Powered by Blogger.

Content and Images Copyrights by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 11 - 2

Ratu Ji So memegang sebuah belati dan bertanya pada pengawalnya. Apakah dia setuju dengan perkataan orang tentangnya, bahwa dia adalah ibu yang kejam dan zalim. 


Pangawal tak menjawab. Ratu menduga kalau dia pasti setuju dengan omongan orang-orang itu dan langsung menyayat tangannya dengan pisau. Cemas, pengawal sontak menjauhkan belati itu dari tangan Ratu.

Ratu Ji So tidak takut pada apapun. Tak ada apapun yang tak bisa dia lakukan demi membuat putranya dan keturunannya mewarisi tahta Silla. Dia tidak boleh kehilangan segala yang dia perjuangkan hanya karena Putrinya Ahn Ji.

"Saya akan membunuhnya"

"Tidak semudah itu. Tidak ada seorang pun yang boleh tahu. Bahkan dia sendiripun tidak boleh tahu kenapa dia mati"


Keesokan harinya, Sook Myung dipanggil ke istana.  Ratu Ji So memerintahkannya untuk melakukan sesuatu, entah apa.


Begitu kembali ke Rumah Hwarang, Sook Myung mendatangi A Ro, meminta A Ro memeriksa kondisinya. A Ro pun memeriksa nadi Sook Myung dan memberitahu bahwa energi Sook Myung cukup lemah, sepertinya dia sudah cukup lama menderita sakitnya ini.

Sook Myung mengklaim kalau dia sudah cukup kuat sekarang semenjak belajar ilmu bela diri. Tapi bagaimanapun, dia ingin A Ro jadi tabib pribadinya. Dengan begitu, Ratu juga akan merasa lebih tenang selama dia tinggal di sini.


A Ro jelas ragu dan ketakutan, apalagi saat teringat kejadian malam itu saat Ratu berniat membunuhnya. Sook Myung melihat ketakutannya tapi terus memaksa A Ro jadi tabib pribadinya dan menyuruh A Ro datang setiap kali dia panggil. A Ro cuma diam dan Sook Myung memutuskan untuk menganggap itu sebagai persetujuan.


Ui Hwa terkekeh memikirkan ucapan Sook Myung, dia benar-benar mirip sang ratu. Joo Ki tiba-tiba datang menyela renungannya. Dia datang membawakan kripik beras dan memberitahunya tentang Sook Myung yang memerintahkan mereka untuk mempersiapkan pertandingan. Ui Hwa terkejut mendengarnya, sama sekali tidak mengetahui rencana Sook Myung itu.

Melihat itu, Joo Ki langsung mengejek Ui Hwa. Dia kepala instruktur di sini tapi sepertinya kekuasaannya kalah besar dibanding sang putri. Sepertinya dia harus pindah haluan. Kesal, Ui Hwa langsung mengampleng kepala Joo Ki dengan kripik beras. Keluar sana!


A Ro berjalan sambil termenung sampai tidak melihat Sun Woo yang berjalan di sampingnya.  Sun Woo galau, antara ingin menggenggam tangan A Ro tapi takut ketahuan orang lain dan akhirnya tidak jadi.


A Ro masih saja belum menyadari kehadirannya sampai Sun Woo harus berdehem untuk menarik perhatiannya. Dia bertanya lagi tentang kemana A Ro pergi pada malam festival itu. A Ro dengan gugup mengklaim kalau dia ada di sekitar sana malam itu. Tapi Sun Woo tak percaya karena dia sudah berusaha mencari ke semua tempat waktu itu.

"Mungkin kita melewatkan satu sama lain. Pasti itu, waktu itu kan ada banyak orang," alasan A Ro


Sun Woo tampaknya agak ragu tapi akhirnya dia menerima alasan A Ro. Dia lalu mengantarkan A Ro keluar dan mendapati Ahn Ji sudah menunggu A Ro di depan gerbang. Sepertinya ia sengaja menjemput A Ro walaupun ia beralasan kalau Ia tak sengaja lewat jadi sekalian saja dia menjemput A Ro.

A Ro terharu, ini pertama kalinya Ayahnya melakukan ini untuknya. Bahkan sejak dia kecil pun, Ahn Ji tidak pernah menjemputnya. Ahn Ji merasa bersalah mendengarnya dan meminta maaf untuk itu. Mereka pun pergi sqmbil bergandengan tangan. A Ro berharap sekali Ahn Ji bisa menjemputnya setiap hari seperti ini.


Ahn Ji malah menawarkan diri untuk mengantar jemput A Ro setiap hari. A Ro tentu saja senang mendengarnya. Tapi sebaiknya tidak usah saja, tidak seharusnya dia memonopoli tabib terbaik Silla. Dia sudah cukup berterimakasih dengan kedatangan Ahn Ji hari ini.


Sesanpainya di rumah, Ahn Ji memandangi sebotol cairan bening sembari mengingat peringatan Hwi Kyung waktu itu.


Keesokan harinya, para Hwarang berkumpul di aula. Sook Myung datang bersama Asistennya Ui Hwa yang mengumumkan bahwa 10 hari dari sekarang, mereka akan melakukan pertandingan saling menyerang satu sama lain.

Pertandingannya akan diawasi langsung oleh Sook Myung. Siapa yang menang, dialah yang lulus. Pertandingan kali ini berbeda karena mungkin saja nyawa mereka akan melayang dalam pertandingan itu. Para Hwarang langsung berpandangan heboh. Ji Dwi cuma mendengus, Sook Myung masih belum berubah ternyata.


Setelah para Hwarang pergi, Sook Myung memberitahu rencananya pada Asisten. Mereka akan melakukan pertandingan perburuan di hutan. Tapi bukankah Keluarga Kerajaan melarang perburuan binatang untuk bersenang-senang? tanya Asisten.

"Saat seorang prajurit membunuh orang, apa itu namanya membunuh binatang untuk bersenang-senang? Hwarang adalah prajurit. Yang paling penting adalah mereka tahu dipihak mana mereka berada."


Keesokan harinya, para Hwarang berkumpul di halaman dengan seragam merah merah mereka. Asisten dan Sok Myung sama. Asisten menjelaskan pertandingan mereka kali ini.

Mereka akan melakukan perburuan dan mereka akan dibagi kedalam tim. Mereka boleh memburu apapun, tapi siapapun yang berhasil memburu rusa duluan maka dialah yang akan jadi pemenangnya.


Yeo Wool mengomentari Sook Myung yang cantik tapi nyebelin itu. Tapi kemudian dia memperhatikan Sook Myung  sedang menatap Sun Woo. "Aku tahu dimana hati sang putri berada," desahnya.

Ji Dwi mendengar ucapan Yeo Wool dan mulai memperhatikan hal yang sama.


Park Young Shil memandangi gelang raja itu sambil bertanya-tanya, bagaimana caranya memburu Raja jika dia ada di Rumah Hwarang? Apa yang harus dia lakukan untuk memancing Raja.


Pelayan Sook Myung memberitahu A Ro kalau Sook Myung pergi berburu sekarang padahal dia kurang sehat sejak kemarin dan meminta A Ro pergi menyusul Sook Myung ke suatu tempat tertentu didalam hutan. A Ro setuju dan langsung pergi.


Sook Myung berkuda melewati tim Sun Woo. Dia berhenti untuk melirik Sun Woo sebelum kembali melanjutkan perjalanannya. Soo Ho heran, bagaimana bisa Sook Myung begitu berbeda dari ibunya. "Ratu itu orang yang hangat," ucap Soo Ho.

Yang lain langsung menatapnya seolah dia sudah gila. Soo Ho meyakinkan mereka kalau berdasarkan pengalamannya dalam hal wanita, yang paling menarik adalah wanita yang menyembunyikan perasaannya. "Ratu adalah wanita sejati."


Mengalihkan topik, mereka pun memutuskan untuk bergerak sekarang juga dan berpencar. Pada saat yang bersamaan, A Ro juga tiba di hutan dan kebingungan mencari Sook Myung.

Tanpa dia sadari, Sook Myung sebenarnya ada di sana, sedang mengawasinya dari kejauhan dan mulai membidik A Ro dengan panahnya. Saat dia dipanggil ke istana waktu itu, Ratu Ji So memerintahnya untuk menyingkirkan A Ro tanpa sepengetahuan siapapun.


Ji Dwi melihat seekor rusa tak jauh darinya. Dia langsung memanahnya tapi gagal. Si tempat lain, Sun Woo juga melihat seekor rusa. Dia berusaha memanahnya, tapi gagal juga.

Tapi saat dia hendak mengejar rusa itu, dia malah melihat A Ro di sana. A Ro terus berusaha memanggil Sook Myung sementara Sook Myung sendiri mulai menarik anak panahnya yang diarahkan ke A Ro.


Sun Woo hendak menghampiri A Ro saat tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat melewati bahu A Ro dan menancap di pohon belakangnya. Sun Woo langsung celingukan mencari si pemanah dan melihat seseorang di kejauhan.

Sook Myung langsung menembakkan panah kedua. Sun Woo melihatnya. Sontak dia melompat ke depan A Ro hingga panah itu menancap tepat di dadanya. A Ro langsung cemas, Sook Myung juga shock melihat Sun Woo yang terkena panahnya.

 

A Ro panik, berteriak-teriak memanggil bantuan. Ji Dwi mendengar teriakannya. Dia langsung bergegas ke asal suara. Sun Woo meyakinkan A Ro kalau dia baik-baik saja. Dia berusaha bangkit sekuat tenaga dan menarik sendiri anak panah itu dari dadanya dan melihat Sook Myung melarikan diri.


Ji Dwi tiba saat itu dan melihat Sook Myung kabur dengan kudanya. Dia langsung pergi mengejar Sook Myung sampai ke jembatan. Ji Dwi langsung melabraknya dan memperingatkannya untuk tidak melakukan ini lagi, jika tidak maka dia tidak akan memaafkan Sook Myung.

"Jika kau menyakitinya lagi, aku tidak akan memaafkanmu"


Kembali ke Rumah Hwarang, A Ro mengobati Sun Woo dengan berlinang air mata. Kenapa Sun Woo melakukan itu untuknya.

"Jangan menangis. Melihatmu menangis, jauh lebih menyakitkan"


Sun Woo mengulurkan tangannya hendak mengusap air mata A Ro, tapi ragu saat dia teringat malam itu. Dalam flashback, Ahn Ji pernah menemuinya suatu malam dan memohon padanya untuk melindungi A Ro dengan segala cara.


Sook Myung termenung memikirkan Sun Woo yang mengorban dirinya demi A Ro dan ancaman Ji Dwi padanya demi A Ro.


Ji Dwi menunggu di depan klinik. Sun Woo akhirnya keluar tak lama kemudian. Ji Dwi mencemaskanya meminta maaf padanya. Sun Woo tidak mengerti untuk apa dia minta maaf.


Percakapan mereka tak sempat berlanjut karena saat itu pula, sebuah spanduk tiba-tiba terbuka di hadapan semua Hwarang. Spanduk yang mengatakan bahwa Raja ada diantarra Hwarang dengan disertai gambar dua naga.

Sontak semua Hwarang langsung heboh. Sun Woo tampaknya mengenali gambar dua naga yang sama seperti gelang yang pernah dipakainya. Ji Dwi sendiri hanya bisa diam.


Ui Hwa datang menyela kehebohan semua orang lalu merobek spanduk itu dan melemparkannya. "Jika ini cuma candaan maka aku akan memaafkannya. Tapi jika ada motif tertentu dibalik semua ini maka aku tidak akan memaafkannya," ancam Ui Hwa.

Semua orang langsung bubar. Hanya Sun Woo, Ji Dwi dan A Ro yang masih bertahan di sana. Mereka bahkan tak bergeming saat hujan mulai mengguyur deras.

Bersambung ke episode 12

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon