Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Tomorrow With You Episode 14 - 1

 

Direktur Kim menghampiri So Joon di subway. Jelas saja So Joon langsung shock dan panik, dia berusaha menghindar tapi Direktur Kim mencengkeram tangannya. Tepat saat itu juga, kereta memasuki terowongan dan kereta berubah remang-remang.

So Joon akhirnya hanya bisa memejamkan matanya berusaha menahan kesal tepat saat dia menghilang dan muncul di masa depan sambil mengumpat kesal.

Direktur Kim jelas saja langsung shock dan celingukan mencari So Joon. Begitu kereta tiba, dia keluar dengan langkah sempoyongan. Masih shock dengan kejadian aneh barusan, apa yang terjadi? Bagaimana bisa manusia menghilang begitu saja?


Ma Rin dan Gun Sook mengambil memori blackbox mobilnya Direktur Kim. Gun Sook meminta Ma Rin untuk langsung memberikannya padanya begitu dia berhasil merestorasi datanya itu. Sebaikya Ma Rin jangan melihatnya duluan, entah apa yang ada di dalamnya.

Ma Rin mengerti, "Kita berharap saja kalau kita melakukan ini hanya untuk mengkonfirmasi tidak apapun. Aku akan menghubungimu nanti."


Ma Rin berjalan ke rumahnya sambil masih menatap memori yang di tangannya itu. Tapi di sana, dia malah mendapati Direktur Kim sedang menunggunya dan langsung menghampirinya. Ma Rin sontak panik menyembunyikan memori-nya. Direktur Kim pura-pura beralasan kalau dia ingin bertemu So Joon, ada urusan penting, dan bersikeras ingin menunggu di dalam sampai So Joon kembali.

Ma Rin tidak bisa menolaknya, jadi terpaksa dia harus menjamunya. Dia berusaha bertanya urusan penting apa yang mau dia bicarakan dengan So Joon. Direktur Kim mengaku kalau tadi dia bertemu So Joon di subway, tapi tiba-tiba saja So Joon menghilang.


Ma Rin sempat agak panik, tapi dia cepat-cepat menanggapi seolah itu hal konyol. Direktur Kim juga merasa itu tidak masuk akal, tapi itu terjadi tepat di hadapan matanya, bahkan saat dia menggenggam tangan So Joon. Suaminya Ma Rin bukan orang normal, kan?

Ma Rin tetap tersenyum tenang, tentu saja So Joon tidak normal, suaminya adalah orang yang sangat istimewa baginya. Dia berusaha menertawai kekonyolan ini, tapi reaksinya yang tampak jelas terlalu dipaksakan itu jelas membuat Direktur Kim curiga, sepertinya Ma Rin mengetahui semuanya.

Ma Rin tetap tersenyum polos dan berusaha mengusir Direktur Kim dengan alasan kalau Ibunya mau datang. Direktur Kim akhirnya mau juga pergi.


So Joon baru pulang malam harinya. So Joon langsung ngomel-ngomel saat Ma Rin melaporkan kedatangan Direktur Kim, bagaimana bisa Ma Rin membiarkan sembarang orang masuk rumah.

Mereka terus bicara tanpa menyadari kalau Direktur Kim mendengarnya percakapan mereka melalui alat sadap yang dipasangnya saat dia masuk rumah mereka tadi. Celakanya, Ma Rin bahkan bilang kalau So Joon adalah penjelajah waktu yang bisa pergi ke masa depan dengan naik subway.

So Joon meyakinkan Ma Rin untuk tidak cemas, kalaupun Direktur Kim memberitahu orang lain, siapa juga yang akan mempercayainya. Lagipula dia yakin pikiran Direktur Kim sedang tidak beres setelah dipecat dan pekerjaan yang dilakukannya gagal.


Ma Rin kaget mendengarnya, Gun Sook tidak bilang apa-apa kalau Direktur Kim dipecat. Apa gara-gara itu Direktur Kim ingin pergi ke Vietnam. Dia memberitahu So Joon kalau Direktur Kim memaksa Gun Sook untuk ikut pergi ke Vietnam tanpa alasan yang jelas.

Tapi Ma Rin merasa ada alasan lain dibalik keinginan Direktur Kim pergi ke Vietnam. So Joon terkejut mendengarnya, alasan apa? Ma Rin tidak yakin jadi dia tidak mau menjawabnya sekarang dan mendorong So Joon masuk kamar mandi. Direktur Kim pun tidak mendengar apa-apa lagi setelah itu.


Saat mereka berbaring bersama, So Joon tampak gelisah walaupun dia bersikap sok cuek, seolah dia tak peduli biarkan Direktur Kim mengetahui rahasianya. Ma Rin langsung menoelnya tak percaya, So Joon sebenarnya takut, kan? So Joon akhirnya jujur mengaku, sedikit.

"Aduh, duh, duh. Kau takut, yah?" goda Ma Rin.

"Jangan macam-macam denganku." gerutu So Joon walaupun sebenarnya dia suka.


Ma Rin tiba-tiba cemas, bagaimana kalau So Joon diseret ke Amerika lalu dikurung dan dibedah kayak alien yang hendak dijadikan obyek penelitian. Kalau So Joon sampai ketahuan sebagai penjelajah waktu, orang-orang Amerika pasti akan shock.

"Mereka selalu berpikir kalau orang-orang yang punya kekuatan super itu orang Amerika. Augh! Seandainya saja aku bisa menunjukkannya pada mereka. Haruskah kita ekspos saja? Haruskah kita meningkatkan martabat negara kita?"


So Joon langsung mendorong Ma Rin kembali ke kasur dan mendekapnya. Dia berusaha membuat Ma Rin diam, tapi Ma Rin terus saja nyerocos cemas. So Joon sampai harus membungkam mulutnya dan memeluknya makin erat agar Ma Rin tidur. Saat Ma Rin akhirnya tertidur, So Joon masih gelisah dan tak bisa memejamkan matanya.


Dia lalu keluar untuk menelepon Direktur Kim untuk mengkonfrontasi kedatangannya ke rumahnya tadi. Direktur Kim kesal mendengarnya, memangnya So Joon pikir dia masih pegawainya. Kesal, So Joon langsung menantangnya berkelahi. Direktur Kim mendengus, So Joon kan tidak normal, jadi bagaimana bisa dia berkelahi dengan So Joon.

"Kurasa kau juga tidak normal, Direktur Kim."

"Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Dunia ini benar-benar... tidak adil. Benar-benar sialan dan tidak adil. Aku harus menerima itu begitu saja, kan? Seperti yang kau bilang, aku punya banyak hal yang harus kucemaskan."

"Hei! Jangan mendekatiku, ataupun rumahku. Jangan berkeliaran di sekitarku"

So Joon langsung mematikan teleponnya setelah itu, membuat Direktur Kim langsung meraung kesal.


Keesokan harinya, So Joon terburu-buru masuk kantor sambil menanyakan perkembangan penyelidikan Direktur Kim. Sayangnya, tak ada informasi lain yang bisa Ki Doong dapatkan selain kasus penggelapan. Saat ini mereka sedang menyelidiki gedung yang dikelola Direktur Kim.

So Joon cemas setelah mengetahui Direktur Kim punya rencana ke Vietnam, entah apakah dia mau ke sana untuk emigrasi atau melarikan diri. Ki Doong juga terkejut mendengarnya. Kalau begitu mereka harus mengumpulkan semua bukti tentang penggelapan yang dilakukan Direktur Kim lalu menyerahkannya pada polisi. Begitu surat dakwaan diajukan maka polisi pasti akan mulai melakukan investigasi.

So Joon setuju. Tapi tetap saja dia tidak bisa menghilangkan firasat buruk menyangkut Direktur Kim. Dia meminta Ki Doong yang mengurus masalah itu dan memutuskan untuk pergi saja, dia tidak mau buang-buang waktunya yang berharga hanya untuk mengurusi si kunyuk itu.

"Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan waktuku?" protes Ki Doong, tapi So Joon langsung pergi mengacuhkannya.


Gun Sook memanggil Sekretaris Hwang dan mengaku kalau Direktur Kim sudah membelikan tiket pesawat untuknya. Direktur Kim menyuruhnya untuk pergi duluan, tapi dia tetap tidak mau pergi. Dia memanggil Sekretaris Hwang karena penasaran untuk menanyakan apakah suaminya punya tanah.

Direktur Kim berkata padanya kalau dia punya banyak tanah dan sekarang ini dia sedang menjualnya dengan harga murah, dia bahkan bilang kalau dia akan menyusul setelah selesai menjual semua tanahnya. Apa Direktur Kim punya banyak aset yang tidak dia ketahui?

Sekretaris Hwang menduga kalau yang Gun Sook maksud mungkin tentang Kota Jangho. Tapi dia menolak mengatakan apapun lebih lanjut dan protes meminta Gun Sook untuk tidak meneleponnya terus. Tiba-tiba mereka kedatangan tamu yang langsung menerobos masuk.


Seorang Nyonya konglomerat masuk bersama serombongan pengawalnya sambil marah-marah dan menyuruh mereka untuk menyita semua benda berharga di rumah ini. Nyonya itu dengan kesal menyatakan kalau dia akan memasukkan Direktur Kim kedalam penjara atas tuduhan penipuan. Atau kalau tidak, suruh Direktur Kim mengembalikan uangnya. Gun Sook langsung terjatuh kembali ke kursinya, shock.


Ki Doong menemui seseorang untuk menyelidiki penjualan beberapa gedung yang dilakukan Direktur Kim. Tapi pria itu berkata tak ada gedung apapun yang dijual dan tidak pula ada orang-orang yang datang melihat-lihat gedung. Saat ditanya apakah Direktur Kim pernah datang kemari, pria itu agak kesal karena Direktur Kim itu selalu menelepon dan membicarakan masalah uang.


Ki Doong akhirnya berjalan pergi sambil menggerutu kesal. Dia memutuskan mengalihkan perhatiannya dengan menelepon Se Young dan berbohong mengatakan kalau dia ada didekat kantornya Se Young sekarang dan mengajak Se Young ketemuan untuk ngopi.

Se Young sedang ada di jalan saat itu. Tapi dia juga berbohong, berkata kalau dia sedang sibuk bekerja sekarang. Ki Doong bersikeras ingin ketemuan. Se Young setuju, Ki Doong tunggu saja di cafe biasanya.

Tapi begitu saling mematikan telepon, keduanya langsung bingung karena mereka sama-sama berada jauh dari tempat ketemuan mereka. Mereka akhirnya berlari, berusaha mengejar waktu dan menutupi kebohongan masing-masing.


Sesampainya di cafe, Se Young ngos-ngosan dan beralasan kalau dia tadi harus memindahkan banyak barang-barang berat. Tapi dia memperhatikan Ki Doong juga keringatan. Ki Doong beralasan kalau dia cuma agak kurang enak badan. Se Young haus dan meminta Ki Doong memesankan es kopi.

Tapi saat Ki Doong bangkit mau ke kasir, dia malah melihat Se Young diam-diam tersenyum geli. Ki Doong jadi curiga, Se Young tadi tidak ada di kantor, kan? Se Young balas mengkonfrontasinya, Ki Doong juga sepertinya tidak berada di sekitar kantornya tadi. Apa dia lari dari suatu tempat yang jauh? Se Young kok tahu? Dia seperti melakukan yang sama?


Se Young gotot tidak mau mengaku, tapi Ki Doong terus mengusiknya sampai akhirnya dia mengaku jujur. Ki Doong langsung meletakkan tangan Se Young di dadanya yang saat ini sedang berdebar kencang dan jujur mengaku kalau dia barusan lari sampai jantungnya serasa mau meledak.

"Aku benar-benar senang sekarang."

"Apa yang membuatmu bahagia?" protes Se Young malu-malu.

"Kau lari ke sini untuk bertemu denganku. Aku sangat senang."


Ma Rin mendatangi teknisi untuk merestorasi data memori blackbox-nya Direktur Kim, khususnya tanggal 27 Oktober. Tapi Teknisi mengaku kalau data blackbox biasanya lebih sulit direstorasi, ada sih caranya tapi biasanya mahal. Ma Rin tidak masalah, kapan kira-kira bisa selesai? Teknisi memperkirakan mungkin sekitar akhir bulan ini.

Ma Rin langsung mencatat tanggal 30 November lalu pergi. Pokoknya dia harus memastikannya dulu sebelum memberitahu So Joon. Tiba-tiba dia ditelepon pengacaranya So Joon.


Mereka bertemu di cafe untuk membicarakan pembagian aset. Ma Rin tidak mengerti apa maksudnya. Loh, Pengacara bingung, So Joon tidak memberitahu Ma Rin tentang masalah ini? So Joon akan memberitahu setengah dari aset kekayaannya untuk Ma Rin.

"Aku tidak pernah dengar soal itu."

"Ah, ia bahkan tidak pamer soal itu. Ketua pasti sudah sangat jatuh cinta pada anda. Pasti begitu. Sebenarnya kalian ini masih pengantin baru, ia membagi asetnya dengan anda itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Seolah dia sudah tahu saja kapan dia akan mati."

Niatnya sih bercanda, tapi Ma Rin sama sekali tidak merasa lucu dengan ucapannya. Mulai serius, Pengacara memberitahu bahwa ada yang dia perlukan dari Ma Rin, seperti fotokopi identitas dan stempel. Ma Rin langsung menyelanya dan berkata kalau dia harus membicarakan masalah ini dengan So Joon dulu.


So Joon sendiri sedang menemui Ibu untuk menanyakan Ayahnya Ma Rin dan mengusulkan agar mereka mencari Ayahnya Ma Rin. Awalnya Ibu sok cuek, tapi dia penasaran apakah Ma Rin ingin mencari Ayahnya. Dia tidak bilang sih, tapi So Joon yakin kalau Ma Rin pasti ingin mencari Ayahnya dan mengetahui segala sesuatu tentangnya.

Kalau begitu, Ibu menyuruh So Joon untuk menanyakannya dulu saja pada Ma Rin. Jika Ma Rin memang ingin menemukan Ayahnya maka dia tidak akan menghentikannya. Dia tidak mau melakukan ini secara diam-diam, Ma Rin bisa mengamuk nanti. So Joon tertawa, dia mengerti maksud Ibu soalnya Ma Rin juga sering mengamuk padanya.


Keluar dari restoran, Ibu mengaku malu karena tidak pernah melakukan apa-apa sebagai mertua. So Joon menyelanya dengan memanggilnya, "Omma, tidak masalah. Ibu bilang aku anakmu. Ibu selalu memanggilku 'anakku, anakku'. Aku juga punya banyak kekesalan."

Senang mendengar ucapan manis So Joon, Ibu langsung mendekapnya sayang, "Anakku yang manis."


So Joon pulang dengan riang dan mendapati Ma Rin melamun di ruang belajar. So Joon penasaran, apa yang Ma Rin pikirkan? Apa terjadi sesuatu yang buruk? Ma Rin tidak mengatakan apapun, tapi dia menyadari sikap So Joon agak aneh. Apalagi saat tiba-tiba saja So Joon merayunya, seperti ada maunya.

So Joon menyangkal. Tapi kemudian dia mengaku kalau dia ingin membantu mencari Ayahnya Ma Rin dan ingin tahu apa pendapat Ma Rin. Ma Rin tercengang mendengarnya, kenapa So Joon tiba-tiba ingin mencari Ayahnya? Ma Rin kan tidak bisa selamanya tidak mencarinya.


Ma Rin semakin heran dengan sikap So Joon, ada apa dengannya? Apa dia mau pergi? So Joon berusaha berkelit, tapi Ma Rin mengingatkan So Joon kalau sekarang dia istri So Joon dan sekarang dia bahkan bisa membaca So Joon hanya dengan melihat matanya.

"Apa ada sesuatu lagi diantara kita?"

So Joon menyangkal. Tapi Ma Rin mengaku kalau tadi dia bertemu dengan Pengacaranya So Joon dan dia mengatakan sesuatu tentang pembagian aset. So Joon heran, bukankah Ma Rin seharusnya senang karena dia membagikan miliknya dengan Ma Rin.
 
Tapi kenapa mendadak? So Joon juga bersikap terlalu baik padanya belakangan ini dan sekarang dia bilang mau mencari Ayahnya. So Joon mengklaim kalau dia baik pada Ma Rin karena dia hanya merasa belum jadi suami yang baik bagi Ma Rin.


Dia hanya ingin Ma Rin jatuh cinta padanya sedalam-dalamnya, dengan begitu dia bisa merasa bangga. Ma Rin masih ragu, tapi So Joon terus berusaha meyakinkan hingga akhirnya Ma Rin benar-benar mempercayainya. Dia akhirnya mendesah lega tanpa menyadari wajah cemas So Joon.


"Jangan terlalu baik padaku. Jangan serahkan milikmu padaku. Jangan beri aku hadiah."

"Kalau begitu, haruskah aku bernafas saja di sampingmu?"

Ma Rin mengangguk. Karena So Joon terlalu baik padanya, dia jadi tergila-gila pada So Joon setiap hari. Dia hanya ingin mereka melakukan segala hal bersama-sama, itu saja sudah cukup bagi Ma Rin. "Jangan membuatku takut dengan melakukan hal-hal aneh."

So Joon membelai sayang kepala Ma Rin, "Bagaimana bisa kau bisa hidup tanpaku?"

Ma Rin langsung protes, "Bagaimana bisa aku hidup tanpamu? Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh."

Bersambung ke part 2

2 comments

So sweet dahhh... fighting mba ima...

Kan drama tomorrow with yoy nya udah beres, ada niatan buat nulis drama yo ah in engga teh? 😍

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon