Powered by Blogger.

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 8 - 2


Jin Joo sedang bicara manis pada ibu mertuanya di telepon. Si Ah kagum pada kehebatan kakak iparnya yang bisa menyenangkan ibunya dengan mudah padahal ibunya biasanya susah dibuat senang.

Jin Joo memberitahu Si Ah bahwa pria akan takluk pada wanita yang memperlakukan ibunya dengan baik.Buktinya oppanya Si Ah, setelah kerjaannya cuma main-main, sekarang oppanya Si Ah itu menikah dengannya yang baik pada ibunya.

Jadi kalau Si Ah mau memenangkan hati pria yang dia buatkan makanan waktu itu, maka Si Ah harus bisa mengambil hati ibunya. Tapi pria itu tidak pernah menceritakan tentang keluarganya ataupun ibunya. Jin Joo menyarankannya untuk membuat pria itu mabuk saja dan tanyai dia saat itu.


Ibu datang saat itu memberikan kopi untuk mereka. Tapi Si Ah langsung memuntahkannya karena kopi itu bukan kopi yang biasanya dia minum. Dia tidak mau tahu alasan ibu dan ngotot minta kopi yang biasanya. (Pfft! Seandainya dia tahu kalau ahjumma itu ibunya Joon Jae)

Awalnya Ibunya Joon Jae diam saja. Tapi kemudian dia berbalik kembali untuk mengkonfrontasi sikap tidak sopan Si Ah pada orang yang lebih tua. Si Ah tidak terima diceramahi pembantu.

"Aku tidak menceramahimu. Tapi kalau kau belajar sesuatu dari ucapanku tadi, aku akan senang" ujar Ibu

Si Ah makin kesal mendengarnya, tapi Jin Joo cepat mengalihkan pikirannya dan mengingatkannya untuk mengambil hati pria yang Si Ah sukai itu.


Maka keesokan harinya, Si Ah menanyakan Ibu Joon Jae pada Nam Doo. Nam Doo hanya mau bicara setelah Si Ah menjawab pertanyaannya, apa yang dilakukan Joon Jae di museum kemarin.

Si Ah memperlihatkan gambar vas itu dan memberitahu kalau pemiliknya adalah Kim Dam Ryung. Nam Doo jadi semakin penasaran saja, pasti ada maksud dari benda-benda itu, tidak mungkin cuma kebetulan saja.

Nam Doo lalu memberitahu Si Ah bahwa Joon Jae dan ibunya terpisah sejak dia kecil dan keberadaannya tidak diketahui sampai sekarang. Tidak ada jejak hingga dia mengira kalau mungkin ibunya Joon Jae sudah meninggal dunia. Si Ah jadi ingin menemukan ibunya Joon Jae, dia yakin kalau dia bisa baik pada ibunya Joon Jae.


Saat itu, Ibunya Joon Jae sedang termenung sedih menatap foto keluarga bahagianya dulu... foto yang sama dengan yang dilihat oleh Ayahnya Joon Jae di kantornya.

CEO Heo lalu menelepon Pengacara Lee dan minta bertemu karena dia ingin surat wasiatnya disahkan. Dia bertanya apakah wasiatnya itu bisa disahkan hanya dengan nomor KTP walaupun si penerima wasiat tidak bisa hadir? Pengacara Lee bilang bisa.


Sayangnya, CEO Heo tidak tahu kalau Pengacara Lee saat itu sedang bersama Ibu Tirinya Joon Jae. Dia bahkan melaporkan rencana CEO Heo itu pada Ibu Tiri.


Saat Si Ah hendak keluar, Chung menghadangnya dan menuntut bicara dengannya. Melihat ketegangan diantara kedua wanita itu, Nam Doo langsung pamit pergi duluan. Chung bertanya "Apa yang harus kulakukan agar pria menyukai wanita?"

Si Ah jelas menolak menjawab tapi Chung langsung menghadangnya dan bersikeras menuntut jawaban. Dia yakin Si Ah tahu karena setiap kali ada Joon Jae, Si Ah pasti bersikap sok anggun dan malu-malu. Dia mengaku kalau dia bertanya karena dia tidak punya banyak waktu jadi dia ingin Joon Jae menyukainya secepat mungkin.

Dengan senyum licik, Si Ah mengklaim kalau Joon Jae itu gampang kok. Joon Jae suka kalau orang yang dia sukai pergi karena dengan begitu dia akan lebih merindukan orang itu. Jika Chung terus berada di dekat Joon Jae maka suasananya akan kontraproduktif, Joon Jae akan bosan dan muak padanya.

Sesaat, Chung tampaknya mulai mempercayainya. Tapi yang tidak Si Ah sangka, Chung malah mendengus sinis. Dia tahu betul kalau Si Ah berbohong karena selama Si Ah bicara tadi, dia banyak melakukan berbagai hal yang menunjukkan kalau dia berbohong seperti menghindari kontak mata, menyentuh telinga dan rambutnya. Karena itulah Chung memutuskan kalau yang perlu dia lakukan adalah melakukan kebalikan dari semua ucapan Si Ah tadi.

"Cha Si Ah kau boleh pergi. Aku akan berlama-lama di depan Heo Joon Jae dan dekat-dekat dengannya"


Saat Joon jae hendak keluar ke perpustakaan, Chung benar-benar melakukan tekadnya tadi dengan menempel lekat-lekat pada Joon Jae dan membuat Joon Jae terganggu. Ada apa sih dengan Chung hari ini? herannya.

"Apa kau sudah punya rencana untuk menyukaiku?" bisik Chung karena ada Tae Oh di atas

Joon Jae protes karena sekarang baru sehari. Kalau begitu Chung memutuskan untuk memberi Joon Jae lebih banyak waktu dan menyatakan mau ikut ke perpustakaan. Joon Jae tidak mau mengajaknya tapi Chung bersikeras menempel padanya.


Joon Jae makin kesal. Tapi saat Chung memberitahu kalau Nam Doo tak ada di rumah dan takut meninggalkan Chung di rumah berduaan dengan Tae Oh, akhirnya dia memutuskan mengajak Chung bersamanya ke perpus dengan alasan untuk menambah ilmu pengetahuan Chung. Tae Oh langsung menatapnya tak percaya.

 

Setibanya di perpus, Joon Jae mendudukkan Chung dan menyuruhnya untuk membaca apa saja sementara dia mau mencari buku sejarah. Tapi saat dia hendak pergi, Chung berseru memanggilnya dan sontak semua mata langsung menatap mereka.


Joon Jae langsung kembali untuk berbisik di telinga Chung, menyuruhnya jangan berisik karena ini tempat orang belajar. Chung senang dengan kedekatan mereka dan langsung balas berbisik "Aku suka perpustakaan. Aku bisa bisik-bisikan denganmu seperti ini. Aku suka bisik-bisik"

Joon Jae tersenyum geli mendengarnya. Seorang wanita tiba-tiba mendekati Joon Jae dan memberinya sebuah surat. Joon Jae langsung kepedean mengira itu surat cinta. Tapi malah mendapati peringatan yang memintan mereka untuk keluar dan bicara di tempat lain saja karena mereka berisik.


Joon Jae langsung kesal. Chung penasaran apa si surat itu. Joon Jae berbohong mengatakan kalau wanita itu bilang dia tampan dan wanita itu menyukainya. Chung langsung bangkit penuh amarah, mau mencakar wanita itu. Tapi Joon Jae buru-buru menghentikannya dan mendudukannya kembali.


Sesaat kemudian, Joon Jae akhirnya membaca buku sejarah yang dicarinya tentang Kim Dam Ryung. Dia membaca bahwa Dam Ryung hidup di masa pemerintahan Raja Seonjo, lahir tahun 1572, dia menikah dengan putri perdana menteri namun istrinya meninggal dunia di tahun berikutnya.

Lalu pada musim semi tahun 1598, Dam Ryung ditunjuk sebagai pejabat kota di Hyeoguk Provinsi Gangwon. Lalu pada tahun yang sama tanggal 11 Desember, Dam Ryung meninggal dunia pada usia 27 tahun.

"Dia meninggal?"


Lalu tiba-tiba Dam Ryung tersentak bangun dari mimpinya... mimpi Joon Jae di perpustakaan sedang membaca informasi kematiannya. Tabib yang menjaga Se Hwa bersamanya, mencemaskan Dam Ryung.

Dia mengaku pada tabib kalau belakangan ini dia sering bermimpi sampai dia takut tidur. Dia bahkan tidak bisa mengartikan apakah itu cuma mimpi ataukah kenyataan. Teringat saat Joon Jae membaca informasi kematiannya tanggal 11 Desember, Joon Jae menyadari saat itu adalah 20 hari dari sekarang.


Tabib memberitahu Joon Jae bahwa setelah mengobati Se Hwa, dia menyadari kalau Se Hwa memang bukan makhluk biasa. Jika dia memang putri duyung seperti kata orang-orang, sepertinya dia tidak akan pulih jika dia terus tinggal di sini.

Dia menyarankan agar Dam Ryung mengembalikan Se Hwa ke laut secepat mungkin. Dam Ryung menatap Se Hwa sejenak lalu memakaikan gelang gioknya ke tangan Se Hwa.


Kembali ke masa depan, gelang itu sekarang ada di tangan Joon Jae. Dia bertanya-tanya kenapa Dam Ryung meninggal dunia secepat itu. Dia menyadari kalau Dam Ryung meninggal dunia di usia yang sama dengannya.


Di bagian buku anak, seorang anak kecil menemukan sebiji mutiara yang terjatuh. Dia tidak tahu kalau itu adalah air mata Se Hwa yang saat itu menangis membaca kisah dongeng sedih The Little Mermaid yang menceritakan putri duyung kembali ke lautan dan tubuhnya berubah menjadi gelembung.


Chi Hyun mengunjungi Manager Nam di rumah sakit. Chi Hyun yakin kalau Manager Nam bukan tipe orang yang menyetir sambil mabuk. Istrinya Manager Nam setuju. Dia mengaku mendapatkan catatan ponsel suaminya tapi tak ada yang janggal sebelum kecelakaan terjadi.

Chi Hyun minta izin untuk membawa catatan itu, dia ingin membantu menyelidikinya dengan bantuan teman-temannya yang berprofesi sebagai polisi dan jaksa. Istri Manager Nam langsung berterima kasih padanya, sebelumnya dia tidak tahu harus apa karena ibunya Chi Hyun menyuruhnya untuk tidak membesar-besarkan masalah ini. Chi Hyun jelas langsung curiga.


Keluar dari perpus, Joon Jae mendapat sms dari Manager Nam (Dae Young pastinya) yang memberitahukan waktu dan tempat ketemuan mereka malam ini. Setelah membaca sms itu, Joon Jae ingin mengantarkan Chung pulang. Tapi Chung menolak, dia mau bertemu dengan temannya.

"Siapa? Si PNS itu?" duga Joon Jae. Chung membenarkannya. Kesal, Joon Jae mengingatkan Chung tentang aturan jam malamnya lalu pergi.


CEO Heo hendak pergi saat istrinya datang, pura-pura tak sengaja lewat lalu mengajak suaminya makan malam bersama. CEO He baru saja memberitahu kalau dia ada janji lain malam ini. Tapi pengacara Lee menelepon saat itu dan berbohong kalau dia ada urusan lain. CEO Heo akhirnya menerima ajakan istrinya.


Chung pergi menemui Jeong Hoon di pos penjaga pantai. Tapi di sana, dia malah diberitahu kabar buruk. Jeong Hoon sudah meninggal dunia karena serangan jantung beberapa hari yang lalu saat dia tengah berusaha aksi penyelamatan di Sungai Han. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.



Seorang wanita lain bergegas datang saat itu dan menanyakan Jeong Hoon. Dia mengkonfirmasi pada penjaga pantai bahwa dia adalah Kim Hye Jin (Cameo Jung Yumi) yang dia hubungi tadi.

Dia shock saat penjaga pantai membenarkan kematian Jeong Hoon lalu memberikan sebuah kotak hadiah kecil pada Hye Jin. Jeong Hoon sepertinya tahu akan kematiannya karena dia meninggalkan kotak itu didalam lokernya lengkap dengan nama dan nomor telepon Hye Jin.

Di dalam kotak itu adalah sebuah cincin berhiaskan mutiara pink, air mata kebahagiaan Jeong Hoon yang hanya pernah dialaminya satu kali selama dia hidup di sini. Ia pun memberitahu Hye Jin tentang hal itu "Dia sangat bahagia karena dia menangis karenamu. Dia pasti ingin meninggalkan semua momen bahagia itu di sini"


Mereka duduk bersama di tepi sungai dimana Hye Jin mengaku bahwa dia tak tahu kalau Jeong Hoon memiliki teman padahal selama ini Jeong Hoon selalu menyimpan rahasia darinya. Chung bertanya apakah Hye Jin meninggalkannya karena dia benci rahasia?

"Rahasia ada karena orang-orang berbeda. Karena kau tidak boleh ketahuan kalau kau berbeda. Karena itulah rahasia pada akhirnya bisa melukai kedua belah pihak. Baik orang yang merahasiakan dan orang yang tidak boleh tahu rahasia itu. Karena itulah jika mereka terlalu berbeda maka pada akhirnya mereka tidak bisa bersatu"


"Kau tidak bisa bersatu jika kau berbeda?"

"Karena kau tahu kau hanya akan menyakiti perasaannya. Apa kau bisa bersatu hanya karena alasan kau mencintai orang itu?"

"Jeong Hoon bilang kalau dia tidak menyesalinya. Karena jantungnya berdetak hanya untuk satu orang. Jadi walaupun jantungnya mengeras dan mati, dia tidak menyesal datang ke sini"

Saat dia bertanya kenapa Jeong Hoon tidak menghapus ingatan Hye Jin, Jeong Hoon bilang bahwa mereka memiliki terlalu banyak kenangan indah. Jeong Hoon berharap kenangan indah itu akan selalu bersama Hye Jin dan menjadi kekuatan baginya.


Hye Jin menitikkan air mata mendengar itu. Dia buru-buru pergi, tapi baru beberapa langkah dia terjatuh lemas dan menangis sembari memeluk kotak cincin mutiara itu. Saat itu juga, Chung tiba-tiba merasakan sakit di jantungnya.


Joon Jae tiba di tempat janjian. Tapi dia langsung curiga saat melihat tempat itu adalah sebuah gedung kosong dan terpencil. Dia langsung bersiaga dengan pistol kecil lalu menelepon seseorang.


Dia lalu masuk kedalam gedung kosong itu dengan waspada dan teringat saat dia mendapat seseorang membuntutinya dan orang mencurigakan yang menyamar jadi polisi waktu itu. Dia lalu menelepon Manager Nam dan mendengar suara ringtone Manager Nam di dekat situ. Perlahan dia mendekati asal suara... dan mendesah lega saat mendapati tak ada siapa-siapa di sana.


Tapi dia hampir jantungan saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Chung lah yang menelepon dengan suara lemah sampai membuat Joon Jae cemas dan bertanya dimana Chung sekarang. Gara-gara itu dia jadi tidak waspada dan tidak melihat Dae Young di belakangnya. Dia mengeluh saat Chung memberitahukan keberadaannya dan menyuruh Chung menunggunya, dia akan segera ke sana.


Dia berbalik setelah mematikan teleponnya dan mendapati Dae Young dengan senyum mengerikan. Joon Jae bertanya apakah Dae Young yang membuntutinya dan menyamar jadi polisi?

"Dimana ahjussi? Kenapa kau memiliki ponselnya?"

Dia menuntut Dae Young menjawab secepat mungkin karena dia harus pergi. Tapi Dae Young langsung memutar-mutar palunya sebelum mengayunkannya ke Joon Jae. Untunglah Joon Jae bergerak cepat menghindarinya.


Dia lalu menyemprot mata Dae Young dengan pistol mainannya dan menendang palu itu menjauh. Dia hendak menghipnotis Dae Young. Tapi saat dia menyalakan pemantik apinya, tiba-tiba dia mendapat penglihatan Dae Young sebagai Bangsawan Yang.


Joon Jae shock hingga dia melepaskan Dae Young. Jelas saja Dae Young langsung memanfaatkan kesempatan untuk menyerang Joon Jae dan menghantamnya dengan kursi. Joon Jae tak mampu melawan.

Dae Young lalu mengeluarkan sebuah obeng dan mengayunkan obeng itu pada Joon Jae... tapi tiba-tiba terdengar suara rentetan klakson mobil dan kilatan cahaya dari luar. Joon Jae akhirnya punya kesempatan melawan Dae Young. Tapi dia terlalu lemah hingga Dae Young berhasil melarikan diri.


Joon Jae akhirnya keluar dengan wajah berdarah dan mendapati beberapa taksi sudah menunggu di sana. Ternyata sebelum dia masuk tadi, dia menelepon Nam Doo. Awalnya Nam Doo mengusulkan menelepon polisi, Joon Jae jelas tak setuju karena dia bisa ditangkap juga. Jadi dia menyuruh Nam Doo untuk memanggil taksi dan menyuruh para supir taksi untuk membunyikan klakson.

Dalam keadaan masih lemah dan lelah, dia membuka dompetnya untuk membayar para supir taksi itu dan menawarkan 10 kali lipat pada siapapun yang bisa mengantarnya ke Sungai Han secepat mungkin.


Joon Jae makin cemas saat ponselnya Chung tidak bisa dihubungi dan memaksa pak supir untuk ngebut lebih cepat karena orang yang akan ditemui sedang sakit dan sendirian. Pak supir heran sendiri karena jelas-jelas Joon Jae yang sakit.


Chung termenung di tepi sungai sambil mengingat ucapan Hye Jin "Apakah kami memang tidak bisa bersatu?"


Joon Jae akhirnya tiba di Sungai Han sambil memegangi perutnya yang kesakitan. Dia tak melihat Chung dan terpaksa berjalan mencari Chung dengan langkah terhuyung.


Teringat saat Jeong Hoon menyuruhnya kembali sebelum terlambat, Chung melihat air di hadapannya dan bertanya-tanya "Haruskah aku pergi?"

"Kau mau pergi kemana?" panggil Joon Jae dari belakangnya.

Chung berbalik dan langsung cemas melihat Joon Jae, tapi Joon Jae sendiri lebih mencemaskan keadaan Chung. Dan mereka terus otot-ototan saling mengkhawatirkan satu sama lain.


Air mata Chung berlinang saat dia memberitahu Joon Jae bahwa dia memiliki banyak rahasia yang tidak bisa dia beritahukan pada Joon Jae "Karena rahasiaku, kau jadi terluka, sakit dan berdarah. Aku tidak suka itu. Aku juga tidak mau membuatmu bersedih"

"Kalau begitu?"

"Aku akan kembali. Ke tempat asalku. Sebelum terlambat"


Joon Jae tampak berkaca-kaca mendengarnya dan bertanya apakah Chung berkata seperti ini karena ingin mendengar apakah dia punya rencana menyukai Chung. Maka dia pun menjawab "Aku punya rencana. Jadi... jangan pergi"

Epilog:


Di jaman Joseon, Dam Ryung tertidur dengan menggenggam erat tangan Se Hwa. Se Hwa terbangun tak lama kemudian dan Dam Ryung membantunya bangun. Se Hwa memberitahu Joon Jae bahwa dia akan kembali ke laut, itulah yang terbaik bagi mereka berdua untuk bertahan hidup.

"Sama seperti pertama kali kita bertemu. Hanya aku yang mengingatnya dan kau tidak mengingatnya. Kita harus hidup seperti itu di dunia kita masing-masing. Sekarang aku tidak akan kembali lagi. Jadi kau harus melupakan semuanya" ucap Se Hwa dengan berlinang air mata.

Dam Ryung bertanya kenapa Se Hwa menghapus ingatannya saat mereka pertama kali berpisah. Dam Ryung berkata karena jika dia tidak menghapusnya maka Joon Jae akan menderita setiap hari.


Joon Jae membenarkannya, jika Se Hwa tidak menghapus ingatannya maka dia pasti akan merindukan Se Hwa setiap hari. Tapi kali ini dia melarang Se Hwa menghapus ingatannya.

"Kenangan ini, ingatan ini... walaupun menyakitkan, tapi aku akan membawanya bersamaku sampai akhir. (Kenangan dan ingatan) Itu milikku"

Dam Ryung lalu mendekat dan mencium lembut bibi Se Hwa.

Bersambung ke episode 9

1 comments:

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon