Powered by Blogger.

 Sinopsis Tomorrow With You Episode 12 - 1
Images by tvN 


Teringat akan peringatan Ki Doong untuk segera mengakhiri hubungannya dengan Ma Rin, So Joon mengklaim kalau pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan dan sebaiknya mereka memikirkan ulang segalanya. Dia rasa mereka mungkin tidak cocok.

Ma Rin mungkin akan kesusahan karenanya. Ma Rin bilang kalau hidupnya sekarang tidak normal. Tapi sebenarnya, So Joon lah yang tidak normal, dialah yang berbeda dari orang lain. "Jadi kehidupan normal bahagia yang kau inginkan, kurasa aku tidak akan bisa memberikannya."

Ma Rin sungguh tak percaya mendengarnya. Apa So Joon bermaksud menyuruhnya untuk pergi biar So Joon bisa menjalani hidupnya dengan bebas, begitu? Kenapa So Joon tidak bilang agar mereka saling mengerti dan berkompromi? So Joon bersikeras kalau itu tidak akan berhasil.

"Apa bukan kau yang tidak mau repot-repot berusaha?"

Seharian dia menunggu dalam kecemasan karena So Joon tiba-tiba menghilang di hadapannya, apa sebenarnya kesalahannya?! So Joon balas membentak, jangan menunggu ataupun mengkhawatirkannya karena itu beban baginya.


Gara-gara itu, Ma Rin memutuskan untuk pergi dari rumah saat itu juga, dia tidak mau tinggal serumah dengan So Joon lagi. So Joon berusaha menghentikannya, sudah tengah malam jadi Ma Rin tinggal saja di sini, dia yang akan pergi ke rumah Ki Doong. Ma Rin tidak mau, ini kan rumah So Joon.

"Tidak ada milikku atau milikmu! Kenapa kau kekanak-kanakan begini?"

"Kau yang mendorongku pergi!"

Ma Rin menampik tangan So Joon dan berjalan pergi. So Joon terus berusaha menghentikannya, tapi Ma Rin langsung mengingatkan So Joon tentang ucapannya sendiri kalau pernikahan mereka ini sebuah kesalahan. Baguslah, toh mereka belum mendaftarkan pernikahan mereka jadi So Joon bisa berpikir ulang dan menarik semua kesalahannya kembali.


Ma Rin pun pergi, meninggalkan So Joon yang juga berusaha menahan tangisnya, teringat ucapan Ma Rin di masa depan yang berkata bahwa mereka tidak seharusnya bertemu karena mereka tidak pernah ditakdirkan untuk bertemu, dan karenanya dia ingin So Joon segera mengakhiri hubungan mereka dan mengembalikan hidupnya ke semula.


Ma Rin menangis sepanjang jalan dan pergi ke rumah So Ri. Dia ingin menginap di sini selama beberapa lalu menceritakan pertengkarannya dengan So Joon barusan. So Ri tampak agak canggung dan berusaha mengajak Ma Rin keluar minum-minum. Tapi Ma Rin tidak mood.
 
Dia menangis saat tiba-tiba saja dia mendengar pintu lemari terbuka dan langsung menjerit shock melihat pria setengah telanjang di hadapannya. wkwkwk. Ma Rin langsung panik memukulinya, mungkin dia kira maling atau semacamnya tapi So Ri langsung melindungi pria itu. Pria itu buru-buru mengambil pakaiannya dan bergegas pergi. Menyadari kesalahannya yang sudah menganggu mereka, Ma Rin pun meminta maaf.


Beberapa saat kemudian, mereka minum-minum sambil curhat. Menurut So Ri, So Joon itu berusaha berhati-hati terhadap Ma Rin. Ma Ri bersikap berlebihan makanya So Joon juga jadi terlalu serius. Ma Rin menyangkal, So Joon sendiri yang terlalu serius. Terlihat jelas di matanya kalau So Joon itu goyah.

Kalau begitu, So Joon pasti mengatakan semua itu hanya karena kebawa emosi dan tidak sungguh-sungguh, So Ri yakin. Tapi walaupun marah, bagaimana bisa So Joon mengatakan hal sekejam itu? Ini tidak bisa dibiarkan. Sambil melihat ikan kering yang dipegangnya, Ma Rin mengklaim kalau ekspresi So Joon mirip ikan mati itu, seolah dia merasa sangat bersalah dan bersikap seolah dialah yang bertanggung jawab atas semua masalah dunia.


"Kau kira kau saja yang kecewa, hah?" kesal Ma Rin sambil menggigit kepala itu sampai putus.

So Ri menasehatinya untuk menguatkan diri, manfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki kebiasaan So Joon. Meninggalkan rumah artinya Ma Rin sudah memulai perang dan tidak bisa mundur lagi. Kalau Ma Rin menyerah duluan, maka dia bisa kehilangan So Joon selamanya.

Dia tidak akan menyerah duluan. So Joon lah yang harus datang ke sini dan memohon-mohon padanya sambil berlinang air mata. Bagus, Ma Rin harus menunjukkan betapa tangguhnya seorang wanita.


Kesal karena So Joon bahkan belum menelepon, Ma Rin pun mematikan ponselnya, biar tahu rasa So Joon. Dia mencoba tidur tapi rasanya tak nyaman tidur di kasur kecilnya So Ri. Apalagi So Ri bergerak-gerak terus dalam tidurnya dan ujung-ujungnya malah menendang Ma Rin sampai dia terjatuh dari kasur.


Gun Sook masih terus berusaha mempelajari Bahasa Vietnam sampai kecapekan. Tak tahan lagi, dia memberitahu Direktur Kim kalau dia tidak mau pergi ke Vietnam jadi lebih baik mereka cerai saja kalau Direktur Kim tetap mau pergi. Direktur Kim terus berusaha membujuknya, meyakinkan Gun Sook kalau ini adalah kesempatan bagi mereka untuk membuat banyak uang, mereka hanya perlu bertahan di sana selama beberapa tahun.

"Aku tidak peduli dengan uang. Aku tidak mau pergi ke tempat yang tidak kukenal..."

Tapi belum selesai bicara, Direktur Kim langsung pergi mengacuhkannya.


Doo Sik memutar ulang rekaman ucapan Direktur Kim tentang proyek Jangho. Dia gelisah menatap kalendernya yang tampak banyak ditandai pada tanggal-tanggal tertentu dan tanggal 30 November ditandai sebagai tanggal menghilangnya So Joon.


So Joon terbangun tanpa Ma Rin di sisinya. Ma Rin pun galau gara-gara So Joon ternyata sama sekali tak menelepon ataupun mengirim sms. Melihat keadaan Ma Rin seperti ini, So Ri menduga kalau dia pasti akan menyerah duluan pada akhirnya. Sudahlah, sarapan saja dulu. Ma Rin tidak nafsu makan, malah pundaknya yang kesakitan gara-gara jatuh semalam.


Ma Rin datang ke kantor Happiness tanpa keceriaan seperti biasanya. Manager Cheon heran kenapa Ma Rin tidak bekerja di rumah saja. Karena Ma Rin tidak punya rumah sekarang. Hah? Manager Chen cemas melihat wajah Ma Rin tapi dia langsung pergi saat Ma Rin menatapnya tak nyaman.

Dia langsung mengecek ponselnya tapi yang diharapkannya masih juga belum ada. Ma Rin kesal, "Baiklah, kita lihat saja siapa yang akan mengalahkan siapa."


Dia lalu curhat di forum-nya tentang pertengkerannya dengan suaminya semalam dan minta saran. Tapi semua komentar dari pada netizen bernada negatif sampai membuat Ma Rin sebal sendiri, apalagi komentar terakhir malah berkata 'Hidupmu seperti Bap Soon'.


Se Young tiba-tiba muncul dari belakangnya, Ma Rin pun kontan menutup laptopnya. Se Young ingin bicara, mereka harus menunjuk ketua baru untuk menggantikan Ayah tapi mereka butuh persetujuan So Joon karena dia adalah Ketua Dewan Kehormatan. Dan karenanya, dia ingin Ma Rin membujuk So Joon untuk datang. Ma Rin setuju.


Dia menggerutu kalau sebenarnya dia tidak mau menelepon duluan, tapi senyumnya lebar banget. Tampak senang sekali bisa punya alasan untuk bicara dengan So Joon.


Tapi So Joon sengaja tidak menjawabnya. Saat itu tengah bertemu dengan pengacaranya untuk mengurus asetnya dan berkata pada pengacara kalau dia ingin menyerahkan setengah dari kekayaannya untuk Ma Rin. Pengacara Seong langsung melongo tak percaya, nanti So Joon bakalan menyesal loh.

"Aku ingin diselesaikan secepat mungkin sebelum akhir bulan ini."

"Anda serius?"


Setibanya di kantor, So Joon mendengar Ki Doong bicara di telepon dengan teman mereka tentang ajakan kencan buta. So Joon merebut ponselnya dan menyelesaikan percakapan mereka dengan menyuruh teman mereka untuk menentukan tanggal kencannya saja.

Ki Doong langsung protes keras. Kalau So Joon seperti ini, kenapa tidak sekalian saja dia melihat bagaimana kehidupan cinta Ki Doong (di masa depan). So Joon tidak mau. Tapi Ki Doong penasaran, siapa wanitanya di masa depan. Tapi sudahlah, dia yakin bukan orang asing.

"Jika aku melihat dan ternyata tidak terlalu bagus. Apa kau akan berhenti menemuinya walaupun kau menyukainya?"

"Entahlah. Apa yang harus kulakukan?"

Bagaimana jika wanita yang Ki Doong sukai menderita karena Ki Doong? Apa Ki Doong akan tetap mengencaninya dengan mengetahui semua itu? Ki Doong heran mendengar pertanyaan So Joon itu, mengira kalau So Joon mengetahui sesuatu tentang kisah cintanya. Tidak, dan sebaiknya Ki Doong tidak usah penasaran jika dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


Ma Rin meng-sms So Joon, memintanya datang ke rapat voting memilih ketua Happiness baru. Dia meminta So Joon meneleponnya. Tapi So Joon cuma balas kirim sms dan berkata kalau dia akan menelepon Se Young. Ma Rin kecewa.


Sekretaris Hwang mencoba bertanya-tanya tentang proyek Jangho, katanya Direktur Kim sudah berinvestasi dalam proyek itu. Direktur Kim beralasan kalau dia berhasil mendapatkan dana dari beberapa rekan dan kerabat.

Tapi dari mana Sekretaris Hwang mendengarnya? Siapa yang bilang? Sekretaris Hwang berkelit dengan mengklaim kalau bicara dengan Nyonya Kim. Direktur Kim sontak marah-marah.


Saat makan malam bersama So Ri, Ma Rin heran apa So Joon sudah tak punya perasaan lagi padanya. Kalau dipikir-pikir, dia memang salah. Dia terlalu ikut campur. Rasanya seperti ini. Spiderman punya pacar, terus Pacarnya Spiderman mengancam Spiderman untuk putus jika dia terus menerus membuat jaring. Jadinya apa? Tentu saja mereka putus, peduli amat dengan cewek itu.

Ma Rin menyesal sekarang. Apa yang harus dia lakukan kalau So Joon tidak menghubunginya. Kalau begitu, Ma Rin pulang saja sekarang. Kenapa juga dia kabur dari rumah jika dia tidak bisa menahannya. Ma Rin tidak terima dibentak-bentak dan langsung balas membentak. Jadilah mereka ribut. So Ri menyalahkan masakan Ma Rin yang nggak enak itu, makanya dia dianiaya.

"Kau yang jangan menganiayaku! Deobbang makan masakanku dengan baik. Dia makan tanpa komplain!" isak Ma Rin.


So Joon sedang bermain-main dengan robot vaccuum-nya. Dia lalu melepas cincin kawin-nya. Tak sengaja dia menjatuhkannya dan si robot langsung memakan cincin itu. Dia berusaha mengeluarkan cincin itu saat dia ditelepon Doo Sik yang mengajaknya ketemuan sekarang.

 

Dia masuk kamarnya untuk mengambil jaket. Tapi saat dia keluar, dia malah mendapati Ma Rin datang. So Joon senang mengira Ma Rin pulang, tapi Ma Rin beralasan kalau dia kemari untuk mengambil paket. Dia mengklaim kalau paketnya akan datang hari ini jadi dia mau menunggu. Oke, Ma Rin tunggu saja., dia mau pergi.

"Kau pergi begitu saja? Apa tak ada yang perlu kau katakan padaku?"

"Aku ada janji," So Joon pun pergi. Ma Rin shock melihat jari manis So Joon yang sekarang kosong. Mengira kalau So Joon sudah melepaskan cincin kawin mereka.


Mereka ketemuan di taman. Doo Sik menyuruh So Joon untuk menyerahkan Direktur Kim ke polisi karena Direktur Kim akan mengkhianati So Joon. Ah, tidak. Dia memang sudah mengkhianati So Joon. Doo Sik menunjukkan maksudnya dengan memutar rekaman itu. So Joon heran, dia kira itu cuma rumor. Tapi bagaimana Doo Sik bisa memiliki rekaman ini.


Beberapa saat kemudian, Doo Sik mengejar So Joon yang berjalan pergi dengan kesal setelah mengetahui segalanya. Doo Sik membela diri kalau Direktur Kim tetap akan menggelapkan uang perusahaan So Joon biarkan dia tidak menjebak Direktur Kim lebih dulu, Direktur Kim malah akan melakukan suatu hal yang lebih buruk.

"Lebih buruk apa?!" bentak So Joon.

"Dia akan menghancurkan perusahaanmu! Dia orang yang sangat jahat."

"Kalau begitu seharusnya kau memberitahu lebih awal."

Awalnya Doo Sik hanya ingin menjauhkan Direktur Kim dari So Joon, dia berusaha agar Direktur Kim mendirikan perusahaannya sendiri makanya dia berinvestasi. Tapi ternyata Direktur Kim mengkhianatinya juga. Apa yang harus dia lakukan saat Direktur Kim tetap mengikuti takdirnya.

Memangnya apa yang akan So Joon lakukan jika dia memberitahu? Apa So Joon akan memasukkannya ke penjara saat belum terjadi apapun? Kalau So Joon tahu, setidaknya dia bisa bersiaga. Kalau So Joon seperti itu, itu hanya akan membuat Direktur Kim semakin marah.


Terus apa Doo Sik merasa benar dengan menjebak Direktur Kim? Berhentilah berkata kalau takdirnya sudah digariskan. Nyatanya sekarang semua ini terjadi karena perangkapnya Doo Sik. Meski rencana Doo Sik berhasil. Tidak ada jaminan kalau Direktur Kim akan melakukan sesuai takdirnya. Apa ada hukum yang mengharuskan seseorang menjalani takdirnya?

Pokoknya So Joon bawa saja bukti rekaman ini dan penjarakan Direktur Kim atas tuduhan penggelapan atau apalah sebelum dia melakukan hal yang lebih buruk. So Joon memperingatkan Doo Sik untuk tidak ikut campur lagi sekarang, dia yang akan mengurusnya sendiri.


So Joon langsung pergi menemui Doo Sik dan memaksanya ke ruang rapat tanpa mempedulikan protes Direktur Kim yang bersikeras kalau dia mau meeting. So Joon langsung menelepon Ki Doong dan menyuruhnya untuk menghubungi tim audit internal dan suruh mereka menyita dan menginvestigasi segala sesuatu di kantornya Direktur Kim karena dia dapat informasi tentang penggelapan dana.

Direktur Kim tentu saja pura-pura tak mengerti tuduhan So Joon. Tapi So Joon menyela dan menegaskan kalau perusahaan tidak akan menuntutnya mengenai proyek Jangho tapi Direktur Kim harus meninggalkan perusahaan ini. Hanya masalah ini yang dia maafkan, tapi jika dia menemukan penggelapan lain maka Direktur Kim harus bersiap dengan gugatan hukum.

"Kau sudah bekerja keras sejak perusahaan ini berdiri. Kuharap kita tidak akan pernah bertemu lagi"

So Joon hendak pergi. Tapi Direktur Kim penasaran, kenapa So Joon menutupi kasus ini. Karena So Joon ingin memberi Direktur Kim kesempatan. Jangan menyiakan-nyiakannya karena mungkin ini yang terakhir.


Direktur Kim mendengus sinis begitu So Joon pergi, "Aku bahkan tidak bisa membunuh bocah itu! Cari saja. Coba saja kalau bisa dapat sesuatu. Sepertinya aku tidak bisa menunggu saja di sini. Aku harus mengambil semua barangku dan pergi."


Para karyawan heboh melihat ruangannya Direktur Kim disita. Ki Doong melihat Sekretaris Hwang tampak panik, dia langsung menyudutkan Sekretaris Hwang, apa yang dia sembunyikan? Sekretaris Hwan berusaha berkilah. Tapi Direktur Wang datang dan menduga ini menyangkut proyek Jangho. Sekretaris Hwang berusaha menghindar tapi mereka terus menyudutkannya.

Bersambung ke part 2

1 comments:

Wuah udah Ada makin seru ceritanya..ditunggu part 2 nya semangat nulisnya Mba...

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon