Powered by Blogger.

Content and Images Copyright by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 8 - 1


A Ro merindukan ibunya, bau ibunya dan belaian lembut ibunya dengan suara angin dan kicauan burung yang jadi ninabobo-nya. Sun Woo penasaran memangnya ibu tidak bisa bernyanyi dengan baik. A Ro membeku mendengar pertanyaannya, "Oraboni, Ibu tidak bisa menyanyikan lagu ninabobo. Ia bisu dan tidak bisa bicara."


Sun Woo langsung canggung. Entah apakah A Ro benar-benar menyadari keanehan dari ketidaktahuan Sun Woo itu atau tidak, tapi dia cepat-cepat menyatakan dugaan kalau Sun Woo pasti lupa. Dengan canggung dia mengklaim kalau dia juga tidak begitu ingat, lalu buru-buru mengalihkan topik menyuruh Sun Woo cepat kembali ke Rumah Hwarang.


Jam 3 subuh, Pa Oh mengantarkan Ji Dwi di tempat ketemuan teman sekamar Ji Dwi, tapi belum ada satupun dari mereka yang kembali. Pa Oh ngomel-ngomel mengomentari teman-teman sekamar Ji Dwi, dia tak senang memikirkan Ji Dwi harus tidur sekamar dengan para binatang itu dan diperlakukan selevel dengan mereka.


Ji Dwi tersenyum mendengarnya, "memangnya apa levelku? Kau tahu sendiri kalau aku belum jadi apapun."

"Apa maksud anda? Bagaimana bisa anda bicara seperti itu? Yang Mulia adalah penguasa Silla. Saya dan langit mengetahuinya. Yang Mulia juga tahu itu." ucap Pa Oh dengan berkaca-kaca.

Melihat air mata Pa Oh, Ji Dwi bercanda menyetujui ucapannya. Kalau dipikir-pikir memang mereka itu sudah memperlakukannya dengan semena-mena. Dia harus menulis nama-nama anak-anak itu dan merebus mereka sampai mati. Pa Oh berkata siap melaksanakan perintahnya, Ji Dwi tertawa mendengarnya.
 

Saat itu, mereka melihat kedatangan Sun Woo. Pa Oh pun buru-buru bersembunyi. Sun Woo berjalan dengan lesu bahkan sampai mengacuhkan omelan Ji Dwi. Dia jadi penasaran kenapa Sun Woo malah bersedih. Teringat kembali ucapan A Ro tentang ibu mereka, Sun Woo bertanya pada Ji Dwi, apakah mungkin dia bisa melupakan kenangan masa kecil tentang ibunya? Misalnya ibunya bisu atau tidak?

Ji Dwi mengaku iri mendengar curhatan Sun Woo, karena dia tidak bisa melupakan kenangan akan ibunya walaupun dia sangat ingin melupakannya. "Orang bodoh macam apa yang kehilangan ingatan sebesar itu?"


Sun Woo tertawa kecut dan menjawab dialah orang bodoh itu. Satu per satu, semua orang akhirnya kembali. Ban Ryu yang paling tersiksa karena harus bertanggung jawab menggendong Soo Ho yang masih pingsan. Mereka pun bergotong royong menggotong Soo Ho masuk. Tapi di tengah jalan, mereka malah dihadang penjaga.


Dan keesokan paginya, mereka semua lagi-lagi dihukum menggotong tandu yang tumpangi Ui Hwa 100 kali putaran dan sekarang baru putaran ke-15. Dia heran dengan kelima anak ini, kemarin saja mereka hampir saling membunuh, apa sekarang mereka tiba-tiba jadi akrab sekarang? Karena kelelahan dan berat, mereka jadi oleng. Akibatnya malah membuat Ui Hwa jadi mual.


Hwarang yang lain cuma menonton sambil menggosipkan hukuman itu. Apa mereka benar-benar akan bisa melakukannya sampai 100 putaran. Seorang diantara mereka menduga kalau mereka hanya akan sanggup 20 putaran, mereka bisa mati kalau sampai 100 putaran.

Han Sung penasaran dengan apa yang dilakukan Ban Ryu pada adiknya Soo Ho, katanya Ban Ryu memegangi dada adiknya Soo Ho. Wah, sepertinya Ban Ryu sudah gila.


Ui Hwa berusaha keras menahan mualnya. Tapi pada akhirnya dia tidak tahan lagi dan langsung memuntahkannya, sekali ke arah Sun Woo dan Ji Dwi dan kedua kalinya ke arah Ban Ryu dan Soo Ho. Jelas saja mereka semua langsung heboh.


Mereka langsung mandi setelahnya, tapi bau muntahannya tetap tidak hilang.  Ji Dwi merutuki alkohol pemberian Yeo Wool itu, sementara Soo Ho keheranan karena sama sekali tidak bisa mengingat kejadian semalam. Ban Ryu terdiam canggung dan Yeo Wool juga tutup mulut.


Selesai mandi, gelangnya Sun Woo terjatuh. Ji Dwi memungutnya dan bertanya-tanya apakah gelang berbentuk unik ini memiliki arti tertentu. Sun Woo mengaku kalau gelang itu sebenarnya bukan miliknya, jadi Ji Dwi tidak perlu tahu apa artinya. Dia ingin mengambilnya, tapi Ji Dwi menjauhkannya.

Kalau gelang ini bukan milik Sun Woo, maka Sun Woo berikan saja gelang ini kepadanya. Ji Dwi mengklaim kalau dia hobi mengkoleksi barang-barang seperti ini. Dia bahkan mau membelinya dengan harga berapapun yang Sun Woo inginkan. Sun Woo menolak menjualnya, ini bukan barang yang bisa dia jual.

"Sayang sekali. Gelang ini sangat cocok dengan seleraku," Ji Dwi akhirnya terpaksa mengembalikan gelangnya itu kembali ke Sun Woo.


Sun Woo memakainya kembali sambil bertanya, apakah Ji Dwi sungguh-sungguh akan perasaannya pada A Ro. Memang kenapa kalau iya? balas Ji Dwi.


Di pasar, Seo Yoon mendapati dirinya jadi bahan gosip orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh. Sepertinya Ban Ryu dan Soo Ho yang selama ini sudah bermusuhan, akan mulai berkelahi gara-gara Seo Yoon. Kali ini perkelahian mereka mungkin tidak akan selesai sampai salah satu diantara mereka mati. Seo Yeon jadi malu dan langsung kabur sambil menutupi wajahnya dengan rambut.


Ban Ryu mendadak jadi baik pada Soo Ho bahkan sampai mengambilkan handuk untuk Soo Ho. 3 pria lewat di sana dan sontak gemetar ketakutan, mungkin mereka mengira bakal ada perkelahian sengit.

Mereka pun buru-buru kabur dan membuat Soo Ho kebingungan dengan tingkah aneh mereka. Ban Ryu dengan canggung berkata kalau dia juga tidak mengerti dengan keanehan anak-anak itu, tapi dia menegaskan pada Soo Ho bahwa semuanya adalah kesalahpahaman. Soo Ho bingung, ngomong apa sih?


Seo Yoon mendatangi Rumah Hwarang. Joo Ki kebetulan baru datang dan langsung panik melihat Seo Yoon, keadaan bisa tambah kacau kalau Seo Yoon ketahuan datang kemari. Seo Yoon menyerahkan sebuah amplop surat pada Joo Ki dan memintanya memberikan itu pada Ban Ryu. Benda itu bisa menyelamatkan nyawa seseorang, jadi Joo Ki harus memberikan itu pada Ban Ryu.


Soo Ho terus keheranan dengan kepalanya yang sangat sakit... tapi tiba-tiba dia teringat kejadian semalam, suara teriakan adiknya dan tamparan adiknya pada seorang pria. Tapi dia tak ingat jelas wajah pria itu. Siapa pria itu?


Joo Ki menyerahkan surat itu pada Ban Ryu. Seo Yoon memberitahu Ban Ryu bahwa kakaknya itu sebenarnya bodoh, arogan dan suka main tangan duluan. Akan sulit baginya untuk membujuk kakaknya lewat surat, karena itulah dia berharap Ban Ryu bertahan. Dia berjanji akan menjelaskan segalanya pada kakaknya saat kakaknya pulang nanti.


A Ro termenung di pinggir sungai dan baru sadar saat Sun Woo datang dan duduk di sebelahnya. Saat Sun Woo mengambil alih cucian A Ro, A Ro terus menatapnya entah memikirkan apa. Sun Woo risih ditatap seperti itu, A Ro lihat apa? A Ro balas protes, memangnya tidak boleh? Apa seorang adik tidak boleh menatap kakaknya sendiri? Dia maklum kok dengan hilangnya ingatan Sun Woo akan ibu mereka.

Sun Woo terus menatapnya sebelum akhirnya memecah kecanggungan mereka dengan sengaja mencipratkan air ke wajah A Ro dan mengacak-acak rambut A Ro. Mereka masih agak canggung saat Sun Woo mewanti-wanti A Ro bak seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya, menasehatinya untuk berhati-hati dengan orang asing saat dia pulang nanti dan berjalan di pinggir saja.


A Ro masih terus termenung dalam perjalanan pulang. Tapi tiba-tiba dia dihadang Seo Yoon yang masih menyembunyikan wajahnya dibalik rambut lalu bertanya apakah ada pembunuhan terjadi Rumah Hwarang? Apa kakaknya belum membunuh Ban Ryu? A Ro mengiyakannya. Tapi pikiran A Ro masih kalut dan akhirnya mengajak Seo Yoon minum-minum.


Setelah menenggak seguci arak, A Ro bertanya-tanya berapa lama dia dan Seo Yoon saling mengenal. Sekitar 12 tahun, jawab Seo Yoon. Hanya A Ro satu-satunya orang yang mau bermain dengannya, dia kesepian gara-gara kakaknya yang tampan itu. A Ro juga begitu, hanya Seo Yoon satu-satunya orang yang mau bermain dengannya saat anak-anak yang lain menghina statusnya yang setengah bangsawan.

"Aku... menyukai oraboni-ku," aku A Ro.

Seo Yoon tidak berpikir pengakuan A Ro itu aneh, dia juga suka kok dengan kakaknya A Ro. A Ro tidak akan bilang suka pada kakaknya lagi saat kakaknya mencekiknya nanti.


A Ro menatap kalungnya dengan sedih. Dia sungguh berharap orang itu adalah oraboni-nya. Tapi di sisi lain, dia tidak ingin orang itu menjadi kakaknya. Seo Yoon tidak mengerti maksudnya.


Ratu Ji So galau memikirkan ucapan Ji Dwi malam itu. Bahwa dia ingin menjadi kuat melalui Hwarang. Ingatan itu membuat kesehatan Ratu kembali menurun hingga ia hampir saja pingsan lagi. Ia menolak dipanggilkan tabib dan bersikeras menuntut bertemu Ahn Ji.


Ahn Ji pun dijemput ke istana Wolseong. Sambil memeriksa denyut nadi Ratu, Ahn Ji teringat percakapannya dengan Park Young Shil waktu itu, dia mengaku kalau dia berencana membunuh Ratu perlahan-lahan. Dengan begitu tidak akan ada masalah saat dia membawa raja baru nantinya. Ahn Ji kesal mendengarnya, kenapa juga Park Young Shil memberitahukan rencananya itu padanya?

"Aku yakin kalau kita punya tujuan yang sama," ujar Park Young Shil.


Ahn Ji menyadari ada yang berbeda dari denyut nadi Ratu, keadaan Ratu perlahan semakin memburuk, dia yakin ini karena racun. Dia lalu mengkonfirmasinya dengan menanyakan apakah Ratu merasa dadanya sakit? Ratu mengiyakannya, terkadang. Ratu bertanya-tanya apakah sakitnya ini karena karma setelah menghancurkan hidup Ahn Ji.
 
Ahn Ji memutuskan merahasiakan apa yang diketahuinya dan berkata kalau sakitnya Ratu karena energinya lemah. Ratu bertanya apakah dia yakin ini bukan penyakit serius. Ahn Ji dengan kesal menyuruh Ratu memanggil tabib istana saja kalau tidak percaya. Tapi Ratu mengaku tak mempercayai siapapun di istana ini selain Ahn Ji.


Dia mengaku sering memikirkan masa lalu. Masa-masa indah saat dia tidak ragu untuk menikah dengan Ahn Ji, saat mereka berlarian seperti anak kecil, saat dia bisa melihat bayangan dirinya di mata Ahn Ji. Apakah Ahn Ji masih membencinya? Jika dia berkata bawha dia masih menginginkan Ahn Ji, apakah Ahn Ji akan datang padanya?


Ahn Ji tak menjawab. Tapi saat dia hendak keluar, dia melihat pelayan Ratu sedang menyeduh teh-nya Ratu. Dia langsung mengendus teh itu dan menyeruputnya. Tapi saat Pelayan Ratu bertanya apakah ada yang salah dengan tehnya, Ahn Ji menyangkal.


Park Young Shil dan Tuan Ho mendatangi kedai tehnya Joo Ki dan bertanya-tanya kenapa Joo Ki bekerja di Rumah Hwarang. Joo Ki berkata kalau dia hanya sedang berinvestasi, menjalin hubungan dengan calon-calon pejabat. Tuan Ho menuntut Joo Ki untuk memberitahu Park Young Shil segala sesuatu tentang Sun Woo. Young Shil berkata kalau dia cuma penasaran dengan Sun Woo.

"Si anjing-burung itu bodoh dan arogan. Kadang dia terlihat bijak, tapi kadang juga tidak. Pokoknya dia sangat berbeda dari semua tuan muda di ibukota."

"Anjing-burung?"

"Dia seperti anjing dan seperti burung. Sepertinya itu nama panggilannya. Dia agak unik atau mungkin... dia tidak normal"

"Maksudmu dia tidak seperti ayahnya?" tanya Young Shil heran.


Di Rumah Hwarang, Ji Dwi menghalangi langkah A Ro untuk memberikan sesuatu padanya. Dia mengklaim kalau dia menemukan benda itu di tengah jalan, A Ro pakai saja. A Ro membukanya dan mendapati itu tabung jarum akupuntur dan jarumnya terbuat dari emas. Kenapa Ji Dwi memberikan ini padanya?

"Kenapa? Kau pikir saja sendiri," jawab Ji Dwi lalu berlalu pergi. A Ro bingung dan mengira kalau Ji Dwi memberikan ini padanya dengan maksud supaya dia mau memberikan pengobatan gratis untuk Ji Dwi.


Setibanya di depan klinik tempat kerjanya, Joo Ki sudah menantinya dengan keheranan, bagaimana bisa A Ro melakukannya. A Ro bingung maksudnya. Joo Ki menyeretnya masuk dan A Ro langsung melongo melihat klinik itu sudah berubah dengan segala macam dekorasi baru nan mewah, bahkan ada guci dari Baekje dan peralatan minum teh dari barat.

A Ro heran dari mana datangnya semua ini. Joo Ki juga tak tahu, tapi dia menduga ada seseorang yang melakukan ini untuk mendapatkan A Ro. Sebaiknya A Ro terima saja kebaikan orang itu. Semua ini harganya pasti setara dengan banyak emas. A Ro tambah melongo, kalau begitu seharusnya orang itu memberinya emas saja! Orang gila macam apa yang melakukan hal-hal gila itu?!


Ji Dwi mendengar teriakan A Ro dari luar dan langsung protes pada Pa Oh. Pa Oh bilang kalau A Ro akan menyukai semua itu. Pa Oh juga heran, dia kira wanita pasti akan menyukai barang-barang itu. Jangan-jangan A Ro itu seleranya buruk. Ji Dwi langsung emosi.

Tapi tepat saat itu juga, A Ro keluar dan bertanya siapa yang sedang mereka bicarakan? Diakah? Apa Ji Dwi yang melakukan hal-hal tak berguna itu? Kalau dia punya emas, seharusnya dia menyumbangkannya. Ada banyak anak kelaparan yang bisa dia beri makan dengan semua emas itu. Apa yang Ji Dwi lakukan sebenarnya?


"Apa yang kulakukan? Karena aku ingin melakukannya untukmu. Semua itu tidak berguna tapi semua itu cantik dan bagus, aku ingin memberikannya padamu."

"Kenapa?"

"Karena aku menyukaimu. Aku tahu kau tidak pintar, tapi aku tidak tahu kalau kau bodoh. Terserah kau mau menggunakan mereka atau membuang semuanya."
 

Sekarang adalah latihan bela diri dengan tongkat kayu. Satu per satu, para Hwarang berlatih dengan penjaga Rumah Hwarang, tapi tak ada satupun yang bisa mengalahkannya. Baru saat giliran Ji Dwi, dia mampu mengimbangi kekuatan dan teknik si penjaga.

Sun Woo diam memperhatikan semua gerakan Ji Dwi. Berikutnya giliran Ji Dwi melawan Sun Woo. Awalnya Ji Dwi berhasil beberapa kali memukuli Sun Woo, tapi Sun Woo bertahan.

Bersambung ke part 2

1 comments:

Makin seruh ceritanya masih mistery sp sebnrnya sun woo suka bgt sm scene so hoo lucu^^ ma kasih sinopsis nya

Setelah membaca postingan ini harap berikan komentar dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog ini dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon