Powered by Blogger.


Sinopsis Scarlet Heart: Ryeo Episode 19 - 1


Hae Soo termenung di tangga saat So datang mencemaskannya. Dia mengulurkan tangannya mengajak Hae Soo masuk agar mereka bisa bicara. Menatap tangan itu dengan sedih dan kecewa, Hae Soo menolak uluran tangannya, dia tidak bisa kembali ke kamar itu.



"Jangan melakukan ini padaku hanya karena Chae Ryung, dia sudah membodohimu. Dia tidak pernah tulus padamu, tidak pernah satu kali pun"

Tapi teringat saat Chae Ryung menggenggam tangannya dan menyemangatinya, Hae Soo yakin Chae Ryung tulus padanya. So kecewa, jadi apakah sekarang Hae Soo akan lebih mempercayai Chae Ryung ketimbang dirinya? Hae Soo hanya ingin pergi dari istana ini, dia tidak tahan lagi tinggal di tempat ini.

Tapi So menolak "Lalu bagaimana denganku? Apa kau pikir aku akan melepaskanmu? Kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku?"


Yeon Hwa merenung di bak mandinya, memikirkan pertanyaan So tentang apakah dia bisa mengkhianati keluarganya, jika bisa maka dia akan menjadikan Yeon Hwa ratu satu-satunya dan menjadikan anak mereka putra mahkota. Tampaknya Yeon Hwa bisa melakukan itu demi menjadikan Goryeo miliknya, suatu hari nanti Goryeo akan menjadi milik putranya.


Hae Soo menyerahkan sesuatu pada Ji Mong dan meminta Ji Mong untuk mencari keluarganya Chae Ryung dan menyerahkan barang ini pada mereka, hanya ini yang dia miliki dan jika keluarganya Chae Ryung membutuhkan yang lainnya maka dia akan berusaha mendapatkannya untuk mereka.

Tapi Ji Mong cemas dengan perbuatan Hae Soo ini, takutnya hal ini akan membuat So jadi marah. Tapi Hae Soo tak perduli. Bahkan saat dia mati pun, Chae Ryung masih mengkhawatirkan keluarganya dan meminta bantuannya. Jadi dia yakin kalau So tidak akan keberatan. Ji Mong akhirnya setuju.


Saat mereka beranjak pergi, Won datang dengan tawa gembira, sama sekali tak tampak kesedihan sedikitpun di wajahnya. Hae Soo menatapnya tajam dan mengingatkannya kalau Chae Ryung meninggal dunia itu salah Won. Jelas Won tak terima, apalagi Hae Soo menggunakan bahasa tak sopan padanya.

"Kau akan menyesalinya karena telah memperlakukan seseorang seperti Chae Ryung dengan cara seperti itu. Aku bersumpah kau akan menyesalinya di kemudian hari"

Kesal, Won langsung menyindir Hae Soo. Sepertinya sejak jadi gundiknya raja, Hae Soo jadi merasa sok bisa melakukan apapun.


Setelah mengetahui perseteruan Hae Soo dan Won tadi dari Ji Mong, So memanggil Hae Soo menghadapnya dan menyatakan kalau dia ingin menjadikan Hae Soo sebagai selir. Tapi Hae Soo langsung menolak. 

Tapi So tidak suka Hae Soo disebut sebagai gundik, menjadikannya sebagai selir itu jauh lebih baik. Dengan begitu Hae Soo akan diperlakukan sebagai istri raja setelah ratu, dan setelah Hae Soo punya anak nanti maka dia akan diangkat menjadi ratu kedua.

"Alasanku ingin meninggalkan tempat ini bukan karena gelar-gelar itu"


Tapi So tetap bersikeras bahkan menyuruh Hae Soo untuk berdiskusi dengan Ji Mong tentang gelar yang dia inginkan. Sambil menggenggam erat tangan Hae Soo, So mengingatkan Hae Soo untuk tidak keras kepala. 

Sebaiknya mereka tidak usah berdebat lagi, apa Hae Soo lupa berapa lama mereka harus berpisah? Sebaiknya mereka jangan menyia-nyiakan hubungan mereka hanya karena pertengkaran kecil. Tapi Hae Soo tetap menolak dengan melepaskan genggaman tangannya.


Wook bertanya-tanya apa sebenarnya rencana So. Karena So katanya ingin berburu, Wook tiba-tiba punya ide untuk mencarikan elang yang lincah dan pandai berburu. Walaupun dia tidak tahu apa rencana Raja yang sebenarnya, tapi dia akan mengikuti permainan Raja.

Won menyarankannya untuk tidak mempercayai So, sebaiknya Wook memotong tangan dan kaki So. Maksudnya menjauhkan Baek Ah dari So, dia pasti bisa melakukan dengan mudah mengingat Baek Ah selalu berhubungan gisaeng itu.


Baek Ah sedang jalan-jalan dengan Woo Hee sambil menggerutu karena Woo Hee yang masih ragu menikah dengannya, apa karena masalah yang waktu itu? tanya Baek Ah. Dia meyakinkan Woo Hee bahwa dia sudah menyarankan Raja untuk membebaskan budak dari Hubaekje.

Tapi tepat di sana, di tengah-tengah pasar, mereka malah melihat ramai orang sedang memandangi mayat para budak Hubaekje yang dihukum mati dengan sadis karena tak membayar pajak. Woo Hee sedih dan marah melihat orang-orangnya dibunuh seperti itu. Baek Ah berusaha menjauhkannya dari sana, tapi Woo Hee langsung menampik tangannya.


Sementara itu di istana, Ji Mong melapor bahwa budak dari Hubaekje telah membakar 10 rumah dan membuat banyak anggota keluarga penguasa mati. Wook dengan tatapan liciknya berkata kalau pihak keluarga penguasa ingin Raja mengirim pasukan melawan para budak itu.

Tapi So tak setuju, jika dia melakukan itu maka akan ada pertumpahan darah dan bisa saja rakyat jelata lainnya ikut bergabung bersama mereka. Jika itu terjadi maka negeri ini akan kacau. Wook berpendapat kalau Raja harus melindungi keluarga penguasa lebih dulu.

Dia mengklaim kalau hidup mereka terancam dan Raja belum membantu mereka sama sekali, karena itulah mereka sekarang sudah mengumpulkan prajurit mereka sendiri. Seorang pejabat setuju dengan Wook, Raja harus lebih dulu melindungi keluarga penguasa yang merupakan pondasi negeri ini.

So jadi galau. Akhirnya dia setuju, tapi dia memerintahkan agar para prajurit menggunakan tombak tanpa pisau dan pedang kayu agar tidak terjadi pertumpahan darah. Dia baru jadi raja jadi dia ingin menghindari pertumpahan darah sebisa mungkin. Wook menyarankan agar Baek Ah yang mempimpin pasukan prajurit itu.

Ji Mong bingung kenapa harus Baek Ah yang bahkan tak tahu menahu tentang militer dan pertempuran? Wook mengklaim itu karena ada rumor yang mengatakan bahwa Raja tidak peduli dengan rakyat Goryeo dan lebih peduli dengan rakyat Baekje dan Silla yang merupakan asal keluarga Baek Ah. Apalagi Baek Ah juga membuat wanita Baekje diadopsi keluarga Goryeo agar dia bisa menikahi wanita itu.

"Aku sudah memberinya izin untuk menikahinya"

"Itu juga bisa berarti bahwa seseorang yang dekat dengan raja sedang dimanipulasi oleh seseorang dari Baekje"

"Itu tuduhan yang tidak masuk akal"

"Tuduhan tak masuk akal bisa saja menjadi kenyataan. Karena itulah orang menyebutkan rumor... atau omongan dari mulut ke mulut"


Tepat saat itu juga Baek Ah datang mendengarkan perdebatan mereka. Mungkin karena itulah yang membuat Baek Ah berinisiatif memimpin pasukan. So tak setuju karena Baek Ah bahkan tidak bisa menggunakan pedang. Tapi Baek Ah bersikeras, dia tidak suka Woo Hee dicurigai hanya karena dia berasal dari Baekje.

"Lebih baik aku saja yang maju memimpin para prajurit itu" ujar So masih tak setuju.

Ji Mong melapor bahwa para budak sepertinya sudah meninggalkan area itu suapaya keluarga penguasa mundur. Dia menyarankan sebaiknya So tidak memihak manapun, situasinya akan bertambah parah jika So memihak antara keluarga penguasa atau budak.

Baek Ah meyakinkan So kalau dia tidak akan mati. Jika mereka cuma diam maka mereka akan dikontrol oleh keluarga-keluarga penguasa dan tahta So bisa terancam. So masih ragu tapi Baek Ah bersikeras kalau dia akan baik-baik saja. So akhirnya mendesah kalah.


Malam harinya, Baek Ah membantu menyanggul rambut Woo Hee dan memakaikan tusuk rambutnya. Setelah selesai, dia memutar tubuh Woo Hee menghadapnya dan bertanya apakah Woo Hee tidak akan menyesalinya? Baek Ah mengaku kalau dia hanya pura-pura kuat, dia juga tidka tahu apa yang akan terjadi padanya nanti.


"Kau akan punya seorang istri, jadi kau kembali dari tugasmu dalam keadaan hidup. Aku tidak mau jadi janda" ujar Woo Hee, tampak tak ada kegalauan sedikitpun di wajahnya walaupun menyadari Baek Ah akan bertarung melawan orang-orang Baekje besok.

Sambil menggenggam tangan Woo Hee, Baek Ah mengusulkan agar mereka langsung menikah begitu dia kembali nanti. Woo Hee menggangguk setuju dan menatap Baek Ah dengan penuh haru.


"Kau adalah pasangan abadiku" ucap Baek Ah. Mereka saling menatap dengan penuh cinta sebelum Baek Ah mengecup lembut bibirnya.

"Saat seperti ini, aku berharap aku bukan putri dari Baekje" batin Woo Hee


Di jalanan, para budak datang berbondang-bondong dengan membawa berbagai macam senjata masing-masing untuk membaca pengumuman Raja yang menyatakan janjinya pada rakyat Baekje bahwa para budak tidak akan, Raja berjanji akan memastikan mereka diperlakukan dengan adil.

Semua orang yang dipaksa menjadi budak akan dibebaskan, semua budak yang ditahan akan dipulangkan ke tempat asal mereka dan akan dibebaskan dari pajak untuk sementara waktu. Dan mereka tidak akan didiskriminasi berdasarkan tempat kelahiran mereka. Raja bahkan menyatakan bahwa mereka boleh bekerja menjadi pejabat pemerintahan dan menjadi warga negara Goryeo.

Tapi sayangnya, rakyat Baekje sudah tidak bisa lagi mempercayai janji semacam itu. Mereka yakin itu janji palsu dan mereka tidak akan tertipu lagi. Dengan semangat menggebu-gebu, pemimpin para budak itu menyemangati anak-anak buahnya untuk bersatu melawan orang-orang yang memperlakukan mereka bagai anjing dan babi itu.


Sementara itu di istana, Baek Ah dan para prajuritnya sedang bersiap-siap. Seorang prajurit menyerahkan sebuah pedang untuk Baek Ah, tapi Baek Ah bahkan tidak bisa memegangnya dengan benar. Jung datang tak lama kemudian membawakan baju zirahnya untuk Baek Ah.

"Kau kan diasingkan. Kenapa kau ada di sini? Kepalamu bisa dipenggal nanti"

"Beritahu saja Raja kalau aku ada di sini. Aku tidak takut"


Melihat Jung datang, para prajurit serentak memberikan penghormatan mereka. Saat membantu memakaikan baju zirahnya, Jung menggerutui So yang menempatkan Baek Ah dalam posisi berbahaya. Seharusnya So mengutusnya saja. Dia memohon agar Baek Ah tidak mati. Dia boleh kembali dalam keadaan terluka, tapi tidak boleh mati. Dia tidak sanggup kalau harus melihat kematian lagi.

Baek Ah juga gugup, tapi dia berusaha mengalihkan topik dengan bertanya apakah Jung sudah menerima ksesoris rambut titipan Hae Soo. Jung mengiyakannya tapi dia tidak mengerti apa artinya karena tak ada pesan.

"Dia ingin aku mengatakan ini. 'Aku menginginkannya'"

Jung terkejut mendengarnya, Hae Soo benar-benar mengatakan itu? Baek Ah membenarkannya, itulah pesan Hae Soo. Baek Ah memang tidak tahu apa yang diinginkan Hae Soo itu. Tapi apapun itu, dia ingin Jung membantu Hae Soo. Apapun yang terjadi padanya nanti, dia ingin Jung tetap menjadi teman baik bagi Hae Soo... dan bagi Raja juga.

Jung tak suka mendengar permintaan terakhir itu. Apa di saaat seperti ini Baek Ah harus mengkhawatirkan orang lain? Bahkan sekarang pun tak ada orang yang datang menyampaikan salam perpisahan untuk Baek Ah. Dan dimana Woo Hee? Baek Ah mengaku kalau dia melarang Woo Hee datang kemari.

"Jaga dirimu baik-baik, hyungnim" pesan Jung sebelum pergi.


Tepat setelah Jung pergi, Baek Ah terheran-heran melihat para prajurit yang heboh sendiri melihat ke atas. Penasaran, Baek Ah mengikuti arah pandangan mereka dan langsung shock melihat Woo Hee berdiri di tepi pagar pembatas dengan memakai pakaian serba putih untuk bunuh diri.

Tepat saat itu juga, para rakyat Baekje tiba di istana. Tapi aksi mereka berubah menjadi kecemasan saat melihat Woo Hee berdiri di tepi tembok. Mereka dengan panik berusaha membujuk Woo Hee untuk turun dari sana. Baek Ah langsung naik menghampirinya. Tapi Woo Hee yang menatapnya dengan penuh kekecewaan, melarangnya mendekat.


"Kau tidak akan melompat, kan? Jangan lakukan itu" mohon Baek Ah. Dia berusaha mendekat tapi Woo Hee mengancamnya untuk mundur dan berbalik. Baek Ah terpaksa melakukannya.


"Kalau kau menyaksikannya, kau tidak akan bisa melupakannya" tangis Woo Hee. Shock mendengar ucapannya, Baek Ah berbalik... tepat saat Woo Hee menjatuhkan dirinya. Baek Ah berusaha meraihnya tapi terlambat. Rakyat Baekje menangis penuh duka, Hae Soo dan So shock mendengar kabar itu, sementara kita mendengarkan narasi Woo Hee.

"Kukira aku bisa mengabaikan semuanya dan menjalani hidupku. Aku ingin menyangkal orang tuaku. Tapi aku tidak bisa mengabaikan rakyatku yang memandangku sebagai seorang ibu. Kurasa aku tidak bisa hidup seperti itu. Goryeo dna Baekje. Gyeon Hwon dan Taejo Wang Geon. Dosa-dosa mereka. Aku akan menebus perbuatan mereka dengan nyawaku. Mungkin inilah alasanku dilahirkan"


Baek Ah menangis saat memeluk tubuh Woo Hee dan berusaha membangunkannya, tapi tubuh Woo Hee sudah tak bernyawa... "Aku mencintaimu... hanya kaulah pasanganku satu-satunya"


Malam harinya, Baek Ah merenung menatap lukisan-lukisan Woo Hee dan tusuk rambut Woo Hee saat Hae Soo datang dan berusaha menasehati Baek Ah untuk tidak menghancurkan dirinya sendiri hanya karena tak ingin melupakan Woo Hee. Baek Ah tidak mengerti kenapa Woo Hee tidak mengatakan apapun padanya.

"Dia begitu pasti karena aku. Kalau dipikir-pikir, aku terlalu serakah. Seorang warga dari kerajaan yang runtuh, seorang gisaeng, seorang anak yatim. Aku tak peduli latar belakangnya yang menyakitkan'

Dia begitu bangga mencintai Woo Hee tanpa memahami bagaimana perasaan Woo Hee yang sesungguhnya. Dia tidak memahami apa yang membuat Woo Hee sedih dan apa yang membuatnya terluka. Dia bahkan tidak pernah bertanya kenapa Woo Hee hanya tersenyum sebentar saja.

"Cintaku memang dangkal"

"Semua ini salah Woo Hee. Kita sudah memberikan seluruh hati kita padanya. Tapi pada akhirnya... Dia tidak egois. Dialah yang jahat"
 
"Raja sudah tahu semuanya, iya kan?" tanya Baek Ah yang tampaknya mulai mencurigai Raja.


Keesokan harinya, Baek Ah menghadap Raja yang cemas melihat kondisinya dan karenanya dia akan mengirim tabib kerajaan untuk memeriksa Baek Ah nanti. Tapi Baek Ah langsung mengkonfrontasi So, karena Woo hee memasang pengumuman dari So itu jadi Woo Hee dan So pasti sudah membuat kesepakatan, bukan?

Raja tak menyangkalnya, hanya saja dia tidak menyangka kalau Woo Hee akan memilih mati. Woo Hee bilang kalau dia bisa menyelamatkan Baek Ah jika dia menulis pengumuman itu. Saat itulah baru dia tahu kalau Woo Hee adalah putri dari Hubaekje.

Dia menulis pengumuman itu karena dia hanya ingin menyelamatkan Baek Ah. Dia sungguh tidak tahu kalau Woo Hee akan memilih mati. Tapi bahkan sekalipun seandainya dia tahu, dia akan tetap melakukan hal yang sama karena baginya Baek Ah lah yang paling penting.


"Aku tahu. Aku tahu itu... Tapi sulit bagiku menerima kenyataan ini. Rasanya sangat berat berada di sisi Yang Mulia" tangis Baek Ah sebelum akhirnya dia bersujud.

So berusaha membujuknya dan mengakui semua ini kesalahannya. Tapi Baek Ah sudah menetapkan keputusannya, mengakui dirinya lah yang bersalah dan meminta maaf karena tidak melindungi Raja "Semoga panjang umur dan sehat selalu, hyungnim"

Tak terima, So berusaha berteriak memanggilnya tapi Baek Ah terus berjalan pergi meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun.


Saat So kembali ke kamarnya malam harinya, dia mendapati Yeon Hwa sudah menunggunya di sana. Menyadari Yeon Hwa sudah menetapkan keputusannya, So bertanya apakah Yeon Hwa yakin dengan keputusannya ini? Yeon Hwa mengiyakannya dengan penuh keyakinan.


Keesokan harinya, Woo datang menghadap Raja dengan membawa sebuah kurungan tertutup yang dia klaim adalah burung elang untuk Raja yang katanya ingin berburu. Won tampak aneh tapi kemudian dia mengomentari hadiah pemberian Wook itu sebagai wujud kasih sayang antar saudara.


Mereka tertawa... sampai saat kain penutup kurungan di buka dan menunjukkan burung elang mati. Sontak semua orang terkejut. Tampaknya ini diluar rencana Wook, dia benar-benar kaget melihat burung itu mati. 

So langsung bangkit dengan penuh amarah. Young Gyu menyatakan kalau memberikan buruang elang mati pada Raja itu artinya kutukan terhadap Raja. Wook dengan panik berusaha menjelaskan kalau ini kesalahpahaman. Tapi kemudian Won juga berbalik mengkhianatinya.

"Kau mengutuk rajamu? Kalau begitu apa ini pengkhianatan?"

Young Gyu langsung nyeletuk membenarkannya, sontak para pejabat yang lain pun serempak membenarkan. Panik, Wook langsung bersujud dan berusaha membela dirinya "Yang Mulia, saya tidak bersalah. Saya dijebak!"


"Jika ini pengkhianatan maka kau akan dihukum mati" ujar So dengan senyum liciknya yang menakutkan.


Ratu Hwangbo buru-buru masuk ke kamar Yeon Hwa yang sedang didandani. Ratu Hwangbo memberitahunya tentang Wook dan meminta Yeon Hwa menyelematkan Wook, tapi Yeon Hwa bahkan tidak tampak peduli sedikitpun dan menolak permintaan Ratu Hwangbo.

"Aku tidak bisa terlibat dalam politik hanya untuk menutupi kejahatan kakakku. Kejahatannya terlalu besar. Para tetua Hwangju sudah fokus padaku. Jadi jangan terlalu berharap"


Ratu Hwangbo tak percaya mendengar ucapan Yeon Hwa yang membicarakan nyawa kakaknya dengan kata 'hanya'. Yeon Hwa mengingatkan ibunya bahwa sekarang dia adalah seorang ratu. Dia memang menyayangi keluarganya dan tak mau kehilangan kakaknya, tapi mereka harus melihat ada hal lain yang lebih penting daripada itu.

"Ibu harus melepaskanku" ujar Yeon Hwa dengan dinginnya lalu pergi meninggalkan ibunya yang hanya bisa gemetar menahan emosinya.

Bersambung ke part 2

6 comments

Ditunggu mbak part 2 nya.
Semangat terus

pada akhirnya semua meninggalkan wang so, padahal yang dia lakukan semuanya benar.

pada akhirnya semua meninggalkan wang so, padahal yang dia lakukan semuanya benar.

Nexttttttttttt dong ��������

speechless saya,, liat episode2 akhir,,
#mewekdipojokan😭😭😭

hae soo meninggal. ji mong pamit ke wang so. terjadi gerhana. hae soo balik ke dunia modern. ketemu ji mong lagi. di youtube ada trailer scarlet heart part 2, di seoul :D

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon