Powered by Blogger.

Content and Images Copyrights by tvN

Sinopsis Introverted Boss Episode 2 - 1

Episode 2: Aku Menyesal, Aku Minta Maaf.


Hwan Ki berdiri di tepi atap gedung tempat Ji Hye bunuh diri sambil menatap kartu nama toko bunga yang tampak sudah kusut. Ia meminta maaf berulang kali tepat saat Ro Woon datang dan keheranan melihatnya.

"Kau minta maaf untuk apa?" tanyanya.

Hwan Ki menoleh dan langsung kaget melihat Ro Woon hingga dia kehilangan keseimbangannya dan oleng, Ro Woon shock... dan episode kali ini pun ganti: Aku Menyesal, Aku Tidak Bisa Minta Maaf.



 
Kita kembali saat Hwan Ki hampir membuang bunganya tapi Ro Woon menghentikannya tepat waktu dan bertanya apakah dia Mr. Smith dan apakah bunga ini untuknya. Hwan Ki kontan panik bukan main berusaha menutupi wajahnya dengan buket bunga.

Dia hendak mengaku dia adalah fans-nya Ro Won. Tapi saking gugupnya, dia jadi tergagap dan Ro Woon langsung saja menyela tanpa mendengarkan ucapan Hwan Ki lebih dulu. Mengira dia bukan Mr. Smith, Ro Woon menuntut dimana Mr. Smith? Orang seperti apa Mr Smith itu?


Dia terus mendesak Hwan Ki sampai Hwan Ki tersudut ke tembok dan membentangkan kedua tangannya menghalangi jalan Hwan Ki, pokoknya dia tidak boleh pergi sebelum menjawab pertanyaannya.

Panik, Hwan Ki langsung mendorong buket bunganya ke muka Ro Woon dan dan berusaha melarikan diri. Ro Woon bereaksi cepat menariknya hingga topinya terlepas. Hwan Ki jadi makin panik mrmakai topinya kembali dan kabur ke toilet.


Merasa sudah aman, Hwan Ki pun meminum air keran. Tapi Ro Woon tiba-tiba muncul dan ngotot menuntut bertemu Mr. Smith. Hwan Ki sontak menyemburkan air di mulutnya saking kagetnya. Para pria lain yang sedang buang air pun jadi kalang kabut.


Hwan Ki panik menyembunyikan dirinya di salah satu bilik toilet. Ro Woon terus menggedor pintu sambil memohon dipertemukan dengan Mr. Smith. Saat masih belum mendapat jawaban, Ro Woon akhirnya hanya menitip pesan. Dia berterima kasih pada Mr. Smith atas segalanya. Berkat Mr. Smith dia berhasil melewati saat-saat sulit.

Dia pura-pura pamit untuk memancing Hwan Ki keluar. Tapi Hwan Ki tahu dia tidak pergi dan bertanya kenapa Ro Woon mendadak berhenti dari pertunjukkan.

"Itu rahasia. Bahkan Mr. Smith pun ingin tahu"

"Kenapa... kau memanggilnya Mr. Smith?"


Tidak nyaman dengan para pria yang sedari tadi mengintip, Ro Woon masuk ke bilik sebelah dan mengaku kalau itu adalah nama palsu dalam novel Daddy Long Legs, John Smith.

Dia mengaku kakaknya meninggal dunia 3 tahun yang lalu. Dulu kakaknya selalu mengrimkan bunga untuknya setiap kali dia tampil. Tapi bahkan sekalipun kakaknya sudah tidak ada lagi, dia tetap mendapatkan bunga. Karena itulah dia merasa seolah kakaknya masih hidup.

"Mr. Smith itu mungkin teman kakakku atau mungkin pria yang dicintainya atau..."

Dia tak melanjutkan kalimatnya saat tak mendengar jawaban apapun dari bilik sebelah. Tok, tok. Apa dia masih ada di sana?


Hwan Ki bertanya apakah Ro Woon sungguh ingin tahu tentang Mr. Smith. Tapi Ro Woon menolak. Memang sebagaian dari dirinya ingin tahu, tapi sebagian lainnya ingin tetap penasaran dan membayangkan sosok Mr. Smith. Walaupun kakaknya sudah tidak ada, tapi dia ingin berpura-pura kakaknya masih ada.

Ro Woon sebal, padahal dia tidak pernah mengatakan semua itu sebelumnya. Apalagi orang diajaknya bicara pendiam banget. Seharusnya kan dia mengucap kata-kata yang bisa menghiburnya.


Ro Woon jadi teringat kakaknya. Dia juga orang yang sangat pendiam. Mendengar itu, Hwan Ki teringat bagaimana gugupnya Ji Hye saat berhadapan dengannya.

"Kalau sakit seharusnya dia bilang saja. Dia terluka parah tapi dia tidak mengatakan apapun. Selama tiga tahun terakhir, itu adalah bagian yang paling sulit. Aku tidak mengerti kenapa kakakku mati. Aku selalu di sisinya. Kami berbagi kamar... seharusnya dia bilang padaku, walaupun cuma satu kata."


Tangis Ro Woon pecah seketika. Hwan Ki tak tahu harus bagaimana dan hanya mengulurkan tangan menyentuh penyekat bilik seolah ingin menghibur Ro Woon.


Berkat itu, Hwan Ki memutuskan menemui Gyo Ri dengan membawa sebuket. Dia bertekad mengatakan sesuatu padanya agar tragedi itu tidak terulang kembali.

Gyo Ri langsung panik saat mendengar suara Hwan Ki dari balik tirai. Gyo Ri hendak membuka tirai untuk menyapa bosnya itu. Tapi Hwan Ki tidak siap bertatap mata langsung dengannya dan akhirnya mereka hanya bicara dari balik tirai.


Saking gugupnya, dia sampai tergagap saat mengakui kesulitannya berinteraksi dengan orang lain. Tidak baik jika orang lain mengetahuinya jadi dia meminta Gyo Ri untuk merahasiakanya. "Karena itulah... ma-maaf... karena telah membuatmu kesusahan."

Gyo Ri sungguh terharu mendengarnya. Hwan Ki memutuskan akan memberi Gyo Ri cuti digaji jadi Gyo Ri istirahat saja. Dia bahkan berjanji akan membayari seluruh biaya perawatan Gyo Ri. Bahkan kalau perlu, dia bisa memperkenalkan Gyo Ri pada seorang psikolog... yah, walaupun dia tidak menjamin kemampuannya karena si psikolog itu bahkan tidak bisa menyembuhkannya.


Sekali kali dia meminta maaf dan membungkuk setulus hati. Gyo Ri menitikkan air mata haru mendengarnya. Tapi saat dia membuka tirainya, Hwan Ki sudah pergi dan hanya meninggalkan buket bunganya.


Hwan Ki tersengal-sengal begitu keluar rumah sakit dan langsung menelepon psikolog-nya dan melapor kalau dia sudah mengatasi sembelitnya. LOL. Psikolog bingung dan menasehati Hwan Ki untuk menarik napas dulu.

"Aku... akhirnya mengatakan sesuatu. Aku mengatakan sesuatu," ujar Hwan Ki tampak begitu bangga dengan dirinya.


Ibu dan Adik Hwan Ki shock mendapati berita tentang Hwan Ki yang tersebar di internet. Berita yang mengatakan kalau Hwan Ki adalah bos kejam yang memperlakukan sekretarisnya dengan buruk.


Ayah Hwan Ki sedang main golf bersama para rekan politiknya saat mereka mengetahui berita itu. Ayah langsung marah. Kantor juga jadi heboh mendapat telepon dari sana-sini gara-gara berita itu. Parahnya lagi, Woo Il tidak bisa dihubungi.


Hwan Ki baru tiba di lobi dan mendapati satpam sedang berusaha menghalangi para wartawan yang menuntut bertemu Hwan Ki. Tapi seorang wartawan tiba-tiba menunjuk ke arah Hwan Ki. Sontak mereka heboh menuntut konfirmasi kebenaran berita itu.

Hwan Ki panik, dia berusaha kabur ke arah berlainan. Tapi di sana dia melihat para karyawannya berkumpul termasuk Ro Woon. Pada saat yang bersamaan, para wartawan berhasil menjebol pertahanan satpam.


Mereka berlari ke arah Hwan Ki... dan melewatinya begitu saja. Rupanya tak ada yang mengenali wajah dan mereka justru menghampiri Woo Il yang baru turun untuk menuntut kebenaran berita tentang Hwan Ki itu dan apakah dia sudah minta maaf pada sekretarisnya. Hanya Ro Woon yang memperhatikan pria bertopi yang anehnya menunduk begitu wartawa berlari melewatinya tadi.

.
Woo Il dengan sopan mengklaim bahwa mereka belum bisa memberikan pernyataan saat ini dan berjanji akan segera menyiapkan pernyataan resmi. Para karyawan langaung terkagum-kagum dan menggosipkan kehebatan Woo Il dalam bicara.


Dia lalu pergi. Tapi saat melihat Hwan Ki di depannya, dia langsung berhenti dan kembali menghadapi wartawan yang masih ngotot menuntut jawaban. Woo Il berkata bahwa mereka tidak pernah menyembunyikan apapun dan tidak pernah menghindari apapun.

Karena itulah mereka tidak akan meminta maaf secara gegabah. Woo Il meminta diberi waktu, jika mereka memang benar melakukan kesalahan maka dia berjanji akan mengakuinya dan merencanakan perbaikan.

Hwan Ki kaget mendengar pernyataan Woo Il itu. Ro Woon pun hanya terdiam tak percaya mendengar pernyataan Woo Il itu. Hwan Ki melihat ekspresinya dan memutuskan melarikan diri saat itu.


Ro Woon tersadar saat Hwan Ki melewatinya dan langsung mengejarnya. Hwan Ki berusaha menutup lift secepat mungkin, tapi Ro Woon berhasil membukanya tepat waktu dan menyapa, "CEO Eun Hwan Ki?"

Hwan Ki langsung berusaha menyembunyikan wajahnya dengan panik dan membatin, kenapa Ro Woon ada di sini. Ro Woon mengingatkan Hwan Ki kalau mereka pernah bertemu. "Memang sih, aku tidak sempat melihat wajahmu. Jadi kita tidak bisa dibilang benar-benar bertemu. Tapi tetap saja, aku sudah melihat sebagaian besar tubuhmu daripada wajahmu."


Hwan Ki membatin curiga, jangan-jangan insiden ini ulahnya Ro Woon dan Gyo Ri. Ro Woon mulai mendekati Hwan Ki tapi Woo Il tiba-tiba muncul, mendorongnya keluar dari lift dan dengan sopan meminta Ro Woon naik lift lain saja. Begitu pintu lift menutup, Hwan Ki bertanya apakah Woo Il mengenal Ro Woon.


"Siapa? Chae Ro Woon-ssi? Dia bekerja di sini. Dia pegawai baru kita."

"Pegawai baru?" Hwan Ki kaget.

"Kenapa? Apa dia mengatakan sesuatu padamu?"

Hwan Ki menyangkalnya. Sekarang dia mengerti, Ro Woon mendadak keluar dari musikal pasti untuk bekerja di sini. Tapi apa yang sebenarnya Ro Woon ingin lakukan di sini. Kembali ke penthouse-nya, Hwan Ki akhirnya membaca artikel kontroversial itu. Gyo Ri sendiri ternyata menghilang setelah keluar dari rumah sakit dan tidak bisa dihubungi sama sekali.

 

Tapi Woo Il diberitahu pegawai rumah sakit kalau Gyo Ri didatangi seorang pria sebelum dia keluar rumah sakit. Woo Il berpikir kalau pria itu datang untuk memberinya uang, Gyo Ri kan tulang punggung keluarganya. Hwan Ki tak percaya kalau Gyo Ri orang yang seperti itu. Tapi Woo Il bersikeras mengklaim kalau dia lebih mengenal Gyo Ri.


Dalam flashback, Woo Il ternyata pernah memberikan seamplop tebal uang pada Gyo Ri dan meyakinkan Gyo Ri untuk tidak cemas, dia yang akan mengurusnya. Gyo Ri menerima uang itu dengan senang hati.


Woo Il mengaku menyesal telah memberikan Gyo Ri uang. Tapi dia yakin kalau Gyo Ri pasti akan segera ditemukan kalau dia membutuhkan lebih banyak uang. Tepat saat itu juga, Woo Il mendapat telepon dari Gyo Ri dan dia langsung menunjukkannya pada Hwan Ki seolah untuk membuktikan ucapannya tentang Gyo Ri tadi benar.

Woo Il mengangkat teleponnya dan menanyakan keberadaan Gyo Ri. Woo Il lalu memberitahu kalau Gyo Ri ada di depan kantor tapi dia melarang Hwan Ki turun. Hwan Ki tidak perlu terlibat, lagipula mungkin wartawan akan mengerubunginya lagi. Woo Il sendiri yang akan menanganinya. Woo Il pun pergi.

Hwan Ki cemas, mengira Ro Woon terlibat dalam masalah ini juga. Hanya tinggal masalah waktu Gyo Ri mengungkapkan masalah itu pada Ro Woon.


Ro Woon naik ke tepi atap gedung dan membayangkan kakaknya di sampingnya. Dengan air mata menggenang dia berjanji pada Ji Hye, "Akan kubuat dia jatuh sampai ke titik terendah."


Begitu lift membuka di lobi, Woo Il malah mendapati Ayah Hwan Ki di depannya dengan wajah penuh amarah. Dia berusaha menenangkan emosi Ayah, tapi Ayah tak bisa ditenangkan. Ia langsung mendorong Woo Il kembali ke lift, menyuruh Woo Il mengantarnya menemui Hwan Ki. Parahnya lagi, Ayah menuntut Woo Il untuk membawa sekretaris itu ke hadapannya.

"Akan kupotong mulut berbisanya itu! Kalau perlu akan kuiris tipis-tipis dan memajangnya di toples kaca!"

Gyo Ri sendiri ada di lobi, sedang bersembunyi di balik tiang dan langsung ketakutan mendengar kemarahan ayah.


Jelas saja dia langsung kabur, bisa-bisa Ayah Hwan Ki benar-benar akan membakarnya hidup-hidup. Tiba-tiba perasaannya tak enak. Dia langsung menoleh, tapi tak melihat apapun di depannya. Syukurlah! Gyo Ri pun lega... sampai saat seseorang tiba-tiba menutupi kepalanya dengan kain hitam.


Ayah masuk ke penthouse sambil bersiap memukul Hwan Ki dengan tongkat golf-nya. Tapi ternyata penthouse itu kosong. Kemana Hwan Ki?

Bersambung ke part 2

1 comments:

Mba, ep 1 dan 3 di blog mana? Tks

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon