Powered by Blogger.

 Images Credit by tvN
Sinopsis Tomorrow With You Episode 12 - 2

Ma Rin menunggu sampai malam. Bel berbunyi tak lama kemudian, mungkin yang dia harapkan So Joon tapi hanya pengantar paket yang datang. Dia keluar tak lama kemudian, tepat saat So Joon barusan pulang. So Joon berusaha meminta Ma Rin tinggal saja, biar dia yang pergi ke rumah Ki Doong.

"Kenapa kau melepas cincinmu? Sudah tidak masalah bagimu melepaskan cincin kawinmu?"

"Jangan menyimpulkan. Aku bahkan belum menjelaskan."

"Bagaimana bisa kau tidak meneleponku? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau sungguh mengira aku datang mengambil paket?"

"Kalau marah, lampiaskan saja. Kau marah dan menunggu seorang diri lalu merasa terluka. Bagaimana bisa kau tidak memberiku kesempatan untuk berpikir?"


Memangnya apa yang So Joon pikirkan? So Joon heran, sekarang kan baru dua hari, kenapa Ma Rin tidak sabaran? Karena bagi Ma Rin, 2 hari itu terasa seperti 20 tahun. Saat dia merasa seperti itu, bagaimana So Joon baik-baik saja?

So Joon pura-pura marah, mengklaim itulah sebabnya dia merasa terbebani oleh Ma Rin. Tidak seharusnya Ma Rin bergantung padanya. Dia harus jadi keren, kuat dan percaya diri. Tidak bisakah Ma Rin jadi seperti itu agar dia tidak terlalu cemas?

So Joon mengingatkan Ma Rin bagaimana kehidupan Ma Rin dulu sebelum mereka menikah. Ma Rin langsung menundukkan kepalanya dan mengklaim kalau tidak ingat. Apa dia terlihat begitu menyedihkan di mata So Joon? Banyak hal yang ingin dia katakan tapi dia bahkan tidak sanggup menatap mata So Joon. Dia masih bimbang, jadi dia pergi saja sekarang.


Ma Rin termenung di halte bis. Sementara So Joon menelepon Doo Sik, mengabarkan kalau dia memutuskan untuk melepaskan Direktur Kim dan memberinya kesempatan untuk berubah. Doo Sik langsung marah-marah, jelas tidak menyetujui tindakan So Joon. Direktur Kim sudah melakukan tindak kriminal jadi dia harus dihukum.

Tapi So Joon menolak mendengarkan apapun lagi dan mengingatkan Doo Sik kalau dia juga ikut terlibat dalam perkara itu. Sekarang ini yang dia cemaskan adalah Ma Rin, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan Ma Rin. Apalagi Ma Rin sebentar lagi akan ditinggal sendirian.

"Aku takut akan apa yang mungkin terjadi padaku. Aku ingin panjang umur dan hidup bahagia. Aku akan mencoba seperti itu. Aku akan bertanggungjawab tentang itu. Meski begitu, aku tidak boleh memanfaatkan hidup Ma Rin dan pura-pura tidak memiliki kekuatan apapun. Mungkin lebih baik jika dia kutinggalkan saja, bertahan dengan kemampuannya. Aku ingin tahu apa aku juga harus membuatnya berhenti mencintaiku. Ahjussi, apa yang sebaiknya kulakukan sekarang?"

So Joon lalu membuka paket itu dan ternyata didalamnya berisi piyama pasangan.


Ma Rin terbangun oleh bunyi bel pintu dan keheranan melihat Gun Sook datang dengan hanya memakai baju tidurnya. Gun Sook juga heran melihat Ma Rin di sini. Gun Sook mengaku kalau dia minggat dari rumah gara-gara bertengkar dengan suaminya.

"Memangnya di sini penampungan istri yang dibuang?" gerutu So Ri.

Gun Sook malah menangis, dia merasa sudah menikahi pria yang salah. Dia mau gila rasanya. Belakangan ini suaminya bertingkah sangat aneh.

Flashback,


Gun Sook keluar rumah diam-diam, mau menyelidiki rahasia suaminya, mengira Direktur Kim menyembunyikan sesuatu karena berselingkuh. Dia mencari-cari bukti didalam mobil suaminya. Anehnya mobil suaminya bersih tanpa apapun yang mencurigakan. Tapi kemudian, dibawah jok dia menemukan sebuah pulpen.


Tapi belum apa-apa, Direktur Kim keluar dan memergokinya. Gun Sook beralasan kalau dia cuma mau bersih-bersih mobil. Tapi tentu saja itu alasan yang sangat aneh, apalagi Direktur Kim melihat pulpen yang dipegangnya. Gun Sook tidak berpikir macam-macam dan santai saja membaca pulpen bertuliskan perayaan 30 tahun Happiness itu.

Direktur Kim sontak ngamuk-ngamuk menyadari ada bukti tertinggal di dalamnya. Gun Sook tentu saja ketakutan melihat tingkah gila suaminya. Apalagi Direktur Kim malah bersikap agresif berusaha merebut pulpen itu darinya. Gun Sook langsung panik melarikan diri dengan taksi.

Flashback end.


Begitulah bagaimana sekarang dia berakhir di rumah So Ri, dia benar-benar ketakutan pada suaminya. Gun Sook menunjukkan pulpen itu pada Ma Rin. Tentu saja Ma Rin keheranan karena pulpen itu milik yayasan tempat kerjanya. Tapi tidak banyak yang punya pulpen ini.

Gun Sook curiga, jangan-jangan suaminya berselingkuh dengan wanita yang bekerja di yayasan itu. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, seperti ini bukan masalah perselingkuhan. Tingkah suaminya benar-benar mengerikan seperti psikopat.

Ma Rin curiga, jangan-jangan Direktur Kim juga penjelajah waktu. Dia mencoba bertanya-tanya apakah Direktur Kim sering naik subway atau membawa pulang banyak barang-barang aneh atau apakah dia punya teman peneliti.

Tapi Gun Sook malah tambah bingung dengan pertanyaan Ma Rin. So Ri menduga mungkin seseorang tak sengaja menjatuhkannya di situ. Karena itulah Gun Sook heran, apa pentingnya pulpen ini sampai suaminya bertingkah seaneh itu.


Keesokan harinya, Ma Rin menatap pulpen yang sama dengan yang ditemukan Gun Sook semalam dengan keheranan. Manager Chen memberitahu mereka kalau Presdir Kehormatan mereka akan datang dalam rapat voting hari ini. Dia menasehati Ma Rin untuk bicara formal padanya nanti, siapa tahu dia lebih tua.

"Dia sungguh akan datang?"

"Kecuali dia ingin membubarkan Happiness, dia pasti akan datang."


Dalam perjalanan ke Happiness, Ki Doong penasaran siapa yang memberi informasi pada So Joon tentang Direktur Kim. Tapi So Joon tidak mau membahasnya sekarang. So Joon tampak gugup setibanya di depan gedung, tapi dia gengsi mengakuinya.

Se Young menjemput mereka masuk dan mendapati Ma Rin tengah menata jamuan. Se Young aneh melihat sikap canggung mereka, apa mereka sedang bertengkar. Mereka kontan menjawab barengan tapi jawabannya tak sama.


Manager Cheon datang dan langsung menggoda So Joon, mengira kalau So Joon datang untuk menemui Ma Rin.

"Ini Presdir Kehormatan mereka," sela Se Young.

"Dia sudah datang? Dimana?"

Semua orang menunjuk So Joon, tapi Manager Cheon tak percaya, mengira mereka cuma bercanda. So Joon berpaling ke Ma Rin, menanyakan dia harus duduk di mana. Ma Rin dengan cuek menyuruh So Joon duduk di tengah lalu pergi.

 

Para dewan direksi berkumpul tak lama kemudian, sama seperti Manager Chen, mereka juga kaget dan tak percaya melihat Presdir Kehormatan mereka ternyata masih muda. So Joon dengan rendah hati memberitahu mereka bahwa dia memulai yayasan ini karena dia mempercayai Ayah Se Young, dia hanya donatur tapi tidak mengetahui prosedut lainnya. Dia tidak tahu menahu dalam industri ini, karena itulah dia akan mempercayai opini mereka.


Di luar, Ki Doong mendapati Se Young menangis. Melihat So Joon datang hari ini, Ayahnya pasti senang. Seumur hidupnya Ayah berusaha membuat So Joon datang tapi tidak berhasil.

"Ahjussi pasti akan lebih senang melihatmu berada di sini," ujar Ki Doong. Terharus, Se Young langsung menangis dalam pelukan Ki Doong.


Mereka keluar tak lama kemudian. Tapi Ma Rin dimana? Se Young menyuruhnya menelepon saja dan kita semua makan bersama. Ki Doong langsung protes, So Joon dan Ma Rin sedang bertengkar, biarkan mereka sendiri dan beri mereka waktu untuk menyelesaikan masalah mereka.

"Kau dan aku, ayo kencan." Ki Doong langsung menarik Se Young pergi dari sana.


So Joon mencoba menelepon Ma Rin, tapi Ma Rin meninggalkan ponselnya di meja. Dia sendiri menyendiri ke atap, merenungkan saat So Joon bersikeras ke masa depan walaupun dia berusaha melarang. Dia hendak turun tak lama kemudian, tapi malah tak bisa membuka pintunya. Dia terkurung di sana. Mungkin dikira sudah tidak ada orang di gedung jadi pintu menuju atap digembok.


Semua pegawai keluar tak lama kemudian. So Joon pun langsung menanyakan keberadaan Ma Rin pada Manager Cheon. Tapi Manager Cheon bilang kalau didalam sudah tidak ada orang. Manager Cheon menawarkan diri untuk masuk dan mengecek ulang, tapi So Joon menolaknya dan masuk kembali mencari Ma Rin.

So Joon mencoba menelepon Ma Rin lagi dan kali ini dia mendengar suara ponselnya di dalam kantor. So Joon mulai cemas sekarang. Dia berusaha mencari-cari ke semua ruangan tapi tak ada.


Langit sudah gelap, Ma Rin panik berusaha menggedor-gedor pintu tapi tak ada yang menanggapinya. Saat dia menggigil kedinginan, dia melihat sebuah kotak kardus. Terpaksa akhirnya dia harus berlindung didalam kotak kardus itu sambil berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Tepat saat itu juga, dia mendengar suara So Joon memanggil-manggil namanya. Ma Rin pun langsung berteriak mengumumkan keberadaannya dan memotong omelan So Joon untuk mengeluarkannya saja dari sini.

So Joon pun segera menghubungi pihak keamanan. Ma Rin tidak mendengarnya menelepon dan mengira kalau So Joon berniat pergi meninggalkannya. So Joon meyakinkannya kalau dia masih di sini dan mencoba memberikan berbagai nasehat agar Ma Rin tetap hangat.


"Yoo So Joon, aku mau tanya sesuatu. Apa yang kau lihat di masa depan. Aku naik kemari dan terus memikirkannya sampai tidak mendengar suara pintu terkunci"

Kenapa sebenarnya So Joon tiba-tiba bersikap seperti ini kepadanya. Bagaimanapun dia mencoba memikirkannya, hanya ada satu kesimpulan. So Joon naik Subway itu dan melihat sesuatu yang buruk, kan? So Joon membenarkannya.

"Tapi kau tahu? Aku tidak ingin mengetahuinya. Aku tidak ingin mendengar masalah apa itu. Kau tahu apa yang kupikirkan sebelum tidur kemarin? Aku berharap esok tidak akan datang. Jika jadi sesulit ini, aku berharap esok tidak pernah datang. Aku tidak bisa menanggung ketakutanku akan esok hari. Untung aku masih bisa bernafas sekarang. Kau pasti merasa lega sekarang. Kau bahkan bisa mengatasi kegelisahan akan masa depan."


"Keadaan bisa jadi sulit untukmu di masa depan gara-gara aku"

"Kubilang aku tidak mau tahu."

Tapi So Joon tetap mengatakannya. Dia pernah bertemu Ma Rin di masa depan dan Ma Rin lah yang menyuruhnya kembali masa lalu untuk mengakhiri hubungan mereka. Ma Rin mengerti sekarang, jadi karena itu So Joon jadi dingin padanya?


Tukang kunci datang lama kemudian. Begitu pintu terbuka, So Joon berniat memberikan jasnya dan bertanya apakah Ma Rin baik-baik saja. Tapi Ma Rin menolak jasnya, dia tidak baik-baik saja, tidak senang karena Ma Rin bertemu wanita lain di masa depan.

Dia menempatkan tangan So Joon di wajahnya dan menegaskan kalau ini adalah dirinya. Ma Rin yang ada di hadapannya, bisa diraih dan disentuh, Ma Rin yang menatap So Joon. Dirinya di masa depan yang bicara omong kosong itu bukan dirinya.

So Joon memperingatkannya kalau keadaan akan jadi sulit di masa depan nanti, Ma Rin pasti akan menyesalinya. Ma Rin mengklaim kalau menghadapi sikap So Joon yang sekarang ini jauh lebih sulit dan lebih menakutkan. So Joon pilih salah satu. Dia yang sekarang atau dia masa depan?

"Aku tidak tahu, apa masa kini atau masa depan yang paling penting?"

"Kau masih perlu berpikir? Pikirkanlah! Dasar baj*ng*n tukang selingkuh!"


Dia langsung pergi lalu menelepon Ibunya dan menangis. Ibu yang tadinya sedang makan-makan, langsung pergi sambil mengumpati So Joon. Dia menelepon So Joon dan membentaknya untuk bertemu sekarang. Begitu So Joon datang, Ibu langsung menuduhnya berselingkuh.

Bingung, So Joon berusaha menjelaskan kalau dia tidak seperti itu. Tapi Ibu tidak mau dengar apapun dan terus nyerocos melabraknya. Ia bahkan langsung duduk di tengah jalan, menolak beranjak bangkit dari sana sampai So Joon bicara jujur padanya.


So Joon terus berusaha menjelaskan. Tapi Ibu malah makin heboh bahkan sampai memukuli So Joon, So Joon sampai harus memeluk Ibu mertuanya itu untuk menenangkannya. Dia meyakinkan Ibu kalau dia sungguh tidak berselingkuh, hanya Ma Rin yang dia punya, dia tidak bisa hidup tanpa Ma Rin. Dia hendak menjelaskan lebih lanjut saat tiba-tiba saja dia mulai mengerti dan langsung menanyakan keberadaan Ma Rin.


Ma Rin sedang menunggu di rumah sambil bertanya-tanya apakah dia sudah kelewatan. Tidak, So Joon memang perlu dipukul. So Joon pulang tak lama kemudian dan langsung marah-marah. Ma Rin tidak merasa bersalah. Dia sudah memikirkannya, minggat dari rumah itu tidak enak. Pokoknya sekarang dia tidak mau meninggalkan rumah ini. Kalau So Joon mau, dia saja yang ergi

"Maksudmu, tidak masalah kalau aku yang kesulitan?"

"Kalau begitu pilihlah. Dunia itu atau di sini? Masa depan yang tidak bisa kau sentuh atau aku? Dia atau aku."
 
"Tentu saja kau," jawab So Joon lalu mencium Ma Rin.

Bersambung ke episode 13

4 comments

Ahir episodenya maniiis...kita liat ada apalagi minggu depan..makasih recapnya..

Gereget��������

Wah makin seru aja, d tunggu kelanjutan y....

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon