Powered by Blogger.

Content and Images Copyrights by SBS

 Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 17 - 1

Saat hendak mengambil semua ingatan Dae Young, Chung melihat akhir tragis Dam Ryung dan Se Hwa. Chung menangis shock menyadari kebohongan Joon Jae. Ingatan Dae Young tampaknya sudah hilang saat dia menatap Chung dengan bingung. Dia bahkan tidak ingat siapa Chung dan kenapa dia bisa ada di sini.

Chung langsung menyudutkannya, "Aku melihat orang-orang yang kau bunuh. Aku mendengar teriakan mereka."


Dae Young tidak mengerti maksud Chung, siapa yang dia bunuh? Chung membatin bahwa mereka adalah orang-orang yang terlahir dengan berkah dan tumbuh menjadi bagian dari sebuah keluarga. Orang-orang yang memimpikan masa depan untuk menua bersama.

"Kau dengan kejam mengakhiri masa depan orang-orang itu. Aku juga akan mengakhirinya. Akan kubuat hidupmu bagai kertas kosong agar kau tidak mengingat apapun, agar kau tidak akan bisa termaafkan."


Chung semakin mendekati Dae Young hingga dia tersudut ke pagar pembatas. Panik, Dae Young langsung menghunus pisau. Tapi Chung mencengkeram tangannya kuat-kuat. Chung menutup mata kembali dan kali ini dia melihat Se Hwa menancapkan tombak itu ke dadanya sendiri.

Chung seketika memegangi dadanya seolah merasakan tombak itu menusuk dadanya. Dae Young yang tampak begitu bingung dan ketakutan, buru-buru melarikan diri dari sana meninggalkan Chung yang terjatuh lemas memegangi dadanya.


Di tengah jalan, Dae Young tak sengaja bertubrukan dengan seorang pria. Pria itu mengenalinya, Dae Young pun bergegas pergi dari sana sementara pria itu memanggil polisi dan melaporkan Dae Young.


Joon Jae berusaha membujuk ayahnya untuk yang terakhir kalinya, berusaha meminta Ketua Heo untuk mempercayainya sekali saja, berusaha meminta Ketua Heo pergi bersamanya sekarang. Tapi Ketua Heo tetap ngotot tidak mau pergi.

Joon Jae terpaksa pergi meninggalkan Ketua Heo dengan air mata mengalir di pipinya. Joon Jae cs pun pergi dengan diiringi tatapan curiga ahjumma. tapi begitu Joon Jae pergi, Ketua Heo diam-diam menangis.


Seo Hee datang ke acara pertemuan nyonya konglomerat yang diadakan Jin Joo dan menyindir halus diamnya mereka begitu dia datang. Jin Joo datang tak lama kemudian dan pura-pura kaget melihat Seo Hee di sana, Jin Joo bahkan sudah tidak mau lagi repot-repot memanggil Seo Hee dengan panggilan kehormatan.

Jin Joo bertanya-tanya siapa yang mengundang Seo Hee kemari, dia sengaja tidak mengundang Seo Hee karena takut Seo Hee merasa tak nyaman. Seo hee penasaran, memangnya apa yang akan Jin Joo katakan hingga dia harus merasa tak nyaman?


Jin Joo pun memanggil 'Unnie'... dan masuklah Ibu Joon Jae dengan penampilan yang sangat elegan. Seo Hee kaget melihatnya.


Semua orang belum kembali saat Chung pulang. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu, Chung mengingat kenangannya dengan Joon Jae dan membatin "Heo Joon Jae, aku sangat menyukai tempat ini. Ini adalah rumah pertamaku. Seberapa dingin di luar, ini adalah tempat hangat bagiku untuk kembali, untuk bicara denganmu, untuk tertawa bersamamu, bersenang-senang denganmu. Tempat dimana aku bisa melihatmu setiap saat. Tempat aku bisa mencintaimu sebanyak yang kumau. Tapi kurasa aku tidak bisa tinggal di sisimu."


Seo Hee ingin pergi, tapi Jin Joo menyarankannya untuk tetap di sini saja karena toh dia sudah terlanjur datang. Dia lalu memberitahu semua orang tentang alasannya mengumpulkan mereka di sini. Terlebih dulu dia memperkenalkan Unnie yang datang bersamanya ini adalah mantan istri Ketua Heo, lalu memberitahu mereka bagaimana dulu Ibu berpisah dengan putranya, tapi beberapa hari yang lalu Ibu bertemu kembali dengan putranya secara dramatis.

Semua orang langsung memberi ucapan selamat untuk Ibu. Ibu langsung menatap Seo Hee tajam, "Aku sudah bilang, kan? Aku akan menemukan putraku dan mengembalikan segalanya ke tempat semula."


Jin Joo tersenyum remeh. Yah, selamat untuk Ibu karena sudah bertemu kembali dengan putranya. Tapi mengembalikan putranya ke tempat semula itu tidak akan mudah karena tempat itu sudah menghilang. Dia lalu mengumumkan pada semua orang bahwa suaminya sudah meng-sah-kan surat wasiat dan memberikan seluruh harta kekayaannya padanya dan Chi Hyeon.

Merasa sudah menang, Jin Joo bersumpah kalau dia akan mengingat semua wajah semua orang yang ada di sini, sebaiknya mereka berdoa saja semoga mereka tidak akan memerlukan bantuannya. Jin Joo shock, kalau yang dikatakan Seo Hee itu benar, berarti Ketua Heo itu sudah gila. Ibu cuma diam saja, berusaha menahan emosinya.


Dalam perjalanan pulang, Seo Hee menelepon Dae Young. Tapi Dae Young sudah tidak ingat siapa nama kontak berinisial 'J' yang meneleponnya itu. Dengan ragu-ragu dia mengangkat teleponnya dan bertanya siapa dia. Dae Young mengaku bingung, dia tidak mengerti kenapa orang-orang menuduhnya sebagai pembunuh. Apa Seo Hee mengenalnya?

Seo Hee jadi berpikir kalau Dae Young pasti belum minum obatnya dan menanyakan keberadaan Dae Young. Dae Young sungguh tak tahu dia ada di mana, dia bahkan tidak tahu siapa dirinya sendiri.


Chi Hyeon pulang dan diberitahu ahjumma kalau tadi dia mendengar suara seseorang menyebut 'ayah'. Chi Hyeon pun langsung naik menemui ayahnya dan bertanya apakah ada seseorang yang datang kemari, ahjumma bilang kalau tadi ada pekerja berkeliaran di sini. Ketua Heo berbohong tak tahu dan mengaku kalau dia tidur sedari tadi.


Pura-pura mempercayai kebohongan Ketua Heo, Chi Hyeon langsung keluar untuk menghubungi petugas CCTV. Dia diberitahu kalau sistem mereka eror selama 2 jam dan sampai sekarang belum bisa diperbaiki. Chi Hyeon langsung ngamuk-ngamuk.

 

Tae Oh menyerahkan USB berisi file yang dia copy dari komputernya Ketua Heo dan memberitahu bahwa Ketua Heo memang benar sudah menyerahkan seluruh harta kekayaannya pada Seo Hee dan Chi Hyeon. Nam Doo berkomentar kalau Joon Jae sepertinya benar-benar sudah dibuang.

Tapi Joon Jae berkata tidak ada bukti kalau ayahnya mengecek surat wasiatnya karena ayahnya sudah hampir tidak bisa melihat lagi, Ketua Heo bahwa sudah tidak bisa mengenalinya walaupun dia berdiri tepat di hadapan Ketua Heo.


Detektif Hong langsung mengomelinya dengan kesal, kenapa Joon Jae meninggalkan ayahnya kalau begitu?

"Dia bilang kalau dia tidak mempercayaiku. Karena aku penipu."


Dia lalu menyerahkan sebuah tabung berisi jarum dan pil yang dia ambil dari lacinya Seo Hee dan meminta duo detektif untuk menyelidiki semuanya. Dia juga punya satu bukti lagi, foto bunga-bunga ungu yang menghiasi seluruh ruangan. Nam Doo mengenali bunga itu sebagai Nordic Wolfbane, bunga itu juga dikenal sebagai ratunya racun. Pada zaman romawi, biasanya bunga itu digunakan untuk membunuh pangeran secara diam-diam.

Detektif Hong ingat kalau beberapa tahun yang lalu di Jepang dan di Korea, ada beberapa insiden dimana orang-orang kecanduan bunga ini dan mati.


Mendengar itu, Joon Jae mendesak Detektif Hong untuk membantu mereka secepat mungkin. Sudah ada beberapa bukti ini, jadi baiknya polisi segera mengeluarkan surat perintah. Rekan Detektif Hong hendak protes, tapi Detektif Hong tiba-tiba menyetujui permintaan Joon Jae.


Seo Hee menemukan Dae Young di pojokan tempat sampah. Dia menyebutkan namanya Kang Seo Hee, tapi Dae Young sama sekali tidak mengingatnya. Baru saat Seo Hee menyebutkan nama aslinya Kang Ji Hyun, Dae Young mulai mengingat masa lalu mereka.

Flashback,


Di panti asuhan, Ji Hyun kecil mendekati Dae Young kecil yang sedang menggambar sendirian. Saat itu, Dae Young kecil baru saja dibuang oleh orang tuanya. Ji Hyun memberitahu Dae Young kecil kalau dia akan diadopsi dan bertanya kenapa Dae Young dibuang oleh orang tuanya. Dae Young mengaku karena dia selalu menangis dan menjerit-jerit setiap malam karena mimpi buruk.


Ji Hyun berkata kalau saudara kembarnya diadopsi oleh keluarga kaya dan dia berharap bisa diadopsi kedalam keluarga sebaik itu. Dia bertanya apakah dia boleh menulis surat pada Dae Young untuk minta saran jika nantinya dia diadopsi, Dae Young setuju. Ji Hyun melihat gambar yang Dae Young gambar adalah putri duyung.

Flashback end,


Kembali ke kamarnya, Joon Jae mendengar suara musik yang cukup keras dari kamar loteng. Dia berusaha memanggil Chung tapi Chung tidak mendengarnya. Saat dia naik, dia malah mendapati Chung berbaring lemas. Joon Jae jadi cemas, apalagi suhu tubuh Chung terasa sangat dingin.

Chung menampik tangannya dan mengusirnya dengan kesal. Dia harus memikirkan sesuatu tapi tak mau Joon Jae mendengar pikirannya. Dia jadi tidak bisa berpikir jernih gara-gara itu. Dia tidak suka sedikitpun dengan fakta kalau Joon Jae bisa mendengar pikirannya. Jadi tolong menjauhlah darinya.


Saat Joon Jae hanya menatapnya dalam diam, Chung menawarkan diri untuk pergi. Masih bingung, Joon Jae berkata dialah yang akan pergi. Chung berpikir saja sepuasnya. Tapi sebelum pergi, Joon Jae menarik Chung kedalam pelukannya dan bertanya apakah Chung sungguh baik-baik saja.

Chung melepaskan pelukannya dan menyuruh Joon Jae pergi sekarang. Joon Jae berkata kalau dia akan tidur di sofa ruang tamu saja. Dia tidak akan bisa mendengarkan Chung dari sana, sungguh. Dia bahkan meyakinkan Chung dengan berjanji akan bilang ke Chung jika dia memang mendengar pikiran Chung.


Ada Nam Doo saat Joon Jae ke sofa ruang tamu. Dia mengaku kalau dia diusir Chung. Nam Doo menduga kalau Joon Jae pasti melakukan sesuatu yang salah. Joon Jae menyangkal, Chung bilang kalau dia hanya ingin memikirkan sesuatu. Nam Doo semakin yakin Joon Jae melakukan kesalahan. Joon Jae bersiekras menyangkalnya.

"Apa kau tahu apa artinya saat seorang wanita berkata ada sesuatu yang perlu dia pikirkan? Maksudnya, 'aku tahu apa yang telah kau lakukan'. Itu artinya si pria melakukan kesalahan. Si wanita sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan pada si pria dan perbuatannya itu. Apa kau yakin tidka menyembunyikan sesuatu darinya atau melakukan kesalahan?"


Seo Hee bertanya kesal, apa saja yang bisa Dae Young ingat. Dae Young mengaku kalau dia ingat Kang Ji Hyun, gadis di panti asuhan dan mayat-mayat orang-orang yang tidak dia kenal. Dia bisa mendengar suara teriakan mereka tapi dia tidak tahu kenapa mereka meneriakinya.

Seo Hee tidka tahu kenapa ingatan Dae Young tiba-tiba menghilang, tapi dia mengingatkan Dae Young bahwa Ma Dae Young tetaplah Ma Dae Young. Dia orang yang selalu membalas dendam. Dae Young tak percaya, sama sekali tidak bisa mengingat apapun.

Seo Hee pun berusaha mengingatkan Dae Young bahwa dunia ini tidak pernah mempedulikan Dae Young, sejak lahir Dae Young tidak pernah merasa benar-benar bahagia. Hidup Dae Young selalu penuh dengan hukuman. Karena itulah Dae Young harus balas dendam pada dunia yang telah membuangnya.

"Jadi... aku benar-benar membunuh orang-orang itu? Entah kenapa aku tidak ingat."

Seo Hee menduga hilangnya ingatan Dae Young pasti karena masalah emosinya yang sulit dikontrol. Kalau begitu mungkin Dae Young memang tidak akan bisa mengingatnya. Tapi jangan khawatir, dia akan selalu ada di sisi Dae Young seperti biasanya. "Akan kuberitahu pada siapa kau harus balas dendam."


Keesokan harinya, Joon Jae naik ke kamar Chung dengan memakai headphone dan meyakinkan Cung kalau dia sungguh-sungguh tidak bisa mendengar apapun. Ayo turun dan makan sarapan.


Dia tetap memakai headphone-nya selama memasak dan kesulitan mendengar pertanyaan Tae Oh dan Nam Doo sampai-sampai dia harus berteriak-teriak. Tae Oh langsung melepas headphone miliknya itu dari telinga Joon Jae.


Joon Jae sedikit lega juga sih, karena kupingnya serasa mau meledak barusan dan tenggorokannya jadi serik. Chung turun tak lama kemudian dan Joon Jae langsung memasang headphone itu dan teriak-teriak lagi.



Kepala polisi menolak mengeluarkan surat perintah. Kepala Polisi kesal karena Detektif Hong mendapatkan semua bukti itu tanpa surat perintah resmi. Detektif Hong tidak mengerti kenapa bisa jadi ilegal, Heo Joon Jae kan anggota keluarga itu. Dia anak yang pulang ke rumahnya dan bukannya merampok rumahnya. Dia juga masuk dengan cara yang benar.

"Dengan pakaian pembasmi hama?"

"Dia orang yang suka memakai bermacam-macam pakaian. Seperti yang kukenakan. Itu menunjukkan jati dirinya."

Detektif Hong meyakinkan Kepala Polisi bahwa obat itu adalah antikolinergik, digunakan untuk mengendurkan otot dalam proses anestesi. Tapi Kepala Polisi tetap bersikeras menolaknya karena semua itu bukti ilegal. Detektif Hong jadi kesal.


Detektif Heo dan Joon Jae memata-matai rumah Ketua Heo. Detektif Hong sudah bicara dengan dokter mata Ketua Heo dan dokter membenarkan kalau jarum itu biasanya digunakan untuk operasi. Dokter bilang Ketua Heo mengalami kerusakan korna mata dan membutuhkan donor kornea.


Di jok belakang, Tae Oh sibuk melakukan peretasan untuk menyelidiki pengacara dan saksi-saksi yang terlibat dalam penandatangan surat wasiat itu. Detektif Hong mengomentari betapa mudahnya bagi mereka untuk melakukan peretasan dan memutuskan untuk tutup mata saja, pura-pura tak melihat.


Di ruang pribadinya, Seo Hee menyadari jumlah obat di botolnya berkurang. Dia langsung memanggil ahjumma dan bertanya apakah ada orang yang masuk kemari. Saat Ahjumma mengaku ada petugas pembasmi hama masuk kemari, Seo Hee langsung membentaknya. Dia sudah bilang untuk tidak membiarkan siapapun masuk kemari.


Teriakannya tentu saja didengar oleh Joon Jae cs. Joon Jae menyarankan agar sebaiknya mereka melakukannya besok. Jika Detektif Hong masih belum mendapatkan surat perintahnya maka mereka terpaksa harus menggunakan cara mereka sendiri.


Seo Hee mendatangi Ketua Heo dengan membawa obatnya. Tapi tidak seperti biasanya, Ketua Heo sekarang meragukannya dan berkata kalau dia akan meminumnya nanti. Seo Hee merasakan keanehan sikapnya tapi dia mengiyakannya saja dan pergi. Ketua Heo mulai cemas teringat akan ucapan Joon Jae tentang Seo Hee.


Ia akhirnya memutuskan untuk membungkus obat itu dengan tisu dan membuangnya ke tempat sampah...


Sayangnya, penglihatannya membuatnya tidak sadar kalau Seo Hee tidak pernah pergi dari sana dan melihat apa yang barusan dilakukannya.


Ibu mengunjungi Manager Nam. Istri Sekretaris Nam senang mendengar Ibu sudah bertemu kembali dengan Joon Jae. Ibu yakin Sekretaris Nam pasti akan segera sadar. Istri Sekretaris Nam diberitahu dokter bahwa Sekretaris Nam bisa pulih dalam kondisi seperti itu merupakan suatu keajaiban. Seumur hidup Sekretaris Nam selalu kurang beruntung.

Ibu menggenggam tangan Istri Sekretaris Nam dan berkata, "Orang bilang hal buruk dan baik akan selalu dialami oleh semua orang. Karena selama ini mereka banyak mengalami hal buruk, sekarang yang terisa adalah hal yang baik. Salah satunya adalah keajaiban."

 

Dalam komanya, Sekretaris Nam mendapat mimpi hidupnya di jaman Joseon. Saat dia berusaha melarikan diri malam itu dengan membawa gulungan. Dia bersembunyi di tumpukan jerami dengan gemetar ketakutan, tapi seseorang menemukannya... Nam Doo. Mimpi itu membuat jari-jari Sekretaris Nam bergerak-gerak.

Bersambung ke part 2

2 comments

Nam doo ga jahat kok. Di ep 18 Dia malah ngebantu jon jae sm detektif hong buat nangkep ibu tirinya. Tp di akhir ep chi hyun nembak jonjae dan chung ��

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon