Powered by Blogger.

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 5 - 1

 

Di jaman Joseon, seorang anteknya Bangsawan Yang hendak menebas kaki Se Hwa tapi pedang Dam Ryung tiba-tiba melayang dan menancap di dadanya. Pedang saling beradu di tengah-tengah hujan salju lalu salah seorang pembunuh berusaha menyerang Se Hwa saat Dam Ryung sedang melawan temannya. 


Tapi Dam Ryung melihatnya dan bergerak cepat mencegah pedang si pembunuh mengenai Se Hwa dan menebas orang itu. Mereka terus berusaha menyerang tapi Dam Ryung berhasil mengalahkan ketiga pembunuh itu dengan cepat. Dia lalu menggenggam tangan Se Hwa dan membawanya lari dari sana.


Setelah mereka pergi, datanglah beberapa orang antek lainnya. Mereka tak menyadari kalau Dam Ryung dan Se Hwa sedang bersembunyi di balik semak terdekat. Dam Ryung terus menggenggam tangan Se Hwa bahkan setelah para anteknya Bangsawan Yang pergi.

"Apa kau terluka?" tanya Dam Ryung. Dan saat Se Hwa mengangguk, Dam Ryung berkata "Aku merindukanmu"


Dam Ryung lalu menuntun Se Hwa berjalan keluar dari sana. Tapi di tengah jalan, Se Hwa berhenti berjalan saat perhatiannya teralih pada sebuah bunga. Dam Ryung memetik bunga itu untuknya dan memberitahu bahwa semua bunga di dunia ini punya makna.

Dan bunga ini bermakna "Sesuatu yang kau miliki, tapi aku tidak memilikinya. Maknanya adalah kenangan"

Mereka lalu berkendara bersama dengan kudanya Dam Ryung dan berjalan bergandengan tangan ke rumah Dam Ryung tanpa menyadari seseorang yang sedang mengintai mereka.


Sementara itu di lautan, tiga putri duyung tampak berenang ke permukaan dan terdengar suara nyanyian mereka. Dan seketika itu pula, Se Hwa berhenti berjalan dan menoleh ke belakangnya, mungkin mendengarkan nyanyian mereka.


Anak buah Bangsawan Yang langsung melapor kalau Dam Ryung membawa si putri duyung ke kantor. Itu jelas berita baik untuk Bangsawan Yang dan Hong Nan.

Tiba-tiba seorang tamu penginapannya datang untuk memprotes perbuatan Bangsawan Yang yang membatasi kapal niaganya secara paksa dan menaikkan biaya penginapannya. Bangsawan Yang mengingatkan orang itu kalau dia sendiri belum menepati janjinya untuk memberikan hak eksklusif atas muatan kapalnya, karena itulah dia menaikkan biasa penginapan.

Kesal, orang itu langsung membalik meja makannya Bangsawan Yang dan mengatainya perampok. Apa Bangawan Yang pikir kalau mereka melakukan perjalanan jauh-jauh hanya untuk memuaskan keserakahan Bangsawan Yang? Dia bersumpah akan mengungkapkan kekejaman Bangsawan Yang pada seluruh dunia. Bangsawan Yang cuma menanggapinya dengan tertawa sebelum akhirnya memecahkan gelasnya dengan murka.


Keesokan harinya, beberapa nelayan hendak pergi melaut. Tapi sesampainya di pantai, mereka malah mendapati mayat tamu penginapannya Bangsawan Yang yang semalam. Beberapa saat kemudian, Dam Ryung mendapat laporan dari pejabat dan tabib bahwa tidak ditemukan adanya jejak kekerasan, penyakit ataupun racun dalam mayat itu.

Karena sebab kematiannya tidak bisa diidentifikasi, mereka jadi semakin mempercayai kutukan putri duyung. Seorang pejabat menyarankan Dam Ryung agar mereka segera mengubur mayat ini. Bangsawan Yang tiba tak lama kemudian dengan senyum senang mendengar rakyat gelisah mempercayai kutukan itu.


Dam Ryung melihat ekspresinya itu dan langsung menolak mengubur mayat ini sampai mereka menemukan sebab kematian orang ini yang sebenarnya, entah dia mati karena kutukan ataukah karena ulah seseorang yang sengaja memanfaatkan ketakutan masyarakat.


Sementara itu, Hong Nan tiba-tiba datang ke kantornya Dam Ryung dengan membawa seorang dukun dan mengklaim bahwa menurut si dukun, putri duyung jahat itu ada di kantor ini. Hong Nan langsung menuntut untuk menggeledah tempat ini. 

Saat salah seorang bawahan Dam Ryung melarang, Hong Nan langsung mengancam akan pembunuhnya. Bawahan Dam Ryung langsung ketakutan.


Seorang pengawal buru-buru keluar mencari Dam Ryung untuk melaporkan masalah ini. Panik, Dam Ryung langsung memacu kudanya secepat mungkin hingga membuat si pengawal terjungkal dan menggerutu kesal.


Sementara itu, Se Hwa sedang memandangi guci bergambar putri duyung yang mencium pria berpakaian modern, guci yang ditemukan Si Ah di dunia modern. Malam sebelumnya, Dam Ryung memberitahu Se Hwa bahwa dia melukis keramik itu berdasarkan mimpinya.

Dalam mimpinya, dia hidup dalam dunia yang aneh dan di dunia itu juga ada Se Hwa. Dia tidak yakin sebenarnya apakah itu hanya mimpi atau halusinasi atau penglihatan akan dunia lain.

"Tapi satu hal yang kutahu pasti. Semua yang terjadi sekarang ini, juga akan terjadi di dunia sana. Anehnya, seperti nasib yang akan terulang lagi"


Sementara Dam Ryung berusaha memacu kudanya secepat mungkin, Hong Nan menerobos masuk kedalam kantor dengan membawa seember air lalu pintu kamar Se Hwa terbuka. Di dunia modern, Dae Young yang menyamar jadi polisi mendatangi rumah Joon Jae dan putri duyung Chung keluar menemuinya.


Sementara Dam Ryung memacu kudanya untuk menyelamatkan Se Hwa, Joon Jae di masa depan ngebut menerobos penjagaan polisi untuk menyelamatkan Chung.


Dae Young berusaha masuk kedalam rumah dengan beralasan pada Chung kalau dia datang untuk menginvestigasi kasus pembunuhan di lingkungan ini. Chung hampir saja membiarkannya masuk. Tapi tepat saat itu juga, mobilnya Joon Jae berhenti mendadak.

Dia buru-buru turun melindungi Chung dan memperhatikan Dae Young. Jelas dia langsung curiga karena investigasi seharusnya dilakukan oleh dua orang dan dia juga tidak bawa radio.

"Apa kau benar seorang polisi?" tanya Joon Jae curiga

Dae Young menjawabnya dengan senyum mengerikan. Tepat saat itu, polisi asli datang dan Dae Young terpaksa harus melarikan diri. Joon Jae langsung melapor keanehan orang itu dan meminta polisi untuk mengejarnya.

 

Tapi Polisi (pengawalnya Dam Ryung di jaman joseon) lebih mencurigainya karena dia menerobos pos pemeriksaan, kenapa dia melakukan itu. Joon Jae langsung bingung, tapi kemudian dia beralasan kalau dia dengar ada pembunuhan di sekitar area ini, jadi dia buru-buru pulang karena mengkhawatirkan pacarnya yang sendirian di rumah.

Dia lalu menunjukkan tangannya dan tangan Chung yang saling terkait sambil mengklaim kalau pacarnya ini gampang takut. Chung langsung membantahnya, dia tidak takut kok. Joon Jae mendesis kesal, bersikeras kalau Chung gampang takut sampai akhirnya Chung setuju.


Saat polisi meminta KTP-nya, Joon Jae menunjukkan sebuah KTP palsu padanya. Awalnya Joon Jae tenang-tenang saja, tapi kemudian dia melihat Detektif Hong datang. Dia langsung menyembunyikan wajahnya dan berusaha bersikap tenang.
 
Melihat sosok punggung Joon Jae, Detektif Hong merasa seperti pernah melihat Joon Jae. Curiga, Detektif Hong perlahan turun mendekati Joon Jae. Tapi tepat saat itu juga, seorang polisi lain datang melapor bahwa mereka mendapat laporan dari seseorang yang mengaku kalau dia melihat pembunuh ada di daerah lain.


Detektif Hong pun pergi. Tapi itu laporan palsu karena si pelapor itu sebenarnya Nam Doo yang tengah bersembunyi di sebuah toko. Saat melihat para polisi pergi, Nam Doo menggerutu karena dia membuat laporan palsu pada polisi gara-gara Joon Jae.


Polisi yang memeriksa KTP Joon Jae, mendapat konfirmasi dari pusat bahwa identitas pemilik KTP itu bersih. Joon Jae langsung tersenyum manis pada polisi. Tapi bagaimanapun, karena tadi Joon Jae sudah melanggar aturan, polisi tetap menyuruh Joon Jae untuk membayar denda.

Joon Jae menyetujuinya dengan senang hati lalu mengajak Chung masuk rumah dengan gaya sok mesra sampai membuat Chung malu.


Setelah pagar rumah tertutup, polisi keheranan pada dirinya sendiri, dimana dia pernah melihat pria itu (Pfft! Di jaman Joseon mungkin?). Polisi juga merasa aneh karena entah kenapa dia tidak menyukai pria itu.


Joon Jae masih terus menggenggam tangan Chung sesampainya mereka didalam rumah. Tapi kemudian Chung melihat tangan Joon Jae berdarah. Chung jadi cemas "Sakit?"

Sesaat, Joon Jae tercengang dengan kekhawatiran Chung padanya. Tapi kemudian dia cepat-cepat melepaskan tangannya lalu mulai mengomeli Chung karena membuka pintu untuk orang asing. Chung malah bingung mendengarnya, dia membuka pintu karena ada orang datang dan bukannya hiu.

Joon Jae bingung kenapa juga hiu datang kemari. Lagipula, manusia itu lebih berbahaya daripada hiu karena dalam setahun kurang dari 5 hiu yang membunuh manusia sementara manusia yang membunuh hiu tak terhitung jumlahnya.


Chung terus mencemaskan tangan Joon Jae. Tapi Joon Jae langsung menampik tangan Chung dan mengingatkan Chung untuk mencemaskan dirinya sendiri dulu sebelum mencemaskan orang lain. Saat Chung menunduk sedih atas omelannya, Joon Jae langsung menggerutui dirinya sendiri lalu menghempaskan dirinya di sofa dengan frustasi.


Chung mendekatinya dan memberitahu Joon Jae kalau dia penasaran dengan sesuatu. "Kemana perginya orang-orang kecil didalam itu?" tanyanya sambil menunjuk TV.

Dia lalu melihat ke belakang TV dan bertanya lagi, apakah orang-orang itu ada di dalam sini? Tidak bisakah Joon Jae menyuruh mereka keluar? Tadi orang-orang didalam benda itu bilang "Sebenarnya ayah kandungmu adalah... selesai seperti itu, lalu dia berkata kalau kita harus bertemu dengan mereka lagi minggu depan. Aku penasaran siapa ayah kandungnya"


Geli mendengar ucapan Chung, Joon Jae memutuskan untuk mengerjai Chung dengan menawarkan diri untuk menanyakan langsung pada orang-orang itu. Dia mengklaim kalau dia mengenal mereka karena mereka tinggal di rumahnya.

Dia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon orang-orang itu, tapi yang dia telepon sebenarnya Nam Doo dan memprotes Nam Doo karena tidak menyelesaikan ucapannya tadi. Chung mempercayainya dan langsung bergelung di dekat telinga Joon Jae untuk mendengarkan percakapan telepon mereka.

Nam Doo jelas bingung maksud Joon Jae. Tapi Joon Jae terus berakting dan bertanya siapa ayah kandungnya. Nam Doo langsung protes karena dia yatim piatu. Joon Jae langsung berakting ternganga kaget lalu menutup teleponnya.


Chung jelas penasaran. Tapi Joon Jae menolak memberitahu informasi tentang ayah kandung itu dan menuntut Chung untuk menjawab lebih dulu tentang bagaimana mereka bertemu di Spanyol, apa yang mereka lakukan dan kenapa dia tidak ingat apapun. Dia mengingatkan Chung bahwa segala sesuatu di dunia itu tentang give and take.

Tapi Chung malah menyatakan kalau dia akan menunggu minggu depan saja kalau begitu, dia sabar menunggu kok. Frustasi, Joon Jae langsung mendekat untuk melabrak Chung. Tapi kedekatan itu sendiri malah membuat Joon Jae jadi canggung dan Chung jadi tersipu malu.


"Kau mungkin sabar menunggu, tapi aku tidak. Dengar baik-baik. Minggu depan bagimu itu, kuanggap besok. Jika besok kau tidak memberitahuku, kau harus pergi dari rumah ini" ancam Joon Jae


Ibu tirinya Joon Jae menelepon Dae Young dan bertanya curiga apakah insiden di Hwewon-dong itu ulah Dae Young. Dae Young menyangkal. Tapi Ibu Tiri tak percaya dan memperingatkan Dae Young untuk melakukan perintahnya saja lalu bertanya apakah Dae Young sudah menemukan Joon Jae.

Dia meminta Dae Young untuk mengirimkan alamat Joon Jae padanya tepat saat Chi Hyun datang dari belakangnya dan mendengar percakapannya. Sambil berakting pura-pura bodoh, Chi Hyun memanggil ibunya lalu meminta dibuatkan sandwich.


Sms dari Dae Young datang setelah ibunya pergi ke dapur. Chi Hyun langsung membukanya dan menghapal informasi itu sebelum membawa ponsel itu kembali ke ibunya tapi kemudian dia pura-pura tak sengaja menjatuhkan ponsel itu kedalam air. Ponsel itu mati dan membuat Ibu Tiri frustasi. Pura-pura merasa bersalah, Chi Hyun menawarkan akan membelikan ponsel baru untuknya.


Joon Jae hendak tidur saat Chung tiba-tiba dia ketakutan melihat kepala dan rambut panjang Chung keluar dari pintu lotengnya seperti hantu. Chung menyuruh Joon Jae untuk tidak menghiraukannya, dia cuma ingin melihat wajah Joon Jae saja.

Joon Jae tak nyaman melihat kepala Chung yang menakutkan itu dan menyuruhnya masuk kembali. Tapi Chung kembali mengeluarkan kepalanya untuk bertanya kenapa teman-temannya Joon Jae belum pulang.

Saat Joon Jae berkata kalau mereka tidak akan pulang malam ini, Chung langsung terkikik senang. Jadi mereka berduaan saja malam ini? Joon Jae terus protes melihat pemandangan kepala Chung yang menakutkan dari atas sana.


Maka Chung pun memutuskan untuk turun saja dan tidur di samping Joon Jae. Dia mulai menuruni tangga, tapi Joon Jae langsung mengancam akan mengusirnya sekarang juga alih-alih besok. Chung sontak naik kembali ke loteng.


Berbaring di ranjangnya, Chung menatap hujan di luar dengan gelisah memikirkan besok. Dia lalu melihat jam di nakas dan menghentikan jarum jamnya dengan jarinya, berharap besok tidak akan datang.


Keesokan harinya, Si Ah datang lagi. Chung membuka pagarnya sedikit memberitahu Si Ah kalayu Joon Jae berpesan padanya kalau dia bukan orang asing. Si Ah mengklaim dirinya bukan orang asing sambil berusaha membuka pagarnya, tapi Chung menahannya dengan kekuatan supernya sambil bersikeras kalau Si Ah adalah orang asing baginya.

Si Ah berusaha keras membuka pagarnya. Chung dengan sengaja melepaskan tangannya dari pagar hingga akhirnya Si Ah terjatuh terjerembap ke tanah. Lalu dengan santainya, Chung menyuruh Si Ah masuk dan jangan duduk terus di situ. Si Ah kesal setengah mati pada Chung.


Chung memberitahu Si Ah kalau Joon Jae sedang jogging di luar dan kedua temannya belum pulang sejak semalam. Si Ah tambah kesal mendengar Chung berduaan saja dengan Joon Jae semalam dan langsung mengklaim kalau dia dan Joon Jae akan menikah. Chung tidak mengerti apa itu menikah. Si Ah menjawab kalau menikah adalah pria dan wanita hidup bersama dengan saling mencintai.

"Ah, maksudmu seperti yang kulakukan bersama Joon Jae sekarang?" tanya Chung

Si Ah menyangkal dan menuduh apa yang Chung lakukan pada Joon Jae adalah parasit. Hidup dari belas kasihan orang lain, seperti parasit yang menghisap darah orang. Chung shock mendengarnya dan langsung membela diri "Aku tidak menghisap darah orang. Aku tidak menghisap darahnya!"


Semakin kesal, Si Ah langsung to the point menunjuk pintu dan mengusir Chung dari rumah ini sekarang juga. Chung langsung melotot marah dan menggigit jari Si Ah keras-keras, membuat Si Ah menjerit kesakitan.


Beberapa saat kemudian, jari Si Ah diperban dan Chung menundukkan kepala di hadapan Joon Jae yang mengomelinya karena menggigit jari orang seperti anjing gila. Si Ah pura-pura berbaik hati melarang Joon Jae marah-marah pada Chung, jelas Chung langsung meliriknya kesal.

Dia lalu meniru gaya bicaranya Chung yang sok manis dan mengaduh kalau tadi Si Ah mengusirnya. Tapi Joon Jae malah mengingatkannya untuk pergi hari ini kalau dia masih belum mau bicara. Si Ah jadi penasaran maksud mereka, tapi Joon Jae langsung bangkit untuk mengantarkan Si Ah keluar mencari taksi.


Sepanjang jalan, Si Ah berusaha bicara manis pada Joon Jae tentang beberapa artefak berharga yang baru-baru ini ditemukannya. Tapi Joon Jae cuek dan langsung memanggilkan taksi saat itu juga lalu pergi menyeberang jalan sebelum Si Ah sempat memperlihatkan guci bergambar seekor putri duyung mencium pria itu.


Chung sedang menonton drama. Si pemeran wanitanya berkata pada kekasihnya bahwa jika kita menyatakan cinta pada hari pertama salju turun, maka cinta kita akan menjadi kenyataan. Chung tentu saja langsung mempercayainya dan tersenyum saat ada adegan ciuman.


Tapi tiba-tiba Joon Jae pulang. Chung buru-buru menyembunyikan diri di lotengnya. Joon Jae mengeluh saat melihat sisa-sisa roti berceceran di lantai dan drama romansa yang sedang Chung tonton. Joon Jae mematikan TV-nya, tapi Chung menyalakannya lagi lewat remote control dari lotengnya.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon