Powered by Blogger.

Sinopsis Introverted Boss Episode 12 - 2

Content and Images Copyrights by tvN



Gyo Ri protes karena dia serius kerja tapi Se Jong malah mainan kertas origami. Seharusnya Se Jong membantunya mencari ide. Se Jong dengan santainya bilang kalau ide tidak bisa mendadak muncul begitu saja. 

Ide itu biasanya datang dari intuisi dan muncul di saat yang paling tidak terduga. Dia beralasan tidak bisa berpikir di ruangan sempit ini dan langsung keluar meninggalkan Gyo Ri galau sendirian.
Sun Bong melihatnya. Dia hendak menghampiri Gyo Ri saat Se Jong tiba-tiba kembali dan mengajak Gyo Ri keluar bersamanya. Lebih baik mereka keluar dan bertemu banyak orang, siapa tahu dapat inspirasi. Ayo, ayo. 

 

Mereka pun pergi ke sebuah cafe sambil mengamati para pejalan kaki yang berlalu lalang di depan cafe dan memperhatikan perhiasan dan aksesoris yang mereka kenakan.



Mereka juga mendatangi penjual aksesoris dan bercanda tawa mencobai semua aksesoris seperti sepasang kekasih yang sedang kencan. Se Jong lalu membawa Gyo Ri jalan-jalan ke taman di sekitar tempat tinggalnya. Gyo Ri lama-lama tak enak karena mereka sudah kelamaan keluar kantor.

Se Jong santai, tidak masalah, mereka kemari kan untuk merasakan gejolak darah muda dan mencari ide. Se Jong lalu memutar lagu IOI - Pick Me dan menggila joget-joget di sana. Merasakan gejolak darah muda, alasan Se Jong. Tapi Gyo Ri malu setengah mati dan langsung membawa kabur ponselnya Se Jong.




Mereka akhirnya makan jajan di pinggir jalan. Gyo Ri heran sendiri melihat Se Jong, dia benar-benar tidak bersikap seperti cucu seorang presdir. Apa dia kelihatan miskin? tanya Se Jong. Tidak, bukan begitu.

"Ini rahasia loh... tapi memang banyak yang bilang begitu" (wkwkwk!)




Begitu mereka berdua kembali ke kantor, Se Jong dengan bangga mengutarakan ide mereka yaitu: Kolaborasi seni. Mereka bisa menggabungkan bakat seniman baru dalam produk perhiasaan perusahaan klien mereka, mereka bisa memproduksinya secara terbatas jadi bisa membuat harganya melambung tinggi. Tapi tidak ada yang terkesan, Sun Bong malah merasa ide itu pasaran sekali. Yoo Hee juga tidak yakin, sulit bekerja sama dengan seniman.

"Bos. Ah, bukan... Hwan Ki, menurutmu bagaimana?"

Hwan Ki malah mengalihkan pertanyaan itu ke Gyo Ri. Gyo Ri dengan agak gugup berpendapat kalau idenya Se Jong bagus dan dia sepakat. Hwan Ki pun setuju dan menyuruh Se Jong menulis proposalnya.




Ro Woon pulang malam harinya dan tersenyum melihat Ayah sedang sibuk mencukur seorang pelanggan. Dia lega melihat Ayah baik-baik saja tapi seperti biasanya, dia langsung masuk tanpa mengucap apapun. Tapi saat dia masuk kamar, dia malah mendapati semua bunga-bunganya dan foto-foto Ibu dan Unni-nya sudah tak ada.



Ro Woon langsung keluar dengan membawa kopernya dan menuntut dimana foto-foto Ibu dan Unni-nya. Ayah malah melarangnya mencari foto-foto itu, lupakan saja semuanya. Sakit hati dengan sikap Ayah, Ro Woon langsung mengkonfrontasinya.

Selama ini dia sudah berusaha hidup sesuai keinginan Ayah, dia berdiam diri setiap kali dia pulang seolah mereka semua sudah mati. Tapi sekarang dia sudah tidak tahan lagi. "Aku ingin bersamanya..."

PLAK! Ayah sontak menampar Ro Woon dan baru menyesalinya sedetik kemudian. Ro Woon meyakinkan Ayah kalau Hwan Ki pasti akan datang dan menjelaskan kebenarannya. Ayah juga sering bertemu dengannya jadi Ayah juga pasti tahu kalau Hwan Ki bukan orang jahat.




Setelah Ro Woon pergi, Ayah teringat saat suatu hari Hwan Ki datang, dia melihat mata Hwan Ki basah oleh air mata. Tanpa ikut campur, Ayah keluar dan memberinya waktu sendirian.



Hwan Ki sedang membaca saat dia mendengar pintu terbuka. Ro Woon muncul di pintunya dengan mata berkaca-kaca dan langsung berlari kedalam pelukannya, menangis dan melampiaskan semua kesedihannya dalam pelukan Hwan Ki. Hwan Ki diam sebelum akhirnya dia melingkarkan lengannya mendekap Ro Woon.



Setelah Ro Woon sudah tenang kembali, Hwan Ki membuatkannya teh. Tapi jika Ro Woon sudah baikan, dia ingin Ro Woon pulang sekarang. Ro Woon langsung mewek. Tapi Hwan Ki sudah tidak mempan dengan rengekannya, pulang saja.

Tepat saat itu juga, Yoon Jung datang membawa wine. Hwan Ki sontak tegang. Ro Woon langsung kesal jadi ini alasan Hwan Ki menyuruhnya pulang? Hwan Ki juga tidak tahu kalau Yoon Jung bakalan datang sekarang. Loh, Yoon Jung kira Hwan Ki sendirian. Mana dia tahu kalau Hwan Ki sedang bersama wanita. Hwan Ki membuatnya menangis lagi, apa yang sebenarnya terjadi?




"Apa kau dicampakkan olehnya?" duga Yoon Jung "Kalau begitu aku tunggu di luar"

"Aku tidak membuatnya menangis"

Yoon Jung kecewa. Kalau begitu mereka bertiga minum bersama saja. Hwan Ki tidak mau Ro Woon minum dan berusaha memaksanya pulang. Yoon Jung senang-senang saja kalau Ro Woon pulang. Jelas Ro Woon tidak rela meninggalkan Hwan Ki berduaan dengan wanita lain. Malam sudah larut, ayo minum bersama.




Stres menghadapi kedua wanita itu seorang diri, Hwan Ki menegaskan kalau mereka masing-masing cuma akan minum segelas lalu pulang. Ro Woon makin cemburu, Hwan Ki malah memilih duduk di samping Yoon Jung. 

Kesal, dia mengambil botol wine-nya dan mau membukanya tapi sepertinya dia kurang pengalaman. Hwan Ki mengambil alih dan Yoon Jung langsung memuji-muji Hwan Ki setinggi langit. Dia merasa biarpun Hwan Ki irit bicara tapi dia seksi. Hwan Ki jadi malu.

"Kami sudah sepakat untuk memperebutkanmu," ujar Yoon Jung

"Hentikan leluconmu"

"Aku serius. Ro Woon-ssi, apa menurutmu kami berdua serasi?"

"Seandainya saja aku agak lebih tinggi, aku tidak akan terkalahkan"




Pfft! Hwan Ki keceplosan. Ah, jangan-jangan cinta pertamanya Hwan Ki itu Yoon Jung. Hwan Ki langsung tersedak mendengarnya. Jadi benar, jadi Yoon Jung orang yang selama ini membuat Hwan Ki pakai hoodie. Yoon Jung mengatakan sesuatu tentang masa kuliah mereka. Tapi Hwan Ki panik menghentikannya.

Ro Woon jadi tambah penasaran, kisah apa yang hanya mereka berdua ketahui? Yoon Jung membalikkannya ke Ro Woon, bagaimana kalau Ro Woon saja yang menceritakan kisah yang hanya mereka berdua ketahui. Sejauh apa hubungan mereka berdua? Hwan Ki protes, hentikan. Yoon Jung cuma ingin tahu kok, sejak kapan seleranya Hwan Ki berubah jadi gadis pendek kekanakan?




Tersinggung, Ro Woon pun berkata "Kami sudah tidur bersama selama dua hari berturut-turut"

Yoon Jung santai saja, palingan juga mereka cuma tidur berdampingan. Iya, jawab Hwan Ki refleks. Yoon Jung tercengang mendengarnya, tak percaya bagaimana bisa pria dan wanita cuma tidur bersama tanpa melakukan apapun, dua hari berturut-turut lagi.

Menenggak habis wine-nya, Ro Woon menyatakan kalau malam ini dia tidak akan membiarkan Hwan Ki cuma tidur saja, dia akan memastikan itu. Yoon Jung langsung menuntut Hwan Ki memilih, jika dia harus mencium seseorang sekarang, siapa yang akan dia pilih?




Kedua wanita langsung menanti jawabannya dengan antusias. Stres, Hwan Ki tidak menjawab malah terus menerus menenggak wine-nya. Dan beberapa saat kemudian, kedua wanita yang musti repot mengurusi Hwan Ki yang sudah mabuk. Berhubung dia sudah teler, jadilah dia mulai nyerocos memberitahu Yoon Jung kalau dia Ro Woon pernah ciuman di shower.



Begitu Hwan Ki sudah tidur, Ro Woon dan Yoon Jung menikmati wine mereka dengan lebih tenang. Ro Woon bertanya-tanya bagaimana Yoon Jung bisa mengetahui semuanya dan kapan dia akan diberitahu segalanya. Yoon Jung menyuruhnya bersabar saja. percaya saja pada Hwan Ki.

Ro Woo jujur mengakui kalau dia sebenarnya takut. Takut jika kebenaran yang akan Hwan Ki katakan bukan sesuatu yang bisa dia tanggung. "Bagaimana jika aku tidak bisa memaafkan dia?"

Yoon Jung yakin alasan Hwan Ki diam selama ini pasti bukan karena keinginan maupun demi keuntungan pribadinya. Dia yakin karena seperti itulah Hwan Ki yang dia kenal. Ro Woon tidak usah takut. Kalau Ro Woon tidak sanggup, dia bisa kok menggantikan Ro Woon berada di sisi Hwan Ki, goda Yoon Jung.




"Wow, aku tidak boleh mengendurkan kewaspadaan"

Tapi btw, kapan Yoon Jung akan pulang. Setelah Ro Woon pulang, jawab Yoon Jung. Ro Woon mau menginap di sini. Kalau begitu Yoon Jung juga mau menginap di sini. Ah, dasar! Melihat Hwan Ki tidur, Yoon Jung bertanya pendapat Ro Woon, Hwan Ki kelihatan imut kan saat tidur. Ro Woon setuju, dia memang imut.




Hwan Ki terbangun keesokan paginya dan mendapati Ro Woon sedang mengeringkan rambutnya dengan hanya memakai selembar handuk. Ro Woon langsung mengibaskan rambut basahnya dengan gaya seksi, dia masih kelihatan pendek kekanakan?

Hwan Ki sontak panas-dingin dan buru-buru mengalihkan perhatiannya dengan membersihkan lantai sambil bertanya-tanya dimana Yoon Jung. Ro Woon menunjukkan dua buah tiket pamerannya Yoon Jung, Yoon Jung sendiri yang memberikannya dan menyuruh Ro Woon untuk kencan dengan Hwan Ki ditempat dia yang bisa dia lihat.

Tapi, apa Hwan Ki punya sketsa yang digambar unni-nya? Hwan Ki bingung, sketsa apa? Ro Woon tidak membahasnya lebih lanjut, tapi dalam hatinya dia bertanya-tanya siapa yang memiliki sketsa itu kalau bukan Hwan Ki.




Hwan Ki tiba duluan di pamerannya Yoon Jung dan langsung celingukan mencari Ro Woon. Wah, sekarang Hwan Ki bahkan mencari kehadiran wanita lain secara terang-terangan di hadapannya. Tidak bisakah Hwan Ki menjaga perasaan cinta pertamanya ini?

"Kau yang minta kami datang bersama"




Tepat saat itu juga, Woo Il juga datang ke sana. Kedua pria itu saling menyapa dengan canggung sampai membuat Yoon Jung merasa aneh. Mengalihkan topik, Woo Il memberitahu Yoon Jung kalau orkestra yang dijadwalkan tampil dalam mini konser pameran ini, batal tampil karena konflik antar anggota.

Terkejut, Hwan Ki langsung menanyakan masalah itu. Tapi Woo Il menolak memberitahukan detilnya, ini urusan timnya, Hwan Ki kan yang memberikan proyek ini kepadanya. Hwan Ki mengalah, tapi kemudian dia mengomentari selebaran promosi acara ini yang menurutnya kurang menarik. Tak terima kritikan Hwan Ki, Woo Il tidak ikut campur.



Heran melihat keanehan kedua pria itu, Yoon Jung langsung bicara berdua dengan Woo Il. Karena mereka sama-sama bekerja jadi presdir, dia kira mereka berdua akan rukun. Memang, tapi sekarang Hwan Ki sudah mengurus proyeknya sendiri.

Woo Il berharap dengan begitu orang-orang akan menyadari betapa pintar dan baiknya Hwan Ki. Tapi seiring berjalannya waktu, dia lama-lama merasa tidak dibutuhkan lagi. Dia sangat picik, kan? Yoon Jung membenarkannya. Tapi sejak dulu Yoon Jung tahu kalau Woo Il selalu menginginkan pengakuan.

"Kau selalu bekerja keras untuk dibutuhkan"




Woo Il mengira kalau Hwan Ki tidak akan bisa melakukan apapun tanpanya. Tapi sekarang dia merasa semua itu hanya karena harga dirinya yang culas. Yoon Jung menatapnya curiga, pasti Woo Il. Dialah orang yang selalu dilindungi Hwan Ki sejak malam natal 3 tahun yang lalu.

Woo Il tercengang mendengarnya, tapi itupun sudah cukup jadi jawaban bagi Yoon Jung. Sebenarnya sejak mendengar apa yang terjadi, dia memang sudah menduga kalau Woo Il lah orangnya. Siapa lagi orang yang begitu berharga bagi Hwan Ki selain Woo Il.

"Seperti katamu, Hwan Ki tidak membutuhkanmu. Tapi dia tetap melindungimu. Dia bersamamu bukan karena dia membutuhkanmu. Namun dia juga tidak mencampakkanmu meski tidak membutuhkanmu. kurasa, jauh di dasar hatimu pun kau menyadarinya"




Woo Il langsung pergi melabrak Hwan Ki karena menceritakan masalah itu pada Yoon Jung. Bagaimana bisa dia melakukannya, bahkan Tuan Eun pun menyuruh mereka tutup mulut. Saat dia mencoba melepaskan segalanya, Hwan Ki juga yang menghentikannya demi Yi Soo. Semua ini juga sulit baginya, tapi dia bisa kehilangan segala hal yang sudah dia bangun dari nol.

"mengungkapkan kebenaran tidak akan menghancurkan siapapun"

Woo Il tetap tidak mau membuka rahasia itu. Dia akan menikahi Yi Soo seperti kemauan Hwan Ki. Bagaimana kalau Yi Soo sampai tahu. Hwan Ki menyela, Yi Soo tahu segalanya. Hwan Ki tidak meminta Woo Il untuk melepaskan segalanya dengan mengungkapkan kebenaran. Hwan Ki juga kesulitan dan takut sama seperti Woo Il, dia mungkin akan kehilangan orang yang dia cintai.




Dia hendak memberitahukannya. Tapi Yi Soo datang saat itu, sepertinya dia mendengar semua yang mereka bicarakan tapi dia pura-pura bodoh. Dia berusaha tegar tapi pada akhirnya dia tidak sanggup, melihat Woo Il langsung membuatnya pusing dan akhirnya dia membatalkan kencannya hari ini dengan Woo Il.



Hwan Ki menuntun Yi Soo keluar. Begitu mereka sudah berduaan didalam mobil, Yi Soo memohon pada Hwan Ki untuk tutup mulut. Bersikeras kalau dia akan baik-baik saja selama dia memiliki Woo Il, dia akan mati tanpa Woo Il.

"Woo Il akan terus menerus dihantui perasaan bersalah dan kau akan pura-pura tak tahu. Itu yang kau sebut kehidupan?"


Yi Soo tidak peduli. Sudah 3 tahun berlalu, yang mati tidak akan hidup kembali. Kenapa juga Hwan Ki meributkan sesuatu yang sudah usai? Belum, belum usai. Masih banyak yang kesulitan dan terluka karenanya, terutama keluarga mendiang Ji Hye.



Yi Soo tetap bersikeras, mereka kan tidak mengenal keluarganya Ji Hye, mereka bisa pura-pura. Tapi Hwan Ki tidak bisa melakukan itu... tidak bisa lagi. Tepat saat itu juga, mereka melihat Ro Woon baru datang dengan memakai kalung yang sama dengan milik Yi Soo.

Flashback,




Malam itu saat Yi Soo bicara dengan Ji Hye, Ji Hye mengaku kalau dia sungguh tidak tahu kalau Yi Soo dan Woo Il akan menikah. Yi Soo bertanya bagaimana cara Ji Hye membuat Woo Il jatuh cinta? Dia menanyakan ini bukan untuk menyerang Ji Hye, dia hanya ingin tahu. Karena dia bahkan tidak bisa melakukan apa yang bisa Ji Hye lakukan.

Ji Hye makin gugup dan merasa bersalah, "Maafkan saya. Saya tidak tahu apa yang sudah saya lakukan. Seandainya saya bisa memutar waktu dan menghapus segalanya"

"Apa dia yang menghadiahkan kalung itu untukmu?"




Ji Hye langsung mengeluarkan kalungnya, bermaksud mengembalikannya. Tapi Yi Soo langsung menampiknya dan mendengus miris, bagaimana bisa dua wanita memakai kalung yang serupa> Dia tak percaya kejadian seperti ini akan terjadi padanya sendiri.

Ji Hye hendak mengatakan sesuatu, tapi Yi Soo terus menyelanya dan memberitahu Ji Hye kalau dialah yang memilih kalung itu. Dia memilih kalung itu bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk Woo Il. Tapi Woo Il malah memberikannya pada Ji Hye.

Dengan berat hati Ji Hye menyatakan kalau itu cuma kesalahan. Seperti yang dikatakan Woo Il, kesalahan yang tidak berarti. Yi Soo menyangkalnya, itu bukan kesalahan. Dia lalu mengambil cutter dan berkata pada Ji Hye kalau dia akan mati jika tidak memiliki Woo Il. 




Ji Hye berusaha menghentikannya dan meyakinkan Yi Soo kalau itu cuma kesalahan. Tapi Yi Soo lebih tahu dari siapapun, Woo Il bukan orang yang akan melakukan sesuatu tanpa sengaja. Dia langsung menyayat pengelangan tangannya sendiri, membuat Ji Hye semakin tertekan dan merasa bersalah. 



Yi Soo menjerit kalau dia akan membenci Ji Hye karena dia tidak akan bisa membenci Woo Il. Dia tidak akan bisa melepaskan Woo Il. "Jika kau sungguh merasa bersalah... berhentilah pura-pura baik dan menghilanglah. Kumohon... menghilanglah"

Ji Hye mengangguk dan baru saat itulah Yi Soo mau menerima sapu tangan Ji Hye untuk menutupi lukanya dan pergi meninggalkan Ji Hye.

Flashback end.



Yi Soo menatap Hwan Ki, mulai mengerti segalanya. Ro Woon tersenyum tanpa mengetahui apapun.

Bersambung ke episode 13

2 comments

this interesting, I like it,
poor ro woon😔😔😔

kok gitu ya sifatnya yi soo.. suka maksa.. nggk bisa nerima kenyataan kalo woo il nggk punya rasa sama dia..

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon