Powered by Blogger.

Sinopsis Introverted Boss Episode 12 - 1

Content and Images Copyrights by tvN


Ayah gelisah menunggu Ro Woon pulang, ternyata Reporter Woo sudah memberitahu Ayah kalau Ro Woon sekarang bekerja di Brain.


Sementara itu di kamarnya Hwan Ki, Ro Woon berkata bahwa dia akan ikut menanggung semua beban dan tanggung jawab yang selama ini Hwan Ki tanggung seorang diri. Dia berjanji akan selalu ada di sisi Hwan Ki, air mata Hwan Ki berlinang mendengarnya. Perlahan ia mendekat dan mencium Ro Woon.


Hwan Ki terbangun keesokan paginya dan tersenyum melihat Ro Woon terbaring di sisinya. Dia mengecup lembut kening Ro Woon dan membuat Ro Woon terbangun. Bahagia melihat Hwan Ki di sisinya, Ro Woon pun mengecup bibir Hwan Ki berulang kali.



Mereka saling menatap penuh cinta sebelum akhirnya Hwan Ki bangkit untuk membuat kopi. Dia baru saja selesai menyeduh kopi saat seseorang berjalan dengan membawa tong minyak tanah. Dia membuka pintu kamar Hwan Ki dan ternyata dia Ayah. Ia berjalan mendekati meja kerja Hwan Ki saat Ro Woon muncul. Sontak keduanya shock melihat satu sama lain. 




Tepat saat itu juga, Hwan Ki juga baru keluar dari dapur dengan membawa dua gelas kopi. Hwan Ki langsung tegang. Ayah semakin tercengang, sedang apa dia di sini?

"Apa kau CEO di perusahaan ini? Lalu kenapa kau datang ke salon ku?"

Ro Woon berusaha menjelaskan, tapi Ayah langsung membentaknya untuk diam dan terus menuntut apa sebenarnya niat Hwan Ki. Bagaimana bisa Hwan Ki tanpa tahu malu duduk di hadapannya padahal dia bahkan tidak menampakkan mukanya di pemakaman Ji Hye.



Hwan Ki meletakkan kedua gelasnya di lantai dan langsung berlutut meminta maaf di hadapan Ayah. Dengan tergagap dia berkata bahwa dia tidak pernah bermaksud menipu Ayah. Ayah menjatuhkan minyak tanahnya, shock dengan kenyataan kalau selama ini dengan tangannya sendiri dia memotong rambut orang yang telah melakukan hal itu pada putrinya.

"Maafkan saya. Maafkan saya. Saya... saya minta maaf"




Tapi Ayah terlalu marah dan langsung membentak Ro Woon untuk keluar sekarang juga. Ro Woon terdiam bimbang dengan mata berkaca-kaca, tapi Hwan Ki menyuruhnya pergi mengikuti Ayahnya. Ro Woon pun pergi, meninggalkan Hwan Ki menangis dalam kesendiriannya.

Episode 12: Kesulitan Tak Bisa Melakukan Apapun.



Ro Woon berusaha menjelaskan pada Ayah kalau Hwan Ki bukan orang jahat, mereka sudah salah paham padanya. Hwan Ki lah orang yang selama ini selalu mengirim bunga untuknya. Selama 3 tahun, dia datang dengan hati penuh penyesalan. Ayah tetap tak percaya, dia meminta maaf dengan cara sembunyi-sembunyi tepat di hadapan mereka, apa itu masuk akal?

"Itu karena dia tidak bisa melakukan apapun sampai sekarang. Dia akan bertanggung jawab sekarang"

"Apa yang bisa dia ubah sekarang? Kenapa kau selalu melakukan hal yang tidak berguna? Kenapa kau pergi ke sana?"

Ro Woon bertanya balik, lalu apa yang Ayah lakukan selama ini. Saat Hwan Ki selalu bersembunyi di sekitar mereka dan saat dia melakukan hal tak berguna untuk balas dendam, apa yang Ayah lakukan? Tidak ada. Yang Ayah lakukan cuma berdiam diri di salonnya ini.



Ji Hye pergi meninggal mereka dan Ibu mereka kemudian menyusulnya, semua ini salah Ayah yang tidak pernah melakukan apapun. Hwan Ki juga tahu kalau dia tidak akan bisa membuat segalanya kembali seperti sedia kala. Dia tahu tapi setidaknya dia melakukan sesuatu untuk itu.

"Dia... orang yang jauh lebih baik daripada Ayah"

Tak bisa mengatakan apapun, Ayah hanya menyuruh Ro Woon keluar.



Saat Hwan Ki kembali, dia melihat tong minyak tanah yang dijatuhkan Ayah. Ro Woon datang tak lama kemudian dan menutupi emosinya dengan senyum ceria. Dia heran melihat jaketnya Hwan Ki yang kotor, dari mana saja dia. Hwan Ki cepat-cepat melepaskan jaketnya, bukan urusan Ro Woon, dia pulang saja sana.

Ro Woon mengaku diusir dari rumah, jadi izinkan dia menginap di sini, yah? bujuk Ro Woon sambil merangkul lengan Hwan Ki. Tapi Hwan Ki langsung melepaskannya dengan gugup dan bersikeras menyuruh Ro Woon pulang. 



Ro Woon tidak mau dan terus berusaha membujuk Hwan Ki, meyakinkannya kalau Ayahnya adalah orang yang tidak pernah menarik kembali apa yang sudah diucapkannya walaupun dia jarang bicara. Tapi kalau itu yang Hwan Ki mau, baiklah. Dia akan pulang, tapi dia kedinginan dan lapar. Dia ingin makan sesuatu yang hangat. 


Ro Woon langsung masuk dapur dan mencari ramen. Hwan Ki akhirnya menyerah, tapi dia tidak mau Ro Woon menyentuh dapurnya dan memasakkan mie untuk Ro Woon. Ro Woon mulai memakannya dan langsung kagum dengan rasanya yang sangat lezat, rasanya seperti makan di rumah.

"Kenapa kau tidak makan di rumah?"

Karena setiap kali dia pulang, dia menjadi orang yang berbeda. Bukankah dia jauh lebih cantik saat dia diam dan tenang? Hwan Ki mengerti. Di luar, Ro Woon berakting riang dan ceria tapi dia berubah diam saat dia pulang, begitu? Ro Woon membenarkannya, semua itu karena Ayahnya.



Dia dan Hwan Ki sebenarnya punya persamaan. Sama seperti Hwan Ki yang selalu disuruh jadi seperti Woo Il, dia juga selalu disuruh oleh orang tuanya untuk jadi seperti Ji Hye sampai dia muak karena hal itu. Bahkan setelah Ji Hye pergi pun, dia selalu disuruh diam seperti Ji Hye. Dia mengabulkan keinginan Ayahnya untuk diam seperti Ji Hye.

Ayahnya memang orang yang seperti itu. Seperti apa yang dilakukan Ayah dengan membawa minyak tanah itu, bersikap seolah dia akan membakar semuanya tapi pada akhirnya dia pergi tanpa melakukan apapun. Hwan Ki berpikir mungkin Ayah menghentikan dirinya sendiri karena dia merasa harus melakukannya demi Ro Woon.

"Dia juga menyuruhmu untuk tetap diam demi melindungimu. Itu karena dia tahu kepribadianmu lebih daripada siapapun. Dia takut kau akan terluka karena bersikap sembrono. Sekarang ini, hanya kau satu-satunya yang dia miliki. Melakukan sesuatu adalah tugas yang berat. Tapi tidak melakukan apapun, pasti jauh lebih berat bagi Ayahmu"



"Mungkin begitu. Lalu kenapa dia tidak pernah mengatakan apapun?"

"Apa perlu?"

"Kalian berdua mirip sekali" dengus Ro Woon "Aku tidak tahu kenapa aku dikelilingi pria yang tidak mau berbagi apapun"




Sendirian di rumah, Ayah melihat potongan-potongan artikel tentang Tuan Eun dan putranya yang wajahnya di-blur. Ayah bertanya-tanya, apakah Ro Woon yang menyebarkan berita buruk tentang Hwan Ki ini. Lalu kenapa Ro Woon malah berakhir bersamanya?



Setelah Ro Woon selesai makan, Hwan Ki masih bersikeras menyuruhnya pergi. Kalau Ro Woon terus bersikap seperti ini, dia tidak akan sanggup menghadapi Ayah Ro Woon lagi. Ro Woon akhirnya memakai jaketnya dengan cemberut. Baiklah, dia pun pamit.

Tapi dia langsung berlari ke arah kamar Hwan Ki. Hwan Ki mengejarnya dan berhasil menghentikan Ro Woon dengan menarik kerah jaketnya. Ro Woon tak ambil pusing dan langsung saja melepaskan jaketnya dan berlari ke kamar Hwan Ki. Sekarang kan sudah larut, Ayahnya jugva masih marah. Biarkanlah dia tidur di sini, semalam saja.



Dia langsung berbaring di sofanya Hwan Ki. Tapi Hwan Ki terus bersikeras, memohon Ro Woon untuk pulang. Aigoo! Baiklah, baiklah. Kalau begitu, terpaksa dia harus menginap di sauna saja... atau di motel.



Beberapa saat kemudian, Hwan Ki sudah menyiapkan tenda di samping kasurnya. Dia memberikan kasurnya untuk Ro Woon sementara dia sendiri akan tidur didalam tenda. Hanya untuk malam ini saja. Ro Woon terus protes, semalam mereka tidur saling berangkulan di ranjang. Apa-apaan ini?

"Itu karena kita berdua sakit. Kurasa lebih baik kita saling menarik garis batas. Kau jangan melewati garis batas itu"



Hwan Ki masuk kedalam tendanya dan merapatkan kantong tidurnya. Dia masih belum bisa tidur saat Ro Woon sudah tidur dengan sangat nyenyak sampai ngorok. Hwan Ki galau antara ingin melihat betapa cute-nya Ro Woon saat sedang ngorok tapi tidak, dia tidak boleh penasaran.

Tapi bagaimana kalau Ro Woon kesulitan bernafas gara-gara dengkurannya? Apa bantalnya ketinggian untuk Ro Woon? Ah, apa Ro Woon ngiler di bantalnya? Takut hal itu terjadi, akhirnya dia memutuskan keluar dari tendanya untuk mengecek hal itu tapi malah terpesona melihat Ro Woon ngorok dalam tidurnya.



Sepelan mungkin dia menyelimuti Ro Woon dan berusaha mengangkat kepala Ro Woon ke bantal. Tapi perbuatannya itu malah membangunkan Ro Woon. Hwan Ki sontak tegang. Saking gugupnya, dia malah menjatuhkan kepala Ro Woon begitu saja sampai Ro Woon kesakitan.



Dia langsung bergegas kembali ke tendanya dan merapatkan kantong tidurnya sampai menutupi kepalanya. Ro Woon sampai geli sendiri melihat tingkahnya. Dia langsung membuka resleting kantong tidurnya Hwan Ki. Hwan Ki tergagap menjelaskan kalau dia salah paham, dia cuma mau menempatkan kepala Ro Woon ke bantal.

Tersenyum geli, Ro Woon mengecup lembut kening Hwan Ki. Hwan Ki harus bersyukur karena dia akan melepaskan Hwan Ki untuk kali ini. Kalau Hwan Ki sampai melewati garis batasnya lagi, dia tidak akan melepaskan Hwan Ki. Dia lalu merapatkan kembali kantong tidur Hwan Ki sampai menutupi kepalanya dan berbaring kembali di kasurnya.



Tapi senyumnya perlahan menghilang kala teringat kejadian yang disaksikannya tadi. Ro Woon sebenarnya tahu kemana Hwan Ki pergi hingga membuat jaketnya kotor.



Waktu itu saat dia hendak pulang kembali, dia melihat Hwan Ki di depan salon Ayahnya tapi Ayah langsung menyiram salju ke mukanya dan melempar semua buket bunga yang pernah dia kirim ke Ro Woon. Saat Hwan Ki berlutut di hadapannya, Ayah jadi semakin marah dan memukuli Hwan Ki dengan buket-buket bunganya. Hwan Ki diam menerima semua pelampiasan kemarahan Ayah.



Keesokan paginya, Ro Woon dan Hwan Ki terbangun oleh suara siulan. Sun Bong datang sambil bersiul riang dan membanting buku di meja kerjanya. Ro Woon dan Hwan Ki sontak bangkit dengan panik. Ro Woon santai, lebih baik mereka keluar dengan percaya diri saja, dia akan pura-pura sedang bicara dengan Hwan Ki.




Jelas Hwan Ki tak setuju penampilan Ro Woon berantakan begitu, mana Sun Bong itu orang yang jeli lagi. Hwan Ki pun keluar untuk menemui Sun Bong dan berusaha membawa Sun Bong ke dapur dengan menawarinya teh. Tapi Sun Bong sudah bawa bekal minuman sendiri.



Tapi dia tidak punya teh. Ah, Sun Bong mengerti dan mulai berjalan ke dapur sambil keheranan dengan sikap Hwan Ki padahal biasanya Hwan Ki tidak pernah minta teh. Hwan Ki diam-diam mengisyaratnya Ro Woon untuk cepat keluar. Ro Woon pun mengendap-endap keluar dan... HACHI!!! dia bersin.



Ketiganya sontak membeku. Sun Bong hendak berbalik, tapi Hwan Ki tiba-tiba memeluknya dan bilang "Saranghae!" (LOL)

Sun Bong ketawa, bingung sendiri dengan candaan Hwan Ki. Tapi apa dia mendengar sesuatu? Hwan Ki melihat Ro Woon mau bersin lagi. Sontak dia berteriak saranghae lagi sambil menjegal kaki Sun Bong dan membantingnya. Ro Woon buru-buru keluar.

Sun Bong kesakitan, "Apa ini artinya kau membenciku?"




Tapi belum juga Ro Woon sampai pintu, Yoo Hee datang. Panik, Ro Woon bergegas menyembunyikan dirinya di kamar mandi sebelum Yoo Hee sempat melihatnya. Hwan Ki meng-sms Ro Woon, menyuruhnya bersembunyi saja, dia akan membelikan baju ganti untuknya.


Hwan Ki pun pergi ke toko baju wanita dan membayangkan Ro Woon mencobai semua baju yang dipilihnya. Tapi tiba-tiba dia bertemu Yi Soo di sana. Jelas dia heran, Hwan Ki beli baju untuk siapa?


"Untukku... ah, tidak"

"Kau punya pacar?"

Hwan Ki menyangkal tapi Yi Soo tak percaya dan menawarkan bantuan. Gaya wanita itu seperti apa? Seksi? (tidak) Lugu? (tidak juga) Imut? Hwan Ki langsung tersenyum. Ah, dia cute.

Hwan Ki refleks menjawab "Iya... ah, tidak, tidak"




Mereka akhirnya keluar tak lama kemudian, Hwan Ki menenteng beberapa belanjaan. Yi Soo penasaran, gadis mana yang sudah berhasil meruntuhkan tembok bajanya Hwan Ki dan meminta Hwan Ki untuk membawa gadis itu ke pernikahannya. Langkah Hwan Ki sontak terhenti.

Dia sudah memutuskan untuk menikah, upacara pernikahan kecil hanya dengan keluarga dekat. Dia memutuskan untuk tukar cincin saja tanpa hadiah pernikahan apapun. Dia tidak butuh apapun. Sekarang karena Hwan Ki sudah memiliki seseorang yang dia cintai, dia yakin Hwan Ki pasti mengerti bagaimana perasaannya.




Ro Woon galau menunggu Hwan Ki yang tak kunjung datang. Tak tahan lagi, dia berencana mau keluar saja. Tapi tepat saat itu, Hwan Ki datang dengan membawa belanjaannya. Tapi tiba-tiba mereka mendengar ada orang mau masuk kamar mandi. Sontak mereka bersembunyi bersama.



Se Jong dan Gyo Ri masuk kamar mandi bersama. Se Jong cemas sudah menyakiti Gyo Ri soalnya Ibunya itu tipe Ibu yang suka menyelesaikan masalah memberikan amplop uang, atau bisa juga Ibunya menjambak rambut Gyo Ri kalau menyiram muka Gyo Ri dengan kopi.

Gyo Ri bingung apa sebenarnya maksud Se Jong, apa bahkan pernah bilang kalau dia menyukai Se Jong? Se Jong mengaku diberitahu Sun Bong tentang itu, apa itu tidak benar? Gyo Ri berbohong, mengklaim itu tidak benar. Se Jong percaya dan lega mendengarnya. 




Dia langsung keluar meninggalkan Gyo Ri bersedih. Se Jong begitu terluka saat Ro Woon tidak membalas perasaannya, "Lalu bagaimana dengan perasaanku?"



Ro Woon keluar setelah ganti baju dan tak ada seorangpun yang mencurigainya. Hwan Ki juga keluar tak lama kemudian dan menugaskan Gyo Ri untuk menangani proyek promosi perhiasan... bersama Se Jong. Yoo Hee dan Sun Bong dia tugaskan untuk membantu kedua orang itu.



Ro Woon langsung menyusul Hwan Ki keluar, Hwan Ki itu apa sih? Cupid? Mereka berjalan bersama tepat saat Yi Soo datang dan melihat mereka dari kejauhan. Dia mengenali baju yang Ro Woon pakai karena dialah yang memilihkan baju itu. Sekarang dia mengerti siapa gadis yang disukai oppa-nya.



Hwan Ki terus berjalan pergi sementara Ro Woon berbalik dan melihat Yi Soo. Ro Woon langsung menghampirinya dan menyapanya. Dia mau menemui oppa-nya, yah? Hwan Ki barusan pergi. Yi Soo menyangkal, dia mau menemui Woo Il, mereka mau pergi untuk mencoba cincin kawin.

"Jika kau punya waktu, apa kau mau datang ke pernikahan kami?"

"Jika kau mengundangku, aku akan mengucapkan selamat dengan senang hati"

Bersambung ke part 2

3 comments

Dtunggu part 2 nya..figthing..semua recapnya aq baca,g lengkap klo g mampir kesini..

fabulous!!👍👍
I like it, next😉
fighting

Suka suka suka.. Keep figthing nulis sinopnya unnie.. 😍🙋

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon