Powered by Blogger.


 Images credit dan content copyright by SBS


Bawahan Dam Ryung melapor bahwa semalam ada sebuah kejadian aneh di desa-desa pinggir pantai barat. Baju-baju dan sepatu milik warga yang sedang dijemur, tiba-tiba menghilang. Tapi di tempat hilangnya benda-benda itu, ada sebuah mutiara berharga yang ditinggalkan.





Bangsawan Yang juga mendapat laporan yang sama dari kakek. Gisaengnya Bangsawan Yang, Hong Nan, heran pencuri macam apa yang mengambil baju untuk ditukar dengan mutiara berharga. Dia menggerutu kesal karena dia sebenarnya berharap si pencuri itu mampir kemari.


Bangsawan Yang mengingatkan Hong Nan kalau setengah isi lemarinya berisi mutiara dan segala macam permata berharga lainnya. Dia berjanji akan mengisi lemari Hong Nan dengan banyak permata berharga. Sekarang ini dia sibuk menangkap si putri duyung itu kembali.

Begitu dia menangkap si duyung itu lagi, dia akan menghajar duyung itu dan mengekstrak air matanya terus menerus. Dengan begitu dia akan bisa memenuhi janjinya dan setiap langkah Hong Nan bisa selalu berhiaskan mutiara berharga.

Dia yakin putri duyung itu pasti akan kembali dengan sendirinya. Kakek membenarkannya. Sejak jaman dahulu, putri duyung selalu datang ke desa, memakai baju dan makan makanan manusia dan mereka selalu membayar dengan meninggalkan mutiara berharga.

"Jadi maksudmu, pencuri baju itu adalah si putri duyung? Maksudmu putri duyung itu datang ke desa ini?"


Putri duyung itu sekarang sedang berjalan seorang diri di desa. Dia melihat beberapa anak sedang berusaha mengunduh buah kesemek dari pohon. Dia memungut kesemek yang terjatuh ke tanah dan teringat bagaimana dulu Dam Ryung pernah memberinya sebutir.


Kakek memberitahu mereka bahwa putri duyung yang jatuh cinta manusia, tidak boleh kembali. Putri duyung hanya bisa mencinta satu kali seumur hidupnya dan dia akan mempertaruhkan hidupnya demi orang yang dicintai itu.


Bangsawan Yang senang karena orang yang dicintai putri duyung sudah muncul. Jelas ini kesempatan baginya. Karena itulah dia langsung memberi intruksi pada Kakek untuk menyuruh beberapa orang menangkap si duyung itu sebelum keduluan kepala desa.

Sementara Hong Nan dia perintahkan untuk menyebar rumor jahat bahwa badai besar yang membuat perahu-perahu melayan menghilang adalah karena putri duyung itu. Kedua orang licik itu langsung sibuk merencanakan rumor-rumor jahat untuk menakut-nakuti warga dengan mengklaim bahwa jika putri duyung itu sekarang sedang menyembunyikan dirinya sebagai manusia di desa ini dan jika dia tidak segera ditangkap maka banyak orang akan terluka dan mati.

Saat warga mempercayai rumor itu dan ketakutan, maka kepala desa tidak akan bisa berbuat apa-apa. Bahkan jika rencana mereka berjalan lancar maka mereka juga bisa menghancurkan kepala desa sekalian bersama si duyung.


Rumor pun dengan cepat menyebar di kalangan warga desa dan membuat warga jadi ketakutan, mengira putri duyung itu adalah monster laut. Para pria bahkan membangun pagar pembatas di tepi laut, mungkin mencegah masuknya si putri duyung. Memutuskan kalau si putri duyung harus segera ditangkap dan dibunuh, mereka pun demo ke kepala desa.

 

Tapi Dam Ryung sendiri memutuskan pergi dan mengacuhkan protes warga. Dia ingin keluar untuk mencari Sea Wa. Dia yakin Sea Wa datang untuk menemuinya sesuai permintaannya waktu itu, saat dia meminta Sea Wa datang menemuinya pada solar division (sekitar tanggal 22 November) karena dia ingin melihat salju pertama turun bersama.



Tepat setelah dia mengatakan itu, salju pertama tiba-tiba turun. Dam Ryung mengulurkan tangannya untuk menangkap salju di telapak tangannya. Dan di tempat lain, Sea Wa juga melakukan hal yang sama.


Dam Ryung langsung naik ke kudanya untuk mencari Dam Ryung dan mengacuhkan protes anak buahnya. Jika Sea Wa tidak akan bisa kembali, itu artinya Sea Wa datang kemari dengan mempertaruhkan hidupnya "Hal yang sama berlaku untukku. Apa yang bisa kupertaruhkan di saat seperti ini?"

Dam Ryung pun langsung memacu kudanya secepat mungkin mencari Sea Wa.


Sea Wa tengah merenung saat dia mendengar kedatangan seseorang. Dia langsung senang, tapi saat dia menoleh, dia malah mendapati 3 orang pria asing berjalan mendekatinya dengan menghunus pedang. 3 orang itu adalah orang suruhan Bangsawan Yang dan mereka diperintahkan untuk melukai kaki si duyung. Karena berdasarkan informasi yang didapatnya, kelemahan terbesar putri duyung adalah kakinya. Seorang dari mereka berhasil melukai Sea Wa saat dia berusaha melarikan diri dari mereka.


Pria itu hendak menyerangnya lagi, tapi sebuah pedang tiba-tiba menancap di dadanya. Dam Ryung datang saat itu dan langsung menyerang mereka bertiga menjauh dari Sea Wa. Dam Ryung berpaling padanya dan mereka berdua saling memandang.


Di dunia modern, TV memberitakan bahwa buron Ma Dae Young masih belum tertangkap bahkan setelah 3 bulan berlalu. Diduga kalau Ma Dae Young punya kaki tangan. Berita itu ditonton oleh Seo Hee dan Jin Joo di rumah masing-masing. Yoo Ran muncul dari dapur tak lama kemudian dengan membawakan semua makanan yang hendak Jin Joo bawa.


Tapi saat melihatnya, Jin Joo langsung protes dan mengomeli Yoo Ran karena dia takut kuahnya akan tumpah. Yoo Ran dengan tenangnya menunjukkan pada Jin Joo kalau dia sudah mengunci kotak makannya dengan rapat jadi Jin Joo harus membawanya dengan benar agar tidak tumpah dan jangan pula menaruhnya di bagasi, taruh saja di lantai mobil. Jin Joo langsung terdiam dan menurut. Tapi saat Yoo Ran masuk kembali ke dapur, dia baru sadar dan bingung sendiri, siapa sebenarnya yang majikan.


Semua makanan itu ternyata dia berikan untuk Keluarga CEO Heo yang memakannya bersama istrinya dan putra mereka Heo Chi Hyun. Tapi saat CEO Heo mencicipi kepiting kecapnya, dia langsung membeku. Rasanya sama persis seperti masakan istri pertamanya. Dan yaps, dia adalah ayahnya Joon Jae.


Makanan itu mengingatkan CEO Heo akan masa lalunya, saat dia dan keluarganya kecilnya hidup sederhana dan bahagia. CEO Heo muda dan Joon Jae kecil sangat menikmati kepiting kecap buatan Yoo Ran yang lezat sampai-sampai Joon Jae menolak diajak bicara.

Yoo Ran mengusap bibir Joon Jae sambil bertanya-tanya kapan suaminya akan jadi konglomerat agar mereka bisa membuat Joon Jae jadi pria yang cerdas seperti arti namanya. CEO Heo muda berjanji bahwa sebentar lagi dia pasti akan bisa menjadi konglomerat dan dia akan menjadikan Yoo Ran sebagai Nyonya Besar dan dia akan membuat Yoo Ran memakai barang mewah mulai dari kepala sampai ujung kaki.


Seo Hee heran melihat reaksi suaminya dan bertanya apakah dia tidak menyukai makanan itu. CEO Heo tersadar dari lamunannya dan menyangkalnya. CEO Heo menyuruh Chi Hyeon untuk ikut makan kepitingnya. Tapi Chi Hyun menolak karena dia alergi kerang. Hmm... anehnya, Seo Hee dan Chi Hyeon langsung saling bertatapan canggung dan CEO Heo pun terdiam mendengarnya, entah memikirkan apa.


Dalam perjalanan ke kantor, CEO Heo bertanya pada Manager Nam yang sedang menyupir mobilnya. Apakah Manager Nam masih berhubungan dengan Joon Jae. Manager Nam menduga kalau CEO Heo memikirkan Joon Jae pasti karena hari ini Joon Jae ultah. Manager Nam memberitahu bahwa Joon Jae sepertinya sudah pindah rumah lagi dan dia tidak tahu dimana alamat barunya.

Ah, CEO Heo memberitahu Manager Nam kalau keturunan sedarah yang dimilikinya hanyalah Joon Jae seorang. Karena itulah dia harus menemukan Joon Jae dan mengajarinya banyak hal.


Dia tak menyadari kalau percakapan mereka ini sebenarnya sedang disadap oleh Seo Hee. Kesal, Seo Hee langsung menghubungi anteknya... si pembunuh Ma Dae Yeong. Dia memberitahu Dae Young kalau Joon Jae pasti akan muncul di akuarium gedung 63 dan memerintahkan Dae Young untuk membuat Joon Jae menghilang dari dunia ini.


Tepat saat Dae Young baru masuk, Joon Jae tengah berlarian mencari si putri duyung yang dilihatnya didalam tangki air tadi. Dan kebetulan dia menemukannya saat tak sengaja dia melihat seorang anak kecil bertubrukan dengan Sea Wa.

Joon Jae pun berjalan mendekatinya dan bertanya "Apa kau mengenalku?"


Sea Wa hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tepat saat itu juga, para pegawai akuarium muncul untuk menangkapnya. Sea Wa berusaha melarikan diri tapi Joon Jae menangkapnya. Tapi bukannya menyerahkannya ke mereka, Joon Jae mengeluarkan sebuah kartu ID kepolisian yang diambilnya dari sekumpulan kartu ID yang disusunnya dengan rapi di dalam kantong jasnya.

Dia mengklaim dirinya sebagai detektif dan dia datang kemari setelah mendapat laporan. Si manager bingung siapa yang sudah melapor ke polisi, seorang petugas menduga mungkin pihak keamanan yang melapor. Mereka pun tak mencurigainya sama sekali. Dia mengumumkan dugaannya terkait kasus penyusupan ini bak polisi betulan lalu membawa Sea Wa pergi bersamanya.


Begitu sudah cukup jauh dan aman, Joon Jae langsung menunjukkan foto mereka bersamanya yang didapatnya dari Nam Doo dan bertanya kenapa mereka bisa bersama. Sea Wa juga langsung kaget "Kenapa aku ada di sini dengan Heo Joon Jae?"

"Kau tahu namaku? Kau kenal aku, kan?"

Sea Wa langsung menggeleng canggung. Tapi Joon Jae tak percaya, buktinya tadi dia menyebut namanya. Mereka pasti pernah bersama di Spanyol "Tapi kenapa aku tidak mengenalmu? Kau siapa?"

Saat Sea Wa terus diam, Joon Jae mencoba menanyakan namanya. Tapi Sea Wa mengaku tak punya nama. Dia tak punya nama tapi seseorang memberitahunya kalau dia bukan orang yang aneh. Siapa yang bilang itu? tanya Joon Jae.

"Orang yang baik" jawab Sea Wa

"Aku tak tahu siapa dia tapi mungkin dia juga orang yang aneh" komentar Joon Jae


Tepat saat itu juga, dua orang polisi betulan datang. Joon Jae langsung merangkul Sea Wa dan menuntunnya pergi dengan gaya bak sepasang kekasih. Dan begitu kedua polisi itu berlalu, dia langsung menggenggam tangan Sea Wan dan menyeret Sea Wa berlari bersamanya. Sea Wa malah senang, teringat saat mereka lari-lari bersama di pantai Spanyol dari kejaran gangster waktu itu.


Begitu mereka sudah sampai di luar, Joon Jae langsung melepaskan pegangan tangannya dan membuat Sea Wa kecewa. Dia terus menuntut akan apa yang terjadi diantara mereka di Spanyol dan kenapa dia tidak ingat apapun tentangnya ataupun kebersamaan mereka. Tapi Sea Wa terus tutup mulut.


Kesal karena Sea Wa tak mau bicara, Joon Jae memutuskan bahwa mereka tidak ada urusan satu sama lain kalau begitu, dia lalu berjalan pergi meninggalkan Sea Wa. Tapi Sea Wa langsung mengejarnya. Joon Jae berhenti di tengah jalan dan berbalik kembali padanya, apa dia sudah mau bicara?

Tapi Sea Wa masih saja bersikeras tutup mulut. Joon Jae dengan kesal memperingatkannya untuk tidak mengikutinya kalau dia masih terus diam. Tapi tentu saja Sea Wa terus berusaha mengikutinya. Tapi saat dia hendak mengikuti Joon Jae menyeberang jalan, dia terhalang sebuah truk dan pada akhirnya dia kehilangan jejak Joon Jae.


Saat dia sedang berusaha mencari Joon Jae di antara kerumunan orang di pinggir Sungai Han, tiba-tiba dia mendapati seorang pria asing (Cha Tae Hyun) tengah menatapnya dengan penuh ketertarikan. Pria itu sepertinya seorang penipu yang sedang berusaha menipu Sea Wa dengan meramal.

Dia mengklaim kalau Sea Wa tidak punya keberuntungan dengan leluhurnya tapi hidung mancungnya bisa jadi penolak bala jadi dia menyarankan agar Sea Wa tidak meng-oplas hidungnya. Dia mengklaim energi buruknya Sea Wa sangat buruk sampai-sampai nenek moyang Sea Wa di tanah sedang menangis sekarang.


Setelah pria itu menjelaskan arti nenek moyang, Sea Wa dengan bingung berkata kalau nenek moyangnya tidak mungkin ada di tanah tapi di bawah laut. Pria itu berpikir kalau maksud Sea Wa nenek moyangnya pasti bukan dikubur melainkan abunya ditebar ke lautan. Dimanapun nenek moyangnya bersemayam, dia tetap mengklaim mereka sedang menangis sekarang.

Dia lalu nyerocos panjang lebar tentang kenapa nenek moyangnya menangis. Sea Wa sama sekali tidak mengerti semua omongannya hingga akhirnya dia menguap karena bosan dan mengacuhkan pria itu saat perhatiannya teralih melihat gula kapas di kejauhan. Tak mau kehilangan korbannya, pria itu langsung menyeret Sea Wa ke mobilnya.


Tapi di tengah jalan, Joon Jae tiba-tiba menghadangnya. Sea Wa langsung sumringah seketika. Pria itu langsung menuntut, siapa dia?

"Aku? Aku leluhurmu" kata Joon Jae. Dia menarik Sea Wa dari pria itu dan mengklaim kalau dia datang secara khusus untuk menangkap keturunannya agar dia keturunannya tidak menghancurkan dunia.

 

Pria itu berusaha menepuk Joon Jae tapi Joon Jae bergerak cepat mendorongnya dan entah bagaimana dompet pria itu tiba-tiba sudah ada di tangan Joon Jae. Pria itu berusaha mengambilnya tapi Joon Jae dengan santainya menaikkan dompet itu jauh dari jangkauan pria itu.

Pria itu mulai kesal dan berusaha menggertak Joon Jae dengan berkata kalau dia akan menelepon polisi. Tapi Joon Jae terus bergeming dengan senyum penuh percaya diri hingga pria itu sendiri yang akhirnya menyerah dan memohon pada Joon Jae untuk mengembalikan dompetnya.


Sea Wa terus membuntuti Joon Jae sampai malam sambil memegangi baju Joon Jae. Joon Jae menasehatinya untuk tidak mengikuti orang seperti itu tadi karena mereka hanya akan memerasnya. Tapi saat itu, Joon Jae melihat beberapa pe-skater meluncur ke arah mereka.


Joon Jae sontak bereaksi menarik Sea Wa kedalam pelukannya untuk menyelamatkannya dari para pe-skater itu. Sea Wa langsung menatap Joon Jae dengan penuh cinta sampai Joon Jae risih sendiri dengan tatapan Sea Wa. Nam Doo lalu menjauh sebentar untuk menerima telepon.


Tiba-tiba terdengar letusan suara kembang api. Sea Wa panik dan langsung mendorong Joon Jae sampai dia terjerembap ke tanah. Joon Jae jadi bingung tapi Sea Wa malah jadi semakin panik saat kembang api kedua meletus.

"Itu pistol" bisiknya panik sambil menutupi mata Joon Jae.

Joon Jae berusaha melepaskan diri sambil menjelaskan kalau itu bukan pistol. Tapi Sea Wa terus menutup mata Joon Jae "Diam, Joon Jae. Aku akan melindungimu"


Joon Jae berusaha melawannya hingga akhirnya dia berhasil melepaskan diri, tapi Sea Wa terus menunduk dengan ketakutan. Joon Jae memaksa Sea Wa untuk membuka mata dan percaya saja pada kata-katanya. Saat Sea Wa akhirnya membuka mata, Joon Jae menyuruhnya untuk melihat ke langit.


Sea Wa akhirnya mengalihkan pandangannya ke atas dan melihat cahaya warni-warni kembang api yang indah.

"Dengar baik-baik. Melindungi orang lain itu harus setelah melindungi diri sendiri. Itu urutan yang benar. Kalau sebaliknya itu namanya bodoh"

Tapi Sea Wa tak mendengarkannya karena begitu terpesona melihat kembang apinya dan bertanya-tanya apakah kembang api itu panas. Joon Jae sampai heran, apa dia baru pertama kali melihat kembang api? Kata itu mengingatkan Sea Wa akan kata-kata Joon Jae yang pernah memberitahunya tentang kembang api di Sungai Han dan bagaimana mereka pernah berjanji untuk melihatnya bersama.


Joon Jae mendesah saat Sea Wa mengkonfirmasi kalau ini benar-benar pertama kalinya dia melihat kembang api. Joon Jae menjelaskan kalau kembang api tidak bisa disentuh karena begitu meletus, kembang api akan menghilang. Sea Wa mengulurkan tangan dengan antusias, seperti hendak menyentuh kembang api di langit itu.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon