Powered by Blogger.

Sinopsis Tomorrow With You Episode 10 - 1
 Images Credit by tvN


So Joon jujur mengakui kalau dia adalah seorang penjelajah waktu. Tapi Ma Rin tak percaya dan mengira kalau So Joon mabuk, atau mungkin hari ini adalah hari spesial dan So Joon mau memberinya kejutan?

"Kau sudah melihatnya sendiri"


Berita tadi? Ma Rin tetap tidak bisa mempercayainya, So Joon pasti mengetahuinya dari membaca berita online. Menebak apa yang akan dilakukan para pejalan kaki? So Joon pasti mengetahuinya dengan cara mengamati orang-orang itu. Oke, anggaplah So Joon pernah ada di sini lebih awal dan melihat segalanya. Kalau begitu apa yang akan dia katakan selanjutnya?

"Aslinya kau tidak ada di sini. Aku mengubahnya dan membawamu kemari"

"Hentikan. Kau mulai menakutiku," Ma Rin berjalan pergi. Tapi berbalik kembali sedetik kemudian, "Kau bilang bisa melihat masa depan? Lalu bagaimana dengan masa depan kita? Seperti apa masa depan kita?"

So Joon tak sanggup menjawabnya. Kesal, Ma Rin pun langsung pergi meninggalkannya.


Masih sulit percaya, Ma Rin terus bertanya-tanya dalam perjalanan pulang. Bagaimana caranya So Joon pergi ke masa depan? Pakai mobil seperti di film 'Back to the Future'? Atau membakar dupa seperti di drama 'Nine'?

So Joon juga menyinggung tentang penjelajahan waktu di depan rumah Ki Doong waktu itu, kenapa dia begitu terobsesi dengan penjelajahan waktu? Kekuatan supernatural lain kan banyak? Kenapa masa depan dan bukannya masa lalu? Tidak masuk akal.

"Jika kau begitu yakin ini tidak masuk akal, lalu kenapa kau seperti orang yang mau menangis?"

Ma Rin menyangkal, dia justru sedang menertawai kemustahilan ini. Kalau begitu apa itu artinya dia istri seorang penjelajah waktu?


Walaupun tak percaya, tapi Ma Rin mulai gelisah memikirkan berbagai hal aneh yang ditemuinya selama ini. Koran aneh tentang pemilu presiden waktu itu, sepatu aneh yang bisa nge-pas dengan sendiri dan Ohri Ramen. Apa semua itu benar-benar dari masa depan?


Ma Rin akhirnya turun tak lama kemudian dan menyatakan kalau dia akan menerima hal itu. Tapi dia mau bukti, menghilanglah. Dia mau melihat sendiri So Joon pergi ke masa depan. Pergilah sebentar sekarang. Jelas saja So Joon jadi bingung sendiri. Apa perlu dia hitung sampai 3? 1-2-3...

"Kau tidak bisa, kan? Tuh kan, kau tidak bisa melakukannya"

"Aku tidak bisa dari sembarang tempat"


Ma Rin semakin tak percaya, kebohongan macam apa yang begitu mendetil? Apa jangan-jangan So Joon juga menciptakan dunianya sendiri? So Joon pasti sudah jatuh kedalam dunia itu. Mengira So Joon sudah gila, Ma Rin menawarkan diri mengantarkan So Joon ke rumah sakit.

"Ma Rin-ah, apa kau pikir aku ini kurang kerjaan?"

Iya. Kalau begitu dia minta bukti lain, apa nomor lotre minggu ini? Jika So Joon tahu maka dia akan menerimanya. So Joon menolak, dia sudah tidak lagi main-main dengan lotre, dia sudah pernah memenangkannya 3 kali. Ma Rin jadi semakin stres mendengar semua omong kosong ini.


Dia langsung berjalan pergi, tapi So Joon mencegahnya dan memeluknya dari belakang. Dia mengakui kalau dia memang aneh. Dia menjalani hidupnya dengan normal bahkan jarang ke kantor, lalu menurut Ma Rin bagaimana dia bisa sukses seperti sekarang? Semua hal aneh yang ada di rumah mereka, bukan berasal dari dunia ini. Tapi Ma Rin tetap sulit mempercayainya.

"Aku harus menyelesaikan banyak hal sekarang ini. Sebenarnya tidak ada yang hebat tentang hal ini. Aku juga tidak hidup istimewa. Tentu aku bisa menikmati lebih banyak hal daripada orang lain. Tapi aku tetaplah aku"


Terduduk kembali ke sofa, Ma Rin bertanya siapa lagi yang mengetahui masalah ini? Ki Doong, jawab So Joon. Karena itu So Joon sering sekali main ke tempatnya Ki Doong. Tapi kenapa So Joon memberitahunya sekarang? Supaya dia berhenti bekerja di Happiness.

"Supaya aku bisa melindungimu"

Lebih baik baginya untuk membuat Ma Rin bingung dan terbebani daripada membuat Ma Rin berada dalam bahaya. Ma Rin heran, apa akan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya? So Joon memberitahu kalau akan ada kecelakaan yang berhubungan dengan Happiness. Dia tidak membeberkan detilnya dan hanya meminta Ma Rin untuk mempercayainya dan melakukan apapun yang dia suruh.

"Akan kupikirkan. Bagaimana bisa aku menerima semua ini sekaligus?. Aku tidak tahu seberapa banyak yang bisa kupercayai. Tidak, aku tidak mempercayai semuanya."


Keesokan harinya di kantor, So Joon menulis catatan tentang kematian Ayah Se Young, tanggal 27, Rumah Happiness, Doo Sik. Dia begitu larut dalam pikirannya sampai tidak melihat Ki Doong datang. Ki Doong jadi penasaran dan ingin melihat catatan itu, tapi So Joon langsung menjauhkannya dan mengalihkan topik.

Ki Doong melapor kalau dia sudah menyewa bis dan condo pada tanggal 27 untuk tamasya, dia juga sudah memastikan kalau Ayahnya Se Young mendapat pesannya bahwa semua anggota Happiness harus ikut. So Joon sepertinya melakukan semua ini untuk mencegah kematian Ayah Se Young.

Tapi Ki Doong penasaran, kenapa So Joon harus mengirim mereka semua untuk tamasya, apa yang So Joon lihat di dunia lain sana? So Joon hanya menjawab nanti saja, lebih baik mereka bicara di rumah Ki Doong. Dia menyobek catatannya dan mengaku kalau dia sudah memberitahu Ma Rin segalanya.


Mereka lalu bicara di luar, Ki Doong penasaran bagaimana reaksi Ma Rin? Dia pasti shock, apa dia minta cerai? Reaksinya pasti antara itu atau malah kegirangan mengetahui suaminya seorang penjelajah waktu. Lalu bisa saja masalah ini viral di internet lalu So Joon akan diseret oleh para peneliti untuk diperiksa otaknya.

Memangnya So Joon alien? Tapi dia cemas, Ma Rin tidak akan melihatnya seolah dia alien, kan? Mungkin tidak, tapi masalah itu jelas sangat mengagetkan dan dia harus menerima masa depan yang sudah ditetapkan. Dulu waktu dia pertama kali mengetahui kemampuan So Joon itu, dia juga serasa mau gila. Jadi jika Ma Rin jadi sedikit gila karenanya, So Joon maklumi saja.

"Memangnya Ma Rin itu kau? Dia menerimanya lebih baik daripada dugaanku"


Padahal saat itu, Ma Rin menggumam seperti orang tidak waras sepanjang jalan. Bahkan para pejalan kaki pun memandangnya seolah dia sudah gila.


Manager Cheon mengumumkan pada para pegawai Happiness kalau mereka akan pergi liburan tanggal 27. Ma Rin datang tak lama kemudian. Manager Cheon mengajaknya ikut liburan. Awalnya Ma Rin menolak tapi saat tahu kalau liburan ini dibiayai oleh donatur terbesar mereka, Ma Rin mulai bimbang.


Se Young datang tak lama kemudian lalu mengajak Ma Rin keluar ke coffee shop. Ma Rin baru ingat kalau Se Young akan berangkat ke Jepang tanggal 27. Se Young membenarkannya, tapi So Joon tidak mengatakan sesuatu?

Dia hanya merasa aneh karena So Joon membelikan tiket ke Jepang untuk orang tuanya pada tanggal itu dan mengirim semua orang di Happiness untuk berlibur. Dia penasaran apa ada alasan lain dibalik semua yang So Joon lakukan ini?

Ma Rin mulai merasa aneh juga. Tapi dia beralasan kalau So Joon mungkin melakukan semua ini karena dia merasa semua orang akan bersedih dengan kepergian Se Young. Tapi So Joon tidak harus melakukan semua ini, Se Young merasa tak enak karena dia selalu menerima banyak hal dari So Joon.

"Kudengar kalian sudah seperti keluarga baginya saat dia mengalami kesusahan"


Se Young tersenyum mendengarnya. Rasanya aneh karena dia pikir itu adalah sesuatu yang diantara dia dan So Joon saja, tapi sekarang So Joon membaginya dengan Ma Rin juga.

"Augh! Aku tidak tahu musti ngomong apa. Aku tidak akan bisa menghapus kenangan akan dirimu, Se Young-ssi. Memang kenapa kalau aku mengetahuinya sekarang? Saat-saat yang kalian habiskan bersama adalah milik kalian, semua itu sepenuhnya milik kalian. Kenangan itu tidak akan memudar ataupun menghilang hanya karena aku mengetahuinya"

Se Young berpesan, meminta Ma Rin untuk menjaga Ayahnya karena setelah dia pergi, Ma Rin lah orang yang paling dekat dengan Ayahnya. Ma Rin hanya tersenyum canggung.


Setelah itu, Ma Rin menghubungi So Ri dan mengajaknya ke suatu tempat. Dan tempat yang dimaksudnya itu ternyata tempatnya dukun. Ma Rin minta diramal, curiga akan terjadi sesuatu yang buruk. Dukun mengamatinya dari atas ke bawah, tapi dia menyangkal kecurigaan Ma Rin itu. Tidak akan ada kecelakaan, Ma Rin justru akan terbekati.
 
Ma Rin lalu bertanya apakah Dukun percaya dengan yang namanya penjelajah waktu. Dukun mengklaim memang ada orang-orang seperti itu. Orang caper. Orang-orang semacam itu biasanya bermunculan di medsos. Ma Rin menyangkal, dia bukan orang caper.


Tapi setelah Ma Rin pergi, Dukun tampak gelisah dan menyuruh Asistennya tutup, dia harus berdoa. Dia tadi sebenarnya berbohong pada Ma Rin. Entah kenapa dia tidak bisa melihat apapun dalam diri Ma Rin, tidak Ma Rin tidak pula suaminya. Mereka seperti tidak hidup tapi juga tidak mati. Baru kali ini dia mengalami hal seperti ini.


Direktur Kim ditelepon seseorang dengan nama kontak 'Nyonya'. Dia ragu sebelum mengangkatnya, tentu karena Nyonya itu langsung menanyakan masalah kontrak proyek Jangho. Sekretaris Hwang keluar sambil menggumam cemas. Bagaimana caranya Direktur Kim membayar semua itu? Bagaimana kalau dia berakhir di penjara? Atau jangan-jangan...

Flashback,


Suatu malam, Sekretaris Hwang menguping percakapan Direktur Kim dan seorang kliennya. Dia berencana menyingkirkan bangunan-bangunan kecil dan meminta si Klien untuk tidak menyebarkan rumor ini dan bertanya kapan si Klien berencana mau membelinya. Si Klien dengan entengnya berkata kalau dia akan memberikan uang kontraknya besok kalau Direktur Kim menginginkannya.

Flashback end.


Sekretaris Hwang cemas kalau Direktur Kim akan memakai cara itu. Tapi dia langsung menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran itu, tidak mungkin. Dia begitu larut dalam pikirannya sampai tidak sadar sudah melewati Direktur Wang tanpa menyapanya. Dia baru sadar saat Direktur Wang menegurnya. Sekretaris Hwang menyapanya lalu mengajaknya minum kopi.

Dengan menggunakan temannya sebagai alasan, Sekretaris Hwang berkonsultasi tentang investasi. Direktur Wang pun tanpa mencurigai apapun memberitahu Sekretaris Hwang tentang penggelapan investasi.

Pertama, deposit kontraknya diambil terlebih dulu dan katakan kalau ini proyek rahasia sampai dia mendapatkan semua pembayarannya dan pastikan semua orang tutup mulut dengan tujuan tak ada seorangpun yang tahu kalau kontrak sudah ditandatangani.

Dia bisa mencuri stempel perusahaan untuk membuat kontrak lalu lari membawa deposit-nya. Dengan begitu saja dia bisa mendapatkan beberapa milyar won. Direktur Wang mengetahui beberapa orang yang melakukan itu dan sekarang mereka ada yang dipenjara atau melarikan diri ke luar negeri.


Saat hendak pulang, Ki Doong penasaran hal penting apa yang mau So Joon katakan padanya sampai mau datang ke rumahnya? Apa ini sesuatu yang buruk? So Joon membenarkannya. Kalau begitu, Ki Doong tidak ingin mengetahuinya. Dia hanya merasa gugup mengetahui dunia lain itu.

"Aku juga tidak ingin memberitahumu, tapi aku butuh bantuanmu kali ini. Ada yang harus kita selesaikan"


Direktur Kim menyapa mereka saat itu, sepertinya dia mendengarkan percakapan mereka. Mereka lalu naik lift bersama. So Joon langsung menyinggung Direktur Kim yang belakangan ini sangat sibuk. Sesibuk apapun, tolong hadirilah rapat. Orang-orang menggosipkannya.

"Aku berusaha menghadirinya lebih sering daripada anda," sindir Direktur Kim sambil terus menerus menundukkan kepalanya.

"Tentu, kau bukan aku" balas So Joon

"Saya cuma bercanda"

"Apa kau bukan sarkastis?"


Setibanya di rumah Ki Doong, So Joon memberitahu Ki Doong tentang apa yang akan terjadi pada Ayah Se Young. Ki Doong tentu saja sedih dan marah dan mendengarnya. So Joon meyakinkannya kalau mereka masih bisa mencegahnya. Mereka bisa menghentikan kecelakaan itu. Entah karena kecelakaan atau ada orang yang sengaja melakukannya, Ahjussi pasti akan baik-baik saja begitu dia meninggalkan Korea.

Apa maksud So Joon ada orang yang sengaja melakukan? Apa dia akan dibunuh? Entahlah, So Joon tidak yakin, tapi dia mencurigai seseorang. Tapi orang yang dicurigainya adalah Doo Sik. Karena itulah So Joon tidak yakin, Doo Sik tidak punya alasan untuk membunuh Ahjussi.


Pokoknya dia ingin Ki Doong datang ke lokasi konstruksi pada hari itu. Memang Ahjussi akan ada di Jepang hari itu, tapi bisa saja ada situasi lain. Kalau ada pelakunya, orang itu pasti akan ada di sana hari itu. Dia ingin Ki Doong melihatnya.

Tidak tenang, Ki Doong berusaha membujuk So Joon untuk kembali ke amsa depan lagi dan memastikan segalanya sekali lagi, dengan begitu akan lebih mudah. So Joon mengaku kalau orang yang curigainya adalah seorang penjelajah waktu sama sepertinya. Kalau orang itu tahu, dia bisa merusak rencana mereka. Ki Doong akhirnya menyetujui rencananya.


Tepat saat itu juga, Ma Rin datang. Ki Doong buru-buru menghapus air matanya lalu pergi. Di sana, Ma Rin menemukan lebih banyak barang-barang yang berasal dari masa depan. Dia lalu celingukan mencari pintu 4 dimensi atau semacamnya. Tapi tidak ada benda semacam itu.

"Baiklah, aku menerimanya. Sekarang setelah melihatnya, aku harus mengakui semua ini benar"


Berjalan keluar bersama, Ma Rin bercerita kalau hari ini dia menemui seorang dukun yang berkata kalau mereka berdua punya keberuntungan yang baik dan tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. So Joon protes, kenapa Ma Rin kesana, memangnya hantu bisa melihat masa depan?

Memangnya cuma penjelajah waktu saja yang tahu masa depan? Ma Rin protes balik. Dia lalu memberi So Joon sebuah jimat perlindungan. Karena dia tidak tahu masa depan, jadi dia mempercayai hal-hal seperti ini. Ini cara Ma Rin menunjukkan kepeduliannya pada So Joon.


"Itu saja cukup bagiku. Aku tidak mengharapkan lebih"

"Bisakah kau berharap lebih dariku?"

Sejujurnya Ma Rin masih belum benar-benar bisa menerima kenyataan itu, rasanya masih seperti mimpi, hatinya serasa kosong. Biarpun semua ini benar, tapi dia tidak terlalu menyukainya. Rasanya So Joon seperti hidup di dunia lain. So Joon masih sama kok. Tapi walaupun dia pria biasa, bukankah mereka akan tetap kesulitan untuk saling memahami satu sama lain sepenuhnya?

Dia mengklaim kalau mereka akan hidup bersama sampai 70 tahun yang akan datang, bukankah akan membosankan jika mereka mengetahui segalanya sekarang. Dia bercanda pura-pura mewawancarai apa perasaan Ma Rin jadi istri seorang penjelajah waktu.


Dia bertanya kejadian buruk itu akan terjadi tanggal 27, kan? So Joon membenarkannya, Ayah Se Young akan terluka hari itu. Tapi So Joon meyakinkannya kalau mereka bisa menghentikan kecelakaan itu. Karena itulah dia meminta Ma Rin berhenti, akan jauh lebih baik kalau Ma Rin tidak dekat-dekat lokasi konstruksi. Ma Rin cemas, mereka benar-benar bisa mencegahnya, kan?

Bersambung ke part 2

2 comments

Ngeri banget waktu cenayang bilang dia ga hisa liat apa apa dari marin dan so joon...
Yang nonton berasa liat hantu dong ini, ga hidup tp jg ga mati t.t
Masih bisa ngarep happy ending?

Mudah2an happy ending, suka bgt sama marin & sojoon..

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon