Powered by Blogger.

Images Credit: MBC
Sinopsis Radiant Office Episode 2 - 1
 

Wawancara dimulai jam sepuluh tepat dan para pelamar pun mulai dipanggil. Tapi tiba-tiba seorang pelamar mengeluarkan pistol dan menembak pelamar yang hendak masuk ruang wawancara.

Suasana kontan kacau balau dan Kang Ho langsung pingsan seketika saking kagetnya. Lalu tiba-tiba saja seorang pelamar lain juga mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke si penembak pertama. Ho Won dan yang lain langsung melarikan diri mencari tempat berlindung. Wah, ada apa ini?


Sebentar... ternyata semua ini hanya khayalannya Ho Won. Dia membayangkan semua persaingan mencari kerja ini bak perang tembak-tembakan yang sengit. Dia membayangkan hanya satu orang yang akhirnya berhasil mengalahlan semua pesaing.


Panik, Ho Won berlari menuju ruang interview. Hanya ada Woo Jin disana, menatapnya dengan remeh lalu mengacuhkannya. Ho Won langsung menarik busur panahnya dengan kesal. Tapi Woo Jin dengan entengnya menampik anak panah itu dengan pen merahnya.


Nyatanya, Ho Won tengah gugup menatap Woo Jin yang santai memainkan pen merahnya sambil membaca resume-nya.

"Keapa kau melakukan ini padaku?" teriaknya dalam hati.

Tepat saat itu juga, Woo Jin menatapnya seolah mendengar pikirannya. Ho Won sontak menghindari tatapannya dan menasehati dirinya sendiri untuk bersabar, di film-film biasanya lamaran ke 101 selalu berhasil. Dia bahkan membayangkan versi mininya sedang menyemangatinya.

"Ini adalah kesempatan yang diberikan langit untukku," batin Ho Won.

 

"Kau hanya punya nilai yang bagus," komentar Woo Jin.

Ho Won langsung kesal teringat wawancara pertama mereka waktu itu, saat Woo Jin juga menyindirnya yang cuma punya nilai bagus.

"Aku lega setidaknya aku punya nilai yang bagus," jawab Ho Won asal dan baru sadar sedetik kemudian. Dia sontak cemas, apa Woo Jin mengingatnya.


Woo Jin mengalihkan perhatiannya pada Kang Ho yang punya kualifikasi cukup bagus, dia bahkan pernah kuliah di luar negeri dua kali. Woo Jin lalu bertanya apa alasannya melamar di perusahaan mereka. Awalnya dia berseru penuh percaya diri, tapi pada akhirnya dia mulai gugup hingga dia tergagap saat berkata kalau dia ingin mempertaruhkan hidupnya di Hauline.

"Aku aku sungguh-sungguh?" tanya Woo Jin "Apa kau sungguh ingin mempertaruhkan hidupmu di perusahaan kami?"

Kang Ho tergagap mengiyakannya. Woo Jin lalu bertanya apakah yang lain juga merasakan hal yang sama. Seorang pelamar lain mengiyakannya dengan penuh semangat. Tapi Ho Won malah melamun dan baru sadar saat Woo Jin menegurnya. Tanpa semangat, dia ikut mengiyakan seperti yang lain.


Melihat itu, Woo Jin langsung mengomentarinya yang sepertinya belum siap. Ho Won dengan leau beralasan kalau itu karena sibuk dengan pekerjaan paruh waktunya. Woo Jin langsung menyela, mengomentari alasan remeh Ho Won dan menilainya tidak cukup berusaha bagi seseorang yang katanya mau mengabdikan hidupnya untuk perusahaan.

Habis sudah kesabaran Ho Won, dengan kesal dia memberitahu Woo Jin kalau dia punya banyak tagihan untuk dibayar dan hidupnya sangat sulit. Dia datang kemari hanya untuk mencari nafkah jadi kenapa juga dia harus mengabdikan dirinya.

"Berhentilah menanyakan pertanyaan bodoh! Kenapa aku melamar kemari? Masa kalian tidak tahu? Aku melamar untuk mencari nafkah. Bagaimana dengan kalian sendiri? Apa hidup kalian bergantung pada pekerjaan ini?" teriak Ho Won.

"SADARLAH!" teriak versi mininya. Dia menoleh ke Kang Ho yang mengisyaratkannya untuk duduk kembali. Saat itulah Ho Won baru menyadari perbuatannya. Dia langsung terduduk kembali ke kursinya sambil menundukkan kepala dalam-dalam.

Woo Jin sungguh tak percaya melihat keberanian Ho Won dan langsung menyingkirkannya dari daftar. Dia bahkan menyinggung ucapan Ho Won tentang belajar kepemimpinan dan kesabaran dari berbagai pekerjaan paruh waktunya. Ho Won semakin kesal, ternyata Woo Jin mengingatnya.


Dia memberitahu Woo Jin kalau dia punya 32 pekerjaan paruh waktu, yang mana semuanya adalah pekerjaan tanpa asuransi ataupun keuntungan. Impiannya adalah bekerja di perusahaan besar seperti Hauline. Dia ditolak 100 kali tapi dia tidak menyerah.

Dia mengaku kalau dia ingin menjadi aeseorang yang punya pekerjaan. Teringat bagaimana Ahjumma pemilik kedai tempatnya bekerja, membelanya dari seorang pelanggan kasar bahkan mengusir pria itu dari kedainya. Sementara di tempat kerjanya yang lain, dia pernah melihat pengawasnya dimarahi habis-habisan oleh atasan mereka.

Inilah yang Ho Won pelajari dari pekerjaan paruh waktunya. Orang yang punya kekuasaan itu kuat, sedangkan bawahan itu harus selalu menderita. Perusahaan kecil adalah bawahan perusahaan besar. Bahkan hanya karena masalah kecil, mereka harus tunduk.

"Karena itulah saya melamar kemari, agar saya bisa menjadi pegawai tetap di perusahaan besar. Dengan begitu saya bisa mengatakan sesuatu saat terjadi hal yang tidak adil dan berkata tidak semauku. Apakah salah mengonginkan hal itu?"

Ho Won langsung pergi saat itu juga dan menangis sejadi-jadinya di toilet.


Ji Na ternyata pegawai di Hauline. Saat dia hendak naik lift, dia malah kaget melihat Ki Taek yang baru saja datang untuk wawancara.

Dia langsung menyeretnya ke tempat sepi dan mengkonfrontasinya. Kenapa Ki Taek melamar kerja di sini, biar bisa bekerja bersamanya? Dia tidak cukup bagus untuk melamar kerja di perusahaan ini, lagipula Ki Taek sudah tidak muda lagi.

"Kau tidak perlu cemas. Lagipula aku tidak akan terpilih."

Ji Na memperingatkannya untuk tidak menyinggung hubungan mereka dalam wawancara nanti. Apa sebenarnya tujuan Ki Taek melamar kemari, balas dendam padanya? Sebaiknya Ki Taek pergi saja. Jika Ki Taek masih menyukainya maka sebaiknya dia pergi saja.


Ho Won dan Kang Ho berjalan ke lobi dengan lesu dan bertemu Ki Taek di sana. Saat Kang Hao menanyakan wawancaranya Ki Taek, dengan canggung dia berkata lancar bahkan mengklaim kalau perusahaan ini akan rugi kalau tidak menerimanya. Bagaimana dengan wawancaranya Ho Won?

Kang Ho memberitahu kalau Ho Won tadi bertemu dengan pewawancara yang sama dengan yang di Dongki Food. Ah, si Senior Manager itu. Ki Tek juga ingin melihat wajahnya. Loh, Kang Ho jelas heran, masa Ki Taek tidak bertemu dengannya tadi. Orang itu kan yang duduk di pojok kiri.


"Ya, orang yang itu," ujar Ki Taek canggung lalu menyarankan Ho Won untuk balas dendam saja, menggores mobilnya misalnya. Tapi mereka tidak tahu mobilnya yang mana. Tepat saat itu juga, Ho Won melihat pengantar makanan datang. Seketika itu pula dia punya ide bagus.


Seo Hyun baru saja tiba di depan gedung Hauline. Tepat bersamaan dengan Ho Won cs yang baru keluar. Mereka berjalan melewatinya tanpa mengenalinya sementara Seo Hyun langsung mengenali mereka.

Dan balas dendam Ho Won ternyata memesan makanan sebanyak-banyaknya di berbagai restoran atas nama Woo Jin.


Tak lama kemudian, satu per satu pengantar makanan datang membawakan berbagai macam makanan dalam jumlah banyak. Woo Jin kemvali tak lama kemudian dengan kebingungan. Lee Yong Jae langsung menjilatnya, mengira Woo Jin memesan makanan sebanyak ini untuk mentraktir mereka.

General Manager tim penjualan, Park Sang Man, melihat mereka dan langaung protes kesal karena dia tidak suka bau makanan didalam kantor. Tapi saat diberitahu kalau semua ini traktirannya Woo Jin, dia malah langsung memakannya duluan.


Woo Jin jelas bingung, sama sekali tidak pernah merasa kalau dia pernah memesan semua makanan ini. Para pengantar langsung menagihnya, terpaksa Woo Jin harus membayar sambil menggerutu bingung dan kesal.


Tuan Park lalu memberikan seporsi untuk pimpinan mereka, Han Jung Tae. Tapi Tuan Han langaung menolaknya, tidak suka makanan semacam ini. Mereka bertiga lalu duduk bersama dan memberitahu Woo Jon kalau mereka akan memindahkan Jo Suk Kyung ke tim sales.


Woo Jin jelas kaget dan langsung protes, tim marketing akan segera kedatangan banyak produk baru, bagaimana bisa mereka memindahkan kartu as timnya kedalam tim sales. Tuan Han bersikeras melakukannya demi meningkatkan penjualan mereka, tidak ada yang paling cocok selain Suk Kyung.

Woo Jin terus protes pada Tuan Park, seharusnya dia membicarakan hal ini terlebih dulu dengannya. Tuan Park dengan santainya bertanya, apa Woo Jin akan mau mendengarkannya kalau dia membicarakannya. Dia megklaim timnya lah yang paling penting karena tim penjualan membuat uang sementara tim marketing hanya menghabiskan uang.

"Dan siapa yang memberi kalian dukungan yang kalian butuhkan untuk membuat uang? Apa anda bisa mencetak gol tanpa bantuan?" balas Woo Jin

"Ya, silahkan saja bantu kami. Aku kan tidak bilang untuk tidak membantu kami. Kami sudah memenuhi syarat yang kau ajukan saat kami mempekerjakanmu. Kami membuatmu duduk sebagai pewawancara agar kau bisa memilih siapapun yang kau inginkan."


Tuan Han menyela mereka dan menyuruh Woo Jin untuk merekrut pegawai baru saja untuk timnya. Pokoknya prioritas utama merrka adalah memenuhi target penjualan semester awal.

Woo Jin masih tidak terima, anak baru mana bisa melakukannya. Tapi keputusan Tuan Han sudah bulat. Lagipula, siapa tahu mereka akan menggabungkan kedua tim.


Saat kembali ke kantornya, Woo Jin melihat makanan-makanan itu di mejanya. Dia berusaha menenangkan dirinya dengan membuka botol soda tapi malah sodanya malah muncrat, Woo Jin benar-benar jadi kesal dibuatnya.


Malam harinya, Ho Won membakar semua CV-nya, sudah benar-benar putus asa. Keesokan harinya, dia malah mendapatinya dimakan Hyo Ri. Dia bahkan mengancam Ho Won untuk pindah saja kalau dia tidak mau berbagi makanan. Ho Won terpaksa mengalah.

Ho Won lalu menyinggung masalah Hyo Ri yang sekarang sudah ponsel baru dan minta izin untuk menggunakan ponsel lamanya Hyo Ri karena sekarang dia tidak punya ponsel. Hyo Ri setuju asal Ho Won mau bayar 100 dolar.


Dia lalu pergi ke toko ponsel untuk mengembalikan nomor teleponnya. Tepat saat itu juga, dia mendapat telepon yang sontak membuatnya bangkit Tim HRD Hauline meneleponnya dan menawarinya jadi pegawai kontrak 3 bulan, ini permintaan langsung dari General Manager tim penjualan. Mungkin dia terkesan dengan surat lamarannya Ho Won. Dia diminta untuk memikirkan penawaran mereka ini dan menghubungi mereka jika sudah membuat keputusan.


Saat bekerja di mini market malam hariny, Ho Eon menatap gedung Hauline dengan keheranan. Dia tengah menata botol-botol minuman sambil terus memikirkan semua ini, ditambah lagi dengan diagnosis dokter yang entah ditujukan pada siapa waktu itu. Dia yakin diagnosis itu bukan dirinya, dia merasa sehat-sehat saja kok.


Tepat saat itu juga, dia mendengar suara-suara aneh lalu dari kaca dia melihat seorang pencuri tengah memasukkan barang-barang dagangan kedalam tas. Ho Woon langsung menegurnya. Pria itu sontak mempercepat aksinya lalu kabur. Ho Won langsung mengambil sandal untuk menimpuknya... tapi tepat saat sandal itu melayang, si pencuri keluar dan datanglah Woo Jin.

Woo Jin sukses menghindari sandal itu, dan jadilah sandal itu mendarat di jidat Manager mini market. shock, Ho Won langsung bersembunyi.


Manager jelas kesal. Dia menyuruh Ho Won keluar tapi Ho Won terlalu takut menghadapi Woo Jin. Manager melayani Woo Jin sambil terus berusaha memaksa Ho Won keluar. Kesal, dia langsung menyerukan nama Ho Won.

"Pegawai paruh waktu anda namanya Eun Ho Won?" tanya Woo Jin senyum geli "Dia bersembunyi setelah menimpuk anda dengan sandal. Bukankah seharusnya anda memecatnya?"


Begitu Woo Jin pergi, Manager langsung mendamprat Ho Won habis-habisan, bahkan menyuruh Ho Won berhenti saja kalau dia bekerja dengan cara sembrono seperti ini. Manager dengan kesalnya mengklaim kalau banyak orang yang ingin bekerja di sini.

Kata-kata yang sudah sering Ho Won dengar, kata-kata yang sangat dia benci. Dia bahkan sudah bisa menduga kalau Manager punya motif tersembunyi dengan memanfaatkan insiden ini. Benar saja, Manager langsung menyatakan kalau dia akan memotong gaji Ho Won sebagai kompensasi.

"Kau jelas tidak akan mendapatkan pekerjaan karena kau sangat kacau."


Tak tahan lagi, Ho Won dengan kesalnya balas mendamprat Manager, mengingatkannya akan peran pentingnya seorang pekerja paruh waktu bagi perekonomian negeri ini. "Kau selalu cari-cari alasan untuk memotong gaji. Jangan seperti itu terus atau akan kulaporkan kau ke polisi!"

Ho Won langsung melepaskan seragamnya saat itu juga dan memberitahu Manager kalau dia sebenarnya sudah dapat pekerjaan.


Keesokan harinya, Ho Won mendatangi ruang HRD Hauline dan tak menyangka melihat Kang Ho juga di sana. Ki Taek juga datang tak lama kemudian, ketiganya sontak melongo melihat satu sama lain.

Ki Taek mengaku kalau sebelumnya dia memang pernah bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan furniture, jadi mungkin karena itu dia terpilih. Ho Won bisa memahami prekrutan Kang Ho karena dia punya kualifikasi yang bagus dalam resumenya, lalu bagaimana dengan dirinya? Apa alasannya terpilih?

"Aku yakin ada alasannya. Hidup penuh dengan kebetulan. Kita sudah bertemu beberapa kali. Kita pasti ditakdirkan bertemu," ujar Ki Taek.


Ji Na berjalan hendak menghampiri mereka saat itu, tapi langkahnya langsung terhenti saat melihat Ki Taek. Kaget, dia langsung membalik-balik dokumennya dan baru saat itulah dia menyadari Ki Taek direkrut.


Seo Hyun makan siang bersama Tuan Park dan berterimakasih atas bantuannya. Tuan Park pun membalasnya dengan tak kalah hormat dan terkesan menjilat. Itu karena Seo Hyun ternyata anak Presdir dan terekrutnya ketiga orang itu sepertinya berkat permintaan Seo Hyun pada Tuan Park. Tapi Tuan Park penasaran, apa hubungan Seo Hyun dengan orang-orang itu.

"Entahlah. Aku merasa bersimpati pada mereka dan mencari simbiosis."


Woo Jin mendapat sebuah amplop misterius yang didalamnya berisi pesan yang mengatakan bahwa dia ingin melaporkan korupsi yang dilakukan Tuan Park. Woo Jin langsung mencari info tentang Tuan park dan mendapatinya di-rekrut pada rekruitasi ke-10. Dia lalu menelepon HRD untuk meminta data para pegawai yang di-rekrut pada rekruitasi ke-10.


Ji Na mengantarkan ketiga pegawai kontrak itu ke kantor mereka. Saat Tuan Park kembali, dia langsung menyambut mereka dengan terlalu antusias sambil pidato penjang lebar menyayangkan orang-orang berbakat seperti mereka yang hanya jadi pegawai kontrak, bla-bla-bla.


Dia juga sudah mengatur agar kedua pria bergabung dalam tim sales-nya sementara Ho Won dia masukkan kedalam tim marketing. Awalnya Ho Won antusias, tapi kemudian Woo Jin datang dan menyarankan agar Ho Won bergabung di tim sales saja.

"Tim marketing bukan tentang kesabaran. Lagipula dia tidak akan bisa bersabar karena dia ingin jadi orang yang berkuasa. Selain itu, dia agak kurang bertanggungjawab."

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon