Powered by Blogger.

Sinopsis Perfect Wife - Episode 2 - 1

Content and Images Copyrights by KBS



Menyadari ada orang didalam lemari, spontan Na Mi menjerit ketakutan. Apalagi saat dia sadar kalau wanita itu adalah istri Jung Hee. Ia pun bersiap memanggil Jung Hee namun Jae Bok sigap membekap mulutnya dan memberi isyarat supaya dia tetap diam.


Jung Hee sibuk mendengarkan omelan Tuan Cho dan berkata kalau ia akan segera berangkat ke kantor. Selepas mengakhiri telefon, Jung Hee tanya apa yang terjadi pada Na Mi.

“Bukan apa-apa.” Jawab Na Mi.


Jung Hee pamit untuk berangkat ke kantor. Jung Hee jelas ingin ikut dengannya namun Jae Bok menahan lengannya. Dia mengkonfrotasi Na Mi untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Apa mereka berdua pacaran? Mereka berdua tinggal bersama? Jawab!


Na Mi balas melotot pada Jae Bok sembari menghempaskan tangannya. Memang benar, dia mengakuinya. Jae Bok hilang kesabaran dan ingin melabraknya. Na Mi yang panik buru-buru kabur. Keduanya pun terlibat kejar-kejaran lebai dengan efek slow motion.

Jae Bok mengulurkan tangannya meraih rambut Na Mi. Yah, dia berhasil menarik rambutnya. Tapi sayangnya itu cuma rambut palsu dan langsung terlepas saat Jae Bok mencengkeramnya. Na Mi pun akhirnya berhasil kabur dan masuk ke bus dengan secepat mungkin.


Jae Bok berjalan dengan loyo tanpa semangat. Tak lama kemudian, datanglah Won Jae dan Hye Ran menjemputnya. Hye Ran mencoba menenangkan dan menyuruh dia mengatur nafas. Ia melarangnya supaya tidak menyetir sendiri, biar dia ikut bersama mereka saja.

Won Jae berdecak, kenapa juga dia harus datang kesana. Hye Ran menyalahkan Won Jae yang sudah memberitahukan perselingkuhan Jung Hee pada Jae Bok. Keduanya pun eyel-eyelan sendiri saling menyalahkan.


Tatapan Jae Bok masih kosong, dia menyuruh dua temannya untuk pergi saja. Keduanya mencoba membujuknya untuk pulang bersama. Namun Jae Bok malah membentak mereka, dia malu dan ingin sendiri. Hye Ran dan Won Jae tidak bisa lagi memaksanya, keduanya hanya bisa menatap Jae Bok kasihan. Ia berpesan supaya Jae Bok hati-hati saat menyeberang jalan.


Na Mi duduk di kursi bus dengan rambut berantakan. Sebuah pesan promosi masuk ke ponselnya, bank-nya menawarkan bunga 20 persen jika melakukan deposit hari jumat. Ia pun kemudian memutuskan memanggil kontak ‘Pekerjaan Paruh Waktu’. Dia melaporkan pada orang diseberang telefon jika ia telah melakukannya.

Orang diseberang telfon itu adalah Choi Duk Boon. Duk Boon memujinya, kerja bagus. Dia akan segera mengirimkan depositnya.


Bong Goo tengah membereskan berkas-berkas setelah resmi di pecat. Ia menemukan berkas Jae Bok yang sudah tertata rapi dimejanya. Dia berdecak tak menyangka jika Ahjumma itu bekerja keras sampai akhir. Apa dia sedang bertingkah seperti Cinderella? Ia mengintip keluar ruangan dari celah tirainya, dia membayangkan Jung Hee yang biasanya sibuk bekerja di meja kerjanya.

“Aku merasa kasihan.” Gumamnya.


Jae Bok duduk di taman, penuh kepedihan mengingat bagaimana kemesraan Jung Hee dan Na Mi yang baru saja ia saksikan.
 

Ia pun terbayang akan masa lalu mereka, dimana saat itu Jung Hee dengan gembira menemuinya di toko. Dia berteriak girang memberitahukan kabar baik jika ia sudah diterima kerja. Jung Hee memeluknya penuh kebahagiaan “Masa sulitmu sudah berakhir. Aku akan memperlakukanmu seperti putri. Aku mencintaimu, sayang. Aku mencintaimu selamanya.”

Air mata Jae Bok menetes, menyadari jika ucapan suaminya dimasa lalu kini hanya sebuah omongan belaka. “Br*ngs*k. Kau akan menerima hukuman.”


Dikantornya, Tuan Cho melemparkan kertas ke wajah Jung Hee sambil ngomel-ngomel. Jung Hee membela diri bahwa dia hanya menangani projek milik orang lain yang baru keluar bulan kemarin. Penawarannya memang sudah buruk sejak awal dan sangat tidak masuk akal.

Tuan Cho tidak mau tahu, pekerjaan itu sudah menjadi tugasnya saat ini. Dia pun mulai memukuli wajah Jung Hee menggunakan botol air mineral yang sudah kosong. Jung Hee terpancing emosi dengan merebut botol ditangan Tuan Cho, meskipun kemampuan kerjanya rendah tapi tidak seharusnya dia mendapatkan perlakuan kasar.

“Kalau begitu kau ingin memukul Bos-mu? Kau pikir aku kelewatan? Kalau begitu pukul aku! Kau adalah tipe pria yang tidak bisa menjadi pria dihadapan istrimu. Yang kau bisa cuma omong besar saja!” Ucap Tuan Cho yang 100% bener.


Emosi Jung Hee tersulut mendengar olok-olokan Tuan Cho. Dia memelintir tangan Tuan Choi sampai terdorong ke arah lemari. Benturannya tidak kuat tapi seketika itu juga Tuan Cho kejang-kejang dan sengaja membenturkan kepalanya ke lemari. Jung Hee panik meminta maaf atas apa yang sudah ia lakukan.

Bukannya menjawab, Tuan Cho malah pingsan disana. Jung Hee sampai heran, memangnya apa yang sudah dia lakukan sampai Tuan Cho pingsan begitu. Mendengar suara ribut, pegawai lain melongok ke ruang kerja Tuan Cho dan mendapati beliau sudah pingsan.


Jae Bok masih menenangkan diri dengan jalan-jalan di tepi sungai. Bong Goo menelfonnya tepat saat itu, ia dengan ketus bertanya ada apa. Bong Goo berkata jika ia ingin meminta Jae Bok bekerja sampai akhir. Jae Bok rasa dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, dia pun mengakhiri panggilannya secepat mungkin.

Bong Goo berdecak heran dengan sikap Ahjumma itu. Dia pun mencari file dalam box-nya untuk menemukan kesalahan Jae Bok. Oh... dia berhasil menemukannya, Jae Bok melupakan dokumen biaya konstruksi tahun 2014.


Ponsel Jae Bok kembali berdering, dia mendesah mengira Bong Goo kembali menghubunginya. Tapi ternyata bukan, dia malah mendapat telfon dari kantor polisi yang mengabarkan jika suaminya ditahan. Tak lama kemudian, Jae Bok datang ke kantor polisi dan mendapati Jung Hee sudah ditahan dalam sel. Jung Hee memohon supaya dia bisa segera dibebaskan.


Jung Hee menghampiri polisi “Meskipun dia mengakui telah berzina, tak ada hukum yang memperbolehkan anda memenjarakannya.”

“Maaf?” tanya polisi kebingungan.


Polisi pun menjelaskan duduk permasalahannya pada Jae Bok. Jae Bok melirik kearah Jung Hee dengan tatapan penuh kebencian membayangkan perselingkuhannya dengan Na Mi. Polisi menjelaskan jika Tuan Cho saat ini berada di rumah sakit dan menolak melakukan mediasi. Dia menyuruh Jae Bok untuk menjadi penanggung jawab agar Jung Hee bisa keluar.

“Kalau kita melakukan persetujuan sementara, dia bisa keluar sekarang juga. Tapi seseorang yang bersalah harus mendapatkan balasan. Biarkan saja dia disini.” Ucap Jae Bok dengan ramah.


Ia pun permisi pergi meskipun polisi menjelaskan kembali prosedure supaya bisa mengeluarkan Jung Hee sekarang juga. Jae Bok berjalan menuju pintu keluar, Jung Hee berteriak menyuruh Jae Bok mengeluarkannya. Jae Bok cuma memberikan tatapan sinis. Dia berharap supaya Jung Hee bisa mendekam dan membusuk disana. Pengkhianat! Jae Bok memalingkan wajahnya tanpa mau berbicara dengan Jung Hee.


Namun bertepatan saat di koridor, dia malah bersenggolan dengan wanita cantik yang berniat menyewakan rumah mewahnya, Lee Eun Hee. Dompet Eun Hee terjatuh dan Jae Bok membantu memungutnya.

Mereka berdua sama-sama terkejut menyadari satu sama lain. Eun Hee bertanya apa yang tengah ia lakukan disana. Jae Bok mengaku kalau ia punya sedikit masalah. Ia pun berniat langsung pergi. Tapi Eun Hee kembali memanggilnya dengan menyebutnya Unni, apa ada masalah yang terjadi? Dia tidak terlihat terlalu baik.


Jae Bok hanya membalas dengan senyuman dan pamit pergi. Namun beberapa langkah berjalan, Jae Bok menoleh dengan tatapan heran. Heran karena wanita tadi menyebutnya dengan panggilan akrab ‘Unni’ padahal ia tak mengenalnya dekat.


Eun Hee berjalan memasuki kantor polisi. Seolah terpesona, semua orang terus menatapnya. Sampai akhirnya Eun Hee berhenti didepan sel tempat Jung Hee meringkuk. Dia menatap Jung Hee dengan intens. Jung Hee keheranan mendapatkan tatapan semacam itu, dia bahkan sampai celingukan kalau-kalau tatapan itu tidak ditujukan untuknya.


Bong Goo sedang mencari perusahaan untuk pindah. Tapi tawaran yang ia dapatkan tak sesuai dengan harapannya. Dia keluar dari sana sambil terus mendengus kesal, dia adalah seorang pengacawa terkenal tapi tawarannya cuma segitu.

Saat berjalan menuju lift, dia berpapasan dengan karyawan wanita yang punya gaya rambut mirip Jae Bok. Seketika ia teringat akan Jae Bok, dia membaca SMS-nya tidak yah?


Bong Goo memutuskan untuk menelfonnya untuk bertanya apakah Jae Bok membaca SMS-nya atau tidak. Jae Bok menanggapi dengan marah, tidak. Bong Goo bertanya mengenai file biaya konstruksi tahun 2014 yang hilang. Dia tidak bisa menemukannya, mungkin terbawa Jae Bok ke rumah. Dia mengajaknya bertemu dan meminta Jae Bok membawa berkasnya.

Jae Bok jelas kesal, selama ini dia tidak pernah membawa sepucuk kertas pun kerumahnya. Dia menyuruh Bong Goo mencarinya dengan teliti dikantor. Bong Goo dengan yakin berkata jika disana tidak ada. Tak mau eyel-eyelan lebih panjang, Jae Bok menekankan supaya Bong Goo mencarinya dengan teliti. Dia pun memutuskan sambungan telefonnya.


Bong Goo menggerutu sebal, apa Jae Bok berfikir kalau dirinya memperkerjakannya dengan keras meskipun dia tahu akan dipecat? Dirinya juga kena dipecat. Ia adalah pria yang jujur tapi kenapa Jae Bok salah paham padanya? Bong Goo tak bisa tinggal diam soalnya dia merasa tidak bersalah.


Sebuah mobil berhenti didekat sana, seorang wanita berlari dengan riang memeluk Bong Goo. Bong Goo menyambutnya dengan manis, meskipun sebenarnya dia menegang karena tubuh wanita yang memeluknya itu berat. Wanita itu dengan manis terus memberikan pelukan sambil berkata jika ia merindukan Bong Goo.


Mereka berdua pergi shoping dan Bong Goo curhat masalah pekerjaannya. Wanita itu menenangkan Bong Goo dan menyuruhnya keluar saja dari perusahaan, dia tidak merugi. Bong Goo membenarkan, perusahaannya yang sudah merugi karena memecatnya. Dia dengan hati-hati bertanya, haruskah ia mendapatkan perusahaan sendiri?

Wanita itu mengiyakan, tapi dia minta maaf karena tidak bisa membantunya saat ini. Ayahnya masih terus memantau akunnya. Dia cuma bisa berbelanja sesekali. Dia memintanya menunggu sampai mereka dapat izin menikah.


Bong Goo tak bisa menyembunyikan kekecewaannya, tapi dia menyuruh pacarnya tidak perlu khawati dan tak usah memikirkan hal itu. Pacarnya menyadari perubahan ekspresi Bong Goo, dia mencoba menyenangkannya dengan membeli satu rak pakaian untuknya. Bong Goo mengangguk tersenyum, senyum tidak ikhlas.


Jung Hee tak habis pikir karena pelintiran lemah di tangan Tuan Cho bisa sampai membuatnya kejang-kejang begitu. Dan yang membuatnya semakin tak habis pikir, kenapa juga Jae Bok tidak mau mengeluarkannya. Atau jangan-jangan.. dia mau mencarikan pengacara?


Jae Bok sampai dirumahnya tengah malam. Dia tanya pada Jin Wook, dimana Hae Wook? Hae Wook tidak menjawab dan Ibu mertuanya keluar dari kamar Hae Woo. Dia langsung ngomel karena Jae Bok tidak menjalankan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dengan baik. Apa dia begitu karena ia bekerja? Putranya menghasilkan lebih banyak uang dari dia.


Jae Bok mengabaikan Ibu mertua dan tanya pada Jin Woo, apa dia sudah makan malam? Jin Wook ngambek pada Jae Book, dia masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan apapun. Ibu Metua kembali ngoceh karena cucian baju dan piring menumpuk. Apa dia begitu karena pekerjaan? Penghasilannya tidak seberapa tapi sikapnya begini.

“Ibu. Jung Hee lulus universitas dari uang itu. Aku bahkan membantumu. Apa anda lupa?”

Ibu berdehem tak bisa mengelak. Dia malah membanggakan dirinya yang bekerja tapi tidak melupakan pekerjaan rumah. Jae Bok balas membantah, lalu untuk apa beliau melakukan itu? Suaminya bahkan tidak mengucapkan terimakasih dan selingkuh dengan wanita lain.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau terus membantah? Apa suamimu selingkuh?” sinis Ibu.

“Iya.” Jawab Jae Bok.


Skak. Tapi Ibu masih saja membela putranya, mungkin dia cuma tidur semalam dengan PSK. Jae Bok membulatkan matanya tidak terima, meskipun semalam tapi tetap tidak bisa diterima. Bagaimana bisa seorang suami menghabiskan malamnya dengan wanita lain? Dan juga, ini bukan hanya semalam.

Ibu menghentikan ucapan Jae Bok, memperingatkan kalau anak-anak sudah tidur. Dia pun ingin segera pulang. Sebelum pergi, dia masih sempat membanggakan anaknya yang populer sejak kuliah. Jadi begitulah jadinya, dia menolak banyak wanita kaya.

“Aku juga punya seorang pria kaya yang benar-benar menyukaiku. Aku harusnya menikah saja dengan dia.” Jae Bok kemudian menelfon taksi karena Ibu menolak diantarkan olehnya.

Bersambung ke part 2

2 comments

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon