Powered by Blogger.

 Content and Images Copyrights by SBS

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 17 - 2


Nam Doo menemui pengelola aquarium, Tuan Choi Min Gyu. Dia mengaku sebagai seorang investor dan bertanya berapa harga Putri Duyung jika dijual disana? Bukan Putri Duyung pertunjukkan tapi Putri Duyung sungguhan?


Tuan Choi tidak yakin apakah memang Putri Duyung itu ada atau hanya hoak, tapi kemungkinan dia tidak bisa membelinya karena harganya bisa mencapai ratusan milyar won. Tapi, kenapa dia bertanya seperti itu?

Nam Doo dengan nada bercanda mengatakan jika ia punya teman dekat seorang putri duyung. Tuan Choi pun membalas guyonannya, kalau begitu kenalkan dia dengan temannya itu. Keduanya tertawa kemudian meneruskan untuk berkeliling.

Flashback,



Setelah ingat pernah menyuruh Chung menangis, Nam Doo pergi ke kamar Chung. Ia terkejut menemukan setoples mutiara dalam kamarnya. Ia masih belum begitu menaruh curiga. Sampai kemudian, dia mendengarkan pembicaraan antara Chung dan Joon Jae dipinggir kolam. Joon Jae memanggilnya “Pseudo-mermaid”.

Flashback end.


Chung mengundang Yoo Na dan Gelandangan ke rumahnya. Ia mengaku hanya ingin melihat wajah mereka namun dalam batinnya dia berkata, jika ia kemungkinan akan meninggalkan tempat ini dalam waktu dekat. Chung memberikan isyarat pada Yoo Na supaya tidak mengatakan apapun tentang suara batinnya. Yoo Na mengangguk.

Chung berkata jika Yoo Na adalah teman pertama yang ia temui saat sampai disini. Saat mengalami waktu yang sulit, dia menjadi seseorang yang bisa diandalkan dan terkadang Yoo Na lebih dewasa darinya.

“Lalu aku apa? Siapa aku untukmu?” tanya gelandangan.

Chung merasa jika Noona lebih seperti pelatih untuknya. Chung sampai kemari dengan tidak mengerti apapun dan dia telah mengajari segalanya. Dia benar-benar pintar. Gelandangan malu mendengarkan ucapan Chung tapi Chung meyakinkan jika apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran.


Gelandangan tersenyum, dia bercerita pada Chung karena hanya dia yang mau mendengarkan apa yang ia ceritakan. Kalau orang lain mungkin sudah memberinya koin atau meludahinya. Itu semua karena penampilannya. Tapi bagi Chung penampilan bukanlah masalah, dia tetap pelatih baginya. Ia pun memeluk kedua temannya.


Si Ah menelepon Joon Jae, ia mengajaknya untuk bertemu di cafe. Ada sesuatu yang ingin ia katakan padanya. Joon Jae mengiyakan, dia juga ingin mengatakan sesuatu padanya. Tae Oh duduk disamping Joon Jae dan mendengarkan pembicaraan mereka. Ia tersenyum kecil menyadari Si Ah mendengarkan sarannya.


Joon Jae ingin membicarakan masalah Ibunya yang ternyata Ahjumma di rumah Si Ah. Si Ah mengaku sudah mengetahuinya. Mereka tinggal bersama, Ahjumma terkadang terlihat bersahabat dan tidak seperti orang asing. Tapi setelah mengetahui jika dia adalah Ibu yang sedang Joon Jae cari, Si Ah berfikir jika segala sesuatu memiliki hubungan.

“Hubungan? Hubungan seperti apa?”


“Aku ingin mengatakan ini paling tidak sekali. Aku sangat menyukaimu, bukan sebagai teman melainkan sebagai seorang pria. Selama 7 tahun, aku lebih sering menatap punggungmu daripada matamu. Bukannya aku tidak tahu siapa yang ada dihatimu, aku menyukaimu jadi aku akan menunggumu.”

“Menunggu?”

Si Ah pikir jika Chung bukan seseorang yang akan selalu berada disamping Joon Jae. Joon Jae meminta Si Ah tidak menunggunya, Chung akan selalu berada disampingnya. Kalau Chung pergi kesuatu tempat maka Joon Jae yang akan mengikutinya. Ia menyuruh Si Ah jangan menatap punggungnya lagi dan temukan seorang pria yang bisa menatap matanya.

Si Ah tertunduk diam, meskipun dia sudah mengetahui jawaban apa yang akan dilontarkan Joon Jae. Si Ah tetap sedih dan meneteskan air matanya.


Sesampainya di rumah, Chi Hyun sudah menantinya. Joon Jae malas bertemu dengannya, kenapa dia datang ke rumahnya? Chin Hyun mengaku jika ia datang ke sana karena Joon Jae mendatangi rumahnya. Joon Jae marah dan langsung menghantam wajahnya. Chi Hyun berniat membalasnya namun Joon Jae bisa menghindar, ia melayangkan satu pukulan lagi dipipinya.

Chi Hyun menuntut alasan kenapa Joon Jae datang ke rumah, ayah sendiri mengatakan padanya jika dia tidak mau bertemu dengan putra yang menjadi penipu. Anak ayah hanyalah dirinya seorang, itu sudah cukup.


Joon Jae menarik kerah baju Chi Hyun dengan geram. Chi Hyun menantang, memangnya apa yang ia katakan salah? Bukankah memang benar jika Joon Jae adalah seorang penipu. Joon Jae bertanya kenapa Chi Hyun tidak mengatakan padanya jika kondisi mata Ayah seperti sekarang?

“Aku sudah mengatakannya. Kau yang sudah mengabaikannya.”

Bukan itu yang jadi masalah, Joon Jae yakin kalau Chi Hyun tahu jika ini adalah perbuatan ibunya. Kenapa dia membiarkan ibunya melakukan itu selama ini pada Ayah? Chi Hyun bilang jika ayah adalah ayah pertama dalam hidupnya, tapi kenapa dia membiarkannya?

Chi Hyun tampak terkejut. Joon Jae menyuruhnya untuk menghentikan perbuatan ibunya. Kalau tidak, maka Joon Jae memastikan membunuh mereka berdua. Joon Jae berniat meninggalkan Chi Hyun.


Chi Hyun berteriak marah, apakah dia sengaja mengirimkan Chung menemuinya dan dia menyusup dalam rumahnya? Memangnya dia dalam posisi melindungi seseorang? Joon Jae terkejut mengetahuinya tapi dia tidak menjawab omongan Chi Hyun.


Joon Jae kembali mendengar suara musik yang begitu keras dari kamar Chung. Ia memutuskan untuk menemuinya dan mematikan suara speaker Chung. Dengan tenang, ia menuntut penjelasan tentang pikiran apa yang sebenarnya tidak boleh ia dengar. Kenapa dia menjadi seperti ini sekarang?

Chung membahas tentang gelang giok yang ia berikan pada Joon Jae. Ia menemukannya didasar laut dan berfikir jika itu hanyalah sebuah kebetulan, itulah awal mulanya. Ia juga tidak mengerti kenapa ia rela berenang jauh mengarungi lautan demi menemui Joon Jae.

Tapi ternyata semua itu adalah takdir. Joon Jae sebelumnya mengatakan jika kisah pasangan manusia dan duyung berakhir dengan bahagia selamanya. Kenapa Joon Jae bohong? Mereka tidak hidup dengan bahagia. Akhirnya mereka meninggal “Kau karena aku, dan aku karena kau.”

Joon Jae terkejut karena Chung mengetahui tentang kisah itu. Chung pun mengaku jika ia sebelumnya bertemu dengan Heo Chi Hyun sekaligus Ma Dae Young. Ia menghapus ingatan Ma Dae Young, tapi ia juga bisa melihat kisah mereka dalam ingatannya. Sekarang ia mengerti mimpi apa yang ditakuti Joon Jae. Apakah Joon Jae tetap akan mengambil jalan yang sama meskipun mengetahui jika semua itu akan terulang?


“Tidak benar. Kata siapa itu akan terulang? Itu tidak akan terjadi.”

“Aku tidak seharusnya datang sehingga semua ini tidak akan terjadi.” Ucap Chung lirih.

“Jadi, kau menyesal? Bertemu denganku, datang kemari dan kita bersama-sama?”

Kenangan manis keduanya pun bergulir dalam ingatan mereka. Permainan takdir yang telah membawa keduanya berjumpa kembali. Menjalani kehidupan bersama, bermain, tersenyum menangis, dan saling menguatkan.

“Tidak. Aku tidak menyesalinya. Bagaimana bisa aku menyesalinya.”


Joon Jae menyentuh pipi Chung dengan lembut, ia pun tidak akan menyesalinya meskipun mengetahui semua itu. Bertemu dengan Chung bukanlah hal yang bisa dia sesali bagaimanapun ia melihatnya. Chung mengerti namun ia khawatir jika Joon Jae meninggal karena dirinya.

Joon Jae mengusap kepalanya dengan lembut, seandainya jika apa yang di khawatirkan Chung terjadi, Joon Jae berharap agar jantung Chung tetap berdetak. Dia harus tahu fakta jika Joon Jae akan tetap mencintainya meskipun tak disisinya lagi. Chung menatap dalam mata Joon Jae, air mata pun mengalir dipipinya.


Si Ah menelfon Tae Oh dan menyalahkannya karena telah merusak segalanya. Tae Oh cuma bisa menghela nafas. Tidak lama kemudian, dia sudah berada di karaoke dan memperhatikan Si Ah yang menangis sambil menyanyi. Tae Oh memandanginya dengan malas, tapi lama-kelamaan ia mulai tersenyum lucu memperhatikan tingkah Si Ah.


Si Ah bertanya apakah Tae Oh juga seperti ini? Hatinya terasa tercabik-cabik menjadi kepingan. Ia sungguh-sungguh menyukai Joon Jae. Tae Oh duduk disamping Si Ah. Ia meletakkan kepala Si Ah didadanya dan membiarkannya menangis melampiaskan kesedihan.


Tengah malam, Ketua Heo keluar dari kamarnya dan tanpa sengaja mendengar pembicaraan Seo Hee dengan seseorang. Seo Hee rupanya membawa Dae Young ke rumah dan menyuruhnya supaya tinggal disana. Tidak ada orang yang turun ke basement saat siang hari dan dia bisa naik ke lantai atas saat malam.


Diluar rumah, Detektif Hong dan rekannya mendengar pembicaraan mereka dari alat penyadap yang dipasang Joon Jae. Dia sedang berbicara dengan siapa? Apa Kang Seo Hee membawa seseorang dalam rumahnya?


Ketua Heo perlahan turun dari tangga karena penasaran. Seo Hee menyuruh Dae Young untuk tetap berpura-pura menjadi sekretaris baru untuk Ketua Heo. Bantulah dia dan jangan biarkan dia berhubungan dengan siapapun menggunakan ponsel. Karena Ketua Heo tidak melihat dengan jelas maka akan mudah untuk mengelabuinya. Seo Hee bertanya, apa dia masih belum mengingat apapun?

Dae Young menggeleng. Seo Hee geregetan sendiri, kembalilah pada kesadarannya. Mereka sudah hampir menyelesaikan tujuan mereka. Ketua Heo terkejut mendengar ucapan Seo Hee, dia bergegas untuk naik tangga tapi celakanya, kaki Ketua Heo terpeleset dan menimbulkan suara keras.


Seo Hee memeriksa sumber suara keras tersebut. Tidak ada siapa-siapa disana. Seo Hee berniat masuk kembali ke ruangannya, tapi sesuatu terasa mencurigakan. Seo Hee kembali mengedarkan pandangannya dan menemukan Ketua Heo sedang bersembunyi. (bersembunyi ditempat yang salah karena Seo Hee bisa melihatnya dengan jelas)


Detektif Hong menunjukkan hasil sadapan suara Seo Hee pada Joon Jae. Joon Jae tampak mengkhawatirkan kondisi ayahnya tapi dia bertanya-tanya siapa pria yang berbicara dengan Seo Hee? Chung mencuri dengar apa yang tengah mereka bicarakan, ia pun memberitahukan jika orang yang berbicara dengan Seo Hee adalah Ma Dae Young. Ma Dae Young saat ini tidak mengingat apapun.

Detektif Hong heran, tau darimana dia? Joon Jae segera memotong pembicarannya dan mengalihkan dengan topik lain. Nam Doo melirik Chung curiga, dugaannya pun semakin menguat.


Ketua Heo sengaja mematikan ponselnya dan menyembunyikan dibawah ranjang. Seo Hee datang mengantarkan obat, ia mengaku akan pergi untuk menghadiri pertemuan. Ia bertanya dimana ponsel Ketua Heo? Ketua Heo dengan canggung mengaku tidak tahu. Seo Hee menghubungi nomornya dan nomor Ketua Heo tidak aktif. Ia tersenyum licik kemudian memastikan supaya Ketua Heo meminum obatnya.


“Sejak bertemu denganku, pernahkan sesaat kau mencintaiku?” tanya Ketua Heo. Seo Hee tersenyum licik kemudian menjawab kalau tidak pernah sesaat pun dia tidak mencintainya. Ia pun pamit pergi.


Ketua Heo segera mengambil tisu dan membuang obatnya kemudian meminum teh yang dibawakan Seo Hee. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan teh yang ia minum. Seo Hee ternyata belum pergi, dia tersenyum licik ketika melihat Ketua Heo sudah meneguk teh yang ia bawakan.


Rekan Detektif Hong terus mengintai Seo Hee dan mengikutinya yang pergi meninggalkan rumah tengah malam. Seo Hee menelepon Chi Hyun kemudian mengajaknya minum-minum di tempat yang ramai. Chi Hyun seolah menyadari sesuatu, ia mengaku punya janji sendiri. Ia bergegas memutus sambungan telefonnya dan meminta supir untuk membawanya pulang ke rumah.


Dada Ketua Heo terasa nyeri dan ia semakin melemah. Ia mengambil ponsel dikolong ranjangnya dan segera menghubungi Joon Jae. Namun sayangnya Joon Jae sedang sibuk membahas bukti-bukti yang terkumpul. Dia meninggalkan ponselnya di kamar.

Ketua Heo pun meninggalkan pesan suara “Joon Jae-ah..”



Ma Dae Young sibuk membereskan bunga-bunga di ruangan Seo Hee. Chi Hyung berpapasan dengannya, Chi Hyun pun semakin panik dan bergegas ke kamar Ketua Heo.


Joon Jae baru sempat kembali ke kamarnya dan mengecek pesan suara yang ditinggalkan Ketua Heo. Ketua Heo mengaku jika dia sudah melakukan kesalahan. Entah apa lagi yang dikatakan olehnya, Joon Jae bergeges keluar dari kamar. Dia menyuruh Nam Doo untuk menjaga Chung, kemungkinan dia tidak pulang malam ini.


Chung keluar dari kamarnya setelah Joon Jae pergi, ada apa? Nam Doo mengaku tak tahu dan melirik ke arah Chung dengan tatapan aneh.


Dalam perjalanan, ucapan Ketua Heo terus terngiang dalam kepala Joon Jae “Kau benar. Keputusanku memang salah dari awal sampai akhir. Aku tidak yakin kenapa mengakuinya begitu sulit. Aku tidak tahu kenapa ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Aku selalu merindukan waktu bersamamu dan ibumu. Kenapa aku hidup tanpa mau mengakuinya? Kenapa kata maaf sangat sulit untuk diucapkan? Aku sangat menyesal sekarang.”


Joon Jae sampai dirumah ayahnya dan berpapasan dengan petugas ambulan yang menggotong tubuh seseorang. Saat ia membuka penutupnya, Joon Jae mendapati ayahnya sudah terbaring tak bernyawa.

“Jika aku terlahir kembali, aku ingin hidup sebagai suami  untuk istriku dan ayah untuk putraku. Aku minta maaf, Joon Jae. Aku mencintaimu, putraku.”


Joon Jae tak bisa menahan tangisnya lagi. Dia meronta melihat ayahnya, tidak mungkin. Ini tidak seharusnya berakhir seperti ini. Tidak sekarang, bukan waktunya sekarang. Joon Jae terduduk menangis dihalaman rumah ayahnya.
Bersambung ke episode 18

5 comments

berharap ada suatu keajaiban agar ayah joon jae hidup kembali😭😭 nam doo!!! pleaseee jangan jadi seseorang yg menyeramkan!😭 tae oh.. semoga kamu bahagia sama si ah😂😂 thanks kakak sinopsisnya. ditunggu kelanjutannya minggu depan😂😂😙😙😙

Ending episode ini bkin ikut nangis :'(

Namdo sepertinya dr awal dia memang org yg tidak baik.. Pikirannya hanya uang.. Uang.. Dan uang... Semoga, kematian ayah joon jae itu hanya mimpi, atau lamunan saja..ditunggu eps. 18 nya.. Gomawo sinopsisnya eunnie.. 😊 meski sdh liat streaming.. Aq mampir kesini.. Biasanya sinopsis lebih mudah dipahami.. Krn ada koment2 dibaliknya hehee..

Ayah jonjae tetep meninggal. Tp nam doo ga jahat kok. Di ep 18 dia malah ngebantu jonjae & detektif hong buat nangkep ibu tirinya. Tp di akhir ep jonjae & chung di tembak sm chi hyun :(

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon