Powered by Blogger.

 Content and Images Copyrights by tvN

Sinopsis Goblin Episode 13 - 1



Mengetahui jati diri Malaikat Maut yang selama ini tinggal bersamanya, Shin berjalan menaiki tangga kuil ke arah Wang Yeo, sama seperti saat di Goryeo dulu. 

Kali ini ia berhasil mencapai Wang Yeo dan langsung mencekiknya, "Prajurit Kim Shin, mengucap salam padamu, Yang Mulia. Aku bertemu kembali dengan Yang Mulia setelah 900 tahun. Entah apa yang menutupi mataku. Apakah karena 900 tahun telah berlalu ataukah karena kebencianku pada Dewa. Kau ada di di dekatku, tapi aku tidak mengenalimu. Kau ternyata... Wang Yeo."


Setetes air mata mengalir di pipi Wang Yeo saat dia bertanya apakah dia sungguh Wang Yeo? Apa dia benar-benar si bodoh itu? Dengan emosi berkecamuk Shin memberitahunya bagaimana perjuangannya di medan perang dan bagaimana mereka kembali dengan membawa kemenangan, tapi Wang Yeo malah membayar semua perjuangannya itu dengan membunuhi anak-anak buahnya yang tak berdosa dan adiknya tepat di depan matanya. Semuanya karena perintah dari Raja bodoh itu.

"Maksudmu, aku adalah dia... aku adalah Wang Yeo?" isak Wang Yeo.

Mendengar itu, Shin semakin mempererat cekikannya tapi Wang Yeo hanya menatapnya dengan air mata penuh penyesalan tanpa perlawanan sedikitpun hingga perlahan Shin mulai menurunkan tangannya. Setiap hari dia selalu teringat akan saat-saat penuh penderitaan itu. Tapi Wang Yeo pasti hidup nyaman karena tidak bisa mengingat apapun.


Teringat saat Wang Yeo muda menyindirnya bahwa Dewa tidak akan memihaknya, Shin dengan getir berkata "Bahkan setelah 900 tahun, Dewa masih memihakmu."

Shin pergi meninggalkan Wang Yeo dalam kesedihannya dan penyesalannya. Melihat papan-papan nama para almarhum di kuil, Wang Yeo bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah dilakukannya dulu? Ingatan apa yang Dewa ambil darinya? Pilihan apa yang dia ambil dulu? "Seberapa... pengecutnya aku?"


Di rumah, Eun Tak melihat kamar Shin dan Wang Yeo sama-sama kosong. Akhirnya dia hanya bisa menunggu dengan cemas. Shin akhirnya pulang tak lama kemudian, Eun Tak bertanya apakah Shin sudah bertemu dengan Kasim Park.

Shin membenarkannya, dia bertemu Kasim Park dan Wang Yeo. Dia lalu menyuruh Eun Tak berkemas, mereka akan pergi ke rumah Kakek Yoo. Eun Tak mengiyakannya.

Tapi melihat tak ada reaksi apapun dari Eun Tak, Shin bertanya apakah Eun Tak sudah tahu kalau Malaikat Maut adalah Wang Yeo. Eun Tak mengaku kalau Kasim Park memberitahunya. Dia memutuskan untuk tidak memberitahu Shin karena dia meragukan niat Kasim Park.

"Apakah aku harus memberitahumu atau tidak, kupikir jika kau ditakdirkan untuk melewatkannya maka kau akan melewatkannya dan jika kau ditakdirkan bertemu dengannya maka kau akan bertemu dengannya suatu hari nanti. Maafkan aku."


Shin tak menjawabnya dan hanya menyuruhnya untuk segera berkemas. Tak lama kemudian, mereka sudah membawa beberapa tas ke Deok Hwa yang keheranan melihat kedatangan mereka. Shin mengintruksikan Deok Hwa untuk meliburkan para pegawai untuk sementara waktu. Deok Hwa mengiyakannya tapi dia tidak mengerti kenapa mereka harus tinggal di sini.

"Kami masing-masing akan mengam satu kamar di lantai dua jadi jangan mencemaskan kami."

"Baiklah. Tapi kenapa kalian harus tinggal di sini?"

Eun Tak berinisiatif untuk tinggal bersama Sunny saja, Sunny juga pasti sedang cemas saat ini. Shin menyetujuinya dan meminta Eun Tak untuk menjaga Sunny. Kalau terjadi apapun... Eun Tak memotongnya, dia mengerti apa yang harus dilakukannya, Deok Hwa yang akan mengantarnya.


Deok Hwa jadi semakin penasaran, kenapa mereka tiba-tiba pergi dari rumah? Dia menduga kedua paman pasti sedang bertengkar. Tapi kalaupun begitu, seharusnya yang ditendang dari rumah itu adalah Wang Yeo. Eun Tak berkata bahwa Shin berusaha lebih bijak karena Wang Yeo tak punya tempat lain untuk dituju.


Sunny mendatangi rumah Shin Tapi tak ada siapapun yang menjawab gedoran pintunya, bahkan nomor Wang Yeo pun tidak bisa dihubungi. Sunny hanya bisa mendesah teringat tuduhan Shin. Wang Yeo pulang setelah Sunny pergi. Beberapa saat lamanya dia hanya berdiri di depan pintu dan baru masuk tak lama kemudian, mengedarkan pandangannya menatap sedih rumah yang sekarang kosong itu.


Saat Sunny menanyakan keberadaan Oraboni-nya, Eun Tak mengaku kalau dia dan Shin sudah meninggalkan rumah. Mendengar itu, Sunny langsung mencemaskan Wang Yeo. Tapi Eun Tak meyakinkannya kalau Wang Yeo mungkin ada di rumah. Sunny lega mendengar Wang Yeo masih hidup. Berusaha sedikit menceriakan suasana, Eun Tak bercanda mengatakan kalau dia ragu apakah Wang Yeo masih hidup atau tidak.

Tapi dia penasaran, bagaimana Sunny bisa mengingat kehidupan masa lalunya. Sunny teringat ciuman mereka dan hanya menjawab, "itu sangat seksi."


Sunny cepat-cepat mengalihkan topik, mengajak Eun Tak minum-minum. Teringat ucapan Eun Tak bahwa hidup manusia memiliki 4 tahapan kehidupan, Sunny berpikir kalau hidupnya yang sekarang mungkin tahapan yang keempat. Karena sekarang dia mengetahui setidaknya dua kehidupannya. Dia juga bertemu oraboni-nya dan kekasihnya di masa kini.

"Bagaimana denganmu?" tanyanya pada Eun Tak.

"Aku berharap ini kehidupan pertamaku."

"Kenapa? agar kau bisa bertemu dengan oraboni-ku untuk kedua, ketiga dan keempat kalinya dalam hidupmu?"

Eun Tak langsung mengangguk penuh semangat. Seharusnya Eun Tak melihat betapa keras kepalanya Shin di jaman Goryeo dulu, "Untuk apa dia kembali dari medan perang kalau dia sudah tahu dia akan tetap mati? Seharusnya dia melarikan diri saja dan bertahan hidup."


Sementara itu di kamar atap, Hoobae lagi-lagi melayangkan protes pada Nenek Samshin karena ternyata sejak Sunny pindah, dia diharuskan membayar lebih 4 dollar. Dia berusaha melas, tapi Nenek Samshin santai saja berkata (mengomentari percakapan Sunny dan Eun Tak tentang tahapan kehidupan), "Mau itu yang pertama atau yang keempat, keduanya tetap sama berharganya, kan?"

Hoobae tidak mengerti apa maksudnya. Dia terus berusaha mengeluhkan pipa airnya yang beku dan ketidakadilan pembayaran kontrakannya. Tapi Nenek Samshin terus saja bicara ambigu, "Takdir itu bisa jadi sesuatu yang sangat menyedihkan. Apakah mereka akan berakhir dengan membayar mahal?"

Hoobae jadi frustasi hingga dia memutuskan menanyakan nama Nenek Samshin. Nenek Samshin santai saja menyuruh Hoobae membayar pakai uang tunai, dia tidak terima kartu kredit.


Shin menghabiskan bergelas-gelas alkohol dengan sedih seorang diri, mengenang saat Wang Yeo memberinya pedang itu dan memerintahnya membawa pulang kabar kematiannya saja. Tapi dia juga teringat bagaimana Wang Yeo yang sekarang pernah berkata kalau dia tidak ingin Shin mati.


Wang Yeo berjalan bersama Hoobae. Tapi dia terus melamun dan tidak mendengarkan ocehan Hoobae tentang rumor yang mengatakan bahwa Malaikat Maut yang ingat pada kehidupan masa lalunya itu, ditipu sebuah roh hingga dia tak sengaja menyentuh tangan orang yang sudah mati. Dia penasaran apa mungkin roh itu adalah roh hilang yang Wang Yeo lewatkan waktu itu.

Wang Yeo baru sadar dari lamunannya saat Hoobae menegurnya, "Ada apa dengan Roh Hilang itu?" tanyanya.


Di sebuah gang gelap, Malaikat Maut wanita berusaha melarikan diri tapi Kasim Park mencegatnya. Sontak Malaikat Maut langsung gugup, Kasim Park jadi yakin kalau Malaikat Maut pasti sudah memegang tangan Sunny dan melihat masa lalunya, jadi apa dia sudah melihat dosa apa yang dilakukannya dulu?

Tapi Malaikat Maut begitu ketakutan hingga dia berbohong mengatakan tidak melihat dirinya sendiri di sana. Dia hanya melihat wanita itu adalah ratu di suatu jaman tapi dia mengakui melihat Kasim Park juga di sana. lalu apa dia juga melihat tangan yang menyerahkan ramuan, tangan sekecil dan sepucat tangan Malaikat Maut?

Malaikat Maut langsung menatap kedua tangannya dengan gemetaran, teringat saat dia melihat dirinya di Goryeo menjadi dayang yang menyajikan ramuan racun untuk Raja terdahulu dan Sun. Melihat ekspresi-nya, Kasim Park mengingatkan "Dosaku adalah dosamu."

Saat Malaikat Maut menolak mempercayainya, Kasim Park menegaskan bahwa dialah yang memberikan ramuan itu dulu. Kasihan sekali dia sampai kehilangan semua ingatannya dan tidak bisa mengenali dirinya sendiri.

Dengan senyum liciknya, Kasim Park mengingatkan Malaikat Maut kalau dia bisa mendapat masalah besar jika dia sampai ketahuan menggunakan kekuatannya untuk keperluan pribadi. Karena itulah, sebaiknya mereka sepakat untuk saling merahasiakan dosa-dosa mereka.


Tak lama kemudian, Kasim Park sudah ada di hadapan Sunny dengan tekad untuk menghabisi Sun sama seperti dulu. Tapi Wang Yeo tiba-tiba muncul menghalanginya dari Sunny dan langsung mencekiknya. "Roh Hilang, kita pernah bertemu sebelumnya. Aku merasakannya 20 tahun yang lalu kalau kau adalah iblis. Kau bertahan hidup dengan mengambil ingatan dan energi gelap manusia."

Kasim Park mengklaim kalau dia hanya mengambil nafsu hitam manusia, dia kah yang menutp mata mereka? Atau mereka sendiri yang menutup mata?


Dalam flashback, tenryata Kasim Park lah orang yang membisiki semua orang yang hampir mencelakai hidup Eun Tak: si penabrak Ibu Eun Tak, si pencopet dan dia pula yang membisiki mantan suami si hantu.


Malas mendengarkan omong kosong Kasim Park, Wang Yeo menuntut nama Kasim Park. Kasim Park tersenyum remeh, bahkan seklaipun Wang Yeo mengetahui namanya tapi Wang Yeo tidak akan bisa melakukan apapun padanya. Karena itulah dia mampu bertahan sampai 900 tahun.

Saat Wang Yeo mencekiknya makin erat dan terus menuntut namanya, Kasim Park melepaskan diri dengan menghilang dan muncul kembali tak jauh dari sana. Apa Wang Yeo bahkan mengetahui namanya sendiri? Apa dia mau tahu? Sampai sekarang pun dia masih menggenggam sesuatu yang murahan (Sunny).

"Kau menggenggamnya karena itu sangat berharga, tapi itu juga ditakdirkan untuk mati di kehidupan ini," ucap Kasim Park. Dia lalu pergi, mengambili energi para pejalan kaki yang langsung pingsan seketika. Wang Yeo heran setelah mendengar semua ucapan Kasim Park, apa hantu itu mengenalnya?


Shin termenung sedih, teringat saat-saat kebersamaannya dengan Wang Yeo. Saat mereka memasak bersama, saat mereka minum-minum bersama, sata mereka tertawa bersama. Ponselnya berbunyi saat itu dari Wang Yeo, tapi Wang Yeo menyapanya sebagai Deok Hwa, entah apakah Wang Yeo salah pencet karena terlalu merindukan Shin.

Shin membuka mulut tapi tak ada kata apapun yang keluar. Menyadari diamnya orang di seberang, Wang Yeo sadar dengan siapa dia bicara. Mereka saling terdiam, saling mendengarkan tapi tidak saling bicara.


Di kampus, Eun Tak mendapati Wang Yeo menunggunya di depan. Mereka keluar dimana Eun Tak menggambarkan bentuk pedang yang ada di dada Shin. Wang Yeo bertanya kenapa Eun Tak tidak menanyakan apapun? Eun Tak pasti berpihak pada Shin. Tapi tidak bisakah sekali saja, Eun Tak berpihak padanya.


Apa? tanya Eun Tak. Wang Yeo menyerahkan cincin gioknya dan meminta Eun Tak menyerahkannya pada Sunny. Dia menyadari tidak seharusnya dia menjadikan cincin itu sebagai alasan. Wang Yeo masih yakin kalau Sunny tidak mengingatnya jadi dia meminta Eun Tak untuk mengarang sesuatu tentang cincin itu. Wang Yeo pun pergi.

Eun tak mengambil cincin itu dan bergumam, "Kurasa... dia mengingatmu."


Eun Tak mendapati Sunny masih menatap keluar jendela. Apa dia masih menunggu sang Raja? Sunny mendesah sedih, dia tidak bisa menunggu raja lagi. Eun Tak bertanya kenapa? Apa karena Sunny mengingat masa lalunya sekarang?

"Wanita yang mencintai Raja adalah adik dari seorang pengkhianat. Karena itulah aku mati di tangannya. Aku bingung apakah orang yang merasa hatinya tercabik-cabik adalah aku ataukah diriku di masa lalu? Apa menurutmu dia (Raja) juga sedih? Aku hanya bisa melihat punggungnya."

Sunny mengaku kalau dia diminta untuk mengingat ingatan yang bahagia saja. Dia pasti bahagia bahkan di saat itu karena dia bisa mengingat semuanya. Mendengar semua itu, Eun Tak ragu menyerahkan cincinnya dan akhirnya memutuskan menyembunyikannya. Dia lalu menggenggam tangan Sunny dan menghiburnya.

 

Sunny lalu pergi menemui Shin dan menanyakan Wang Yeo, apa Shin sudah bertemu dengan Wang Yeo? Saat Shin tak menjawab, dia berusaha membela Wang Yeo dan membuat Shin melupakan dendam lamanya. Semua itu hanyalah masa lalu. Shin menyangkal. Mungkin bagi Sunny semua itu masa lalu, tapi tidak baginya. Baginya semua itu adalah masa kini karena dia masih menjalani kehidupan itu.

"Aku tidak bisa kembali. Aku hanya bisa maju. Dan dia sudah membunuhmu."

"Bukan aku yang dia bunuh. Dia membunuh Kim Sun. Aku Sunny. Hidupku... adalah yang di masa sekarang."


Sunny bersikeras mengklaim Sun lah yang dibunuh Wang Yeo, bukan dirinya yang sekarang. Sekarang dia adalah Sunny. Tapi jika Shin ingin terus maju, jawabannya akan tetap sama seperti dulu. "Pergilah, Oraboni"

Shin memperingatkan, jika dia berjalan ke arah Wang Yeo sekarang maka mungkin dia akan melakukan sesuatu yang takkan termaafkan. Sunny menunduk sedih mendengarnya, tapi dia tetap teguh dengan keputusannya dan meyakinkan Shin bahwa di kehidupan yang sekarang pun dia akan tetap hidup bahagia.


Wang Yeo tengah menatap gambar pedang Shin saat tiba-tiba dia mendapat panggilan. Wang Yeo buru-buru pergi ke ruang tehnya dan mendapati ada 2 Malaikat Maut dari tim internal audit. Mereka datang untuk menginterogasinya perihal semua pelanggaran yang dilakukan Wang Yeo: Menggunakan kekuatannya untuk keperluan pribadi, menghapus ingatan manusia, merahasiakan daftar nama dan tidak melakukan apa seharusnya dia lakukan saat identitasnya ketahuan.

"Apa kau mengakuinya?" tanya seorang Malaikat Maut.


Teringat semua hal yang dilakukannya, Wang Yeo mengakuinya dan menyatakan bahwa dia akan menerima hukumannya dengan senang hati. Tapi Malaikat Maut memperingatkannya untuk tidak merasa senang. Malaikat Maut tercipta dari jiwa-jiwa yang melakukan dosa-dosa besar, mereka disiksa selama 200 tahun sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menghapus ingatan mereka sendiri.

Sekarang Wang Yeo harus menghadapi dosanya sekali lagi, itulah hukumannya. Kedua Malaikat Maut langsung menatapnya tajam dan seketika itu pula Wang Yeo merasakan sakit hebat di kepalanya, semua ingatan kehidupan masa lalunya kembali.


Dia teringat saat Kasim Park dengan mulut manis berbisanya berkata kalau dia memberikan ramuan manis untuk meningkatkan selera makan Raja.

Wang Yeo muda mengerti ramuan apa yang dimaksud Kasim Park dan langsung membanting semua mangkok makanan di hadapannya. Dia tumbuh dengan terus menerus melempar semua mangkok makanan yang disajikan padanya hingga pada suatu waktu, Kasim Park mulai kesal menyadari Raja sudah tidak berguna lagi dan memerintahkan Dayang untuk memberikan Raja lebih banyak ramuan. Dayang tampak shock dengan perintah itu tapi dia tidak berani mengatakan apapun.


Kali ini, saat Dayang memberikan ramuannya, Wang Yeo tetap meminumnya walaupun dia tahu ramuan apa itu. Kasim Park tersenyum licik. Raja terus-menerus meminum ramuan itu. Keadaannya makin melemah tapi dia terus meminumnya sambil melukis lukisan mendiang Sun.


Saat akhirnya dia selesai melukisnya, mantan Dayangnya Sun datang memberikan baju kerajaan milik Sun dan cincin giok Sun yang disimpannya karena dia pikir mungkin Wang Yeo akan mencarinya suatu hari nanti. Wang Yeo menangvis saat dia menggenggam erat cincin itu dan baju kerajaan Sun yang masih bersimbah darah.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon