Powered by Blogger.


Images credit dan content copyright by SBS 



Si putri duyung melihat orang-orang di sana sedang memotreti kembang api. Dia heran mereka sedang apa? Memotret, jawab Joon Jae. Tapi Sea Wa tak mengerti apa itu memotret. Joon Jae benar-benar heran mendengarnya. Dia pun menmgeluarkan ponselnya untuk mengajari Sea Wa memotret.


"Kalau begitu kenapa kau tidak memotret?" jawab Sea Wa

"Karena aku hanya bisa mengingatnya"

Mendengar itu, Sea Wa menempelkan tangan Joon Jae di dadanya sendiri dan bertanya kalau Joon Jae menyimpan ingatan itu di hatinya, bukan?


Joon Jae jadi teringat masa lalunya saat dia melihat kembang api berdua bersama ibunya. Dulu, ibunya memberitahunya bahwa hal-hal yang baik hilang dengan cepat. Karena itulah dia menasehati Joon Jae untuk melihat kembang api itu dengan baik dan menyimpannya di dalam hatinya. Agar dia bisa mengenang hari ini saat dia memiliki hari yang menyedihkan.


Tersadar dari lamunannya, Joon Jae memprotes cara bicara Sea Wa padanya. Tapi Sea Wa terlalu terpesona dengan kembang api.


Kembang api itu masuk berita TV yang ditonton Yoo Ran. Suaminya Jin Joo, Dong Shik, muncul dan hendak mengganti acara TV-nya. Tapi Yoo Ran tiba-tiba melarangnya dengan tegas bak seorang majikan dan dia langsung menurut. Setelah puas menonton acara kembang api itu, dia mempersilahkan Dong Shik untuk mengganti chanelnya dan Dong Shik berterima kasih padanya.

Setelah Yoo Ran kembali ke dapur, Jin Joo langsung memprotes Dong Shik yang bersikap terlalu hormat pada pembantu mereka. Dong Shik sebenarnya merasa aneh juga karena setiap kali Yoo Ran memerintahkan sesuatu padanya, dia selalu menurut.



Dae Young sekarang sedang membuntuti Joon Jae di Sungai Han sambil menelepon Seo Hee dan melapor kalau Joon Jae sedang bersama wanita sekarang. Dae Young heran bagaimana Seo hee bisa tahu dia akan ada di sini hari ini. Seo Hee berkata karena Joon Jae selalu melakukannya sejak kecil dan kebiasaan itu terus dia lakukan sampai dia beranjak dewasa.

Flashback,


Suatu hari, Seo Hee muda menghentikan Joon Jae yang hendak pergi menemui ibunya sesuai janji mereka setiap hari ultahnya. Tapi Seo Hee dengan dinginnya memberitahu Joon Jae kalau ibunya tidak akan datang karena Ayahnya Joon Jae sudah memberi Ibunya Joon jae banyak uang agar dia tidak menemui Joon Jae lagi.

Dia mengklaim kalau Ibunya Joon Jae pergi meninggalkannya karena Ibunya Joon Jae lebih menyukai uang daripada putranya sendiri. Joon Jae kecil menangis tak mempercayainya dan Seo Hee langsung tersenyum licik.

 

Tepat saat itu juga, CEO Heo pulang dan Seo Hee langsung berubah sikap pura-pura memeluk Joon Jae bak ibu tiri yang baik hati.

Saat Seo Hee memberitahunya kalau Joon Jae mau pergi menemui ibunya, CEO Heo langsung marah dan menyeret Joon Jae ke kamarnya. Seo Hee pura-pura memprotes tindakan kasar suaminya dan menghapus air mata Joon Jae, padahal diam-diam dia tersenyum licik.

Flashback end,


Seo Hee memberitahu Dae Young bahwa dia telah bekerja sangat keras selama ini, karena itulah dia tidak terima suaminya mencari anak kandungnya lagi.


Sea Wa terus mengikuti Joon Jae sampai membuatnya kesal. Dia bahkan mencengkeram baju Joon Jae saat Joon Jae berusaha meninggalkannya dan meminta Joon Jae untuk membawanya pulang ke rumahnya. Joon Jae menolak, bagaimana bisa seorang wanita pergi ke rumah pria. Apa kata orang tuanya nanti kalau mereka tahu.

"Aku tidak punya orang tua"

Joon Jae langsung terdiam tak enak mendengarnya. Dia berusaha membuat Sea Wa menjawab pertanyaannya yang tadi, tapi Sea Wa langsung membisu. Joon Jae lalu menulis nomor teleponnya di telapak tangan Sea Wa dan memberitahu Sea Wa untuk menghubunginya jika dia sudah mau bicara nanti.

Joon Jae lalu pergi meninggalkan Sea Wa. Dia sebenarnya masih tak enak saat melihat Sea Wa melalui spion, tapi dia cepat-cepat menghapus perasaan tak enak itu dan terus pergi. Dae Young mendekati Sea Wa begitu Joon Jae pergi.


Tapi langkahnya terhenti saat Joon Jae tiba-tiba menghentikan mobilnya. Perasaan tak enaknya akhirnya menguasainya hingga dia kembali untuk membawa Sea Wa pergi bersamanya. Sea Wa mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil dan berkata kalau dia menyukai Seoul.

Saat itu, Joon Jae tiba-tiba mendapati kilasan ingatan saat dia berkendara di Spanyol bersama seseorang. Joon Jae menutup kaca mobilnya dan Sea Wa pun berpaling padanya dan memberitahu kalau dia suka bersama Joon Jae. Joon Jae tiba-tiba teringat saat dia tersentak bangun karena mendengar suara wanita yang mengucap 'aku mencintaimu'.

Ingin membandingkan suara Sea Wa dengan suara wanita dalam ingatannya, dia berusaha menyuruh Sea Wa mengucapkannya. Tapi dia bingung dan tak nyaman saat harus menyuruh Sea Wa mengucap 'aku mencintaimu'.


Joon Jae akhirnya memutuskan untuk membatalkannya. Tapi saat itu, dia melihat dari spion, ada sebuah mobil yang sedang membuntutinya. Joon Jae langsung ngebut dan berbelok ke gang kecil, berusaha melepaskan diri dari mobil itu. Dae Young terus berusaha mengejarnya, tapi kehilangan jejak saat dia mencoba mengikuti Dae Young ke gang kecil itu. Dae Young langsung menjerit frustasi.


Di lab-nya, Si Ah terus menatap guci bergambar putri duyung mencium seorang pria itu. Rekannya berkomentar kalau keramik ini sepertinya dari Joseon tapi gambarnya jelas modern. Bagaimana bisa orang Joaseon menggambar seperti ini.

Rekannya yang lain memberitahu mereka tentang candaan profesor mereka, bahwa pelukis guci itu melakukan perjalanan waktu ke masa depan. Si Ah merasa gambar pria itu mirip dengan orang yang dikenalnya.


Joon Jae membawa Sea Wa pulang ke rumahnya dan membuat kedua rekannya melongo melihat kedatangan wanita itu. Sea Wa melihat ada kolam renang di sana dan langsung melihat kolam renang itu dengan antusias. Nam Doo heran, apa Joon Jae sudah gila membawa wanita itu kemari?


Sea Wa langsung menatapnya tajam tapi kemudian bertanya apa tak ada yang bisa dimakan didalam kolam itu? Tentu saja tak ada, Joon Jae menyuruh Sea Wa masuk kembali. Tae Oh membuatkan pasta instan untuknya dan Sea Wa memakannya dengan garpu seperti yang pernah dipelajarinya waktu itu.


Joon Jae dan Nam Doo saling berkomunikasi dengan mata mereka sebelum akhirnya Nam Doo mencoba menanyai Sea Wa tentang dimana rumahnya. Sea Wa hanya menjawab jauh. Nam Doo berkata rumahnya juga jauh di Namyangju.

"Rumahku... sangat jauh" 

Mendengar itu, Nam Doo langsung memutuskan kalau wanita ini tidak akan cocok dengannya. Joon Jae tak peduli dengan pendapatnya. Nam Doo protes, dia mengeluarkan pendapat karena mereka kan akan hidup bersama. Joon Jae dengan kesal mengingatkan Nam Doo kalau dia sendiri dan Tae Oh numpang di rumahnya dan memerintahkan mereka untuk segera angkat kaki dari sini.


Nam Doo protes lagi dan menuduh Joon Jae mau melakukan sesuatu berduaan dengan wanita ini. Joon Jae menyangkal dan berkata kalau dia membawa wanita ini kemari untuk memastikan sesuatu. Dia mengeluarkan gelang gioknya dan bertanya apakah dia tahu gelang ini dan apakah gelang ini miliknya.

Sea Wa membenarkannya tapi dia sudah memberikan gelang ini pada Joon Jae karena Joon Jae menyukainya. Nam Doo bingung karena benda berharga seperti ini seharusnya bukanlah sesuatu yang bisa asal diberikan begitu saja. Nam Doo berusaha menyentuh gelang itu, tapi Joon Jae bergerak cepat menangkap tangannya.


"Di rumahku banyak benda seperti ini" jawab Sea Wa dengan entengnya.


Dalam flashback, kita melihat Sea Wa sedang mengeluarkan berbagai guci berharga dari sebuah peti harta karun yang tenggelam di dasar laut dan dia membuang semuanya begitu saja.


Mendengar ucapan Sea Wa itu, Nam Doo seketika berubah sikap dan memberitahu Joon Jae untuk membiarkan wanita ini menginap sementara waktu bersama mereka. Dia bahkan mengklaim dirinya sebagai oppa dan berjanji akan membantunya untuk menghadapi kerasnya hidup di Seoul, tapi dengan syarat kalau Sea Wa tidak boleh melupakan kebaikannya
 
Joon Jae menyela untuk bertanya kenapa dia tidak tahu kalau Sea Wa yang memberikan gelang ini padanya. Sea Wa langsung membisu lagi seketika. Nam Doo menenangkannya dan mencoba menanyakan nama Sea Wa.

Joon Jae memberitahunya kalau wanita ini tak punya nama. Sea Wa heran kenapa semua orang terus menanyakan masalah namanya. Nam Doo menjawab karena dia harus punya nama agar dia bisa dipanggil. Kalau begitu apakah Joon Jae akan memanggilnya jika dia punya nama? tanyanya. Joon Jae mengiyakannya.


"Kalau begitu beri aku nama" pintanya

Nam Doo langsung nyerocos menyarankan nama Oh Deu Ree yang kedengaran seperti nama Audrey Hepburn. Tapi Joon Jae tak setuju dan memutuskan untuk menamainya Shim Chung Yi saja (Shim Chung adalah karakter legenda yang menjual dirinya pada raja laut demi menyelamatkan ayahnya). Joon Jae beralasan kalau dia menamainya Sim Chung Yi karena dia bodoh. Nam Doo protes tak setuju dengan nama itu.


"Aku suka nama itu" ujar Shim Chung mengejutkan mereka. Bahkan dengan antusiasnya dia berlari ke Tae Oh untuk menanyakan nama Tae Oh lalu mengumumkan nama barunya pada Tae Oh.


Si Ah datang saat itu membawakan kue ultah untuk Joon Jae. Chung langsung tak suka melihat Si Ah dan menatapnya tajam.


Tiba-tiba robot vacuum cleaner meluncur mengenai kakinya, Chung menjerit ketakutan dan langsung melompat dan menggelandot ke Joon Jae. Nam Doo tertawa ngakak melihat pertunjukkan lucu itu, sementara Si Ah hanya bisa terdiam kesal.


Kue ultah dikeluarkan dan lilin ultah pun dinyalakan. Chung dengan penuh semangat mau nyosor ke kue itu, tapi Joon Jae cepat menghentikannya dan memberitahunya kalau kue hanya boleh dimakan setelah lilinnya ditiup.

Mereka pun bersiap menyanyi lagu ultah, tapi Chung langsung meniup lilin itu, menyendok kue itu langsung dengan tangan dan memakannya dengan rakus. Si Ah mengambilkan sepotong kue untuk Joon Jae. Awalnya Joon Jae menolak, tapi berkat protes Nam Doo, akhirnya dia menerima suapan itu.


Si Ah membisikkan sesuatu di telinga Joon Jae dengan sok mesra dan Chung langsung cemburu melihatnya. Tapi dia mencoba menirukan semua gaya girly-nya Si Ah. Mulai dari menutup mulutnya dengan tangan saat dia tertawa kecil, makan kuenya dengan suapan kecil hingga mengelap bibirnya dengan tisu.

Sementara Si Ah dan Joon Jae membicarakan masalah pesta profesor mereka, Chung memperhatikan gaya Si Ah dan gerak-geriknya.


Sebelum pulang, Si Ah menyeret Nam Doo keluar untuk bertanya dengan kesal apakah mereka akan membiarkan wanita itu tinggal di sini sementara waktu. Nam Doo menjelaskan kalau Joon Jae membiarkan wanita itu tinggal di sini karena dia kasihan padanya. Jadi Si Ah tidak usah khawatir.

Tapi Si Ah tetap tak bisa tenang dan menyuruh Nam Doo untuk terus mengawasi mereka. Si Ah cemas dimana wanita itu akan tidur mengingat tak ada kamar kosong lagi di rumah ini. Nam Doo mengklaim ada kamar lain.


Di dalam rumah, Joon Jae membawa Chung naik ke sebuah kamar rahasia yang terletak di loteng kamar tidurnya. Chung mengira dia akan hidup di situ. Tapi Joon Jae menegaskan kalau Chung hanya akan tinggal beberapa hari saja.


Setelah Joon Jae turun, Shim Chung berterima kasih padanya dan melompat-lompat di atas kasur empuk barunya dan membuat Joon Jae terganggu. Saat Shim Chung masih terus berulah, Joon Jae mengancam akan mengusirnya. Shim Chung akhirnya diam dan berbaring.


Dae Young berkeliaran di sekitar rumah Joon Jae. Dia melihat Menara Namsan yang menarik perhatiannya dan seketika itu pula dia memikirkan sesuatu.


Hujan masih turun deras saat pagi tiba dan Shim Chung terbangun dari tidurnya. Dia langsung merasa kelaparan dan cepat-cepat membangunkan Joon Jae untuk memberinya sarapan.

Sesaat kemudian, Joon Jae mulai memasak sementara Shim Chung menatap rice cookernya dengan antusias. Si rice cooker pintar itu mengumumkan kalau nasinya sedang dimasak dan Shim Chung dengan antusias menyuruh si rice cooker untuk memasak dengan cepat.



Sementara itu, Dae Young sedang berkeliling dari rumah ke rumah dengan menyamar sebagai sales koran dan dia menandai semua rumah yang didatanginya, tapi dia tak sadar saat dia mobil Joon Jae lewat di dekatnya. Rumah selanjutnya yang didatanginya ternyata rumah seorang preman sangar.

Si preman kesal karena dia dibangunkan pagi-pagi hanya untuk mendengarkan promosi sales koran dan lebih kesal lagi saat Dae Young menandai rumahnya. Kesal, si preman langsung mengeluarkan ponselnya. Tapi Dae Young langsung melepaskan penyamarannya dengan tatapan mata yang tenang tapi menakutkan.


Joon Jae pergi membeli barang di mall. Saat melewati toko baju wanita dan melihat seorang wanita yang sedang memilih baju bersama pacarnya, Joon Jae tiba-tiba mendapat kilasan ingatan saat dia berada di toko baju wanita. Tapi dia tidak ingat kenapa dia pergi ke toko itu.

Saat melewati toko sepatu wanita, lagi-lagi dia teringat pernah memilih sepatu wanita di sebuah toko. Joon Jae akhirnya memutuskan kalau mereka prnah berpisah tapi dia tidak ingat karena kepalanya terluka gara-gara jatuh ke laut.

Saat sedang menunggu lift, dia teringat pernah melakukan hal yang sama. Dia benar-benar mulai frustasi akan apa yang sebenarnya terjadi. Dalam perjalanan pulang, dia teringat semua kejadian di Spanyol. Tapi dalam semua ingatannya itu, dia sendirian.


Setibanya di lingkungan tempat tinggalnya, Joon Jae mendapat telepon dari Nam Doo yang menyuruhnya untuk berhenti. Ternyata karena di depan ada pemeriksaan polisi. Nam Doo buru-buru mendatangi Joon Jae dan memberitahunya kalau tetangga mereka dibunuh.

Dia menyuruh Joon Jae untuk putar balik dan jangan pulang, apalagi ada Detektif Hong di depan. Detektif yang selama ini berniat menangkap Joon Jae. Tapi Joon Jae tidak bisa tenang memikirkan Chung yang sendirian di rumah.


Detektif Hong menduga kalau ini perbuatan Dae Young dilihat dari senjata yang digunakannya adalah paku dan palu. Tapi rekannya tak yakin karena korban adalah seorang rentenir yang pastinya punya banyak musuh. Mereka tak sadar kalau salah satu polisi mereka tampak mencurigakan dan langsung pergi saat ada kesempatan.


Heran karena Joon Jae tak kunjung pulang, Chung akhirnya menghabiskan waktu dengan menonton drama TV yang tak sengaja menyala karena remote-nya dia duduki. Tiba-tiba bel pintunya berbunyi. Mengira yang datang Joon Jae, Chung pun membuka pintu dengan antusias. Tapi langsung kecewa saat melihat orang yang datang ternyata Dae Young yang menyamar jadi polisi.


Joon Jae termenung memikirkan nasehatnya pada Chung bahwa melindungi diri sendiri harus didahulukan daripada melindungi orang lain dan jika sebaliknya maka itu artinya dia bodoh. Joon Jae bimbang melihat bahaya di depannya. Tapi pada akhirnya dia memilih jadi orang bodoh dan nekat menerobos para polisi di depannya.

Epilog:


Di jaman Joseon, Yoo Ran ternyata dulunya seorang nyonya sementara Jin Joo adalah pembantu di rumahnya. Karena hari cerah, Nyonya memerintahkan pembantunya yang bernama Sa Wol itu untuk membuka semua guci yang jumlahnya sangat banyak itu.

Sa Wol sebenarnya agak keberatan harus melakukan itu seorang diri tapi akhirnya dia menurut. Dia sudah membuka hampir semuanya saat Nyonya-nya tiba-tiba memerintahkannya untuk menutup guci-guci itu kembali karena cuaca tiba-tiba mendung.


Dong Shik yang juga jadi pembantu di sana, mencoba menawarkan diri untuk membantu Sa Wol. Tapi Nyonya melarangnya dan memberinya pekerjaan lain. Nyonya menyuruhnya untuk pergi mengantarkan suratnya ke Heupgeok.


Sa Wol menangis saat mengantarkan Dong Shik. Sepertinya Nyonya tahu hubungan mereka dan berusaha memisahkan mereka. Dengan berlinang air mata dia berharap semoga di kehidupan selanjutnya mereka terlahir sebagai sepasang kekasih. Dong Shik berjanji akan terlahir jadi orang kaya di kehidupan berikutnya.


"Kau mau dilahirkan lagi sebagai apa?" tanya Dong Shik

"Aku?..." tiba-tiba terdengar suara Nyonya memanggil Sa Wol lagi. Sa Wol menatap asal suara itu dengan benci sambil menjawab pertanyaan Dong Shik "Aku mau jadi majikan wanita itu"

Bersambung ke episode 6

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon