Powered by Blogger.

Content and Images Copyright by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 1 - 1.

1500 tahun yang lalu, dalam masa pemerintahan Raja Jinheung, Silla adalah kerajaan yang paling kecil dan paling lemah di antara Tiga Kerajaan. Raja Jinheung muda merasa hidupnya dalam bahaya karena ketidakdtabilan kekuasaannya yang berdaulat. Karenanya dia hidup dalam persembunyian. 


Ratu Ji So, ratu regent sekaligus Ibunya Raja Jinheung, mengumpulkan pria-pira tampan untuk menjadikan mereka masa depan Silla demi mengusai tahta.


Dalam beberapa kilasan ala gambar komik, kita melihat beberapa adegan Hwarang yang sedang berlatih, kebersamaan dan persahabatan mereka. Juga hubungan mereka dengan wanita dan perselisihan diantara mereka

.

Di hari yang cerah, Moo Myung (tanpa nama) tengah berhadapan dengan 3 orang preman. Dia malas meladeni mereka, apalagi hari ini hari pajak. Dengan murah hati dia menyuruh mereka pergi saja daripada dia menghajar mereka.


Dia hendak pergi, tapi preman satu mulai menyindirnya yang tak diberi nama oleh Ibunya saat dia dibuang. Moo Myung mulai kesal dan langsung mengeluarkan dadu-nya yang sontak membuat para preman itu ketakutan. Dia melempar dadunya ke udara dan hasilnya adalah 'pukul hidung'.


Tapi sebelum dia sempat memukul hidung mereka, kepalanya tiba-tiba pening dan pandangannya mengabur. Preman satu langsung memanfaatkan kesempatan untuk menghajar Moo Myung. Dia mengayunkan tinjunya tepat saat Moo Myung roboh ke tanah dan pingsan. Si preman langsung kegirangan, mengira dia sukses menghajar Moo Myung.


Tiba-tiba temannya Moo Myung, Mak Moon, berlari ke arah si preman dengan teriakan penuh semangat dan menendangnya. Tapi ujung-ujungnya dia malah jadi bulan-bulanan para preman itu.

Moo Myung akhirnya bangun tak lama kemudian. Ketiga begundal sontak ketakutan. Mak Moon menggerutu ngambek karena Moo Myung tidak bangun lebih cepat, tapi dia meminta Moo Myung untuk tidak membunuh para preman itu. Moo Myung pun hanya menakuti mereka dengan mengancam mereka untuk lari.


Para preman itu lari terbirit-birit. Moo Myung dan Mak Moon langsung mengejar mereka. Mak Moon terjatuh di tengah jalan dan para preman itu berhasil menyeberangi jembatan kayu duluan dan menghalangi Moo Myung dengan cara menjatuhkan jembatan kayu itu.

Para preman itu langsung merasa senang dan mengejek nama panggilan Moo Myung: Dog-Bird. Karena dia seperti anjing dan seperti burung. Moo Myung hendak berbalik pergi, tapi kemudian dia berbalik lalu berlari dan melayang bagai burung ke arah para preman itu.


Di istana, Ratu Ji So didandani terlebih dulu sebelum dia pergi ke penjara menemui seorang tahanan bernama Ui Hwa. Dari percakapan mereka, Ui Hwa dulunya teman baik Raja terdahulu. Tapi kemudian dia dipenjara karena dia berhubungan berhubungan dengan salah satu selir mendiang Raja dan orang-orang menuduhnya melakukan kesalahan.

"Kau pasti tidak senang dengan Kerajaan Suci ini." komentar Ratu.

Ui Hwa langsung balas menyindir sinis. Kerajaan Suci ini adalah tempat dimana seorang ibu (Ratu Ji So) mengusir anaknya sendiri. Selama 10 tahun ibu itu berperan sebagai ratu regent dan sampai sekarang belum puas dengan ketamakannya. Tentu saja dia tidak senang.


Ratu Ji So mengacuhkan sindirannya dan berkata bahwa dia berencana untuk membuat sekelompok pengawal kerajaan yang bisa melindungi Raja. Ui Hwa langsung tertawa sinis, tapi kemudian Ratu Ji So berkata kalau dia akan merekrut anak-anak para pejabat dan dia ingin Ui Hwa yang melatih mereka. Dia ingin menjadikan mereka para pengawal yang setia hanya pada Raja dan Kerajaan Suci.

Saat Ui Hwa masih saja sinis, Ratu Ji So menyatakan bahwa dia akan turun dari kekuasaannya. Jika Ui Hwa berhasil melaksanakan tugas ini maka dia bersedia menyerah akan tahta. Ui Hwa langsung terdiam memikirkan penawaran ini.


Moo Myung dan Mak Moon duduk di atas bukit melihat pemandangan ibu kota di kejauhan. Mereka berencana masuk ke ibu kota dan Mak Moon ingin mencari keluarganya (ayah, ibu dan saudara perempuannya) setibanya di sana nanti dengan menggunakan kalungnya. Dia bertekad mau mengembalikan identitasnya.

Walaupun dia mengaku kalau sebenarnya takut melewati gerbang ibu kota karena jika mereka ketahuan malah bisa-bisa kepala mereka akan dipenggal nantinya. Mak Moon bertanya apakah Moo Myung yakin mau membantunya.

"Kau akan butuh sekitar 100 hari untuk bisa masuk ke sana" Moo Myung bertekad mau pergi kemana pun yang dia mau. Aturan kerajaan yang melarang rakyat jelata memasuki ibu kota itu sangat tidak masuk akal.

"Hei, Dog-Bird. Kenapa kau tidak kenal takut?"

"Hanya orang-orang yang punya banyak yang akan ketakutan. Jika kau tidak memiliki apapun, kau tidak akan punya ketakutan"


Tiba-tiba mereka baru ingat kalau hari ini hari pajak. Mereka langsung kembali dengan takut-takut. Tapi sepertinya masih aman. si penagih pajak belum datang. Mereka pun menenangkan diri dengan minum air.

Moo Myung tengah minum saat tiba-tiba saja sebuah panah menancap di tiang kayu di hadapannya yang sontak membuatnya tersedak. Si penagih pajak langsung memasang anak panahnya lagi sambil menggerutu dan menyindir Moo Myung yang tidak mau bayar pajak.

Dia makin kesal saat Moo Myung terus berusaha membuat alasan dan langsung bersiap dengan panahnya. Panik, Moo Myung pun melayang menghindari panah itu... dan langsung terjatuh saat panah itu menepak dahinya. Untungnya ujung panahnya tumpul dan Moo Myung cuma pingsan.


Ratu Ji So mendapat surat dari Pa Oh yang mengabarkan bahwa Raja akan melewati gerbang tidur jam 2 dini hari. Ratu langsung meremas surat itu dengan kesal "Berani sekali dia datang tanpa seizinku?!"


Tengah malam, dua pasang kuda berderap melewati gerbang ibu kota. Raja dan seorang Pengawalnya yang sama-sama memakai cadar di wajah mereka, memasuki gerbang dan disambut oleh Pengawal Ratu dan anak buahnya.

Setelah menerima penghormatan mereka, Raja langsung pergi. Anak buah Pengawal Ratu terkagum-kagum bisa melihat Raja, tapi Pengawal Ratu langsung menebas si Anak Buah sampai mati.


Di bagian gerbang yang lain. Moo Myung tengah berusaha keras memanjat tembok gerbang dengan menggunakan tali. Begitu dia sukses melompati gerbang, dia malah terkejut melihat pemandangan kepala-kepala orang-orang yang dipenggal dan dipamerkan di sana, mungkin mereka orang-orang yang nekat memasuki Ibukota dan ketahuan.

 

Dia sengaja dia tidak memberitahukan hal itu pada Mak Moon agar tidak menakutinya. Baru setelah membantu Mak Moon melewati gerbang, dia menyuruh Mak Moon untuk tarik nafas dalam-dalam dulu.

Dia tidak mengerti maksud Moo Myung. Tapi saat dia menoleh, dia langsung menjerit ketakutan. Moo Myung cepat-cepat membekap mulutnya dan mengingatkan Mak Moon akan tujuan utamanya datang kemari dan karenanya dia tidak boleh takut.

Kata-kata Moo Myung berhasil memberinya semangat untuk terus maju, walaupun dia masih gemetaran dan ketakutan hingga Moo Myung terpaksa harus memapahnya dan menutup matanya dari pemandangan mengerikan itu.


Mereka lalu mencuri jemuran milik warga untuk membuat penampilan mereka kelihatan seperti warga ibu kota. Mereka lalu berjalan-jalan ke pasar sambil saling mengomentari penampilan baru mereka dan terkagum-kagum dengan tempat itu.

"Tapi apa yang harus kita lakukan?" tanya Mak Moon

"Mencari keluargamu dengan kalung itu." kata Moo Myung.

Tapi sepertinya yang Mak Moon maksud bukan itu, karena tiba-tiba saja perutnya berbunyi keras minta makan. Bunyinya sangat nyaring sampai membuat orang-orang memandanginya dengan aneh dan Moo Myung sampai malu.


Di depan sebuah kedai, A Ro sedang bercerita pada para penontonnya yang mendengarkan ceritanya dengan antusias. Cerita tentang seorang wanita yang sukses mengelabui semua orang hanya dengan menempeli wajahnya dengan tompel.

Di belakang para penonton itu, Raja diam-diam ikut mendengarkan ceritanya dan tersenyum geli. Ceritanya mulai berubah jadi erotis yang langsung membuat para pendengarnya heboh dan Raja mendengus remeh.


Beberapa saat kemudian, Raja terbangun dari tidurnya dan mendapati semua orang sudah bubar. Raja langsung bertanya pada salah satu pelayan, dimana wanita yang membaca cerita tadi?


Moo Myung dan Mak Moon masuk ke sebuah kasino. Mak Moon mencoba bertanya pada seseorang, apakah dia bisa menemukan seseorang dengan menggunakan kalungnya itu. Pria itu menyarankannya untuk mencoba mencari tahu di Dayiseo atau Okta saja.

Mak Moon jelas tidak tahu menahu tentang tempat itu, tapi pertanyaannya malah membuat pria itu curiga kalau dia bukan berasal dari ibu kota. Mak Moon pura-pura tertawa dan mengklaim dirinya adalah warga ibu kota asli.

 

Pria itu sepertinya tak terlalu mempercayainya tapi dia tak mempermasalahkan lebih lanjut dan melanjutkan acara judinya. Dia mengisyaratkan si bandar untuk mulai mengocok dadunya. Pria itu bartaruh untuk angka besar dan mempertaruhkan semua hartanya.

Lawannya terpengaruh dan berani mempertaruhkan semua miliknya juga untuk angka kecil. Namun yang tidak disadarinya, si Bandar diam-diam bermain curang dengan sedikit membuka pengocoknya dan memutar salah satu dadu. Jadilah pria itu kalah. Hanya Moo Myung yang melihat kecurangan yang dilakukan si penjudi dan si bandar.

Pria itu tak rela kehilangan hartanya begitu saja dan langsung memohon-mohon pada mereka untuk bermain satu kali lagi. Mak Moon melihat putri pria itu merangkul lengan ayahnya tanpa mengerti apa yang sedang terjadi.

Si penjudi dengan liciknya menuntut leher pria itu sebagai taruhannya. Anak buahnya membuka sebuah kotak yang sontak membuat semua orang kecuali Moo Myung menjerit ketakutan karena isi kotak itu adalah sebuah kepala.


Kalau pria itu tidak mau mempertaruhkan lehernya maka dia bisa mempertaruhkan leher putrinya, kata si Penjudi dengan santainya. Mak Moon langsung melindungi anak itu. Moo Myung menurunkan topinya hingga menutupi setengah wajahnya sebelum dia menyatakan kalau dia mau menggantikan pria itu.

Dia memang tak punya uang taruhan, tapi yang si Penjudi inginkan cuma leher, bukan? Dan sekarang dia menawarkan lehernya sebagai taruhan. Si penjudi menerima tantangannya, jika Moo Myung menang maka dia akan memberikan semua harta yang didapatkannya hari ini. Moo Myung tidak mau, dia hanya menginginkan leher si penjudi jika dia menang.


Si Bandar mengocok dadunya dan Moo Myung bertaruh untuk angka besar. Saat si Bandar hendak melakukan kecurangannya, Moo Myung dengan cepat mencegahnya dan mulai memperkenalkan nama panggilannya: Dog-Bird.

Si penjudi langsung mengenalinya. Mak Moon jadi panik dan mendesak mereka untuk segera membuka dadunya. Si Penjudi mengancam Moo Myung untuk pergi saja sekarang, tapi Moo Myung menolak dan berusaha untuk membuka dadunya.

Tapi si penjudi mencegahnya dengan cepat, dia tampak sangat gugup, seperti dia tahu kalau dia akan kalah dan tak rela kehilangan hartanya. Mereka otot-ototan sampai akhirnya si Penjudi mengakhirinya dengan membalik meja, jadilah tidak ada yang menang atau kalah.


Mak Moon langsung menuduh mereka bermain curang dan membuat semua orang jadi ribut. Moo Myung dan Mak Moon menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari sana. Di tengah jalan, mereka memutuskan untuk berpencar dan sepakat ketemuan di penginapan dekat gerbang istana.


Moo Myung dengan lincahnya melompat-lompat diantara kerumuman orang dan menendang siapapun yang menghalangi jalannya. Dia mencuri sebuah baju di tengah jalan dan sukses menyembunyikan dari dari para pengejarnya.


Di sebuah kedai teh, si pemilik kedai melihat Ui Hwa sedang duduk di salah satu meja dan menggoyang-goyangkan jari padanya, mengisyaratkannya untuk mendekat. Setelah mengomentari setengah menyindir Pemilik Kedai yang menjalankan bisnisnya dengan baik, Ui Hwa memberitahunya kalau dia mencari sesuatu yang spesial.

"Sesuatu yang spesial?" Pemilik Kedai mengerti maksudnya "Wanita macam apa yang anda inginkan?"

"Bukan wanita"

"Lalu?"

"Pria. Apa kau mengenal pria-pria muda dan tampan"


Pemilik Kedai akhirnya membawa Ui Hwa ke sebuah tempat semacam toko yang disebut sebagai Dayiseo, Pemilik Kedai mengklaim bahwa tempat itu adalah pusat tren terbaru. Di sana penuh dengan wanita-wanita penghibur yang cantik dan para pria muda tampan yang sibuk memilih-milih berbagai barang. Mulai dari aksesoris sampai pedang.


A Ro mendatangi majikannya untuk minta bayaran dari pekerjaannya di kedai arak. Tapi hasil kerjanya 3 bulan cuma dibayar dengan satu perak. Saat A Ro tidak terima, si majikan langsung protes balik dan menyindir A Ro yang walaupun keturunan bangsawan tapi Ibu A Ro cuma rakyat miskin dan itu menjadikan status A Ro sama sepertinya.

Tidak terima dengan perlakuan kejam itu, A Ro balas dendam dengan menghabiskan seguci arak mahal. Dia langsung mabuk seketika dan berjalan sempoyongan di pasar. Dia melihat beberapa anak kecil mencuri makanan.


Saat dia hendak mengejar mereka, tiba-tiba dia tersandung dan hampir saja terjatuh. Untunglah Moo Myung sigap menangkapnya dan gara-gara itu sepatu A Ro melayang jauh. Moo Myung terpesona dan mereka terdiam dalam posisi itu selama beberapa saat.

Saat Moo Myung sadar, dia langsung melepaskan A Ro begitu saja. Tapi saat dia hendak pergi, A Ro memegangi kakinya kuat-kuat sambil merengek meminta Moo Myung mengambilkan sepatunya.


Moo Myung melihat ada beberapa pengendara kuda berderap ke arah mereka. Dia langsung melepaskan pegangan A Ro untuk menghindari pengendara kuda itu. Tapi A Ro terlalu mabuk hingga dia tidak memperhatikan para pengendara kuda itu.

Cemas, Moo Myung bergerak cepat menarik A Ro ke pinggir jalan. Jarak mereka jadi sangat dekat gara-gara itu. Kali ini A Ro lah yang terpesona lalu dengan suara mabuknya dia berkata "Kau sangat... tampan"

Moo Myung langsung tersipu malu dan jadi canggung hingga dia langsung melepaskan A Ro dan membuatnya terjatuh ke tanah. Tapi sebelum pergi, dia melempar sepatu A Ro dan tak sengaja menimpuk kepala A Ro.


A Ro berjalan pulang dengan sempoyongan dan langsung berbaring amben yang penuh dengan obat-obatan herbal.

Bersambung ke part 2

2 comments

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon