Powered by Blogger.

Content and Images Copyrights by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 13 - 2


A Ro menghadap Sook Myung yang ternyata menginginkannya untuk ikut ke Baekje. A Ro ingin protes dan menolak, tapi Sook Myung berkata kalau ini adalah perintah Ratu. Apa A Ro berani menolak perintah Ratu?

A Ro keluar dengan cemas, apa yang harus dia katakan pada ayahnya? Ayahnya pasti akan sangat cemas kalau tahu. Dan Sun Woo... A Ro mendesah sebal, Sun Woo pasti tidak akan peduli.

 

Pelayan Sook Myung penasaran, kenapa Sook Myung memutuskan untuk membawa A Ro dan bukannya tabib istana saja. Tapi Sook Myung mengaku kalau sebenarnya tidak mau membawa A Ro, dia punya rencana sendiri.


Ji Dwi ragu dengan kepergian Sook Myung, belum tentu misi perdamaian ini sukses hanya karena seorang putri yang pergi ke sana. Pa Oh membenarkannya, karena itulah mereka harus membujuk negeri tetangga dengan emas dan sutra. Ji Dwi marah mendengarnya, sampai kapan Silla harus menunduk pada negeri tetangga?


Ui Hwa menatap lilin sambil menggumam sendiri, bahwa waktunya dimulai jauh lebih cepat daripada dugaannya. Joo Ki stres mendengar gumaman Ui Hwa yang tidak jelas apa maksudnya itu.

"Waktu bagi Hwarang... untuk memasuki dunia," ujar Ui Hwa.


Keesokan harinya, para Hwarang sudah berkumpul kembali ke aula. Tapi mereka semua diam, tak ada yang mau mengajukan diri. Yeo Wool menggumam, siapa juga yang mau pergi kalau berbahaya. Sook Myung datang tak lama kemudian... bersama A Ro. Sun Woo dan Ji Dwi terkejut melihatnya.

Sook Myung mengumumkan kalau dia memang tidak bisa menjamin keselamatan mereka. Tapi jika mereka kembali dengan selamat, maka mereka akan mendapatkan kehormatan besar. Jika gagal maka takkan ada kedamaian di Silla. Dia mengumumkan kalau dia akan pergi dengan membawa A Ro sebagai tabibnya.


A Ro diam-diam menggeleng ke Sun Woo, berusaha mengisyaratkannya untuk tidak mengajukan diri. Tapi rencana Sook Myung berhasil saat Sun Woo angkat tangan dan mengajukan diri. Begitu Sun Woo angkat tangan, Soo Ho dan Ban Ryu sontak ikut angkat tangan.


Ui Hwa menyetujui ketiga orang itu. Tapi kemudian, Ji Dwi juga ikut angkat tangan. Ui Hwa berusaha mengacuhkannya, tapi Ji Dwi malah menegaskan dirinya untuk ikut. Ui Hwa frustasi mendengarnya, tapi terpaksa menerimanya. Jadilah keempat orang itu terpilih untuk menemani Sook Myung ke Baekje.


Malam harinya, A Ro menyiapkan makan malam untuk Ahn Ji tapi tidak untuk dirinya sendiir. Dia mengaku sudah makan malam sebelumnya. Ahn Ji merasa bersalah, A Ro pasti sangat lelah karenanya.

A Ro menyangkalnya, dia baik-baik saja dan menyamangati Ahn ji untuk terus menjadi tabib yang hebat, orang yang menolong orang lain yang lemah dan tak berdaya. Dia sengaja tidak memberitahukan kepergiannya ke Baekje.


Tapi saat dia sendirian, dia menulis sebuah surat untuk ayahnya dengan berkaca-kaca, dia berjanji akan pulang dengan selamat.


Ratu Ji So marah saat mendapat kabar tentang Ji Dwi yang mencalonkan diri padahal dia sudah mengirim pesan larangan, tidak terima karena Ji Dwi tidak mematuhi perintahnya dan membuatnya jadi tampak bodoh.


A Ro menemui Soo Yeon keesokan harinya. Soo Yeon menangis karena Ban Ryu membuat keputusan itu tanpa membicarakannya dulu dengannya. A Ro kecewa karena Soo Yeon hanya memikirkan Ban Ryu. Soo Yeon mengacuhkannya dan bertekad mau memberikan sesuatu untuk Ban Ryu, dia mau memberikan rambutnya. A Ro kurang setuju, itu kan beban yang terlalu berat.

"Memang harus berat. Aku tidak tahu apakah dia akan kembali dengan selamat. Aku harus melakukan ini agar dia mengingatku"


Han Sung mendadak mau ikut, tapi pertemuan sudah usai. Dia langsung mewek, meminta Sun Woo untuk bicara pada Ui Hwa agar dia bisa ikut. Sun Woo tidak mau, Han Sung minta bantuan sama yang lain saja. Han Sung tidak mau, dia tidak suka yang lain, dia lebih suka Sun Woo. Sun Woo tersenyum mendengarnya walaupun dia pura-pura protes.

"Apa kau juga berpikir kalau aku ini anak kecil? Aku ini sudah dewasa. Aku bisa menanggung segalanya," protes Han Sung

"Kenapa kau menyukaiku?"

"Entahlah. Aku hanya berpikir kalau kau itu keren"


Sun Woo langsung mencubit pipinya gemas. Dan Sae yang mendengarkan percakapan mereka dari tadi, langsung menjauhkan Han Sung dari Sun Woo dan meminta maaf atas kelakuan Han Sung. Sun Woo menyuruh Dan Sae untuk menahan adiknya ini biar Han Sung tidak mengikutinya ke Baekje.


Han Sung ngotot mau ikut dan ngambek kayak anak kecil. Dan Sae sampai harus menyeretnya pergi dari sana.


Pa Oh stres gara-gara Ji Dwi mengajukan diri pergi ke Baek Je padahal dia sudah diperintah untuk tetap tinggal di sini. Apa Ji Dwi pikir nyawanya adalah miliknya sendiri? "Tanpa Yang Mulia, tidak akan ada Silla. Yang Mulia umur 7 tahun saat aku membawa Yang Mulia keluar dari istana. Aku melihat Yang Mulia tumbuh dan melindungi Yang Mulia."

Ji Dwi berusaha menenangkannya. Tapi Pa Oh tidak bisa ditenangkan, Ji Dwi tidak boleh melakukan ini kepadanya, Ji Dwi bahkan tidak mendiskusikan masalah ini dulu dengannya. Pa Oh tiba-tiba mewek "Bagaimana bisa Yang Mulia menempuh perjalanan yang berbahaya. Aku bahkan tidak bisa ikut.. huaaaa."


Ban Ryu keluar dari Rumah Hwarang dan melihat Soo Yeon di sana. Soo Yeon memberinya sebuah kantong berisi kepangan rambutnya. Soo Yeon cemas jika hadiah itu terlalu berat bagi Ban Ryu, tapi Ban Ryu langsung menyangkalnya. Soo Yeon senang mendengarnya lalu mengecup pipi Ban Ryu.


"Kembalilah dengan selamat. Aku akan menunggu," ujar Soo Yeon. Dia hendak pergi, tapi Ban Ryu tiba-tiba menariknya kembali dan mengecup bibir Soo Yeon.


Ban Ryu tampak begitu bahagia saat dia berjalan ke halaman... sampai saat Kang Sung mencegatnya dan diam-diam memperingatkannya untuk sadar dan tidak mengecewakan Young Shil. Hmm... sepertinya dia tahu apa yang Ban Ryu lakukan tadi.


Pa Oh masih berusaha membujuk Ji Dwi untuk berpikir ulang, dia bahkan berlutut dan memohon sambil mewek. Ji Dwi memperingatkannya untuk berhenti, ini perintah. Sontak Pa Oh kedip-kedip berusaha menahan air matanya. Ji Dwi tak tega juga sebenarnya, dia menepuk-nepuk bahu Pa Oh lalu pergi meninggalkan Pa Oh yang tak bisa lagi menahan tangisnya.


Dan Sae mengantarkan Sun Woo dan berkata kalau Sun Woo kembali dengan selamat maka dia akan mempertimbangkan untuk melayani Sun Woo sebagai tuannya. Sun Woo tersenyum mendengarnya dan mengingatkan Dan Sae kalau mereka sederajat, jadi Dan Sae tidak perlu melayaninya.


A Ro dan Sook Myung pun bersiap pergi. Ratu datang untuk mengantarkan kepergian mereka. Ui Hwa memberikan pidato pembukaan, mengingatkan mereka akan tugas mereka dan mengingatkan mereka untuk selalu menjaga kehormatan mereka sebagai Hwarang kebanggaan Silla.


Setelah Ratu memberikan pidatonya sendiri, mereka pun akhirnya berangkat. Soo Ho teringat percakapannya dengan Ayahnya. Tuan Kim memuji keputusan Soo Ho untuk pergi, tapi dia penasaran apa yang dikatakan Ratu pada Soo Ho. Soo Ho tidak mengatakan detilnya dan hanya berkata bahwa melindungi Raja sama dengan melindungi Ratu.


Ban Ryu pun teringat akan percakapannya dengan Young Shil yang memang menyuruhnya untuk pergi. Dia memberikan sebuah surat dan menyuruh Ban Ryu memberikan surat ini secara diam-diam pada Putra Mahkota Baekje. Saat Ban Ryu menanyakan apa itu, Young Shil berkata kalau itu taruhan dan memperingatkan Ban Ryu untuk menyampaikan surat itu.


Ji Dwi juga teringat akan peringatan Ratu yang menyuruhnya untuk tidak melakukan apapun, jika Ji Dwi terus berusaha melakukan sesuatu maka orang-orang di sekitarnya akan semakin terluka. Sun Woo juga teringat akan Ahn Ji yang memintanya untuk selalu melindungi A Ro apapun yang terjadi.


Ahn Ji shock dan marah besar saat membaca surat yang ditinggalkan A Ro. Hwi Kyung mendatanginya di sebuah kedai. Ahn Ji langsung to the point, bagaimana caranya menjatuhkan ratu Ji So?


Rombongan Hwarang istirahat di sebuah penginapan. Sun Woo melihat Sook Myung duduk menyendiri di depan kamar. Dia menghampirinya dan bertanya kenapa Sook Myung membawa A Ro. Sook Myung mengaku kalau dia tidak bermaksud membawanya, tapi membawa seorang Hwarang yang bisa dia percayai. "Dan sekarang dia ada di sini, berdiri di depanku."

Sun Woo mendengus mendengarnya. Seharusnya Sook Myung bicara langsung saja, dengan begitu dia tidak perlu membawa A Ro. Tapi Sook Myung mengklaim kalau A Ro tetap harus ikut karena mereka butuh tabib dan dia juga butuh pelayan untuk melayaninya.


Sun Woo tiba-tiba mengayunkan kepalan tangannya ke arah Sook Myung, Sook Myung sontak menunduk kaget dan ketakutan.

Dengan masih mengepalkan tangannya, Sun Woo menggumam "Seharusnya aku membiarkannya saja, baik saat pertama kali... dan sekarang."


Sun Woo membuka kepalan tangannya, ternyata dia menangkap serangga. Sook Myung langsung kesal dan hendak menyerang Sun Woo. Tapi gara-gara ketakutan tadi, dadanya tiba-tiba sesak. Sook Myung langsung oleng dengan nafas terengah-engah, untunglah Sun Woo sigap menangkapnya. A Ro datang tepat saat dia melihat Sun Woo tampak sedang memeluk Sook Myung.


Ban Ryu mesam-mesem di tepi sungai sambil menatap kantong pemberian Soo Yeon dan teringat ciuman mereka. Tapi tiba-tiba Soo Ho mencipratinya air. Ban Ryu buru-buru bangkit, tapi saking paniknya dia sampai tak sadar kantongnya terjatuh.


Soo Ho mengambilkannya tanpa curiga, hanya penasaran itu kantong apa. Ban Ryu mengucap terima kasih lalu pergi. Soo Ho sampai heran sendiri, tumben Ban Ryu bilang terima kasih.


Malam harinya, Sun Woo mengantarkan Sook Myung ke kamar tidurnya. Sook Myung berterima kasih atas tadi siang, dia mengaku tak ingin ada siapapun yang mengetahuinya karena rasanya sangat memalukan. Sun Woo mengerti lalu pamit, meninggalkan Sook Myung yang tampaknya semakin mengagumi Sun Woo.


Ji Dwi termenung memikirkan percakapannya dengan Ui Hwa. Di tempat lain, A Ro berusaha menahan tangisnya, teringat saat Sun Woo memeluk Sook Myung. Tiba-tiba dia menyadari kehadiran seseorang, dia menengadah dan mendapati Sun Woo di sana. A Ro bertanya terus terang, apakah Sun Woo memutuskan ikut karena Sook Myung dan bukannya karena dirinya?

"Hatiku sakit setiap kali melihatmu. Bahkan saat aku melihatmu seperti ini, aku merindukanmu bagai orang gila. Tapi kau... kau baik-baik saja kan saat melihatku?"

"Karena aku sendiri. Bukan karena kau, tapi karena aku sendiri," aku Sun Woo sambil menatap lengan A Ro yang pernah dilukainya. "Aku sangat marah pada diriku sendiri. Aku merasa sangat buruk. Karena itulah aku tidak mampu menatapmu"


"Kalau begitu... apa kau... merindukanku? Apa kau juga putus asa?"

"Aku benci pada diriku sendiri. Tapi aku sangat ingin melihatmu"

Sun Woo langsung menarik A Ro kedalam pelukannya. A Ro pun membalas pelukannya dengan lega.


Tapi tiba-tiba Sun Woo melihat beberapa penduduk mengerubungi mereka dengan obor dan berbagai peralatan tani yang mereka gunakan sebagai senjata dan tepat saat itu juga, Ji Dwi lewat dan melihat mereka.

Bersambung ke episode 14

6 comments

Ahhhhhhh cepet bngt udah di update
Senenggggg nyaaa
Gomawoyo unnie😊😊

This comment has been removed by the author.
This comment has been removed by the author.

Fighting ��������

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon