Powered by Blogger.

Sinopsis Introverted Boss Episode 14 - 1
Images Credit by tvN


Ro Woon berusaha keras mencegah Yi Soo bunuh diri. Untunglah Hwan Ki tiba saat itu dan langsung menarik kedua wanita itu sampai ketiganya terjatuh saling menimpa. Yi Soo terus berusaha memberontak sembari menggenggam kalungnya erat. Hwan Ki semakin mempererat pelukannya, menangis dan berusaha menghentikan Yi Soo sampai Yi Soo akhirnya mulai menyerah.

Beberapa saat kemudian, Hwan Ki menidurkan Yi Soo. Dia menatap adiknya itu dengan sedih sebelum akhirnya keluar menemui Ro Woon dan dengan canggung berterimakasih padanya. Jika bukan karena Ro Woon, entah apa yang akan terjadi pada adiknya.

"Bisakah sekarang kau... memberitahukan segalanya padaku?" pinta Ro Woon "Dia bilang... dia yang membunuh unni-ku. Apa itu benar?"

"Akulah... yang seharusnya menyelamatkannya (Ji Hye)," aku Hwan Ki.

Flashback,


Malam itu, Hwan Ki bertemu Yi Soo yang pucat pasi setelah menyayat lengannya. Hwan Ki jelas saja cemas, apalagi Yi Soo tiba-tiba pingsan di hadapannya.


Pada saat yang bersamaan, Ji Hye berada di depan pintu ruangannya Hwan Ki. Dia mencoba menghubungi Hwan Ki, tapi tidak diangkat. Berkali-kali dia memohon agar Hwan Ki mengangkat teleponnya, tapi tetap saja tak ada jawaban.


Tentu saja Hwan Ki tak sempat memikirkan hal lain saat itu karena sedang menunggui Yi Soo di rumah sakit. Dia mendapat sms dari Ji Hye saat itu yang memberitahu kalau dia menunggu Hwan Ki di kantor. Bingung, akhirnya dia menelepon Woo Il. Tapi Yi Soo terbangun saat itu dan memohon agar Hwan Ki tidak mengatakan apapun pada Woo Il. Dia tidak mau siapapun melihatnya dalam keadaan seperti ini.

Dia mendapat sms lagi dari Ji Hye saat itu, tapi sms-nya kali ini membuat Hwan Ki jadi panik. "Saya benar-benar ingin bertemu dengan anda untuk yang terakhir kalinya. Maafkan saya."


Hwan Ki bergegas naik ke ruang kantornya. Tapi segalanya sudah terlambat setibanya dia di sana. Perlahan dia mendekati jendela ruangannya yang terbuka lebar dan hanya mendapati sepasang sepatu milik Ji Hye yang dia lepas sebelum dia melompat bunuh diri.

Flashback end.


Hwan Ki sungguh menyesali keterlambatannya. Seandainya saja dia tiba lebih cepat, seandainya saja dia mendengarkan Ji Hye dan tidak menghentikannya pergi ke pertunjukkannya Ro Woon malam itu. Dia mengira bisa mengubur segalanya seorang diri. Dia mengira segalanya akan baik-baik saja. Dia salah karena berpikir kalau dia bisa melindungi semua orang dan pada akhirnya malah membuat semua orang tersakiti.

Ro Woon berlinang air mata mendengar semua pengakuannya. Hwan Ki mengeluarkan sepatu Ji Hye yang selama ini disimpannya di laci dan mengembalikannya pada Ro Woon. Hwan Ki mengaku kalau dia yang memberikan sepasang sepatu ini untuk Ji Hye sebagai hadiah.

"Dia saat-saat terakhirnya, orang yang paling dibencinya pastilah aku. Kurasa karena itulah dia meninggalkan sepatu ini di sini."


Air mata Ro Woon semakin tak terbendung saat dia memeluk sepatu itu. Hwan Ki pun berpaling membelakanginya, menyembunyikan air matanya dari pandangan Ro Woon.

Episode 14: My Funny Valentine.


Ro Woon pulang dengan membawa sepatu itu dan mendapati Ayah sedang minum-minum sendirian. Ro Woon mengeluarkan sepatu itu lalu menempatkannya di depan pintu. "Sekarang, akhirnya aku merasa dia sudah pulang."


Tuan Eun langsung mengomeli Hwan Ki begitu melihat keadaan putrinya. Hwan Ki meminta maaf karena dia mengubur semua kebenarannya. Ayah semakin kesal, kalau begitu seharusnya Hwan Ki tidak membiarkannya bocor. Nyonya Eun sendiri mulai kesal melihat suaminya, yang dia pikirkan cuma masalah pilkada.

Menggebrak meja dengan kesal, Nyonya Eun yang sekarang gantian mengomeli Hwan Ki karena menutupi kebenaran tentang Woo Il, bahkan sampai membantu Woo Il dan Yi Soo untuk menikah. Tapi Tuan Eun tetap bersikeras menyalahkan Ji Hye atas segalanya, dia yang bodoh karena mengorbankan nyawanya demi pria yang mengkhianatinya.


"Tolong jangan bicara sembarangan. Yi Soo juga... hampir kehilangan nyawanya."

Kedua orang tuanya terkejut mendengarnya, apa maksudnya. Hwan Ki akhirnya memberitahu kedua orang tuanya kalau Yi Soo pernah mencoba bunuh diri di hadapan Ji Hye. Dia menyayat lengannya setelah marah-marah pada Ji Hye. Hal itu membuat Ji Hye shock dan mengaburkan pemikirannya. Nyonya Eun menolak mempercayainya. Putrinya tidak mungkin seperti itu.

"Kalian berdua harus mengetahuinya. Berhentilah melihat hal-hal yang hanya terlihat oleh mata."

Tuan Eun tentu saja kesal, semua ini karena Woo Il, dialah yang telah menghancurkan putrinya. Mereka semua tidak menyadari Yi Soo terbangun saat itu dan mendengarkan segalanya. Dia bangkit untuk membela Woo Il.


Dia mengaku kalau awalnya dia merasa ketakutan setiap kali Tuan Eun membentak Hwan Ki, hal itulah yang membuatnya sering melukai dirinya sendiri dengan sengaja hanya supaya dia bisa membuat keadaan jadi tenang. Tuan Eun sontak menangis mendengarnya. Bagaimana bisa Yi Soo melakukan itu padahal Yi Soo lah satu-satunya orang yang selalu bisa membuatnya tersenyum.

"Karena itulah aku selalu tersenyum. Bahkan sekalipun aku sakit atau sedih, aku selalu tersenyum"

Tapi kemudian semua itu pada akhirnya membuatnya jadi bingung. Setiap kali dia merasa sakut dan terluka, dia tetap saja tersenyum. Rasanya seperti ada seseorang dalam dirinya yang menyuruhnya untuk membunuh dirinya sendiri.


Inilah fakta tentang dirinya sendiri. Dia juga benci pada dirinya sendiri dan tidak ingin siapapun mengetahuinya. Tak sanggup lagi mendengar semua pengakuan Yi Soo, Nyonya Eun langsung memeluk Yi Soo.


Keesokan harinya, kantor heboh oleh tersebarnya gosip tentang Ji Hye. Seorang pegawai memberitahu yang lain kalau ternyata Ji Hye mengakhiri hidupnya gara-gara Woo Il. Sekarang pernikahannya Woo Il sudah dibatalkan dan dia ditendang dari perusahaan.

Tapi tetap saja mereka bersimpati pada Woo Il. Seorang pegawai lainnya menduga kalau kebenaran ini baru terungkap sekarang pasti gara-gara perebutan kekuasaan. Yang lain setuju, walaupun Woo Il mengkhianati tunangannya tapi di kantor ini tak ada yang lebih kompeten daripada Hwan Ki.

Yoo Hee menyela mereka dan membela Hwan Ki-nim. Semua tim Silent Monster ikutan muncul membela Hwan Ki-nim mereka. Hwan Ki-nim adalah orang yang keren. Kalau mereka sudah mengenalnya, mereka pasti akan tahu kalau Hwan Ki-nim itu orang yang kompeten. Mereka harus merasakan sendiri pesonanya Hwan Ki.


Hwan Ki datang tak lama kemudian. Dia sontak gugup dengan tatapan semua orang padanya. Tapi berkat semangat yang diberikan tim Silent Monster, Hwan Ki akhirnya berhasil mengatasi kegugupannya dan mengumumkan kalau Woo Il pasti akan kembali ke perusahaan, jadi dia berharap semua orang tetap bertahan pada pekerjaan mereka masing-masing dan bertanggung jawab atas tugas-tugas mereka.


Dia langsung pergi setelah itu, membuat para pegawai kecewa, gitu doang? Apa-apaan pidatonya Hwan Ki tadi? Yoo Hee langsung membela Hwan Ki, biarpun singkat tapi dia percaya pasti ada makna tersembunyi dibalik pidatonya Hwan Ki tadi. Dia pasti punya rencana tertentu. Apa rencana? Itu... yang Yoo Hee tidak tahu. LOL.


Gyo Ri menduga kalau Hwan Ki pasti gugup karena harus berhadapan dengan lebih banyak orang walaupun sebenarnya Hwan Ki sudah mulai merasa nyaman dengan mereka. Di saat para pegawai galau seperti ini, Sun Bong menyadari betul betapa pentingnya peran seseorang seperti Woo Il yang bisa memimpin mereka dengan penuh percaya diri.

"Kepemimpinan Hwan Ki yang malu-malu akan berkesan suatu saat nanti. Kita juga waktu sampai bisa merasakannya," ujar Se Jong positif.

"Itu yang paling disayangkan, butuh waktu sangat lama."


Ro Woon menemani Yoon Jung membeli coklat untuk valentine. Dia menyuruh Ro Woon memilih. Ro Woon sebenarnya tak enak tapi Yoon Jung memaksa. Ro Woon akhirnya asal pilih coklat yang bentuknya biasa-biasa saja. Loh, apa itu cukup sebagai hadiah untuk Hwan Ki.

Hah? Ro Woon bingung. Jadi Yoon Jung mengajaknya kemari bukan untuk membelikan coklat untuknya? Yoon Jung mengingatkan kalau dia mengajak Ro Woon kemari agar mereka bisa bersaing memperebutkan cinta Hwan Ki secara adil. Tapi sepertinya Ro Woon tidak berniat menyatakan perasaannya pada Hwan Ki.

"Kalau begitu aku akan membeli yang paling cantik dan mahal untuk dia," goda Yoon Jung. Ro Woon tersenyum mendengarnya.


Mereka kemudian duduk bersama dimana Yoon Jung mengaku kalau dia menyatakan perasaannya pada cinta pertamanya di hari valentine. Dia membuat coklat sendiri dan menulis surat untuknya. Tapi Ro Woon mana bisa meniru caranya Yoon Jung itu, dia tidak dalam posisi yang memungkinkan untuk melakukan itu.

Siapa bilang cinta pertamanya adalah Hwan Ki? Dia memang cinta pertamanya Hwan Ki tapi cinta pertamanya Yoon Jung adalah pria lain. Seorang pria gereja yang pandai menyanyi dan bermain piano, seorang pria yang keren. Apa cuma Hwan Ki yang ada di pikiran Ro Woon? Yoon Jung mengaku kalau sebenarnya dia iri dengan kisah cinta Ro Woon dan Hwan Ki.


Tapi Ro Woon sudah dengar kan kalau Hwan Ki sekarang menjalankan perusahaan sendirian. Apa Ro Woon akan menyerah begitu saja? Tidak bisakah dia memaafkan Hwan Ki? Bukannya Ro Woon tidak bisa memaafkan Hwan Ki. Dia bisa kok, dia bahkan sudah memaafkannya. Hanya saja dia merasa tidak sanggup menemuinya sekarang. Hwan Ki masih memiliki seseorang yang harus dia lindungi selain Ro Woon.


Mengalihkan topik, Yoon Jung mengajak Ro Woon pergi ke pameran lukisan. Tapi setibanya di sana, Yoon Jung malah meninggalkannya sendiri. Dia malah melihat Hwan Ki yang baru datang. Panik, Ro Woon buru-buru menyembunyikan dirinya. Yoon Jung mengiriminya sms dan berkata "Itu lukisan langka yang pernah kudapat dalam karir sebagai kurator. Nikmatilah."

Tersenyum membaca sms itu, Ro Woon akhirnya keluar dari persembunyiannya dan diam-diam mengikuti Hwan Ki berkeliling. Dia membatin, memohon agar Hwan Ki membalikkan badannya sekali saja. Hwan Ki sebenarnya melihatnya melalui bayangan kaca pigura.

Tapi dia sengaja tidak berbalik dan membatin, "Maafkan aku. Bisakah kau tetap berada di sana sebentar saja? Agar setidaknya, aku bisa menatapmu seperti ini"


Woo Il sekarang bekerja sukarela di panti asuhan. Dia sedang membersihkan kaca saat Hwan Ki tiba-tiba muncul di depannya. Sedang apa Hwan Ki di sini? Bagaimana dengan perusahaan? Hwan Ki langsung protes, kenapa Woo Il musti peduli, padahal dia yang meninggalkan mereka begitu saja?

"Aku ingin melihat seberapa bagus kau tanpa aku. Apa kau melarikan diri sekarang?"

"Sejujurnya aku agak kebingungan. Keberadaanmu sulit tergantikan. Tak ada seorangpun yang bisa memahamiku seperti kau. Hanya kau satu-satunya yang bisa menyampaikan pesan-pesanku"

"Kau anggap aku penyampai pesan? Memangnya kau presdir tunggal?"

"Kapan aku begitu? Kau yang terlalu sensitif"

Hwan Ki menyadari Woo Il selama ini pasti kesusahan karena harus mendengarkan orang keras kepala sepertinya. Kalau bukan karena Woo Il, dia pasti tidak akan bisa sejauh ini. Dan karena itulah dia berterima kasih pada Woo Il. Wah, baru pertama kali ini Woo Il mendengar Hwan Ki berterima kasih padanya. Apa sesulit itu? Kenapa butuh waktu lama sekali untuk mengatakannya? protes Woo Il. Tapi bagaimanapun, dia tetap tidak bisa kembali.

"Keluarlah. Ada orang yang mau bertemu denganmu."


Woo Il keluar dan mendapati Yi Soo menunggunya. Mereka lalu duduk bersama di taman sambil saling terdiam canggung. Yi Soo mengaku kalau dia merasa sungkan karena menemui Woo Il seperti ini. Woo Il mengaku sebaliknya, dia suka kok, dia merasa lega sekarang.

"Baguslah. Selama ini, aku pasti jadi beban bagi oppa, kan?"

Woo Il tidak bermaksud seperti itu. Tapi Yi Soo menyelanya. Sekarang dia sudah mulai bisa melihat dirinya sendiri dan menguatkan dirinya. Selama ini begitu sulit baginya hanya untuk sekedar melihat bayangannya di cermin. Dia mengaku ada bagian dari dirinya yang selama ini dia sembunyikan dari Woo Il dan sekarang dia akan mengungkapkannya.


"Aku menyakiti diriku sendiri sekian lama. Aku melakukannya untuk bertahan hidup"

"Apa maksudmu?"

Yi Soo mengaku kalau dialah sebenarnya orang terakhir yang ditemui Ji Hye 3 tahun yang lalu. Dia berkata pada Ji Hye kalau dia akan mati jika tidak bersama Woo Il. Memang Woo Il lah orang yang menarik pelatuknya (memicu masalah) tapi Yi Soo lah yang menembakkan pelurunya. Karena itulah dia berharap Woo Il berhenti merasa bersalah atas kematian Ji Hye.

Yi Soo meminta maaf karena selama ini diam saja melihat Woo Il menderita dan tidak mengatakan segalanya sejak awal. Tercengang, Woo Il bertanya-tanya apakah Yi Soo melakukan semua itu karenanya? Apakah selama ini dia membuat Yi Soo menderita? Yi Soo menyangkalnya. Woo Il sekarang bisa bebas darinya dan ayahnya, jadi dia berharap Woo Il bisa jadi dirinya sendiri. Tempat ini tidak cocok untuk Woo Il.


Hwan Ki mondar-mandir menunggu Yi Soo. Dia akhirnya keluar tak lama kemudian dan langsung menangis dalam pelukan Hwan Ki, "Setelah mengatakan semuanya, ternyata tidak sesulit itu."

"Tidak apa-apa. Segalanya akan baik-baik saja"

"Aku serius. Aku merasa sangat lega. Mengungkapkan segalanya dan membebaskan diriku sendiri, ternyata sangat melegakan"


Saat Ro Woon pulang, dia lagi-lagi mendapati Ayah minum-minum sendirian. Seperti biasanya, Ayah tanya Ro Woon sudah makan apa belum. Ro Woon berkata belum, mau makan malam bersama? Ayah terkejut mendengar ajakan Ro Woon. Tanpa menunggu jawaban, Ro Woon pun masuk dan mulai mencuci beras.

Bersambung ke part 2

4 comments

Ditunggu part 2 nya chingu.. Semangat nulisnya...

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon