Powered by Blogger.

Content and Images Copyright by KBS2

Sinopsis Hwarang: The Beginning Episode 4 - 2

Soo Yeon datang saat itu dan terpesona melihat Moo Myung. Ia pun menyeret A Ro pergi untuk menuntut penjelasan. A Ro polos menanggapinya, sepertinya dia sudah mengatakan kalau kakaknya kembali.

Bukan itu maksudnya, Seo Yeon sebal karena A Ro tidak mengatakan bagaimana tampang dan tubuh kakaknya. Ia pun memberikan kue beras yang ia bawa “Kau ingat kan berapa banyak kue beras yang aku berikan pada keluargamu?”

A Ro menerimanya “Fakta kalau kau adalah temanku juga.. memalukan.”

Saat keduanya sibuk mengobrol, Sun Woo pergi entah kemana. A Ro menghela nafas, seharusnya masih banyak yang harus ia ajarkan. Ia pun bertanya pada Soo Yeon, apakah dia punya kuda?


Moo Myung menulis “Sun Woo” di pasir pinggir sungai. Nama itu adalah nama Mak Moon, apakah dia bisa menggunakannya? Tidak lama kemudian A Ro datang dengan membawa dua ekor kuda.
(Mulai sekarang aku akan menggunakan nama Sun Woo untuk menyebut Moo Myung).


Soo Ho dan Ban Ryu kembali bertemu dilapangan, keduanya langsung lempar sindiran satu sama lain. Soo Ho kira Ban Ryu tidak mau menjadi Hwarang, dia bersyukur deh kalau sekarang ia sudah terbebas. Ban Ryu masih tidak mau mengakui, yang jelas dia tidak mau menjadi anjing Ratu.

“Tapi Ayahmu menyetujuinya kan? Ayah yang mana? Tuan Park Young Shik atau Tuan Ho?”

Keduanya sama-sama terpancing emosi lagi, sepertinya pergulatan semalam belum menyelesaikan masalah. Soo Ho menawarkan untuk melakukan pertandingan sepak bola. Ban Ryu cs cengengesan mengejek karena mereka selalu kalah, ia menyarankan supaya mereka mengumpulkan banyak anak laki-laki. Soo Ho makin emosi dan menyuruh mereka menunggu, dia akan mengumpulkan banyak orang!

 

Sun Woo dan A Ro berlatih naik kuda tapi Sun Woo masih gugup dan terus membungkukkan tubuhnya. A Ro menyuruhnya duduk tegap, cobalah mempercayai kudanya supaya kuda juga mempercayainya. Sun Woo pun mengikuti perintah A Ro dan walhasil ia bisa meneggakkan punggungnya. Ia tersenyum senang.

“Ternyata kau bisa tersenyum juga.”

Tidak. Sun Woo buru-buru menunjukkan wajah datar.

“Tidak usah cemberut juga kali.”

 

Tidak jauh dari sana, ada anak-anak sedang bermain pukul kayu. Tanpa sengaja ada salah seorang diantara mereka memukul kayu dan kayunya mengenai wajah kuda yang ditunggangi oleh A Ro. Kontan kuda A Ro terkejut dan langsung berlari dengan begitu kencang. Sun Woo yang masih payah dalam menunggangi kuda pun mengejarnya.

Bertepatan saat itu juga, dipasar ada Raja dan melihat mereka kejar – kejaran. Ia bergegas melompat ke punggung kuda dan mengejar mereka.


Soo Ho sedang mencari orang yang akan diajaknya main bola tapi tidak ada anak kuat yang bisa diajak main bersama. Ia berambisi ingin mengalahkan Ban Ryu supaya senyum diwajahnya lenyap. Tanpa sengaja mereka melihat kejar-kejaran kuda antara Raja, Sun Woo dan A Ro.


Raja berinisiatif untuk memotong pergerakan kuda A Ro dengan menghadangnya. Sontak kuda A Ro mengangkat kedua kaki depannya dan A Ro pun terpental. Sun Woo buru-buru melompat dari kuda kemudian menggunakan tubuhnya untuk menahan tubuh A Ro jatuh langsung ketanah.

Beruntung A Ro bisa diselamatkan, ia pun menangis gemetaran. Sun Woo menepuk punggungnya agar dia tenang kemudian membantunya berdiri. Sun Woo kemudian menoleh pada Raja dan mengangguk sebagai ucapan terima kasih.


Raja membalas anggukannya dan tanpa sengaja melihat gelang miliknya yang digunakan oleh Sun Woo.

“Kenapa.. kenapa dia dengannya?” batin Raja terkejut.


Soo Ho menghampiri mereka, ia dengan bangga memperkenalkan dirinya sebagai anggota Hwarang. Ia ingin mengajak keduanya untuk bermain bersama. Sun Woo diam mengingat ia pernah bertemu dengan Soo Ho di Okta. Ia dan Raja sama-sama tidak tertarik dengan tawarannya.

“Tentu saja, dia akan bermain.” Sela A Ro.

“Apa kau gila?” bisik Sun Woo. A Ro balas berbisik, ini kesempatan baik untuk mereka karena mereka adalah anggota Hwarang.

“Bagaimana denganmu?” tanya Soo Ho pada Raja.

“Aku bermain jika dia bermain.” Jawab Raja melirik Sun Woo dan A Ro.


Sun Woo melihat rombongan anak bangsawan berkumpul. A Ro menyemangatinya dan berharap dia bisa berteman dengan mereka. Sun Woo sama sekali tidak mengharapkan hal itu. A Ro memperingatkan bahwa tinggal di ibukota itu membutuhkan koneksi. Dia tahu kalau mereka adalah anak bangsawan terbaik. Yang penting jangan bermain kasar.

“Bagaimana denganmu? Apa kau sudah baikan?”

A Ro memperhatikan tubuhnya sendiri dengan heran. Iya, dia baik-baik saja.

Raja memperhatikan interaksi mereka berdua sambil terus berfikir “Siapa sebenarnya dia?”


Sorak sorai penonton terdengar riuh mengisi tepian lapangan. Kedua tim berjalan memasuki lapangan. Ban Ryu langsung menyindir anggota tim Soo Ho yang sepertinya tidak mengetahui apa-apa. Soo Hoo menyuruhnya jangan khawatir karena orang timnya punya kekuatan fisik yang bagus.

Soo Ho memberitahukan pada Sun Woo kalau mereka harus mencetak gol. Kalau sampai mendapatkan bola, langsung lempar saja padanya.


Peluit dibunyikan tanda pentandingan dimulai. Pertandingan berjalan dengan brutal dan anarkis. Tim Biru (Ban Ryu) langsung menguasai bola, dia membawa bola ke bagian lawan dan menyepak semua pemain yang menghalanginya. Sun Woo bergegas melindungi gawangnya tapi Ban Ryu tanpa ragu menendang dadanya hingga dia terkapar dilapangan kemudian melempar bolanya ke gawang. Tim Ban Ryu pun mencetak satu gol.

“Beraninya tikus itu..” ucap Raja.


Soo Ho membantu Sun Woo berdiri, mereka juga harus menghitung kekuatan lawan dan mundur disaat tertentu. Jiwa kompetisi Sun Woo tersulut, dia menatap kelompok Ban Ryu dengan penuh dendam, apa dalam permainan tidak ada aturan?
“Satu-satunya aturan adalah menang.”

“Baiklah.” Ucap Sun Woo. Soo Ho menepuk pundah Sun Woo, entah kenapa dia menyukai sikapnya.


Sun Woo langsung tancap gas saat peluit kembali di bunyikan. Dia merebut bola dan langsung memasukkannya kedalam gawang. Semua orang melongo, soalnya dia memasukkan bola ke gawangnya sendiri. Hahahaha. Sun Woo berteriak kegirangan dan A Ro cuma bisa tutup muka melihat kebodohannya.

Teman satu tim Sun Woo memarahinya, dia menyuruhnya untuk memasukkan bola ke gawang yang di sebelah sana bukan digawang mereka sendiri. Sun Woo polos “bukan disana yah?”


Selanjutnya, Sun Woo kembali dengan mudah menerobos pertahanan lawan dan mampu mencetak satu gol untuk timnya. Soo Ho langsung memeluk Sun Woo dengan senangnya. Raja tampak kurang suka melihat Sun Woo menerima pujian apalagi melihat A Ro memberikan sorakan semangat untuk Sun Woo.

Pa Oh memanggil Raja di pinggir lapangan, “Hei!”


Raja tidak terima menerima panggilan lancang seperti itu. Pa Oh senang melihat Raja yang tampak menikmatinya, dia menyarankan supaya Raja bisa menghalanginya. Apa dia sudah memiliki rencana?
Raja tidak bisa menjawab, dia kembali melihat A Ro yang sedang tersenyum bahagia. Raja memejamkan mata menahan amarah “Jangan tersenyum. Itu menggangguku.”


A Ro melambai ke arah Sun Woo dan Sun Woo membalasnya dengan senyuman kecil. Preman melihat kontak mata antara keduanya, ia pun tersenyum licik memperhatikannya.


Pertandingan kembali dimulai, Soo Ho mengoper bola yang dikuasainya ke arah Sun Woo. Raja langsung merebutnya dari tangan Sun Woo, Sun Woo sempat keheranan namun akhirnya membiarkan Raja membawanya. Tapi naasnya, saat bola dibawa oleh Raja, ia dengan mudah di pukul dan bola direbut lawan.

Untungnya Sun Woo bisa merebut bola kembali, ia langsung mengopernya pada Raja dan Raja bisa mencetak gol. Raja senang bukan kepalang. Pa Oh juga sampai jejeritan tapi Raja langsung menunjukkan wajah cool lagi saat melihat Pa Oh.


Tim merah akhirnya menang dengan skor 3:2. Mereka bersorak penuh kegembiraan sedangkan Sun Woo cuma bisa bengong tidak mengerti. Raja kembali melirik ke arahnya dengan tatapan tidak suka. Sun Woo heran “Kenapa dengannya?”


Dalam perjalanan pulang, A Ro memuji pertandingan Sun Woo tadi siang. Dan ‘pria itu’, ia pikir pria itu bukanlah pria yang baik. Waktu itu di Okta, kami hanya tidur. Sontak Sun Woo berbalik menatap A Ro. A Ro membatin dengan was-was karena keceplosan dan berusaha menjelaskan ulang maksud kata-katanya.

Tapi Sun Woo tidak mempedulikan hal itu, ia berjongkok dihadapan A Ro untuk menggendongnya. Dia tahu kalau kaki A Ro terluka. A Ro meyakinkan kalau dia baik-baik saja.

“Apa mau ku peluk saja?”

 

Raja sedang memikirkan kembali interaksi antara A Ro dan Sun Woo tadi siang. Mulai dari saat Sun Woo menyelamatkan A Ro sampai ketika mereka bermain bola dan A Ro memberikan sorakan dengan penuh semangat. “Kenapa harus dia?”


A Ro sudah berada digendongan Sun Woo, dia memperingatkan supaya Sun Woo tidak terlalu baik pada semua orang. Yang paling penting di ibukota adalah koneksi. Sun Woo diam tanpa memberika jawaban. A Ro dengan iseng menggerakkan tangannya diatas kepala Sun Woo, Sun Woo tersenyum melihat bayangan mereka. Tapi lagi-lagi Sun Woo mencoba stay cool dan menahan senyumnya.

 

Hari pengangkatan anggota Hwarang pun dilakukan, A Ro lebih excited ketimbang Sun Woo. Dia menggeretnya supaya berjalan lebih cepat atau mereka terlambat. Dengan malas Sun Woo yakin mereka tidak akan terlambat karena mereka berangkat satu jam lebih awal. A Ro menelisik penampilan Sun Woo yang tampaknya kurang sesuatu. Dia menyuruhnya menunggu disana, ia akan pergi sebentar.

Sun Woo tersenyum melihat A Ro pergi ke penjual tusuk konde. Dia memalingkan wajahnya dan asik berlatih sendiri disamping kuda.


Saat Sun Woo mengalihkan perhatiannya, preman menghampiri A Ro dan mengatakan bahwa ia menyukai tusuk rambut yang dipilih A Ro. Dengan kikuk, A Ro mempersilahkan dia untuk membelinya.

Sun Woo kembali berbalik namun A Ro sudah tidak ada di depan pedagang tusuk rambut. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat A Ro diseret oleh preman menuju ke suatu tempat. Sun Woo buru-buru berlari mengejar mereka.


Raja juga sudah diterima menjadi Hwarang. Dia kembali melihat Sun Woo yang ternyata juga menjadi anggota dari Hwarang. Ia teringat kalau gelang miliknya berada ditangan Sun Woo, ia khawatir kalau Sun Woo menggunakannya saat upacara. Dia pun memutuskan untuk mengejarnya.

Raja masuk kedalam bangunan kosong penuh debu. Tiba-tiba sebuah celurit terarah ke lehernya.


Preman menertawakan Sun Woo yang menggunakan seragam seperti itu. Sebagai petani, dia tidaklah pantas. Meskipun ditodong pisau, Sun Woo sama sekali tidak gentar dan menyuruh preman melepaskan A Ro. A Ro sudah diikat dan pedang berada tepat didepan lehernya.

Preman kira dia belum pernah melihat anjing-burung setakut ini, ia yakin kalau dia punya perasaan dengan gadis itu. Sekali lagi Sun Woo memperingatkan supaya mereka melepaskan A Ro.


Tidak lama kemudian Raja juga dibawa kesana. Sun Woo semakin geram dan menggenggam pisau yang ditodong preman. Darah mengalir ditangannya, dia menyuruhnya untuk membunuhnya sekarang juga. Kalau sampai dia menyentuh gadis itu maka dia yang akan membunuh preman lebih dulu.

Bersambung ke episode 5
 

3 comments

smpe ketawa guling2 liat moo young yg main bola, mlah masukin bola ke gawang sendiri😂😂😂
rasanya mata smpe lupa ngedip liat Hyung sik, keren bgt dia😍

Klo menurut aku sihh ceritanya blm ngena bgt tapi yg bikin ga tahan itu oppa-oppa yg ketceh nya ituu looohhh.. hahaa

Salam knal mba imaa.. ttp semangat yh.

Lanjutkan Min...
Tak sabar cerita kelanjutannya.
Seneng banget dg ceritanya.
Entalah... Bukan karna pemainnya.
Tapi karna tdk ada unsur khayalannya kyk drama tetangga2 sebelah.

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon