Powered by Blogger.

Sinopsis Introverted Boss Episode 14 - 2
Images Credit by tvN


Ayah melanjutkan minumnya saat pintu terbuka. Hwan Ki datang dan langsung berlutut di hadapan Ayah. Ayah tidak mengatakan apapun dan hanya menepuk sebelah sofanya, mengisyaratkan Hwan Ki untuk duduk. Ayah memberikan gelasnya pada Hwan Ki dan menuangkan soju untuknya. Hwan Ki sampai canggung sendiri menerima semua itu.

Ayah mengaku bahwa setelah Ji Hye tiada, dia berpikir kalau Ji Hye pasti punya masalah di perusahaannya, seharusnya dia menyelesaikannya. Dia berpikir kalau Ji Hye membuat keputusan bodoh karena dia buruk dalam pekerjaannya. Dia tidak mengerti kenapa Ji Hye melakukan itu padahal semua itu pasti punya masalah.

Dia terus menyalahkan Ji Hye seolah dia tidak mengetahui kepribadian Ji Hye padahal putrinya itu selalu berusaha melakukan yang terbaik. Ayah yakin Ji Hye sekarang sudah tenang di atas sana setelah selama ini menyimpan semua masalahnya seorang diri.

"Seandainya waktu itu aku menyadari lukanynya, dia tidak akan pergi seperti itu," sesal Ayah

"Maafkan saya."


Tidak. Ayahnya yang bersalah. Setelah kepergian Ji Hye, dia menyuruh Ro Woon untuk tetap diam dan menahan diri, semua ini salahnya. Ayah berterimakasih pada Hwan Ki karena dia telah memberitahu kebenarannya. Tanpa mereka sadari, Ro Woon terisak mendengar pembicaraan mereka.


Keesokan harinya di kantor, Hwan Ki rapat berdua dengan Direktur Park sementara tim Silent Monster cuma melihat dari luar. Gyo Ri ikut nimbrung tak lama kemudian, penasaran apa yang terjadi? Se Jong dan Yoo Hee memberitahu kalau klien mereka menghadapi situasi yang buruk. Perusahaan bir bernama Bravo Liquors, botol bir mereka meledak.

Gyo Ri sontak ngeri, kok bisa? Sun Bong langsung menjelaskan panjang lebar. Itu terjadi karena perusahaan bir itu berniat menekan biaya produksi dengan cara mendaur ulang botol bir mereka sampai 50 kali padahal seharusnya cuma didaur ulang maksimal 5 kali saja. Kalau nitrogen dimasukkan kedalam botol lalu disegel, kadarnya akan meluap lalu... BANG!!!

"Seorang pemilik bar terkena di bagian mata dan kehilangan penglihatannya," ujar Yoo Hee.


Direktur Park memberitahu Hwan Ki kalau kasus sebenarnya sudah pernah beberapa kali terjadi dan setiap kali terjadi kasus seperti ini, Woo Il biasanya bergerak cepat untuk menyelesaikannya dengan cara berdamai dengan korban.

Tapi Hwan Ki kurang suka dengan cara itu, uang damai memang lebih murah dan itukah sebabnya mereka mau terus menutup mata? Seharusnya perusahaan meminta maaf dengan tulus dan menghadapi kenyataan agar perusahaan mereka mendapat citra baik.

Direktur Park langsung mendengus sinis mendengarnya, dia tidak yakin kalau pihak perusahaan akan mau menanggung pembengkakan biaya. Lagipula Bravo Liquors meminta bertemu dengan Woo Il tapi Woo Il sudah tidak di sini lagi. Jadi siapa yang akan...? (lirik Hwan Ki dengan tatapan sinis).


Tak berapa lama kemudian, Direktur Park kembali ke meja kerjanya sambil membanting dokumennya dengan penuh emosi. Yang lain sampai ketakutan melihatnya. Dua orang pegawai wanita diam-diam bergosip, cemas kalau perusahaan ini berada dalam bahaya dan karenanya mereka diam-diam berencana untuk pindah kerja ke perusahaan lain. Tanpa mereka sadari, Hwan Ki sebenarnya mendengarkan mereka.


Hwan Ki langsung mondar-mandir galau di kantornya. Timnya sampai bingung sendiri melihatnya, mereka jadi cemas lagi karena Hwan Ki mulai memakai hoodie-nya lagi. Sepertinya Hwan Ki banyak pikiran. Bukankah mereka seharusnya membantu Hwan Ki. Yoo Hee mengaku kalau dia sudah menelepon si 'Penyembuh Ajaib', tapi kenapa dia belum datang, yah?

Hwan Ki akhirnya bicara juga, dengan agak gugup dia meminta mereka untuk mengumpulkan para pegawai di ruang rapat. Dia akan bicara langsung pada mereka. Mereka berempat pun keluar untuk melaksanakan perintah Hwan Ki, sementara Hwan Ki sendiri menggalau di dalam ruang tamunya, mungkin cemas dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua orang itu nantinya.


Dalam kegalauannya, dia mendapat pesan dari Ro Woon. Dia mengirim banyak sekali foto-foto selfie jelek dalam berbagai pose yang sukses membuat Hwan Ki ketawa ngakak dan melupakan kegugupannya. Dia keasyikan ketawa ngakak sampai matanya berkaca-kaca saat tiba-tiba saja Ro Woon muncul dan membuka hoodie jaketnya.


"Tidak bisakah kau lepas hoodie-mu? Kecuali kau ingin jadi rapper pribadinya Yoon Jung unni. Aku sudah dengar masa lalu kalian."

Hwan Ki sontak panik mendengarnya. Ro Woon terus menggerutu sebal tentang Yoon jung yang pamer padanya soal dia jadi cinta pertamanya Hwan Ki. Karena itulah, dia ingin Hwan Ki tidak pakai hoodie saat bersamanya. Itu membuatnya cemburu. Hwan Ki tersenyum mendengarnya. Ro Woon sudah dengar kalau Hwan Ki mau mengumpulkan para karyawan di ruang rapat. Apa yang Hwan Ki pikirkan? Apa dia mau mencoba jadi karismatik seperti Woo Il?


"Sepertinya aku sudah pernah bilang. Jangan berubah. Jangan mencoba jadi Kang Daepyo. Bagaimana kalau kau mencoba berkomunikasi dengan caramu?" usul Ro Woon.

Hwan Ki mengangguk. Ro Woon bersikeras menyuruh Hwan Ki melepas hoodir, bahkan langsung memaksa melepaskan jaket Hwan Ki, baju itu tidak cocok untuk Hwan Ki. hwan Ki ingin membahas tentang masalah mereka. Tapi Ro Woon mengingatkannya untuk mengurus karyawannya dulu.


Duduk di depan laptopnya, Hwan Ki akhirnya memutuskan untuk membuat pengumuman rapat terbuka dengan para karyawan secara berkelompok dan menyuruh mereka untuk menentukan jadwalnya sendiri, rapatnya boleh sambil makan atau minum-minum. Para pegawai jelas keheranan membaca pengumuman itu.


Begitulah bagaimana Hwan Ki rapat santai per kelompok antara 2 atau 3 orang saja. Di kelompok pertama, Hwan Ki memasakkan makan siang untuk mereka, bahkan melayani mereka sendiri. Sementara di kelompok kedua, minum wine bersama.

Awalnya semua orang canggung menghadapi Hwan Ki. Tapi saat mereka mulai makan dan minum, suasana jadi lebih santai. Hwan Ki pun mulai nyaman bicara dengan mereka dan mengemukakan maksudnya sebenarnya dalam pidatonya waktu itu.

Bukan berarti dia menyuruh mereka untuk fokus kerja dan terus menerus menuruti perintah atas. Dia justru ingin mereka memotivasi diri mereka agar ide-ide segar mengalir. Dia mengaku menginginkan sebuah perusahaan dimana Bos tidak diperlukan.

Rapat itu sukses mengubah pandangan para pegawai yang tadinya sinis pada Hwan Ki. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Hwan Ki itu ternyata enak diajak ngobrol saat dia bersama dengan sedikit orang. Siapa yang bilang Hwan Ki itu pendiam, dia malah banyak bicara.


Yang terakhir rapat dengannya sambil ngopi adalah Direktur Park. Dia masih bersikap sangat sinis pada Hwan Ki, menyindir Hwan Ki yang sekarang sudah mulai dekat dengan para pegawai. Tapi kemudian dia malah dibuat tercengang saat Hwan Ki tiba-tiba meminta maaf dengan sopan padanya.

"Selama ini aku membiarkan Kang Daepyo mengurus semua komunikasi. Aku sangat tidak bertanggungjawab. Sama seperti Bravo Liquors, aku menyembunyikan kelemahanku. Tapi tidak berakhir dengan baik. Aku meminta maaf atas caraku dulu dan akan berusaha memperbaiki kekuranganku. Kurasa aku yang harus berubah dulu sebelum membujuk klien."

Direktur Park sampai speechless dibuatnya sampai-sampai dia mengubah posisi duduknya jadi lebih sopan dari yang tadinya begitu angkuh. Hwan Ki dengan sopan meminta Direktur Park untuk menemaninya rapat dengan klien mereka. Direktur Park setuju menemaninya.


Hwan Ki sekarang sudah pede memimpin acara bersulang bersama. Tim Silent Monster bersulang untuk merayakan kesuksesan Hwan Ki dalam menangani kasus Bravo Liquors dan membuat perusahaan itu mau membuang botol lama mereka dan menggantinya dengan botol baru dan sekarang harga saham perusahaan bir itu meningkat. Hwan Ki merendah kalau itu berkat keputusan berani klien mereka.

"Jangan merendah. Bagaimanapun, selamat atas kesuksesan proyeknya"

Mereka pun bersulang lagi. Hwan Ki meyakinkan mereka kalau Woo Il akan segera kembali. Tapi bukankah Hwan Ki bilang kalau dia menginginkan perusahaan yang tidak memerlukan atasan. Apa Bos mau meninggalkan perusahaan? duga Se Jong. Yoo Hee mengingatkan Se Jong kalau Hwan Ki bukan bos mereka, dia Hwan Ki-nim.


Sementara yang lain masih asyik bercengkerama, Hwan Ki melihat Ro Woon pulang diam-diam. Hwan Ki menyusulnya keluar. Hwan Ki bertanya gugup, apa Ro Woon besok akan datang. Ro Woon tertawa mendengarnya, memangnya dia bilang kalau dia tidak mau menemui Hwan Ki lagi?

"Hari itu, kau langsung menjauhkan diri setelah mengatakan apa yang kau inginkan. Aku sampai tidak bisa merespon. Kenapa kau melakukannya? Sudah 3 tahun kau melakukannya. Terlalu menyakitkan juga bagimu. Kenapa kau melakukannya?"

Hwan Ki langsung gugup. Ro Woon menuntut Hwan Ki untuk rapat berdua dengannya. Bagaimana kalau besok sore? Hwan Ki tergagap menyetujuinya. Tapi sebelum pergi, Ro WOon bertanya, "Kau tahu kalau besok hari valentine, kan?"


Tentu saja rapat yang dimaksud Ro Woon adalah kencan. Tapi saat mereka menuju restoran pertama, tempat itu tampak sangat ramai, bahkan banyak pasangan yang musti antri di luar dan mereka malah disuruh menunggu 2 jam. Tak mau lama-lama, mereka pun langsung menuju ke restoran lain.

Tapi restoran yang kedua ini malah lebih lebay banget. Seluruh restoran dihias heboh dengan tema valentine, setiap pasangan bahkan diberi bando pink kelap-kelip. Hwan Ki jelas tak nyaman berada di restoran ini. Dia menyarankan pindah ke restoran lain saja. Tapi Ro Woon mau tetap di sini. Lagipula, belum tentu mereka akan mendapat tempat di restoran lain.


"Kenapa juga kau mau bertemu denganku di hari ini?"

"Aku baru sadar, kalau kita belum pernah makan berduaan saja."

"Benarkah?"

"Kita juga belum pernah nonton film bersama"

Hwan Ki mengoreksi, pernah kok. Waktu mereka survey bioskop dan Ro Woon ketiduran. Loh, jadi Hwan Ki datang waktu itu? Lalu kenapa Hwan Ki tidak menemuinya? Dia duduk di mana? Di dekat Ro Woon. Jangan-jangan Hwan Ki cuma menatapnya dari belakang, yah?

"Kau tampak gugup. Kita seperti sedang kencan"

"Bukan begitu. Aku hanya tidak yakin... apakah tidak masalah bagi kita untuk melakukan ini"


Hwan Ki bilang kalau Ji Hye mungkin membencinya di saat terakhirnya dan karena itulah Ji Hye meninggalkan sepatunya. Tapi menurutnya tidak begitu. Dia yakin kalau Unni-nya meninggalkan sepatu itu karena dia merasa bersalah karena dia telah menyakiti anggota keluarganya Hwan Ki.

Unni-nya orang yang seperti itu. Apa Yi Soo baik-baik saja? Hwan Ki membenarkannya. Yi Soo juga merasa sangat bersalah. Ro Woon berharap Yi Soo akan selalu sehat, dia yakin Unni-nya juga pasti seperti itu. Ro Woon menyadari ada banyak hal yang harus mereka hadapi. Tapi...

"Bagaimana kalau kita menghadapinya bersama? Kita kan sudah melewati banyak rintangan. Tidak perlulah saling melepaskan. Mulai sekarang, kau dilarang mengawasiku diam-diam. Kita harus berdiskusi apapun yang terjadi. Tidak ada rahasia lagi. Mengerti?"


Hwan Ki tersenyum menanggapinya. MC restoran itu datang dan mengumumkan kalau mereka sudah menyiapkan event yaitu ciuman manis dan akan dimulai dalam kehitungan ke-5. Hwan Ki dan Ro Woon sontak mendelik kaget. Ro Woon antusias tapi Hwan Ki tidak nyaman melakukannya di tempat seperti ini. Ro Won kecewa.


Mereka pun beranjak pergi. Tapi tepat saat itu juga lampu padam dan hanya bando kelap-kelip yang menyala. Ro Woon dan Hwan Ki bingung mencari-cari satu sama lain. "Bosseu, kau dimana?"... "Di sini. Kenapa kau menyentuh di situ?"... "Ah, maaf. Aku tidak tahu menyentuh apa tapi aku tidak sengaja."... "Diam saja, aku akan meraih tanganmu. Ini aku sudah menggenggam tanganmu."

Ro Woon malah bingung, Hwan Ki menggenggam tangan siapa? Hwan Ki lebih bingung lagi, terus ini tangan siapa? Ro Woon terus berusaha mencari tapi sepertinya dia tersandung sesuatu dan sesaat kemudian terdengar suara teriakan Ro Woon.


Lampu menyala lagi saat itu dan Hwan Ki malah mendapati dirinya menggenggam tangan MC dan Ro Woon tersungkur di lantai sementara para pasangan lain sukses mencium pasangan masing-masing.


Hwan Ki jadi makin panik mendapati dirinya jadi tontonan. Mereka pun buru-buru pergi dari sana. Ro Woon berlari keluar restoran sambil ketawa ngakak. Hwan Ki mencemaskan kaki Ro Woon, apa tidak sakit? Sedikit, tidak apa-apa.

Tapi Hwan Ki tetap cemas dan langsung jongkok. Dia tidak bicara apa-apa, membuat Ro Woon jadi mengira kalau dia menawarkan gendongan punggung... padahal Hwan Ki cuma sedang mengikat tali sepatunya. wkwkwk.


Yakin sekali dengan dugaannya, Ro Woon pun langsung naik ke punggung Hwan Ki... dan baru saat itulah dia menyadari kesalahannya. Duh, malunya! Ro Woon cuma bisa ketawa garing.


Tapi yang tidak dia sangka, Hwan Ki merapatkan pegangannya dan mulai menggendongnya. Ro Woon tak enak dan minta diturunkan saja. Tapi Hwan Ki menolak. Walaupun Ro Woon tidak sakit, dia pura-pura kesakitan saja.

"Aku tahu kita tidak seharusnya begini. Tapi... aku ingin seperti ini."

 

Hwan Ki terus menggendong Ro Woon sampai depat rumahnya. Tapi setibanya di sana, dia melotot shock melihat tangga menuju rumah Ro Woon. Terpaksa dia menurunkan Ro Woon untuk merenggangkan otot-otot-nya dulu biar kuat menggendong Ro Woon melewati tangga-tangga itu.

"Aku bisa jalan, kok"

Tapi Hwan Ki tetap bersikeras menggendongnya dan langsung jongkok lagi. Tapi Ro Woon menolak dan berjalan sendiri. Hwan Ki berusaha membujuknya untuk digendong lagi. Dia bisa kok, Ro Woon mungkin tidak ingat tapi dia pernah menggendong Ro Woon sebelumnya. Ro Woon tidak percaya, malah meremehkannya.


Melupakan masalah itu, dia mengulurkan tangannya pada Hwan Ki. Sebagai gantinya, bisakah Hwan Ki menggenggam tangannya? Tapi Hwan Ki malu bergandengan tangan di tempat umum. Tapi karena tak ingin mengecewakan Ro Woon, Hwan Ki ganti menawarkan lengannya.


Ro Woon langsung semangat menautkan lengan mereka. Tapi bukan itu juga yang Hwan Ki maksud. Hwan Ki ingin Ro Woon berpegangan pada lengannya saja. Ro Woon terpaksa menurutinya dengan setengah hati. Ini hari valentine tapi mereka sama sekali tidak bisa menikmati romantisme. Hwan Ki penasaran apa dia tidak akan dapat coklat.

"Coklat apaan? Kita saja tidak ada manis-manisnya. Aku bahkan tidak bisa menggenggam tanganmu atau menautkan lengan. Ditambah lagi, kau sangat pemalu seolah kita belum pernah ciuman sebelumnya."

"Kau ingin ciuman?"

"Bagaimana bisa kau bertanya langsung begitu? Apa kau akan menciumku kalau aku bilang mau? Kau bahkan tidak bisa melakukannya tadi saat lampu dimatikan dan suasananya mendukung"


Mendengar itu, Hwan Ki melepaskan tangan Ro Woon lalu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ro Woon. Ro Woon pun langsung merem menantikan ciuman Hwan Ki. Tapi Hwan Ki cuma memeluknya sebentar lalu melepaskannya. Kecewanya Ro Woon cuma dapat pelukan.


Tapi kemudian dia menyadari kejutan lain. Ada kalung yang melingkar di lehernya.

"Itu bukan... hadiah valentine. Aku... memberinya tanpa alasan tertentu"

Hwan Ki langsung pamit setelah itu. Baru beberapa tangga yang dia turuni, Ro Woon memanggilnya lalu berjalan mendekatinya dan mengecup singkat bibir Hwan Ki. "Itu hadiah valentine dariku."

Ro Woon langsung kabur setelah itu dan melambaikan tangannya malu-malu sebelum masuk rumahnya.


Tapi saat Hwan Ki hendak pergi, dia dicegat Reporter Woo. Tanpa basa-basi dia mengkonfrontasi Hwan Ki dan mengklaim kalau Hwan Ki tidak berhak untuk bahagia di samping Ro Woon.

"Ada sesuatu yang tidak kau ketahui."


Tanpa menyadari apa yang tengah terjadi di luar rumahnya, Ro Woon tersenyum bahagia menatap bayangan kalung pemberian Hwan Ki di lehernya.

Bersambung ke episode 15

4 comments

Awww nunggu 1 minggu lagi 😪

seruuu bgt..maksih yah dh bwt sinopsis ini dtggu episode brikutnya..

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon