Powered by Blogger.

Sinopsis Perfect Wife Episode 2 - 2

Content and Images Copyrights by KBS

 

Jae Bok menemani putrinya untuk tidur. Namun Hae Wook masih belum bisa terlelap juga. Dia bertanya-tanya dimana keberadaan Ayah, dia merindukan aromanya. Jae Bok berbohong mengatakan jika Ayah Hae Wook tengah bekerja dan pulang terlambat. Dia membujuknya untuk lekas tidur.

Hae Wook pun mulai memejamkan matanya. Jae Bok teringat bahwa ia sudah meninggalkan suaminya di penjara. Apakah dia harus membantunya keluar? Namun ego Jae Bok tak menginginkannya, Jung Hee harus tetap berada disana.


Tak lama kemudian, Jae Bok sudah ada di kantor polisi untuk mengeluarkan sumianya dari penjara. Jung Hee bertanya-tanya akankah dia sudah tahu yang sebenarnya. Ia meyakinkan jika dirinya tidak memukul Tuan Cho. Sebelumnya di pikir Jung Hee akan meninggalkannya, tapi dia yakin kalau dia bukanlah orang semacam itu. Jae Bok melemparkan tatapan tajam, ‘orang semacam itu’ seperti apa?

“Orang bodoh yang bisa kau tusuk dari belakang?” batin Jae Bok.


Bukannya mendengar jawaban, Jae Bok malah dengar suara perut Jung Hee yang keroncongan. Jae Bok cuma bisa menatapnya sinis, disaat seperti ini dia masih bisa lapar. Mereka berdua pun berjalan pulang. Bertepatan saat itu pula, Na Mi datang kesana.


Ia melihat Jung Hee dan hampir memanggilnya. Jung Hee bisa mendengar suara lirih Na Mi, ia pun menoleh padanya kemudian mengisyaratkan supaya dia pergi. Na Mi mengerti tapi dia tampak merindukan Jung Hee dan mengulurkan tangannya seolah ingin menggapainya.


Dirumah, Jung Hee makan mie-nya dengan penuh semangat. Ia menawari Jae Bok untuk makan bersamanya. Jae Bok cuma memberikan tatapan sinis, dia sudah kenyang. Memangnya dia pikir seorang istri tidak makan saat suaminya di penjara? Apa dia merasa dikhianati?

Tidak, Jung Hee yakin kalau istrinya membutuhkan makan supaya punya energi. Tapi untuk membersihkan cacatannya, dia meyakinkan jika ia tidak melakukan kekerasan malahan Tuan Cho yang sudah memukulnya dengan botol air mineral. Dia cuma menghindar saja, ia yakin Jae Bok mempercayainya entah bagaimanapun.

“Memang benar tapi hanya sampai kemarin. Sampai aku tahu kalau kau berselingkuh.” Batin Jae Bok.


Jae Bok tanya apakah Jung Hee tidak punya sesuatu yang ingin ia tanyakan. Atau mungkin dia ingin mengucapkan permintaan maaf. Jung Hee mengira kalau Jae Bok menuntut permintaan maaf karena dia sudah gagal mendapatkan sewa rumah.

Apa benar-benar tak tahu? Batin Jae Bok. Dia menatap intens suaminya dengan penuh kekesalan. Menerima tatapan begitu, Jung Hee ketakutan sehingga ia cegukan.


Namun ketegangan diantara mereka segera mereda karena Hae Wook terbangun dari tidurnya. Ia langsung duduk dipangkuan ayahnya, ia menyukai aroma ayah.

“Aku juga menyukai aromamu, Tuan Putriku.”


Tidak lama kemudian, Jung Hee tampak tengah membacakan cerita untuk Hae Wook sebelum tidur. Hae wook tampak sangat menyayangi ayahnya, dia ingin menikah dengan ayah. Jae Bok memperhatikan kedekatan keduanya, rasa marah dan kesalnya pun agak tertahan sekarang.


Keesokan harinya, mereka berdua datang ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi Tuan Cho. Bukannya membaik, kondisinya makin parah bahkan sampai menggunakan gips dilehernya. Dokter membenarkan jika kondisinya memang tidak seburuk itu saat datang. Tapi mungkin ketika jatuh, sarafnya ada yang rusak dan dia mulai kejang pagi tadi.

“Kejang? Tapi kenapa dia malah di pindah kesini? Bukankah lebih baik jika dia berada di rumah sakit besar?” tanya Jae Bok.


Istri Tuan Cho langsung marah-marah, alasan mereka pindah karena rumah sakit ini karena lebih dekat dari rumahnya. Apa mereka pikir dia bohong? Ia juga berharap ini hanyalah kebohongan. Pokoknya dia tak mau menerima uang damai meskipun dia menawarkan satu milyar dolar. Dia akan mengirimkan Jung Hee ke penjara.

Jae Bok meminta maaf atas apa yang telah suaminya lakukan. Tapi belum ada bukti yang menunjukkan bahwa suaminya bersalah, dia akan membayar jika itu memang kesalahannya. Jangan memperlakukan dia seperti seorang kriminal sebelum semuanya terbukti. Ia melihat postingan Istri Tuan Cho di web perusahaan menyalahkan suaminya. Memfitnah pihak lawan bisa menyebabkan tuntutannya rusak.

“Berani.. beraninya kau menceramahi aku? Keluar sana!” bentak Istri Tuan Choi, tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Jung Hee masih terus mengeluh seperti anak kecil yang ketakutan. Jae Bok merasa ada yang aneh dengan semua ini. Dia akan mencari pengacara yang jujur dan bisa diandalkan. Ia pun menyuruh Jung Hee untuk berangkat kerja. Perhatikan tindak-tanduknya! Dia adalah kepala keluarga.

Dalam batin Jae Bok, dia masih menggerutu kesal mengingat perselingkuhan suaminya. Dia menyuruh Jung Hee untuk ingat kalau dia adalah ayah dari dua orang anak. Jung Hee masih terus meyakinkan jika dirinya benar-benar tak bersalah. Bagaimana nanti kalau dia malah dipecat?


Jae Bok semakin kesal dalam batinnya, pengecut seperti dia masih bisa selingkuh. Jae Bok tak mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, dia menyuruh Jung Hee tetap berangkat. Semuanya akan baik-baik saja jika dia memang tak bersalah. Jung Hee berterimakasih, sekarang dia merasa lebih tenang berkat Jae Bok.

“Tenang? Itulah yang membuatmu selingkuh dariku?” batin Jae Bok lagi.

Jae Bok menyuruh Jung Hee supaya meneggakkan tubuhnya seperti orang yang tidak bersalah.


Hye Ran turun dari mobilnya sambil menghubungi Jae Bok. Dia akan menemui mantan pacarnya yang bernama Hong, dia yakin mantannya itu bisa menemukan pengacara yang bagus untuk Jae Bok. Namun baru saja ingin melangkahkan kaki ke dalam kantor, ia sudah panik duluan melihat Istri Tuan Park tengah duduk disekitar disana bersama geng sangarnya. 


Ponsel Jae Bok berdering menerima panggilan dari nomor asing. Rupanya orang yang menelfonnya adalah Lee Eun Hee. Eun Hee tengah sibuk memberi makan ikan dirumahnya, dia basa-basi menanyakan apa yang sebenarnya terjadi saat di kantor polisi.

Ia mengaku khawatir, meskipun sebenarnya sikapnya ini rada aneh tapi ia mengaku sangat suka dengan Jae Bok semenjak bertemu kemarin. Dia merasa dekat dengan Jae Bok meskipun baru pertama bertemu.

Jae Bok mengernyit bingung menerima kebaikan Eun Hee yang agak berlebihan bagi seseorang yang baru beberapa kali bertemu. Ia pun hanya mengucapkan terimakasih atas kebaikan Eun Hee padanya. Eun Hee menawarkan supaya Jae Bok berkunjung ke rumah, dia akan menyuguhkan teh untuknya.


Jae Bok mengaku senang akan tawaran Eun Hee, tapi dia meminta maaf karena dia tidak bisa pindah kesana. Wajah Eun Hee menegang tidak suka, namun ia segera berubah tersenyum dan mempertanyakan alasannya. Jae Bok membatin, dia merasa aneh dengan Eun Hee tapi dia tidak mungkin mengatakannya secara langsung. Jae Bok akhirnya cuma bilang kalau dia tidak berniat menyewa rumah.

Eun Hee masih terus membujuknya tapi Jae Bok sekali lagi mengatakan jika ia tidak akan menyewa disana. Dia meminta maaf. Tidak, Eun Hee yang seharusnya meminta maaf. Dia tidak enak karena sudah mengganggu waktu Jae Bok. Sebelum menutup telfonnya, Eun Hee memanggil Jae Bok “Unni, aku harap apapun yang membuatmu stres bisa segera teratasi.”

“Terimakasih.” Balas Jae Bok.


Eun Hee kemudian berjalan menuju ke lantai dua rumahnya. Ia menghubungi petugas renovasi dan ingin merombak rumahnya, seseorang dengan dua orang anak akan menempatinya. Eun Hee terus menunjukkan senyum lebarnya, entah kenapa.


Hong Sam Kyu sibuk memotong kukunya di kantor. Saat ada seseorang mengetuk pintunya, dia bergegas pura-pura membaca buku. Rupanya Jae Bok yang datang kesana dan ia pun memperkenalkan dirinya sebagai teman Hye Ran. Sam Kyu balas memperkenalkan dirinya sebagai CEO dari firma hukum ini.

“Bagaimana dengan pengacaranya?” tanya Jae Bok.


Bertepatan saat itu juga, Bong Goo masuk ke ruangan sambil komplain dengan WC yang bau. Jae Bok sudah malas duluan melihat wajahnya, itukah pengacaranya? Sam Kyu mengiyakan kemudian membanggakan Bong Go sebagai pengacara andal yang sudah berkecimpung dalam dunia hukum.

“Maaf sepertinya aku akan mencari tempat lain saja.”


Bong Goo menghadang Jae Bok yang berniat meninggalkan ruangan. Dia juga tidak mau menjadi pengacaranya, dia cuma penasaran apakah Jae Bok membaca SMS-nya atau tidak. Ia sekali lagi ingin memastikan apakah berkas biaya konstruksi dibawa olehnya atau tidak.

Sebenarnya dirumah memang ada berkas konstruksi yang ditanyakan oleh Bong Goo, tapi Jae Bok tidak mau mengakuinya dan berbohong jika berkas itu tak ada dirumahnya.

“Berarti kau membuangnya?”

“Ya, aku membakarnya.” Jawab Jae Bok.


Bong Goo mengatai Jae Bok yang ceroboh, masa sudah bekerja di firma hukum selama enam bulan tidak bisa membedakan antara yang penting dan tidak. Pantas saja dia dipecat setelah masa percobaannya.

Jae Bok kesal mendengar ucapan Bong Goo, dia sudah memperkerjakannya layaknya Cinderella kemudian mendepaknya. Dia tak menyangka seorang oportunis seperti Bong Goo bisa menjadi pengacara. Tahukan dia bagaimana rasanya dipermainkan oleh bedebah keji sepertinya?

Bong Goo mengaku tahu perasaan Jae Bok soalnya dia juga dipecat. Jae Bok tidak percaya dengan ucapannya. Bong Goo meyakinkan, apa mau dibuktikan. Dia akan membantu mencarikan pekerjaan untuk Jae Bok, dia punya banyak koneksi. Jae Bok menolak tawarannya mentah-mentah, lebih baik dia menggali lubang sendiri dan bersembunyi ketimbang berhutang budi pada bedebah keji macam dia.


Bong Goo mendengar masalah suami Jae Bok dari Sam Kyu. Dia sekarang seperti seorang wanita pasrah karena suaminya berselingkuh. Dia pun mengelus puncak kepala Jae Bok, menirukan gayanya yang biasanya menenangkan klien wanita yang suaminya berselingkuh. Jika suami Jae Bok yang berselingkuh, dia yakin dia akan gila.


Jae Bok terus diam tak menyahut. Perlahan Bong Goo menyadari candaannya memang sebuah kenyataan, dia pun perlahan menarik tangannya dari kepala Jae Bok. Jae Bok dengan sedih mengakui jika suaminya memang berselingkuh. Ia memang terlalu mudah bicara sebelum mengalaminya sendiri. Dia sudah bodoh karena diperalat dan dikhianati. Apa sudah puas?


Na Mi duduk di toilet dengan wajah cemas membuka ponselnya. Dia sudah mendapat notifikasi dari bank kalau ia mendapatkan kiriman 30.000 dollar. Meskipun begitu, Na Mi masih belum bisa tenang karenanya.

Dia malah ingat bagaimana sebelumnya dia dan Jung Hee mengantarkan ibunya ke ruang operasi. Dia sangat cemas saat itu, namun Jung Hee ada bersamanya dan terus menenangkannya.


Ucapan Jae Bok barusan membuat Bong Goo kepikiran terus dalam perjalanan. Ahjumma itu memang paling bisa membuat orang lain seperti orang jahat. Ia pun kini sudah berdiri di depan apartemen Jae Bok, dia mencoba berlatih memilih kata-kata yang tepat untuk berbicara padanya. Tak tahu harus bagaimana, Bong Goo memutuskan untuk pulang saja dan batal menemui Jae Bok.]


Namun bertepatan saat itu, Jae Bok malah baru saja keluar dari lift. Kontan Bong Goo memalingkan wajah, berharap Jae Bok tidak mengenalinya. Jae Bok berjalan melewatinya tanpa sadar, tapi setelah beberapa langkah melewatinya, dia berhenti dan menoleh ke arah Bong Goo. Apa yang ia lakukan disini? Apa dia mengikutinya untuk mendapatkan dokumen itu?


Bong Goo ingin menjelaskan perilah kedatangannya tapi Jae Bok langsung memotong ucapannya. Dia sudah mengirimkan berkas itu lewat kurir jadi tunggu saja. Jin Wook dan Hae Wook keluar dari ruangan tepat saat itu. Jin Wook menuntut penjelasan apakah Ayahnya akan dipenjara karena memukul seseorang sampai mau mati?

“Apa maksudmu? Siapa yang berkata begitu?” tanya Jae Bok.

Jin Wook mendengarnya dari ketua kelasnya. Ayah ketua kelasnya adalah pegawai di perusahaan yang sama dengan ayah. Dia mengaku malu jika sampai ayahnya dipecat. Hae Wook menangis dipelukan ibunya. Bong Goo menyuruh Jin Wook supaya tidak bicara seperti itu, anak nakal.

“Ahjussi siapa?”


Jae Bok menyuruh anak-anaknya untuk masuk rumah dan berniat ingin mengunci pintu. Bong Goo masih ingin mengatakan sesuatu tapi Jae Bok bersikeras menutup pintu rumahnya. Bong Goo pun sekilas bisa melihat foto keluarga Jae Bok dan melihat wajah suaminya.
Bong Goo terdiam diluar rumah Jae Bok, ia bisa mendengar suara isak tangis anak-anaknya. Sepertinya hati nuraninya terketuk, ia pun menghubungi Sam Gyu untuk mempertanyakan duduk perkara dari kasus suami Shim Jae Bok.


Dirumahnya, Jae Bok meyakinkan dua anaknya untuk mempercayai ayah mereka. Ponselnya kembali mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal. Kali ini Na Mi yang menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu. Ada yang ingin ia sampaikan padanya.


Di rumah sakit, tampak Tuan Cho berjalan menuju toilet dengan kesulitan karena tubuhnya yang lumpuh sebagian. Tak lama setelah itu, datanglah Bong Goo yang sedang menelfon seseorang. Dia melirik ke arah Tuan Cho yang tampak kesulitan kencing.

Bong Goo mengambil sesuatu disakunya. Benda itu adalah kecoa mainan dan ia meletakkannya di kacamata Tuan Cho. Tuan Cho bergeleng berusaha membuat kecoa itu menyingkir tapi kecoa mainan itu terus menempel sampai akhirnya dia harus melepas kacamatanya. Tanpa disadarinya, Bong Goo sedang merekam reaksi Tuan Cho yang ketakutan dan lupa untuk pura-pura lumpuh.

“Kukira wajahmu lumpuh, tapi lihatlah itu.” Ledek Bong Goo langsung kabur.


Tuan Cho kalap menerima perlakuan Bong Goo, ia pun melupakan acara sandiwaranya dan berlari mengejar Bong Goo. Bong Goo senang berhasil kabur dari kejaran Tuan Cho. Dia memeriksa video rekaman barusan dan berniat menghubungi Jae Bok, Ahjumma itu akhirnya akan berhutang budi padanya.

Namun belum sempat menelfon Jae Bok, seseorang dengan pakaian serba hitam tiba-tiba muncul dan menghantam tengkuknya menggunakan balok kayu. Seketika itu pula Bong Goo pingsan. Pria berpakaian serba hitam itu pun langsung mengambil ponsel ditangan Bong Goo.


Jae Bok curhat pada dua temannya mengenai pertemuannya dengan selingkuhan Jung Hee. Hye Ran dan Won Jae menyarankan agar dia tidak berpenampilan lusuh, dia harus berdandan dengan cantik. Won Jae pun mengajak Jae Bok untuk memilih baju di wardrobenya. Jae Bok akhirnya berubah menjadi wanita yang lebih cantik.

 

Hye Ran terpukau dengan kecantikannya, lebih baik dia mencari suami baru saja. Won Jae melarangnya, sendiri saja dan hidup dengan angkuh.


Jae Bok berjalan memasuki restoran dan mendapati Na Mi juga sudah berdandan cantik. Na Mi melihat penampilan Jae Bok, ia pun sengaja mengangkat gaunnya dan memamerkan paha mulusnya. Mereka berdua bertatapan dengan sinis satu sama lain.

“Seharusnya Kau berdiri untuk menghormati yang lebih tua.”

Na Mi terpaksa berdiri dan mengucapkan salamnya. Jae Bok tanya kenapa dia sebelumnya kabur. Na Mi enggan menjawab dan balik tanya, lalu kenapa juga Jae Bok bersembunyi di dalam lemarinya.

“Entah apa yang akan kulakukan jika bertatap muka. Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah.” Ucap Jae Bok.

“Aku juga. Aku kabur agar tidak ada pertumpahan darah.”


Jae Bok memesan bir pada pelayan. Na Mi pun tidak mau kalah, dia memesan anggur merah disiang bolong. Dari kejauhan, tampak Hye Ran dan Won Jae memperhatikan keduanya. Mereka berdua pun ikut-ikutan memesan alkohol padahal hari masih terang benderang.


Na Mi mengeluarkan air mata buaya dan meminta maaf pada Jae Bok. Jae Bok sama sekali tidak kasihan padanya, dia mengulurkan sapu tangan. Minta maaf untuk apa? Menggoda suaminya dan tinggal bersamanya?

Bukan, tapi Na Mi meminta maaf karena sudah mencintai Go Jung Hee. Mata Jae Bok terbelalak mendengar ucapan Na Mi yang menyebut kata cinta dihadapannya. Dia menyuruhnya mengulang lagi ucapannya. Na Mi tanpa ragu berkata jika ia mencintai Tuan Go Jung Hee. Mereka saling mencintai.


Jae Bok melayangkan tangannya ingin menampar Na Mi namun Na Mi menahan tangan itu. Na Mi meyakinkan jika mereka tidak tinggal bersama. Soal sandi itu, Opp.. maksudnya Tuan Go bilang membingungkan jika ada banyak sandi sehingga sandi rumah mereka sama. Jae Bok makin terpancing emosi, jadi dia mengatakan kalau suaminya sering datang berkunjung. Na Mi membantah, dia datang untuk beristirahat saat ia tak ada.

“Dia ke sana untuk beristirahat?”

“Sebenarnya ini bukan seperti pemikiranmu. Itulah yang kumaksud.”


Jae Bok memelintir tangan Na Mi kemudian memelanting kakinya sampai dia terjatuh. Hye Ran dan Won Jae berdiri dari tempat duduknya bersorak senang. Jae Bok mempersilahkan Na Mi untuk menggunakan alasan cinta, tapi tetap saja mereka berdua sudah melakukan perselingkuhan. Dan perselingkuhan itu menjijikkan.

“Kau dengar itu teman?” tanya Won Jae pada Hye Ran. Hye Ran tidak terima, dia memang tidak tahu kalau Tuan Park sudah menikah.


Na Mi mengaku jika sebenarnya alasan dia ingin bertemu bukanlah untuk membahas masalah ini. Beberapa bulan yang lalu.. belum sempat ke pokok permasalahan, tiba-tiba terdengar suara jeritan seseorang.


Rupanya Hye Ran sedang dijambak oleh Istri Tuan Park. Bangunan itu adalah milik suaminya, berani-beraninya dia datang kesana. Mereka berniat menghajar Hye Ran.

Jae Bok menghampiri mereka, berusaha melerai perkelahian diantara mereka. Namun Istri Tuan Park malah marah dan memukul wajah Jae Bok sampai hidungnya mengeluarkan darah. Na Mi berusaha melindungi Jae Bok, dia ada hubungannya dengan masalah mereka.



Bukannya mereka, kemarahan Istri Tuan Park semakin menjadi. Dia mengangkat tubuh Na Mi dan mendorongnya sampai dia terbang diudara. Ia terlepar jauh dan kepalanya membentur tembok sampai pingsan.


Hye Ran menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari Istri Tuan Park. Walhasil, Jae Bok harus menggendong Na Mi yang pingsan ke rumah sakit. Won Jae membantu memeganginya dari belakang, harusnya mereka menelfon ambulans saja. Jae Bok menolaknya lagipula rumah sakitnya dekat.


Setelah mendapatkan perawatan, Dokter menyatakan jika Na Mi mengalami gegar otak ringan. Jae Bok duduk disampingnya dengan lesu, dia meminta bantuan Won Jae untuk membelikannya air mineral.


Won Jae sudah keluar dari toko membawa minuman, dia sibuk menghubungi Hye Ran tapi telfonnya tak diangkat. Tiba-tiba ia mendengar suara ponsel dari tas Na Mi. Ia awalnya ingin mengabaikannya saja tapi dia penasaran sehingga melihatnya. Kontak Jung Hee yang ditambahkan tanda hati tengah menelfon nomor Na Mi. Won Jae meliriknya dengan sinis sampai akhirnya dia punya pikiran nakal.

Dia pun mengubah suaranya menjadi lebih manis, ia memberitahukan pada Jung Hee jika Na Mi dirawat dirumah sakit saat ini. Jung Hee tengah menemani Ibu Na Mi di rumah sakit. Dia terkejut, bagaimana dia bisa terluka?


Jae Bok berniat pergi dari sana sedangkan Na Mi masih pura-pura tidak sadar. Tepat didepan pintu, seseorang menyenggol lengan Jae Bok dan berteriak panik mencari Na Mi. Jung Hee berteriak-teriak memeluk Na Min sambil memanggil Dokter supaya merawatnya. Na Mi sudah memberikan kode supaya Jung Hee diam tapi Jung Hee masih teriak-teriak panik.


Saat menoleh, Jung Hee sadar jika Jae Bok sudah berada dibelakangnya. Kontan Jung Hee melepaskan pelukannya, dia beralasan jika ia datang kesana untuk menemui koleganya. Sebelumnya mereka juga pasti sudah bertemu kan. Ia terus nyerocos dengan gagap menjelaskan pada Jae Bok.

“Oppa.” Ucap Na Mi.

“Kau kenapa Nona Jung?” sandiwara Jung Hee.

“Dia sudah tahu.”

 

Jung Hee masih belum percaya dan mencoba mencari alasan. Dia meyakinkan istrinya jika dia tidak menggoda Na Mi tapi Na Mi juga tidak menggodanya. Mendengar penjelasan tidak masuk akal dari Jung Hee membuat emosi Jae Bok tersulut.

Dia memukulinya melampiaskan emosi. Na Mi pun berusaha melindungi Jung Hee namun Jung Hee malah berlutut pada Jae Bok, mengakui kesalahannya.

Tentu saja Na Mi kecewa. “Berdirilah Oppa.”


Jung Hee tak mau. Jae Bok berusaha meredakan emosinya, dia bertanya pada Na Mi, apakah sekarang dia sudah baikan? Sudah tidak pusing lagi kan? Kalau begitu, dia juga harus berlutut padanya. Dia juga bersalah padanya. Na Mi masih diam ditempat, ia enggan melakukannya.

“Berlutut.” Pekik Jae Bok marah.

Bersambung ke episode 3

1 comments:

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon