Powered by Blogger.

 Images Credit: QQLive

Sinopsis Master Devil Don't Kiss Me Episode 2


Misi penyelamatan mereka gagal, Qi Lu kesal menyalahkan Chu Xia. Tiba-tiba pimpinan kawanan pria bertopeng mendapat telepon dan orang di seberang langsung membentak-bentaknya.

Qi Lu mengenali suaranya, "Guru Ma?"

Anak-anak itu dan langsung bangkit dan membuka topeng si pemimpin dan dugaan Qi Lu ternyata benar. Anak-anak jelas bingung, apa yang sebenarnya terjadi?


Kepala sekolah datang dan mengumumkan bahwa acara latihan militer ini diakhiri sekarang. Hah? Chu Xia tak percaya mendengarnya, jadi ini semua cuma akting. Seorang pria bahkan langsung mengembalikan ponselnya Chu Xia.


Tapi walaupun begitu, Chu Xia tetap menuntut Qi Lu untuk memberikan uang yang dijanjikannya. Qi Lu jelas menolak, untung saja ini semua cuma akting, kalau tidak maka mereka semua pasti sudah mati gara-gara ulah ceroboh Chu Xia tadi. Chu Xia tetap bersikeras menuntut uangnya dan mengingatkan kalau dia tahu passwaord-nya Qi Lu.

"Kalau aku menelepon, kau tidak akan bisa menarik uangnya."

"Kau tidak menepati janjimu!"


Di rumah sakit, Feng Shao berusaha keras menghubungi Chu Xia tanpa hasil. Seorang nyonya kaya menghampiri mereka, asisten nyonya itu memperkenalkannya sebagai Nyonya Han, istri dari Presdir Han Liu Hai. Feng Shao masa bodoh, nggak kenal.

Tapi kemudian Nyonya Han memberitahu bahwa Ibunya Chu Xia dulu pernah menandatangani persetujuan donor organ dan hari ini pihak rumah sakit memberitahunya bahwa ginjal Ibu cocok dengan suaminya dan ia datang kemari khusus untuk mengucap terima kasih pada Ibu.

Feng Shao bingung dan langsung protes, Ibu masih belum mati jadi sebaiknya mereka pergi saja. Dia bahkan berusaha mendorong Nyonya Han. Seorang Dokter keluar dari kamar Ibu dan menyuruh mereka semua diam, ia memberitahu kalau Ibu untuk bertemu dengan mereka semua.


Chu Xia masih ribut dengan Qi Lu saat telepon Feng Shao akhirnya tersambung. Dia langsung mengacuhkan Qi Lu untuk menjawab teleponnya. Chu Xia langsung shock mendengar kabar kecelakaan sang ibu sampai dia menjatuhkan ponselnya. Tepat saat itu juga, Qi Lu diberitahu tentang kabar kecocokan ginjal.


Dia memberitahu orang di seberang kalau dia akan segera kembali lalu kembali melabrak Chu Xia, "Aku, Han Qi Lu, memenuhi janjiku. Tapi, sebagai orang miskin, seharusnya kau masih punya prinsip."

Chu Xia yang sedih dan marah padanya, langsung menjerit dan menonjok mukanya Qi Lu sangat kuat sampai Qi Lu terjatuh menimpa Guru Ma lalu langsung pergi, berusaha ngebut secepat mungkin.


Saat ibu sadar, Nyonya Han mendekatinya. Ia memperkenalkan namanya Jiang Yuan Yuan dan berterimakasih pada Ibu. Dengan sisa tenaganya yang sudah semakin melemah, Ibu menginginkan satu hal lagi pada Nyonya Han. Nyonya Han langsung menyetujuinya, dia bersedia mengabulkan apapun permintaan Ibu.

"Aku ingin anda membesarkan putriku sampai dia lulus universitas dan menikah."

"Aku mengerti. Aku mengerti perasaan orang tua pada anak-anak mereka. Aku akan memperlakukan putrimu seperti putriku sendiri, yakinlah." janji Nyonya Han.

"Chu Xia, dia murid yang sangat baik. Perutnya tidak begitu sehat, dia tidak bisa makan yang dingin-dingin, dia alergi seafood."

"Aku tahu, jangan khawatir." isak Nyonya Han. Dan seketika itu pula, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya, sementara Chu Xia masih dalam perjalanan.


Qi Lu tiba di rumah sakit duluan dan mendapati Ibunya sudah ada di depan ruang operasi. Nyonya Han memberitahu kalau Ayah Qi Lu sekarang sedang dioperasi sekarang. Setibanya di rumah sakit, Chu Xia langsung berlari ke ruang operasi. Qi Lu malah masih bersikap kasar pada Chu Xia padahal mereka sudah diberitahu siapa Chu Xia. Kesal, Chu Xia langsung menarik kerah bajunya dengan penuh amarah.

"Gara-gara kau, aku kehilangan kesempatan terakhirku untuk melihat Ibuku! Semua ini karenamu!"


Ruang operasi akhirnya terbuka tak lama kemudian dan suster membuka kain kafan Ibu Chu Xia. Chu Xia melepaskan wignya dan jatuh berlutut di samping Ibunya dengan berderai air mata.

"Bu, aku sudah punya uang sekarang. Aku punya $500,000. Aku bisa kembali ke sekolah, Ibu tidak perlu bekerja keras lagi. Bukankah kita sudah sepakat kalau kita akan bersama-sama menunggu Ayah kembali."


Nyonya Han ikut sedih melihat tangisan Chu Xia. Dengan lembut ia membelai kepala Chu Xia dan memberitahunya bahwa ia sudah berjanji pada Ibu Chu Xia untuk menjaga Chu Xia.

"Aku hanya punya Ibu. Aku tidak punya siapapun lagi sekarang."

"Chu Xia, kau punya aku. Mulai sekarang, aku akan menjadi keluargamu. Kau sekarang putriku, Chu Xia."


Beberapa saat kemudian, Chu Xia dan teman-temannya kembali ke lingkungan tempat tinggal mereka. Chu Xia sudah agak tenang sekarang. Temannya, Meng Xiao Nan, memberikan cek pemberian Qi Lu. Tapi Chu Xia langsung menyobek-nyobek cek itu. Xiao Nan penasaran, apa Chu Xia tidak akan pergi ke rumah keluarga Han?

"Alasanku pergi ke rumah mereka, bukan karena uang. Tapi karena itu adalah keinginan Ibuku. Aku ingin Ibuku istirahat dengan tenang. Jika aku sekolah, aku bisa hidup lebih baik. Aku ingin memenuhi harapan Ibuku"


Dia lalu menulis janji di tembok, 'Aku akan hidup dengan baik'. Mereka lalu tidur bersama di sana malam itu.


Keesokan harinya, Nyonya Han memastikan segalanya sudah siap untuk persiapan pemakaman Ibu Chu Xia. Pelayannya, Han Tua, mengkonfirmasi bahwa semuanya sudah siap. Qi Lu menghadang jalan Ibunya untuk untuk menanyakan apa maksud percakapan mereka barusan.

"Aku berjanji pada Ibu Chu Xia bahwa aku akan menjaganya sampai dia lulus universitas. Jadi, mulai sekarang kaluan akan hidup bersama. Apa kau senang?"

"Enggak"

"Baguslah," Nyonya Han masa bodoh.


Chu Xia dan kedua temannya kembali ke rumah Chu Xia tapi malah mendapati rumah itu sudah terbakar. begitu melihat kedatangan Chu Xia, Ahjumma tuan tanah mereka langsung melabraknya habis-habisan. Chu Xia hanya bisa meminta maaf, tapi Ahjumma sama sekali tidak bisa menerima maafnya begitu saja dan menuntut ganti rugi.

Chu Xia bersedia mengganti ruginya, tapi dia berusaha memohon pengertian Ahjumma, terlebih karena sekarang Ibunya baru saja meninggal dunia. Jadi bisakah dia membayar pelan-pelan? Ahjumma sinis, memangnya Chu Xia mampu bayar?

"Aku mampu," sahut suara seorang perempuan dari belakang mereka.


Di kediaman Keluarga Han, para pelayan sibuk bersih-bersih dan menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan Chu Xia.

Nyonya Han datang tak lama kemudian. Ia berjalan masuk sambil nyerocos pada Chu Xia di belakangnya. Memberitahu Chu Xia bahwa sekarang ini rumahnya jadi Chu Xia tinggal panggil pelayan saja kalau dia menginginkan apapun.

Dia terus nyerocos panjang lebar tanpa menyadari tak ada siapapun di belakangnya. Dia baru sadar untuk menoleh saat tak mendapat tanggapan apapun dari Chu Xia.


Chu Xia baru muncul saat ia memanggil, tampak masih ragu memasuki mansion mewah ini. Nyonya Han dengan ramah membawanya masuk.


Malam harinya, Qi Lu mendatangi kamar Chu Xia. Males melihatnya, Chu Xia menyesal tidak mengunci pintunya tadi. Qi Lu memberitahu bahwa aturan di rumah ini, anak-anak tidak boleh mengunci pintu.

"Oh, aku lupa. Kau bukan anak dari keluarga ini," sindir Qi Lu.

Dia mengerti perasaan kehilangan yang dirasakan chu Xia terhadap kematian Ibunya. Tapi dia tetap tidak setuju kalau Chu Xia tinggal di rumah ini. Dia bersedia memberikan cek yang baru, Chu Xia boleh menyebutkan berapapun yang dia mau.


"Kalau kau sudah selesai bicara, keluarlah."

"Lalu kenapa sebelumnya kau mengusikku demi $500,000 itu?"

"Jangan sebut itu lagi. Kuberitahu, yah. Aku tinggal di sini karena Ibuku. Jadi kau tidak usah khawatir, aku akan pergi secepatnya."

"Baiklah, karena kau punya moral yang tinggi, aku tidak akan memaksamu. Kalau lain kali kau membutuhkannya, kau cari saja aku. Aku akan memenuhi janjiku."

"Kuberitahu kau, aku tidak suka bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup!"


Malam harinya, Qi Lu menatap liontinnya Chu Xia sambil bertanya-tanya apakah Chu Xia perkecualian baginya. Tapi dia cepat-cepat melupakan pikiran itu, tidak mungkin. Dia memutuskan mematikan lampunya dan tidur.


Tapi tengah malam, Chu Xia diam-diam mengendap-endap ke kamarnya Qi Lu, bertekad mau mendapatkan liontinnya kembali. Dia melihat lionton itu ada di saku bajunya Qi Lu.

Dia berusaha mengambilnya secara diam-diam, tapi tepat saat itu juga, Qi Lu bergerak dalam tidurnya dan menarik Chu Xia kedalam pelukannya hingga tak sengaja bibir mereka bersentuhan lagi.

Qi Lu langsung terbangun karenanya dan keduanya refleks menjerit shock. Qi Lu bahkan sampai mengira dia hantu dan baru sadar dia Chu Xia setelah memperhatikannya baik-baik. Tanpa mengatakan apapun, Chu Xia langsung merampas liontinnya lalu kabur.

"Sepertinya aku harus mengunci pintu kamarku mulai sekarang. Dasar orang gila."


Keesokan harinya, Chu Xia sudah berdandan cantik dengan gaun selutut, berjalan ke mrja makan dengan anggun. Qi Lu yang melihatnya, kontan terpesona.

"Karena uang, aku bertemu dengan tuan jahat, Han Qi Lu. Takdir membawaku ke kediaman Keluarga Han. Aku tidak berharap menjadi seorang putri, karena aku tahu bahkan sekalipun bebek jelek menjadi angsa, tetap saja dia berasal dari keturunan bebek jelek. Dan aku, walaupun aku mengenakan gaun putri, aku masihlah An Chu Xia dari kampung. Karena itulah, setelah sarapan aku akan pergi." batin Chu Xia.


Nyonya Han dengan ramah menanyakan apakah semalam Chu Xia tidur nyenyak dan memberitahu bahwa setelah sarapan, Chu Xia harus memulai awal baru. Chu Xia tidak mengerti apa maksudnya.

Han Tua melapor bahwa dia sudah memberitahu pihak sekolah jadi Chu Xia bisa mulai sekolah hari ini. Qi Lu langsung curiga, jangan-jangan sekolah yang Nyonya Han maksud adalah sekolahnya, Si Di Lan. Nyonya Han membenarkan.


Qi Lu langsung protes, sekolah lain kan banyak, lagipula Si Di Lan bukan sekolah yang bisa dimasuki sembarang orang. Memang benar, karena itulah dia menggunakan keluarga mereka agar Chu Xia bisa sekolah di sana.

Qi Lu stres, lalu bagaimana dia harus menjelaskan pada teman-temannya kalau tiba-tiba dia punya saudara dalam waktu semalam? Itu bisa merusak reputasi mereka.

"Karena itulah aku berencana memasukkan Chu Xia ke sekolah itu sebagai tunanganmu."

Pffffffttt!!! Air di mulut Chu Xia langsung tersembur ke muka Qi Lu. wkwkwk. Qi Lu membersihkan mukanya sambil berusaha menahan emosi, pokoknya dia tidak setuju.


Tapi keputusan Nyonya Han sudah bulat, lagipula dia tidak minta pendapatnya Qi Lu. Selama Ayah Qi Lu masih dalam masa penyembuhan, dialah yang berkuasa di rumah ini.

Saat Qi Lu masih saja protes, Nyonya Han mengancam akan mengembalikan mikroskop angkasa yang Qi Lu pesan dari luar negeri. Qi Lu mengoreksi, namanya teleskop. Terserah, kalau dia bilang mikroskop yah mikroskop. Qi Lu terpaksa mengalah demi teleskopnya.


"Chu Xia kecil, mulai sekarang kau akan semobil bersama Qi Lu ke sekolah. Kalau dia berani memperlakukanmu dengan buruk maka, Han Tua, kembalikan... "

"Baiklah, baiklah, baiklah, aku pergi."

Begitu Qi Lu pergi, Nyonya Han meyakinkan Chu Xia untuk tidak takut, tidak akan ada yang berani membuli Chu Xia selama dia ada di sini.

"Terima kasih, bibi."

"Hmm... panggil aku Kak Yuan Yuan. Bibi membuatku kelihatan tua."

"Kak Yuan Yuan."

Nyonya Han senang mendengarnya, "Pergilah sekarang."


Qi Lu sudah menunggu di depan pintu saat Chu xia akhirnya berlari keluar setelah mengganti bajunya dengan seragam sekolah. Mereka lalu melangkah keluar bersama.

"Pada akhirnya, aku masuk ke Si Di Lan tanpa usaha keras. Ini akan berlanjut besok. Aku akan hidup dengan banyak tantangan menanti di masa mendatang. Sekali aku melangkah keluar dari pintu ini,  apa yang kuhadapi, segalanya masih akan terjadi."

Bersambung ke episode 3

7 comments

aku suka ,, terimakasih πŸ˜‚

tunangan??????😱😱😱😱
kereeeeeeeeeeenπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

ditunggu kelanjutannya kak semangat :)

Krenz kk,di tunggu kelanjutannya

Waaaaahh 😍😍
Suka suka kak sama dramanya nih
Ditunggu sekali kak kelanjutannya

Keren,, nunggu" akhirnya ada yang buat sinopsisnya. Trimkash. Semangat. πŸ™†πŸ˜πŸ‘

Keren ceritanya ditunggu kelanjutanya yah mba :)

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon