Powered by Blogger.

Images Credit: tvN
Sinospsis Introverted Boss Episode 16 - 1


Tuan Eun kaget mendengar bentakan Hwan Ki, apa dia barusan membentaknya? Jadi Tuan Eun mendengarkannya sekarang? balas Hwan Ki. Selama ini Tuan Eun selalu membungkam mulut orang lain dan hanya ingin suaranya sendiri yang didengar.

Yah, dia tahu kalau Tuan Eun melakukan semua itu untuknya. Bahkan selama ini Hwan Ki selalu menyalahkan dirinya sendiri, malu dan tidak mengerti apa yang salah dalam dirinya.

"Tapi... bagaimana bisa Ayah begitu tidak tahu malu?"

Woo Il bergegas menemui Hwan Ki dan berkata kalau dia sudah bicara pada reporter dalam perjalanannya kemari, dia memberitahu mereka untuk menunggu pengumuman resmi dari perusahaan. Tapi Hwan Ki tanpa semangat meminta Woo Il untuk berhenti untuk menutupi segala sesuatu apalagi menghindari masalah.

"Aku akan bertanggungjawab dan mengundurkan diri. Lindungilah perusahaan ini, itulah solusi terbaik."

"Kalau begitu, biarkan aku saja yang bertanggungjawab. Akulah yang mengurusi segala hal curang untuk Ayah"

Hwan Ki menegaskan, Tuan Eun adalah Ayahnya jadi dialah yang harus bertanggungjawab. Selain itu, dia memanggil Woo Il kembali adalah untuk menyerahkan perusahaan ini pada Woo Il. Woo Il merasa tidak berhak untuk itu, tapi Hwan Ki langsung memeluknya, "Aku mempercayaimu. Kau satu-satunya yang bisa menyelamatkan perusahaan."


Ayah termenung sedih menatap sepatu Ji Hye. Ro Woon pun sedih menatap kalung pemberian Hwan Ki. Saat mendengar Ayah masuk, dia pun buru-buru menyembunyikannya. Ayah memintanya untuk pergi, Ayah ingin melupakan segalanya dan menjalani hidupnya sendiri.

Ro Woon tidak mau. Bagaimana bisa dia melupakan segalanya, 'Jihye Rowoon' bahkan nama mereka saja tak terpisahkan. Ayah menyangkal, ia memberi nama Ro Woon bukan bermaksud untuk menyandingkannya dengan nama Ji Hye, tapi karena ia ingin Ro Woon menjalani hidup menyenangkan.

Ayah tidak ingin Ro Woon menjalani hidup terkungkung seperti dirinya, ia ingin Ro Woon keluar dan hidup bersama dengan orang-orang yang menghargai Ro Woon. Ro Woon berkaca-kaca penuh haru mendengar perkataan Ayah.

"Pergilah dengan senyum dan bukan air mata. Kau jelek kalau nangis"

Tersenyum dalam air matanya, Ro Woon pun bangkit dan memeluk Ayah.


Hwan Ki mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantornya yang penuh kenangan dengan Ro Woon dan semua timnya. Dia tersenyum mengingat semua kenangan itu lalu keluar. Tapi Tim Silent Monster tiba-tiba muncul menghadangnya dan berusaha membujuknya untuk membatalkan pengunduran dirinya.

Tapi Hwan Ki sudah membulatkan keputusannya. Dia meminta maaf karena tidak bisa bersama mereka sampai akhir, berkat merekalah dia bisa berubah. Tidak, Hwan Ki lah yang membantu mereka berubah dan berkembang. Jika Hwan Ki pergi, siapa yang akan mempercayai mereka.


"Tolong jangan pergi," isak Gyo Ri. Semua orang ikut sedih mendengarnya. Hwan Ki pun sedih, tapi dia berusaha menahannya dan pamitan. Mereka pun memeluk Hwan Ki dengan berlinang air mata.


Hwan Ki lalu pergi ke jalan yang pernah dilewatinya bersama Ro Woon, teringat akan kenangannya bersama Ro Woon di sana pada hari bersalju dulu. Saat dia tengah melamun sedih, sebuah mobil tiba-tiba menubruknya dari belakang, sengaja. Hwan Ki sampai kaget dibuatnya.

Dari spion, dia melihat Ro Woon keluar dari mobil itu dan langsung menuntutnya keluar. Begitu Hwan Ki keluar, Ro Woon menyalahkan Hwan Ki dan berkata, "Seberapa keraspun aku berusaha untuk jaga jarak darimu... aku tidak bisa menjauh darimu."


Air mata Hwan Ki menitik mendengarnya. Dia langsung memeluk Ro Woon dan menciumnya mesra.

 

Keesokan harinya, Hwan Ki joging sendirian. Dia tengah istirahat menenangkan nafasnya, saat Ro Woon tiba-tiba menarik hoodie-nya dan protes karena Hwan Ki joging sendirian dan tidak membangunkannya, dia kan juga ingin ikut. Kalau begitu Ro Woon jangan menendangnya saat dia berusaha membangunkan Ro Woon, dengus Hwan Ki. Ro Woon jadi malu, dia begitu, yah?

"Dia sendirian bahkan sekalipun kami bersama," batin Ro Woon.

Episode 16: Tidak Masalah Jadi Pemalu.


Beberapa saat kemudian, Ro Woon menggedor-gedor pintu kamar mereka dengan panik, ada masalah besar, cepat keluar! Hwan Ki jadi cemas, ada masalah apa?

"Aku bosan," kata Ro Woon. Aigoo, dasar! Hwan Ki langsung mencubit pipi chubby Ro Woon dengan gemas.

Ro Woon serius, dia bosan setengah mati. Hwan Ki selalu saja mengurung diri didalam kamarnya, sudah berapa hari ini? Hwan Ki memang kemari biar bosan, kok. Dia lalu kembali ke kasurnya dan melanjutkan acara baca bukunya. Huft! Ro Woon sebel banget melihatnya. Baiklah, dia akan membosankan dirinya kalau begitu.


Akhirnya Ro Woon menghabiskan waktu bosannya dengan membawa komik sambil ngemil di atas kasur yang jelas aja membuat kasur jadi berantakan dan kotor. Hwan Ki sampai shock melihatnya, mana Ro Woon belum mandi lagi, bagaimana bisa dia bergulingan diatas kasur dengan memakai baju luar ruangan.

Pikirannya langsung sibuk berpikir antara ingin memberitahu Ro Woon tapi juga tak ingin merusak waktu bahagianya bersama Ro Woon. Tapi nanti malam dia harus tidur di kasur itu. Bagaimana bisa dia tidur di kasur yang kotor dan banyak kumannya?

Dia musti gimana, dong? Apa sebaiknya dia menyuruh Ro Woon untuk mandi saja? Tapi kalau dia suruh mandi, takutnya Ro Woon malah akan mulai menggodanya. Ro Woon pasti akan menganggapnya punya pikiran mes*m.


Ro Woon melihatnya menggalau, apa ada yang mau Hwan Ki katakan? Ah, Hwan Ki punya ide, lebih baik dia membuat Ro Woon keluar lalu membersihkan selimutnya selama Ro Woon pergi. Hwan Ki pun mencoba membujuknya untuk jalan-jalan di luar, cuacanya hangat. Tapi Ro Woon tidak mau.

Katanya Ro Woon bosan. Hwan Ki sendiri kan yang menyuruhnya untuk tetap bosan, dia sangat bosan sekarang. Gagal, deh. Tak menyerah begitu saja, Hwan Ki mencoba mengajak Ro Woon untuk bermain Jenga, yang kalah harus mengabulkan permohonan yang menang.


Ro Woon akhirnya setuju. Hwan Ki main dengan sangat serius, bahkan berusaha menakut-nakuti Ro Woon biar dia kalah hingga Ro Woon benar-benar kalah dan Hwan Ki sontak bersorak kegirangan. Ro Woon sampai heran melihat betapa senangnya Hwan Ki, memangnya apa permohonannya?

Hwan Ki menatapnya dengan tatapan licik... dan beberapa saat kemudian, dia mencorat-coret mukanya Ro Woon jadi jelek banget dan memotretnya. Tentu saja semua itu cuma alasan biar Ro Woon mau mandi, tapi Ro Woon malah sibuk mengagumi gambar muka coret-moretnya dan memutuskan mau tidur dengan muka seperti ini saja. Dia bahkan bersikeras mau main ronde kedua.


Beberapa saat kemudian, Ro Woon benar-benar tidur dengan muka coret-moretnya tanpa selimut karena sekarang selimut itu sedang dijemur di pagar jembatan kolam. Hwan Ki pun menoleh... dengan muka coret-moret. wkwkwk.

Sambil menepuki selimutnya dengan rasa kesal membuncah, dia teringat permohonan Ro Woon saat menang tadi. Dia ingin mereka berdua tidur dengan muka seperti ini dan besok bangun tidur langsung keluar dengan muka seperti ini juga.


Keesokan harinya, Ro Woon berdendang riang sepanjang perjalanan. Tiba-tiba dia merasa lapar dan mengambil sebungkus snack. Hwan Ki sontak panik, apalagi Ro Woon membuka snack-nya masih sambil joget-joget dan jadilah snack itu tumpah kemana-mana.

Parahnya lagi, Ro Woon merasa sayang membuang-buang makanan dan memakan chips yang terjatuh ke lantai mobil. Dia bahkan tak peduli dengan reremahan yang berceceran di celananya. Hwan Ki yang cinta kebersihan jelas kesal melihat tingkah. Kemarin dia membuat kasur mereka kotor dan penuh kuman dan sekarang mobilnya. Apa Ro Woon tahu apa arti mobil bagi pria?

"Haruskah aku memberitahunya untuk tidak makan di sini? Tapi aku bisa terlihat picik. Dia juga tampak senang sekali hari ini."


Ro Woon mencoba menyuapinya, tapi Hwan Ki menolak. Ro Woon heran, ada apa sebenarnya dengan Hwan Ki. Ayo, katakan. Tapi Hwan Ki tetap diam. Ro Woon terus berusaha memaksa Hwan Ki makan chips sampai akhirnya Hwan Ki tak tahan lagi dan menepi. Ro Woon menyusulnya keluar, senang karena akhirnya Hwan Ki mau membuka diri.

"Apa aku boleh jujur?"

"Tentu, silahkan."

"Jangan menggangguku saat aku sedang menyetir, aku tidak bisa fokus. Itu berbahaya bahkan bagi pengemudi handal sekalipun. Keamanan itu pertama dan utama di jalan."

Ro Woon jadi merasa bersalah, "Aku mengganggu, yah?"

Mumpung dia lagi jujur, sekalian dia memprotes semua hal yang tidak dia sukai dari Ro Woon. Mulai dari Ro Woon yang tidak mandi dulu sebelum tidur sampai saat Ro Woon tidak pernah fokus setiap kali nonton TV dan tanya ini-itu padanya. Mulai kesal, Ro Woon mengklaim kalau dia juga banyak keluhan tentang Hwan Ki.


"Apa? Apa? Apa?" tantang Hwan Ki.

"Kau..." Ro Woon malah bingung "kau... menyebalkan"

"Tidak mungkin kau akan menyimpan sesuatu dalam hatimu. Kau selalu bicara sebelum berpikir."

Oopps, Hwan Ki keceplosan. Ro Woon jelas langsung tersinggung mendengarnya. Hwan Ki berusaha memperbaiki kesalahannya. Tapi Ro Woon sudah terlanjur marah dan menolak masuk ke mobilnya Hwan Ki lagi. Dia langsung berlalu pergi. Padahal diam-diam dia berharap Hwan Ki akan menghentikannya.


Tapi setelah beberapa langkah, dia mulai heran karena Hwan Ki tidak menghentikannya. Dia malah melihat Hwan Ki kembali ke mobilnya dan pergi meninggalkannya begitu saja.


Tapi tak lama kemudian, dia melihat Hwan Ki berjalan ke arahnya. Ro Woon sontak menangis. Hwan Ki berkata kalau tidak bermaksud meninggalkan Ro Woon, dia hanya harus memarkir mobilnya di tempat yang benar. Biarpun begitu, tidak seharusnya Hwan Ki meninggalkannya begitu saja. Hwan Ki langsung memeluk Ro Woon dan berusaha menenangkannya.

"Aku tidak tahu kalau kau menahan semua itu dalam hati. Aku menyukai segala hal tentangmu. Bahkan sekalipun kau bertanya, aku tidak bisa menemukan apapun yang tidak kusukai darimu. Hanya aku sendirian yang tersenyum, kau tidak bersenang-senang sedikitpun."

"Aku tidak bermaksud begitu. Aku juga bahagia. Aku sangat bahagia sampai merasa bersalah. Hanya saja kita berbeda, kita bisa mulai saling menyesuaikan diri."


Mereka kemudian duduk di pantai. Ro Woon senang karena ini pertama kalinya mereka bertengkar tentang hal-hal sepele seperti pasangan pada umumnya. Hwan Ki mengakui kalau Ro Woon telah mengubahnya jadi orang biasa. Dia berpikir jika dia menerima segalanya tanpa mengeluh maka setidaknya sisi piciknya tidak akan kelihatan. Tapi sekarang Ro Woon sudah melihat semuanya.

Tapi hwan Ki masih belum mengatakan apa yang benar-benar dia inginkan ataupun apa yang harus dia katakan. Memangnya apa lagi yang ingin Ro Woon dengar. Segala hal yang Hwan Ki khawatirkan. Orang-orang yang Hwan Ki tinggalkan, misalnya. Mau berapa lama Hwan Ki akan sendirian terus.


Dia tidak sendirian, Ro Woon kan bersamanya. "Aku selalu sendirian sampai saat aku bertemu denganmu. Aku selalu tinggal di tempat yang sama dan ragu-ragu. Tapi kau membuatku berlari. Kau berlari ke arahku tanpa ragu. Kau membuka hatiku yang selama ini tertutup dan membawaku keluar."

"Itu karena kau mendengar ketukanku. Tidak, aku tidak mengetuk. Aku menendang pintunya dan menggedornya dengan kasar. Aku menjatuhkanmu demi dendam. Tapi bahkan dengan mengetahui semua itu, kau membiarkanku melakukannya. Sekarang kau akhirnya melangkah keluar dari pintu itu."

"Karena itulah pikirkan saja tentang kita. Selama ini kita selalu mendahulukan orang lain daripada diri kita sendiri. Walaupun kita selalu sendirian, kita tidak pernah benar-benar sendirian"

"Dan kau mengisolasi dirimu lagi karena aku."

"Aku hanya ingin bersama dengan satu orang."


Tapi Hwan Ki meninggalkannya seorang diri di jalanan biar dia tidak menyusahkan orang lain, protes Ro Woon. Tapi Hwan Ki memang seperti itu, dia selalu menjaga orang-orang terdekatnya. Dia berbeda dari Hwan Ki karena dia harus selalu memastikan semu pintu terbuka lebar.

Dia mengaku kalau dia sudah membuat Hwan Ki dalam masalah sambil menunjuk ke sebelah. Hwan Ki menoleh dan mendapati Woo Il datang bersama Yi Soo.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon