Powered by Blogger.

Content and Images Copyrights by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 13 - 1

 
Usai pertandingan, Ji Dwi menghampiri Sun Woo dan mencemaskan keadaannya. Tapi Sun Woo langsung menempelkan pedang di lehernya dan bertanya apakah Ji Dwi raja.

Tepat saat itu juga, A Ro menemukan mereka. Sun Woo mendesak Ji Dwi untuk menjawab pertanyaannya. Ji Dwi hampir saja menjawab, tapi A Ro langsung menampik pedang Sun Woo dan membentangkan kedua tangannya melindungi Ji Dwi.


Sun Woo menyuruhnya minggir, ini bukan urusan A Ro. Tapi A Ro mengklaim kalau ini urusannya jika Sun Woo menghunus pedang ke leher seseorang. Dia berusaha meyakinkan Sun Woo untuk tidak mempercayai gulungan itu, Raja bukan orang bodoh jadi tidak mungkin Raja ada di sini.

"Aku tidak tahu dendam apa yang kau miliki terhadap Raja, tapi dia bukan Raja. Aku tahu, aku berani bersumpah. Jadi berhentilah bicara omong kosong dan jangan melakukan ini"


A Ro berusaha mengambil pedangnya Sun Woo. Tapi Sun Woo refleks mengayunkannya dengan kesal dan tak sengaja membuat lengan A Ro tersayat. Mengabaikan lukanya, A Ro kekeuh mengklaim kalau Ji Dwi bukan Raja. Sun Woo tampak menyesali perbuatannya pada A Ro barusan. Tapi dia tidak mengatakan apapun dan langsung melarikan diri dari sana.

 

A Ro terduduk lemas begitu Sun Woo sudah pergi. Ji Dwi heran kenapa A Ro melakukan itu tadi. A Ro terpaksa melakukannya, identitas Ji Dwi tidak boleh sampai terbongkar. A Ro heran, kenapa Sun Woo begitu membenci Raja. Dia meyakinkan Ji Dwi untuk tidak cemas, dia yakin kalau Sun Woo akan mempercayai ucapannya.

A Ro sama sekali tidak mempedulikan lukanya sendiri. Justru Ji Dwi lah yang mencemaskannya dan mengingatkan A Ro akan lukanya. Dia terus menemani A Ro saat A Ro mengobati lukanya sendiri dan membantu A Ro memperban lukanya saat A Ro kesulitan melakukannya seorang diri.


"Dia Orabi-mu, kenapa kau melakukannya sampai sejauh itu?"

"Itu, aku kan tidak boleh membiarkannya membunuh... kau tahu lah"

Ji Dwi tertawa mendengarnya, "Aku merasa kau berada dalam bahaya gara-gara aku. Karena itulah aku marah pada diriku sendiri"

"Apa untungnya marah pada diri sendiri. Bahkan sekalipun tak ada seorang pun yang memihakmu, kau harus memihak dirimu sendiri. Bahkan sekalipun kau menyedihkan dan lemah, kau harus percaya pada dirimu sendiri. Apa kau tidak berpikir begitu?"

Ji Dwi langsung menatapnya. Menyadari kesalahan ucapannya, A Ro buru-buru menjelaskan, dia tidak bermaksud bilang kalau Ji Dwi menyedihkan kok, itu cuma perumpamaan saja.


Sun Woo merenung teringat kejadian tadi saat Sook Myung datang menghampirinya dan mengomentari kemampuan bertarungnya Sun Woo yang masih sangat kurang, tapi dia senang karena Sun Woo punya semangat tinggi untuk menang. Sun Woo tidak menjawabnya dan terus menatap Sook Myung sampai Sook Myung harus menegurnya, Sun Woo pikir siapa yang sedang dia pelototi?

"Apa semua anggota keluarga kerajaan sangat tidak tahu malu?" tanya Sun Woo "Kau sama sekali tidak terlihat menyesal telah menembakkan panah padaku. Kalian mirip satu sama lain."

Dia mau pergi, tapi Sook Myung langsung menghentikannya dan menawarkan diri untuk mengajari Sun Woo cara menggunakan pedang yang baik dan benar. Sun Woo langsung menyelanya, Sook Myung tidak tahu siapa orang yang ingin dia bunuh jika dia menguasai kemampuan berpedang.


Malam harinya, A Ro berkeliling mencari Sun Woo dengan cemas. Joo Ki melihatnya dan bertanya penasaran, dia cari siapa. A Ro ragu menjawabnya, Joo Ki tak memaksanya menjawab dan menawarkan diri untuk mengantar A Ro pulang.

Tapi sepanjang jalan, A Ro terus celingukan, berharap melihat Sun Woo tapi Sun Woo tidak tampak dimanapun. Tanpa dia sadari, Sun Woo sebenarnya ada di sana, diam-diam memperhatikan A Ro dari balik jendela.


Pa Oh mengawal Ji Dwi menemui Ratu Ji So dan mengkonfrontasi Ratu yang membiarkan Sook Myung membuat pertandingan itu. Ratu membela diri, bukankah pertandingan itu ada untungnya bagi Ji Dwi karena sekarang orang lain lah yang disangka Raja. Ji Dwi diam saja, biarkan Sun Woo disangka sebagai Raja.

"Maksud ibu, semua ini sudah direncanakan?"

"Aku bisa melakukan apapun. Jika kau bisa mendapatkan tahta dengan aman, aku bisa membunuh semua anggota Hwarang sekarang juga"

Ji Dwi langsung emosi mendengarnya, apa Ratu pikir itu yang dia inginkan? Ratu tidak peduli apa yang Ji Dwi inginkan, dia tidak peduli apa yang Ji Dwi harapkan ataupun apa yang Ji Dwi benci. Ratu hanya peduli dengan apa yang bisa dia lakukan. Jadi jika Ji Dwi ingin menduduki tahta maka sebaiknya dia jangan melakukan apapun.


Ji Dwi dan Sun Woo sama-sama tidak bisa tidur malam itu, galau dengan pikiran masing-masing. Ji Dwi menatap Sun Woo sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur. Tapi tiba-tiba sebuah tangan mencekik lehernya dengan sangat kuat. Ji Dwi kontan membuka mata dan mendapati Sun Woo mencekiknya sekuat tenaga dan bertanya dengan penuh kebencian, "Apa kau... Raja? Kau... membunuh temanku. KAU!!!"


Dan Ji Dwi langsung tersentak bangun dari mimpi buruknya sambil memegangi lehernya dengan ketakutan, mimpi itu terasa begitu nyata. Tapi saat dia melihat ke kasurnya Sun Woo, tempat itu kosong.

 

Sun Woo merenung di tepi kolam, mengingat gambar dua naga yang sama persis dengan dua naga yang ada dalam gelang yang pernah dipakainya. Ui Hwa mendatanginya tak lama kemudian dan menanyakan apa yang Sun Woo lakukan di tempat ini. Saat Sun Woo tidak menjawabnya, Ui Hwa langsung protes, Sun Woo benar-benar tidak sopan.

"Raja ada di antara Hwarang. Apa itu benar?" tanya Sun Woo.

"Apa menurutmu, Raja ada di antara Hwarang?"

"Ji Dwi. Apa dia benar-benar keponakanmu?"

Senyum Ui Hwa langsung luntur seketika, tapi dia cepat-cepat menguasai diri dan mengklaim kalau Ji Dwi adalah saudara jauhnya. Dia heran, kenapa Sun Woo begitu bertekad mau menemukan Raja? Dia dan Raja punya hubungan buruk, jawab Sun Woo. Memangnya apa yang akan Sun Woo lakukan jika bertemu Raja? Membunuhnya? Sun Woo tanya balik, memangnya kenapa? Tidak boleh?


"Apa kau pernah dengar kata jurang?" tanya Ui Hwa. Dia lalu menyuruh Sun Woo untuk memperhatikan kolam air yang ada di bawah mereka. Kolam ini tampak begitu tenang di permukaan, tapi di dalamnya ada banyak bebatuan, ikan-ikan, tanaman dan serangga yang berusaha bertahan hidup bagai di medan perang. Sun Woo tidak mengerti apa maksud Ui Hwa.

"Banyak orang akan melihat kolam ini dan salah paham tentangnya. Hanya karena kau melihat permukaannya tenang, bukan berarti kau tahu segala hal tentangnya. Aku hanya mau bilang kalau aku tidak ingin kau membuat kesalahan."


Sun Woo berjalan kembali ke kamarnya sambil memikirkan peringatan Ui Hwa tadi. Setibanya kembali ke kamar, dia melihat Ji Dwi tidur dengan posisi membelakanginya. Tapi Ji Dwi sebenarnya tidak tidur, dia mendengar kedatangan Sun Woo tapi sengaja pura-pura tidur.


Park Young Shil memainkan sebuah benda bergigi tajam lalu melemparkannya pada si ahli bela diri yang gagal membunuh Sun Woo hingga kepala si bela diri terluka karenanya. Begitu si ahli bela diri pergi, Young Shil merutuki kegagalan mereka dengan kesal. Tuan Ho menyarankannya untuk menyewa seorang pembunuh hayaran saja.

Tapi Young Shil merasa sekarang bukan waktu yang tepat. Gara-gara kemenangannya, semua Hwarang dan para pejabat pasti sedang memperhatikan Sun Woo sekarang, jadi mana bisa mereka membunuhnya sekarang. Nanti pasti akan ada kesempatan lain.


Dua orang pengawal penjaga perbatasan, melihat seekor kuda muncul dari balik kabut, tengah berlari ke arah mereka tanpa penunggang. Tapi saat kuda itu semakin mendekat, mereka sontak shock melihat apa yang dibawa si kuda. Beberapa kepala manusia terpenggal menggelantung dari punggung kuda itu dengan disertari sebuah pesan 'Siapapun yang memata-matai Baekje, akan mendapatkan balasan yang sepantasnya'.


Ratu dan para pejabat langsung rapat dadakan membahas hal ini. Para menteri kubu Park Young Shil menuntut Ratu untuk bertindak, mereka tidak boleh membiarkan Silla diremehkan. Tapi Tuan Kim menentang ide mereka, mereka tidak boleh memutuskan aliansi dengan Baekje yang sudah berlangsung selama lebih dari 100 tahun. Jika mereka memutuskan aliansi ini maka Goguryeo pasti akan berusaha untuk menaklukkan Silla.

Kedua kubu terus berdebat sengit dan Young Shil semakin memanaskan situasi dengan mengusulkan agar mereka berperang saja. Tuan Kim ragu mengingat Baekje jauh lebih kuat dari mereka. Kalau mereka tidak bisa berperang, Young Shil mengusulkan bagaimana kalau mereka mengirim Putri Sook Myung ke Baekje untuk berdamai. Jika mengirimnya dengan dikawal beberapa delegasi, mungkin masalah ini akan selesai dengan lebih mudah.


Ratu kaget mendengar usulannya. Young Shil terus mendesaknya membuat pilihan, perang atau mengirim Sook Myung. Ratu menatap Young Shil dengan kesal sampai akhirnya dia membuat keputusan.

Dia akan mengirim Sook Myung dengan dikawal Hwarang. Mengirim Hwarang jauh lebih baik daripada prajurit jika tujuan mereka adalah untuk berdamai. Dengan begitu Baekje akan percaya kalau mereka datang untuk berdamai.


Para pejabat kaget mendengar keputusan Ratu. Begitu rapat usai, Tuan Ho melapor pada Young Shil, para pejabat cemas jika anak-anak mereka dikirim sebagai pendamping putri dan tidak pernah kembali. Dia jadi berpikir apa mungkin tebakan mereka salah. Jika Sun Woo memang Raja, maka Ratu tidak mungkin mengusulkan untuk mengirim Hwarang.

Young Shil santai-santai saja, mereka dikirim kesana untuk berdamai. Tuan Ho tetap saja cemas, mereka kan tidak tahu apa yang akan terjadi. Jika Baekje tidak menyetujui kesepakatan damai maka Hwarang akan disandera di sana atau mungkin juga dibunuh. Young Shil yakin kalau Sun Woo adalah Raja. Kalaupun bukan Sun Woo, Young Shil tetap yakin kalau Raja ada di antara Hwarang.

"Kita lihat saja bagaimana Ratu tersandung jebakannya sendiri"


Ui Hwa termenung memikirkan percakapannya dengan Ji Dwi malam itu, saat Ji Dwi menanyakan pendapatnya. Apakah menurut Ui Hwa, dia benar-benar nisa menjadi Raja mengingat Ibunya tidak akan pernah menyerahkan tahta kepadanya. Ui Hwa meyakinkannya kalau yang diinginkan Silla adalah Raja yang sesungguhnya dan bukannya Ratu regent.

"Apa tidak apa-apa jika aku mengambil alih tahta?"

"Negara dengan rakyat yang bahagia dan raja yang menderita. Rakyat yang tidak mencemaskan negara, tapi raja yang mencemaskan rakyat. Bukankah anda bilang kalau anda ingin hidup di negara yang seperti itu? Jika anda ingin menciptakan negara yang seperti itu, maka tidak masalah jika anda ingin menjadi raja."

Ji Dwi ingin menjadi lebih kuat, tapi seumur hidupnya dia hidup dalam persembunyian, "Siapa yang akan mendukungku?"


Ui Hwa mendesah teringat saat itu. Dia lalu pergi menemui Ratu yang memberitahukan idenya untuk mengirim beberapa Hwarang untuk mengawal Sook Myung ke Baekje. Saat Ui Hwa memprotes idenya, Ratu langsung membentaknya dengan kesal. Hanya ini satu-satunya cara agar aliansi mereka dengan Baekje tidak terputus. Silla akan hancur jika mereka berperang. ratu memerintahkan Ui Hwa untuk membentuk grup dari beberapa anak pejabat dari kubu Park Young Shil.

"Sekarang anda sudah terdengar seperti seorang Raja," sindir Ui Hwa "tapi itu bukan tempat anda, Yang Mulia. Ini adalah keputusan yang harusnya diambil oleh Paduka Raja."

Ratu langsung kesal dan mengingatkan Ui Hwa kalau saat ini dia adalah penguasa Silla, jadi sebaiknya Ui Hwa turuti saja perintahnya. Ui Hwa mengiyakannya saja, tapi Hwarang yang mana yang harus dia kirim.


A Ro akhirnya melihat Sun Woo berjalan ke arahnya. Dia langsung bersiap untuk menghadapi Sun Woo. Tapi saat dia menoleh kembali, dia malah melihat Sun Woo berjalan pergi ke arah lain. Apa Sun Woo tidak melihatnya. Han Sung mendatanginya dengan heran, Sun Woo melihat A Ro kok, tapi kemudian dia berbalik dan pergi ke arah sebaliknya.

Sun Woo pasti sedang menghindari A Ro. Dia heran kenapa begitu, biasanya kan kakak melindungi adik. Apa A Ro mengkhianati Sun Woo? A Ro berusaha membela diri dan menyangkal dugaan Han Sung. Tapi pembelaannya malah membuat Han Sung semakin yakin dengan dugaannya dan terus menuntut penasaran, kenapa A Ro mengkhianati Sun Woo.


A Ro mengejar Sun Woo dan menuntut penjelasan, kenapa Sun Woo menghindarinya? Dia salah apa? Sun Woo tak menjawabnya dan hanya menatap lengan A Ro yang terluka. A Ro jadi semakin emosi, mengira Sun Woo menghindari tatapannya.

Sun Woo selalu saja seperti ini. Setiap kali menghadapi situasi sulit, dia selalu menghindar. Mau berapa lama dia menghindarinya? Apa Sun Woo tidak mau lagi melihatnya hanya karena masalah itu?

"Kau bahkan tidak bisa melarikan diri. Aku tahu kau akan selalu berada di sisiku. Aku tahu itu."

Tapi Sun Woo malah terus berjalan pergi tanpa mengucap sepatah kata dan membuat A Ro terisak sedih, tak tahu apa yang harus dilakukannya.


Sun Woo berpapasan dengan Ji Dwi di tengah jalan. Dia terus berjalan dengan acuh, tapi Ji Dwi menarik bajunya. Sun Woo refleks menampik tangannya dan balas menarik kerah baju Ji Dwi. Ji Dwi menghadapinya dengan tenang dan bertanya apakah Sun Woo masih mengira dia adalah Raja.

"Jika aku raja. Tidak bisakah kau dan aku... jadi teman?"

"Begitu aku mengkonfirmasi kau adalah Raja, akan kubunuh kau."

Kalau begitu Ji Dwi memutuskan untuk tetap tidak jadi raja, "Aku lebih memilih menjadi temanmu daripada menjadi raja. Aku sungguh-sungguh, terlepas kau berpikir aku siapa"

"Kau tidak tahu apa itu teman, karena kau tidak pernah memilikinya. Aku melepaskanmu hanya karena satu alasan, karena A Ro melindungimu. Jangan sentuh aku sampai aku yakin siapa kau"


Begitu Sun Woo pergi, Pa Oh yang mendengarkan pembicaraan mereka sedari tadi, langsung emosi merutuki Sun Woo. Dia datang dengan membawa surat dari Ratu. Hanya ada satu kata dalam surat itu, memerintahkan Ji Dwi untuk tetap tinggal.


Para Hwarang dipanggil ke aula. Semua mata langsung menatapnya begitu Sun Woo masuk. Sejak kemenangan Sun Woo dalam pertandingan, para Hwarang semakin yakin kalau dia adalah Raja. Salah seorang diantara mereka bahkan menyesal sudah berlaku buruk pada Sun Woo. Sun Woo sendiri mengacuhkan tatapan semua orang dan terus menatap lurus kedepan.



Ban Ryu juga menatapnya, teringat ucapan Young Shil yang berniat menyingkirkan raja agar dia bisa membuat Ban Ryu jadi raja. Sun Woo juga menatapnya dengan aneh, teringat pertemuannya dengan Ratu waktu itu. Ratu bertanya apakah dia mengenal Sun Woo dan memintanya untuk men jaga Sun Woo dengan baik. (Sepertinya itu rencana Ratu untuk meyakinkan para Hwarang kalau Sun Woo adalah Raja).


Ui Hwa datang tak lama kemudian dandengan berat hati mengabarkan perintah Ratu itu. Dia berkata bahwa tugas ini bukan untuk menilai mereka lulus atau tidak, melainkan tugas yang wajib untuk mereka laksanakan.

Tugas ini memang demi perdamaian, tapi Ui Hwa tidak bisa menjamin keselamatan mereka. Ji Dwi langsung mengerti makna surat Ratu tadi. Ui Hwa berkata bahwa mereka akan berangkat 3 hari lagi dan besok mereka akan mengadakan pertemuan untuk menentukan siapa saja yang mau mencalonkan diri.


Putri Sook Myung menemui Ratu di istana, tercengang dengan perintah Ratu yang menyuruhnya ke Baekje tanpa pengawalan prajurit. Dia tidak mengerti kenapa harus dia yang melakukan upaya perdamaian itu. Ratu hanya punya satu jawaban yang terus dia ulang, karena ini bukan perang melainkan demi perdamaian. Kalau begitu, Sook Myung meminta satu syarat.


Joo Ki mendapati A Ro sedang mengintip Rumah Hwarang dari balik semak, seperti sedang menanti seseorang. Joo Ki langsung paham siapa yang sedang A Ro tunggu. A Ro bertanya apakah semua pria kejam seperti ini? Apa perasaan mereka berubah secepat itu? 

Joo Ki membenarkan pertanyaan yang terakhir, dan beberapa pria memang kejam. Siapa sih yang A Ro maksud? A Ro langsung buka mulut, Joo Ki pun menanti dengan penasaran. Tapi A Ro memilih bungkam. Tepat saat itu juga, Pelayan Sook Myung datang memanggil A Ro.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon