Powered by Blogger.

 Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 1 - 2


Kembali ke rumah, Se Joo mendapat beberapa surat. Yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah amplop biru yang anehnya tidak ada nama pengirimnya. Saat dia membukanya, dia mendapati isinya adalah posternya yang berlubang bekas beberapa peluru. Sepertinya dikirim oleh si pria misterius. Se Joo mendesah kesal tapi langsung mengacuhkannya.

Jeon Seol tiba di depan rumah Se Joo dan langsung terkagum-kagum melihat rumah mewah bak istana ini. Sungguh tak percaya saat ini dia sedang berada di depan rumah Se Joo. Dia jadi gugup sendiri karenanya. Dia hendak memencet bel, tapi akhirnya memutuskan untuk dandan dulu biar cantik untuk Se Joo.



Se Joo baru saja keluar dari kamar mandi lalu membuka fortune cookie-nya. Didalamnya dia menemukan sebuah kertas bertuliskan, "Dewi inspirasi itu seperti hantu. Kadang, mereka muncul tanpa diundang - (Stephen King)."

Meremehkan kutipan itu, Se Joo langsung mmebuang kertas itu ke tong sampah. Tapi tiba-tiba dia merasa ada sesuatu atau seseorang di luar jendelanya. Dia hendak mengeceknya saat bel rumahnya tiba-tiba berbunyi.


Seol berlatih mengucapkan sapaannya dalam berbagai nada-nada manis. Tapi saat Se Joo menyapanya lewat interkom, Jeon Seol kontan kaget dan refleks berteriak lantang "Ada kiriman untukmu!"

Wkwkwk. Gagal deh rencananya. Malu, dia langsung menundukkan kepalanya dan membuat Se Joo keheranan melihatnya. Dia malas keluar dan meminta Jeon Seol untuk meninggalkannya di depan pintu saja.

Tapi Seol menolak melakukannya, bersikeras mau memastikan barang itu sampai langsung ke tangan Se Joo karena itulah permintaan kliennya. Se Joo sendiri tetap bersikeras dengan keputusannya dan langsung mematikan interkom-nya.


Frustasi karena gagal bertemu sang idola, Seol terduduk lesu di depan pagar sambil menggerutui nasibnya. Sepertinya di kehidupannya sebelumnya dia adalah pengkhianat bangsa. Saat dia meringkuk meratapi dirinya, seekor anjing muncul entah dari mana dan berlari menghampirinya.

Seol sampai kaget sendiri melihat ada anjing tiba-tiba ada di depan matanya. Dia langsung membelai sayang anjing itu, mengira dia anjingnya Se Joo. "Aku jadi iri kau tinggal di rumah ini? Aku juga ingin tinggal di sini. Aku ingin melihat ruangan yang biasanya dia pakai menulis."

Tiba-tiba saja pintu pagar terbuka dengan sendirinya dan anjing itu langsung melangkah masuk. Anjing itu lalu menoleh ke Seol seolah mengundang Jeon Seol masuk. Mengira anjing itu menginginkannya masuk, Seol pun langsung masuk sambil membawa kotak barangnya.


Se Joo hendak memasang USB-nya saat tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan suara Jeon Seol. Dia akhirnya urung dan menutup kembali USB-nya yang berbentuk tulang kecil itu.

Seol langsung tersenyum lebar melihat wajah Se Joo nongol dari pintu. Tapi Se Joo menatapnya curiga, bagaimana dia bisa masuk? Seol bingung sendiri mendengar pertanyan itu, kan Se Joo sendiri yang membuka pintu. Se Joo heran, dia yang buka pintu?

"Kau siapa sebenarnya? Penguntit?"

"Maaf, aku seharusnya memperkenalkan diriku lebih dulu."


Dia hendak mengeluarkan sesuatu dari sakunya, tapi Se Joo langsung menghentikannya. Mungkin curiga kalau Seol akan mengeluarkan sesuatu yang berbahaya, Se Joo berusaha menakuti Seol dengan mengklaim dirinya menguasai ilmu bela diri jadi sebaiknya Jeon Seol berpikir ulang jika dia mau mengeluarkan apapun yang ingin dikleuarkannya dari sakunya itu.

"Kau akan dimintai pertanggung jawaban penuh atas segala tindakanmu nanti. Aku tidak akan pandang bulu walaupun kau seorang wanita."

"Aku baru saja memikirkan semuanya dengan baik," ujar Seol lalu mengeluarkan kartu nama "Aku adalah seseorang yang mengumpulkan seluruh kebajikan untuk melakukan segala hal..."

"Kau adalah yang terpilih, Malaikat Bel Besar?" Se Joo keheranan membaca kartu nama itu.

Ah, Se Joo salah mengambil kartu nama, itu kartu nama Ibu temannya yang seorang peramal. Dia mengeluarkan kartu namanya sendiri, agensi jasa 'Lakukan Apa Saja'. Se Joo menerima kartu itu walaupun dia tetap memandang Seol dengan sinis.


Dengan menggunakan alasan paket yang dikirimnya, Jeon Seol berusaha masuk kedalam. Se Joo sontak menghalanginya dan bersikeras menyuruh Jeon Seol meninggalkannya di depan pintu saja. Tapi Seol sendiri bersikeras berusaha memaksa masuk sampai membuat Se Joo jadi kesal dan berteriak membentaknya.

Menyesali teriakannya, Se Joo beralasan kalau dia hanya tidak pernah memasukkan sembarang paket kedalam rumah sebelum diperiksa terlebih dulu. Kenapa?

"Di dunia ini banyak sekali orang yang dibutakan oleh rasa cemburu dan berakhir menyia-nyiakan hidup mereka. Orang-orang itu termasuk para penguntit dan orang-orang yang menderita gangguan jiwa yang menuduhku mencuri naskah mereka," ujarnya sambil menatap Jeon Seol sinis.

"Aku bukan penguntit, aku adalah penggemarmu..."

Tapi Se Joo sama sekali tidak percaya dan terus menyindir Seol dengan menyebutkan berbagai kiriman ancaman yang pernah diterimanya selama ini. Karena itulah dia tidak akan membawa masuk sembarang barang atau orang atau apapun.


Tepat saat mereka tatap-tatapan, si anjing tiba-tiba menyelinap masuk melewati Se Joo dan dia baru sadar ada sesuatu yang melewatinya masuk sesaat kemudian. Apa yang barusan lewat? Anjingnya Se Joo. Se Joo malah bingung, anjingnya? Dia alergi bulu anjing jadi dia tidak memelihara anjing satu pun.

Panik, dia langsung membuka pintu dan menyuruh Jeon Seol untuk mengambil anjing itu, sekarang! Cepat masuk dan cari anjingnya. Seol jelas senang bisa masuk ke dalam rumahnya Se Joo. Se Joo stres melihat jejak kaki anjing itu di sepanjang rumahnya.


"Tidak! Bukan itu!" bentak Jeon Seol tiba-tiba dari ruang kerjanya Se Joo.

Saat Se Joo masuk, dia malah mendapati USB tulangnya sudah ada di depan anjing itu. Se Joo kontan panik. Jeon Seol bertanya apakah itu USB?

Se Joo kesal, itu bukan sembarang USB, itu hasil kerja kerasnya, bahan yang selama ini dikumpulkannya tanpa tidur dan makan sampai tulang punggungnya patah dan kena wasir. Dia menulis dan menulis sampai matanya memerah.

"Kalau anjing itu sampai memakannya, kau juga akan mati."

"Tapi dia bukan anjingku."

"Tapi dia ikut ke sini karenamu!"

"Pintunya terbuka!"


GUK! Sela anjing itu. Kesal, Se Joo mengancam anjing itu. Jeon Seol langsung mengomelinya, anjing itu bisa gelisah kalau diprovokasi. Dia berusaha membujuk anjing itu dengan lebih lembut, tapi anjing itu malah menelan USB tulang itu. Se Joo dan Seol shock.

Setelah memakan flashdisk tulang-nya, anjing itu langsung kabur. Se Joo panik melihat hasil kerjanya diambil si anjing, dia menyuruh Seol mengejar anjing itu. Seol masih celingukan memperhatikan rumah Se Joo, untuk apa dia melakukannya? Dia kan baru masuk ke rumahnya.

“Kau bilang kau akan mengumpulkan semua kebajikan dan melakukan apa saja! Akan kubayar kau dua kali lipat. Empat kali lipat. Delapan kali!” bentak Se Joo. Seol pun langsung melesat keluar.

 

Sambil lari-lari, Seol menyuruh Se Joo untuk menunggu dirumah saja, dia malah membuat anjing semakin marah. Se Joo tidak mau, dia khawatir kalau sampai Seol mencuri idenya. Seol meyakinkan jika dia pernah menjadi seorang dokter hewan.

Nah itu, Se Joo makin curiga jangan-jangan dia sudah melatih anjingnya untuk mencuri flashdisk-nya. Seol protes, sungguh imaginasinya sangat liar.


Anjing berhenti lari ketika menemui jalan buntu. Se Joo sudah siap mengumpati anjing itu namun Seol buru-buru membekap mulutnya. Mereka harus membujuknya dengan manis. Ia pun mengajarkan Se Joo supaya berjongkok, menunjukkan wajah ramah sambil memanggil anjing itu.. “Anak baik.. sini~”

Se Joo dengan kaku mengikuti saran Seol. Perlahan Anjing mulai terpesona dengan tingkah dua orang itu. Ia melangkahkan kakinya menghampiri mereka berdua. Se Joo membuka lengannya lebar-lebar, menantikan pelukan si anjing.


Namun anjing itu malah berlari ke arah Seol dengan dramatisnya. Se Joo menatap adegan lovey-dovey si anjing dan Seol dengan cemburu, pelukannya diabaikan.


Anjing pun harus dibawa ke ruang operasi dan Se Joo menunggunya sambil harap-harap cemas. Namun tidak lama berselang, Seol sudah keluar menunjukkan flashdisk-nya. Anjing sudah buang air besar lebih dulu sebelum mereka melakukan x-ray. Se Joo melongo kaget, buang air besar?

“Dia mengeluarkannya tanpa masalah sama sekali. Flashdisknya sepertinya masih berfungsi dengan baik. Datanya terkunci, jadi aku tidak bisa melihat isinya. Jangan cemas.  Aku sudah membersihkannya.”

Se Joo tidak mau menerima flashdisk-nya, “Aku punya permintaan lain.”


Seol datang ke rumah Se Joo untuk mengirimkan file dan memformat komputernya setelah mengirimkan file-nya. Se Joo memberikan kopi sambil menunggu proses formatnya. Seol terus memandangi wajah Se Joo. Se Joo sampai heran, apa ada yang ingin ia katakan?

Apa dia tidak mengingatnya? Mereka berdua pernah bertemu sebelumnya. Se Joo cuma terkekeh geli menanggapi pertanyaan Seol, pertanyaannya sungguh basi. Seperti lagu yang diulang-ulang. Lantas, kapan mereka pernah bertemu?

Seol ingin memberikan jawaban. Namun Se Joo memotong ucapannya, “100 tahun yang lalu? 100 tahun yang lalu? Orang yang terobsesi padaku biasanya mengatakan, jangan coba cari jawaban logis dari semua ini. Yang bisa kukatakan, semua ini adalah takdir. Mungkin ada hubungannya dengan kehidupan kita sebelumnya. Apa yang mau kau katakan? Apa mirip dengan yang kubilang barusan?”


Seol menyangkalnya, dia cuma penggemar nomor satunya. Se Joo membandingkan dengan film Myseri, tokoh wanitanya juga berkata jika ia penggemar nomor satunya. Terdengar notifikasi pem-formatan sudah selesai, Se Joo mempersilahkan Seol untuk membuang flasdisknya kemanapun dan laptop barunya untuk hadiah Seol.


Se Joo menyeret Seol untuk meninggalkan rumahnya. Seol masih cari-cari alasan untuk tetap disana sebentar lagi. Apa perlu dia membantunya membuka paketan? Se Joo menolaknya dengan ramah, sudah ada yang akan memeriksa kirimannya. Memangnya siapa yang mengirimkan paket itu?

Seol akan menjelaskannya di dalam. Se Joo menghalanginya masuk, jelaskan saja disana. Seol memberitahukan jika pengirimnya adalah pemilik cafe di Chicago. Se Joo ingat dengan pemilik cafe yang punya mesin ketik chicago, dia pun langsung membopong paketnya masuk dan mengunci pintu rumahnya.
 

Teman-teman Seol kembali menggosipkannya, kenapa Seol menyukai Se Joo. Bang Jin berkata kalau Seol itu sudah kutu buku sejak kecil. Seol bilang kalau buku bisa membantunya melalui masa sulit. Dia punya banyak masalah dalam hidupnya. Tapi penulis kan ada banyak, kenapa harus Se Joo?


Seol tiba-tiba muncul, “Jangan coba untuk melogiskan semuanya. Yang bisa kukatakan, semua ini adalah takdir. Mungkin ada hubungannya dengan sesuatu di kehidupan kita yang sebelumnya.” Ujarnya mengikuti ucapan Se Joo.

“Senorita!” seru Dae Han si koki.

Seol mengatainya lebay, jangan bicara menggunakan bahasa itali disana. Dae Han tidak menggubris ucapannya dan menunjukkan tanda tangan Se Joo dengan semangat. Sayangnya, Seol menanggapi dengan santai, tanda tangan Han Se Joo? Tiga teman Seol langsung melongo dengan sikap dinginnya.


Seol menunjukkan laptop yang ia dapatkan dari Se Joo. Dia mendapatkannya dari Se Joo setelah melakukan beberapa hal untuknya saat mengirimkan paket. Bang Jin memeluk laptop milik Seol, dia bisa merasakan energi dari penulis best seller. Apakah ini bisa membantunya memenangkan lomba menulis?

“Lihat? Ini namanya maniak sukses.” Ujar Seol bangga.

Bersambung ke part 3

1 comments:

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon