Powered by Blogger.

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 5 - 2


Chung tiba-tiba mencium bau makanan dari bawah. Tergoda bau enak itu, Chung pun keluar dari lotengnya dan Joon Jae memberinya sepotong sosis. Setelah Chung puas makan, Joon Jae memberinya sebuah ponsel.



Chung tidak tahu cara memakainya, Joon Jae pun mengajarinya untuk memencet speed dial 1 cukup lama agar Chung akan bisa mendengar suaranya. Joon Jae menamakan nomor kontaknya di ponsel Chung dengan nama 'orang yang sebenarnya tidak kukenal'.

Chung mencobanya tapi Joon Jae memperingatkannya untuk memencet tombol itu hanya jika dia sudah mau menceritakan semuanya. Dia juga memberikan kartu transportasi umum lalu mengusir Chung.


Chung bertanya apakah sekarang adalah 'sampai waktu berikutnya'. Joon Jae membenarkannya karena dia berjanji kemarin. Apa Chung tahu kenapa janji itu dibuat? Chung teringat saat mereka di Spanyol dan Joon Jae mengajarinya tentang janji.

Chung pun menjawab "Janji dibuat untuk ditepati"

Dia lalu meminta Joon Jae untuk berjanji juga. Saat Joon Jae bertanya kenapa begitu, Chung mengingatkannya tentang aturan give and take. Dia ingin mereka bertemu lagi di waktu berikutnya saat salju pertama turun. Karena ada yang harus dikatakannya di hari pertama salju turun.

Joon Jae menuntut Chung untuk memberitahunya sekarang saja. Tapi Chung tidak mau dan bersikeras nanti saja di hari pertama salju turun dan dia ingin mereka bertemu di Menara Namsan.

Joon Jae menolak karena ramainya tempat itu dan macet juga. Tapi Chung bersikeras, dia mau pergi hanya jika Joon Jae mau berjanji. Joon Jae akhirnya setuju lalu menyuruh Chung pergi. Dia bahkan langsung bangkit dan menyingkirkan kursinya untuk memberi Chung jalan keluar.


Dari atas balkonnya Joon Jae melihat Chung keluar dari gerbangnya. Tapi saat Chung melihat ke atas, Joon Jae langsung pergi pura-pura mengacuhkannya. Padahal dia buru-buru mengambil handphone-nya untuk melacak kemana perginya Chung melalui aplikasinya dan langsung menggerutu frustasi saat Chung tidak segera bergerak.


Chung akhirnya berjalan pergi dan berhenti di depan sebuah restoran yang di depannya ada akuarium ikan. Sontak ikan-ikan itu ketakutan melihat si duyung. Tapi Chung meyakinkan mereka kalau dia tidak akan memakan mereka.

Ikan-ikan itu mengaduh tentang ketidakadilan yang mereka alami. Tapi Chung merasa apa yang dia alami lebih tidak adil. Dia jauh-jauh datang kemari demi mencari seorang pria. Dia sebenarnya tidak berharap banyak. Dia hanya ingin hidup saling mencintai bersama pria itu.


Setelah mengetahui perbuatan Joon Jae mengusir Chung, Nam Doo langsung memprotesnya karena mengusir Chung di udara yang sedingin ini dan Tae Oh mendukung protes Nam Doo dengan memberi Joon Jae tatapan tajam dan menunjukkan artikel berita bahwa musim dingin kali ini adalah yang terdingin.

Nam Doo mengatai Joon Jae orang yang membingungkan. Kemarin malam dia melaju seperti orang gila demi melindungi Chung dari bahaya dan sekarang dia malah mengusirnya padahal di luar sana jauh lebih berbahaya. 

Lagi-lagi, Tae Oh mendukung kritikan Nam Doo dengan menunjukkan artikel tentang meningkatnya kejahatan selama musim libur musim dingin. Tapi Joon Jae tetap bersikeras dan membela diri, dia kan bukan walinya Chung. Kesal melihat pelototan Tae Oh, Joon Jae langsung menempeleng kepala Tae Oh.


Dia lalu masuk kamar mengacuhkan protes mereka. Padahal sebenarnya dia cepat-cepat membuka aplikasi ponselnya untuk melihat kemana perginya Chung. Dia bingung saat melihat Chung pergi ke daerah Gangnam dan langsung memutuskan pergi untuk melihatnya.


Dia pergi tanpa mempedulikan celotehan Nam Doo tentang target baru mereka. Nam Doo akhirnya menjelaskan pada Tae Oh tentang target baru yang dipilihnya adalah seorang wanita yang kemana-mana pergi dengan stiker Harvard padahal orang itu cuma pernah kursus ketrampilan saja.

Dan target yang Nam Doo maksud itu ternyata adalah Jin Joo yang sekarang sedang mencari bidang tertentu untuk menginvestasikan uang kotor milik suaminya. Jadi walaupun mereka menipu seluruh uangnya, wanita itu tidak akan bisa melaporkannya pada pihak berwajib.


Saat itu, Jin Joo membawa anjingnya ke salon dengan membawa Ibunya Joon Jae. Tapi alih-alih menyapa Jin Joo, pegawai toko malah menyapa Ibu sebagai 'nyonya'. Pfft! Jelas Jin Joo kesal.

Mengira si pegawai mengira Ibu seorang nyonya hanya karena tas mahal yang sedang dipegang Ibu, Jin Joo langsung menyerahkan anjing itu ke Ibu dan mengambil tas mahalnya. Tapi kemudian pegawai kedua datang dan lagi-lagi, Ibu salah dikira sebagai nyonya. Jin Joo makin kesal.


Saking kesalnya gara-gara itu, saat mereka pulang, Jin Joo memutuskan untuk menyuruh Ibu membuang beberapa tas besar baju yang sebenarnya masih baru. Lalu dengan sinis dia mengomentari gaya berpakaian Ibu dan memecatnya dengan memerintahkannya keluar.


Ibu keluar untuk membuang baju-baju itu ke tong sampah. Ia berjalan dengan langkah lesu dan terduduk di sana sembari berusaha menahan kesedihannya karena dipecat. Tanpa ia sadari, Ibu Tiri Joon Jae lewat saat itu dan mampir ke rumah Jin Joo untuk berterima kasih atas kiriman makanannya yang waktu itu.


Ibu Tiri memberitahu Jin Joo bahwa suaminya sudah lama tidak nafsu makan tapi dia memakan memakanan pemberian Jin Joo dengan lahap. Jin Joo senang dan berjanji akan membuatkannya lagi kapan-kapan.


Tepat setelah mobil Ibu Tiri berlalu pergi, Ibu kembali dengan langkah lesu dan berkata kalau dia akan segera mengemasi barang-barangnya. Tapi gara-gara janjinya untuk membuatkan makanan lagi untuk Keluarga Heo, Jin Joo langsung berubah sikap lebih manis pada Ibu.

Dia mengklaim bahwa maksudnya menyuruh Ibu keluar adalah keluar buang sampah dan bukannya keluar dari rumahnya. Dia bahkan membuat-buat alasan untuk semua labrakannya pada Ibu tadi dan berjanji akan menjaga ucapannya pada Ibu mulai sekarang.


Baju-baju yang Jin Joo buang tadi, sekarang ditemukan oleh Chung dan dan teman gelandangannya. Dia mengambil satu mantel lalu memberikannya pada Chung. Sambil mengganti mantelnya, Chung bercerita tentangnya dan Joon Jae.

Karena Cung sekarang harus menjadi tunawisma, dia menyarankan agar Chung tidur berselimut kardus kulkas yang lebih tebal daripada jenis kardus lainnya. Melihat orang-orang lain pulang ke rumah mereka, Chung juga ingin punya rumah.

Tapi si gelandangan memberitahu Chung bahwa rumah milik orang-orang itu adalah milik bank. Orang-orang seperti itu disebut house poor, pengemis yang ditampung di rumah milik bank. Dia meyakinkan Chung kalau mereka jauh lebih kaya dari orang-orang itu karena setidaknya mereka tidak punya hutang.


Chung langsung mengira kalau Joon Jae juga punya hutang di bank dan karena itulah Joon Jae selalu membicarakan uang. Dia lalu bertanya bagaimana caranya membuat uang. Si gelandangan pun membawa Chung untuk bekerja di trotoar membagi-bagikan selebaran pada para pejalan kaki.

Dia mengajari Chung cara mengerjakan pekerjaan itu dan memberitahu Chung bahwa ada orang yang mengawasinya tak jauh dari sana. Setelah itu si gelandangan pergi dan Chung pun dengan antusias memulai pekerjaan barunya, bertekad mendapatkan banyak uang untuk dia berikan pada Joon Jae.


Joon Jae mencari keberadaan Chung lewat aplikasinya. Saat akhirnya dia menemukan Chung, dia sontak bersembunyi di balik pohon. Melihat Chung sedang membagi-bagikan selebaran tanpa hasil, Joon Jae langsung mengatainya bodoh.


Tiba-tiba pak pengawas menghampiri Chung dan mengkomplain kerja tak becus Chung hingga dia mengancam tidak akan membayar jasa Chung. Joon Jae langsung kesal pada si pengawas dan balas dendam dengan melaporkan mobil pengawas pada petugas parkir. Dan tak berapa lama kemudian, pak pengawas yang baru kembali dari membeli kopi, shock mendapati mobilnya diderek.



Chung terus berusaha keras membagikan selebarannya saat tiba-tiba saja beberapa orang anak SMA mendatanginya dan meminta selebarannya. Chung tentu saja memberikan selebarannya dengan senang hati. Tapi biarpun sudah diberi masing-masing selembar, anak-anak itu terus meminta lagi.


Sukses mendapatkan beberapa lembar, anak-anak itu menyerahkan selebaran yang mereka dapat dan Joon Jae memberi mereka 1000 won per lembar.


Sepasang suami istri lewat di depan Chung sambil makan kue berbentuk ikan yang sontak membuat Chung kepingin. Lalu tak lama kemudian, datanglah seorang ahjumma baik hati yang tiba-tiba saja melingkarkan sebuah syal di leher Chung dan memberikan kue ikan itu untuk Chung. Chung merasa tersentuh dengan perhatian ahjumma baik hati itu.


Tapi tentu saja, ahjumma itu adalah suruhan Joon Jae. Begitu dia selesai mengerjakan tugasnya, Joon Jae memberinya beberapa lembar uang. Ahjumma bertanya apakah wanita itu adalah wanita yang akan Joon Jae nikahi. Joon Jae menyangkal, tapi ahjumma tak percaya dan menduga kalau gadis itu pasti cinta pertama Joon Jae. Joon Jae terus menyangkal, tapi tentu saja ahjumma tak percaya.


Seorang pria mendekati Chung dan memberinya kartu nama. Pria itu berkata kalau Chung adalah tipenya dan meminta nomor ponsel Chung. Chung dengan lugunya mengeluarkan ponselnya, tapi tepat saat itu juga Joon Jae menelepon. Chung menjawabnya dengan antusias dan Joon Jae langsung memperingatkannya untuk tidak memberikan nomor ponselnya pada sembarang orang.

"Kenapa?" tanya Chung

"Karena mereka itu orang jahat. Kau pandai menggigit, kan? Orang-orang seperti itu, jika mereka dekat-dekat denganmu, gigit saja mereka"


Chung jelas mempercayainya dan langsung melempar tatapan anjing gila pada pria itu dan sontak membuat pria itu kabur ketakutan. Setelah pria itu pergi, Chung bertanya Joon Jae ada di mana.

"Aku? Aku sangat jauh darimu" jawab Joon Jae... tepat saat pedagang membawa pergi gerobak tempat Joon Jae menyembunyikan diri. LOL!


Chung langsung berteriak memanggilnya, berlari menghampirinya dengan antusias dan bertanya apakah Joon Jae datang untuk bertemu dengannya. Joon Jae menyangkal dan mengklaim kalau mereka kebetulan saja bertemu di sini. Dia menyatakan kalau Seoul itu sebenarnya kecil cuma sebesar telapak tangan jadi orang-orang bisa saja bertemu secara kebetulan.

"Kalau begitu, bisakah kita bertemu secara kebetulan lagi?" tanya Chung dengan polosnya.

"Entahlah, kita lihat saja"


Dia lalu pamit dengan alasan sibuk. Tapi Chung langsung berteriak memanggil namanya. Joon Jae langsung protes dan memperingatkan Chung untuk tidak memanggil namanya keras-keras. Maka Chung pun berbisik di telinga Joon Jae "Hei, Heo Joon Jae. Aku di sini cari uang. Aku akan mendapatkan banyak uang dan memberikan semuanya padamu"

Dia lalu kembali melakukan pekerjaannya, meninggalkan Joon Jae yang tercengang mendengar pengakuannya.


Di kantor, Chi Hyun melaporkan perkembangan pekerjaan mereka pada CEO Heo. Dia lalu bertanya apakah CEO Heo tidak merindukan Joon Jae. Dia mengklaim kalau dia juga ingin bertemu lagi dengan Joon Jae dan menawarkan diri untuk mencari Joon Jae.

Ayah senang mendengar kekhawatiran Chi Hyun pada Joon Jae dan mengaku kalau dia juga sedang mencari tahu keberadaan Joon Jae sekarang. Chi Hyun meminta ayah untuk merahasiakan masalah pencarian Joon Jae ini dari ibunya.

"Kenapa?" tanya CEO Heo

"Tidak kenapa-kenapa"


Chung masih giat bekerja bahkan sampai malam tiba. Dae Young mendekatinya saat itu dan saat Chung melihatnya, dia langsung mengenalinya "Kau pakai topi lagi?"

Wajah Dae Young mengeras seketika. Tapi sebelum dia sempat bereaksi apapun, hujan deras tiba-tiba turun dan Chung langsung pergi mencari tempat berteduh. Dae Young heran, ternyata Chung mengenalinya.


Chi Hyun menghentikan mobilnya di depan rumah Joon Jae sembari mendengarkan radio. Pada saat yang bersamaan, Joon Jae melihat hujan dari balik jendelanya. Hujan itu kemudian berubah menjadi salju dan penyiar radio mengumumkan bahwa itu adalah salju pertama tahun ini.


Chung mengulurkan tangannya pada hujan salju itu tepat saat gadis kecil yang waktu itu, Yoo Na, datang untuk les. Yoo Na langsung curiga, jangan-jangan Chung menunggu di sini untuk merampok uang anak kecil lagi. Chung menyangkal dan menunjukkan selebarannya dengan bangga, dia cari uang sendiri kok sekarang. Dia lalu bertanya apakah ini salju pertama. Yoo Na mengiyakannya.

"Aku harus buru-buru pergi ke Namsan, bagaimana ini?" Chung galau

Entah bagaimana, Yoo Na sepertinya bisa membaca pikiran Chung saat tiba-tiba saja dia bertanya apakah Chung kesana untuk bertemu Joon Jae. Chung kaget mendengarnya, Yoo Na bisa membaca pikirannya?

"Tapi kebanyakan orang sepertinya tidak bisa mendengarkan suaraku yang sesungguhnya"

Yoo Na bingung apa maksud Chung, tapi dia menyarankan agar Chung naik taksi kalau dia punya uang. Kalau tidak, naik bis saja. Chung berterima kasih padanya lalu pergi.


Joon Jae keluar ke balkonnya dan mengulurkan tangannya pada salju sambil menggerutu "Kenapa banyak hal menyebalkan terjadi sejak si bodoh itu muncul?"

Dia lalu membuka aplikasinya dan melihat Chung sedang dalam perjalanan ke Namsan. Joon Jae akhirnya ganti baju untuk menemui Chung. Dia berjalan keluar sambil menggerutu tapi juga tersenyum. Dia pun pergi, tanpa menyadari Chi Hyun yang sedang membuntutinya.


Chung akhirnya turun dari bis dan langsung berlari ke arah menara tepat saat mobilnya Joon Jae lewat tapi mereka tidak saling melihat. Joon Jae sedang membayar parkir sementara Chung di belakangnya berhenti untuk menatap menara itu.


Tapi tiba-tiba saja mobilnya Chi Hyun menabrak Chung. Chung pun jatuh dan selebarannya berterbangan. Joon Jae tidak melihat kecelakaan itu dan terus melaju masuk. Chi Hyun keluar dan shock melihat Chung terbaring di tanah dan berdarah.

Chung menatap menara dengan berlinang air mata tapi pandangan matanya perlahan mulai mengabur hingga akhirnya dia pingsan.



Di bawah menara ramai orang. Joon jae pun menunggu di atas menara. Sambil berusaha menahan hawa dingin, dia bertanya-tanya dimana Chung. Dia mengecek aplikasinya dan melihat Chung ada di sini. Joon Jae pun terus menunggu.

Epilog:


Saat Se Hwa ditangkap di rumah Bangsawan Yang, beberapa anak melemparinya dengan batu tapi langsung kabur saat Se hwa terbangun. Seorang gadis kecil (kembaran Yoo Na di dunia modern) ikut berlari tapi kemudian dia berhenti karena mendengarkan suara telepati Se Hwa yang meminta tolong.

Dia memberitahu oppa-nya kalau putri duyung itu barusan minta tolong. Tapi oppa-nya tak percaya dan mengklaim kalau dia tidak mendengar apa-apa lalu menyeretnya pergi.


Di dunia modern, Yoo Na menatap menara Namsan dari balkonnya saat Ibunya memanggilnya masuk. Sembari menunjuk ke menara, dia memberitahu Ibu kalau Unnie sedang minta tolong sekarang. Tapi Ibu tak percaya dan mengira kalau Yoo Na cuma sedang beralasan untuk tidak belajar lalu menyeret Yoo na masuk.

Bersambung ke episode 6

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon