Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 1 - 3


Seol dan Bang Jin pulang rumah sambil cekikikan mabuk. Didepan gerbang, Wang Bang Wool sudah menunggu keduanya. Bang Jin buru-buru ngibrit pergi, sedangkan Seol mengakui kesalahannya karena sudah mabuk dan pulang telat. Dia tidak akan mengulanginya lagi, jadi Ahjumma marahi saja putrinya, si Bang Jin.

Bang Wool menatap Seol dengan khawatir, apa dia baru saja mengantar abu orang mati? Ada energi gelap yang melingkupinya. Apa dia bisa melihat hal-hal aneh lagi? Seol menyangkalnya, sudah sejak lama dia tidak melihatnya. Ia akan bunuh diri lagi kalau sampai melihatnya. Karena itu, dulu dia menelantarkannya dan dirinya menyerah ikut Olimpiade.

Meskipun Seol meyakinkan jika dia tidak mengantar hal-hal aneh, tapi Bang Wool masih merasakan hal aneh yang ada disekitar Seol hari ini.

 

Se Joo bergulat dengan pekerjaannya sampai tengah malam. Suara ketukan di keyboardnya terdengar amat keras karena suasana malam yang begitu sunyi. Perlahan suara ketukan keyboard serasa semakin menggema, dan keyboard laptop yang ada dihadapan Se Joo perlahan berubah menjadi mesin ketik jaman dulu.


Pria yang mirip dengan Se Joo tengah berbicara dengan pria misterius. Pria misterius itu menyarankan agar Se Joo mau mengajarinya sedikit. Mungkin dia akan menjadi sedikit berguna untuk mereka. Seol bangkit dari duduknya bangkit dari kursi, dia selesai merakit pistol dalam 20 detik dan menunjukkan pada si pria misterius.

“Kau harusnya tidak mengajarkan hal-hal semacam itu pada anak kecil.” Ujar Se Joo pada pria misterius.


Seol menghampiri Se Joo untuk menunjukkan senapan, julukannya adalah ‘Mesin Ketik Chicago’ karena suara tembakannya mirip dengan suara mesin ketik. Pena itu lebih tajam dari pada pisau. Dan mesin ketik lebih kuat daripada pistol. Makanya, dia menyuruh Se Joo untuk menulis sesuatu yang bagus. Jangan hanya menulis karena dia menginginkan popularitas dan wanita. Tulislah sesuatu yang luar biasa.

Se Joo tertegun menelaah ucapan Seol. Pria Misterius tampak tersenyum simpul, dia melewati Seol dan sengaja menyentuh topinya. Topi Seol terjatuh dan rambutnya seketika tergerai. Se Joo terkejut mengetahui jika Seol yang dikiranya pria ternyata adalah seorang wanita. Se Joo memperhatikan punggung Seol dan belum melihat wajahnya, namun saat Seol akan berbalik.
 

Se Joo terbangun dari tidurnya. Dan tidak lama kemudian, terdengar ponselnya berdering menerima telepon dari CEO Gal. Dia sudah menuntut ide cerita terbaru Se Joo. Se Joo protes karena ditagih terus padahal dia tidak pernah melanggar tenggat waktu.

Dalam sekejap, Se Joo ingat akan mimpinya barusan. Ide untuk cerita barunya berlatar di tahun 1930, di Kyungsung, tentang kisah cinta antara seorang aktifis kemerdekaan dengan seorang penulis. Kontan CEO Gal berteriak kegirangan, luar biasa keren. Stephen King-nya Korea, Han Se Ju menulis kisah cinta. Belum apa-apa bukunya pasti laku.

Se Joo langsung mematikan sambungan teleponnya sesegera mungkin. Dia menatap jam dindingnya, dia bangun jam 3 siang, tidak biasa-biasanya. Mungkin karena ia bekerja terlalu keras. Se Joo tidak sengaja menatap mesin ketika tua yang ada di rak dan tertegun memperhatikannya.

Ponsel Se Joo kembali berdering, dia sudah kesal mengira kalau CEO Gal meneleponnya lagi. Tapi ternyata yang meneleponnya kali ini adalah Nona Kang. Se Joo tampak kebingungan, anjing?


Disisi lain, Seol mengantarkan kiriman pada temannya di klinik hewan. Temannya memberitahukan jika anjing yang sebelumnya dibawa Seol ternyata bukan milik Han Se Joo dan mereka tidak mau membawanya. Seol menghampiri anjing itu, bukan milik mereka? aneh sekali, padahal kemarin anjing itu yang membukakan pintunya dan bersikap seperti tuan rumah.

Temannya meminta Seol untuk membawa anjingnya. Seol sih mau saja, tapi dia sedang menumpang di rumah teman. Dia akan menghubungi penulis itu lagi, meskipun dia alergi anjing tapi rumahnya cukup besar dan punya banyak pegawai. Mungkin seseorang bisa mengurusnya.

Seol mengelus kepala anjing, “Mungkin saja pertemuan kita ini adalah takdir.”


Se Joo mencari bahan untuk novel barunya. Ia pun menumpuk beberapa buku yang membahas tentang senapan. Tidak disengaja, dia melihat ada buku yang ditulis Baek Tae Min yang berjudul Takdir. Saat Se Joo berniat pergi, seseorang memanggilnya dari belakang. Se Joo malas mendengar si pemilik suara yang tak lain adalah Tae Min.

Tae Min mengajaknya untuk minum teh atau kopi kalau dia punya waktu. Se Joo menolak dengan dingin. Namun saat ia mau pergi, ada beberapa orang wanita yang mengenali Se Joo dan memotretnya diam-diam. Se Joo pun akhirnya berbalik pada Tae Min, kenapa juga aku harus peduli?


Di kafe, Tae Min menceritakan tentang ayahnya yang akan merilis buku baru setelah mengerjakannya selama 10 tahun. Dia akan menerbitkan seri lengkapnya dan tidak akan menerbitkan buku lagi. Ibunya masih sibuk melukis dan Se Ra kuliah ke Prancis.

“Kenapa kau beritahukan itu padaku? Harusnya kau tidak melakukan itu karena yang kau lakukan selama ini hanya menyombongkan diri di depan seorang yatim piatu.” Dingin Se Joo.

“Kau dulu pernah tinggal seatap dengan kami.”

Sudah lama sekali Se Joo meninggalkan atap mereka. Jadi untuk apa dia harus tahu dengan orang lain yang tinggal dibawah atap itu? Sama mengerikannya seperti membaca buku membosankan sampai tamat. Walau dipaksa untuk membelinya, dia punya hak untuk tidak membacanya. Dan ia sudah memutuskan berhenti membawa sejak lama. Jadi dia memohon supaya Tae Min tidak membukanya lagi, sangat membosankan.

Tae Min mengungkapkan jika keluarganya merasa bersalah karena tidak bisa bersikap baik sampai akhir padanya. Dia hanya ingin secara pribadi.. Se Joo memotong ucapan Tae Min dan menekankan jika didepan umum dia menggunakan ‘Topeng Bisnis’. Di topengnya terpajang senyum kapitalisme. Kalau dia profesional, akan menguntungkan. Tapi untuk urusan pribadi, itu tidak ada gunanya. Jadi lebih baik mereka hentikan saja.

“Ayahku sangat mencemaskanmu. Sepertinya dia merasa terganggu karena kau menulis sesuatu yang berbahaya. Karena buku yang kau tulis, dia merasa kau mungkin saja akan menghancurkan dirimu sendiri.”

“Sesuatu yang berbahaya? Sesuatu yang berbahaya sudah tertulis sejak 10 tahun lalu. Itu sudah menghancurkan hidupku dan juga hidupku. Apa ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada itu? Jangan membuang-buang waktu yang berharga ini. Menulis sajalah sana. Menulis seperti orang gila, seperti aku.”
 

Sesampairnya dirumah, Se Joo mendengar suara alunan musik klasik dari ruang kerjanya. Dia heran dengan jendela ruangannya yang tampak terbuka. Saat ia menuju ke mejanya, tanpa disadarinya mata dari lukisan di dindingnya tampak bergerak. Seolah-olah ada sesuatu yang mengintainya saat ini, namun saat Se Joo melihat ke arah sesuatu yang mengintainya, pengintai itu seperti bersembunyi.

Se Joo berniat menutup jendela, namun dia malah menemukan kertas di lantai, “Dewi inspirasi itu seperti hantu. Kadang mereka datang tanpa diundang. - Stephen King”

Se Joo jelas heran, dia yakin dia sudah membuang kertas itu ke tong sampah. Yakin ada orang masuk, dia langsung berteriak melabrak si penyusup. Tapi tepat saat itu juga, bel pintunya berbunyi.


Seol datang lagi membawa si anjing. Se Joo kesal, bagaimana dia bisa masuk. Karena setelah dia membunyikan bel tadi, dia melihat pagarnya Se Joo tidak terkunci. Se Joo sinis mendengarnya, kreatif lah sedikit, jangan menggunakan trik yang sama lagi.

Jelas-jelas dia tidak pernah membiarkan pintunya terbuka, tapi pintunya selalu terbuka setiap kali Jeon Seol datang. Seol bahkan membawa anjing untuk menipunya. Yah, dia mengakui kalau menggunakan anjing itu ide yang cukup bagus untuk melakukan tindakan kriminal. Sebenarnya Jeon Seol sebenarnya? Dia Jeon Seol yang selama ini mengintipnya?

Seol berusaha keras menyangkalnya, kenapa juga dia melakukannya. Tapi, apa ada penguntit yang biasanya menerobos masuk rumah Se Joo? Mana Se Joo tahu, seharusnya Jeon Seol tanya pada dirinya sendiri. Seol tak percaya mendengarnya, apa Se Joo mencurigainya sekarang? Bukankah dia sudah bilang kalau dia adalah penggemarnya Se Joo.

Se Joo tetap sinis tak mempercayainya. Dia tahu betul orang semacam Seol, orang yang mengaku sebagai penggemarnya, menghormatinya, mengidolakannya dan terobsesi padanya. Tapi saat semua ilusi itu sudah semakin buram maka dia akan berbalik menyerangnya.

"Enyahlah. Kalau tidak aku akan memanggil polisi. Aku tidak butuh penggemar sepertimu."


Seol terdiam sedih menatap anjing itu. Sebaiknya mereka pergi saja, sepertinya Se Joo tidak akan menerimanya sebagai anggota keluarga. Dia tidak bisa memaksa jika Se Joo memang tidak mau merawatnya.

Dalam perjalanan, Seol berhenti di depan sebuah resto sandwich. Resto yang mengingatkannya akan masa beberapa tahun silam.

Flashback,


Dulu Seol bekerja di resto itu dan Se Joo sering ke sana, membeli sandwich dan secangkir kopi paling murah lalu duduk berjam-jam sambil menulis. Bahkan menurut rekan kerja Se Joo yang menggosipkannya, Se Joo terkadang juga memakan makanan sisa yang ditinggalkan pelanggan lain. Dia bertanya-tanya apakah Se Joo itu seorang gelandangan.

Seol sudah mulai mengagumi Se Joo saat itu, "Sepertinya dia sedang menulis novel."

Flashback end.


Seol tersenyum sedih teringat kenangan itu. Se Joo pasti tidak mungkin ingat, sudah lama sekali. Saat dia lengah, anjing itu tiba-tiba berlari melepaskan diri darinya. Seol pun langsung mengejarnya.


Se Joo tengah menulis saat tiba-tiba saja dia mendengar suara wanita, "Kau harusnya menulis sesuatu yang bagus."

Jari-jarinya langsung terhenti seketika. Kepalanya tiba-tiba terasa pening teringat kilasan-kilasan mimpinya: Seol yang cekatan merakit senjata, wajah Seol yang memakai pakaian pria dan menyuruhnya untuk tidak menulis hanya demi mendapat popularitas dan uang.


Stres, dia mengambil obat dan hendak berjalan ke dapur saat tiba-tiba lampu rumahnya mati. Se Joo langsung kesal mengira itu ulah Seol. Tapi tiba-tiba terdengar suara seorang pria memanggilnya, "Penulis Han, apa kau ingat aku?"

Se Joo berpaling ke asal suara dan keluarlah seorang pria dari persembunyiannya dengan membawa senjata. Dia berkata kalau sejak 3 tahun yang lalu, dia selalu mengirim surat dan email setiap hari pada Se Joo, tapi Se Joo tak pernah membalasnya.

Tapi dia tahu kalau Se Joo mengirim pesan padanya lewat novel serinya, kalau dia sebaiknya balas dendam pada dunia. Saat itu dia langsung tahu kalau Se Joo sedang mencoba bicara padanya. "Aku berpikir 'Ini adalah kisahku'. Penulis Han mengirimiku pesan lewat novelnya. Karena itulah aku menyingkirkan semua orang seperti yang kau perintahkan padaku."


Se Joo sontak tercengang mendengarnya, "Apa? Menyingkirkan? Siapa?"

"Para baj*ng*n yang membuat hidupku susah."

"Apa maksudmu... kau membunuh orang setelah membaca novelku?"

"Itu yang kau perintahkan padaku." Kata pria itu dengan senyum gilanya.

Se Joo sungguh tak percaya mendengarnya, "Apa kau sudah gila?!"

Tapi kenapa Se Joo mengakhiri ceritanya seperti itu? Kenapa dia harus mati? Dia hanya menyingkirkan sampah-sampah seperti yang Se Joo suruh. Se Joo menyangkal, novel itu bukan tentangnya. Pria itu langsung menodongkan senjatanya tak percaya, ngotot dengan keyakinannya kalau itu adalah kisahnya. Dia cuma melaksanakan perintah Se Joo, tapi kenapa dia harus mati?

Entah kenapa saat pria itu marah, lampu rumah Se Joo tiba-tiba berkedip-kedip. Pria itu mendekatinya dengan kesal, menuduh Se Joo telah menghancurkan hidupnya. Se Joo bergerak cepat menjauhkan tangan pria itu dan pistol itu pun langsung meletus mengenai sebuah lampu.


Se Joo mendorongnya sekuat tenaga hingga pistol pria itu terlepas dari tangannya lalu menghajarnya. Se Joo berusaha meraih pistol itu, tapi pria itu mencengkeram kakinya kuat-kuat hingga akhirnya dia berhasil menguasai senjatanya lagi.
 

Dia langsung mengarahkannya ke Se Joo. Lampu seketika padam saat pria itu menembakkan pistolnya. Entah apakah tembakannya mengenai Se Joo. Saat lampu kembali berkedip-kedip dan menyala kembali tak lama kemudian, Se Joo tampak meringkuk dalam posisi melindungi dirinya, tapi sepertinya dia baik-baik saja.

Dia malah mendapati pria itu mengangkat kedua tangan dalam posisi menyerah. Senjatanya sudah tidak berada di tangannya lagi... malah berada di tangan Seol yang memegang senjata itu bak seorang penembak profesional.

"Jangan ngawur. Mana ada orang yang membiarkan sebuah novel menghancurkan hidupnya. Kaulah yang menghancurkan hidupmu sendiri."

Flashback,


Saat Bang Jin berkumpul bersama teman-temannya, mereka bertanya cabang olahraga apa yang pernah Seol ikuti saat dia mau ikut Olimpiade dulu. Bang Jin berkata cabang menembak. Lalu kenapa dia berhenti? Apa karena cidera?

"Tidak. Dia sering berdelusi setiap kali memegang pistol."

"Apa yang dia lihat?"


"Kehidupannya yang sebelumnya. Dia melihat dirinya sendiri menembak seseorang hingga mati di kehidupan sebelumnya. Sebelum itu mulai terjadi, dia terkenal sebagai seorang legenda menembak. Sniper legendaris"

Flashback end.


Se Joo tercengang menatap Seol. Teringat akan mimpinya, saat topi yang menutupi kepala Seol terjatuh dan Seol berbalik, memperlihatkan wajah yang sama persis dengan Seol yang sekarang ada di hadapannya.

Bersambung ke episode 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon