Powered by Blogger.

Content and Images Copyrights by tvN

Sinopsis Introverted Boss Episode 4 -1

Episode 4: Aku Tidak Akan menemui Siapapun.


Malam itu saat Hwan Ki melayat ke pemakaman Hye Ji, dia melihat Ayah dan Ibu duduk termenung penuh duka. Dia tidak masuk tapi saat itu, Ro Woon berjalan ke arahnya dengan langkah sempoyongan. Ro Woon sama sekali tidak memperhatikannya dan terus berjalan melewatinya dengan tatapan kosong.


Hwan Ki memutuskan mengikutinya dan diam-diam menjaga Ro Woon dari belakang. Hujan salju turun sangat lebat malam itu dan Ro Woon bahkan tidak mengenakan alas kaki. Tapi dia terlalu bersedih hingga tidak mempedulikan dirinya sendiri ataupun memperhatikan sekitarnya.


Dia terjatuh di tengah jalan, Hwan Ki hendak menghampirinya dengan cemas. Tapi pada akhirnya dia menghentikan diri dan hanya meletakkan sepasang sandal di dekat kaki Ro Woon. Ro Woon terisak, "Dia tidak memakai sepatunya. Dia bahkan tidak memakai sepatunya... saat dia... pergi sejauh itu"

Hwan Ki hanya diam mengawasi Ro Woon dan berusaha menahan emosinya sendiri.

Kembali ke masa kini,


Hwan Ki tampak baru kembali subuh-subuh entah dari mana. Terdengar suara Ro Woon penasaran dengan kegiatan pagi Hwan Ki yang misterius itu. Dia jarang meninggalkan ruangannya tapi sepertinya dia selalu pergi ke entah kemana setiap pagi. Dia cukup obsesif dalam kegiatan hariannya. Mulai dari mandi, bersih-bersih, meraut pensil, mendengarkan musik sambil ngedance lagunya Hyuna - Trouble maker.

Ro Woon datang saat itu dan mengintip dari pintu. Dia sampai musti ngucek matanya saking tak percayanya melihat Hwan Ki ngedance. Hwan Ki berbalik dan langsung membeku melihat Ro Woon. Ro Woon buru-buru keluar dan menampar pipinya sendiri, apa dia barusan berhalusinasi? Sadar! Sadar!


Dia mencoba mengintip lagi, dan kali ini dia mendapati Hwan Ki sedang duduk serius di meja kerjanya. Ro Woon masuk sambil menyapanya riang, tapi Hwan Ki tidak membalas sapaannya. Ro Woon diam-diam mendengus sebal dan memutuskan kalau dia pasti sudah salah lihat, tidak mungkin si psikopat dingin itu menari, dia bahkan tidak pernah membalas sapaannya. Padahal Hwan Ki sendiri sebenarnya sedang galau, takut kalau Ro Woon tadi benar-benar melihatnya menari.


Siang harinya, tim Silent Monster keluar makan siang. Hanya Hwan Ki yang terus duduk di mejanya. Ro Woon yakin kalau Hwan Ki pasti selalu makan sendirian. Dia lalu diam-diam masuk ke dapurnya Hwan Ki. Dapurnya sangat bersih dan tidak berbau terlepas dari apapun yang Hwan Ki makan, tapi dia yakin pasti ada jejak yang tertinggal.

Ro Woon akhirnya menemukan sesuatu, talenan yang ada bekas noda merah seperti darah. Tapi Hwan Ki tiba-tiba muncul di belakangnya dengan tatapan tajam dan langsung merebut talenan itu, Ro Woon sontak ngeri dan buru-buru pergi. Hwan Ki heran sendiri, apa talenan itu bau kimchi?


Semua orang pulang malam harinya. Ro Woon berbalik melihat Hwan Ki sambil bertanya-tanya apa yang Hwan Ki lakukan saat dia sendirian. Besok pagi dia pasti akan keluar lagi secara diam-diam seperti kecoak.

Benar saja, begitu keadaan sudah aman, Hwan Ki langsung mengemudikan mobilnya ke suatu tempat. Ro Woon sudah menunggu di parkiran di sana dan langsung pergi membuntuti Hwan Ki. Tapi yang tidak dia sangka, Hwan Ki ternyata sedang olahraga seorang diri saat tempat itu masih sepi. Dia kagum juga dengan kehebatan Hwan Ki bermain squash. Dia pikir kalau Hwan Ki itu pecundang yang tidak pernah olahraga.


"Nice," pujinya. Dia tidak menyangka kalau Hwan Ki sangat hebat. Saat Hwan Ki menanyakan keberadaannya di sini, Ro Woon beralasan kalau dia juga mau olahraga. Tapi Hwan Ki langsung bergegas pergi begitu melihat kedatangan Ro Woon.

Ro Woon mengikutinya dan berusaha membujuk Hwan Ki untuk mengajarinya. Hwan Ki terus berjalan sambil mengacuhkannya. Ro Woon langsung menghalangi jalannya dan berusaha membujuk Hwan Ki untuk bergaul dengannya, mereka bisa olahraga bersama dan minum minuman dingin bersama setelahnya. Hwan Ki berusaha kabur tapi Ro Woon terus menghalangi jalannya.

Tidak bisa lewat, Hwan Ki langsung mengambil jalan lain, "Aku olahraga sendirian," ujarnya sambil berlalu pergi meninggalkan Ro Woon.


Hwan Ki mendatangi kantornya Woo Il begitu kembali ke kantor. Woo Il menduga kalau Hwan Ki datang pasti karena masih mempermasalahkan Ro Woon. Yah sudah kalau begitu, dia akan menjadikan Ro Woon staf-nya sendiri saja. Ada banyak hal yang ingin dia ajarkan pada Ro Woon.

Hwan Ki tak setuju dan beralasan kalau dia akan memecat Ro Woon secara permanen dari perusahaan. Jika Ro Woon tetap di sini maka... Ro Woon hanya akan membuatnya emosi terus. Woo Il tertawa mendengarnya, mana bisa dia memecat karyawan cuma karena masalah itu. Selain itu, Kementerian Tenaga Kerja masih mengawasi mereka gara-gara rumor penyalahgunaan kekuasaan waktu itu.

Woo Il meminta maaf, Ro Woon membuntuti Hwan Ki karena dia. Woo Il mengaku kalau dialah yang memerintahkan Ro Woon menganalisa karakter Hwan Ki sebagai bagian dari proyek PI (President Identity - membentuk karakterisasi bos).


"Dia mengobservasi semua hal yang kau lakukan dengan detil. Karena itulah bersikap dingin padanya dan perlakukan dia dengan baik."

Woo Il merasa lucu juga sebenarnya melihat Ro Woon membuat Hwan Ki cukup kesulitan. Sepertinya Hwan Ki sudah bertemu lawan sebanding. Hwan Ki coba jalani saja. Jika pada akhirnya dia merasa terlalu berat menghadapi Ro Woon, Woo Il sama sekali tidak keberatan merekrut Ro Woon.


Hwan Ki keberatan, Ro Woon akan tetap bersamanya. Woo Il jelas heran melihat reaksi Hwan Ki. Hwan Ki langsung gelagapan bingung, tak tahu bagaimana harus menjelaskannya dan akhirnya memilih menghindar. Dia hendak keluar, tapi malah melihat Ro Woon berjalan ke arahnya. Hwan Ki langsung panik, menyembunyikan dirinya.

Ro Woon ternyata naik ke kantornya Woo Il. Mereka lalu keluar bersama tanpa menyadari Hwan Ki yang memperhatikan mereka dari bawah tangga. Hwan Ki penasaran, mereka mau pergi kemana?


Woo Il mengajak Ro Woon makan siang di sebuah restoran. Ro Woon berkata kalau dia sudah menyelesaikan perjanjian mereka (mengawasi Hwan Ki), tapi tak banyak yang harus dia tulis jadi dia tidak membuat laporan. Dia hanya punya satu kata untuk menggambarkan Hwan Ki: Kecoak.

Hwan Ki jadi orang yang aktif pada tengah malam, saat orang-orang tidur dan tidak ada yang melihatnya. Dia juga tidak pernah memberi instruksi apapun dan tidak pernah melakukan rapat. Dia cuma menikmati uang hasil kerja keras para pegawai. "Proyek Silent Monster itu cuma omong kosong. Tak lebih dari sekedar panggung pertunjukkan untuk mengkonfirmasi kalau bos kasar itu sudah berubah."


"Kasar sekali," tegur Woo Il.

"Semua pegawai sebenarnya kebingungan. Apa tidak masalah terus diam seperti ini."

"Setidaknya kau sudah bekerja keras."

Ro Woon menyangkal. Dia hanya mengikuti instruksi Woo Il, menimati makanan-makanan enak dan menemui klien. Woo Il bertanya apakah bertemu klien itu menyenangkan. Memberi presentasi di depan klien itu adalah tugas yang sangat sulit. Karena itulah, dalam hal kerja maupun kehidupan pribadi, dia percaya bahwa mengenali orang itu jauh lebih penting daripada cuma berdiam diri dan membaca buku.

Bahkan hari ini pun mereka akan bertemu seorang eksekutif perusahaan makanan Yong Ramyeon dan mereka akan melakukan bidding. Ro Woon bertanya, apakah maksudnya mereka akan menyuap eksekutif itu. Woo Il menyangkal, mereka hanya akan membujuk si eksekutif untuk mengizinkan mereka mengikuti kompetisi tender.


Orang-orang itu datang tak lama kemudian, Ro Woon langsung menyapa mereka dengan ceria. Tuan Jin bertanya siapa gadis ini? Apa dia kekasih Woo Il.

"Dia karyawan yang berharga bagi saya, senjata rahasia saya" jawab Woo Il


Ro Woon tertegun mendengar jawaban Hwan Ki. Beberapa saat kemudian, makan siang hari itu diliputi dengan canda tawa dan suasana yang menyenangkan. Ro Woon dengan cepat mengakrabkan diri dengan semua orang, sifat periangnya membuat suasana jadi makin ceria dan membuat Tuan Jin senang.


Malam harinya, Ro Woon berjalan pulang dengan bahagia mengingat ucapan Woo Il tadi siang bahwa dia adalah karyawan yang berharga baginya. Tapi langkahnya membeku seketika saat dia teringat kalimat Woo Il yang kedua, bahwa dia adalah senjata rahasia.

"Rahasia? Kakakku meninggal di perusahaan itu. Apa yang akan Ayah katakan kalau sampai tahu?"

Flashback 3 tahun yang lalu,


Hari masih petang saat Ibu mengantarkan Hye Ji keluar untuk berangkat kerja. Ibu heran saat melihat sepatu yang Hye Ji pakai, kenapa dia tidak mengenakan sepatu yang Ibu belikan saja. Hye Ji canggung dan beralasan kalau hanya merasa tak enak memakainya karena sepatu yang Ibu belikan itu terlalu mahal.

Ayah keluar tak lama kemudian dan para tetangga memuji-muji kehebatan Hye Ji yang sekarang bekerja di perusahaan besar. Ro Woon pulang tak lama kemudian sambil nyanyi-nyanyi dalam keadaan mabuk. Parahnya lagi, dia memakai dandanan menor dan pakaian seksi. Ibu sudah mau mendampratnya kalau saja Hye Ji tidak segera mencegahnya.

Ro Woon dengan lebay-nya memberitahu mereka kalau kemarin dia lolos audisi dan akan memainkan 18 scene. Para ahjussi tetangga sungguh tak percaya melihatnya, bagaimana bisa dia begitu berbeda dari kakaknya. Ro Woon tiba-tiba kecekluk dan heel sepatunya patah. Ibu shock, itu kan sepatu yang dia belikan untuk Hye Ji.



Ro Woon santai saja memberitahu Ibu kalau unnie yang meminjamkan sepatu ini agar dia lolos audisi. "Terima kasih, unnie. Setelah memberiku keberuntungan, sepatunya tamat."

Hye Ji tertawa melihat tingkah adiknya. Ibu langsung mengambil sapu, mau menghajar Ro Woon. Hye Ji buru-buru mencegah Ibu, Ro Woon mengklaim kalau dia akan membelikan ganti sepatu yang lebih cantik lalu kabur.

Flashback end.


Ro Woon tersenyum mengingat kenangan indah itu. Tapi senyumnya kembali menghilang saat dia sadar kalau semua itu cuma tinggal kenangan. Saat dia masuk, dia melihat dua ahjussi tetangga sedang main baduk di sana.

Ayah seperti biasanya, menyapa Ro Woon dengan bertanya makan dan Ro Woon menjawab sudah. Tapi kali ini dia berhenti sebentar untuk menambahkan, "Lezat sekali. Makanannya enak."

Ayah dan dua ahjussi tetangga keheranan mendengar jawaban Ro Woon yang sekarang lebih panjang daripada biasanya. Sejak Hye Ji meninggal dunia, keceriaan Ro Woon ikut mati dan dia jadi irit bicara. Apa mungkin dia akan kembali ceria seperti dulu.


Ayah diam saja dan meneruskan pekerjaannya. Ternyata, Hwan Ki sedari tadi ada di sana, jadi pelanggan Ayah dan mendengarkan semua percakapan mereka. Ro Woon tidak mengetahuinya karena saat itu wajah Hwan Ki tertutup handuk.

"Dalam kehidupan, beberapa perjumpaan memang harus terjadi. Namun, ada juga yang tidak perlu terjadi,"


Keesokan harinya, Hwan Ki tiba-tiba mendongak dari meja kerjanya dan berkata pada timnya, "Hari ini aku punya instruksi"

Semua orang yang tadinya cuma leye-leye nggak ada kerjaan, sontak menatapnya dengan keheranan. Hwan Ki melihat semua orang menatapnya dan menunggu instruksinya. Dia berdiri dengan tatapan tajam dan berkata, "Jangan menemui siapapun."

Semua orang bingung apa maksudnya. Se Jong malah membuat instruksi nggak jelas Hwan Ki itu jadi candaan sampai membuat Gyo Ri menyembur tawa.


Tapi tawanya langsung terhenti seketika saat dia melihat Hwan Ki menatapnya. Gyo Ri langsung mikir cemas. Jangan-jangan ucapan Hwan Ki tadi ditujukan padanya. Apa maksudnya itu peringatan agar dia tidak menemui media? Apa Hwan Ki mencurigainya?

Tiba-tiba semua orang galau berpikiran yang aneh-aneh tentang instruksi Hwan Ki itu. Jangan-jangan Hwna Ki sudah tahu kalau Sun Bong mengajukan mutasi posisi? Jangan-Jangan maksud Hwan Ki adalah menyuruh Yoo Hee untuk fokus kerja dan mengabaikan keluarganya? Jangan-jangan Hwan Ki melarang mereka mengencani sesama pegawai. Cuma Ro Woon yang menatap Hwan Ki keheranan.


Tiba-tiba Ro Woon dapat telepon dari Tuan Jin. Ro Woon langsung menjauh untuk menerima telepon itu dengan akrab. Tepat setelah dia selesai menelepon, Hwan Ki tiba-tiba muncul di belakangnya dengan tatapan tajam. Ro Woon hampir jantungan melihatnya.

Hwan Ki bertanya Ro Woon bicara dengan siapa barusan. Ro Woon pun memberitahunya tentang proyek Yong Ramyeon, kemarin dia dan Woo Il bertemu dengan Tuan Jin untuk membicarakan proyek itu. Ah, Tuan Jin suka olahrahga dan Hwan Ki kan juga suka olahraga. Bagaimana kalau mereka olahraga bareng saja? usul Ro Woon.

"Daripada menguntit orang, lebih baik kau kerjakan saja tugasmu. Dengan begitu kau akan mendapat pengakuan dari 100 orang. Bukannya kau yang perlu memahami 100 orang itu."

"Tapi... aku bahkan tidak mengerti posisiku yang sebenarnya. Aku juga tidak tahu pasti tugas apa yang perlu kukerjakan. Kau tidak pernah menyuruhku melakukan apapun"


Hwna Ki bingung tak tahu menjawab apa. Kalau begitu Hwan Ki besok mau ikut dengannya, kan? Hwan Ki menolak dan Ro Woon juga tidak usah pergi. Ro Woon langsung punya ide licik. Begitu Hwan Ki pergi, dia langsung menelepon Tuan Jin dan mengusulkan untuk mengubah pertemuan besok jadi subuh.


Hwan Ki baru tiba di lapangan squash-nya saat dia melihat Tuan Jin sedang bermain sendiri. Dia hendak pergi, tapi Ro Woon datang dan langsung menyapanya seolah mereka tak sengaja bertemu. Hwan Ki benar-benar tak bisa menghindar saat Tuan Jin melihatnya dan Ro Woon langsung mendorongnya masuk.

Tuan Jin mengajaknya salaman, tapi Hwan Ki jijik melihat tangannya berkeringat, dia langsung mengambil kaleng minumannya Ro Woon dan memberikannya pada Tuan Jin sebagai ganti salaman. Ro Woon dengan sengaja menggembar-gemborkan kehebatan Hwan Ki bermain squash.

Hwan Ki berusaha menolak saat Tuan Jin mengajaknya bermain bersama, dia selalu melakukan kesalahan jika dia dilihat orang. Tapi Tuan Jin malah semakin ngotot mengajak Hwan Ki bermain bareng. Ro Woon bahkan langsung mengambil tasnya dan menarik jaketnya hingga Hwan Ki tak punya pilihan lain.


Tuan Jin memukul bola duluan, tapi Hwan Ki terus terdiam gugup dan tak nyaman. Tuan Jin lama-lama mulai tersinggung dengan sikap Hwan Ki. Dia jadi semakin kesal saat Hwan Ki berkata kalau apa yang dilakukan Ro Woon ini sudah kelewat batas, dia tidak mau bekerja sama dengan cara seperti ini.



Tuan Jin langsung marah-marah dan ujung-ujungnya malah mendamprat Ro Woon, menuduh Ro Woon menyuruhnya datang kemari pagi-pagi dengan niat terselubung. Kalau tidak maka Ro Woon saja yang main dan usir bocah ini. Hwan Ki berusaha mengajak Ro Woon pergi, tapi Ro Woon malah setuju bermain dan minta diajari.

Tuan Jin tentu saja mengajarinya dengan senang hati, bisa nempel-nempel lagi. Tak suka melihat itu, Hwan Ki akhirnya setuju bermain. Tuan Jin menolak dan terus saja menyentuh-nyentuh tubuh Ro Woon. Hwan Ki makin kesal dibuatnya dan langsung saja memukul bola.


Bola itu memantul ke dinding dan langsung menghantam kepala Tuan Jin. "Saya kan sudah bilang kalau saya selalu membuat kesalahan jika dilihat orang," alasan Hwan Ki lalu pergi.


Saat Woo Il mengunjunginya, Tuan Jin bersumpah akan menuntut Hwan Ki. Pokoknya dia tidak mau berdamai, dia yakin kalau Hwan Ki sengaja tadi. Woo Il dengan santainya mengingatkan Tuan Jin bahwa jika dia menuntut dan dilakukan investigasi maka Tuan Jin lah yang akan rugi karena jelas-jelas dia melecehkan pegawai mereka. Bukankah dia sudah bilang, kalau Ro Woon adalah karyawan yang berharga baginya.


Hwan Ki menawarkan amplop tebal sebagai biaya rumah sakit "Tolong maafkan dia dan jangan memperbesar masalah... demi keselamatan saya," ucap Woo Il sambil membungkuk dalam-dalam. Ro Woon melihatnya dari pintu dengan penuh rasa bersalah.


Begitu kembali ke kantor, Woo Il berusaha membujuk Hwan Ki yang keras kepala tidak mau bekerja sama dengan Tuan Jin. Lagipula, jelas-jelas dia menginginkan hal lainnya. Dia tidak akan mungkin lagi menilai presentasi mereka secara adil. Tapi Woo Il tetap bersikeras membujuk Hwan Ki melakukannya demi kebaikan pegawai, "Tidak, demi keselamatanku."

"Kau mulai lagi"

Flashback,



Hwan Ki ternyata memang suka sekali memakai kalimat itu setiap kali dia berusaha membujuk seseorang. Kalimat yang terdengar seolah dialah yang terus berkorban. Hwan Ki mulai menyadari kalau Woo Il selalu ingin menunjukkan kehausannya untuk menjadi pusat perhatian.

"Menjadi pusat perhatian tidaklah buruk. Hanya saja, aku tidak bisa seperti dia. Aku selalu berterima kasih dengan tulus karena dia mau menggantikan posisinya sebagai pusat perhatian dengan sukarela. Tapi..."

Dalam acara konferensi press, Woo Il tampak begitu senang saat para kameramen memotretnya. Bahkan saat seorang wartawan menanyakan perbandingan ketampanannya dengan Hwan Ki, Woo Il dengan nada bercanda berkata kalau dia 20 kali lebih tampan daripada Hwan Ki. Hwan Ki hanya diam menatap wawancara itu dari kejauhan.


"... masalahnya, dia menunjukkan reaksi berlebihan atas perhatian itu sampai pada titik yang berbahaya."

Flashback end.


Hwan Ki berterus terang mengkritik keserakahannya. Woo Il tersinggung mendengarnya, apa Hwan Ki menuduhnya melakukan ini demi cari perhatian? Dia hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk membantu proyek Silent Monster. Hwan Ki menghargai usaha Woo Il, tapi dia sendirilah penanggung jawab Silent Monster, jadi sebaiknya Woo Il tidak usah lagi ikut campur.

"Lalu bagaimana dengan karyawanmu?"

"Aku yang akan melindungi mereka"

Woo Il semakin meremehkannya. Memangnya bagaimana Hwan Ki akan melindungi mereka? Dengan membuang kesempatan mereka melakukan bidding? Dengan membuang-buang waktu padahal seharusnya mereka belajar dan mencari pengalaman? Jika Hwan Ki terus melakukan ini maka takkan ada yang mau memberi pekerjaan pada Silent Monster.

Kalau Hwan Ki tidak mau main kotor, dia bersedia melakukannya. Woo Il mau melakukan segala macam pekerjaan kotor dan Hwan Ki hanya perlu menyelesaikannya dan menunjukkan pencapaiannya. Sebenarnya siapa yang ingin Hwan Ki lindungi? Karyawannya atau dirinya sendiri?

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon