Powered by Blogger.

 Images credit dan content copyright by SBS


Joon Jae hendak beraksi lagi. Setelah memastikan kedua rekannya tak ada di sekitarnya, dia membuka sebuah lemari rahasia yang sangat besar dan berisi segala macam seragam plus segala macam aksesorisnya. Dan untuk aksinya kali ini, dia memilih seragam pilot dan tak lupa membawa pemantik apinya.


Bahkan di garasinya pun dia memiliki segala macam mobil. Mulai dari mobil biasa, mobil taksi, mobil ambulance sampai mobil polisi pun ada. Sebelum mereka berangkat, Nam Doo melaporkan jadwal kegiatan Nyonya Jin Ok hari ini.

Joon Jae mengintruksi Tae Oh untuk segera mengurus lift-nya begitu dia tiba di atap nanti dan Nam Doo dia suruh memastikan jadwal Nyonya Jin Ok tidak berubah. Dia memperingatkan mereka untuk segera angkat kaki dari rumahnya begitu misi mereka sukses nanti.


Sementara itu di jalanan, Sea Wa berusaha menanyakan tentang Joon Jae pada para pejalan kaki di sana. Tapi tentu saja dia diacuhkan.

Dalam perjalanan, Nam Doo menyombongkan keberuntungannya yang bertemu dengan orang yang mereka tipu di lapangan golf. Tapi Joon Jae dengan santainya memberitahu Nam Doo bahwa Seoul tidak sebesar yang dia pikirkan. Dalam hidup kita akan bertemu dengan semua orang setidaknya sekali.

Tepat saat itu juga, mereka tak sengaja hampir menabrak pejalan kaki yang tadinya ditanyai Sea Wa. Mereka berhenti di lampu merah, sementara Sea Wa berjalan di trotoar di dekat mereka. Beberapa orang memberinya selebaran dan dia menerima semuanya dengan bingung.


Sea Wa melihat makanan yang dijual warung kaki lima. Ahjumma penjual menyambutnya dengan senang hati. Tapi saat mengetahui Sea Wa tak punya uang, dia langsung mengusirnya dengan kasar.


Mobilnya Joon Jae berjalan lagi dan membuat bunga-bunga yang berguguran di jalan, terbang ke arah Sea Wa. Dia mengulurkan tangannya dan sebuah bunga terjatuh ke telapak tangannya.


Sea Wa akhirnya berjalan kaki tak tentu arah sampai dia melihat beberapa siswi sedang memalak seorang siswi lain hingga mereka sukses mendapatkan uang dari siswi yang ketakutan itu. Sea Wa langsung manggut-manggut, mungkin mengira seperti itulah cara mendapatkan uang.


Seorang anak kecil berjalan seorang diri saat Sea Wa tiba-tiba saja merangkulnya dengan paksa dan memeras anak kecil itu untuk membelikannya makan dengan gaya preman yang sama persis dengan geng siswi pemalak tadi. Tapi berbeda dengan siswi yang ketakutan tadi, anak kecil itu justru berani melabraknya.


Beberapa saat kemudian, anak kecil itu membelikan Sea Wa ramen di mini market. Dia memberitahu Sea Wa bahwa dia beli ramen itu dengan memakai kartu kredit ibunya dan menasehati Sea Wa untuk tidak memeras orang lagi. Sea Wa penasaran, kartu kredit ibu itu apa? Apa lebih baik daripada uang? sama dengan uang, jawab anak kecil itu.

Dengan gaya sok dewasa, anak kecil itu memberitahu Sea Wa bahwa uang adalah sesuatu yang didapat dengan susah payah. Seperti ibunya yang bekerja keras untuk mendapatkan uang, ibunya bahkan jarang bertemu kdengannya saking sibuknya. Ibunya bekerja keras menghasilkan uang agar mereka bisa bahagia.

"Tapi kalau yang kau lakukan dari pagi sampai petang hanya bekerja mendapatkan uang, apa itu bisa dikatakan bahagia?" tanya Sea Wa


Anak kecil itu jadi bingung harus menjawab bagaimana. Karena anak itu harus pergi les, mereka akhirnya berpisah. Tapi sebelumnya, anak itu mendoakan semoga Sea Wa menemukan Heo Joon Jae yang dicarinya. Dia juga memberikan selembar uang untuk Sea Wa dan menasehati Sea Wa untuk mencari kerja agar dia mendapatkan uang.


Mereka pun berpisah jalan. Mungkin masih cemas, gadis kecil itu menoleh sebentar tapi malah tak sengaja menubruk Joon Jae. Kesal, anak itu langsung membentak Joon Jae dengan memanggilnya ahjussi dan menyuruhnya hati-hati kalau jalan.

Joon Jae tak terima dipanggil ahjussi dan hampir saja melabrak anak kecil itu. Tapi Nam Doo cepat-cepat menariknya pergi. Mereka pun meneruskan perjalanan, tanpa menyadari Sea Wa yang berjalan ke arah sebaliknya.


Saat melewati taman, lagi-lagi dia melihat geng siswi pemalak tadi sedang membully korbannya. Tapi berkat ajaran anak kecil tadi, Sea Wa langsung memanggil mereka dan menasehati mereka untuk tidak memeras, itu perbuatan yang tidak baik. Apa mereka tidak punya kartu kredit ibu, itu semacam uang.

geng siswi pemalak itu langsung mendengus sinis mendengarnya. Mereka langsung maju untuk menghajar Sea Wa, tapi Sea Wa langsung menggulung semua selebaran yang didapatnya tadi lalu memukulkannya ke kepala salah satu siswi pemalak. Kesal, temannya siswi pemalak kedua langsung maju menangkap Sea Wa. Tapi Sea Wa langsung mendorongnya dengan kekuatan super sampai siswi itu terbang jauh.

Sea Wa memaksa si siswi pemalak untuk berjanji kalau mereka takkan memeras lagi. Siswi pemalak dengan takut-takut mengklaim kalau dia tidak memeras temannya, dia justru berteman dengannya. Tapi siswi itu menggunakan kata 'berteman' yang terdengar seperti 'makan teman' yang sontak membuat Sea Wa salah paham "Kau... makan teman?"

Para siswi pemalak itu ketakutan dan langsung melarikan diri, meninggalkan Sea Wa dalam kesalahpahaman hingga dia berteriak "Hei! Jangan makan teman kalian! Jangan lakukan itu! Jangan makan temanmu! Makan yang lain saja!"


Para siswi itu akhirnya berhenti setelah mereka sudah cukup jauh. Saat itu, si ketua siswi pemalak mendapat telepon dari ibunya yang ternyata Nyonya Jin Ok. Pada ibunya, dia berbohong mengklaim kalau dia sedang di sekolah.


Tepat saat dia masuk lift, dia mendapat sebuah pesan spam yang langsung diacuhkannya. Saat pintu lift hendak menutup, Joon Jae masuk dengan penyamarannya. Dari atap gedung, Tae Oh menginformasikan kalau dia sudah menghentikan liftnya.

Lift itu berhenti tepat di lantai 17 dan Joon Jae langsung melangkah maju ke depan Jin Ok. Dia tak mengenali Joon Jae sampai saat Joon Jae melepas kacamata hitamnya. Jin Ok langsung melabraknya tapi tepat saat itu juga, lampu lift tiba-tiba mati. Jin Ok kebingungan sementara Joon Jae mulai memutar-mutar pemantik apinya lalu menyalakannya tepat di hadapan Jin Ok dan menghipnotisnya seketika.

Dia mensugesti Jin Ok bahwa pintu belakang lift ini terbuka dan putranya Jin Ok ada disana, sedang bergelantungan di bawah kakinya. Dan seketika itu pula, Jin Ok shock melihat putranya tengah berusaha menyelamatkan diri dengan berpegangan di tepian tembok.


Jin Ok panik dan berusaha menyelamatkan putra kesayangannya itu, tapi gagal dan putranya terjun dari lantai 17 itu. Jin Ok langsung terduduk dengan shock dan berlinang air mata. Joon Jae menyuruhnya untuk mengingat rasa sakit itu, mengingat anak yang mati karena terjatuh dari lantai 17 gara-gara ulah putra Jin Ok. Ibu anak itu juga sama menderitanya seperti yang Jin Ok rasakan sekarang.


Dia mensugesti Jin Ok untuk melupakan semua orang yang bersalah padanya dan mengingat semua kesalahan yang dia lakukan pada orang lain. Saat akhirnya Jin Ok keluar dari lift, dia langsung menyuruh anak buahnya untuk membatalkan tuntutan hukumnya dan dengan berlinang air mata, dia minta bertemu ibu korban karena dia ingin meminta maaf.


Sukses dengan misi mereka, Nam Do memuji-muji kehebatan hipnotisnya Joon Jae. Tae Oh yang jarang ngomong, tiba-tiba saja bertanya penasaran tentang bagaimana Joon Jae melakukan hipnotisnya. Joon Jae dan Nam Doo melongo mendengar suara Tae Oh, Nam Doo dengan antusias menduga kalau Tae Oh pasti sangat penasaran sampai dia buka mulut.

Karena Tae Oh serius ingin tahu, Joon Jae pun menjelaskan kronologi hipnotisnya dengan menatap mata Tae Oh. Diawali dengan pesan spam yang dikirim Nam Doo, pesan yang berisi angka 17. Lalu selanjutnya menghipnotis menggunakan pola interupsi dimana dia menciptakan situasi tak terduga untuk menghipnotis alam bawah sadar korban dan menciptakan dunia fantasi untuk korban.

Intinya, hipnotis dimulai dari tatapan mata. Mendengar itu, Tae Oh langsung menunduk dan memutus kontak mata dengan Joon Jae, takut dihipnotis. Geli melihat reaksi Tae Oh, Joon Jae mengacak-acak rambut Tae Oh dengan sayang dan memberitahunya bahwa tidak semua orang bisa dihipnotis.


Ketiga pria itu pun pergi. Lagi-lagi, Sea Wa dan Joon Jae tak saling bertemu padahal Sea Wa ada di sana tak jauh dari mereka sedang mencari baju bekas di tempat pembuangan baju bekas. Dia menemukan sebuah coat yang cukup bagus.

Seorang wanita gelandangan menjelaskan padanya kalau sebenarnya baju-baju itu biasanya tidak boleh diambil. Tapi dia akan mengawasi keadaan Sea Wa agar dia bisa mengambil yang dibutuhkannya. Ini lingkungan orang-orang kaya yang biasanya membuang barang-barang baru.

Para gelandangan lain sedang berada di stasiun karena ada pembagian makanan gratis. Tapi dia tidak mau meninggalkan Gangnam. Karena dia lebih memilih kelaparan daripada tidak gaya.


Gelandangan itu lalu menanyakan dari mana asal Sea Wa. Sea Wa menjawab dari air, tapi gelandangan itu mengira dia dari seberang lautan (luar negeri). Dia bahkan nyerocos panjang lebar mengklaim kalau dulu dia sering bepergian ke luar negeri sebelum bangkrut.

"Tapi kenapa kau datang ke Seoul?"

"Aku mencari Heo Joon Jae"

Gelandangan mengira itu pasti pacarnya, tapi Sea Wa tak bisa menjawab saat Gelandangan bertanya dimana pacarnya itu tinggal dan apakah pria itu memberinya nomor telepon. Gelandangan langsung iba, mengira Sea Wa ditinggalkan begitu saja tanpa nomor telepon. Tapi Gelandangan yakin kalau pria itu pasti pernah secara tak sengaja menyebut suatu tempat yang sering dia datangi. Karena itulah dia menyarankan agar Sea Wa pergi ke tempat yang sering didatangi pria itu.


Sea Wa ingat kalau Joon Jae pernah menyebut gedung 63. Maka dia pun memutuskan pergi ke sana naik bis. Dia meniru seorang wanita yang menempelkan bokongnya ke mesin, tapi tentu saja mesinnya tidak bereaksi. Dia bahkan berusaha menempelkan kerangnya ke mesin itu tapi tetap saja gagal.

Dia bingung tapi saat supir bis menanyakan uang, dia akhirnya mengerti dan mengeluarkan selembar uang pemberian gadis kecil tadi. Uang itu sebenarnya kurang, tapi supir bis akhirnya berbaik hati membiarkannya naik.

Terkagum-kagum dengan pemandangan malam yang dilewatinya, Sea Wa membuka jendela bis dan mengeluarkan kepalanya untuk melihat segalanya lebih jelas.

 

Sementara itu, Joon Jae duduk di balkonnya, memandangi gelang giok yang tak bisa diingatnya itu.



Dia akhirnya tiba di depan gedung 63. Dia menengadah menatap gedung itu sambil bertanya-tanya akankah dia bertemu Joon Jae jika dia naik ke sana. Beberapa pegawai pulang saat Sea Wa naik dan masuk ke dalam akuarium, tanpa menyadari seorang pegawai mulai menutup pintunya.

Sea Wa langsung menelan ludah dengan antusias saat melihat ikan-ikan yang berseliweran di akuarium itu. Dia lega akhirnya bisa makan lalu masuk kedalam air untuk berburu makanan.


Keesokan harinya di rumah Si Ah, Yoo Ran membuatkan sup rumput laut pesanan Si Ah karena hari ini ada seorang kenalannya yang berulang tahun. Yoo Ran termenung karena hari ini juga ultah putranya. Dia memberitahu Si Ah kalau dia membuat sup rumput lautnya sesuai kesukaan putranya.


Jin Joo datang saat itu dan langsung menggoda Si Ah, dia pasti mau memberikan sup itu untuk pria yang tidak tertarik padanya itu. Dia menasehati Si Ah untuk tidak merayu pria dengan cara membawakan makanan, lebih baik dia mempercantik dirinya dengan suntik botoks misalnya. Kesal, Si Ah mengklaim Jin Joo kalau dia mau memberikan sup itu untuk anak bimbel yang diajarnya.


Tapi sesaat kemudian, Si Ah menyajikan sup rumput laut itu untuk Joon Jae di rumahnya sambil mengaku kalau dia mengetahui rumah ini dari Nam Doo. Joon Jae langsung menggerutu kesal mendengarnya. Joon Jae mencicipi sup itu yang langsung membuatnya tercengang dan teringat masa kecilnya.


Dulu saat dia makan sup rumput laut buatan ibunya dan menghabiskan hari ulang tahunnya dengan keluarganya yang masih lengkap dan bahagia. Dulu dia dan ibunya punya tempat rahasia yang mereka tuju tanpa ayahnya yang selalu sibuk.


Nam Doo datang saat itu dan menyarankan agar mereka mengadakan pesta ultah untuk Joon Jae. Si Ah dengan malu-malu menyarankan sebuah bar yang bagus. Tapi Joon Jae langsung menolak usul mereka dengan menyatakan kalau dia sudah ada janji dan menyuruh Nam Doo pergi ke bar bersama Si Ah saja.


Dia berterima kasih pada Si Ah atas makanannya lalu pergi. Si Ah terus berusaha tersenyum tapi saat Joon Jae sudah keluar, senyumnya langsung menghilang seketika. Nam Doo menggumam kalau Joon Jae tidak akan mau lalu memberikan beberapa lembar uang untuk Si Ah.

Si Ah curiga kalau Joon Jae janjian dengan seorang wanita. Tapi Nam Doo yakin tidak, orang kepas kepala seperti Joon Jae itu susah punya pacar. Nam Doo memakan sup rumput laut itu dan penasaran apakah Si Ah sendiri yang membuatnya. Si Ah mengaku pembantunya yang membuat itu.


Di rumah Si Ah, Yoo Ran menatap foto dirinya dan Joon Jae kecil dengan sedih. Foto yang mereka ambil di depan akuarium Gedung 63.


Joon Jae datang ke akurium penuh kenangan itu seorang diri. Sementara itu didalam air, Sea Wa baru saja bangun dari tidurnya. Seorang anak kecil melihatnya, dia takut saat melihat Sea Wa memakan ikan. Tapi Ibunya yakin kalau dia salah lihat dan mengira putri duyung yang mereka lihat itu adalah seorang performer karena kebetulan hari itu akan ada pertunjukan putri duyung.


Para pegawai akuarium kebingungan saat mereka melihat ada penyelam yang sudah masuk kedalam air padahal performer putri duyung yang sebenarnya baru saja datang.


Para pengunjung pun langsung heboh memotreti Sea Wa dan membuat Sea Wa tak nyaman dengan lampu flash mereka. Tepat saat itu juga, Sea Wa melihat Joon Jae lewat. Joon Jae tak melihatnya, Sea Wa pun langsung berenang mengejar Joon Jae.


Dia berusaha menarik perhatian Joon Jae dengan mengetuk kacanya, tapi Joon Jae tidak mendengarnya dan terus berjalan. Sea Wa terus berusaha mengetuk-ngetuk kacanya sampai akhirnya Joon Jae mendengarnya dan menoleh ke arahnya.

Tapi dia hanya menatap Sea Wa dengan tatapan kosong dan langsung berjalan pergi lagi. Panik, Sea Wa pun langsung naik ke permukaan dan memakai baju manusianya kembali untuk mengejar Joon Jae. Tapi di tengah jalan, dia dihadang oleh para pegawai akurium yang langsung menginterogasinya.


Joon Jae hendak keluar saat dia mendapat pesan dari Nam Doo yang memberitahunya kalau dia bertemu dengan Tomas. Dia juga mengirimkan foto yang membuktikan kalau Joon Jae benar-benar pernah bertemu seorang gadis di Spanyol. Joon Jae melihat foto itu dan langsung shock, gadis itu memakai gelang gioknya dan dia mengenalinya sebagai putri duyung didalam akuarium tadi.


Seorang sekuriti berusaha menangkapnya saat Sea Wa berusaha melarikan diri. Tapi Sea Wa langsung mendorongnya dengan kekuatan supernya sampai sekuriti itu masuk kedalam air. Dia tidak bermaksud menggunakan kekuatannya itu dan benar-benar menyesal karenanya. Mereka jadi semakin mencurigainya hingga Sea Wa terpaksa harus melarikan diri dari mereka.
 
 

Joon Jae berlarian kembali ke dalam mencari putri duyung itu. Seorang anak lewat bersinggungan jalan dengannya dan tak sengaja anak itu bertubrukan dengan Sea Wa. Sea Wa membantunya berdiri dan anak itu pun pergi. Saat Sea Wa sendiri hendak bangkit, dia melihat Joon Jae menoleh ke arahnya.


Joon Jae pun berjalan mendekatinya. Sea Wa menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan teringat saat dia membaringkan Joon Jae di pantai. Sea Wa meminta maaf pada Joon Jae lalu memakaikan gelang itu di tangan Jopon Jae karena dia tahu Joon Jae menyukai gelang itu.


"Kau mungkin tidak akan mengingatku. Tapi aku akan tetap memenuhi janjiku. Aku akan menemuimu. Walaupun aku harus melewati hujan badai, walaupun matahari membakar kulitku. Walaupun aku kesepian dan tanpa seorang pun di sisiku. Dan bahkan jika aku berada di tempat asing. Aku akan bertahan dan akan kupastikan untuk menemuimu... aku mencintaimu"


Itulah kata-kata terakhirnya sebelum dia meninggalkan Joon Jae. Kata-kata yang Joon Jae ingat saat dia sadar dari pingsannya tak lama kemudian.

Bersambung ke episode 4

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon