Powered by Blogger.

Content and Images Copyright by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 1 - 2


Terdengar suara erangan seseorang yang tengah menerima pengobatan. An Ji Gong membalut luka diperut seorang kakek, beruntung lukanya tidak terlalu dalam sehingga tidak berbahaya. Kakek sudah terbiasa menerima luka semacam ini, pedagang kecil sering dipukuli dan terluka. Terimakasih karena dia mau merawatnya.


Ji Gong dengan hati–hati bertanya “Bagaimana dengan... anak itu?”


Kakek berkata kalau anak itu lebih muda dari pada anak Ji Gong. Dia tidak pernah tinggal di ibukota. Dia yakin kalau Ji Gong akan segera bertemu dengan anak itu.


Tengah malam, Raja Ji Heung berjalan menuju ke istana, memperhatikan singgasananya dalam kesunyian.

“Kenapa kau datang kesini?” tanya Ratu Ji So menegurnya.

Flashback. Tahun ke-27 kekuasaan Raja Bupheung. 11 tahun yang lalu.


Seorang dayang berlari menemui Ratu Ji So yang tengah menemani seorang anak yang tertidur pulas. Dayang itu memberitahukan bahwa Raja telah mangkat. Ratu Ji So terkejut, dia memperhatikan anak yang tertidur pula dengan sedihnya.

Diluar istana sedang terjadi pertempuran. Ratu Ji So mempersiapkan pedangnya, apapun yang terjadi mereka harus melindungi keturunan raja yang terakhir. Paggil Pa Oh sekarang! Ratu Ji So memerintahkan Pa Oh supaya menjaga Putra Mahkota. Dia harus tetap hidup.

Flashback End.


Ratu Ji So bertanya alasan Raja kesana? Apa karena Raja tidak mempercayainya?

“Apa aneh kalau aku disini? Bukankah malah aneh kalau aku tidak disini.”

Ratu Ji So menegaskan bahwa banyak orang yang mengincar hidupnya. Mereka tidak bisa mempercayai siapapun diistana. Dengan sinis, Raja berterimakasih atas pengertiannya. Dia bisa berjalan dan hidup bebas.

“Tapi apakah kau pernah mendengar istilah, kau bisa menangkap 10 pencuri yang bersembunyi di gunung tapi tidak bisa menangkap satu pencuri dihatimu? Aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk sesuatu yang salah, aku hanya belajar untuk mencurigai seseorang.” Ujar Raja.

Raja penasaran sampai dimana takhtanya akan bertahan. Dia sampai hampir melupakannya. Lemah, Ratu Ji So mengintruksikan supaya dia tetap diam sampai waktu dimana ia memperkenalkannya pada dunia.


Belum apa-apa, lawan Ratu Ji So sudah mendapatkan informasi kalau gerbang semalam dibuka tapi tidak ada prajurit penjaga gerbang disana. Apa yang sebenarnya Ratu Ji So masukkan dalam kota? Mereka pun menduga kalau Raja sudah kembali ke istana.

“Aku akan menyiapkan pembunuh bayaran segera.”

“Ayo lihat saja, kepala siapa yang akan menggelinding.” Ucap Park Young Sil.


Di penginapannya, Raja termenung menatap gelang di tangannya 


Mak Moon sedang menunggu Moo Myung didekat gerbang. Sudah lama, tapi dia belum datang juga. Mak Moon mendengar suara kaki seseorang, saat ia menoleh rupanya disana ada pria bercadar dengan pakaian serba hitam. Dia langsung waspada. Ia yakin kalau pria itu bukanlah Moo Myung.


Pria bercadar itu langsung memasuki kamar seseorang dan menancapkan pisaunya ke ranjang. Sayangnya di ranjang itu tidak ada siapapun dan pria yang ia incar sudah berada dibelakangnya, Raja. Raja dengan mudah memukul pria itu kemudian memelintir tangannya. Kalau bukan pencuri, berarti dia adalah pembunuh bayaran. Jadi berapa harga hidupku?

“Dia bilang kalau aku membunuh pria keturunan asli, dia akan memberiku tiga gantang gabah.”

Raja membanting pria itu dengan tawa getir, hidupnya dianggap senilai dengan tiga gantang gabah.

“Kau dengar itu Pa Oh?” tanya Raja mendengar langkah kaki seseorang.



Tapi sayangnya orang yang datang bukanlah Pa Oh melainkan anak buah Ratu Ji So. Dia pun langsung menusuk pembunuh bayaran dan menanyakan kondisi Raja. Raja tentu saja marah, dia orang yang tidak tahu apa-apa.

Bagaimana bisa dia membunuhnya. Anak Buah Ratu Ji So berkata pria itu melihat wajah Raja dan ini perintah Ratu untuk membunuh siapa saja yang melihat wajahnya.

Raja semakin geram “Perintah Yang Mulia? Sepertinya kau tidak punya pilihan. Lagipula Sacred Kingdom adalah miliknya.”


Mak Moon yang penasaran pun akhirnya mendekati kamar tempat Raja bermalam. Bertepatan saat itu Raja keluar dan mereka berdua bertatap muka. Raja terbelalak, ia mencoba menghentikan anak buah Ratu Ji So tapi anak buah itu tidak mau menuruti perintahnya kemudian mengejar Raja.


Terjadilah kejar-kejaran antara mereka berdua. Beruntung Moo Myung datang tepat waktu dan menyeret Mak Moon bersembunyi.

“Aku.. kira.. aku melihat Raja.” Ujar Mak Moon dengan nafas tersengal-sengal.


Mereka berdua tidur di gudang jerami dan Mak Moon terus mengoceh kalau dia melihat Raja. Pe Ha (Yang Mulia), dia mendengar mereka memanggil pria itu begitu. Moo Myung menanggapinya remeh, lagipula mana mungkin Raja tidur ditempat sembarangan. Dia pasti tidur di istana.

Mak Moon sampai frustasi menjelaskannya “Bagaimana yah mengatakannya? Dia itu seperti Raja pada umumnya.”

Moo Myung yakin Mak Moon salah dengar. Mungkin saja bukan Pe Ha tapi Pel Ka? Dia pun memukuli Mak Moon yang dianggapnya mengkhayal.

Moo Myung kemudian meminta kalung milik Mak Moon. Biar dia yang mencaritahu tentang kalung itu, Mak Moon terlalu mencolok karena dia begitu tinggi. Saat matahari tenggelam, mereka bisa bertemu didepan Okta.


Keesokan harinya. Moo Myung bertanya pada para pedagang tentang kalung itu. Tapi tidak ada seorang pun yang mengenali kalungnya. Sampai akhirnya Moo Myung sampai juga ditempat dimana ia menolong A Ro kemarin. Ia tersenyum kecil kemudian mengedarkan pandangan mencari sosok A Ro. Sayangnya hari ini dia tidak berada disana. Moo Myung terlihat agak kecewa.


Mak Moon menanti didepan Okta, tempat para bangsawan berkumpul dan berpacaran. Bertepatan saat itu pula, A Ro bersama dengan temannya datang kesana. Sekilas Mak Moon melihat A Ro menggunakan kalung yang sama dengan miliknya.Ia berniat mengejar A Ro tapi penjaga menghadangnya dan melarangnya masuk.

“Aku harus bertanya pada gadis itu.” Gumam Mak Moon.


Para penari menghibur pengunjung dan semua perhatian tertuju ke panggung. Namun perhatian mereka langsung terpecah saat Ban Ryu dan Soo Ho datang kesana. Suasana persaingan diantara mereka pun sangat kentara.

“Apa ada cara supaya aku tidak melihat wajahnya? Melihatnya membuatku ingin memuntahkan semua isi perutku.” Desis Soo Ho.

Para wanita memperhatikan mereka dengan kagum. Satu sisi lebih mengidolakan Soo Ho dan sisi yang lain lebih suka dengan Ban Ryu.


Mak Moon yang berniat untuk bertemu dengan A Ro pun pura-pura menjadi kuli panggul. Ia menyelinap kedalam okta sambil membawa kotak arak.

 

A Ro datang kesana untuk bercerita. Ia pun menceritakan sebuah cerita dengan menggebu-gebu dan membuat para gadis yang mendengarkannya langsung jejeritan terbawa emosi. Dia sedang menceritakan cerita dewasa.. saat malam.. di Najeong..

Raja yang berada diruang sebelah cuma bisa berdecih geli mendengar A Ro bercerita.


Diruangan lain, gerombolan Soo Ho antusias menempelkan telinganya didinding. Najeong? Bukankah Najeong adalah tempat lahirnya Park Hyeokgeose? Wah. Ceritanya tidak terduga apalagi menggunakan tempat suci sebagai latarnya.


Diruangan Ban Ryu, teman-temannya ikut mendengarkan cerita A Ro kecuali Ban Ryu yang lebih sibuk membaca. Kang Sung tertawa, ia ingin minum alkohol dengan storyteller –nya. Dia tadi melihat wajahnya dan cukup cantik.

Temannya yang lain berniat mengambil alk*hol tapi Ban Ryu melarangnya. Dia menyuruh Kang Sung yang pergi ambil. Meskipun mereka sering bermain bersama tapi dia tidak boleh mengabaikan status sosial. Ayah Kang Sung adalah petugas level -6 dan paling rendah diantara mereka. Tentu saja Kang Sung kesal tapi dia menuruti saja perintah Ban Ryu.


Moo Myung menunjukkan kalungnya pada Joo Ki. Joo Ki merasa kalung itu cukup familiar tapi dia tidak yakin. Dia menyuruh Moo Myung untuk meninggalkan saja kalungnya disana. Dalam batin, Joo Ki menilai penampilan Moo Myung yang tidak terlalu tinggi atau pendek. Dia yakin kalau Moo Myung jelek soalnya dia menggunakan topi bambu.

Moo Myung mengangkat sedikit topinya sehingga Ji Hoo bisa melihat wajahnya. Ia menolak untuk meninggalkan kalungnya karena itu milik temannya. Dia meminta Joo Ki untuk mengingat baik-baik.

“Aku kalah.” Batin Joo Ki karena nyatanya pria dihadapannya itu ganteng, tidak seperti dugaannya.


Mak Moon berhasil masuk ke Okta. Dia mengintip keruangan tempat A Ro sedang bercerita, dia yakin kalau kalung itu adalah miliknya. Ia pun melambaikan tangan supaya A Ro bisa melihat kearahnya.

 

Tapi naasnya, saat Mak Moon melambaikan tangan, dia tanpa sengaja menyenggol Kang Sung hingga botol yang dibawanya jatuh ke lantai.

Melihat penampilan Mak Moon, Kang Sung yakin kalau dia tidak seharusnya disana. Dia meminta tanda ijin masuknya. Mak Moon pun langsung ngeloyor pergi tapi Kang Sung tidak mau membiarkannya. Dia memelintir tangan Mak Moon, mood-nya sedang buruk saat ini.


A Ro masih terus menceritakan kisah dewasanya. Gerombolan Soo Ho sampai kembang kempis mendengarkan kisah itu. Tapi kekhusyukan mereka dalam menguping terganggu karena keributan yang disebabkan oleh Kang Sung. Dia keluar dari ruangannya dengan marah.

“Kang Sung, apa yang terjadi?” tanya Ban Ryu kemudian.


Soo Ho semakin kesal karena harus dua kali bertemu dengan Ban Ryu. Ban Ryu tidak mau disalahkan, seharusnya dia punya keberuntungan kalau begitu. Jangan sentuh aku kalau kau mau pulang dengan wajah utuh!


Pendengar kisah A Ro keluar untuk menyaksikan keributan ini. Mereka pun meninggalkan A Ro sendiri. Dan saat itulah, Raja keluar dari ruangannya dan masuk keruangan A Ro. Lilinnya padam semua sehingga ruangan menjadi gelap. A Ro memejamkan matanya ketakutan, siapa kau? Apa yang kau lakukan?

Raja mendesaknya sampai pojokan “apa masalahnya? Sungguh sayang, setelah empat hari. Karena gelap disini, menyendiri, dan tempat yang bagus.”


A Ro hampir terjatuh karena ketakutan namun Raja sigap menahan pinggangnya. Sontak A Ro pun membuka matanya.

“Apa kelanjutan kisahnya?” tanya Raja

 

Kang Sung menginjak kepala Mak Moon yang sudah tidak berdaya. Dia meminta izin untuk membunuhnya, bukankah bukan kejahatan kalau membunuh seseorang yang tidak memiliki izin masuk? Ia bersiap menebaskan pedangnya.


Namun dadu melayang dan menghantam kepala Kang Sung hingga dia hampir jatuh. Moo Myung sampai kesana dan berjalan menghampiri Mak Moon yang terkapar. Apa kau baik – baik saja?

“Ya.”

“Tapi aku tidak baik – baik saja.”


Moon Myung menendang Kang Sung kemudian merebut pedangnya, ia membuat lingkaran dengan pedang tersebut “Kalau hukummu menyuruh membunuh mereka yang masuk ke ibukota. Hukumku adalah memukul bangsawan yang melewati garis ini. Kalau kau mau membunuhnya, lewati garis ini. Aku akan melawan kalian semua.”

Bersambung ke episode 2

7 comments

Baru episode 1 udh seru aja apalagi yg main para cogan(cowok ganteng) d tunggu lanjutn nya mba

Baru episode 1 udh seru aja apalagi yg main para cogan(cowok ganteng) d tunggu lanjutn nya mba

Itu rajanya ada 2??? Aku kok bingung y min

Tinggalkan jejak dulu! Kali ini gak akan jadi silent reader XDv
FIGHTING buat yanh bikin sinopnya semoga langgeng sampe tamat karena aku suka tulisan yang ini . 💪

rajannya cuma satu sayang, raja bupheung itu raja yang sudah mangkat. Digantikan Raja Jinheung, tapi Raja Jinheung masih muda jadi Ratu Ji So yang berkuasa jadi Ratu regent

Seruh ceritanya ma kasih sinopsis nya😊

Hadeww,, masih loading nich..

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon