitahuku. Dan aku juga tidak akan mengakui semua teman prianya pacarku"

Melihat sikap kasar Jae In, Sun Woo menduga kalau mereka pasti belum lama pacaran dan tidak mungkin Da Hyun yang jatuh cinta duluan pada Jae In. Jae In mengklaim bahwa berapa lama mereka saling mengenal itu tidak penting, lagipula jatuh cinta pada pandangan pertama itu bukan satu-satunya cinta di dunia ini. Yang penting dia dan Da Hyun saat ini pacaran. Da Hyun berusaha menyangkal, tapi Jae In langsung menyeretnya menjauh dari Sun Woo.


Sesampainya di parkiran, Jae In mengingatkan Da Hyun akan perjanjian mereka sebelumnya. Da Hyun tidak boleh punya pria lain dalam hidupnya. Da Hyun dengan kesal menegaskan bahwa Sun Woo itu bukan 'pria lain', dia hanya oppa-nya temannya. Jae In tidak peduli siapa dia, pokoknya Da Hyun tidak boleh berhubungan dengan pria lain. Mulai sekarang Da Hyun harus pura-pura tak mengenal pria itu.

Da Hyun langsung protes "Masalah ini bukan sesuatu yang memerlukan izinmu. Aku sudah mengenalnya selama 10 tahun. Bagaimana bisa aku mengabaikannya?"

"Kau mengenalnya selama 10 tahun? Kalau begitu sekarang sudah saatnya kau berhenti mengenalnya"


Saat Da Hyun masih saja bersikeras menolak perintahnya, Jae In langsung menyudutkannya dan mengingatkan Da Hyun bahwa jika Da Hyun terus menemui pria itu maka itu artinya dia melanggar kontrak. Da Hyun tidak terima, bagaimana bisa dia melanggar kontrak? Dia dan Sun Woo oppa sudah lama saling mengenal.

"Jangan memanggilnya oppa terus! Seperti yang kubilang, kita harus memanggil seseorang dengan sebutan yang benar!"

"Kalau begitu Sun Woo oppa..." Da Hyun keceplosan lagi hingga membuat Jae In makin kesal dan langsung mencondongkan dirinya makin dekat ke Da Hyun. Panik, Da Hyun akhirnya menurutinya dan berjanji akan memikirkannya.

"Ck! Dasar raja iblis!"

"Raja iblis? Siapa itu?"

"Ada deh!" gerutu Da Hyun. Senyum Jae In langsung merekah.

 

Tak lama setelah mereka pergi, Soo Jung datang dan ternyata dia anaknya pria bule itu. Dia datang mencari Jae In tapi Ayahnya memberitahu bahwa Jae In baru saja pergi.


Di SH Mall, Ayahnya tae Ha mengantarkan keluar seorang partner bisnis mereka. Tae Ha sudah menunggu di parkiran saat mereka datang. Hmm... Ayahnya Tae Ha sepertinya agak mencurigakan. Setelah partner bisnis mereka pergi, Tae Ha mencoba bertanya tujuan partner bisnis mereka itu kemari. Tapi Ayahnya Tae Ha menghindari pertanyaan itu dengan menanyakan masalah wanita yang Jae In kencani itu.


Tae Ha mengaku belum menemukan apapun. Tapi dilihat dari cara mereka menghentikan media, sepertinya wanita itu bukan wanita biasa. Ayahnya Tae Ha menduga bahwa Kakek juga pasti mengetahui masalah ini. Dia langsung memerintahkan Tae Ha untuk membuntuti Jae In. Mereka harus tahu siapa wanita itu agar mereka tahu bagaimana harus berurusan dengan wanita itu.


Jae In dan Da Hyun terdiam dalam perjalanan pulang. Jae In memecahkan keheningan diantara mereka dengan menanyai Da Hyun tentang temannya itu. Da Hyun membenarkan bahwa dia dan Hyun Jin berteman baik sejak SMP dan mereka bertetangga sampai saat mereka kuliah.

Dia hampir saja keceplosan lagi memanggil Sun Woo dengan oppa, dan Jae In langsung mempelototinya. Frustasi, Da Hyun protes, dia harus memanggilnya apa kalau begitu? Masa memanggil oppa saja tidak boleh?

"Jangan temui dia saja. Dengan begitu kau tidak akan punya alasan untuk memanggilnya dengan sebutan apapun" ujar Jae In ngotot. Da Hyun benar-benar frustasi meladeni kekeraskepalaan Jae In hingga dia hanya bisa geleng-geleng kepala.

Bersambung ke part 2

9 comments

Semangat, Mbak Ima. Bolak-balik nunggu sinopsis drama ini. :D

Ah coba ima rekapannya lgs abis sampe ep 6.. Cant wait..suka bgt drama ini

Makasih mbak di tunggu part 2 nya ya.. :)

Fighting 😊.. Jae in posesif bngt😁...

Ttp Semangat ya kak,ditunggu kelanjutannya

Sama seperti waktu menonton dramanya versi kim dong won.. Saya senyum2 sendiri membaca sinopsis drama ini.. Fighting mba ima!!!

Setelah membaca postingan ini harap berikan komentar dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog ini dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon