Powered by Blogger.

Content and Images Copyrights by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 5 - 2

A Ro dan Sun Woo termenung memikirkan perpisahan mereka besok saat Sun Woo harus menjalani pelatihan menjadi Hwarang.


Di istana, Ratu Ji So marah-marah karena Raja menentangnya dengan bergabung menjadi Hwarang. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mengusir Raja dari sini. Tapi anak buah Ratu berpendapat mungkin ini yang terbaik bagi Raja mengingat dia tidak aman di kota manapun.

Jika Raja terus bersembunyi, mungkin kejadian yang di penginapan waktu itu akan terulang kembali. Lagipula dia yakin tidak mungkin ada yang menyangka kalau Raja menjadi Hwarang. Ratu Ji So tampaknya mulai berpikir ulang.


Ji Dwi termenung di penginapannya, memikirkan reaksi Ratu Ji So saat melihatnya di upacara tadi. Dia tidak mengerti apa sebenarnya yang salah.


Keesokan harinya, A Ro mengira Sun Woo masih tidur. Dia mencoba membangunkannya dari luar pintu dengan berdehem tapi malah batuk beneran. Dia sedang meminum tehnya Sun Woo, saat Sun Woo tiba-tiba muncul di sampingnya. A Ro sontak memuntahkan minumannya saking kagetnya.


"Kau bangun lebih awal, orabeoni." ujar A Ro canggung dan makin terperangah saat Sun Woo tiba-tiba menggenggam tangannya untuk meminum air yang A Ro pegang. Sun Woo dengan santainya mengambil seragam Hwarangnya yang ada di samping A Ro dan membuat A Ro harus mundur dengan gugup.


Ketua preman melaporkan kegagalan mereka pada Park Young Shil dan sekarang Sun Woo menjadi anak Ahn Ji yang menjadi anggota Hwarang. Tuan Ho marah-marah, tapi Young Shil santai-santai saja menerima informasi itu.


Young Shil berpikir kalau Ratu buru-buru membuat Hwarang pasti karena ada seseorang yang melihat wajah Raja dan dia yakin orang itu adalah anaknya Ahn Ji. Pasti karena itulah Ratu menjadikan anak Ahn Ji sebagai Hwarang.


Sun Woo kebingungan bagaimana harus mengenakan seragamnya. A Ro mengintipnya dari sela pintu dan akhirnya masuk untuk membantunya sambil menggerutui Sun Woo. Tapi akhirnya malah dia sendiri yang kebingungan.
 

Setelah bolak-balik kebingungan, akhirnya dia sukses juga memakaikan sabuk seragam itu dengan benar. A Ro memperhatikannya mulai dari atas sampai ke bawah dan menyadari betul ketampanan Sun Woo, tapi dengan canggung dia berkomentar kalau Sun Woo terlihat normal.

"Kau tahu sejak awal. Aku memang normal... dan sangat tampan. Benarkan?"

A Ro gengsi mengakuinya dan mengalihkan topik, menyatakan kalau dia mau melihat parade Hwarang. Siapa tahu Sun Woo goyah nanti. Bak seorang kakak, Sun Woo menolak dilihat A Ro sambil pura-pura mengeluh tentang betapa menyusahkannya punya adik perempuan.

 

Para penonton, terutama para wanita, heboh bersorak-sorak saat Hwarang diarak keliling kota, apalagi saat Soo Ho mengedip genit ke mereka. Joo Ki shock saat melihat Ui Hwa naik kuda dengan memakai baju kebesaran dan memimpin jalannya parade.


Di tengah jalan, Ban Ryu melihat Soo Yeon yang ternyata adiknya Soo Ho dan dia tampaknya terpesona pada Soo Yeon.


Asistennya Ui Hwa bertanya apakah Ui Hwa tidak takut mengumpulkan semua anak ini jadi satu. Dia menegaskan bahwa dia bukan sekutu Ui Hwa dan akan mengawasi segalanya karena dia pikir Ui Hwa mengambil jalan yang salah. Dia akan melaporkan segalanya pada Ratu. Ui Hwa cuma menanggapinya dengan tertawa tenang.


Park Young Shil mendatangi kedai tehnya Joo Ki bersama Tuan Ho untuk menonton para pemuda yang mabuk-mabukan karena gagal jadi Hwarang. Sekarang mereka berubah menjadi pembenci Ratu. Tentu saja tujuannya datang kemari bukan cuma untuk melihat para pemuda itu, melainkan untuk membeli mereka.

Temannya Ban Ryu yang dulu membuli Mak Moon, jadi salah satu pemuda yang gagal jadi Hwarang dan sekarang dia sangat murka karenanya. Young Shil dan Tuan Ho melihatnya dengan senyum senang.


Pa Oh sedang menyamar jadi penjual keliling saat Ji Dwi muncul. Pa Oh jelas bingung melihat Ji Dwi di sini dan bukannya ikut parade. Dia jadi berpikir kalau Ji Dwi memutuskan untuk batal mengikuti Hwarang.

Dia hampir saja senang dengan pikirannya itu, tapi Ji Dwi malah mengklaim kalau dia akan tetap menjadi Hwarang dan sebentar lagi dia akan pergi ke Rumah Hwarang. Dia tidak mengikuti parade hanya karena harga dirinya.


Sun Woo celingukan mencari A Ro yang katanya mau melihat tapi dia tidak terlihat dimanapun. Sun Woo tidak sadar kalau Woo Reuk ada diantara para penonton. A Ro ternyata memang datang menontonnya, tapi Sun Woo tidak melihatnya.


Pria yang marah-marah di kedai teh tadi, mendorong kerumunan penonton dengan kesal. Tapi gara-gara itu, A Ro hampir terjatuh dan tak sengaja dia membuat baju pria itu robek.

Pria itu semakin marah, apalagi A Ro malah menyalahkannya dan bukannya menawarkan uang untuk menebus bajunya yang robek. Dia hampir saja menampar A Ro. Tapi kemudian dia mengenali A Ro sebagai gadis pembaca cerita di Okta.


Dia langsung menyeret A Ro dengan senyum licik. A Ro berusaha melawannya tapi pria itu terlalu kuat menyeretnya. Tapi tiba-tiba sebuah kantong uang melayang dan menghantam muka pria itu lalu disusul kantong kedua.

Jelas pria itu makin kesal. Ji Dwi menampakkan diri dan menghadang jalan mereka. Dia menyatakan kalau dia akan membayar 20 keping untuk membayar kesalahan A Ro, sementara kantong kedua untuk membayar kesalahannya yang memang sengaja memukul wajah pria itu.

Pria itu tidak terima direndahkan dengan uang. Dia hendak menyerang Ji Dwi tapi Pa Oh beraksi lebih cepat menonjok perutnya. Menyadari dirinya takkan menang, pria itu akhirnya mengambil kantong-kantong uangnya dan pergi.


A Ro berterima kasih pada Ji Dwi dan berjanji akan membayarnya kembali nanti, tapi dia hanya mau membayar yang 20 keping. Ji Dwi mengingatkan A Ro kalau dia juga berhutang untuk yang waktu itu.

"Waktu itu aku sedang kacau. Terima kasih untuk yang waktu itu." ujar A Ro

Mendengar itu, Ji Dwi langsung menggambar bulan sabit di lengan A Ro. Itu adalah surat hutang dan tintanya tidak akan hilang untuk sementara waktu. "Setelah kau membayar hutangmu, aku akan menghapusnya untukmu."

A Ro langsung menatapnya dengan kesal dan berjanji kalau dia pasti akan membayar hutangnya.


Semua Hwarang akhirnya tiba di Rumah Hwarang. Terlebih dulu mereka disuruh minum 3 kali berturut-turut. Tapi minumannya tampaknya sangat keras. Ronde pertama saja sudah membuat mereka mulai oleng.

Dalam ronde kedua, mereka sudah hampir teler. Dan pada ronde ketiga, sebagian besar dari mereka sudah tidak kuat berdiri tegak. Hanya Ji Dwi yang tetap santai menenggak minumannya dan tampak tidak mabuk sedikitpun.


Setelah membuat para pemuda itu mabuk berat, Ui Hwa menunjukkan pelat pintu kamar asrama mereka. Siapa yang dapat warna yang sama maka mereka akan tinggal sekamar. Satu per satu mereka mengambil pelat-pelat itu dari dalam kotak.

Ui Hwa memberitahu mereka bahwa hari ini mereka boleh bertukar teman sekamar jika mereka tidak suka dengan teman sekamar mereka yang sekarang, tapi ini hanya berlaku sampai matahari terbit besok.


Asistennya Ui Hwa tidak suka dengan cara Ui Hwa membuat para pemuda itu mabuk di hari pertama. Takutnya akan sulit mengajari mereka Taoisme, Konfusius dan Mencius. Tapi Ui Hwa santai-santai saja karena dia tidak akan mengajari mereka dengan ajaran itu.

"Jika mereka tidak tahu rasa minuman keras yang sangat kuat, bagaimana bisa mereka akan memahami kekacauan dunia ini? Laozi (pendiri Taoisme) sendiri akan mengizinkan hal ini jika dia melihat situasi yang dihadapi Silla."

Jika anak-anak itu mati karena minuman keras atau membunuh orang, berapa banyak yang akan mereka bunuh nantinya. Yang kuat akan menindas yang lemah dan merampas sesuatu darinya. Biarkan saja anak-anak itu mencoba semuanya.

"Jika kau mengkhawtairkan mereka, kau boleh mengajari mereka tentang tanggung jawab atas perbuatan tersebut." ujar Ui Hwa pada asistennya.


Dalam keadaan mabuk, beberapa Hwarang menghina Sun Woo, tidak terima orang rendahan seperti Sun Woo menjadi Hwarang. Sun Woo berusaha membela diri dan menantang mereka. Para Hwarang itu jadi kesal dan langsung menyerang Sun Woo. Sun Woo berusaha bertahan, tapi dia mabuk berat dan kalah tenaga hingga akhirnya dia malah dikeroyok habis-habisan.


Sun Woo ditendang hingga dia jatuh ke sebuah lubang. Mereka hendak pergi saat Sun Woo tiba-tiba mencengkeram kaki salah satu dari mereka dan menyeretnya terjatuh. Dia bangkit dalam keadaan sadar total dan langsung balas dendam, menghajar para penyerangnya tadi.


Di tempat lain, Soo Ho dan Ban Ryu juga sedang ribut sendiri karena ternyata mereka pelat kamar yang sama, tapi keduanya tak ada yang mau mengalah.


Sementara para pemuda itu berkelahi sendiri-sendiri, Ui Hwa tetap santai. Malah asistennya yang kebingungan dan cemas sendiri. Ui Hwa langsung menyindirnya, dia mencemaskan anak-anak itu atau laporannya pada Ratu.

"Siapa yang peduli mereka saling membunuh. Jika mereka tidak saling membunuh sekarang, mereka akan saling membunuh nantinya."


Sun Woo babak belur dan tengah beristirahat saat Ji Dwi lewat di depannya. Saat dia melihat gelangnya yang dipakai Sun Woo, dia mulai mempertanyakan Sun Woo yang katanya Hwarang pilihan Ratu. Sun Woo hanya menanggapinya dengan meminta Ji Dwi menggendongnya. Ji Dwi menolak.


Tapi sesaat kemudian, dia menggotong Sun Woo yang sudah teler ke kamar mereka. Di dalam, Ji Dwi mendapati mereka satu kamar dengan Soo Ho, Ban Ryu dan Yeo Wool. Yeo Wool mulai penasaran dengan latar belakang Ji Dwi yang tidak jelas.

"Biarkan mereka membenci dan membakar semua yang mereka inginkan. Biarkan mereka melebur bersama-sama hingga mereka tidak bisa membedakan satu sama lain. Dengan begitu, kita dapat membuat sesuatu yang baru dari sini," ujar Ui Hwa.

Bersambung ke episode 6

1 comments:

Menurut saya sun wo pasti anak nya ratu...

Setelah membaca postingan ini harap berikan komentar dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog ini dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon