Powered by Blogger.

Images Credit: tvN
Sinopsis Introverted Boss Episode 16 - 2 [END]


Mereka berempat makan bersama dalam suasana yang sangat canggung. Yi Soo berusaha mencairkan suasana dengan mengomentari makanan mereka dan meminta pendapat Ro Woon. Tapi entah apakah karena pertanyaan itu dadakan banget, Ro Woon sampai tersedak.

Yi Soo cepat-cepat memberinya segelas air dan terus berusaha menawari makanan pada Ro Woon. Dia bahkan langsung pergi untuk mengambilkan sup tambahan untuk Ro Woon. Saat Woo Il pergi menyusulnya, Ro Woon menyadari kalau Yi Soo itu sama seperti Hwan Ki. Bedanya, Yi Soo sudah berubah.


Kedua wanita itu kemudian berendam bersama. Setelah beberapa saat saling berdiam diri dengan canggung, Yi Soo mengaku bawha dalam perjalanan kemari tadi, dia sebenarnya merasa sangat gugup karena harus bertemu dengan Ro Woon. Ro Woon juga mengaku merasakan hal yang sama, apalagi dia meminta mereka datang kemari juga demi Hwan Ki.

"Maafkan aku," ujar Yi Soo tulus. "Aku tahu tidak ada gunanya mengucap maaf sekarang ini."

"Tidak. Itulah yang selalu ingin kudengar selama tiga tahun ini"

"Kita tidak akan bisa jadi dekat, kan?"

Ro Woon membenarkan, itu akan butuh sedikit waktu. Tapi Ro Woon akan tetap bersama oppa-nya, kan? Jika Ro Woon tidak merasa nyaman dengannya, maka dia akan menjaga jarak sebisanya.


Melihat Yi Soo begitu merasa bersalah, Ro Woon tiba-tiba berusaha mengakrabkan hubungan mereka dengan meminta Yi Soo menggosok punggungnya dan memanggilnya 'Unni'. Yi Soo dengan senang hati melakukannya. Kecanggungan diantara mereka pun menghilang seketika dan mereka berdua akhirnya bisa bercanda tawa bersama.


Sementara itu, kedua pria minum bir di luar. Woo Il mengaku kalau dia dan Yi Soo memulai hubungan mereka kembali dari awal. Tapi tanggapan yang didapatkannya dari Hwan Ki malah cuek dan langsung beralih menanyakan perusahaan. Woo Il melapor kalau mereka kehilangan banyak klien, jadi tidak banyak pekerjaan sekarang.

"Apa?"

"Kau khawatir? Kalau begitu, kembalilah. Kalau kau kalau Ayahmu membatalkan pencalonannya?"



Hwan Ki tak menjawab dan terus gelisah sepanjang malam. Ro Woon juga tidak bisa tidur dan tiba-tiba saja mengusulkan agar mereka nonton film p*rn*. hahaha. Dia bahkan langsung membuka laptop. Hwan Ki protes malu-malu, gadis macam apa nonton begituan.

Tapi saat Ro Woon mulai memutar videonya, Hwan Ki malah lebih terkejut mendapati video itu tentang dirinya. Berbagai foto-foto Hwan Ki dalam berbagai ekspresi, dengan dan tanpa hoodie jaketnya.

 

Juga rekaman dari Tim Silent Monster tentang kesan-kesan pertama mereka pada Hwan Ki yang menurut mereka dingin. Tapi setelah benar-benar mengenalnya, mereka menyadari Hwan Ki tidaklah seperti yang mereka kira selama ini. Dia sebenarnya orang yang berhati hangat dan selalu mendengarkan mereka meskipun mereka membicarakan hal-hal yang tidak penting.

"Dia dengan sukarela menjadi supir untuk karyawannya," ujar Gyo Ri.

"Dia pria yang memiliki hati tulus dan peduli pada orang lain," ujar Se Jong.

"Saat kami dalam masalah, dia tiba-tiba muncul seperti hantu," timpal Yoo Hee.

"Aku masih terus menengok sekeliling."

"Kami tetap merasa kau selalu mengawasi kami dari suatu tempat."


Sun Bong memberitahu kalau perusahaan tetap berjalan lancar tanpanya, tentu karena mereka bekerja keras untuk itu. Se Jong pun berkata bahwa segalanya berjalan sesuai keinginan Hwan Ki, perusahaan tanpa bos. Yoo Hee langsung menyingkirkannya dari kamera dan menjelaskan kalau mereka bukannya bermaksud tak ingin Hwan Ki kembali, mereka hanya tidak ingin membuat Hwan Ki khawatir.

"Cepatlah kembali sebelum kami melupakanmu."

"Kami merindukanmu, Hwan Ki-nim"

"Cepatlah kembali."


Hwan Ki berkaca-kaca penuh haru menonton video itu. Ro Woon mengklaim kalau ini adalah bagian materi promosi Silent Monster. Semua orang menunggu Hwan Ki kembali, jadi Hwan Ki harus mengakhiri kebosanan ini malam ini. Menyingkirkan laptopnya, Ro Woon tiba-tiba berbaring dengan gaya seksi.


"Hari ini aku mandi," ucapnya sambil menarik baju Hwan Ki penuh arti "Yi Soo unni menggosok punggungku. Kulitku jadi lembut sekali."

Hwan Ki tersenyum langsung menggodanya sambil menciuminya berkali-kali.


Begitu kembali ke kota, Hwan Ki langsung pergi mendatangi Ayah di salonnya. Dengan canggung dan ragu dia menyuruh orang di belakangnya untuk masuk, dan ternyata yang datang bersamanya adalah Tuan Eun. Seperti biasanya, ia tetap angkuh dan bersikeras memaksa Hwan Ki keluar.

Baru begitu Hwan Ki keluar, Tuan Eun berubah sikap lebih sopan dan mengaku kalau ia merasa malu makanya menyuruh Hwan Ki keluar. Tuan Eun menyesal, seharusnya ia membesarkan anak-anaknya dengan lebih baik, dia benar-benar malu pada dirinya sendiri.


Sebagai orang tua, Ayah memahami betul perasaan Tuan Eun. Tapi menurutnya, seharusnya Tuan Eun bangga pada putranya. Beberapa saat kemudian, Hwan Ki melihat Ayah mencukur Tuan Eun dan Tuan Eun pun tersenyum. Tampak tak ada dendam sedikitpun diantara mereka.


Tim Silent Monster menyiapkan kejutan untuk menyambut kembalinya Hwan Ki. Tak lama kemudian, Se Jong mengumumkan kedatangan Hwan Ki dan Ro Woon. Mereka pun bersembunyi dan menanti waktu yang tepat untuk memberikan kejutan mereka.


Hwan Ki sepertinya agak kecewa melihat kantor kosong, tapi saat Ro Woon bertanya apakah dia mengharapkan kejutan atau semacamnya, dia langsung menyangkalnya. Ro Woon juga agak kecewa sebenarnya, sekarang setelah mereka kembali, itu artinya Hwan Ki bukan miliknya sepenuhnya lagi, padahal kemarin Hwan Ki masih miliknya.

"Kau sedih?"

"Kalau iya, apa aku akan dapat ciuman?" tanya Ro Woon sambil monyongin bibir. Ayo, cepetan. Sebelum semua orang kembali.


Tim Silent Monster merasa sudah saatnya mereka keluar sekarang. Mereka pun mengendap-endap sebelum memberikan kejutan mereka. Tapi malah mereka sendiri yang dibuat terkejut melihat Ro Woon dan Hwan Ki sedang berciuman mesra seolah milik berdua.


Mereka buru-buru mundur sebelum ketahuan. Sejak kapan mereka jadi sedekat itu? Gyo Ri heran. Semua ini berkat Yoo Hee. Se Jong tidak terima, dialah cupid mereka. Karena sepertinya kedua sejoli itu akan lama, jadi mereka memutuskan menunda acara kejutannya dulu lalu mengintipi kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu dengan iri.

"Lututku lemes tapi ini seru," gerutu Sun Bong .

"Mereka tidak akan lebih jauh lagi, kan?" Gyo Ri bertanya-tanya.

"Kurasa mereka akan semakin jauh."


Satu tahun berlalu, Ro Woon bercerita bahwa tidak banyak yang berubah, masih banyak hal dalam pikiran Hwan Ki. Hari itu, dia melihat Hwan Ki menutup ruang kerjanya, tampak sibuk menulis entah apa. Yoo Hee ikut nimbrung dan memberitahu kalau Hwan Ki sedang menulis surat yang mulai dituliskan sejak natal kemarin. Dia menulis untuk klien, media bahkan untuk para pegawai.

"Dan dia masih bertindak sangat pelan dan hati-hati," batin Ro Woon.


Ro Woon bercerita bahwa Silent Monster akan kedatangan anggota keluarga baru... bayinya Yoo Hee yang sekarang masih dalam kandungan. Tapi mereka juga kehilangan salah satu anggoa tim mereka yaitu Se Jong.


Mereka lalu rapat, mendiskusikan proyek toko roti. Berhubung Yoo Hee adalah pelanggan dan punya kartu keanggotaan, Sun Bong menyarankan agar mereka menyertakan nomor kartu keanggotaan Yoo Hee di akhir proposal untuk menunjukkan kalau mereka sering memakan produk toko roti ini, dia yakin perusahaan lain belum pernah mencoba roti dari toko ini.

Itu ide yang bagus, Gyo Ri sampai terkagum-kagum mendengar ide brilian Sun Bong. "kenapa aku tidak pernah mendapat ide sebagus kau?. Kalau sepertimu, aku akan menikmati pekerjaanku. Tapi aku selalu saja merasa kesulitan."

"Sebenarnya sulit untuk semua orang, kau kurang kerja keras. Kalau kau pikir semudah itu bagiku, mestinya orang lain pun bisa memberi ide seperti itu, kan? Inspirasi itu tidka bisa asal muncul. Kau perlu berpikir dan berusaha untuk membangun intuisimu."

Wah, Gyo Ri jadi semakin kagum pada Sun Bong. Sun Bong pura-pura cuek, padahal kelihatannya bangga banget.


Dia lalu pergi ke toilet sambil memuji dirinya sendiri. Tapi dia takut juga jika kata-katanya ada yang menyinggung Gyo Ri tadi. Sambil menatap dua buah tiket konser di tangannya, Sun Bong bertekad untuk menyatakan perasaannya hari ini selama bimbang selama setahun ini.


Tapi tiba-tiba dia dipanggil keluar karena ada Se Jong. Yang mereka maksud adalah Se Jong yang sedang diwawancara. Ternyata sekarang dia jadi aktor dan cukup sukses dalam film berjudul 'My Shy Brother'. Si Pewawancara menanyai gosip kedekatannya dengan aktris utama film ini.

Tapi Se Jong menyangkal adanya hubungan apapun dengan si aktris dan mengaku kalau dia sebenarnya sudah punya seseorang yang dia sukai. Bukan pacar, melainkan cinta bertepuk sebelah tangan. Ro Woon langsung menggerutu heboh, mengira orang yang Se Jong maksud adalah dirinya.


Se Jong berkata bahwa wanita yang disukainya itu adalah seseorang yang telah membantunya meraih impiannya dan karena mereka berada di bidang yang berbeda, jadi mereka hanya bisa saling menyemangati. Tiba-tiba dia minta izin untuk menyampaikan pesan pada wanita yang disukainya itu. Ro Woon jadi makin heboh menutupi kupingnya, Se Jong sudah gila apa.

"Butuh setahun bagiku untuk menyampaikan ini. Aku menyukaimu... Kim Gyo Ri."


Hah? Semua orang kaget, Ro Woon jadi malu sendiri dan Gyo Ri malah kebingungan. Tepat saat itu juga, Se Jong datang dengan membawa sebuket bunga besar untuk Gyo Ri. Tapi Sun Bong tiba-tiba merebut buket itu dan menggunakannya sendiri untuk menyatakan cintanya sendiri pada Gyo Ri. wkwkwk.

Gyo Ri makin shock dan bingung. Jadilah kedua pria itu rebutan, saling mengklaim diri masing-masing yang paling berhak untuk Gyo Ri. Gyo Ri terpaksa harus berteriak untuk menghentikan mereka. Dia berterimakasih atas perasaan mereka padanya, tapi ini semua terlalu mendadak, Gyo Ri ingin fokus pada pekerjaannya dulu sekarang. wkwkwk. ditolak dua-duanya.


Sun Bong dan Se Jong sontak saling menyalahkan satu sama lain. Tapi pertengkaran mereka terhenti saat Hwan Ki keluar dari ruangannya dan Se Jong langsung melompat memeluk Hwan Ki dan memanggilnya 'Hyung'. Hwan Ki mengucap selamat atas debutnya Se Jong. Yoo Hee mengingatkan Hwan Ki untuk menyelesaikan pekerjaannya agar mereka bisa pergi bersama.

Ah, Hwan Ki baru ingat. "Kalian semua tahu hari apa ini, kan? Kehormatan Silent Monster tergantung padanya."


Ternyata mereka ada workshop dan tim silent monster tanding sepak bola dengan tim Woo Il. Tapi sepertinya yang bermain dengan benar cuma Se Jong, Sun Bong malah sibuk main curang, Hwan Ki tak sengaja membuat tim lawan kesandung dan Gyo Ri malah panik sendiri menghadapi bola. Jadilah tim Woo Il sukses terus memasukkan bola ke gawang lawan.

"Bos, apa yang kau lakukan. Pertaruhkan kepalamu kalau perlu!" gerutu Ro Woon.


Permainan kembali dimulai. Se Jong menendang bola ke arah Hwan Ki, Hwan Ki kontan galau musti gimana. Pikirannya berkhayal macam-macam. Menyundul dengan kepala, pakai dada dan berbagai macam teknik tendangan lainnya. Dia membayangkan dirinya sukses memasukkan bola itu dengan berbagai macam teknik dan dikagumi semua orang. Senangnyaaa~~~


Bola itu terus meluncur ke arah Hwan Ki. Hwan Ki pun menangkapnya... dengan tangan. hahaha. Stres, Se Jong langsung melabrak Hwan Ki dan Ro Woon cuma bisa ketawa.


Permainan selanjutnya adalah perang adu ayam rame-rame. Se Jong dan Sun Bong yang paling heboh dan saling menjatuhkan dengan sengit. Game dilanjutkan dengan adu panco, tapi lagi-lagi Tim Silent Monster kalah telak dari tim Woo Il.

Ro Woon kalah dari Yi Soo dan Gyo Ri dengan mudahnya ditumbangkan oleh Direktur Park. Untunglah Hwan Ki berhasil menyelamatkan timnya dengan mengalahkan Woo Il.


Setelah semua game selesai, mereka mengumumkan para pemenang dan Woo Il dinyatakan sebagai MVP (pemain terbaik dan kompetitif). Woo Il tak menyangka mendapatkan hadiah itu dan berjanji akan semua orang makan malam.

Yi Soo menyerahkan hadiahnya pada Woo Il dan Woo Il langsung menghadiahnya dengan kecupan di pipi. Semua orang langsung heboh menyoraki mereka untuk ciuman. Mereka pun saling mengecup malu-malu.


Acara kemudian diakhiri dengan pidato dari Hwan Ki. Dia maju dengan membawa sebuah kotak dan mengaku kalau rasanya aneh menyaksikan adiknya sendiri ciuman dengan seorang pria. Seperti yang sudah mereka ketahui, dia tidak terbiasa bicara di hadapan terlalu banyak orang.

Selain itu, ada hal-hal yang ingin dia sampaikan pada masing-masing orang. Karena itulah dia sudah menyiapkan kartu ucapan untuk masing-masing pegawai. Dia sudah mulai menuliskan sejak Natal dan meminta maaf karena terlambat memberikannya.


Dia memanggil nama mereka satu per satu dan memberikan kartu ucapannya. Semua orang dapat... kecuali Ro Woon yang namanya tak pernah dipanggil sampai akhir. Dia berusaha protes, tapi Hwan Ki malah acuh. Hujan tiba-tiba mengguyur deras dan semua orang langsung berpencar mencari tempat berteduh.


Hwan Ki berteduh sendirian. Ro Woon menyusulnya tak lama kemudian, masih antusias ingin mendapatkan kartu ucapannya. Dia menduga kalau kartu untuknya pasti berbeda dari yang lain dan Hwan Ki ingin memberikannya secara diam-diam. Tapi Hwan Ki mengaku kalau dia memang tidak menulis kartu ucapan untuk Ro Woon.

Ro Woon masih tak percaya dan langsung merogoh-rogoh jaketnya Hwan Ki. Tapi dia benar-benar tak mendapati apapun di sana. Ro Woon benar-benar kecewa, dia tahu kalau hwan Ki selama ini selalu mendahulukan para pegawainya, dia tahu Hwan Ki sudah mengerjakan kartu-kartu itu sejak Natal hingga waktu mereka bersama pun berkurang. Selama ini dia mencoba memahami Hwan Ki.


"Sekarang perusahaan sudah stabil kembali. Tapi aku masih... jadi prioritas keduamu."

Hwna Ki berusaha menyangkalnya. Tapi Ro Woon tak percaya, buktinya tadi Hwan ki cuek waktu dia kena bola. Lalu Hwan Ki harus bagaimana? Masa dia harus berlari dan menghibur Ro Woon di hadapan para karyawan? Memangnya kenapa? Woo Il saja mencium Yi Soo di hadapan semua orang.

"Setidaknya perlakukan aku dengan adil. Aku juga karyawanmu. bagaimana bisa kau tidak menulis untukku?"

"Sebenarnya... aku sudah menulis untukmu. Aku berusaha lebih keras dalam menuliskan untukmu. Aku menulis ulang berulang kali. Aku ingin menyatakan perasaanku... sebagaimana adanya."

Tapi Ro Woon kesal, menuduh semua itu cuma alasan dan Hwan Ki sebenarnya tidak mencintainya. Bagi Ro Woon, cinta itu tidak merasa bimbang atau berpikir keras seperti yang Hwan Ki lakukan. "Cinta bukan hal yang dilakukan dengan otak! Kau perlu menenggelamkan diri dalam perasaanmu seperti orang gila."

"Aku bukan tipe orang seperti itu."


Kecewa, Ro Woon langsung pergi meninggalkan Hwan Ki dengan hati sedih tanpa mempedulikan hujan yang mengguyurnya. Tapi dia tetap mencoba tersenyum di hadapan yang lain sesampainya di tenda. Tapi tiba-tiba mereka mendengar suara launan musik dan Hwan Ki joget-joget di tengah-tengah hujan. Semua orang kontan bersorak bak lagi nonton konser.


"Chae Ro Woon, aku mencintaimu" teriak Hwan Ki "Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Chae Ro Woon"

Ro Woon berkaca-kaca mendengarnya. Semua orang pun langsung mendorong Ro Woon ke Hwan Ki yang masih terus meneriakkan perasaan cintanya. Perlahan dia berjalan mendekati Hwan Ki, tapi saat melihat Hwan Ki membentangkan tangannya, dia langsung berlari kedalam pelukannya.


Hwan Ki tiba-tiba perhatian menanyakan dimana Ro Woon kena bola tadi. Di kening? Dan Hwan Ki langsung mengecup kening Ro Woon, membuat Ro Woon jadi malu. Tapi Hwan Ki tak berhenti begitu saja dan terus mengecup bagian wajah Ro Woon yang lain.

"Aku mencintaimu," ucap Hwan Ki sekali lagi lalu menarik Ro Woon kedalam pelukannya. Semua orang sontak bersorak makin heboh. Woo Il mencoba menutupi mata Yi Soo, tapi Yi Soo terlalu antusias menonton kemesraan Hwan Ki dan Ro Woon. Semua orang menyuruh mereka berhenti tapi mereka tidak berhenti, Hwan Ki terus mencium Ro Woon mesra dan memandangnya dengan penuh cinta.

~HAPPY ENDING~

3 comments

Ceritanya asyik. Rasanya gak ada yang antagonis disini. makasi mba udah nulis. Ditunnggu projek selanjutnya. SEMANGAT ^_^

Konfliknya gk pelik..seru buat yg suka romance memang asli romantis bgt..thanks mba sinopsisnya..

makasih untuk sinopsisnya kak, romantic banget...
Gumaweo...

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon