Powered by Blogger.

Sinopsis Perfect Wife Episode 3 - 2
Images Credit by KBS

Jae Bok dan Jung Hee sekarang berada didalam arena tinju. Jae Bok menantang Jung Hee dengan aturan sampai salah satu dari mereka pingsan. Jung Hee tidak mau memakai sarung tinjunya dan terus berusaha Jae Bok untuk tidak melakukan ini. 

Jae Bok langsung sinis, kekerasan fisik memang buruk tapi pengkhianatan Jung Hee padanya juga termasuk kekerasan dan penyiksaan mental. Jauh lebih kejam daripada kekerasan fisik!

Jae Bok langsung meninjunya dengan penuh amarah sambil terus melabraknya. Apa yang Jung Hee sukai dari Na Mi? Wanita itu bahkan tidak lebih cantik darinya! Apa karena dia muda? Apa Jung Hee merasa hangat setelah menciumnya?

Jung Hee kesakitan, hidungnya bahkan sampai berdarah. Dia berusaha menghentikan Jung Hee dan meminta maaf berulang kali. Tapi tak ada maaf baginya. Jae Bok semakin marah dan langsung menendang itunya Jae Bok dan meninju dagu Jung Hee. Jung Hee pun tumbang. wkwkwk.



Tapi Jae Bok tak berhenti sampai di situ. Dia terus menyiksa Jung Hee sambil menangis, "Kenapa? Kenapa kau membohongiku? Kenapa kau melakukannya? Kenapa? Kenapa? Kenapa?"


Sesampainya kembali ke rumah, Jae Bok menempelkan koyo ke tubuhnya yang sakit. Jung Hee mengirim foto selfie dirinya di sebuah motel, bukti kalau dia tidak menemui Na Mi.


Dia merasa bersalah saat menatap foto kedua anaknya. Dia memberitahu dirinya sendiri untuk mengakhiri segalanya dan berniat menghapus semua fotonya bersama Na Mi. Tapi pada akhirnya dia tak sanggup melakukannya dan membatalkan niatnya.


Na Mi pun sedang melihat fotonya bersama Jung Hee, tapi dia jadi galau saat teringat ancaman Duk Boon.


Keesokan harinya, Jae Bok pergi mencari rumah kontrakan di kantor agen real estate. Sayangnya dia tidak mendapatkan yang sesuai, terutama karena dia ingin tetap berada di kawasan itu agar anaknya tidak perlu pindah sekolah.


Di kantornya, Jung Hee melihat meja kerjanya Na Mi kosong. Seorang rekannya memberitahu kalau Na Mi cuti sakit. Mengalihkan topik, Jung Hee bertanya apakah dia belum mendengar kabar dari Tuan Cho? Rekannya membenarkannya.


Jae Bok berusaha memberi pengertian pada putranya. Tapi Jin Wook bersikeras tidak mau pindah sekolah. Sebentar lagi band-nya akan pentas, dia lead gitaris lagi. Lagipula tidak banyak sekolah yang memiliki band. Sebelum pergi les, dia menegaskan kalau dia tidak mau pindah.


Jae Bok ditelepon Eun Hee saat itu. Dia memberitahu kalau dia sudah memperbaiki sepatunya Jae Bok yang rusak dan bertanya bagaimana dia harus mengantarkannya. Melihat bajunya Eun Hee di kamarnya, Jae Bok berkata kalau dia yang akan datang sendiri, sekalian mengembalikan bajunya Eun Hee. Eun Hee terdengar bahagia sekali bisa bertemu lagi dengan Jae Bok.


Bong Goo diminta Sam Kyu ke sebuah rumah sakit dengan alasan menemui klien, seorang ahjumma. Di tengah jalan, dia melihat tali sepatunya lepas lagi. Dia berhenti sebentar untuk memperbaikinya dan teringat ucapan Jae Bok.

Dia cepat-cepat melupakannya dan mencari kamar pasien yang dimaksud. Tapi saat dia menemukannya, dia malah mendapati jlien yang dimaksud adalah Ibunya Na Mi. Ada Jung Hee yang bercanda tawa dengan Ibu tapi Bong Goo tidak mengenalinya. Dia tampak kesal melihat Ibu Na Mi dan langsung pergi. Ibu melihatnya pergi tapi tak sempat melihat wajahnya.



Na Mi kembali saat itu dan menyapanya akrab, sepertinya Na Mi memang sudah menantikan kedatangan Bong Goo. Kesal, Bong Goo langsung menjewer kuping Na Mi, dia pasti sudah merencanakan ini dengan Sam Kyu. Na mi membela diri, dia terpaksa melakukannya karena Bong Goo mengacuhkan teleponnya yang mengabarkan kalau Ibu sakit.

Ah, ternyata mereka saudara tiri. Tapi Bong Goo benci pada Ibu hingga dia menolak bertemu Ibu. Dia bahkan menolak mengakui Ibu sebagai Ibunya dan mengklaim kalau dia Ibunya Na Mi.



Dia mau pergi. Na Mi mengejarnya dan memberitahu kalau dia harus pergi, jadi meminta Bong Goo menjaga Ibu untuk sementara waktu. Bong Goo tidak mau, kenapa juga dia harus menjaga 'Ibunya Na Mi'.

"Dia juga Ibumu"

"Kenapa dia Ibuku? Kita kan tidak punya hubungan darah?"

"Aku juga tidak punya hubungan darah dengannya!"

"Setidaknya ahjumma itu membesarkanmu. Dia berselingkuh dengan ayahmu dan mencampakkanku."

"Dia tidak mencampakkanmu"

"Kau tidak tahu apa-apa."



Jung Hee melihat mereka saat itu. Bong Goo langsung menyindir sinis, Na Mi punya cowok baru lagi? Jung Hee bertanya-tanya apakah Bong Goo oppa-nya Na Mi. Tapi Na Mi memutuskan mengakhiri hubungan mereka, karenanya dia menggandeng tangan Bong Goo dan berbohong menyatakan kalau Bong Goo adalah pacar barunya dan karenanya dia ingin putus.

Bong Goo berusaha menampik tangannya. Tapi Na Mi menahannya. Kesal, Bong Goo bertanya apakah Jung Hee pria beristri. Jung Hee terdiam canggung. Melihat itu, Bong Goo langsung berbisik mengomeli Na Mi. 



Na Mi cepat-cepat menyeretnya pergi sambil menggandengnya sok mesra padahal diam-diam dia berbisik meminta Bong Goo membantunya. Bong Goo heran, apa Na Mi meminjam uang dari pria itu? Apa Na Mi ketahuan oleh istrinya? Na Mi tidak menjawab dan terus menyeretnya pergi.

Jung Hee menatap kepergian mereka dengan sedih, "Na Mi-yah, apa kau juga berpikir sama sepertiku?"



Na Mi baru melepaskan tangannya setelah mereka sampai parkiran. Bong Goo mengelus kepala Na Mi seperti seorang kakak dan menasehatinya untuk jadi orang baik mulai sekarang. Tapi juga memperingatkan Na Mi untuk tidak lagi menghubunginya.

"Ibu sakit parah, dan ia sangat merindukan oppa. Aku harus bekerja di pedasaan selama sebulan. Tolong kau cek keadaannya minimal seminggu sekali."

Bong Goo tetap tidak mau, Na Mi minta uang saja si om-om itu untuk menyewa perawat. Bong Goo tidak mau peduli lagi dan langsung pergi.



Eun Hee keluar ke halaman depan rumahnya untuk menyambut kedatangan Jae Bok. Dia terus menerus menunjukkan keinginannya agar Jae Bok pindah kemari. Tapi kemudian dia mendengar Jae Bok mendapat telepon dari agen real estate kalau dia sudah mendapatkan rumah yang cocok untuk Jae Bok. Sayangnya, dia harus menunggu dua bulan sampai penyewanya yang sekarang pindah.


Mendengar itu, Eun Hee punya ide bagus. Membujuk Jae Bok untuk pindah sementara waktu ke rumahnya ini selama 2 bulan. Jae Bok tetap ragu dan menolak tawarannya. Dia mau pamit, tapi Eun Hee terus berusaha membujuknya dan mengingatkan Jae Bok kalau sekarang mereka kan sudah jadi teman.

Jae Bok mulai bimbang, dia harus pindah secepat mungkin agar bisa berpisah secepatnya dan Jung Hee, putranya juga ngotot tidak mau pindah sekolah. Walaupun tampak masih ada keraguan, tapi Jae Bok akhirnya meneroma tawarannya. Eun Hee begitu bahagia sampai dia langsung memeluk Jae Bok dan berterimakasih padanya. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca saking senangnya.



Dengan antusias dia mengajak Jae Bok naik ke lantai atas yang sudah dia renovasi. Dia mengaku merenovasinya dengan harapan kalau Jae Bok mau pindah kemari, dan sekarang harapannya terkabul. Tapi bagaimana kalau Jae Bok tidak pindah?

"Mana mungkin. Unni tidak punya pilihan lain selain pindah (kemari)."

Hmm... jawaban yang aneh. Jae Bok beralasan kalau dia sangat amat ingin Jae Bok pindah kemari. 



Na Mi baru pulang dan mendapati Jung Hee menunggu di tangga. Dia tidak bisa masuk karena Na Mi mengganti kode pintunya. Na Mi mengklaim kalau dia sudah ganti pacar jadi kode rumahnya pun harus diganti. Jung Hee tidak percaya, pria tadi pasti oppa-nya Na Mi, iya kan? Na Mi menolak menjawab dan berkata kalau dia sudah mengepak barang-barangnya Jung Hee.

Dia bahkan tidak mau menatap Jung Hee saat Jung Hee mengambil barang-barangnya. Jung Hee sedih karena sudah dicampakkan oleh perusahaan dan juga oleh Na Mi. Dia meminta maaf karena tidak bisa melindungi Na Mi lalu berbalik pergi.



Baru saat itulah Na Mi akhirnya menoleh padanya dan melabraknya. Kesal karena Jung Hee mau pergi begitu saja hanya karena dia bilang mau putus. Bagaimana bisa Jung Hee pergi padahal dia masih menemui Ibunya. Jung Hee mengaku kalau dia sudah bilang pada ibu kalau dia harus kerja di tempat yang jauh.

"Oppa juga berpikir untuk putus denganku?"

"Na Mi-yah, maafkan aku. Aku mencintaimu, tapj karena anak-anak... aku tidak pantas mendapatkanmu. Jadi jangan kebanyakan minum dan berbahagialah."

Tak mau berpisah sia-sia, Na Mi meminta Jung Hee untuk mengabulkan satu keinginannya... yang itu. Jung Hee nggak nyambung keinginan apa yang dimaksud Na Mi. Apa dia mau liburan bersama? Tidak. Kalau begitu, apa pergi ke taman hiburan? Tidak juga... tapi yang ini.



Na Mi langsung menunjukkannya dengan mencopot jaketnya dan mendorong Jung Hee ke kasur. Jung Hee baru ngeh maksud Na Mi. Tapi dia tidak mau melakukannya, dia tidak bisa dan berusaha mencegah Na Mi mencopot bajunya.

Mereka otot-ototan sampai Na Mi mendorongnya sekuat tenaga. Tapi saking kuatnya, tak sengaja dia malah membuat kepala Jung Hee kebentur tembok. Na Mi langsung panik dan cemas. Tapi Jung Hee memanfaatkan saat itu untuk melarikan diri.



Na Mi mengejarnya tapi Jung Hee semakin mempercepat larinya sembari berpesan agar Na Mi selalu bahagia. Na Mi akhirnya berhenti di tengah jalan. Menatap kepergian Jung Hee dengan berlinang air mata, "Oppa, berbahagialah."


Kedua anak Jae Bok senang bukan main saat Jae Bok memberitahu mereka kalau mereka tidak akan pindah sekolah. Jin Wook pun melanjutkan latihan gitarnya sementara Hae Wook menyelesaikan gambarnya. Dia menggambar keluarga mereka. Appa-Omma-Oppa-Hae Wook.

"Kenapa Appa besar sekali?" tanya Jae Bok.

"Karena Appa melindungi kita," ujar Hae Eook dengan polosnya.

"Omma juga melindungimu."



Dia ditelepon Jung Hee saat itu, dia meminta Jae Bok untuk keluar ke taman sekarang, ada yang harus dia bicarakan. Tapi sesampainya di taman, dia malah mendapati Jung Hee sedang berlutut tanpa mempedulikan tatapan orang-orang. Jae Bok sampai malu dibuatnya.

Dia berusaha menarik Jung Hee bangkit. Tapi Jung Hee bersikeras mau berlutut sampai Jae Bok memaafkannya. Mulai kesal, Jae Bok tidak mau peduli lagi. Terserah Jung Hee mau berlutut di situ sampai dia  jadi batu atau dimakan burung. Dia pun langsung pergi.



Jae Bok tengah meninabobokan putrinya saat langit mencurahkan hujan badai. Hae Wook jadi ketakutan mendengar suara petir dan bertanya-tanya kapan ayahnya akan pulang. Jae Bok juga jadi cemas menatap hujan di luar. Jin Wook keluar dari kamarnya, dia pun mencemaskan ayahnya.


Menatap bayangannya sendiri di cermin, Jae Bok menanyai dirinya sendiri, bagaimana perasaannya yang sebenarnya? Apa sebenarnya yang dia inginkan? Apa sebenarnya arti Jung Hee baginya? Apa dia mencintai jung Hee? Apa dia mencintai seorang pengkhianat?


Jung Hee masih terus berlutut di sana, tanpa mempedulikan hujan yang mengguyurnya. Jae Bok akhirnya muncul tak lama kemudian dan memayunginya. Jung Hee sontak memeluk kaki Jae Bok, menangis dan memohon maaf.

Berteduh di sebuah bangku, Jae Bok mengaku banyak hal yang dia pikirkan sejak memutuskan bercerai. Dia teringat apa yang pernah diucapkan ibunya, tetap tinggal bersama demi anak-anak. Sekarang dia bisa memahami kalimat itu. Dia juga mengerti kenapa beberapa wanita merasa tak sanggup membesarkan. anak-anak seorang diri.

Tapi dia tidak seperti itu. Walaupun dia bisa mengerti tapi hal-hal seperti sama sekali tidak membuatnya takut. Apapun pandangan para janda cerai, sesulit apapun kehidupan ini, dia yakin dia bisa menghadapinya dengan tegar. Tapi ada satu hal yang mengganggunya. Kenapa Jung Hee meminta maaf padanya.



"Kau menyesali perbuatanmu. Atau... kau masih mencintaiku? Katakan sejujurnya."

"Sebagai suami dan ayah, aku merasa bersalah atas perbuatanku. Tapi tentu saja aku masih mencintaimu."

"Apa kau benar-benar masih mencintaiku?"

"Iya. Aku sangat mencintaimu. Sungguh!"

Tersentuh dengan pengakuan Jung Hee, Jae Bok mengaku kalau dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah dia masih mencintai Jung Hee yang begitu ingin dia bunuh. Jung Hee langsung membentangkan kedua tangannya mau memeluk Jae Bok. 



Tapi Jung Hee menghalanginya dan memperingatkan kalau kali ini adalah yang perrama dan terakhir kalinya. Jung Hee harus mengakhirinya dan fokus hanya padanya dan keluarganya. Apa Jung Hee bisa melakukannya?

"Tentu, tentu, tentu!"

"Jika hal seperti ini terulang lagi, tidak akan ada maaf bagimu."

"Aku mengerti," tangis Jung Hee sembari memeluk Jae Bok "Saranghae, Jae Bok-ah. Saranghae."

"Pendam saja kali ini. Satu kali ini saja. Karena... aku masih mencintai si brengs*k ini," batin Jae Bok.



Di tempat lain, Eun Hee tampak sedang membordir inisial K&H dengan senyum lebar.


Hye Ran membantu Jae Bok mengepak barang tapi malah terkejut mendapati Jae Bok masih menyimpan foto masa lalunya bersama cinta pertamanya di sebuah buku. Cha Kyung Woo. Jae  Bok juga kaget, tak ingat kalau dia menyelipkan foto ini di buku.

Tepat saat itu juga, Jae Bok ditelepon Eun Hee yang memintanya datang sekarang juga dengan alasan agar Jae Bok bisa memilih tirai yang disukainya, soalnya Dekorator interior rumahnya harus pergi ke Perancis besok. 



Jae Bok akhirnya pergi ke sana malam harinya. Dia berjalan ke pintu pagar dan melewati papan nama dengan santainya, sebelum kemudian mundur kembali untuk memperhatikan papan nama itu kembali. Kontan saja dia shock membaca papan nama Eun Hee dan suaminya, Cha Kyung Woo. Kyung Woo oppa? Tapi tidak mungkin.


Dia hendak memencet bel. Tapi belum apa-apa, Eun Hee sudah menyapanya duluan melalui interkom seperti sudah menantikan kedatangannya. Jae Bok pun masuk dan langsung disambut antusias oleh Eun Hee, dia mengaku sedang menyiapkan makan malam. 

Jae Bok menduga kalau suaminya Eun Hee sedang di rumah. Eun Hee membenarkannya, suaminya baru saja pulang dari perjalanan bisnis. Dia juga berkata kalau suaminya ingin sekali bertemu Jae Bok. Eun Hee langsung mendorong Jae Bok ke ruang tamu lalu berteriak memanggil suaminya. Tapi tidak ada jawaban dari lantai atas. 


Jae Bok menengadah dan langsung shock melihat foto pernikahan di atas tembok, Eun Hee dan cinta pertamanya Jae Bok, Kyung Woo. Jae Bok begitu tercengang melihat foto yang dia yakin tak pernah ada sebelumnya di sana. Dia ingat saat terakhir kalinya kemari, yang tergantung di atas tembok itu adalah sebuah lukisan pemandangan alam dan bukannya foto pernikahan.

"Bukankah di sana ada lukisan?"

Eun Hee malah menyangkalnya dan mengklaim kalau foto pernikahannya selalu tergantung di sana sebelum kemudian dia beralasan kalau beberapa waktu yang lalu dia memang sempat menggantinya karena galeri langganan mereka mengirim lukisan untuk dicoba selama beberapa hari.




Eun Hee terus memanggil suaminya sampai akhirnya terdengar jawaban suara pria dari lantai atas. Jae Bok sontak panik dan galau. Tepat saat itu juga, ponselnya Eun Hee berbunyi. Dari Ayahnya, dia bilang. Dia pun menjauh untuk menjawab telepon dari ayahnya itu, sepertinya sengaja meninggalkan Jae Bok. Sesosok pria tampak berjalan turun, Jae Bok makin panik melihat sisi wajah Kyung Woo.

Bersambung ke episode 4

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon