Powered by Blogger.

Content and Images Copyright by SBS

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 11 - 2


Ibu Tiri bertanya bagaimana kondisi Ketua Heo sekarang? Ketua Heo merasa bahwa dirinya harus menemui Dokter Kim lagi. Obat yang ia minum sepertinya tidak bekerja dengan baik. Ibu Tiri mengaku kalau ia sudah menghubungi Dokter Kim, dia hanya menyarankan supaya Ketua Heo tetap meminum obatnya dengan rajin dan beristirahat.  Ibu Tiri diam-diam tersenyum licik lalu mengusap lengan Ketua Heo dengan lembut “beristirahatlah.”






Ahn Jin Joo dan Cha Dong Sik sedang penasaran kenapa CEO Kim belum menghubunginya lagi. Ia merasa tidak ada yang salah saat pertemuan bahkan CEO Kim memakan dua piring dadar gulung. Pada hari itu, apa yang salah dengan kita?

“Membanggakan dirimu sendiri.” Sahut Ahjumma.

“Apa maksudmu Ahjumma?” tanya Jin Joo.

Ahjumma mendengar pembicaraan mereka saat lewat, sepertinya Tuan sedikit membanggakan diri. Terlihat cukup menonjol kalau dia ingin mendapatkan sesuatu dari orang tersebut. Menurut pendapat orang lain, mungkin terkesan menjadi beban.

Jin Joo mengerti sekarang, dia pun memukuli suaminya yang sudah membuat usahanya untuk melakukan pertemuan menjadi sia-sia.


Joon Jae ngedumel karena Chung menolak untuk pulang bersamanya. Nam Doo terkantuk – kantuk meminta izin untuk tidur dikamar Joon Jae karena diluar dingin. Joon Jae masih ngedumel, seharusnya kalau ada masalah bukankah mereka harusnya menyelesaikannya dengan berkomunikasi?Dimana dia belajar untuk kabur dari rumah dan kebiasaan buruk lainnya?

“Aku pikir tidak tepat bagimu berkata seperti itu, kau juga kabur dari rumah saat SMA. Lagipula siapa yang menyuruhnya seperti itu?”

“Ada seorang psyco yang seperti itu.”

Kata-kata itu membuat Joon Jae mengingat kembali kejadian di spanyol bersama Chung. Perlahan dia mulai membandingkan apa yang Chung katakan tentang “pria itu” dan apa yang ia lakukan bersama Chung di spanyol. Orang yang mengajaknya makan mie ramen adalah dirinya sendiri, dia yang mengatakan dirinya sendiri seorang playboy.

 

Joon Jae guling-guling gila sambil meremas rambutnya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, dia jadi senang “Pria itu adalah aku. Jadi pria itu bukan orang lain.”

“Kau kenapa?” tanya Nam Doo ngeri.

“Itu aku Hyung. Pria itu adalah aku.” Ucap Joon Jae dengan tawa gila. Nam Doo semakin ngeri, dia pun menyarankan supaya Joon Jae minum obat.


Tidak lama kemudian, dengan wajah berseri-seri Joon Jae mengendarai mobil menuju ke sauna. Dia mendapati Chung sudah tertidur dilantai, ia pun kembali tersenyum memandang wajah polosnya. Tapi dia langsung marah karena ada seorang Ahjussi cabul yang pura-pura tidur dan perlahan bergeser mendekati Chung. Joon Jae dengan sengaja berjalan menginjak perut Ahjussi. 

“Aigoo.. aku tidak melihat dengan jelas.” Sandiwara Joon Jae kemudian tidur diantara Ahjussi dan Chung. 


Joon Jae tiduran disamping Chung sambil terus memandangi wajahnya. Saat Joon Jae sudah tertidur, giliran Chung yang bangun dari tidurnya. Dia memandangi wajah Joon Jae sambil membatin.

“Heo Joon Jae. Jangan membuka matamu, Heo Joon Jae. Jangan terbangun, Heo Joon Jae. Tetaplah begini sehingga aku bisa melihatmu. Sehingga aku bisa mengganti waktu saat aku tidak bisa melihatmu. Aku tidak perlu bertanya apapun padamu. Jangan buka matamu, Heo Joon Jae.”


Udara malam semakin dingin, Chung tidak tahan dan kembali membantin kedinginan. Joon Jae kontan mengangkat kakinya dan membuat handuknya menutupi Chung. Chung khawatir kalau sampai Joon Jae kedinginan, ia berniat menyelimutkannya lagi pada Joon Jae.

“Ah, kenapa panas sekali.” Gumam Joon Jae sambil menyingkirkan selimutnya.

Chung akhirnya menggunakan handuk Joon Jae dan membantin hangat. Joon Jae rupanya hanya pura-pura tidur, ia pun langsung tersenyum mendengar suara batin Chung. Meskipun pada nyatanya, Joon Jae juga merasakan kedinginan.


Shi Ah memanggil Ahjumma tapi tidak ada sahutan sehingga ia pergi ke kamar Ahjumma. Disana ia melihat foto keluarga Ahjumma yang terpajang diatas nakas. Ia melihatnya dan memuji putra Ahjumma yang tampak tampan.

“Apa yang kau lakukan?” tegur Ahjumma.

Shi Ah mengaku kalau dia ingin mengambil kimchi buatan rumah. Ahjumma dengan tidak suka menegaskan bahwa kimchi tidak ada dikamarnya. Ia pun menyuruh Shi Ah ikut dengannya ke dapur.


Shi Ah membawakan masakan itu untuk Joon Jae cs. Nam Doo memuji makanan dirumahnya. Kontan Shi Ah mengajak mereka untuk berkunjung kerumah. Joon Jae tentu saja segera menolak. Shi Ah celingukan “Apa Chung pergi?”


Nam Doo yakin kalau Chung akan segera kembali kalau sudah baikan dengan Joon Jae. Sontak Tae Oh memberikan tatapan tajamnya pada Joon Jae.

Shi Ah yang mengira Tae Oh menyukainya menjadi terkejut, mungkin dia mengira Tae Oh memberikan tatapan tajam itu karena dirinya. Saat Shi Ah berniat mengambil wadah minuman, Tae Oh juga melakukan hal yang sama sehingga tangan mereka bersentuhan. Shi Ah menghela nafas, semakin salah paham.


Seusai makan, Shi Ah menggeret Tae Oh untuk bicara berdua. Dia menyuruhnya supaya tidak menunjukkan perasaannya dihadapan orang lain. Ia pikir Tae Oh anak yang pintar tapi sepertinya dia jadi menyedihkan saat jatuh cinta. Ia yakin Tae Oh menatap tajam Joon Jae karena dirinya. Tae Oh menunduk sembari menghela nafas malas.
“Apa sulit untuk menatap wajahku?” kesal Shi Ah.
Tae Oh meyakinkan bahwa dia sudah melupakan semuanya. Shi Ah jelas tidak percaya karena cinta bukan hal yang bisa dilupakan begitu saja. Dia merebut ponsel Tae Oh dan menyimpan nomornya. Ia menyuruh Tae Oh menghubunginya kalau merindukannya. Meskipun Noona ini tidak bisa membalas perasaannya, dia bisa membelikannya segelas kopi.


Chung memperhatikan kolam tempat merendam kaki. Tanpa sengaja seseorang menyenggol punggungnya hingga ia hampir terjatuh ke kolam. Dalam batinnya, Chung lega karena Joon Jae menyelamatkannya sehingga dia tidak ketahuan.
“Hey, kalau kau terpeleset dan jatuh ditempat ini, paling tidak kau akan pingsan.”
Tepat saat itu juga, seseorang yang sedang bermain ciprat-cipratan air dan hampir mengenai Chung. Joon Jae bergegas melindunginya, dia menyuruh mereka jangan ciprat-cipratan ditempat ini. Dia pun membimbing Chung untuk pergi ke tempat kering.


Chung duduk dengan santai. Dihadapannya ada seorang anak sedang mengisi gelasnya dengan air dan tanpa sengaja menumpahkannya hingga hampir mengenai kaki Chung. Joon Jae buru – buru membopong Chung, ia memarahi anak itu yang telah melakukan tindakan berbahaya.
“Omo! Air tidak berbahaya!” bela Ibu si anak.
“Bagaimana air tidak berbahaya? Itu benda paling berbahaya. Kalau kau tidak menggunakannya dengan benar, itu bisa mengenai listrik. Kalau kau meletakkan hidungmu ke mangkuk penuh air, kau bisa mati!”
Hahaha. Si Ibu cuma bisa berdecih aneh melihat kemarahan Joon Jae pada hal sepele. Ia pun mengajak putranya pergi.


Joon Jae bersikap semakin aneh saja, dia berdiri mondar mandir layaknya bodyguard. Ia juga memarahi anak-anak yang bermain pistol air dan menganggapnya berbahaya. Dia pergi ke resepsionis untuk meminta celana panjang tapi resepsionis tidak memilikinya. Bahkan saking khawatirnya, dia sampai menggotong galon air menjauh dari tempat duduk Chung.
Pengunjung yang lain cuma bisa heran dengan sikapnya, mereka menganggapnya tidak normal. Salah satu Ahjumma menghampiri Chung, dia bertanya kapan Chung akan pulang? Dia menduga kalau keduanya sedang bertengkar tapi suami Chung sudah membuat mereka tidak nyaman.

“Suamiku?”
Ahjumma membenarkan, dia menyuruh Chung untuk pulang karena mereka terganggu dengan suaminya. Pulang saja saat suaminya masih membujuknya. Ahjumma sedang ribut dengan suaminya, dia tinggal dipersimpangan dekat sini tapi sama sekali tidak datang. Dirinya sudah terlambat sehingga ia harus memohon supaya bisa kembali. Jadi dia menyuruh Chung pulang saja (selama suaminya masih mau menjemput). Chung terdiam tanpa memberikan jawaban.



Jin Joo menjemput Elizabeth di sekolah, dia bertanya tentang Yoo Na dan menyuruhnya untuk bergaul dengannya. Tentu saja, Elizabeth menolak karena dia sudah terlanjur tidak menyukainya. 
Yoo Na lewat, Jin Joo buru-buru menyapanya. Dia basa-basi, katanya Yoo Na ingin berlatih renang. Katakan pada Ibunya kalau dia sudah mendaftarkan Yoo Na untuk satu tim renang dengan Elizabeth. 
“Ya. Terima kasih.”
Jin Joo bertanya apa yang akan Yoo Na katakan pada Unni yang ada di toko? Yoo Na dengan polos mengatakan kalau dia akan bilang pada Unni kalau Ahjumma tiba-tiba menjadi baik padanya. Jin Joo berkedip-kedip tidak suka tapi dia memaksakan diri memuji Yoo Na, dia sangat jujur tapi tidak bisakah dia bilang pada Unni itu kalau “Ibu Elizabeth memperlakukannya dengan baik sehingga dia senang berangkat sekolah.”


Yoo Na dengan malas mengatakan apa yang Jin Joo suruh padanya. Chung terkejut, benarkah? Tidak, Yoo Na mengatakannya karena Ahjumma menyuruhnya. Sejujurnya, dia tidak ingin berangkat sekolah.
“Kenapa?”
Sebentar lagi akan ada pentas disekolah dan mereka disuruh mengundang keluarga. Ibunya tidak akan datang karena sibuk. Dulu saat TK, dia pentas menyanyi dan menari tapi tidak ada yang menonton dan melambaikan tangan untuknya.


Chung melihat ada Santa di sauna. Dia menonton di TV kalau Santa akan memberikan hadiah dan membuat permohonan jadi kenyataan. Yoo Na menunjuk Chung seperti anak kecil, kalau memang permohonannya ingin dikabulkan maka jangan menangis. Yoo Na sedih karena dia sudah menangis berkali-kali.
“Aku juga sudah menangis beberapa kali.”
“Itu tak akan berhasil untuk kita.” Yoo Na sedih.
“Bagaimana kalau kita meminta pada orang itu?” Chung menunjuk Pria Santa.

Yoo Na dengan polos meminta Pria Santa untuk menyampaikan harapannya pada Santa. Pria itu tidak bisa mengambilkan permintaannya, dia menyuruh Yoo Na menulis harapannya dan menggantung di pohon natal. Santa yang akan membacanya sendiri.

Chung juga ikut nimbrung, dia mengaku sudah menangis beberapa kali. Tapi bisakah dia menghubungi santa dan menjelaskannya alasannya menangis? Pria Santa mengaku bisa menyampaikannya pada Santa, dia pun menyuruh Chung menuliskan nomornya. 


Yoo Na sudah selesai menulis permohonan, dia menyatukan tangannya dan berharap Ayah - Ibu bisa datang ke pertunjukan.


Jin Joo sibuk memotret putrinya yang menggunakan pakaian khas natal. Dia menyapa Yoo Na yang lewat, apakah Ibunya akan datang? Dengan sinis, Elizabeth berkata kalau Ibu Yoo Na biasanya tidak akan datang. 
Tak disangka, Chung-lah yang datang kesana dengan dadanan layaknya Nyonya Muda Kaya. Dia mengaku datang kesana karena Ibu Yoo Na yang sudah memintanya. 
“Kau sepertinya cukup dekat dengan Ibu Yoo Na.” Ucap Jin Joo.
“Ya, kami best friend forever.” Jawab Chung membuat Yoo Na sedikit heran.



Tidak lama kemudian, Joon Jae datang bersama dengan Tae Oh dan Nam Doo. Ia merangkul Chung layaknya pasangan yang begitu harmonis. Chung berbisik keheranan, bagaimana dia bisa tahu?
“Apa sih yang aku tak tahu?” balas Joon Jae. Dia pun menjunjung Yoo Na dan memintanya untuk tampil dengan baik karena dia akan memperhatikannya. Yoo Na mengangguk sembari tersenyum senang.
Jin Joo senang bisa bertemu dengan CEO Kim lagi, dia mendekati Nam Doo dan bertanya kenapa dia tidak menerima telfon darinya?


Pertunjukkan pun berjalan dengan lancar dan penonton memberikan tepukan atas penampilan mereka. Yoo Na menatap ke arah Chung dan Joon Jae, ia tersenyum pada mereka yang sudah memberikannya lambaian tangan dan dukungan seperti anak lainnya.


Joon Jae dan Chung memotret Jin Joo bersama dengan buket bunganya. Yoo Na gantian ingin memotret mereka berdua “Unni, Oppa, bisakah kalian berdiri bersama.”
“Apa aku berganti dari seorang Ahjussi menjadi Oppa?”
Yoo Na mengabaikan pertanyaannya kemudian meminta mereka untuk berdiri lebih dekat. Joon Jae akhirnya merangkul pundak Chung. Chung menatap Joon Jae dan membantin bahwa dirinya bahagia. Keduanya pun bertatapan dengan senyum terulas diwajah mereka.


Didekat gerbang sekolah, ada taksi yang sedang terparkir didekat sana. Seseorang berniat memasukinya tapi supir menolak karena dia tidak sedang bekerja. Dari suara supir taksi itu, sudah jelas kalau dia adalah Dae Young yang sedang mengintai Chung dan Joon Jae.

 

Mereka berempat kemudian bersantai di coffe shop. Nam Doo mengaku senang karena Chung kembali. Soalnya sepeninggal Chung, kulkas dirumah menjadi penuh tapi hatinya serasa kosong. 
“Aku juga. Aku bohong pada Yoo Na tapi aku merasa dihantui.” Ujar Chung.
“Bukankah itu bisa dibenarkan? Didunia ini ada yang namanya kebohongan halus.” Balas Nam Doo.
“Tapi apa yang kalian lakukan lebih dari kebohongan halus.”
Mereka bertiga jadi canggung. Nam Doo mencoba mencairkan suasana dengan memuji kemampuan bicara Chung yang telah meningkat pesat.


Chung meminta Joon Jae untuk berjanji supaya mengatakan kebohongan hanya untuk kebaikan. Jangan berbohong untuk melukai orang lain. Ketiganya bertatapan canggung, Joon Jae tidak ingin berjanji dihadapan dua orang ini. Chung masih terus menatapnya penuh harap.
“Ya. Aku berjanji. Aku. Tidak akan. Melakukannya.”
Tae Oh dan Nam Doo bertatapan “Apa aku mendengar sesuatu yang salah? Apa ini juga kebohongan?”
Joon Jae tidak mau menjawab. Ia melihat pemainan capit yang terletak tidak jauh dari coffe shop kemudian menyuruh Tae Oh dan Nam Doo pergi duluan. Ada hal yang ingin ia lakukan dengan Chung.


Joon Jae dan Chung berhenti menyaksikan hiasan lampu yang dibentuk seperti air mancur. Chung menatapnya dengan terpesona, Joon Jae pun menyuruhnya untuk menunggu disana. Jangan pergi kemanapun.

Tidak jauh dari sana, ada Detektif Hong dan rekannya yang sedang melacak keberadaan Ma Dae Young. Dia memberikan instruksi pada rekannya supaya berpencar dalam mencarinya.


Joon Jae membawa boneka gurita pink untuk Chung, ia berniat menghampirinya. Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara batin Chung.
“Heo Joon Jae. Saat aku mengarungi laut jauh untuk menemukanmu, aku melihat bintang indah ini setiap malam. Tapi aku kesepian karena aku sendirian. Aku letih. Dan aku ketakutan. Tapi sekarang, tidak apa – apa kan kalau aku senyaman ini? Tidak apa – apa kan kalau aku bahagia? Tidak apa – apa kan kalau aku mencintaimu?”


Saat Joon Jae berniat melangkah menghampiri Chung, lengannya ditarik seseorang. Detektif Hong menangkapnya, “berandal yang seperti belut ini. Aku kira akan menangkap harimau tapi ternyata malah menemukan kelinci.”
Dia berniat menghubungi temannya yang lain tapi Joon Jae melarangnya. Dia masih terus menatap Chung dan berkata kalau dia akan ikut dengan mereka tanpa melawan. Tangannya di borgol dan boneka guritanya pun jatuh disana.


“Heo Joon Jae. Cepatlah datang.” Batin Chung.
Joon Jae masih terus menoleh ke arah Chung sambil membatin “Pria itu mencintai putri duyung, karena itulah dia mendengar suaranya. Meskipun dia menghapus dan menghapus lagi ingatannya, meskipun dia lahir didunia berbeda, itu adalah takdirnya untuk mencitai Putri Duyung lagi. Jadi akhirnya, dia mendengar suara Putri Duyung lagi. Itu adalah... aku.”


Sepeninggal Joon Jae, tidak jauh dari tempat Chung berdiri, ada seseorang yang memperhatikannya dari dalam taksi.
EPILOG:


Saat di sauna, Joon Jae memergoki Pria Santa sedang meminta nomor Chung. Dia pun menunggunya diluar sauna kemudian menghentikannya. Apa benar dia bisa menghubungi santa? Kalau dia bisa, maka dia juga ingin mengatakan sesuatu. Dia tadi lihat Pria Santa meminta nomor telefon pacarnya. Pria Santa itu terlihat ketakutan. Joon Jae langsung merebut yang ada nomor telfon Chung kemudian merobeknya. “Kau tidak mengingat nomornya kan?”


Beralih ke pohon natal tempat menggantungkan harapan. Yoo Na berharap supaya Ibu dan Ayah datang ke pertunjukannya. Sedangkan Chung menulis kalau dia ingin berkencan dengan Joon Jae dibawah pohon yang indah. Tahun ini, tahun depan dan tahun seterusnya. Sedangkan Joon Jae menuliskan “Aku harap aku bisa menepati janjiku padamu.”

5 comments

waw..keren...lanjut...semangat trus untuk menulis unni...

boleh request sinopsis my having affair.

Aduh,,, aduh mkin baper deh joon jae mulai sadar ama prasaannya to rintangan mkn rumit ama😱😱

MBA mau Tanya dong yg pemeran chi yhun ITU nama aslinya siapa y,,brasa familiar gitu tp lupa pernah liat wajahnya wajahnya didrama apa gitu😱😱😱

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon