Powered by Blogger.

Content and Images Copyright by tvN

Sinopsis The Lonely Shining Goblin Episode 6 - Part 2

Shin masih memikirkan ucapan Eun Tak yang menyuruhnya untuk membuat pilihan apa yang paling ia inginkan. Membuat pilihan bukan menjadi perkara mudah bagi Shin. Ia pun memutuskan keluar dan menanti Eun Tak pulang kerja.



Ia melihat Eun Tak berjalan di kejauhan "Kehidupan mulai mendekatiku. Kematian mulai mendekatiku. Dari kehidupan hingga kematian. Kau berjalan mendekatiku tanpa lelah. Kemudian aku berkata Itu saja yang harus kukatakan. Ini sudah berakhir. Dan..."

 

Eun Tak melihat Shin yang sedang senderan ditiang, kenapa dia ada disana? Ia melambaikan tangannya didepan wajah Shin yang terus tertegun. Shin mengaku bahwa dirinya tengah mengawasi Eun Tak. Mengawasinya berjalan.

“Selama itu? Aku jadi tersanjung. Apa ada bedanya kalau kau menatapku selama itu? Apa kau masih menganggapku dengan cara yang sama?”

“Apa?”

Tentang masa depan Eun Tak, apakah Shin masih belum bisa melihatnya? Shin membenarkan jika dirinya belum bisa melihatnya. Tapi dia biasanya tahu kalau masa depan seseorang baik atau buruk.


Ah, Eun Tak menduga kalau ini semua disebabkan karena dia adalah jiwa yang hilang. Sepertinya dia jadi spesial karena itu. Keputusan yang ia buatlah yang akan membentuk masa depannya. Tapi jangan khawatir, hidupnya tidak akan sengsara sepanjang waktu. Dia sudah menerima dengan ikhlas kehidupannya dan hidup berani menjadi Pengantin Goblin. Shin tersenyum mendengarnya.

Tapi tetap saja... Eun Tak agak penasaran dengan masa depannya. Shin ragu, tapi akhirnya dia berkata bahwa Eun Tak akan sama seperti sekarang dan dia akan semakin cantik dimasa yang akan datang. Eun Tak tersenyum kecil mendengar ucapan Shin. Dari mana Shin tahu, mungkin saja dia jadi jelek dalam sehari atau mungkin sebulan.


Eun Tak tanya apakah Shin punya kriteria tertentu dalam membantu seseorang? Tidak. Shin melakukannya sesuai suasana hati. Tapi jika disuruh memilih anak kecil atau orang dewasa maka dia akan memilih anak kecil karena anak kecil adalah orang pertama yang menyelamatkannya disaat dunia membencinya.

Anak kecil itu adalah Nenek moyang Deok Hwa.

“Jadi, kenapa dulu kau menolong ibuku? Ibuku orang dewasa.”

Shin kira saat itu dia murah hati karena sedang mabuk. Tapi yang jelas, Ibu Eun Tak bukan memohon untuk dirinya sendiri melainkan bayinya. Sontak Eun Tak menghentikan langkah kakinya dengan mata meremang “Kaulah orang yang mendengar permohonannya dan menolongnya. Rasanya itu seperti mukjizat dan membuatku bahagia.”


Melihat air mata mengalir di wajah Eun Tak, Shin menepuk kepalanya. Namun Eun Tak mengatakan bahwa Shin tidak boleh menekan kepalanya dengan keras tapi membelainya dengan lembut. Ia pun menjulurkan tangannya, membelai kepala Shin. Memberikan sebuah contoh.

Untuk sejenak, Shin tertegun memperhatikan Eun Tak. Sampai akhirnya dia sadar dan mengatai Eun Tak yang jelek hari ini. Eun Tak yang sedang mellow pun langsung kesal karenanya.


Sesampainya dirumah, Eun Tak kegirangan melihat pohon natal sudah ada didalam rumah. Shin dengan gaya sok keren membanggakan bahwa tangan lentiknya yang sudah memindahkan pohon tersebut. Tangannya sekarang butuh istirahat jadi.. bye.

“Ahjussi.” Panggil Eun Tak.

Dia meminta maaf sudah egois selama ini. Dia khawatir jika Shin akan mengusirnya setelah ia mencabut pedang itu. Dia akan semakin tampan dan mencari orang lain. Jadi dia membuat keputusan untuk mencabutnya sekarang. Permintaan dari orang baik seperti Ahjussi pasti hasilnya akan baik. Pedangnya mau dicabut dimana? Didepan pohon indah ini?


Shin malah ngeri sendiri “Sekarang? Hari ini? Sekarang?”

Eun Tak menggulung bajunya bersiap-siap, dia akan melakukannya sekarang, lebih baik secepatnya daripada terlambat. Shin jadi ketakutan dan pura-pura menerima panggilan dari seseorang. Ia pun langsung ngeloyor panik. Eun Tak mengedipkan matanya keheranan.. lebih aneh lagi Ahjussi juga terbalik dalam menggunakan ponselnya.


Shin datang ke tempat Wang Yeo untuk latihan mati. Ia memberitahukan bahwa Eun Tak sudah bersedia menarik pedangnya. Wang Yeo jadi heran, bukankah dia tidak tahu rincian dari menarik pedang Shin?

Shin belum memberitahukannya. Dan yang membuatnya khawatir, Eun Tak begitu menyukainya dan tergila-gila padanya. Dia selalu bilang cinta dan mengajaknya menikah. Tidak alasan bagi Eun Tak untuk tidak menyukainya.

“Tentu saja ada. Usiamu beda jauh dengannya. Ketika dia sudah kuliah, pemuda tampan akan mengantri jadi pacarnya. Kenapa kau selalu memalsukan umurmu? Kau itu 939 tahun.”

Shin meralatnya, dia itu lahir diawal tahun jadi usianya sekarang adalah 938 tahun. Keduanya bertatapan, entah apanya yang lucu, mereka berdua sama-sama tertawa karenanya.

Shin merasa terhibur setelah ngobrol dengan Wang Yeo. Dia bingung, haruskah ia menjaga jarak dengan Eun Tak? Eun Tak adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya mati tapi dia jugalah alasannya untuk tetap hidup. Lucu kan?

“Jangan bodohi dirimu sendiri. Kau itu baik-baik saja waktu dia tidak ada.”

“Benarkah? Tapi kenapa aku tidak ingat apapun saat masa-masa itu?”


Malam harinya, Shin kembali menggalau memikirkan Eun Tak. Kenangan bersamanya dan saat – sata Eun Tak terus memanggilnya Ahjussi. Mungkin itulah yang sudah membuatnya enggan meninggalkan kehidupannya saat itu.

“Jangan panggil aku lagi, Ji Eun Tak. Biarkan aku pergi.” Gumam Shin.

Namun bertepatan saat itu juga, Eun Tak mengetuk pintu kamarnya dan memanggilnya Ahjussi. Shin diam diranjangnya memejamkan mata.


Diluar kamar, Eun Tak berniat mengetuk pintu kamarnya lagi namun niatannya urung. Ia khawatir kalau Shin sakit. Tapi nyatanya Shin ada didepan pintu, menyenderkan tubuhnya dengan pikiran yang terus berkecamuk.


Keesokan harinya, Eun Tak pulang sekolah dan mendengar suara klakson. Eun Tak berbalik dengan penuh harap tapi nyatanya yang datang bukanlah Shin melainkan dua rentenir kemarin. Mereka menghampiri Eun Tak untuk menagih hutang bibinya.

Tapi rentenir yang satu tidak terima saat rekannya menginjak bayangannya. Rekannya itu juga tidak terima dan mengajaknya untuk menyelesaikan masalah di pengadilan. Dua rentenir itu akhirnya ribut sendiri dan tidak memperdulikan Eun Tak.

Sekretaris Kim menghampiri Eun Tak, kau kenal rentenir itu? Eun Tak hanya mengenal mereka sebagai rentenit tapi bagaimana bisa Sekretaris Kim mengenali mereka sebagai renternir. Sekretaris Kim mengaku kalau dirinya juga pernah menjadi rentenir. Deok Hwa sepertinya terlambat hari ini, jadi dia yang akan mengantarkan Eun Tak.


Dua rentenir itu berakhir di kantor polisi, polisi mengintrogasi mereka namun keduanya tidak mengerti kenapa mereka bisa berkelahi. Keduanya mengaku selalu bertengkar bahkan pernah sampai dua minggu dirawat dirumah sakit. Ingatkan, dua rentenir itu sudah dihipnotis oleh Wang Yeo supaya keduanya terus berkelahi sepanjang hidup mereka.


Sepulangnya ke rumah, Eun Tak melihat Shin sedang bersantai membaca buku. Ia memberi salam namun diabaikan. Saat makan, dia terus memperhatikannya tapi Shin sama sekali tidak menatapnya. Eun Tak jadi kesal.

Wang Yeo dengan bangga mengatakan kalau dia yang sudah mengajari Shin untuk buang muka pada seorang wanita.


Saat mengupas bawang, Eun Tak tanya apa yang sedang terjadi pada Shin. Wang Yeo memberitahukan bahwa Shin sedang lupa dengan masa lalu -nya. Eun Tak penasaran, masa lalu apa?
Mana Wang Yeo tahu. Ia menyuruh Eun Tak mengupas bawang... suasana jadi horor “Sebelum aku menyebut namamu tiga kali.”

 “Maaf.”

Tapi sekarang jaman sudah berubah, Wang Yeo tidak butuh lagi memanggil nama orang tiga kali karena dengan satu panggilan saja, orang sudah bisa menurut. Eun Tak rasa pekerjaannya memang sulit.

“Dan yang paling parah adalah Jiwa yang hilang.”

Eun Tak makin horor dan menawarkan supaya dia saja yang menyelesaikan mengupas bawang. Wang Yeo ingin memberitahukan sebuah rahasia bahwa Shin umurnya satu tahun lebih muda karena di lahir diawal tahun. Jadi semoga berhasil.



Eun Tak penasaran, dulu saat Eun Tak umur 9 tahun, dia bertemu dengan Wang Yeo karena Wang Yeo akan menjemput nyawa ibunya. Lalu mereka bertemu lagi dengannya ketika umurnya 19 tahun. Kenapa dia bisa menemuinya saat itu?

“9. 19. Karena hal yang tersembunyi dalam kesempurnaan sejati adalah hal yang paling berbahaya.”

“Apa maksudnya?”

“Apa aku harus memberitahumu suatu rahasia?”

Wang Yeo membantin bahwa Eun Tak akan bertemu pencabut nyawa ketika umurnya 29 tahun. Itulah takdir jiwa yang hilang. 9 adalah angka dibawah 10 yang melambangkan keilahian. Semoga beruntung saat itu.

“Aku mimpi indah kemarin lusa. Aku naik jabatan.” Ucap Wang Yeo tanpa memberitahukan makna sebenarnya dari angka 9.


Eun Tak akhirnya menemui Shin untuk bertanya apakah dia marah? Kalau memang marah, ia menuntut penjelasan atas kemarahannya. Shin bersikap dingin, memangnya Eun Tak siapa? Dia terus saja memanggilnya, sangat berisik. Kenapa dia terus membuatnya bingung? Seharusnya dia menarik pedang ketika diminta karena itulah gunanya Eun Tak. 

Mendengar ucapan kejam Shin, Eun Tak hampir menangis. Eun Tak memang akan menarik pedangnya sesuai janji mereka yaitu saat salju pertama turun. Shin akhirnya bilang supaya menarik pedangnya besok saja, hari ini sangat cerah, dia ingin jalan-jalan dengan Eun Tak.


Keesokan harinya, Shin bilang besok. Eun Tak mendesah, dia bisa menariknya sekarang sebelum berangkat sekolah. Shin menolak karena cuacanya jelek, dia akan menjemput Eun Tak sepulang sekolah. Besoknya lagi pun Shin masih bilang besok. Satu hari lagi.


Kakek menemui Shin untuk memastikan keputusannya. Shin kembali mengenang bagaimana pedang itu menusuk dadanya dan bagaimana Ratu dipanah saat itu. Ia bilang pada Kakek bahwa dia belum menemukan orang yang harus ia balas kebaikannya. Bisa dibilang, ini adalah urusan yang belum terselesaikan.

Shin menyuruh Kakek untuk membakar lukisan Ratu Muda. Dia juga menitipkan Pengantinnya pada Kakek, buat dirinya hidup dengan baik, berpendidikan, makan teratur meskipun ia tidak ada disana.
Kakek sedih, ia akan melaksanakan tugas yang diberikan Shin.


Shin memberikan kartu kredit untuk Deok Hwa sebagai hadiah, tapi ia berpesan supaya Deok Hwa hidup bebas tanpa dibatasi oleh kartu kredit. Deok Hwa heran, kenapa dia mendapatkan hadiah? Apa yang dia lakukan sampai pantas mendapatkannya. Shin menepuk kepala Deok Hwa, dia sudah bekerja keras dan sudah dewasa.

Deok Hwa terharu “Aku mencintamu.”


Shin juga bicara dengan serius pada seseorang bahwa ia telah meninggalkan setifikat rumah disana dan rumah ini menjadi miliknya. Dan ia punya sebuah permintaan, tanda lahir yang ada dipunggung Eun Tak akan menghilang jika dia mati maka tolong hapuslah ingatannya.

“Berisik disini. Aku tidak bisa mendengarmu.” Teriak seseorang.

Keseriusan mereka jadi pecah, Shin mengangkat teleponnya. Ternyata dia sedang video call dengan Wang Yeo yang sedang berada di jalan raya. Ia memberi isyarat supaya Wang Yeo menggunakan earphone.

Wang Yeo malah salah paham “Ya. Aku sudah memegang ponselnya jauh dari telingaku! Aku sudah bisa melihat wajahmu.”

Shin kesel sendiri dan mengakhiri panggilannya.


Eun Tak melamun memikirkan perilaku Shin yang begitu baik padanya. Mengajaknya jalan saat hari cerah dan menjemputnya saat hari hujan. Begitu tersadar dari lamunannya, Shin sudah berada dihadapan Eun Tak. Eun Tak tanya, kenapa Shin sangat baik padanya akhir-akhir ini? Mencurigakan.

Dia menyuruh Shin mendekat kemudian memegang tangannya, ia menuliskan sebuah huruf menggunakan jarinya di telapak tangan Shin. Shin tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia bilang kalau huruf itu adalah “Chong” artinya “Mendengarkan”.


Eun Tak mengucapkan terimakasih (atas informasi huruf itu) kemudian buru-buru pergi. Dia sedang mempelajari tulisan China (atau mungkin tulisan Korea sebelum hangul).

Shin memperhatikan tangannya yang digenggam oleh Eun Tak barusan. Dia menggegam tangannya sendiri dengan sedih kemudian melihat kantung belanjaan yang ada dikamarnya.

Eun Tak frustasi sendiri karena tidak bisa memahami tulisan dalam buku kuno milik Shin. Bertepatan saat itu seseorang mengetuk pintunya. Rupanya dia adalah Shin yang memberikan hadiah tas mahal dan minyak wangi.


Dia menyuruh Eun Tak menggunakannya saat dewasa dan saat.. dia punya pacar. Eun Tak penasaran kenapa Shin memberikan semua itu. Shin tidak memberikan penjelasan, dia meminta Eun Tak mencabut pedangnya sekarang.

Eun Tak sama sekali tidak menolak, dia menyuruhnya untuk menunggu sebentar saja. Sebelum itu, dia tanya apakah ada rasa cinta dalam barang yang diberikan oleh Shin?

“Tidak.”

Eun Tak kecewa tapi dia tetap menampilkan senyumannya dan menyuruh Shin untuk menunggu sebentar. Dia akan bersiap-siap.


Shin membawanya ke taman bunga soba. Eun Tak takjub dengan taman itu, dia masih ingat akan makna dari bunga soba. Kekasih. Dia yakin kalau tempat ini adalah tempat spesial bagi Shin sehingga mereka harus mencabut pedangnya disana.

“Ini adalah awal dan akhir bagiku. Aku mengandalkanmu.”


Tapi sebelum itu, Eun Tak takut dibuang oleh Shin jadi dia sudah menyiapkan pernjanjian. Ia menulis di akhir perjanjian supaya Shin mengabulkan satu permohonannya saat hari pertama turun salju setiap tahun.

Shin teringat akan pembicaraannya dengan Wang Yeo sebelumnya. Shin mengaku kalau dia ingin mencabut pedangnya dihari sebelum salju pertama turun karena dia tidak mau merusak hari salju pertamanya. Dia tersenyum getir, apa untuk alasan kontrak ini sehingga Eun Tak menanyakan namanya?

“Tidak. Aku memang ingin tahu saja. Namamu cocok dengan dirimu.”

Eun Tak memberikan bolpen dan Shin langsung menandatanganinya tanpa pikir panjang.



Bertepatan saat itu, salju pun turun. Eun Tak sangat kagum karena mereka bisa menikmati salju lebih awal. Dia yakin Shin yang membuat salju ini. Tapi sebaiknya mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan bergegas menarik pedang dari dada Shin.

Sebelum itu, Shin meminta maaf atas keegoisannya selama ini. Dia hanya ingin diingat. Setiap saat menghabiskan waktu bersama Eun Tak, cuaca yang bagus, cuaca yang buruk, cuaca yang cukup bagus, dia menyukai semua itu. Jadi.. apapun yang terjadi. Semua ini bukan kesalahan Eun Tak.

“Ahjussi, apa mungkin kau akan berubah jadi sapu terbang?” tanya Eun Tak karena Shin tampak begitu tegang.

Shin tersenyum “Tentu saja tidak.”


Eun Tak lega dan berkosentrasi untuk mencabut pedangnya. Shin memejamkan matanya, pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Eun Tak bisa melihat wujud pedang tersebut.. tapi pedang itu tidak berbentuk dan Eun Tak tidak bisa memegangnya. Dia seperti menggapai angin.

“Kenapa aku tidak bisa memegangnya? Aku bisa melihatnya, tapi aku tidak bisa memegangnya.”


Shin heran. Eun Tak menyuruhnya jangan menarik kata-katanya barusan, kan dia sudah bilang kalau apapun yang terjadi, ini bukanlah kesalahannya.

Shin mengancam akan membakar kesepakatan yang sudah mereka tulis. Eun Tak menolaknya, mungkin mereka harus melakukan seperti yang di dongeng. Seperti pangeran yang terkutuk.

“Terus apa maksudmu?”


“Ciuman.” Ujar Eun Tak menarik baju Shin dan mengecup bibirnya. Shin melotot kaget. Anehnya, salju yang sempat turun kembali naik saat Eun Tak mencium Shin.

Bersambung ke episode 7
 

8 comments

Hrus sbar nunggu sminggu lg....

Keren..... Ditunggu kelanjutan.a🙌

Ada yg tau judul2 backsound yg ad d drama ini? Selain 4 OST nya ya..
Plissssssssss

Ada yg tau judul2 backsound yg ad d drama ini? Selain 4 OST nya ya..
Plissssssssss

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon