Powered by Blogger.

 Content and Images Copyrights by KBS2

 Sinopsis Hwarang Episode 11 - 1


Sun Woo melepaskan ciumannya untuk menatap mata A Ro. A Ro tergagap bingung, tak tahu harus bicara apa. Sun Woo mendekat hendak menciumnya sekai lagi, tapi tiba-tiba dia pingsan lagi dan membawa A Ro terjatuh bersamanya. Kali ini dia benar-benar pingsan.




Beberapa saat kemudian, Sun Woo terbaring di kliniknya A Ro. Semua teman sekamarnya dan Dae Sae menungguinya, Yeo Wool lah yang menemukan Sun Woo karena cemas melihat kudanya Sun Woo kembali tanpa tuannya. A Ro sendiri terus melamun, Soo Ho menduga kalau A Ro pasti shock melihat kakaknya terjatuh dari kuda.

Ban Ryu tidak mengerti, kenapa dia musti dipanggil kemari juga? Astaga! Pantas saja Ban Ryu dijuluki baj*ngan kasar. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu pada teman sekamarnya yang mungkin saja bisa mati. Soo Ho kasihan pada siapapun wanita yang akan jadi istri Ban Ryu nanti.

 

Sun Woo masih belum sadar bahkan sampai malam tiba. A Ro memeriksa denyut nadinya, sepertinya baik-baik saja tapi kenapa dia belum siuman? Apa yang harus A Ro lakukan jika Sun Woo tidak terbangun setelah Sun Woo melakukan itu tadi? Dia tidak akan kehilangan ingatannya, kan? Tapi dipikir-pikir, ada bagusnya juga jika Sun Woo tidak mengingatnya.

"Karena itulah, bukalah matamu," A Ro memohon. Tapi Sun Woo masih saja belum sadar.

A Ro mengecek suhu tubuhnya dan mendapati tubuh Sun Woo sangat dingin. Sontak dia cemas menyelimuti Sun Woo dan mencoba menghangatkan wajah Sun Woo dengan menggosokkan kedua tangannya dan menempelkannya di pipi Sun Woo. Tapi sepertinya itu juga belum cukup.


A Ro mondar-mandir bimbang memikirkan cara menghangatkan Sun Woo. Tapi akhirnya dia meneguhkan hati lalu berbaring di samping Sun Woo sambil meyakinkan dirinya sendiri kalau dia melakukan ini hanya sebagai tabib demi menyelamatkan pasiennya. A Ro lalu masuk kedalam selimut dan memeluk Sun Woo.

"Sebaiknya dia menyadari betapa baiknya aku memperlakukannya. Dia harus berterimakasih padaku nanti," gumam A Ro sambil memeluk Sun Woo makin erat.


Sun Woo tiba-tiba berguling ke arahnya, tapi dia masih belum sadar. A Ro takjub melihat wajah Sun Woo dari dekat, ternyata seperti ini wajah Sun Woo dilihat dari dekat.

"Cepatlah bangun dan lihat aku. Kurasa ada banyak yang harus kita bicarakan," tapi saat melihat wajah Sun Woo sekali lagi, dia berubah pikiran dan mempererat pelukannya.


Mereka tertidur bersama seperti itu. Tapi saat Sun Woo terbangun, dia mendapati dirinya kepanasan karena diapit oleh Soo Ho dan Yeo Wool. Heee. Sun Woo langsung bangkit sambil bergidik ngeri, apa-apaan ini?

"Aku menyelamatkanmu," klaim Soo Ho

"Kita menyelamatkannya bersama," ujar Yeo Wool sambil memeluk Soo Ho yang kontan ditampik oleh Soo Ho.

Ji Dwi dan Ban Ryu juga ada di sana, tapi A Ro tidak ada. Ji Dwi mengaku menyuruh A Ro pergi istirahat karena Sun Woo pingsan 4 hari dan selama itu A Ro tidak bisa tidur dengan baik demi menjaga Sun Woo. Tidak mudah baginya membujuk A Ro karena dia sangat keras kepala.


Beberapa saat kemudian, Sun Woo pergi melihat A Ro yang tengah tidur nyenyak. Dia ingin menyentuh wajah A Ro, tapi ragu. Saat A Ro terbangun tak lama kemudian, Sun Woo sudah tidak ada di sana. A Ro kembali ke klinik tapi Sun Woo juga sudah tidak ada di sana.


A Ro jadi cemas, memikirkan yang tidak-tidak. Tapi berusaha menampik pikiran buruk itu dan pergi mencari Sun Woo. Dia melihat para Hwarang sedang berlatih bela diri di halaman. Dan di sanalah, akhirnya dia bisa lega melihat Sun Woo sedang berlatih.

Saat Sun Woo melihatnya, A Ro langsung melambaikan tangan. Tapi Sun Woo mengacuhkannya dan meneruskan latihannya. A Ro terus melambai dan berusaha menarik perhatiannya, tapi Sun Woo masih saja acuh.


Saat Para Hwarang datang ke kantin untuk makan siang, A Ro ada di sana untuk menunggu Sun Woo dan menanyakan keadaannya. Sun Woo menjawab singkat dan berusaha pergi melewatinya. Tapi A Ro menghadangnya dan menuntutnya untuk berterimakasih, Sun Woo berterimakasih dengan cuek lalu pergi begitu saja.

A Ro kecewa dan bingung, "Apa mungkin, dia tidak ingat?"


Teman-teman sekamarnya Sun Woo sampai heran melihat sikap Sun Woo pada A Ro. Soo Ho langsung memprotesnya, ada apa dengan Sun Woo? Apa dia tidak tahu betapa khawatirnya A Ro? Tapi Sun Woo tetap acuh, Soo Ho sama sekali tidak mengerti ada apa dengannya?

"Hubungan antara pria dan wanita memang selalu rumit. Apa mereka saudara kandung?" Yeo Wool bertanya-tanya.


A Ro curhat ke Seo Yoon dan bertanya apakah seorang pria bisa lupa kalau dia pernah mencium wanita, seperti Soo Ho yang melupakan kejadian antara Seo Yoon dan Ban Ryu? Itu beda, mana bisa masalah itu dibandingkan dengan masalah ciuman. Mana ada pria yang bisa melupakan ciuman?

"Lalu kenapa dia bersikap pura-pura lupa?" tanya A Ro

"Apa ada seseorang yang menciummu?"


A Ro langsung bungkam, jawab saja pertanyaannya. Seo Yoon menduga ada beberapa kemungkinan. Mungkin pria itu tidak mau bertanggung jawab? Atau mungkin dia tidak mau terlibat dengan A Ro? Atau mungkin juga dia menyesal setelah dia sadar? A Ro langsung sedih. Seo Yoon berusaha menghiburnya, semua pria memang seperti itu, mereka pikir menghindari masalah bisa menyelesaikan masalah.

"Dia tidak seperti itu. Sungguh!" protes A Ro

"Apa kau tidak pernah lihat kakakku? Hatinya berubah lusinan kali dalam sehari. menurutku, satu-satunya pria setia di dunia ini... hanya Ban Ryu"


Ji Dwi melihat Sun Woo mau latihan panahan. Dia langsung memanggil Sun Woo dengan panggilan anjing-burung dan menawarkan diri latihan bersamanya. Sun Woo menolak. Tapi saat dia hendak pergi, Ji Dwi menangkap tangannya dan bertanya kenapa Sun Woo memperlakukan A Ro seperti itu?

Sun Woo menampik tangannya dengan kesal. Tanpa mereka sadari, gelang yang dipakai Sun Woo terjatuh. Sun Woo menolak menjawab, itu bukan urusan Ji Dwi. Tidak, Ji Dwi merasa itu adalah urusannya. Kan dia sudah bilang kalau dia menyukai adiknya Sun Woo. Jadi dia tidak bisa mengabaikan masalah ini begitu saja.

"Jika ada yang membuatnya menangis, aku tidak akan membiarkannya bahkan sekalipun orang itu adalah kau."


Terprovokasi, Sun Woo akhirnya menerima tantangan Ji Dwi tanding panahan. Mereka pergi meninggalkan gelang raja itu. Seseorang memungut gelang itu setelah mereka pergi. Dia adalah Kang Sung yang sepertinya mendengarkan pembicaraan mereka.


Dan Sae melempar piringan target sementara Sun Woo dan Ji Dwi bertanding panahan dengan kuda. Ji Dwi selalu menembak tepat sasaran sementara tembakan Sun Woo selalu meleset. Tapi dia tidak mau menyerah begitu saja bahkan sekalipun tangannya sudah lecet.

Akhirnya sampailah mereka ke ronde terakhir, pemenangnya ditentukan dalam ronde ini. Dan Sae melempar piringanya, Sun Woo dan Ji Dwi pun mulai memacu kuda-kuda mereka dan menarget sasaran mereka. Kedua anak panah terlepas bersamaan dan keduanya sukses tepat sasaran mengenai piringan itu.

 

Setelah itu, mereka pergi ke sungai. Sun Woo merendam tangannya yang lecet di air sementara kedua Nangdo mengawasi mereka tak jauh dari sana. Pa Oh memberitahu Dan Sae kalau Sun Woo tidak akan bisa mengalahkan Ji Dwi karena Ji Dwi telah dilatih bertahun-tahun hingga dia jadi seperti sekarang ini.

"Postur tubuhnya sangat sempurna saat memanah dan lihatlah betapa tampannya dia," ujar Pa Oh bangga.


Dan Sae merasa Sun Woo tidak kalah hebat, buktinya dia berhasil melakukannya setelah hanya mempelajarinya selama 10 hari. Pa Oh heran kenapa Dan Sae memilih Sun Woo, lebih baik jika dia punya koneksi yang bagus. Kesal dengan kritikan Pa Oh, Dan Sae langsung menyinggung umur Pa Oh yang sebenarnya.

Pa Oh ngotot dia umur 22 tahun. Jelas lah Dan Sae tak percaya, dia sendiri saja umur 22 tahun. Pa Oh langsung gelagapan bingung. Dia berusaha mengklaim dirinya lebih tua karena dia lahir lebih awal, tapi Dan Sae berkata kalau dia lahir bulan Januari, jadi Pa Oh lahirnya kapan?

"Aku lahir bulan Januari... 20 tahun lebih dulu darimu," batin Pa Oh.

Tentu saja dia tidak mengatakannya dan terpaksa harus mengakui kalau mereka teman seumuran jadi Dan Sae boleh bicara informal dengannya. Dan Sae setuju lalu mengajaknya fist bump. Pa Oh canggung, Dan Sae langsung saja meninju lengannya.


Ji Dwi heran melihat Sun Woo. Dia itu apa sebenarnya, dia tidak takut dan melakukan apapun dengan baik. Ji Dwi sendiri apa, dia juga sama misterius dengannya. Ji Dwi mengaku punya rahasia: sejak dia lahir, dia tidak pernah punya teman. "Dan sekarang, kurasa kau adalah satu-satunya temanku. Aku sangat menyukaimu"


Sun Woo geli sendiri mendengarnya dan langsung menyeret Ji Dwi kedalam air. Pa Oh langsung bangkit dengan cemas, tapi Dan Sae santai saja. Biarkan saja mereka, anak-anak memang suka main. Pa Oh akhirnya duduk kembali, menyaksikan kedua Hwarang itu main perang air dengan gembira.

Puas bermain, mereka pun menjemur diri di atas batu. Ji Dwi masih menuntut jawaban atas pertanyaannya tadi, kenapa Sun Woo bersikap seperti itu pada A Ro. Sun Woo bimbang, tapi akhirnya dia mengaku kalau dia sebenarnya takut, takut pada dirinya sendiri.


A Ro juga sedang merenung di pinggir sungai dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah Sun Woo benar-benar sudah lupa. Tapi kalau dia lupa maka tidak mungkin Sun Woo bersikap sedingin ini padanya. Sun Woo belum pernah memperlakukannya seperti ini sebelumnya.

Kalau begitu apa? Apa Sun Woo menyesali ciuman mereka? A Ro langsung menggerutu kesal, kalau memang seperti itu lalu kenapa Sun Woo menciumnya? "Kenapa dia melakukan ini padaku?!" rutuk A Ro sambil menendang-nendangkan kakinya sampai sepatunya terlepas dan terbawa arus sungai.


Sun Woo datang saat itu dan memungut sepatu A Ro dari sungai. Dia mendekati A Ro tapi A Ro langsung menunduk sebal. Sun Woo berusaha kembali seperti dulu dengan memprotes kebiasaan buruk A Ro yang suka asal lempar sepatu dan duduk di sembarang tempat.

"Kau ingat semua itu. Tapi apa kau tidak ingat sesuatu yang lain?"


Sun Woo memakaikan sepatu A Ro dan mengaku kalau dia mengingatnya. Dia pura-pura mengacuhkan A Ro karena setiap kali melihat A Ro, dia merasa ingin memeluk A Ro. Setiap kali melihat A Ro, dia ingin memegang tangan A Ro dan membawa A Ro melarikan di hadapan semua orang.

"Aku berusaha menahan diri. Karena itulah aku butuh waktu lama untuk datang."

Senyum A Ro kembali merekah mendengarnya. Bahkan saat ini pun Sun Woo ingin memeluk A Ro, tapi jika dia melakukannya, dia mungkin akan meremukkan A Ro. Jadi dia memutuskan tidak melakukannya. "Maafkan aku."


Malam harinya, A Ro dan Sun Woo sama-sama tidka bisa tidur, senyam-senyum kasmaran memikirkan siang itu. Saat A Ro tiba-tiba memeluk Sun Woo dari belakang dan mengaku kalau dia sangat merindukan Sun Woo. Dia melihat wajah Sun Woo setiap hari, tapi tetap saja dia merindukan Sun Woo.


Keesokan harinya, Sun Woo meletakkan sebuket bunga krisan di meja A Ro saat A Ro sedang tidak ada di kliniknya. A Ro menemukan bunga itu tak lama kemudian dan menghabiskan waktunya dengan bekerja sambil memandangi bunga itu terus menerus.


Dia lalu pergi mencari Sun Woo yang sedang latihan pedang. Kali ini saat dia melambai, Sun Woo balas tersenyum padanya. Ji Dwi mendengus cemburu melihat A Ro melambai dengan sangat antusias pada Sun Woo.


Di kejauhan, ada Putri Soo Myung yang memperhatikan latihan mereka. Setelah melihat Hwarang latihan, dia menemui Ui Hwa di kantornya. Dia tahu kalau Ui Hwa tidak nyaman dengan kehadirannya, tapi tahan saja. Lagipula Ui Hwa tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Mereka disebut bangsawan suci karena mereka tidak pernah berbagi dengan yang lain. Jika mereka melakukan itu maka mereka akan menjadi lemah.

"Anda sangat mirip dengan ibu anda. Anda tidak tahu bagaimana berbasa-basi."

Soo Myung memang tidak tahu apa pendapat Ratu atau Ui Hwa tentang Hwarang. Tapi baginya, Hwarang hanyalah sebuah alat. Orang-orang yang dimanfaatkan untuk melindungi Keluarga Kerajaan. Karena itulah kemampuan bela diri Hwarang harus semakin ditingkatkan, menurutnya Hwarang masih terlalu lemah untuk bisa disebut sebagai prajurit Silla.

Dan bela diri yang dimaksudnya adalah pelatihan keras yang membuat mereka semua bertarung sampai mati. Pelatihan yang menunjukkan kekuatan, yang kuat menindas yang lemah. Bukankah itu niatan Ui Hwa sejak awal.

Dia yakin kalau Ui Hwa juga tahu kalau mereka punya mata-mata di Rumah Hwarang. Ui Hwa tersenyum mendengar kecerdasan Sook Myung. Sook Myung memberi Ui Hwa waktu 10 hari untuk melatih para Hwarang.


Sun Woo baru menyadari gelangnya hilang dan langsung panik mencarinya. Ji Dwi jelas kesal dan panik saat mengetahuinya, apa Sun Woo bahkan tahu gelang apa itu? Memangnya itu gelang apa? tanya Sun Woo.

Ji Dwi langsung canggung dan hanya menjawab kalau dia sangat menyukai gelang itu dan memperingatkan Sun Woo untuk menemukan gelang itu. Tanpa mereka sadar, Kang Sung memperhatikan mereka dari kejauhan sambil menenteng gelang itu.


Pa Oh ikut mencari gelang itu di kolam sambil memprotes Ji Dwi, kenapa dia tidak bilang apapun kalau dia tahu Sun Woo lah yang memiliki gelang itu. Kalau dia bilang-bilang, apa Pa Oh akan membunuh Sun Woo? Tentu saja, jawab Pa Oh. Tidak boleh, Ji Dwi berhutang pada Sun Woo.

"Hutang? Yang... apa anda seseorang yang bisa berhutang pada seseorang? Anda adalah Raja Silla," bisik Pa Oh

"Temannya mati karena aku. Tapi, aku menyukainya dan sangat menyukai adiknya. Diam saja dan cari sebelum orang lain menemukannya."

 

Kang Sung membawa gelang itu ke Park Young Shil dan melapor kalau dia menemukan gelang itu di Rumah Hwarang dan Sun Woo lah pemilik gelang itu. Setelah Kang Sung pergi, Park Young Shil mengeluarkan sebuah surat yang disimpannya dengan rapat.
 

Surat itu adalah surat yang dikirimkan Raja terdahulu pada Raja Baekje saat aliansi kedua kerajaan terputus. Dalam surat itu ada cap lilin berbentuk dua naga yang sama persis dengan bentuk dua naga dalam gelang itu.

"Tanda Raja ditemukan di Rumah Hwarang. Dan dia adalah putra setengah bangsawan Tuan Ahn Ji"


Malam itu, Ji Dwi bermimpi buruk. Ratu Ji So membunuh A Ro dengan panah dan Ji Dwi gagal menyelamatkannya. Ji Dwi langsung tersentak bangun dengan keringat dingin dan nafas tersengal-sengal.

Bersambung ke part 2

1 comments:

Serru... Udah ga sabar baca sinopsis yg selanjutnya..
Semangat ya untuk bikin sinopsisnya lagi.. 😊

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon