Powered by Blogger.

Sinopsis Something About 1% Episode 5 - 2


Sesampainya di depan rumah Da Hyun, mereka melihat beberapa tetangga sedang berkumpul melihat kehebohan di gedung sebelah. Menurut beberapa tetangga, ternyata apartemen di sebelah baru saja kemalingan. Melihat Da Hyun datang bersama pacarnya, mereka menduga kalau Da Hyun mungkin tak perlu cemas mengingat dia punya pacar yang bisa diandalkan.


Da Hyun agak keberatan dengan pendapat mereka, tapi sebelum dia sempat mengatakan apapun, Jae In langsung merangkul Da Hyun seolah membenarkan hubungan mereka lalu membawa Da Hyun naik. Da Hyun langsung protes, kenapa juga Jae In ikut naik kemari padahal dia tidak pernah mengundangnya.

"Jangan khawatir, lagian aku tidak suka ramen kok" ujar Jae In sambil celingukan melihat-lihat tempat itu.


Gara-gara kejadian perampokan itu, Jae In mulai cemas dan cerewet bertanya apakah Da Hyun sudha mengunci pintunya dengan baik dan apakah bagian dalam rumahnya juga ada selot kuncinya. Saat Da Hyun mengiyakannya, Jae In langsung mengulurkan tangan minta kunci.

Jelas saja Da Hyun langsung melongo, tapi Jae In menjelaskan maksudnya hanya menyuruh Da Hyun untuk segera membuka pintu. Da Hyun akhirnya membuka pintunya, tapi Jae In mau ikut masuk. Da Hyun takut, tapi Jae In langsung angkat tangan dan meyakinkan Da Hyun kalau dia tidak akan menyentuh Da Hyun.


Begitu masuk, Jae In langsung memeriksa keamanan rumah itu. Dia menyarankan agar Da Hyun memasang terali di jendela, tapi Da Hyun merasa tak nyaman dengan itu. Rasanya seperti di dalam penjara dengan terali besi, tapi Jae In berpendapat memasang terali itu lebih baik.


Tiba-tiba Jae In melihat poster besar Ji Su di dinding, dia langsung kesal tapi tak mempermasalahkannya lebih lanjut.


Saat Jae In memeriksa jendela dapur, Da Hyun berdiri di sampingnya. Jae In sontak menoleh dan membuat Da Hyun tercengang hingga dia berusaha mundur dengan canggung tapi Jae In malah terus mendekatinya sampai Da Hyun tersudut diantara meja dan dirinya.

"Apa kau tidak akan pergi?" tanya Da Hyun gugup. Tapi Jae In malah menarik Da Hyun semakin dekat hingga membuat Da Hyun tertunduk malu "Kau mau apa?"

"Menciummu" jawab Jae In sambil langsung mencondongkan wajahnya untuk mencium Da Hyun. Tapi Da Hyun memalingkan wajah tepat waktu hingga Jae In hanya bisa mengecup pipinya.


Da Hyun benar-benar malu sampai tidak berani memandang Jae In lagi saat dia bertanya apakah Jae In tidak akan pergi. Jae In kecewa, tapi akhirnya dia menurut. Tapi sebelum pergi, dia mewanti-wanti Da Hyun untuk mengunci semua pintu dengan benar setelah dia pergi nanti.

"Dan telepon aku kalau ada apa-apa" pesan Jae In. Da Hyun menanggapinya hanya dengan mengangguk linglung.

"Dan singkirkan benda-benda aneh ini dari dindingmu" gerutu Jae In pada foto-fotonya Ji Su yang tertempel di dinding.

Tepat setelah Jae In menutup pintu, Da Hyun yang sedari tadi berusaha keras menguatkan dirinya untuk tetap berdiri, akhirnya langsung merosot ke lantai sambil memegangi dadanya yang pasti berdebar sangat kencang. Dalam perjalanan pulang, Jae In mesam-mesem sendiri teringat kejadian barusan.


Tapi kemudian dia mendapat telepon dari Pengacara Park yang memintanya bertemu sekarang. Pengacara park mengaku bahwa tadi dia dipanggil Kakek untuk diinterogasi karena Kakek mencurigainya sebagai agen ganda. Kesal, Jae In langsung mengatai kakeknya munafik. Terbukti dengan perbuatan kakeknya yang mengirim Ketua Tim Kang padanya.

"Jadi kau menyadarinya, yah?"

Tentu saja, dia bukan orang bodoh. Dia tidak percaya kalau kakeknya memecat sekretaris yang sudah lama bekerja padanya.
 

Mendengar itu, Pengacara Park menyarankan agar sebaiknya Jae In tidak lagi menghindari pertanyaan tentang apa yang terjadi di acara yang disponsori hotel. Daripada membawa Da Hyun ke acara semacam konser musik klasik dan galeri seni, lebih baik dia pacaran seperti orang-orang pada umumnya.

Jae In bersikeras kalau dia memang pacaran seperti itu kok. Tapi Pengacara Park tak sependapat. Apa yang Jae In lakukan itu bukan kencan tapi kerja. Jae In langsung teringat keluhan Da Hyun waktu itu, saat Da Hyun mengkritiknya karena tidak mau meluangkan waktu untuk kencan dengan benar.

"Ada banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan oleh pria dan wanita saat mereka berkencan"

"Apa kau menyuruhku tidur dengannya? Tapi itu terlalu cepat, akan butuh waktu untuk merayu Da Hyun"

"Hei! Bukan tidur dengannya. Aku bicara tentang kencan saja"

"Bedanya apa?"

"Astaga! Apa kalian pernah nonton bersama? Dengan temperamenmu itu, aku tidak mengharapkanmu membawanya ke taman hiburan. Apa bahkan penah mengiriminya sms saat malam? Apa kau pernah mengiriminya bunga? Apa kalian pernah berjalan bersama sambil bergandengan tangan? ckckck... itu yang namanya kencan, bodoh!"


Setibanya di rumah, Jae In melihat-lihat gantungan kunci pasangannya dan mainan pemberian Da Hyun. Teringat akan ucapan Pengacara park, Jae In akhirnya mencoba menghubungi Da Hyun.


Tapi tepat saat itu, Da Hyun ditelepon Ji Su yang ingin berkonsultasi tentang pelajaran. Berkali-kali Jae In mencoba menghubungi Da Hyun tanpa hasil. Lama-lama dia jadi penasaran, dengan siapa Da Hyun bicara sampai selarut ini.


Setelah beberapa saat, Da Hyun akhirnya selesai dengan teleponnya dengan Ji Su. Sebelum menutup telepon, Ji Su mengajak Da Hyun ketemuan hari sabtu nanti. Tak lama setelah menutup telepon, ponselnya berbunyi lagi. Da Hyun pun refleks menyapanya Ji Su padahal yang menelepon Jae In. Jelas saja Jae In protes, jadi sedari tadi Da Hyun bicara pada anak kecil itu? Sampai selarut ini?

Da Hyun berusaha menjelaskan tapi Jae In tidak mau dengar "Sebodo amat dia mau Ji Su kek atau Park Su kek! Apa kau pacaran dengan anak itu?"


"Kau ini bicara apa? Kenapa aku harus memacarai anak 21 tahun? itu ucapan yang berbahaya, tahu! Aku hanya presiden fanclub-nya. Aku tidak boleh membiarkan Ji Su-ku terkena skandal. Tapi kenapa kau meneleponku di jam segini?"

"Aku ingin kita mencoba pacaran seperti orang lain. Seperti yang kubilang sebelumnya kau tidak boleh punya cowok lain dalam hidupmu. Aku tidak peduli mau itu presidennya fanclub atau fanclubnya presiden atau oppanya temanmu atau temannya oppamu. Pokoknya tidak ada yang boleh!"

Bukannya marah dan protes seperti biasanya, Da Hyun malah senang dan bertanya-tanya "Apakah orang lain pacaran dengan banyak aturan seperti ini juga?"

"Entahlah. Ini juga pertama kalinya aku bicara di telepon selarut ini"


Akhirnya mereka menghabiskan malam dengan ngobrol di telepon seperti orang pacaran pada umumnya. Saat Jae In mengajak Da Hyun nonton kapan-kapan, Da Hyun langsung mengira Jae In mau mengajaknya ke acara festival budaya yang diadakan hotelnya lagi. Tapi Jae In berkata kalau dia hanya ingin mengajak Da Hyun nonton film itu saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan.

"Apa kau sudah mengunci pintu?" tanya Jae In

Da Hyun mengiyakannya tapi tiba-tiba dia mendengar suara-suara mencurigakan dari luar. Da Hyun sontak ketakutan. Jae In juga jadi cemas dan menyuruh Da Hyun untuk tidak bergerak, dia akan ke sana. Tapi tepat saat itu juga, Da Hyun mendengar suara Hyun Jin memanggil-manggilnya dengan panik. Da Hyun lega dan langsung menutup teleponnya.


Lega setelah bisa memakai kamar mandinya Da Hyun, Hyun Jin langsung menggerutu heran, kenapa dia tadi menelepon lama sekali sih? Dan untuk apa Da Hyun memakai kunci tambahan di dalam rumah? Da Hyun lebih heran, kenapa Hyun Jin kemari? Apa dia bertengkar lagi dengan ibunya? Hyun Jin membenarkannya dengan desahan nafas frustasi.

"Tapi kau tadi bicara di telepon dengan siapa? Ji Su lagi? Aigoo! Kenapa kau tidak pacaran saja sama dia?" gerutu Hyun Jin sambil melompat ke kasurnya Da Hyun dan mengambil alih kasur itu dari tuan rumah. Da Hyun menyangkal bicara dengan Ji Su. Hyun Jin malah jadi semakin penasaran, kalau bukan Ji Su lalu siapa? Apa ibunya lagi?

"Tidak. Aku punya pacar, ingat tidak?" jawab Da Hyun dengan senyum lebarnya

Tidak bisa tidur setelah telepon-teleponan dengan Da Hyun, Jae In akhirnya menghabiskan malamnya dengan merangkai mainan robotnya.


Saat kedua sahabat itu berbaring bersama, Hyun Jin menyinggung masalah Jae In. Sun Woo bilang padanya kalau pacarnya Da Hyun itu sesuatu banget. Ah, ngomong-ngomong masalah Sun Woo, Da Hyun jadi stres gara-gara peringatan Jae In, bingung sekarang dia harus memanggil Sun Woo dengan sebutan apa. Pokoknya Da Hyun meminta Hyun Jin untuk menyampaikan pada Sun Woo agar dia menutup mulutnya perihal hubungannya dengan Jae In.

"Kenapa? Baru saja kau memberitahu kalau kau pacaran?" goda Hyun Jin "Tapi apa kau benar-benar tak punya perasaan apapun pada oppa-ku?"

"Tidak

"Dulu kau kan naksir dia"

"Itu 10 tahun yang lalu. Dulu aku tidak tahu kalau dia playboy"

"Iya sih. Dia memang playboy"

 

Keesokan harinya, Ibunya Tae Ha masih terus kepikiran masalah pacar barunya Jae In dan keanehan ayahnya. Dia heran kenapa ayahnya diam saja walaupun dia tahu Jae In punya pacar baru. Ayahnya Tae Ha menduga mungkin karena Kakek pikir itu bukan masalah besar.

Tapi ibunya Tae Ha tak percaya, tidak mungkin ayahnya akan tinggal diam begitu saja setelah apa yang Jae In lakukan, mencampakkan putri Ketua Han dan sekarang malah memacari gadis misterius.


Ji Su memperlihatkan dance-nya pada Da Hyun yang jelas terkagum-kagum melihat idolanya itu. Ji Su memberitahu Da Hyun bahwa minggu depan dia akan mengikuti audisi. Saking senangnya, Da Hyun refleks memeluk Ji Su sebelum akhirnya dia sadar untuk melepaskan pelukannya.


Tapi yang tidak disangkanya, Ji Su malah menariknya kedalam pelukannya dan berterima kasih atas semua bantuannya. Da Hyun membalas pelukannya, tapi tiba-tiba dia teringat ancaman Jae In yang melarangnya punya cowok lain. Da Hyun sontak melepaskan pelukannya dan berkata bahwa ini semua berkat Ji Su sendiri "Dan ahjussi itu juga hebat"

"Ahjussi? Ah, pak pengacara?"

"Bukan. Orang lain, psikopat betulan. Oh, aku harus bertemu dengannya nanti"


Pengacara Park datang ke kantornya Jae In untuk mengajaknya makan siang bareng. Jae in berkata bahwa dia sudah ada janji lain hari ini. Janji bisnis atau janji pribadi? tanya Pengacara Park. Dua-duanya, jawab Jae In.

"Lihatlah dirimu, kencan dengan cara seperti itu lagi. Pantas saja ketua merasa ditipu"


Mereka keluar sambil membicarakan masalah Kakek yang merasa ditipu oleh Jae In karena Kakek merasa Jae In tidak ada perkembangan dari hubungannya dengan Da Hyun. Pengacara Park penasaran, Da Hyun itu wanita yang seperti apa? Lift terbuka tepat saat itu dan mereka terus ngobrol membicarakan masalah Da Hyun didalam lift.

Pengacara Park penasaran apakah sekarang setelah mereka pacaran, rasanya berbeda? Apa Jae In merasa Da Hyun lebih spesial sekarang? Jae In mengklaim tidak ada beda sama sekali, biasa-biasa saja. Tapi menurut Pengacara Park, Jae In jelas beda dari sebelumnya. Jangan-jangan Jae In disengat lebah cinta. Pengacara Park tak percaya kalau Jae In masih tak punya perasaan spesial pada Da Hyun setelah beberapa kali bertemu.

"Dia biasa saja. Dia benar-benar seorang guru. Kadang dia sangat lusuh dan kolot" bisik Jae In "Tapi dia punya banyak cowok. Kurasa dia rada playgirl. Itu saja, tidak ada hal penting lain untuk dikatakan tentangnya"


Pintu lift terbuka, Jae In dan semua orang didalam lift keluar satu per satu... tanpa mereka sadar, Da Hyun ternyata ada di dalam lift sedari tadi, tersembunyi di bagian paling belakang dan mendengarkan percakapan Jae In dan Pengacara Park tentangnya.

"Apa? Biasa? Kolot? Lusuh? Dasar cowok itu! Akan kutunjukkan padamu seperti apa serigala yang sebenarnya. Mati kau!" dengus Da Hyun.


Saat sedang menunggu di restoran, Pengacara Park menyimpulkan dari semua penilaian Jae In terhadap Da Hyun tadi, Jae In sebenarnya tidak sepenuhnya membenci Da Hyun. Jae In membenarkannya, dia memang tidak membenci Da Hyun. Pengacara Park jadi semakin penasaran dan menuntut Jae In untuk bercerita lebih banyak.

"Dia masih sama dengan saat aku pertama kali memacarinya. Dan kurasa dia akan tetap sama 10 tahun yang akan datang. Itulah yang kusukai darinya" ujar Jae In


Tanpa dia ketahui, Da Hyun saat ini malah sedang pergi ke toko bajunya Hyun Jin dengan niat untuk balas dendam dengan cara mengubah dirinya dan menerima baju seksi yang Hyun Jin berikan padanya.


Beberapa saat lamanya kedua pria itu menunggu Da Hyun yang tak kunjung datang. Jae In sampai heran sendiri, tidak biasanya Da Hyun telat. Mungkin sekarang Da Hyun sedang tersesat lagi walaupun dia tidak akan pernah mau mengakui kalau dia tersesat. Duh, Jae In sekarang kalau ngomongin Da Hyun penuh cinta banget deh.

Mengira tidak akan bisa bertemu Da Hyun hari ini, Pengacara Park pun hendak beranjak pergi. Tapi tiba-tiba saja dia melihat Da Hyun datang... dengan penampilan yang sangat seksi. Jae In langsung melotot shock dan marah "Apa-apaan ini?!"

Bersambung ke episode 6

12 comments

Gomawo unnie .. hwaiting 😍😍😘😘πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

Gak sabar menunggu ep.6,,plis cepat yΓ a..semangatπŸ’ͺπŸ’ͺ

Aq tunggu ep 6 ...fighting 😊

Ditunggu sinopsis selanjutnya ya

Hadeuh.....jae in jae in......bener2 sesuatu nih orang:-)

Ommooo.. ini nanggung bgt endingnya bkin pnasaran.. Ditunggu lanjutannya eonnie,hwaiting πŸ’ͺ

Bagus ceritanya....ringan...bikin senyum2....oke ditunggu kelanjutannya...trims....

Bagus ceritanya....ringan...bikin senyum2....oke ditunggu kelanjutannya...trims....

Unnie ko engga di lanjutin sih ..
Kita semua udah pada nungguin nih��

ceritanya lucu banget.. suka sama kelakuannya jae in πŸ˜€πŸ˜€ lanjuut kak, eps.6 nya 😚 eps.7 jugaa min πŸ˜€πŸ˜€ fightiiing min nulisnya😚😚 d'tunggu banget ya minπŸ˜€πŸ˜€
maaf juga min, kalo aku sedikit cerewet soal'nya penasaran dengan kelanjutan ceritanya.. hehe..

Setelah membaca postingan ini harap berikan komentar dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog ini dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon